#PASTEL 014

Pretty poster made by Baechimi from AFF

#PASTEL 014

Untuk beberapa detik keduanya terdiam. Beberapa detik yang terasa terlalu lama untuk ukuran detik karena kedua pemain; Sina dan Tao masih sama-sama diam, otak mereka yang masih terlalu sederhana untuk memproses semuanya masih belum memerintahkan apa-apa. Tao masih menengokkan kepalanya ke kiri, kedua bibirnya memang masih menyentuh pipi Sina, tapi pikirannya sudah melayang tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sementara Sina sama, ia masih memajukan kepalanya, masih dengan posisi meniup telinga Tao, kecupan Tao terasa seperti sebuah mantra yang membuatnya diam membeku.

“A-aku tidak sengaja!” Tao yang kesadarannya kembali lebih cepat segera menghadapkan kepalanya kembali ke depan. Ia menggigit bibirnya cemas dengan reaksi Sina karena sampai detik itu Sina masih mematung.

“Sina?” Tao memanggilnya pelan, berhati-hati seperti Sina dapat meledak kapan saja.

“Tao menciumku?” Akhirnya Sina membuka mulutku. Ia bertanya ringan membuat Tao yang kaget bingung harus menjawab apa, Sina seperti meminta sebuah kepastian yang Tao sendiri terlalu takut untuk mengakui kebenarannya.

“Tao!” Sina berseru membuat Tao menghentikkan langkahnya.

“Jawab aku, kau menciumku?” Sina bertanya, kali ini terdengar lebih antusias.

Tao menelan ludahnya dan mengangguk pelan “Aku mencium Sina.”

Mendengar jawaban Tao detik itu juga Sina menghela panjang napasnya “Dan tidak minta maaf? Kau baru menciumku seorang Ahn Sina dan itu pertamakalinya seseorang mencium pipiku!”

Mendengar Sina yang tiba-tiba menyalahkan dirinya entah kenapa Tao tidak terima, Sina protes seperti Tao melakukan sebuah pelecehan dan Tao merasa semua ini terjadi bukan hanya karena kesalahannya “Tapi aku tidak sengaja! Dan Sina yang dari tadi meniup telingaku membuatku harus menengok, ini salahmu.” Tao protes, perasaan gelinya sudah hilang digantikan jengkel.

Sina mendecak, saat ini keduanya sama-sama keras kepala “Tapi tetap saja, kejadian tadi Tao yang melakukan.”

“Dan Sina yang memulai.”

“Tapi Tao yang melakukan, aku hanya diam.”

Tao kembali menghentikkan langkahnya dan mengernyit “Kalau begitu aku harus apa? Sina mau menciumku? Biar kita adil? Baiklah! Cium aku! “ Tao mendekatkan kepalanya pada Sina, merasa gemas sekaligus kesal dengan perempuan yang terus menyalahkannya ini.

Sina menjauhkan kepalanya dan memandang jijik pada Tao “Bukan.”

“Lalu?” Tao kembali berjalan kali ini dengan langkah yang sengaja diperlebar dan cepat, entah kenapa ia ingin cepat-cepat pulang.

“Aku hanya ingin Tao menyesal telah melakukan hal ini.”

Tao memejamkan matanya, berusaha menahan emosi, ia tidak ingin Sina merasa menang dan berkuasa untuk menyuruhnya minta maaf “Sina juga harus menyesal.” Ia berkata.

Sina segera menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti tahu-tahu disuruh menyesal “Sina baru saja mencuri ciuman pertamaku, ini pertama kalinya aku menciumnya perempuan dan semua karena Sina yang terus meniup leherku, coba Sina diam pasti aku tidak akan menciummu.”

Tidak terima dituding seperti itu oleh seorang Tao, Sina mengerutkan keningnya, begitu membuka mulut ingin melakukan pembelaan diri Tao memotong.

