Let the Hearts Do the Talk

Final

TITLE: Let the Hearts Do the Talk

AUTHOR: itsredpenguin

GENRE: Romance

LENGHT: Chapter [Completed]

RANTING: G

CAST: Nam Woohyun (INFINITE), Kim Hyerin (OC)

Pertama-tama author minta maaf dulu karena belum sempat bikin poster maupun /cough/sesuatu yang lain/cough/

[EDIT] Posternya sekarang sudah ada~! (?)

~//~

Terkadang hal yang baik menjadi buruk karena satu hal. Berlebihan. Namun jelas seseorang harus menuliskannya besar-besar di sebuah banner tepat di tengah-tengah kota agar Nam Woohyun dapat mengerti.

“Hyerin-ah, saranghae~” dengan membentuk hati menggunakan kedua lengannya, Woohyun tersenyum lebar kepada Kim Hyerin yang melihatnya dengan tatatapan datar.

Gadis itu hanya diam untuk setengah menit sebelum membalasnya. “… Nam Woohyun, itu sedikit menjijikan” katanya tanpa berpikir dua kali. Namun hal tersebut hanya dibalas Woohyun yang mencubit pipi Hyerin.

“Ah, Hyerin sangat lucu ketika mengatakannya~”

Sudah terlalu jelas, seseorang, siapa pun, dari mana pun, harus cepat-cepat menghentikan Woohyun sebelum Kim Hyerin benar-benar kehilangan kesabarannya yang sangat tipis dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali.

~//~

–1

Manusia diciptakan dengan sesuatu yang kita kenal dengan kata ‘hati’. Bukan, bukan hati yang menghancurkan racun dalam tubuhmu. Yang sedang kita bahas adalah hati yang mengeluarkan perasaan. ‘Hati’ yang rasanya terikat saat kita merasa bingung atau sedih, hati yang serasa ringan saat tertawa bersama teman.

Dalam menunjukkan segala emosi yang keluar dari ‘hati’ tersebut, akan muncul kata lain, ekspresi. Senyum, alis yang bertaut, dan lain sebagainya. Beberapa orang cukup ekspresif dalam menunjukkannya, beberapa memilih untuk menunjukkannya tergantung dengan situasi dimana mereka berada.

Dan Nam Woohyun adalah orang yang dapat dikategorikan terlalu ekspresif dan sedikit memperhatikan dimana mereka berada. Tempat umum atau tidak.

Dari menyapa pembawa surat di pagi hari sampai guru paling galak di sekolahnya. Semuanya menerima senyumannya dan lambang hati yang ia sebarkan tanpa henti. Namun hal tersebut menjadi lebih ekstensif ketika berada di sekitar seorang gadis yang hanya menatapnya dengan tatapan tidak setuju setiap saat.

Berjalan dengan pelan – hampir tidak disadari keberadaanya – di lorong. Berlahan mendekati lokernya dan dengan ketenangan yang hampir sama, Kim Hyerin membuka loker besi miliknya. Namun di saat yang sama sebuah suara menghancurkan suasana tenang.

“Hyerin-ah~!” Hyerin hanya terpaku menatap kosong lokernya saat Nam Woohyun datang dengan senyum 24/7 miliknya. Matanya bersinar saat ia menyapa Hyerin dengan bersemangat.

Setelah satu menit penuh barulah perempuan itu dapat menyapa balik. “Ah, annyeong Woohyun-ah…” jawabnya pelan. Namun seperti sebuah skrip – yang buruk, bila Hyerin dapat beropini mengenainya – Woohyun langsung berbicara tanpa henti.

“… Tapi yang aku senangi dari hari senin adalah aku dapat bertemu denganmu lagi” ketika mengatakan ini tangan Woohyun menepuk pelan kepala Hyerin yang memang bertubuh lebih pendek dibandingkan dengan Woohyun, walaupun laki-laki itu tidaklah terlalu tinggi dibandingkan dengan teman-temannya.

