Waiting for You

waiting for you copy

Title:  Waiting for you

Author: Bintangdj

Genre: Romance

Lenght: ficlet ( 1.204 words)

Cast:

Ma Ri

Donghae

Very short fanfiction. Cuma ini yang bisa keluar dari otakku. Tadinya malah mau 1 halaman aja. Tapi keterusan. Ini sogokan buat temenku yang terus minta ff dari aku. Sementara ini dulu^^ Soalnya besok mau ulangan.

Aku tertunduk lesu masih memikirkan kejadian beberapa detik yang lalu. Rasanya aku ingin menangis sekarang juga, tapi aku mungkin akan dikira orang aneh yang menangis di tengah jalan. Aku menahan airmata yang sudah ada di pelupuk. Tapi entah kenapa semua kejadian tak menyenangkan tadi terus bergulir di otakku membuat airmata ini tak tertahankan lagi

Tetesan- tetesan itu terus mengalir membasahi pipiku, bahkan menetes hingga sepatuku. Bahuku agak berguncang tapi aku tetap berjalan melewati toko- toko di dekatku.  Aku meneruskan perjalananku ketika melihat halte bus yang tak jauh dari tempatku.

“Ma Ri-ya! Chankamman!” Seseorang menahan pergelangan tanganku. Tanpa melihatnya aku sudah tahu siapa dia. Aku menghapus air mataku dan mempersiapkan diriku agar tak menangis di hadapannya.

“Apa kau punya urusan denganku? Cepat lepaskan tanganku” Ucapku keras. Walaupun sebenarnya suaraku masih agak bergetar.

“Kau.. menangis?” Tanyanya. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Akkhhh… kurasa aku akan gila karena aku sangat senang melihatnya mengejarku dan mengkhawatirkanku seperti ini. Harusnya aku membencinya karena perbuatannya.

“Ani! Hanya debu yang masuk ke mata. Cepat lepaskan tanganku! Busnya sudah datang” Aku kembali menyadarkan diriku dengan tak melihat ke arahnya. Aku memberontak dan akhirnya berhasil melepaskannya.

Begitu aku ingin pergi dari tempat itu ia merengkuh tubuhku sangat erat dari belakang. “Uljima” Ucapnya agak berbisik memberikan sensasi yang aneh di telingaku. Aku yakin wajahku sudah sangat memerah saat ini. Apakah ini mimpi?

“Yaa!!! Lepaskan aku Lee Donghae!! Kau tak berhak sama sekali memelukku seperti ini!! Bahkan kau bukan Namjachinguku” Lagi- lagi aku memberontak. Ucapanku sudah sangat kacau. Aku tak tahu lagi perasaan yang kurasakan sekarang. Semuanya bercampur menjadi satu.

“Aku sangat berhak. Karena kau sahabatku”

JLEBB

Kata- kata itu sangat menusuk di hatiku. Sahabat? Hal yang kurasakan padanya jauh dari sahabat. Ia sudah mengejarku, memelukku dan ia hanya mengatakan bahwa ia berhak karena sahabatku?!

BUKK

Aku memukul perutnya dengan tas. Aku bisa mendengar ia sedikit meringis karena tasku berbahan agak keras. Napasku seketika menjadi tak beraturan. Rasanya ingin menangis lagi tapi tentu saja kutahan.

“Aku merasa menjadi orang bodoh, Donghae-ya” Kataku sambil tersenyum miris. “Aku sudah sangat senang saat kau mengajakku bertemu di hari ulang tahunku. Tapi kau membuatku menunggu 2 jam dan saat kau menyuruhku pulang, aku malah melihat kau bersenang- senang dengan yeoja lain!!” Tanpa terasa bulir- bulir air mata keluar lagi membasahi pipiku. Aku bukan hanya sekadar cemburu. Aku kesal, persahabatan yang sudah terjalin 7 tahun dikalahkan oleh seorang yeoja yang kurasa pasti belum setahun menghabiskan waktu dengan Donghae. Bahkan ia membuatku menunggu 2 jam dihari ulang tahunku.

Pagi tadi, sambil memilih baju aku memikirkan sesuatu yang menyenangkan di tahun- tahun sebelumnya. Ulang tahunku yang ke 15 kami bernyanyi di karaoke hingga puas, lalu ia mentraktirku makan ramyun. Ulang tahun ke 14 kami pergi ice skating dan ia membelikan hadiah sepatu bergaya feminin. Ulang tahun ke 13 ia hanya memberiku gantungan kunci pasangan karena ia bilang sedang tak ada uang.  Ulang tahun ke 12 aku merayakan dirumahnya bersama eonni dan ibunya.

Untuk tahun ini aku tak mengharapkan sesuatu yang mahal, aku hanya ingin bersenang- senang bersama Donghae. Dan aku tak mengharapkan hal semacam ini terjadi.

Donghae hanya memandangiku yang berteriak kencang. Aku tak mampu lagi menatap matanya dan hanya terisak sambil memandangi trotoar yang kelabu. Pundakku berguncang karena isakanku yang cukup kencang.

“Ma Ri-ya tenanglah dulu.” Ucap Donghae agak pelan. Sepertinya ia sadar setelah aku berteriak tadi, orang- orang yang menonton kami  bertambah banyak.

