Problem

Title: Problem

Author: Pikrachu

Genre: Horror, mystery

Lenght: One shot

Rating: G

Cast: Kim Jongin (Kai)

Jadi, tadi author Pikrachu baru mencoba baca fanfic bergenre horror-mystery di AFF (baru 4 chapter langsung close ga tahan). Author itu membuat kumpulan cerita hantu berdasarkan pengalamannya sehingga author pikrachu pun jadi terinspirasi ._. Lagipula kalau diingat-ingat, baru-baru ini author juga baru mengalami fenomena aneh …

JENG

Sehingga kali ini author akan mencoba mengetikkan ceritanya dengan memakai casting Kai. Kenapa Kai? Karena author baru mencoba quiz “who are you in exo” dan yang didapat adalah kai.

/FEEL SO AWESOME/

Selamat membaca  /evil laugh/

*btw sengaja ga ada postenya ga berani desain*

_______________________________________

12.00 

Kaaaai ayo renang”

Aku mengalihkan pandanganku pada adik sepupuku yang sudah berganti baju renang, matanya berbinar menunjukkan bahwa ia benar-benar mengharapkan kata “iya” keluar dari mulutku. Tapi melihat  matahari siang yang sangat terik tanpa sadar aku mengeluarkan helaan nafas. Aku benar-benar malas berenang. Ketika aku hampir menganggukkan kepala tiba-tiba sepupuku yang lain sudah berlarian turun dari tangga siap berenang, rupanya ia tidak berenang sendirian, aku bersyukur memiliki alasan tidak perlu menemaninya berenang, yah setidaknya ia ada teman. Akhirnya aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku “Maaf, hyung ada tugas yang harus diselesaikan, besok aku pasti berenang” aku berdalih.

Ia tampak kecewa namun segera ia mengangguk dan berlari menuju kolam renang. Aku pun kembali melanjutkan browsing sambil sekali-kali menatap dari jendela bagaimana keadaan adik-adik sepupuku yang sedang berenang.

Ini sudah hari ketiga aku dipercayakan untuk menjadi yang paling tua berada di rumah, kedua orang tuaku pergi pagi pulang malam, dan beberapa adik sepupuku dititipkan disini oleh orang tua mereka. Benar-benar seperti tempat penitipan anak.  Sebenarnya aku merasa malas, ini minggu liburku tapi kenapa aku harus masih menjaga anak-anak? Tapi yasudahlah, selama mereka tidak mengganggu semua bukan masalah dan lagi dengan adanya kolam renang di rumah, aku tidak perlu repot-repot menemani mereka bermain. Hanya cukup mengawasi mereka dari jendela ini.

15.30

“YES!” Aku meninju udara dengan kepalan tanganku, level ini akan segera kuselesaikan!

Sudah tiga jam lebih mataku terus menatap monitor laptop. Dan sudah tiga jam juga seluruh adik sepupuku masih dengan riangnya berlarian di pinggir kolam dan saling sibuk mendorong orang sekitar mereka.

Perutku lapar, tapi aku terlalu malas untuk berdiri dari kursi dan berjalan menuju dapur. Mungkin lima menit lagi, aku berjanji pada diriku sendiriku, lagi pula game ini harus kuselesaikan.

Bruk

Aku mendengar suara gedebuk ringan yang dapat kupastikan bukan berasal dari arah kolam renang, karena sampai detik ini aku masih melihat mereka tertawa, dan lagi tidak terlihat ada orang jatuh disana. Namun menjadi orang yang terlalu malas membuatku Kim Jongin, tidak melanjutkan analisis dari mana asal suara itu melainkan terus berfokus pada game yang kumainkan.

Beberapa menit kemudian aku mendengar suara lolongan halus

Yah hanya perasaanku. Begitu yang kupikirkan.

15.55

Oke ini sudah bunyi ke-2o yang kudengar.