Hyerin hanya menatap Woohyun, menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan, apa yang ia lakukan pada situasi seperti ini. Sebuah ironi karena hal ini terjadi hampir di setiap saat. Terkadang Hyerin merasa bingung mengapa ia selalu bertanya-tanya pada dirinya walaupun ia tahu apa yang akan terjadi kemudian.

“Yah, Nam Woohyun,” dengan tatapan kosong Hyerin memandang ke arah laki-laki yang masih menempatkan tangannya di atas kepala Hyerin. Tertawa kecil, tangan tersebut kembali ke sisi tubuh Woohyun.

Dengan gerakan yang cekatan dan terlatih, Woohyun mencubit pipi Hyerin. “W-Woohyun-ah!”

“Kenapa kau harus begitu lucu,” Woohyun menunjukkan rasa senangnya atas jawaban yang dapat dikategorikan dingin dari Hyerin. “Tapi aku tahu kau menyukainya ‘kan?” ia membentuk hati dengan dua tangannya dan menunjukkannya dengan terlalu jelas ke depan muka Hyerin yang tidak berbagi kesenangan dengan Woohyun.

“Nam Woohyun, hentikan” tetapi Woohyun hanya menyeringai sambil menepuk lagi kepala Hyerin sebelum berlari pergi dengan tubuh masih menghadap ke arah Hyerin. Membentuk hati di atas kepalanya, Woohyun berteriak. Dan suaranya dengan sangat, terlalu jelas, memantul di seluruh lorong.

“Kim Hyerin, rindulah padaku sepanjang hari!”

Dasar Woohyun! Hyerin menutup wajahnya dengan tangannya, menahan malu dari pernyataan Woohyun sebelumnya, dan tatapan murid lain tidak membantu sama sekali.

Ia merasakan perutnya terasa aneh dan penuh – walaupun sangat berbeda saat Hyerin lapar maupun kenyang. Hyerin menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan sebuah pikiran yang tiba-tiba muncul di kepalanya.

“Ah, apa sih yang kupikirkan?” memukul pelan sisi kepalanya, Hyerin melanjutkan pekerjaannya – mengambil beberapa barang dari lokernya. Walaupun matanya terfokus pada tumpukan pekerjaan tambahan, pikirannya berjarak seratus kilometer dari dimana Hyerin berada.

Kenapa perutku terasa aneh ya? Apakah aku salah makan? Muka Woohyun dengan senyum bodohnya – berdasarkan Hyerin – tiba-tiba muncul di kepalanya dan perut Hyerin terasa makin tidak nyaman saja. Sebelum dapat menghilangkan rasa tersebut pikiran berikutnya menyerbu.

Apakah Woohyun benar? Aku, bahwa aku menyukainya? Itu tidak masuk akal!

Apa barusan yang kupikirkan?! Pada peperangan mental tersebut dari luar orang-orang hanya dapat melihat Hyerin membanting tutup lokernya sebelum melangkah pergi sambil membisikan seratus cara membalas Woohyun akibat… apapun itu yang ia telah lakukan.

~//~

Kim Hyerin selalu memiliki masalah dalam menunjukkan kata hatinya. Saat ia bersemangat ia akan tertawa tanpa sebab. Di saat ia tak bisa lagi berkata apapun dan kesabarannya habis, sesuatu akan rusak, atau tidak mengingat Hyerin bukanlah orang yang memiliki kekuatan yang luar biasa.

Walaupun begitu sekarang ini Hyerin benar-benar tidak memiliki ide mengenai apa yang ada di perutnya. Rasanya sudah lebih baik semenjak insiden bersama dengan Woohyun di pagi hari. Tetapi ketika wajah Nam Woohyun atau namanya disebutkan, perutnya terasa terikat dan itu lebih dari sekedar mengganggu Hyerin sepanjang hari.

Tidak nyaman adalah cara mudah menjelaskannya, namun Hyerin sadar bahwa itu tidak disebabkan salah makan atau apapun penyakit yang ia tahu. Walaupun Hyerin hanya memiliki sedikit asumsi, yang ia yakin adalah: Ia, Kim Hyerin harus menemukan apapun di pikirannya yang berhubungan dengan Heart Maker Nam Woohyun dan membuatnya merasa terganggu.

