I Just Want to life Happily

i just want to life happily copy

Title: I just want to life happily

Author: Bintangdj

Genre: Romance, sad, Angst, AU

Cast:

Lee Chae Rin as reader

Lee Sung Min

Yesung

Ini fanfic keduaku yang di post. Yang jelas ini ceritanya ga jelas banget. Bahkan aku sendiri nggak bakal nyangka akhirnya bakal jadi kayak gini. Ini sebenernya genrenya apa??? Tapi ga papa lah, happy reading.

Butiran- butiran air itu menetes pelan- pelan dari gelas parfait yang kupesan. Aku terlalu lama menunggu. Lihat, es krim stroberi dari parfait yang kupesan sudah tak berbentuk lagi. Aku menyeruput parfait anggurku dan…. akhh, habis. Pemilik parfait stroberi itu tak kunjung datang. Aku menyangga daguku dengan tangan sambil memperhatikan parfait stroberi yang sudah hampir meluap karena es krimnya mencair. Sungmin oppa… kau akan datang kan?

Sesekali aku memperhatikan keadaan luar. Tembok kafe ini diganti kaca membuat pandangan pelanggan terasa luas. Tapi lagi- lagi pandanganku tetap menuju pada parfait stroberi. Terbayang Sungmin oppa yang sedang meminum parfait stroberi kesukaannya. Oppa mungkin tak sadar, tapi ketika ia meminum parfait stroberi ia terlihat seperti anak kecil. Meskipun ia belajar banyak martial arts untuk membuktikan dia adalah seorang namja. Aku tersenyum tanpa sadar. Walaupun kami berbeda 3 tahun, terkadang ia terlihat masih kekanak-kanakan.

Drrrrt drrrrt

Eomma calling….

Begitu melihat siapa yang menelpon aku tak peduli dan membiarkannya. Eomma? Mengangkat telepon dari eomma sama saja bunuh diri. Aku pasti akan dimarahi habis-habisan. Eomma berhenti menelpon. Aku menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirku. Aku yang menang pikirku dalam hati.

Sepasang sepatu hitam terlihat di depanku. Aku menghadap keatas memastikan siapa orang itu. Sungmin oppa? Aku sangat berharap dia yang akan datang.

“Yesung oppa…” Ucapku pelan. Dia masih mengatur napasnya, aku tahu dia pasti mencariku walaupun tak ada setetespun keringat di wajahnya. Tentu saja, di luar sedikit bersalju.

“Oppa capek? Duduklah, tapi jangan minum parfait itu. Itu kupesan untuk Sungmin oppa” Ucapku sambil menunjuk bangku didepanku. Sejenak kulihat tatapan kosong Yesung oppa, ia sedikit terkejut dengan ucapanku.

“Pulanglah” Yesung oppa menarik lenganku.

“Aku masih menunggu Sungmin oppa, lagipula aku belum bayar” Ucapku mencari alasan. Pokoknya aku ingin bertemu oppa hari ini. Sudah 2 hari ini oppa menghilang, dan aku yakin oppa pasti kesini. Ia pasti kesini untuk menikmati parfait stroberinya, walaupun ia harus meminta adiknya untuk mentraktirnya. Untuk sesuatu yang ia inginkan, oppa agak egois.

Yesung oppa mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan lembaran won yang ia taruh diatas meja. “Ibumu khawatir, jadi cepatlah pulang” Ucap oppa lagi. Aku menatap wajahnya yang hanya menatap kosong diriku.

“Apa oppa bersekongkol dengan eomma? Aku takkan pulang meskipun oppa memaksa. Untuk apa oppa ikut campur urusan keluarga kami? Oppa hanya tetangga yang berteman dengan Sungmin oppa” Ucapku lagi. Yesung oppa hanya terdiam sebentar dan menarik lenganku untuk segera mengikutinya. Aku menahannya namun percuma karena ia lebih kuat dariku.

“Andwae! Oppa! Aku tak mau pulang!! Sungmin oppa!!!” Aku terus meronta membuat Yesung oppa menghentikan langkahnya.

“Lee Chae Rin! Sampai kapan kau mau terus begini?!” Yesung oppa membentakku. Membuatku terkejut. Jujur, selama setahun ini aku mengenalnya dia tak pernah bersikap seperti ini. Dia… terlalu menakutkan.

“Hadapilah kenyataan! Kau pikir hanya kamu yang merasa kehilangan?” Lanjutnya lagi. Ia melepaskan genggaman tangannya dari lenganku. Sakit… Yesung oppa mencengkramnya sangat kuat.

