Frightened Panda

Untitled-2Title: Frightened Panda

Author: bintangdj

Genre: Romance?(anggep aja iya), Fluff?(mungkin juga iya)

Rating: G

Length: Oneshot

Cast: You, Huang Zi Tao

A/N:

Ini post untuk meramaikan kembali blog yang sangat sepi… Authornya pada kemana sih?

Dan setidaknya ff ini untuk meredakan “rasa” pada Tao. Sengaja Taonya kubuat childish^^

Masih ada 4 ff dari bintangdj yang menunggu untuk di post tapi sayangnya semuanya belom selesai =__=

Sementara ini nikmati saja ff dadakan ini. Happy reading^^

***

Kesan pertamaku untuknya… panda. Hewan itu yang pertama kali kuingat ketika melihat lelaki ini. Kantung matanya yang tebal itu membuatku teringat akan panda, yang juga hewan khas kampung halaman lelaki ini. Dan yang kupikirkan tentangnya saat aku melihatnya di pintu masuk rumahku… apa eomma dan appa  benar-benar yakin akan membiarkannya tinggal disini? Bahkan lelaki ini terlihat seperti mafia dibandingkan dengan anak teman eomma. Apalagi pandangan matanya yang tajam seperti seorang pembunuh itu. Sepertinya aku tahu alasannya orangtuanya menyuruhnya menjadi pelajar di Korea. Apa untuk menghindari kejaran polisi? Okay, lupakan itu. Aku hanya bercanda.

Sebenarnya bukan wajahnya yang kulihat saat membuka pintu rumah. Aku hanya bisa melihat kaus putihnya di depan mataku, dan butuh dongakan keatas untuk menelusuri lebih jauh seperti apa wajah orang yang akan dibawa eomma. Dan aku yakin, detik itu juga aku memutuskan tak akan berurusan dengan lelaki seram itu.

Annyeong, Huang Zi Tao imnida

Aku cukup terkejut mendengarnya berbahasa Korea walaupun sedikit tercampur dengan aksen Cinanya. Ia bahkan mengucapkan bahasa Korea standar itu sambil membungkukkan tubuhnya seperti orang Korea. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Suaranya cukup bernada tinggi –bisa dibilang cempreng untuk seorang lelaki yang berwajah cukup misterius.

Saat itu aku tak akan menyangka, orang ini lebih muda 4 tahun dariku. Umurnya baru 15 tahun yang berarti ia masih SMP. Kupikir wajahnya cukup boros dilihat dari penampilannya yang terlihat dewasa. Tapi itu bukan hal yang cukup mengejutkan untuk seorang Huang Zi  Tao. Aku benar-benar kesulitan menghadapinya saat kedua orangtuaku pergi malam itu.

Ini bukan cerita horror, thriller atau semacamnya. Tenang saja, hal yang kuketahui tentang Tao bukanlah ia seorang pembunuh yang dikejar-kejar polisi. Aku yakin ia tak akan membunuh seseorang dengan kemampuan martial artnya yang sudah berkali-kali ia tunjukkan di depanku. Dan aku merasa benar-benar mengenal Tao saat malam ketiga ia tinggal di rumahku.

Malam itu, Tao belum pulang ke rumah. Aku sendirian di rumah sambil membaca sebuah buku –ralat, novel yang sangat seru. Aku sampai tak sadar malam itu ada yang membunyikan bel rumah. Aku agak malas mengecek pintu depan karena novelku baru habis dibaca setengahnya. Apalagi malam itu hari hujan menyebabkan suhu udara dingin. Tapi aku akhirnya berhasil berjalan turun dari kamarku.

Dan saat membuka pintu, aku menemukan seorang panda mungil yang gemetaran di depan pintu. Itu Tao, ia meringkuk disana dengan seluruh tubuhnya yang basah. Bibirnya memucat. Yap, aku cukup kasihan melihatnya karena aku terlalu lama membukakan pintu untuknya. Begitu pintu kubuka, ia buru-buru masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat.

Aku cukup tertegun saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Aku baru saja ingin menanyakan kenapa ia pulang selarut ini dan bersiap memarahinya, karena bagaimanapun ia tetap anak SMP yang dititipkan pada keluargaku. Aku harus bertanggung jawab atasnya karena hanya ada aku di rumah malam ini. Tapi, Tao sudah menjawabnya duluan.

Mianhe. Aku berlatih martial art dan saat sadar hari sudah gelap” Ucapnya sambil gemetaran.

Aku mengurungkan niatku yang ingin memarahinya dan pergi ke kamarku untuk mengambil handuk. Setidaknya ia harus mandi air hangat malam ini sebelum ia sakit. Aku melemparkan handuk itu pada Tao yang ditangkap sangat baik olehnya.