“Ini ciuman pertamaku! Dan meskipun hanya pipi aku hanya ingin melakukan ini pada perempuan yang kusukai dan Sina merusak rencanaku! Sekarang aku tidak bisa mengatakan pada kekasihku nanti kalau ciuman yang kuberikan padanya itu ciuman pertama, semua gara-gara Sina!”

Kedua mulut Sina yang sudah terlanjur terbuka dibiarkan terus mengaga tidak percaya apa yang ia dengar dari Tao. Sekarang Huang Zitao menyalahkannya seolah Sina yang menciumnya. Dan yang membuat Sina merasa konyol Tao bersikap seperti pemeran perempuan di drama remaja yang menjaga segala hal pertamanya untuk pangeran impian mereka. Rasa kesal Sina terganti, ia seperti menemukan hal lain yang menarik untuk diusik.

“Jadi Tao tidak menyukaiku?” Sina menanyakan satu-satunya pertanyaan yang terlintas begitu mendengar penjelasan Tao.

Tao gelagapan dan segera menggeleng “Aku menyukai Sina! Tapi—“

“Kalau begitu kenapa kau marah? Bukankah tadi bilang hanya ingin melakukan ini pada perempuan yang disukai?”

“Tapi aku menyukai Sina sebagai teman!”

“Apa tidak boleh menyukai sebagai teman?”

“Tidak boleh!” Tao menjawab panik karena Sina terus meruntutkan pertanyaan yang selalu menjadi kelemahannya.

Sina menghela napas, tiba-tiba ia ingin tertawa tapi ia masih menikmati permainan pura-pura bodohnya dengan Tao “Jadi aku tidak boleh menyukai sebagai teman? Kalau begitu aku harus menyukai Tao sebagai apa?”

Tao merasakan darah naik ke kepalanya, daripada jengkel sekarang ia lebih merasa malu, ia baru tahu Sina sepolos itu dan buruknya ia tidak tahu kalau sebenarnya ia jauh lebih polos dengan mempercayai kalau Sina benar-benar tidak mengerti apa-apa.

“Ekhm.” Tao berdehem, mungkin ini saatnya ia beraksi sebagai seorang oppa yang mengajarkan Sina. “Kalau ingin mendapat ciumanku Sina harus menyukaiku sebagai seorang pria, menganggapku laki-laki, seorang oppa, bukan suka hanya karena teman.”

Sina yang dari tadi menunggu jawaban Tao langsung memutar bola matanya “Pertama, siapa yang bilang aku ingin mendapat ciuman?”

“Tadi Sina bertanya suka seperti apa untuk mendapat ciuman, jadi kupikir Sina penasaran bagaimana Sina mendapat ciuma—“

“Ah sudahlah.” Sina memotong tepat sebelum Tao terus menambah kesimpulan bodohnya. Tiba-tiba moodnya hilang, ia merasa capek. “Ya maafkan aku, aku akan meminta maaf pada pacar masa depanmu telah mengambil ciuman pertamamu, puas?”

“Ah jangan bilang! Akan lebih baik kalau dia tidak tahu” Tao menggeleng-gelengkan kepalanya. Sina mendengus, kenapa tiba-tiba jadi dia yang minta maaf? Entahlah yang jelas sekarang Sina mengantuk.

#

“Hei hei bangun, Sina bangun!”

Sina mengucek matanya, wajah orang di depannya masih buram tapi ia yakin neneknya lah yang baru menepuk-nepuk pipinya. Sina menutup wajahnya dengan bantal mengabaikan neneknya.

“Sina bangun! Kulkas kita kosong!”

Sina mengernyit dan melihat jam dindingnya “Astaga ini baru jam setengah enam.”

“Lalu kenapa? Sekarang bangun!” Nenek Sina kembali mengguncang-guncang bahu cucunya “Kalau kau tidak bangun aku akan meminta Tao membangunkanmu.”

Tao? Sina yang masih setengah sadar berusaha mencerna kata-kata yang di dengarnya barusan “Tao? Kenapa Tao?” Sina bertanya dalam hati.