“Kakakmu, Sungmin sudah meninggal! Dia tak ada lagi di dunia ini!” Kata- kata itu.. sudah berulang kali kudengar dari banyak orang sejak 2 hari yang lalu. Aku sudah bosan mendengarnya, dan aku tak akan mempercayai hal itu.

“Andwae!! Sungmin oppa masih ada! Kenapa semua orang begitu keras kepala??” Aku menatap wajah Yesung oppa lekat. Aku yakin mataku memancarkan sorot keyakinan.

“Kau yang keras kepala Lee Chae Rin, dinginkan kepalamu dan ingatlah kejadian 2 hari yang lalu. Kau melihat sendiri Sungmin di upacara pemakaman itu” Ucap Yesung agak emosi.

“Oppa!” Aku merasakan udara sekelilingku semakin dingin. Seketika kepalaku pusing dan tubuhku kehilangan keseimbangan. Aku hanya bisa mendengar suara Yesung oppa yang memanggil namaku saat itu

***

Perlahan aku membuka kelopak mataku, aku mendengar suara- suara berisik dari jauh. Ini langit- langit kamarku. Aku berusaha bangun namun dunia terasa berputar membuatku terjatuh ke kasur lagi.

“Tidurlah, itulah akibatnya kalau kau keluar malam- malam dan minum es. Badanmu sangat panas” Aku tahu suara bariton itu. Yesung oppa? Entahlah, pandanganku sangat buram.

“Yesung oppa?” Tanyaku sambil berusaha menggapainya. Yesung oppa menangkap tanganku dan memasukkannya dalam selimut, membuatnya hangat.

“Ne? Kau butuh apa? Mau makan?” Tanyanya lembut. Kali ini dia benar- benar berbeda dari yang di kafe tadi. Apa karena aku sakit? Aku menggeleng pelan, akhh! bahkan hanya menggeleng membuatku tambah pusing.

“ Ada apa dibawah? Kenapa sangat ribut?” Tanyaku pelan, kini aku menutup mataku lagi. Lampu kamarku terlalu silau.

“Apa Eomma dan appa ribut lagi? Atau mereka akhirnya memutuskan bercerai?” Tanyaku lagi, karena tak sabar menunggu jawaban Yesung oppa.

“Ani, tak ada apa- apa. Lebih baik kau tidur saja” Jawabnya, membuatku kesal. Aku tahu aku sedang sakit, tapi kenapa aku tak boleh tahu tentang urusan keluargaku sendiri?

“Jawablah oppa, kali ini ada apa? Aku sudah biasa mendengar Eomma dan appa bertengkar” Dan biasanya aku selalu bersembunyi dibalik selimut ketika Eomma dan Appa bertengkar. Aku menangis, dan bertanya- tanya kenapa aku dilahirkan di keluarga yang tak akur ini. Saat seperti itu Sungmin oppa selalu datang padaku dan menyuruhku tidur.

“Mereka memutuskan untuk bercerai. Sekarang mereka sedang meributkan siapa yang akan membawamu” Ucap Yesung oppa.

“Bahkan di saat seperti ini pun mereka tetap bertengkar seperti orang bodoh” Ucapku agak kesal. Anaknya sedang sakit seperti ini malah terus bertengkar.

Yesung oppa mendekatkan jari telunjuknya di bibirku “Ssst, mau bagaimanapun mereka tetap orangtuamu. Jangan asal bicara. Sekarang tidurlah” Kata Yesung oppa pelan.

“Apa kau mau aku menyanyikan lagu tidur untukmu?” Tanya Yesung oppa iseng. Aku bisa melihat senyumannya walaupun mataku setengah terpejam.

“Aku bukan anak kecil lagi!” Aku memanyunkan bibirku dan merubah posisiku menghadap tembok.

“Ayolah Chae Rin-ah, jangan ngambek seperti itu”

“Diam! Aku mau tidur” Aku memejamkan mataku dan berusaha tidur. Tapi tetap saja tak bisa. Aku tak berani menoleh ke belakang, tapi aku masih bisa merasakan kehangatan di punggungku. Apakah Yesung oppa masih ada disana?

“Oppa”

“Ne? Kau mau apa?” Tanya oppa langsung. Aku terkekeh pelan, ia sangat sigap sekarang.

