PASTEL #004

Pastel part 4

Sina menghela napas lega, matanya terus memandang langit yang sudah berganti warna menuju jingga. Menghabiskan hampir seluruh waktunya di sekolah dengan mengerjakan tugas bersama Oh Sehun membuat mereka menjadi beberapa langkah lebih maju dibanding teman-temannya. Tugas yang seharusnya diselesaikan dalam waktu sebulan sudah hampir selesai dalam beberapa hari karena pengorbanan mereka untuk terus pulang terlambat setiap hari. Sehun dan Sina memiliki pemikiran sama. Mereka ingin tugas itu selesai secepat mungkin tentunya dengan hasil yang memuaskan. Bukan karena benci dengan tugas itu dan ingin cepat-cepat menyelesaikan tapi karena mereka pemiliki kepentingan sendiri, dibanding harus mengerjakan sebulan penuh dengan perlahan-lahan mereka memilih langsung menghabiskan semuanya pada hari-hari pertama.

Sehun ingin segera bermain dengan Miyoung, oleh karena itu ia tahu ia harus segera menyelesaikan paper presentasi mereka. Dan Sina, ia ingin segera memulai proyek rajutan permintaan dari kakaknya untuk Oh Sehun. Bukan karena dia suka Oh Sehun atau karena ia ingin menyenangkan hati kakaknya. Ahn Sina sangat menyukai rajutan, dia menemukan kesenangan tersendiri yang tidak bisa ia temukan pada hobinya yang lain.

Miyoung sebagai kakak Sina mengakui bahwa karya adiknya memang bernilai, dalam hati ia menyayangkan Sina yang hanya terus menyimpan karyanya. Dari awal ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengatasnamakan rajutan karya adiknya adalah karyanya.

Kebiasaan Miyoung untuk meminta adiknya membuat rajutan  untuk kekasihnya dimulai ketika Miyoung melihat sebuah syal yang sangat menarik perhatiannya, saat itu ia benar-benar menganggap syal yang dibuat Sina sangat cocok untuk kekasihnya Yoseob. Oke Miyoung tahu kalau jelas ia salah, mengatakan bahwa syal itu buatannya, tapi dia benar-benar ingin membuat Yoseob saat itu bangga memiliki syal buatan tangan terlebih buatan kekasihnya sendiri. Dan Sina, ia sama sekali tidak protes dan bahkan meminta kedepannya untuk terus mengatakan bahwa syal itu bukan karyanya. Ia tidak suka ketika seseorang menganggap dirinya spesial karena Sina memberikannya sebuah benda buatan tangan padanya, ia tidak mau Yoseob merasa dirinya diterima sehingga ia meminta Miyoung mengakui kalau itu buatan kakaknya. Sina malas mencampuri urusan cinta kakaknya, ia tidak peduli siapa pun orangnya, tapi yang jelas perhatian seorang Ahn Sina sangat jarang untuk didapatkan, dan ia tidak mau seseorang mendekati dirinya dengan mudah.

Sebenarnya Sina ingin menemukan seseorang yang benar-benar akan diberikan olehnya hadiah rajutan atas keinginannya sendiri, bukan karena diminta kakaknya. Ia menantikan momen dimana ia memberikan seseorang dengan tangannya sendiri dengan mulutnya sendiri, ingin agar orang itu tahu ia penting untuk Sina. Tapi, menjadi seorang gadis yang malas memulai hubungan bahkan mencari seseorang yang sekiranya memiliki peluang untuk menyukai dan disukai Sina membuatnya sampai sekarang tidak menemukan seorang spesial yang kelak akan pantas mendapat hadiah tulus darinya.

Sore ini Sina akan pergi ke toko rajutan langganannya, sudah lama ia tidak mendatangi toko yang dimiliki seorang ahjumma ramah yang kadang memberikan bonus benang wol pada dirinya.