“Tao?” Sina bertanya, ia pun bangun dan berusaha membuka lebar kedua matanya “Bagaimana nenek tahu aku punya teman bernama Tao?”

Nenek Sina tertawa “Ahh jadi benar Tao pacarmu?”

“Hah?” Sina menganga, ia memiliki ikatan jangka pendek begitu otaknya sudah letih ingin istirahat, apa sesuatu terjadi kemarin malam membuat neneknya mengira Tao adalah pacarnya.  “Ngomong-ngomong bagaimana aku bisa pulang?”

Nenek Sina terkekeh lalu menyenggol sikut Sina “Dia yang mengantarmu! Sudahlah sekarang bangun! Rapikan rambutmu ada banyak daftar belanjaan yang harus kau beli!”

Sina memiringkan kepalanya, Tao mengantarnya pulang? Dan kenapa sampai detik ini juga ia belum ingat? Sina memukul kepalanya, kesal dengan kemampuan mengingatnya.

#

#

Oh Sehun memejamkan kedua matanya, berpura-pura tidur. Sebenarnya ia bukan orang yang suka menguping. Dan untuk kasus kali ini ia terpaksa merubah prinsipnya karena ia yakin Miyoung dan ibunya akan membahas sebuah topik yang ia tahu pasti tidak akan jauh-jauh dari dirinya.

Saat ini Miyoung dan ibunya tengah menjemur diri mereka di pinggir kolam renang hotel, sedikit membuat Sehun jengkel, ia baru saja mendapat tempat sendiri tanpa ada seseorang yang terus menempelinya, tapi tiba-tiba ibunya dan Miyoung datang mengagetkan dirinya setelah diam-diam terus mengikuti Sehun.

“Apa Sehun sudah tidur?” Miyoung bertanya pada ibu Oh yang sedang menutupi wajahnya dengan topi jerami.

Ibu Oh bangun dan segera duduk, ia mengamati Sehun yang sedang terlentang di kursi pinggir kolam dengan kedua mata terpejam, ia tersenyum dan menjetikkan jarinya “Bagaimana kalau kita mulai sesi tanya jawab?”

Dalam hati Sehun tidak habis pikir bagaimana bisa ibunya dan Miyoung bisa menjadi dekat dalam waktu secepat itu? Ia bahkan sudah memiliki panggilan untuk Miyoung yang Sehun sendiri saja tidak pernah memikirkan hal itu.

“Ayo! Aku siap Ibu !”  Miyoung menjawab semangat. Lagi-lagi membuat Sehun bertanya kenapa Miyoung sudah berani memanggil Ibunya sendiri dengan Ibu. Bukannya tidak suka, justru sebenarnya ia lega Miyoung diterima dengan baik oleh ibunya tapi ia masih heran kenapa dua orang itu cepat sekali dekatnya.

“Apa kau suka sekali sama Sehun?” Ibunya bertanya, memulai sesi percakapan ibu mertua dan menantunya. Miyoung segera mengangguk “Sudah berapa kali aku ditanya, aku sukaaa sekali Oh Sehun!”

Ibu Oh mengangguk-nganggukkan kepalanya, terus terang ia menyukai Miyoung, gadis ini begitu ceria dan sama semangatnya dengan dirinya. Bersama Miyoung membuat ia merasakan punya teman baru, Ibu Oh juga tidak mengerti memang ia saja yang berjiwa muda atau Miyoung yang pintar bersosialisasi?

“Kau tahu Yongie, aku menyukaimu dan menerima kehadiranmu di sini, bahkan melebihi Sehun. Liburan bersama Sehun dengan ayahnya cukup membosankan karena mereka sempat menyembunyikan kameraku!”

Miyoung terkekeh, bersama Ibu Oh memang menyenangkan, Sehun memang pernah bercerita kalau ibunya melahirkan dia ketika umurnya masih 17 tahun tapi ia benar-benar tidak menyangka Ibu Oh sangat berjiwa muda. Hal itu yang membuat Miyoung menganggap Ibu Oh hampir seperti unnienya sendiri. “Hahaha, benarkah? Sehun selalu baik padaku!” Miyoung tertawa kecil melihat Ibu Oh menjelekkan anaknya sendiri.