“Aku tak bisa tidur” Jawabku, tetap mengadap ke dinding. Aku terlalu malas untuk memutar balikkan badanku.

“Hmmm… kalau begitu aku harus apa agar kau tidur?”  Tanyanya lagi. Biasanya disaat seperti ini…

“Aku ingin Sungmin oppa menemaniku sekarang”

Yesung oppa terdiam. Kami dalam keheningan sampai beberapa menit. Apakah Yesung oppa sangat terkejut? Aku benar- benar tak bercanda. Aku hanya menginginkan Sungmin oppa sekarang.

Tiba- tiba tangan Yesung oppa meraih kepalaku. Ia duduk di tempat tidurku dan mengelus kepalaku. Ia juga memainkan rambutku dengan memelintirnya di jarinya.

“Sungmin… melakukan hal seperti ini kan?” Aku hanya diam tak menjawab. Aku segera membalikkan tubuhku dan menatap Yesung oppa lekat.

“Wae? Pejamkan matamu. Anggap saja aku Sungmin, dengan itu kau akan tertidur kan?” Ucap Yesung oppa. Aku menurutinya dan memejamkan mataku. Aneh, Sungmin oppa memang senang memainkan rambutku tapi aku sangat kesal dengannya. Kau tahu? Oppa memainkan rambutku membuatku tak bisa tidur, rasanya geli dan aku selalu memarahinya jika Sungmin oppa memulai kebiasaan anehnya itu. Sungguh aneh karena aku malah merindukan sesuatu yang kubenci itu.

“Oppa”

“Wae?”

“Bisakah oppa menjawab satu pertanyaanku ini?”

“Ne.. katakanlah”

Aku kembali membuka mataku dan menatap lantai. Butuh waktu untuk mengucapkan hal ini. “Apakah aku… tak akan bisa bertemu Sungmin oppa lagi?” Kini mataku mulai berkaca- kaca “Apakah Sungmin oppa sudah tak ada lagi di dunia ini?”

Yesung oppa tak menjawab. Ia malah menghentikan memainkan rambutku. Aku berusaha bangun dan duduk di tempat tidurku. Aku tak peduli dengan rambutku yang berantakan atau wajahku yang memerah karena demam. Yang kutahu, saat ini butir- butir air mata sudah menetes dari mataku.

“Jawablah oppa…” Aku sudah tak dapat menahannya lagi. Saat ini air mataku sudah sangat deras. Tanpa berkata apapun Yesung oppa memelukku erat, sangat erat. Aku yakin saat ini bajunya basah karena air mataku.

“I..i…ini salahku, oppa”  Aku masih berusaha bicara walaupun saat ini wajahku tertutup tubuh Yesung oppa. Walaupun Tangisan ini membuat suaraku tak jelas.

“Kalau saja aku tak menyuruhnya pergi waktu itu…”

“Keumanhae” Yesung oppa memotong pembicaraanku.

“Ini bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah Sungmin ataupun orangtuamu”

“Kalau mengingat Sungmin membuatmu sangat menderita, lupakanlah. Walaupun orangtuamu meninggalkanmu pun, bertahanlah. Janganlah menjadi Lee Chae Rin yang lemah. Walaupun masalah berat menimpamu, tersenyumlah. Kau tahu? Di dunia ini, orang yang melihat ke depanlah yang nantinya akan tersenyum. Kau pikir Sungmin akan selamanya bersamamu? Kau pikir selamanya kau akan terus dilindungi?”

Aku terkejut. Seketika air mataku berhenti. “Oppa?”

Yesung oppa mengatur ekspresinya lagi . Ia membaringkanku dan merapikan letak bantalku. “Tidurlah, tak usah pikirkan apa yang kuucapkan tadi”

***

Aku terbangun karena silaunya mentari pagi memasuki kaca jendelaku. Pasti aku lupa menutup gorden semalam. Aku meregangkan tubuhku dan menguap. Tunggu, sepertinya ada sesuatu yang kurang. Aku segera teringat kejadian semalam. Yesung oppa? Dimana dia?

“PERGI! PERGILAH KAU WANITA SIALAN!! BAWA SEKALIAN ANAK CENGENG ITU!” Seketika itu aku mendengar bunyi yang sangat keras. Suara itu.. membuat telingaku sakit. Apa Eomma dan Appa memulainya lagi? Ani.. kali ini bahkan lebih parah dari sebelumnya. Appa tak pernah berbicara kasar seperti itu kecuali dia benar- benar marah.