Jalan ke rumahnya tidaklah terlalu jauh, namun satu hal yang selalu menjadi masalah adalah satu fakta dimana rumah seseorang juga melewati jalan yang sama. Namun pikiran Hyerin masih terbebani oleh asumsi yang ia buat sebelumnya.

Menatap kosong ke arah jalan, Hyerin terus berpikir keras.

Bagi Hyerin, Nam Woohyun adalah seorang teman. Tetapi, apakah itu saja? Hyerin berpikir lebih dalam. Setelah dipikir-pikir lagi walaupun mereka berteman semenjak hari pertama di SMA, Hyerin dan Woohyun berinteraksi dengan cara yang berbeda.

Mengingat samar-samar saat ketika Woohyun dengan mudahnya melontarkan kata-kata yang sangat frontal dan langsung ke maksudnya – disertai dengan hati yang ia buat, Hyerin menimbang-nimbang hal tersebut. Kemudian satu jawaban terlintas di kepalanya.

Apakah aku iri dengan caranya menunjukkan perasaannya?!

Tetapi sebelum Hyerin dapat menghilangkan atau berpikir lebih dalam mengenai kemungkinan mengerikan itu di kepalanya, tiba-tiba suara yang sangat familiar dapat terdengar. Dan Hyerin tidak dapat menghilangkan rasa terkejutnya saat Woohyun memeluk gadis itu dari belakang.

“Hyerin-ah~” Woohyun akhirnya melepaskan pegangannya dan memutar Hyerin yang bertubuh ringan ke arahnya. Dengan senyuman khasnya, mulut Woohyun mulai beraksi. “Hyerin, kau tahu betapa rindunya aku?”

Hyerin menatapnya dengan muka datar. Terkadang Hyerin berpikir temannya ini terlalu banyak menonton drama-drama yang mengudara sampai ratusan episode. “Kita baru bertemu pagi ini, dan sekolah tidak terlalu lama” Hyerin berkomentar sekaligus mengingatkan sesuatu yang harusnya Woohyun sudah sadari.

Tetapi perkataan Hyerin seperti angin lalu bagi Woohyun yang hanya menyeringai senang. “Tapi itu tidak membuatku berhenti merindukanmu” ia berdalih sambil membentuk hati dengan kedua tangannya. “Karena bagiku Kim Hyerin-sshi adalah yang selalu berada di hatiku”

‘Alasannya’ membuat pipi Hyerin memerah sebelum Hyerin mampu mengontrol detak jantungnya yang justru semakin cepat. “Yah, Nam Woohyun, kenapa kau memanggilku dengan bahasa formal?” namun Woohyun tidak membalas dan malah ‘melemparkan’ hati yang ia buat dengan kedua lengannya ke arah Hyerin.

Tiba-tiba perasaan itu muncul lagi. Perut Hyerin terasa tidak nyaman, dan semakin ia memikirkan tentang Woohyun dan semua perkataan serta perilakunya pada detik itu juga, sesuatu di dalam perutnya semakin melilit. Apakah benar aku iri padanya?

Hyerin menatap dengan tidak percaya kepada Woohyun yang masih membentuk hati dengan kedua lengannya, di atas kepalanya. Matanya bersinar dan senyumnya selalu merekah. Tetapi di dalam pikiran Hyerin dipenuhi oleh penolakan tiada henti.

Mana mungkin aku iri… kepada orang seperti ini?!

~//~

Ah… aduh udah lama banget semenjak terakhir kali nulis fanfic pake bahasa Indonesia, semoga tidak terdengar aneh -.-”

Dan untuk sikap Woohyun, memang itu disengaja ia dibuat bersikap seperti… itu. Untuk yang belum tahu Nam Woohyun anggotanya INFINITE, ini fotonya~!

tumblr_m59onpeRX21rxsi08o1_500

Thank you for reading~! (kebiasaan lama banget -,-“) Maaf kalau ada typo sepanjang chapter ini!

itsredpenguin, SIGN OUT

One thought on “Let the Hearts Do the Talk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s