“Justru karena ia selalu baik—“

“AH! Segarnya!” Sehun segera bangun, sengaja berteriak untuk memotong percakapan Miyoung dengan ibunya. Kedua perempuan yang dari tadi membicarakannya sama-sama terlihat kaget.

“Kenapa untuk bangun saja kau berteriak sih?” Ibu Oh terlihat kesal. Sehun hanya menguap tidak menanggapi protes ibunya. Ia pun berdiri dan mendekati Miyoung “Ayo kita pergi temani aku mencari kerang.” Sehun ingin memukul dirinya sendiri kenapa harus mengatakan alasan sekanak-kanakan itu, tapi memang itu isi kepalanya.

Miyoung tertawa lalu menggenggam tangan Sehun “Ayo! Kami pergi ya! Kita lanjutkan nanti ya Bu.” Ia pun melambaikan tangannya pada Ibu Oh. Sebelum Sehun menutup pintu, ia melirik sekilas pada ibunya yang sedang berpangku tangan terlihat sedikit jengkel. Sambil mengacak-acak rambutnya Sehun mendecak, firasatnya mengatakan ibunya akan mengatakan hal yang akan mengganggu hubungannya dengan Miyoung.

#

#

“Tao! Kenapa kau berangkat pagi sekali?” Bibi Tao menyahut dari balik counter saat melihat keponakannya sudah bersiap pergi dengan ranselnya.

“Aku ada janji dengan teman!” Tao pun keluar dari toko bibinya.

Sambil menguap Tao memulai jogging paginya menuju lapangan baset. Semua gara-gara Sina, Tao yang selalu semangat setiap paginya tiba-tiba merasa badannya berat, efek kurang tidur.

--Flashback

“Sina! Ahn Sina!” Tao melompat-lompat berusaha membangunkan Sina yang tertidur di gendongannya. Bukannya mendapat jawaban ia malah mendapat tamparan pelan dari Sina “Berisik, aku mau tidur.”

Tao menghembuskan napasnya dan berputar-putar, sampai kapan ia harus menggendong Sina seperti ini? “Ayolah Sina! Aku capek, beritahu aku di mana rumah nenekmu.”

Beberapa detik tidak ada jawaban, yang terdengar hanya dengkuran halus dari Sina.

“Sinaa!” Tao kembali memanggil, tapi jawabannya kembali nihil.

“Air mancur.” Sina berkata, entah itu jawabannya untuk Tao atau hanya igauannya. Tao pun kembali bertanya “Di dekat air mancur?”

“Hmm!” Sina menggumam, Tao mengumpat kesal dengan perempuan yang seenaknya bisa tidur ini.

Sambil menggerutu hal yang jarang sekali Tao lakukan, Tao kembali berjalan. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana Sina bisa menjadi mayat berjalan kalau sudah tertidur. Untungnya harapan Tao terkabul, beberapa menit kemudian sebuah air mancur terlihat.

Dengan semangat Tao berlari dan duduk di pinggiran air mancur, kakinya harus diistirahatkan. Setelah memposisikan Sina bersandar pada bahunya Tao pun meluruskan kakinya. Sambil memijit betisnya ia melirik ke bahu kanannya memperhatikan Sina yang kedua mulutnya sedikit menganga. Tao tidak bisa menahan senyumnya, Sina terlihat berbeda dalam artian positif, aura dinginnya menghilang dan itu membuat Tao berani mengelus pipi Sina yang tidak sengaja tercium olehnya. “Aku minta maaf.” Baru beberapa detik jari Tao menyentuh pipi Sina tiba-tiba tangannya sudah ditampar Sina. Tao tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya rupanya refleknya masih ada ucap Tao dalam hati.