“Ne! Aku akan pergi bersama Chae Rin!” Aku tak melihat kejadiannya, tapi kurasa sudah jelas siapa yang akan membawaku sekarang. Eomma dan aku akan pergi? Bagaimana dengan Yesung oppa? Apa aku tak bisa bertemu dengannya lagi.

Brakk!!

Aku menatap terkejut pintu kamarku yang terbuka lebar. Eomma, dengan kasarnya memasukkan barang-barangku ke dalam koper. Aku hanya sanggup berdiri sambil memperhatikan eomma.

“Lee Chae Rin.. ah ani, Han Chae Rin!! Cepat ganti baju dan tinggalkan tempat ini!!” Ucap Eomma. Eomma melanjutkan kegiatannya lagi.

“Bagaimana dengan Appa?” Tanyaku. Apakah ini benar- benar akhir dari nasib keluargaku? Apakah ini benar- benar takdirku? Sungmin oppa.. apakah ia tak akan ada disisiku lagi? Menemaniku di tengah kejamnya lingkunganku ini?

“Kenapa masih bertanya? Tentu saja kami sudah bercerai. Dia bukan siapa- siapa lagi. Cepatlah ganti bajumu dan bawa koper ini. Kutunggu di bawah, aku sudah memesan taksi.” Ujar eomma cepat lalu menutup pintu kamarku. Membuatku sendirian di ruangan yang hening ini. Aku terduduk pelan di lantai. Tanpa suara aku menangis lagi. Sudah kubilang aku ini cengeng bukan?

Jika bukan Sungmin oppa, Yesung oppa lah yang kubutuhkan. Siapa lagi yang bisa membuatku berhenti menangis? siapa lagi yang bisa membuatku tenang? Siapa lagi yang bisa membuatku bertahan?

 “Janganlah menjadi Lee Chae Rin yang lemah. Walaupun masalah berat menimpamu, tersenyumlah. Kau tahu? Di dunia ini, orang yang melihat ke depanlah yang nantinya akan tersenyum. Kau pikir Sungmin akan selamanya bersamamu? Kau pikir selamanya kau akan terus dilindungi?”

Aku langsung teringat kalimat itu. Aku menepuk- nepuk pipiku berusaha menghentikan air mataku yang jatuh. Perlahan- lahan aku bangun dan mencuci mukaku. Aku mengganti baju dan memegang koper yang diberikan eomma. Dengan kaki gemetar, namun langkah yang pasti aku berjalan menuju eomma.

***

Aku berdiri dan terdiam sambil melihat eomma yang menaruh barang- barang di bagasi. Eomma segera duduk di kursi depan. Melihatnya, aku ikut duduk di kursi belakang taksi.

“Eomma, kita mau kemana?”

“Tentu saja pulang ke rumah kakekmu. Memang ada tempat tujuan lain?” Jawab eomma. Sekarang dia sedang memberitahu lokasi rumah kakek. Aku memandang keluar dan memperhatikan rumah sebelahku. Rumah bercat putih itu, membuatku teringat kembali kejadian tadi malam. Kalau saja Yesung oppa tak datang, mungkin aku akan stress. Apa mungkin gila?

Supir Taksi menginjak gas membuat mobil ini melaju. Ahh, aku lupa sesuatu… bagaimana mungkin aku pergi tanpa memberitahu Yesung oppa?

“STOPP!! Eomma, tunggu sebentar! Ada sesuatu yang kulupakan!” Teriakanku membuat Eomma dan si supir terkejut. Tanpa peduli apapun lagi aku membuka pintu mobil dan berlari menuju rumah bercat putih itu.

Aku segera membuka pagar yang tak terkunci. Kulihat Ahjumma dan Ahjussi yang tengah berberes. Mungkin mereka ingin pergi ke suatu tempat. Tapi, kenapa Ahjumma menangis dan Ahjussi berwajah suram seperti itu?

Mereka berniat masuk ke mobil dan tentu saja aku menghentikan hal tersebut. “Ahjumma! Apakah Yesung oppa didalam?” Tanyaku membuat ahjumma menoleh ke arahku.

“Chae Rin-ah, kau mencari Yesung? Kamu belum mendengarnya?” Ucap Ahjumma sambil terisak. Hidungnya memerah.

“Mendengar apa?” Tanyaku. Apakah Yesung oppa sedang pergi? Kenapa Yesung oppa tak ada di saat penting seperti ini?

