Let the Hearts Do the Talk –2

Final

TITLE: Let the Hearts Do the Talk

STATUS: Completed

CAST: Nam Woohyun (INFINITE), Kim Hyerin OC; Cameo Lee Sungyeol (INFINITE)

Karena trailernya sudah selesai sekarang bisa fokus menyelesaikan cerita ini :3

Ini dia chapter 2-nya~ Semoga plotnya tidak membosankan/aneh di chapter ke-2 ini deh. WARNING: Bakal ada bagian dimana personal space seseorang diinvasi! Dan drama… Ugh, paling gak bisa nulis drama!/sulks

Lupakan author yang aneh ini, selamat membaca~

–2

Hyerin benar-benar mencoba, benar-benar berusaha, namun nampaknya usahanya untuk mengacuhkan Woohyun adalah sebuah usaha yang sia-sia. Buku di hadapannya tidak lagi menarik – sebenarnya buku itu sangat membosankan. Tetapi Hyerin memaksakan matanya melekat pada kata-kata yang tertera di kertas-kertas itu dibandingkan dengan Woohyun yang sedang duduk dihadapannya.

Kenapa aku jadi memikirkannya lagi? Menggelengkan kepalanya berlahan sehingga tampak seperti orang yang tidak mengerti cerita yang tengah ia baca.

“Hyerin-ah,” sesuatu melompat di dalam diri Hyerin dan perutnya terasa seperti diikat. Dan Woohyun hanya memanggilku, hebat. Pikir Hyerin ketika dengan tatapan orang kesal ia mendongak dari bukunya dan menatap Woohyun.

Dan seperti biasa, Woohyun tersenyum seperti orang yang baru mendapatkan hadiah. Terkadang hal itu berupa misteri bagi Hyerin bagaimana Woohyun dapat terus tersenyum – seperti orang bodoh – setiap saat.

Meletakan bukunya Hyerin memperhatikan Woohyun yang masih tersenyum, dan itu sedikit mengerikan karena menurut Hyerin tidak ada yang lucu dibandingkan dengan-

Apa itu yang baru kupikirkan?! Hyerin berteriak di dalamnya kepalanya. Walaupun begitu wajahnya masih datar ketika bertanya, “Apa?” dengan nada yang agak kasar. Namun senyum Woohyun tidak menghilang, lagipula Hyerin kesal tanpa sebab yang jelas adalah hal yang biasa bagi Nam Woohyun.

Woohyun tertawa pelan sebelum menggelengkan kepalanya. “Ani,” namun setelah berkata demikian, Woohyun beranjak dari tempat duduknya. Mata Hyerin terus mengikutinya sampai Woohyun menempati tempat duduk kosong di samping Hyerin.

Hyerin masih menatapnya bingung, tetapi Woohyun hanya meletakan kepalanya ke atas meja dan menghadap ke arah Hyerin. “Sudah, lanjutkan bacaanmu” Woohyun hanya tersenyum – walaupun memang itu merupakan apa yang telah ia lakukan lebih dari sepuluh menit tanpa henti.

Memperhatikan Woohyun untuk sekali lagi, Hyerin beralih ke bukunya dan melanjutkan bacaannya. Namun, pernahkah kau sedang melanjutkan sesuatu tetapi seseorang memilih untuk menatapmu terus menerus. Iya, menyebalkan dan menganggu, tetapi itu apa yang Woohyun lakukan selama berapa menit.

Dan serasa ditusuk dengan tatapan Woohyun yang tak pernah lepas darinya, Hyerin dapat bersumpah bahwa ia dapat menjadi gila karena seseorang dengan nama Nam Woohyun. Alasan itu saja sudah terdengar payah.

Tiba-tiba dari sudut matanya, Hyerin melihat Woohyun akhirnya menegakkan tubuhnya. Secara otomatis, Hyerin menurunkan bukunya dan mendongak ke atas untuk bisa melihat Woohyun yang menyeringai saat melihat ke bawah – ke arah Hyerin.

“Hyerin-ah, saranghae~” dengan membentuk hati menggunakan kedua lengannya, Woohyun tersenyum lebar kepada Kim Hyerin yang melihatnya dengan tatatapan datar.

Walaupun begitu sebenarnya Hyerin sedikit terkejut dan sesuatu di dalam perutnya ikut bergejolak saat detak jantungnya menjadi sedikit lebih cepat. Hanya satu orang yang dapat melakukannya. Tanpa sebab yang jelas, tidak ada angin maupun hujan, Woohyun selalu melakukannya.

Tapi tetap saja ia jauh lebih baik dalam mengekspresikan perasaannya… tapi apakah ia benar-benar bersungguh-sungguh tentang apa yang ia ucapkan?