Selesai beristirahat Tao pun kembali menggendong Sina “Baiklah ayo kita lanjutkan perjalanan ini!” Ia berkata sendiri berusaha menyemangati dirinya.

“Rumahmu di mana Sina?”

Sina hanya menggumam tidak jelas. Tao memejamkan matanya, apa kesabarannya akan diuji lagi?

“Sina!” Ia melompat-lompat dan Sina sama sekali tidak memberi tanggapan.

“Ahn Sina!” Tao menepuk-nepuk pipi Sina tapi perempuan itu malah menampar tangan Tao sekali lagi. “Pagar biru!” Sina berkata cepat dan kembali membenamkan wajahnya pada punggung Tao. Tao menelan ludah dan hanya mengangguk. Ia pun memasuki gerbang perumahan dan memperhatikan setiap pagar rumah.

“Ada banyak pagar biru Sina!”

Hening, Sina tidak menjawab.

Tao mengepal tangannya dan berusaha tetap tenang, daripada terbawa emosi membangunkan Sina ia pun memilih memakai sisa tenaganya untuk mengecek satu-satu yang mana rumah Sina.

Pagar biru pertama ia pun memencet tombol bel. Beberapa menit kemudian pintu rumah terbuka. Kepala anak kecil menyembul dari balik pintu. Tao segera bertanya takut anak itu akan menutup pintu melihat orang asing mendatangi rumahnya “Apa kenal dengan perempuan bernama Sina?”

“Ti-tidak.”  Ia menjawab dengan suaranya yang gemetar. Tao pun tersenyum lalu mengucapkan terimakasih.

Selesai satu rumah ia kembali memandang jalanan, perjalanannya masih panjang.

#

“Ting tong.” Bel rumahnya berbunyi, nenek Sina yang masih memasang masker di depan meja riasnya menggerutu, siapa tamu yang datang malam-malam begini?

“Ting tong.” Belnya kembali berbunyi, nenek Sina pun segera bangun, sudah tahu waktunya tidur tapi kenapa tamunya ini tidak sabaran?

Dengan malas is pun membuka pintu rumahnya. Tidak ada suara, justru begitu ia mengangkat kepalanya yang ia lihat seorang pria berdiri di luar pagar mereka dengan posisi mematung.

Sambil mengernyit ia memincingkan matanya menyadari pria itu menggendong seorang perempuan yang ia kenali sebagai Sina. Nenek Sina ingin bertanya tapi mukanya yang masih dilapisi masker tidak bisa berkata apa-apa.

Tao menelan ludah, keringat menetes dari keningnya begitu melihat sosok perempuan tua berwajah putih memakai terusan putih keluar dari rumah terakhir ia tekan belnya. Ini pertama kalinya ia melihat makhluk halus begitu jelas. Tao tidak mengerti, apa nenek Sina sebenarnya sudah meninggal?

Begitu menyadari wanita itu berjalan mendekatinya, Tao berjalan mundur, kalau benar ia mengenal Sina berarti selama ini Sina tinggal bersama hantu “Ke-kenal Sina?”

“Dia cucuku.” Nenek Sina menjawab dengan suara sangat pelan, mulutnya tidak bisa digerakkan dengan bebas sehingga yang terdengar di kalimat Tao terdengar hanya gumaman. Melihat pemuda di depannya yang tidak menjawb apa-apa nenek Sina pun menganggukkan kepalanya.

Tao menggigit bibirnya, ternyata Sina memang tinggal bersama hantu. Dengan pelan ia pun menurunkan Sina duduk di depan pagar. Jantung Tao berdetak kencang, ia merasakan wanita tua itu berjalan mendekatinya “Ja-jangan mendekat…Namaku Tao dan kau bisa bertanya pada Sina kalau aku sama sekali tidak melakukan hal buruk padanya.” Tao benar-benar mengira wanita di depannya ini merupakan arwah nenek Sina yang mengira Tao melakukan sesuatu pada Sina.

Nenek Sina memiringkan kepalanya, apa pemuda bernama Tao ini mengira dirinya hantu? Ia ingin tertawa tapi ia harus menanyakan sesuatu  “Pacar?”