Ia melihat jam di hp nya memastikan jangan sampai ia pulang terlalu malam, mengingat bahwa toko itu letaknya cukup jauh dari rumahnya.

Sina melihat satu pesan baru di hpnya, dari Miyoung.

Hari ini Sehunnie datang ke rumah! Tidak apa-apa kan? ^^

Sina meniup poninya, kurang suka dengan pesan yang baru dibacanya itu. Oke, itu artinya Sina harus ganti rencana, ia akan pulang malam hari ini.

“Ahjummaaa” Sina membuka pintu toko dan menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari sosok orang yang baru saja ia panggil.

Tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang disini padahal jelas tulisan “open” masih menggantung di pintu toko. Sina tahu ahjumma masih memiliki pendengaran yang bagus sehingga ia merasa tidak perlu untuk berseru memanggilnya lagi. Mungkin ia ke toilet begitu pikir Sina.

Akhirnya Sina menghampiri counter kasir, warna yang ia butuhkan sudah ia putuskan selama perjalanan, sehingga ia tidak perlu berkeliling toko mencari warna yang pas. Menghabiskan banyak waktu dengan Sehun beberapa hari terakhir membuat Sina segera tahu warna apa yang cocok untuk pria itu.

Begitu sampai tepat di depan counter sesuatu yang besar tiba-tiba muncul dari balik counter kasir.

“AARRRGH! ANYEOOONG!”

Sina terperanjat, mulutnya terbuka, hanya sedikit. Ia tidak kaget sama sekali, ia terganggu, ia tidak suka dengan kejutan seperti ini meskipun dirinya sama sekali tidak terkejut.

“Selamat datang di toko kami! Ada yang bisa dibantu?” Orang tersebut tersenyum, lebar, sehingga matanya yang sudah sipit menjadi semakin sipit.

Sina memperhatikan laki-laki di depannya, ia tinggi, menandakan bahwa ia sudah cukup besar, mungkin tidak besar tapi setidaknya seumuran dengan Sina atau bisa jadi lebih tua. Sadar terus diperhatikan oleh gadis di depannya laki-laki tersebut kemudian memegang leher belakangnya, menandakan ia malu diperhatikan Sina untuk jangka waktu yang agak lama.

Ternyata ia masih punya rasa malu Sina berpikir. Sekarang Sina mempertanyakan apakah benar laki-laki yang baru muncul tadi orang yang seumuran dengannya.

Sina berpikir bahwa orang ini terlalu kekanakan untuk orang seumurnya.

Laki-laki itu harusnya sudah cukup dewasa.

Ia harusnya cukup dewasa bahwa mengagetkan seorang tamu di tokonya adalah hal bodoh.

Ia harusnya mengerti kalau bisa saja yang ia kagetkan itu seorang gadis yang berbeda dengan Sina yang bisa kaget dan mengira orang tersebut akan melakukan hal aneh pada dirinya.

“Haloo?” Laki-laki tersebut kini melambaikan tangan kanannya di depan wajah Sina mencoba memastikan apakah wanita ini menyadari keberadaannya.

“Oh maaf” Sina merespon singkat, Sina segera mengalihkan pandangannya dari wajah laki-laki itu pada rak tinggi di belakangnya.

“Bisa tolong ambilkan yang biru muda, violet, pink, hijau muda, kuning dan jingga?” Sina berujar sambil menunjuk rak paling atas.

Laki-laki tadi segera membalikkan badannya melihat apa yang gadis itu tunjuk. Matanya takjub melihat puluhan gulungan wol berada di rak belakangnya. Terlalu banyak ia bahkan tidak mengingat apa saja yang tadi tamunya katakan.

“Maaf bisa diulangi lagi?”

Ia kembali menengok pada Sina yang memandangnya dengan datar, Sina menghela nafas.