Hyerin melepaskan pikiran itu tepat satu detik setelah hal tersebut muncul di kepalanya.

Gadis itu hanya diam untuk setengah menit sebelum membalasnya. “… Nam Woohyun, itu sedikit menjijikan” katanya tanpa berpikir dua kali. Namun hal tersebut hanya dibalas Woohyun yang mencubit pipi Hyerin.

“Ah, Hyerin sangat lucu ketika mengatakannya~”

Hyerin merasakan mukanya memerah sehingga secara spontan, ia menyembunyikan wajahnya dengan melanjutkan bacaannya. Namun belum ada semenit, Woohyun menganggunya.

“Woohyun-ah, hentikan” Hyerin berusaha membuat laki-laki di sebelahnya berhenti memegang pipi Hyerin menggunakan telunjuknya. Sudah buruk sekali ia lakukan, tapi Woohyun melakukannya berkali-kali, melipatgandakannya.

Ketika Hyerin mencoba untuk mendiamkannya lagi, Woohyun memegang lengan Hyerin dengan kedua tangannya. Terkejut, Hyerin menghadapkan wajahnya ke arah Woohyun yang cemberut seperti anak kecil yang tidak diizinkan untuk membeli es krim. Dan Hyerin berbohong apabila ia tidak berpikir bahwa pada saat itu Woohyun cukup… imut.

Imajinasi, kau jelas-jelas butuh istirahat. Hyerin memberikan titah di dalam pikirannya. Walaupun demikian, matanya masih terperangkap di tatapan Woohyun yang setengah marah.

“Hyerin, ayo kita pergi ke tempat lain, huh?” Woohyun menggerakan lengan Hyerin pelan namun lama kelamaan semakin cepat saat ia melanjutkan ‘permohonannya’. “Di sini membosankan, dan sekolah sudah selesai. Ayo-“

Perkataan Woohyun berhenti saat wajah mereka menjadi lebih dekat. Woohyun sedikit melupakan satu hal, bahwa ia laki-laki yang diciptakan dengan kekuatan lebih dari perempuan. Sebenarnya Hyerin dengan senang hati akan mengingatkannya. Namun pada detik ini semua perhatiannya berada pada Woohyun.

Apabila Hyerin sedang dalam pikirannya yang normal, mungkin ia akan bereaksi berbeda. Tapi ia tidak bisa melakukannya. Jantungnya sudah tidak terkendali dan perutnya melilit jauh lebih parah dibandingkan dengan sebelumnya. Hampir mengerikan apabila tidak mengehitung sesuatu yang lain.

“Ehem,” suara seseorang terdengar seperti alarm di pagi hari. Woohyun dan Hyerin membuat jarak antara mereka berdua. Wajah mereka tambah memerah saat melihat teman mereka, Lee Sungyeol pergi dengan senyum penuh arti.

Hyerin benar-benar ingin pergi ditelan bumi karena rasa malu. Namun ada rasa kesal muncul di dalam dirinya saat ia melihat senyum girang di wajah Woohyun, menggantikan wajah terkejutnya kemudian. Tetapi, Hyerin tidak mengerti mengapa ia merasa begitu.

~//~

Menatap ke kopi dalam cangkir di hadapannya, Hyerin tengah berpikir keras. Semuanya terjadi terlalu cepat. Ketika ia menyadari ada yang aneh pada dirinya, Kim Hyerin menjadi self-conscious. Hal itu membuat gadis itu mempertanyakan banyak hal, terlalu banyak hal.

Matanya melirik ke arah Woohyun yang sedang menikmati blueberry smoothie miliknya. Hyerin berpikir lagi, apakah ia benar-benar iri terhadap Woohyun? Walaupun instingnya mengatakan ‘iri’ bukanlah kata yang ia cari, Hyerin tidak menemukan pilihan lain.

“Woohyun-ah…”

“Neh?” Woohyun sedang menggigit sedotannya saat mendengarkan Hyerin berbicara. Hyerin berusaha menghilangkan perasaan yang ada di dalam dirinya.

Memang rasa ‘cemburu’ atau ‘iri’ adalah perasaan yang abstrak – atau apapun yang membuat Hyerin yakin mengenai perasaannya. Walaupun begitu dengan segera menyelesaikannya adalah cara yang lebih baik. Hyerin mengingatkan dirinya sekali lagi.

Melihat sebentar ke cangkir kopi di meja, Hyerin mengumpulkan keberaniannya. “Woohyun, mengapa kau melakukannya?”

Woohyun berhenti meminum smoothie miliknya dan menatap bingung ke arah Hyerin. Ia sama sekali tidak mengerti sampai Hyerin memperagakannya. Hyerin membuat sebuah hati dengan kedua lengannya, persis dengan apa yang Woohyun sering lakukan.