Tao mengangkat kepalanya perlahan dan menyadari wanita itu sudah memandanginya, wajah putihnya yang berkeriput dengan  kedua mata sipit menatapnya dengan tajamnya, mata Tao membulat kaget ia refleks berteriak “Aaaaaaa!” Tao pun berlari secepat yang ia bisa menjauhi rumah itu. Malamnya ia tidak bisa tidur, bayangan wanita itu terus membayanginya.

--end of flashback

#

#

Luhan yang masih menunggu ramyunnya matang menguap selebar mungkin. Sambil duduk di depan kursi meja mini market ia menopang dagunya, libur musim panas ini orang tuanya sudah mendaftarkan dirinya masuk kelas musim panas, itu artinya hari ini menjadi hari terakhir main-main sepuasnya. Oleh karena itu lah ia dan Kai memutuskan berangkat sepagi mungkin untuk bermain basket dengan Tao, teman Kai yang selalu dibanggakan di depan dirinya membuat Luhan ikut penasaran, belum lagi Tao juga berasal dari Beijing.

“Luhan!” Tiba-tiba Kai menepuk bahunya dengan semangat, Luhan langsung menengok dan menaikkan alisnya “Hmm?”

“Ada Sina di sini!” Kai menyeringai dan menunjuk rak paling kanan, Luhan mengikuti pandangannya dan menemukan Sina sedang mengambil kotak susu. “Lalu kenapa?” Tanya Luhan.

Kai tersenyum “Apa aku harus menyapanya? Apa menurutmu aku bisa mengajaknya berjalan hari ini?”

Pertanyaan Kai membuat Luhan mengernyit dan memandang Kai dengan jengkel “Hei, pagi ini kita akan tanding dengan Tao.”

Mendengar kalimat Luhan, Kai langsung mendecak “Aigo! Kau datang sendiri saja! Nanti aku kan menyusul!”

Luhan memutar bola matanya, heran sekaligus tidak percaya  kenapa ia bisa berteman dengan orang seperti Kai yang semudah itu merubah janji dengan temannya hanya karena seorang perempuan, baru saja ingin kembali protes Kai kembali membuka mulutnya “Baiklah sekarang aku pergi, ini kesempatan emasku!” Ia segera pergi menghampiri Sina yang berjalan menuju kasir tidak peduli Luhan setuju atau tidak.

#

Sina baru saja melangkah menuju kasir dengan terburu-buru sebelum seorang ibu akan mendahuluinya, sedikit lagi ia berhasil membalap ibu itu  tiba-tiba seseorang datang menghalangi jalannya. Ia benar-benar ingin pulang untuk melanjutkan tidurnya, dan Kim Jongin datang mengganggunya.

“Hai Sina!” Jongin berkata dengan semangat. Ia tetap menyeringai masih menunggu Sina membalas sapaannya. Sina membuang napas lalu berusaha tersenyum “Hai Jongin, kebetulan sekali kita bertemu, bisa geser? Aku harus mengantri sebelum seseorang akan mendahuluiku lagi.” Sina berkata sambil melirik seorang anak kecil yang membawa satu keranjang penuh membuatnya ngeri membayangkan akan berapa lama ia menunggu jika ia mengantri di belakang anak itu.

Jongin segera bergeser dan Sina langsung berjalan melewatinya lalu sedikit berselisih dengan anak kecil yang sama-sama ingin mengantri di belakang seorang ibu-ibu, hingga akhirnya Sina yang menang. Ia memperhatikan Sina dan tersenyum, hari ini ia akan mengajak Sina berjalan mengitari Buam-dong dan terakhir kalau suasananya pas bisa saja ia menyatakan perasaannya pada Sina.