“Biru muda, violet, pink, hijau muda, kuning, jingga”

Laki-laki tersebut terdiam berusaha memproses apa yang baru ia dengar, bahasa koreanya belum terlalu lancar tapi ia malu untuk mengakui hal itu pada gadis di depannya yang pandangannya sangat mengintimidasinya.

Ia pun kembali berbalik dan bergumam sambil mengambil warna yang masih ia ingat “Biru muda…violet…”

Sina yang biasanya sabar entah kenapa merasa kesal melihat laki-laki  di depannya terlihat clueless dengan warna-warna yang ia sebutkan.

“Pink, hijau muda, kuning, jingga” Sina melanjutkan kata-kata laki tersebut dengan cepat  sehingga sama sekali tidak membantu laki-laki di depannya mengingat warna apa yang harus ia ambil.

Sekarang pria di depannya berdehem, membuat Sina menaikkan alasnya ayo cepat tanganku sudah gatal untuk merajut Sina memprotes dalam hati.

“Maaf…bisa ulangi lag….” Belum sempat laki-laki tersebut menyelesaikan kalimatnya

“Ya Pabo!”

Tao, pemuda China yang tiba-tiba mendapat bentakkan dari tamunya tersentak kaget. Gulungan benang wol yang ia pegang terjatuh. Ia mungkin belum menguasai bahasa Korea dengan baik tapi jelas ia tahu arti “pabo” yang ditunjukkan untuk dirinya itu.

Tanpa pikir panjang ia langsung membungkuk mengambil benang yang terjatuh, tangannya gemetar mendapat marah dari orang asing. Sina yang menyadari ketidaksopanannya merasa bersalah melihat betapa berubah perangai laki-laki di depannya ini. Pertama ia terlihat begitu percaya diri sampai berani mengageti tamunya, sekarang ia terlihat rapuh bahkan tidak berani menatap mata Sina.

“Mianhae…”Sina bergumam pelan, begitu ia ingin melanjutkan kalimatnya tiba-tiba seorang menepuk bahunya dengan keras

“Aigooo Sina-ya! Sudah lama sekali aku tidak melihatmu disini!”

Sina menengok ke belakang dan menemukan sosok ahjumma yang ia kenal tersenyum padanya. Ahjumma tersebut ingin melanjutkan pembicaraannya dengan yeoja favoritnya itu tapi begitu menyadari suasana yang kaku, ia melongokkan kepala dan melihat keponakannya sedang berada di counter kasir.

“Tao? Untuk apa kau di sana?”

Sebagai orang yang tidak tahu apa-apa Sina hanya diam dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tao?  Sina menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan nama laki-laki itu. Dia bukan Korea?

“A-aah.. aku hanya ingin membantu ahjumma” Tao tersenyum dalam hati ia lega ahjumma nya yang datang untuk segera menyelamatkan dirinya dari wanita menyeramkan yang baru ia ketahui namanya Sina.

Ahjumma tersebut hanya tertawa “Kau tau apa soal rajut hah? Kau tahu satu gulung itu harganya berapa?”

Tao menggigit bibirnya, ia menggelengkan kepalanya tidak memikirkan hal itu, yang ia pikirkan adalah ia harus menyenangkan bibinya dengan cara meringankan tugasnya yang Tao mengerti dengan cara menjaga toko milik bibinya, dan dengan kata lain ia harus menyambut tamu yang datang. Ia lupa sama sekali soal harga yang harusnya ia ketahui.

Melihat keponakan kesayangannya yang terlihat bingung ahjumma itu hanya tersenyum, ia mengerti dan tidak akan memarahi Tao. Terlebih ia memaklumi Tao yang baru sampai di Korea minggu lalu dengan kemampuan bahasa koreanya yang pas-pasan.

“Maaf Sina, tadi aku pergi membeli sesuatu sebentar, jadi apa yang kau perlukan?”

Ahjumma pun berjalan menuju counter kasir tempat dimana Tao masih berdiri termenung.