Aku menghentikan game yang kumainkan dan segera melihat sekeliling. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain aku dan adik-adik sepupuku yang masih berenang di luar sana. Lima menit pertama aku masih menganggap itu hanya perasaan atau mungkin suara angin, atau apapun itu aku tidak mau mengambil kesimpulan. Tapi ini sudah hampir setengah jam suara itu terus keluar. Dan itu mengganggu konsentrasiku. Game yang harusnya kumenangkan dengan mudah jadi harus kuulang lebih dari dua kali.

“Siapa itu?” tanyaku dingin, memastikan siapa tahu ada satu adik sepupuku yang tidak berenang dan sengaja menggodaku.

Tidak ada jawaban.

Aku hanya mengangkat bahu menganggap semua masalah sudah selesai. Mataku pun kembali menatap monitor.

Tapi.

Lagi-lagi.

“……”

Lagi..

“…..”

Kesabaranku habis. “SIAPA ITU?”

“Bisa diam?”

Aku benar-benar kesal merasa dipermainkan. Sepertinya suara itu takut, karena begitu mendengar suaraku, beberapa detik kembali menjadi normal. Tapi ketika aku mulai mengetikkan sesuatu di keyboard tiba-tiba suara itu kembali muncul. Aku menghela nafas dan segera berdiri dari kursi lalu berjalan menuju jendela. “HEEI bisa kesini sebentar? Ada yang mau kakak tanyakan” Aku berseru memanggil adik-adikku.

Sebagian dari mereka tampak tertarik dengan permintaanku dan segera menghampiriku. Sementara aku masih di dalam rumah, mereka berada di luar tepat di depan jendela. “Dari tadi aku mendengar sesuatu”

Mata mereka membulat tertarik dengan perkataanku. “Coba diam dan dengarkan” kataku pelan.

Dalam hati aku benar-benar berharap suara ini akan kembali muncul. Jangan sampai dia menghilang dan membuatku seolah-olah hanya berhalusinasi sendiri mendengar lolongan halus itu.

Dua menit, tidak ada suara yang muncul. Oke sekarang adik-adikku akan menganggapku sebagai pembual.

“A-ah! Aku dengar!”  adik sepupuku Maeri membuka mulutnya, menganga kaget.

“Ssst” Aku meletakkan jari di depan mulutku, meminta mereka diam untuk memastikannya.

Ah iya benar, keluar lagi suaranya, kali ini jauh lebih halus.

“Aku tidak mendengar!” Yura yang daritadi memejamkan matanya berusaha fokus tampak kesal tidak berhasil menangkap suara itu.

Tapi aku tidak peduli, setidaknya aku memiliki satu saksi bahwa memang suara itu nyata. Aku tersenyum merasa puas dapat membuktikkannya, aneh memang, harusnya aku takut mendengar suara itu kembali lagi. Tapi daripada takut aku lebih merasa dipermainkan. “Sudahlah, ayo kalian sana lanjutkan berenangnya”

Maeri dan Yura pun langsung berlari menuju kolam, dan aku dapat melihat mereka langsung menceritakan peristiwa yang mereka dengar dariku pada adik-adik lain. Ciri khas anak kecil begitu mendapat sesuatu yang baru.

20.03

Aku masih di depan laptop tentunya setelah memasakkan mie instan sebagai makan malam untuk seluruh adikku yang sekarang sedang berkumpul di meja makan membicarakan hal yang hanya mereka yang mengerti topiknya.

Ngomong-ngomong, setelah Maeri dan Yura pergi suara itu tidak keluar lagi. Membuatku menghela napas lega merasa permainan-menebak-suara-apakah-itu? sudah selesai.

Kedua tanganku terus bergerak di atas keyboard, karena laptop yang sudah tua aku harus lebih sedikit memberikan tenaga daripada biasanya. Saat ini yang terdengar hanya tawa adik-adikku dan ketikan laptop. Sepi tapi tidak terlalu sepi, ramai tapi tidak mengganggu, persis seperti yang kubutuhkan untuk menyelesaikan game level terakhir ini.

“……..”