Setelah menyerahkan uang Sina melirik sekilas pada Jongin yang terlihat begitu menikmati khayalannya. Ia harus kabur dari laki-laki ini. Alasan ia hanya ingin di rumah pasti tidak cukup kuat untuk membuat orang keras kepala seperti Jongin diam, beberapa hari ini Jongin memang selalu menelponnya. Begitu yakin jongin tidak akan melihatnya ia segera berlari dan mendorong pintu—

“Sina!” Dan Jongin berteriak. Sina memutar bola matanya.

“Kau ada waktu hari ini? Aku restoran di Buam-dong yang terkenal.” Jongin berkata dan menyadari Sina pasti akan menolaknya “Kita akan pergi bersama Luhan! Lihat dia di sana!” Ia segera menunjuk Luhan yang sedang menatap bosan dirinya dan Sena sambil menyeruput ramyunnya, yang penting ia harus meyakinkan Sina kalau jalan-jalan kali ini bukan kencan bagi dirinya.

Sina memandang Luhan, memang kenapa ada kalau ada Luhan? “Dengar, setelah ini aku ada janji penting, kau bisa pergi berdua saja dengan Luhan.”

Jongin meniup poninya, apa Sina sudah berjanji dengan orang lain? Tapi hei, Dia Ahn Sina, tidak ada laki-laki yang bisa mendekatinya, Jongin bahkan hampir tidak pernah melihat Sina mengobrol dengan laki-laki selain Sehun, itu pun karena mereka satu kelompok untuk tugas presentasi. “Kau sudah punya pacar?” Jongin bertanya.

Sina membenarkan posisi kacamatanya, lensa kontak yang biasa ia pakai sudah tidak bisa dipakai lagi. “Apa selalu pacar? Apa harus pacar? Apa aku tidak bisa pergi bersama teman?”

Baru saja Jongin ingin menjawab pertanyaan Sina, mata Sina menangkap sosok Tao yang baru saja masuk “Dia temanku! Hari ini aku berjanji dengannya!”

Jongin langsung menengok ke belakang dan menganga menyadari Tao lah orang yang Sina tunjuk, ia memandang Sina dan Tao bergantian “Kau kenal Tao?”

Sina mengerutkan keningnya, sekarang giliran dia yang pusing “Kau mengenal Tao?”

__________________________________________________________

Author’s note:

Sina tamat! HAHA

Halo, PASTEL kembali :-) 

10 thoughts on “#PASTEL 014

  1. Semakin lama, FF ini semakin membuat hatiku deg-degan, gk tau kenapa ?

    Aku jrg banget dapat ff yg castnya Tao, saat liat dan baca ff ini.. aku langsung JATUH CINTA sama TAO!!

    Aku suka banget sama Tao dan Sina, mohon yah thor perbanyak TaoSina moment….

    Ditunggu part selanjutnya, thor. .^^ jangan lama- lama yah ^^

  2. bahahahhaa aku mau komeeeeeen xD
    part ini tuh jadi obat rindu banget thor. puaaaasss taosina momentnya banyaaaaak :D
    udah gitu mereka cute lagiiiih bikin iriii. taonya sosweet. taonya cowok banget ih biarpun masih kayak bocah huahaha

    oiya, aku rada bingung pas ganti cerita ke sehunfany.. trus sehunnya rada aneh, ada apakah iniiiihh??! *muka sinetron*

    jangan lama-lama ya thoooor lanjutannya :D author the best deh pokoknyaaaah :)
    sama mau request taohara moment doong ahaha aku suka mereka lucu xD
    ditunggu update-an selanjutnya ya thor :D

    • okee taosina udah puas kan? Karena aku udah ga tahan ngetik sehunsina LOL. Kenapa Sehun aneh? Entahlah kita lihat nanti B)
      taohara? hahaha XD

  3. Oke, tadi aku lihat ada beberapa typo.. Tapi ga masalah sih, selama itu ga mengurangi alur cerita

    Aku ngerasa kalo sensasi humor yang pikrachu kasih ga kayak di part2 sblmnya yang kental abis.. Tetep keren kok
    Tapi kasian Jongin deh, udah ditolak mentah-mentah eh tetep ga nyerah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s