Sina sedikit terperanjat, ternyata dari tadi ia dilayani oleh seorang yang bahkan tidak tahu berapa harga benang wol yang ia pegang.

Apa yang terjadi kalau ahjumma tidak datang? Apa laki-laki yang bernama Tao ini akan memberikan harga seenaknya padaku? Sina penasaran, ia tidak lagi jengkel pada Tao, sekarang ia penasaran bagaimana bisa ada pemuda seperti ini?

Tao sendiri termenung, ia memikirkan apa jadinya kalau ahjummanya tidak datang, harga apa yang ia berikan padanya nanti, ah tapi dia kan sudah langganan harusnya ia tidak perlu tanya lagi harganya padaku. Tao pun menemukan jawabannya sendiri.

Sementara Sina tiba-tiba teringat fakta meskipun pemuda di depannya tidak tahu apa-apa, tapi dia, Ahn Sina sudah hafal di luar kepala berapa harga masing-masing wol sesuai jenisnya. Sekarang rasa penasarannya sudah terjawab, ia pun menunjuk rak belakang ahjumma berdiri “Hmm… violet, pink, hijau muda, kuning dan jingga”

Berbeda dengan tao, ahjumma itu dengan sigap langsung mengambi wol pilihan Sina, bekerja bertahun-tahun dalam bidang ini membuat ahjumma itu sudah tahu benar seluruh hal mengenai toko rajutnya.

“Ada apa denganmu hari ini? Tiba-tiba memilih warna pastel, sedang jatuh cinta?” Ahjumma tersebut tertawa kecil sambil memasukkan seluruh gulungan pada plastik.

Jelas tebakan ahjumma salah, tetapi menjadi orang yang tenang Ahn Sina, ia hanya merespon singkat “Tidak.”

Ahjumma segera percaya apa yang ia katakan, ia tahu Sina tidak akan repot-repot berbohong.

“Baiklah, ini dia, jangan lupa untuk memperlihatkanku padaku hasil buatanmu”

Sina tersenyum dan mengambil kantong berisi gulungan wolnya setelah ia membayar tanpa perlu ahjumma itu menyebutkan berapa total barang yang beli. Sina sudah hafal.

Begitu Sina berjalan ingin membuka pintu toko tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Hari ini Sehunnie datang ke rumah! Tidak apa-apa kan? ^^

Aish..

Ia pun membalikkan badannya dan melihat ahjumma dan Tao sedang asik berbicang menggunakan bahasa mandarin. Akhirnya ia hanya berdehem dan membuat baik itu Tao dan bibinya segera menengok

“Ada apa Sina?” Ahjumma terlihat sedikit kaget, ia pikir Sina sudah pergi

“Ahhh begini…aku tidak mau pulang cepat hari ini..”

“Ahh…” Begitu ahjumma ingin  melanjutkan kata-katanya, Sina memotongnya “Boleh aku sedikit lebih lama di sini?”

“Hahahaha Sina-ya” Ahjumma tertawa “Baru saja aku ingin menawarkanmu makan malam disini.”

“Hah?” Sina dan Tao terperanjat. Oke ralat, sina tidak terperanjat, ia hanya membulatkan matanya sedikit tidak menyangka tawaran yang didengarnya. Tao terperanjat, mulutnya terbuka membentuk huruf o, membayangkan ia dan Sina akan makan malam bersama membuatnya ngeri. Semenjak insiden “ya pabo!” ia sudah memutuskan Sina adalah gadis yang harus ia waspadai.

“Oh ya!” Ahjumma menjetikkan jarinya “Aku belum mengenalkanmu pada pemuda di sebelahku ini”

Sina mengangguk, dan memandang laki-lai itu, yang masih menghindari kontak mata dengannya. Sina tidak peduli, ia tidak keberatan Tao menghindarinya.