Astaga, lagi

Aku segera berdiri dari kursi dan berseru memanggil adik-adikku, siapapun itu, aku butuh rasa penasaran mereka untuk mencari tahu apa sebenarnya suara itu. Oke aku tahu, aku mengerti aku yang paling tua disini, tapi aku benar-benar tidak bisa berurusan dengan hal yang hampir tidak rasional seperti ini.

Kali ini yang mendatangiku adalah Sena, anak kelas enam SD yang cukup hiperaktif untuk anak seumurannya. “Ada apa?”

“Kau dengar sesuatu?” aku bertanya gemas. Ayo cepat suara menyebalkan, keluar! Keluar!

Ck! Tidak keluar! Dasar kau pengecut!

“Ahhh!! Te-terdengar!” Sena berseru, aku segera menutup mulutnya, suara itu tidak muncul lagi. “Kau yakin mendengarnya? Coba tirukan bagaimana suaranya?” Aku mencoba mengetes, memastikan bahwa aku tidak sendiri dalam kasus ini.

Sena terdiam seperti berpikir “Hmm…seperti uuu terus ooo terus..ahh entahlah tidak jelas” ia menyerah mendeskripsikan suaranya, namun aku tahu ia memang mendengarnya. Karena suara seperti itulah yang terus mengganggu telingaku ini.

Aku menunjuk lemari kayu besar yang sudah cukup tua. Sebenarnya dari tadi aku yakin asal suaranya ada di situ, tapi aku tidak…oke aku akui.

Aku tidak berani memastikan apa suara itu.

“Itu, aku yakin suara yang kudengar berasal dari situ”

“Hah?” Sena menengok pada lemari yang kutunjuk. Tanpa ragu ia berjalan menuju lemari tua tersebut, yang ukurannya dua kali lebih tubuhnya itu.

“Se-sena? Kau mau membukanya?”

“Sepertinya begitu..” tangannya pun meraih gagang pintu lemari. Aku menelan ludah, sampai detik ini aku sama sekali tidak pernah mengucapkan kata hantu, setan, atau apapun sejenisnya. Karena aku benar-benar menghindari hal seperti itu, jangan sampai aku berurusan dengan hal di luar akal.

“Jangan buka du….”

“AAAaaaaaaaaa!”

Terlambat

“Huwaaaaaaaaaa”

Aku melongokkan kepala berusaha melihat isi lemari. Sebagai oppa yang baik aku tidak boleh sepengecut ini.

“Hah!  Ternyata benar!”  Sena berseru membuat rasa takutku terasa menjadi sangat konyol.

Aish

Ya ampun, Kai-Oppa anak kucing ini lucu sekaliiii”

Pabo. Aku menggigit bibirku, merasa bodoh.

“Hhah..sejak kapan ada anak kucing disini? Sena, bawa dia keluar”  aku memijit dahiku yang pusing, setengah hari aku dihantui suara anak kucing.

“Eh kalau induknya mencari bagaimana?”

“Nanti kuberitahu induknya anaknya dimana” aku menjawab asal sambil kembali pada posisi duduk awalku. Sena sepertinya percaya pada kata-kataku kalau aku bisa berkomunikasi dengan induk kucing karena setelah itu aku dapat mendengar suara kaget Maeri melihat anak kucing yang dipamerkan Sena.

Setelah semuanya kembali normal, aku membetulkan posisi dudukku, tangan kanan memegang mouse tangan kiri di atas keyboard. Nah baru aku bisa menamatkan game ini. Akhirnya.

“……”

Sena! bawa keluar anak kucingnya!” aku berteriak sambil tetap terfokus pada monitor

“Sudah Oppaa!”

“…..”

Astaga aku bisa gila.

_________

 Maaf sumpah parah ini pertamakalinya nulis genre horror

#EH

emang horror ya?

Author bingung mau menuliskan suaranya seperti apa, soalnya kalau “hiii” atau “uuuuu” atau mungkin “oooo” berasa garing banget :p

Btw soal apakah itu suara kucing, kalau dalam kasus pribadi belum terbukti. Hayolooooh.

Masih menjadi misteri kekekekekeke

Anndd..thanks to itsredpenguin atas saran jenius soal ending cerita ini B)

One thought on “Problem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s