“Itu, mengapa kau melakukannya?” Woohyun terdiam ketika melihat keseriusan di muka Hyerin. Hyerin terus menatapnya dan Woohyun hanya bermain-main dengan sedotannya. Untuk satu menit ia tidak menjawab apa-apa sebelum akhirnya senyum merekah di mukanya.

“Karena aku rasa itu apa yang harus aku lakukan… pada siapapun” Woohyun menambahkan walaupun nadanya tidak yakin. Ia membuka mulutnya untuk mengklarifikasi ucapannya sebelumnya. Tetapi Hyerin memotong.

“Kalau begitu jangan lakukan,” Hyerin berusaha menahan sesuatu di dalam dirinya yang berusaha menghentikan Hyerin dalam melakukan sesuatu yang akan ia sesali kemudian hari. Tetapi Hyerin telah membulatkan pikirannya. Sesuatu di perutnya selalu menganggu dan bukankan lebih baik baginya dan Woohyun bila masalah ‘iri’ ini dapat terselesaikan?

Hyerin menarik napas saat Woohyun menatapnya dengan sesuatu yang mendekati ketakutan terlukis di wajahnya. “Jangan lakukan itu kepadaku, arasso?”

Entah kenapa suasana ceria yang selalu ada di sekitar mereka menghilang dengan terlalu drastis sampai rasanya dapat mencekik. Tapi mungkin itu hanyalah hayalan Hyerin saja. Untuk memindahkan perhatiannya, Hyerin meminum latte yang ia beli sebelumnya.

Tetapi kenapa rasa kopi dengan cream dan gula yang banyak tetap terasa pahit baginya?

~//~

Esok harinya berjalan dengan normal bagi Hyerin. Pagi hari ia sudah tiba di sekolah dan ia langsung berjalan ke lokernya. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk menyimpan buku-bukunya di loker. Dan juga menjadi suatu pola dimana Kim Hyerin akan berjalan dengan tenang sampai ke tempat lokernya berada.

Namun ada sesuatu yang hilang. Hyerin mengambil buku-bukunya dan menumpuknya di lengannya dan menutup pelan lokernya. Tanpa gangguan ia memutar tubuhnya dan berjalan ke kelasnya dengan langkah lambat dan pelan.

Ada sesuatu yang hilang, Hyerin yakin itu. Namun apa?

Pertanyaan itu terjawab ketika mata Hyerin bertemu dengan mata milik seseorang dengan nama Nam Woohyun. Woohyun ada beberapa meter di depannya. Walaupun lorong itu dipenuhi dengan murid lain, nampaknya Hyerin bisa melihat jelas Woohyun di depannya.

Hyerin menatapnya dan Woohyun membuka mulutnya dan wajahnya menjadi sedikit ceria, tetapi di detik berikutnya ia menutup mulutnya tanpa ada teriakan ‘Hyerin-ah~!’-nya yang biasa ia ucapkan.

Tidak ada hati yang ia buat dan tidak ada kata-kata yang dapat membuat Hyerin ingin memukul kepala Woohyun dengan buku di tangannya. Tidak ada… apa-apa. Namun bukankah seharusnya perut Hyerin tidak sakit lagi? Woohyun tidak melakukan apapun, tapi hanya dengan ia berdiri di sana sudah cukup untuk perutnya bertingkah.

Tetapi ketika Hyerin menunggu Woohyun untuk berjalan ke arahnya, Woohyun seperti menahan dirinya dari melakukan sesuatu dan kemudian berputar arah dan berjalan pergi. Hyerin merasa buku-buku di lengannya menjadi bertambah berat saat ia menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.

Hyerin hanya ingin dirinya tidak bimbang lagi, tidak bingung lagi. Apakah sebegitu sulitnya meminta hal tersebut? Kim Hyerin tidak pernah meminta Nam Woohyun untuk mengacuhkannya, berjalan pergi maupun menolak untuk bicara padanya.

Apa yang telah kuperbuat?!

~//~

Plotnya terlalu cepat? /SPOILER/karena ceritanya emang tidak panjang/SPOILER/

Author malah merinding nulis orang berantem begini dibanding berantem beneran -.-“

Tapi, tapi, tapi~ di chapter ini ada cameo! INFINITE’s choding Lee Sungyeol~ (Choding: childlike)

tumblr_mc7xaaUcbM1qdp7cko1_500

Iya, choding dengan semua piercing itu O.O; awalnya sih mau cameonya L aja tapi… L-nya disimpen buat nanti aja deh.

itsredpenguin, SIGN OUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s