“Dia Huang Zitao keponakanku dari China, dia ke Korea ikut pindah bersama orang tuanya karena pekerjaan. Tapi karena orang tuanya sibuk maka sekarang Tao tinggal bersama bibinya, yaitu aku” kata Ahjumma itu sambil menepuk pundak Tao. Tao hanya tersenyum.

“Apa dia bisa bahasa Korea?” Sina spontan bertanya

“Bi-bisa!” tanpa pikir panjang Tao menjawab, ia merasa ia harus  menjawab untuk membuktikkan bahwa ia memang bisa bahasa Korea. “Yah dia bisa, tapi dia baru sampai di sini minggu lalu sehingga bahasa koreanya tidak lancar” Ahjumma menambahkan

Sina mengangguk mengerti pantas ia kesulitan mengingat warna-warna yang kusebutkan tadi.

“Jadi Sina, bagaimana? Kau ikut makan malam? Hari ini aku berencana mengajak Tao pergi ke Pojangmacha* “

Sina tersenyum “Boleh” ia senang. Pertama ia bisa makan, kedua ia tidak perlu sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan sampai ia merasa ia harus pulang.

Tapi sayangnya, laki-laki yang baru dikenalnya itu tidak sependapat dengannya, makan malam dengan yeoja seperti Sina merupakan mimpi buruk baginya.

______

*Pojangmacha: warung makan kaki lima korea

______________________________________________________

Author’s note

AAaa 1.992 kata!

Maaf  author norak ._. karena author bukan tipe sekali ngupdate banyak banget.

Hari ini mood author lagi bagus ^^

Pertama karena tadi baru nonton flower boys next door yaaaaangg

seru banget banget banget (recommended!)

Dan kedua,

Karena author itsredpenguin yang baru saja menyelesaikan trailer ff nya!

congratulations!

Author makin cinta sama blog ini ^^

Jadi tolong antisipasi chapter berikutnya!!

xoxoxoxoxo,

Pikrachu

13 thoughts on “PASTEL #004

  1. aku baru nemuin tao unyu unyu di sini! biasanya ff tao serem serem. dan ini unyu unyu sekali tao. pemalu dan sedikit memalukan haha! author keren mah! ohhh nggak apa apa thor sedikit sedikit yang penting updatean nya keren!

    • makasih sama komen2 yg bener ngemotivasi author untuk lanjutin pastel ^^ yep di sini tao emang ga dibikin serem, soalnya di bayangan author tao tuh emang ga serem hahah.Update berikutnya bakal panjang2 soalnya udah mulai deket2 klimaks🙂

  2. holaa. reader baru, mohon maaf sebelumnya karena menjadi sider yang mager komen *peace* haha
    sedang baca ff ini, dan aku suka sama cara author merangkai kata buat ff nya.
    gak ngebosenin padahal banyak narasi daripada dialognya.
    aku juga suka ff detour!!!!😀
    semangat terus ngelanjutin ff nya ya dear author😉

    • haha ngerti kok aku juga mager ;;)
      yeayy makasiih seneng banget dibilang ga ngebosenin.
      hayo semangat bacanyaa kamu masih di chapter 4 soalnya haha
      iyaaa sipp

    • yaampun kamu baca detour juga ^^ aku seneng banget kalau pembaca detour baca pastel atau kebalikannya pembaca pastel baca detour karena ceritanya berhubungan🙂
      Dan karena aku gaptek soal wordpress aku juga ga ngerti kenapa komenmu enggak muncul -_- tapi tetap di tunggu di komennya! ;;)

  3. Akhirnya tao muncul~ kkkk
    Jadi summary yg ini –> “Biru muda, violet, pink, hijau muda, kuning, jingga” itu antara sina ama tao toooh?? Wahaha
    Aku ngakak waktu tao pake acara ngagetin sina segala sumpah itu anak dasar ga normal xD

  4. Tao tao tao😭 kan jadi baper kan
    Kenapa sina benci orang lain mencampuri urasannya dan dia benci mencampuri urusan orang lain?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s