“Untuk apa? Untuk mendengar berita tentang yeojachingu barumu? Aku yakin selama ini pasti kau juga menjalin hubungan dengan yeoja-yeoja yang menembakmu. Jangan hanya menyembunyikannya dibelakangku, harusnya kau beritahu jika menjalin hubungan seperti itu Donghae-ya!” Ucapku lagi dengan suara yang agak parau. Aku mengatur napasku dan ketika aku melihat sekilas wajah Donghae, aku terkejut melihat ekspresinya. Tatapannya sangat tajam. Aku merasa tubuhku kaku seketika. Ia tak pernah memperlihatkan wajah semenakutkan itu. Ia bahkan tak memasang ekspresi itu saat kami bertengkar tahun lalu.

“Jadi selama ini itu yang kamu pikirkan tentangku? Aku kecewa Ma Ri-ya” Ucapnya. Ia segera membalikkan badannya dan berjalan pergi melewati  kerumunan orang yang menonton kami.

Aku ingin mengucapkan sesuatu agar ia kembali kepadaku tapi bibirku kelu, tubuhku kaku dan aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Lututku bergetar dan sesaat kemudian aku terduduk di trotoar yang dingin itu. Tangisanku makin kencang.

Seketika aku teringat ekspresi Donghae kemarin, saat dia mengajakku pergi di hari ulang tahunku. Dengan serius ia mengatakan ada hal yang ia ingin katakan sejak dulu. Ini sungguh aneh, tak seperti Donghae yang biasanya tersenyum dan membuatku tertawa. Donghae yang sensitif dan cengeng. Aku harus menjaga perasaannya agar ia tak terluka. Hal yang ia ingin katakan, kuharap sama seperti hal yang ingin kukatakan. Oleh sebab itu aku marah. Aku menunggunya 2 jam dan berharap perasaannya sama sepertiku, tapi ia tak datang.

Tadi ia datang padaku, tapi aku malah mengatakan sesuatu yang membuatnya marah. Aku terlalu dikuasai emosi. Donghae-ya.. kumohon datanglah. Tak masalah menunggu berapa jampun. Yang penting aku selalu bisa bersamamu. Dan tertawa lagi bersamamu.

Tiba- tiba seseorang menarik tanganku hingga aku berdiri lalu langsung merengkuhku erat. Mataku melebar karena terkejut. Aku tahu harum ini. Aku tahu tubuhnya yang selalu membuatku rindu. Aku membalas pelukannya. Apa tuhan mendengarku tadi? Tapi pengaturan napasnya agak aneh. Dan aku merasakan pundakku yang sedikit basah.

“Donghae.. kamu menangis?” Tanyaku pelan. Tapi ia tak menjawab sama sekali. Aku tersenyum simpul lalu menepuk-nepukkan punggungnya. Ia sama sekali tak berubah, tetap Donghae yang kukenal.

“Mianhe, aku menuduhmu berpacaran dibelakangku” Ucapku setelah lama menenangkannya. Isakannya sudah berhenti.

“Ani, kamu tak bersalah. Salahku karena tak memberitahu yang sebenarnya” Ucap Donghae. “kakak perempuan ibuku dan suaminya kecelakaan dan sedang koma di rumah sakit. Eonniku sedang pergi dengan temannya, sedangkan ayah dan ibu menemani ahjumma dan ahjussi di rumah sakit. Aku menemani anak perempuannya pergi agar ia tak terlalu stress.”

“Jinjjayo? Kamu tak menikmatinya kan? Atau kau menyukainya?” Tanyaku. Kami sudah melepaskan kontak tubuh kami.

“Aniyo.. aku sama sekali tak tertarik dengannya” Setelah ia mengatakan hal itu, kami hanya saling memandang hingga 5 detik.

“kamu tahu hal yang ingin kukatakan sejak dulu?” Ucapnya tiba- tiba. Memecah keheningan.

“Apa itu?”

“Saranghaeyo” Ucapnya dengan senyum manis yang mengembang. Aku bisa merasakan wajahku yang memanas. Inilah yang kutunggu sejak pagi tadi. Hal yang sangat kuharapkan hingga membuatku panas melihatnya bersama yeoja lain. Aku tersenyum memperlihatkan deretan atas gigiku.

“Nado” ucapku pelan. Aku menatap matanya. Donghaeku sudah kembali. Matanya yang teduh dan agak sayu itu. Tak seperti tatapan matanya yang tajam tadi. Aku selalu merasa tenang jika menatap matanya.

“Mana ciumannya?!!” Teriak seseorang dari kerumunan orang yang menonton kami. Aku tersadar, orang- orang yang menonton kami belum pergi. Memangnya mereka pikir ini acara TV? Aku agak kesal melihat kerumunan orang ini, walaupun tadi aku mengabaikannya karena tak peduli.

“KISSEU! KISSEU! KISSEU! KISSEU!” Seketika orang- orang disekitar kami menyebutkan satu kata itu berulang- ulang. Membuat aku dan Donghae menatap satu sama lain dengan tatapan bingung.

“KISSEU! KISSEU!” Sorakan itu masih membahana hingga Donghae mendekatiku perlahan dan mendekatkan wajahnya padaku.

“Ya! Kau mau apa?!” Ucapku kaget karena kelakuannya. Apakah dia benar- benar ingin memberi service pada penonton disini?

“Diam dan rasakan saja” Ucapnya dengan senyum tipisnya. Tapi dibalik senyum itu aku merasakan sedikit hawa evil. Aku memejamkan mataku kuat ketika bibirnya semakin dekat dengan bibirku dan kalian tahu? Kejadian berikutnya adalah sesuatu yang tak bisa kulupakan bahkan membuatku tak bisa tidur semalaman.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s