“Dia.. baru saja meninggal tadi di rumah sakit” Aku… tak sanggup berkata apapun. Meninggal? Lelucon apa itu? Sangat tidak lucu.

“Ahjumma, kemarin Yesung oppa masih sehat. Ia bersamaku semalam. Apa Ahjumma tidak salah?” Aku berusaha mengkonfirmasi lagi. Mau bagaimanapun ini tak masuk akal.

“Yesung? Bersamamu? Tak mungkin! 3 hari ini dia koma, dan tadi baru saja dia menghembuskan napas terakhir. Apakah kamu tidak tahu? Yesung bersama Sungmin di hari kecelakaan itu. Kakakmu langsung meninggal sedangkan Yesung koma” Jelas Ahjumma lagi.

“Andwaeyo.. tak mungkin, Yesung oppa bersamaku semalam jadi itu tak mungkin!” Aku berteriak sekeras mungkin membuat Ahjumma sedikit terkejut.

“Aku.. tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, tapi maaf. Kami harus segera pergi” Ahjumma mengisyaratkan aku menyingkir agar mobil mereka bisa keluar. Dia langsung masuk ke dalam mobil.

Aku segera menghentikan mobilnya dan mengetuk- ngetuk kacanya tak beraturan “Ahjumma!! Tak mungkin! Katakan padaku Yesung oppa di kamarnya bukan? AHJUMMA!!” Mobil mereka segera melesat pergi, meninggalkanku yang masih histeris. Bagaimana bisa ini terjadi padaku?

Lagi- lagi, aku terduduk di teras rumah ini. Aku rasa aku bisa gila sekarang. Jika harus mati sekarangpun aku rela. “Yesung oppa, apa kau benar- benar sudah pergi? Apa aku benar- benar tak bisa menemuimu lagi? Sebenarnya siapa yang menemaniku kemarin? Apa aku berhalusinasi?”

Aku mencubit pipiku sendiri. “Apa ini mimpi? Kalau mimpi cepatlah bangun! Aku hanya ingin kembali bersama Sungmin oppa dan Yesung oppa! Cepatlah bangun!!”

***

Aku menatap air laut yang tak begitu biru. Tebing ini sangat curam. Aku bersandar di pagar pembatas dan hanya terdiam, lalu sesekali melihat seragam sekolahku. Kusut, eomma sama sekali tak menyetrikanya. Dia sibuk? Ani, dia hanya sibuk bermain dengan pria- pria itu. Bahkan aku sama sekali tak menikmati makanan instan dingin yang tersedia untuk makan malamku. Apa nikmatnya memakan makanan tak sehat itu sendirian? Lebih baik tak makan.

Langit semakin jingga, aku tahu kegelapan akan segera menggantikan pemandangan indah ini. Pemandangan matahari terbenam dengan air laut yang tenang.

“ Yesung oppa, aku sama sekali tak bisa tersenyum. Kupaksakan pun, senyuman itu tak muncul juga di wajahku. Aku sama sekali tak bisa menikmati hidup ini oppa.” Ucapku pelan sambil memandangi pemandangan yang mulai sirna itu.

Drrrt drrrrt

Eomma calling…

Aku hanya menatap layar Hpku sebentar. Dia khawatir? Memang aku peduli? Aku melempar Hpku jauh dan akhirnya aku bisa mendengar suara deburan kecil tanda benda itu tak akan terlihat lagi. Perlahan aku membuka sepatuku dan kaus kakiku. Menyusunnya rapi di ujung tebing. Aku memanjat pagar pembatas dan duduk disana, menikmati angin malam yang berhembus, membuat rambut panjangku menari- nari terbawa angin. Perlahan aku memposisikan tanganku di samping tubuh, memastikannya pas berada disana.

Aku menatap langit dengan tatapan berkaca- kaca, lalu tersenyum miris. Dengan pasti aku berdiri di ujung tebing dan membiarkan tubuhku jatuh menembus udara.

End

2 thoughts on “I Just Want to life Happily

  1. KEREEN! Walaupun alurnya agak mistis gitu tapi aku suka bgt gimana Obin bikin Yesung di sini sebagai tokoh yg bijak dengan kata2 mutiaranya^^ sukses!!!!! terus berkarya!!!

  2. Bagus deh! Akhirnya sedih bangeeeet… terusnya misterius gitu, aku jadi merinding.. Akkh! aku nggak bisa ngeliat Yesung tanpa berpikir bahwa dia itu sesungguhnya lagi koma.. humphff!XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s