“Mandilah. Aku tak ingin dimarahi eomma kalau kamu sakit” ucapku lalu berniat kembali ke kamarku untuk melanjutkan membaca novelku. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, suaranya yang memelas itu memanggilku.

Nuna..”

Aku merasa ada sedikit yang aneh karena baru kali ini aku mendengarnya memanggilku nuna sejelas ini. Aku hanya pernah mendengarnya memanggilku ketika sarapan dan makan malam. Selebihnya, aku tak pernah berpapasan dengannya di rumah ini kecuali di ruang makan.

“Hmm?” Tanyaku. Mungkin ia membutuhkan handuk satu lagi untuk rambutnya? Atau mau bilang shampoo di kamar mandi sudah habis? Tapi memangnya ia tahu soal shampoo itu? Setahuku shampoo itu habis saat kupakai tadi sore.

“Temani aku mandi”

Aku membeku seketika mendengar kalimat itu diluncurkan dari bibirnya. Mwo?? Apa aku salah dengar? Apa dia hanya ingin mengerjaiku? Aku menatap matanya tajam. Ia masih berdiri kedinginan di depanku.

“Apa maksudmu?” Tanyaku langsung sambil berkacak pinggang. Kurasa  tebakanku benar, ia hanya ingin mengerjaiku.

Ekspresi Tao berubah menjadi bingung. Ia seperti kesulitan mencari kata-kata yang pas untuk alasan dari kalimat yang baru saja diucapkannya. Tapi aku tetap menunggunya bicara.

“A..Aku takut” Itu yang selanjutnya kudengar dari mulutnya. Aku memutar otakku, tidak percaya kalimat macam itu keluar dari wajahnya yang seram itu.

“Kamu…… takut?” Aku sedikit menekankan kata “takut” pada kalimatku. Masih berusaha mencari kebenaran di pandangan mata Tao. Apa dia serius mengatakannya? Memangnya ia tak pernah bercermin? Apa ia juga takut untuk bercermin?

Tao mengangguk. “Ini sudah malam, dan lagi rumah sangat sepi” Tambahnya. Sepertinya ia menjelaskan kenapa ia takut mandi sendiri. Aku hanya tersenyum miris mendengarnya. Lelaki sepertinya… takut mandi sendiri? Apa itu juga alasannya kenapa ia buru-buru masuk rumah ketika aku membuka pintunya? Ya… entahlah. Tapi entah kenapa aku merasa seperti menghadapi anak kecil saat ini.

Aku menghela napas panjang dan akhirnya terpikir sesuatu agar ia segera mandi. Ia benar-benar bisa masuk angin kalau aku membiarkannya terus disini hingga kering.

“Baiklah. Aku menemanimu tepat di depan pintu kamar mandi” Ujarku setidaknya membuatnya sedikit tenang. Tapi sepertinya tanda-tanda kekhawatiran muncul lagi di wajahnya.

“Tenang saja. Aku tak akan meninggalkanmu. Jadi cepat mandi” Ucapku lagi. Wajahnya tampak tenang lagi. Huh.. benar-benar anak kecil. Aku menuju ruang makan dan mengambil kursi ditaruh di depan kamar mandi. Tempatku berjaga sekarang. Kalau saja sofa di ruang tengah tidak berat, aku akan membawanya kesini.

Tao tampak akan memasuki kamar mandi tapi langkahnya terhenti ketika melihatku berjalan menaiki tangga menuju kamarku.

“Mau kemana?” Tanyanya. Ya ampun! Apa dia sepenakut itu? Aku bahkan tak bisa pergi sebentar untuk mengambil novelku.

“Aku mau mengambil novel untuk menunggumu. Tunggu saja sebentar” Ucapku mempercepat langkahku lalu dengan cepat menyambar novelku yang tergeletak diatas kasur begitu berhasil memasuki kamar. Aku segera kembali ke tempat Tao yang menungguku tanpa menutup lagi pintu kamarku. Begitu mendapatiku tak akan pergi lagi, ia tersenyum lalu masuk ke kamar mandi.

“Ya! Kenapa tidak kamu tutup saja pintunya?” Tanyaku sebab dia menyisakan sedikit celah dan tak membiarkan pintu itu tertutup. Dia pikir aku senang jika bisa melihatnya mandi?

“Kalau pintunya ditutup, itu sama saja nuna tidak menemaniku” Ujar Tao di dalam kamar mandi.

Aishhh! Jinjja! Aku sudah pasrah. Terserahlah. Pokoknya  apapun yang terjadi aku juga tidak akan menengok ke belakang. Aku lebih memilih fokus pada novel yang sedang kubaca.

Bunyi air yang memercik di lantai memenuhi pendengaranku. Showernya baru dinyalakan. Membuatku tak bisa fokus pada bacaanku. Habis tak ada suara apapun lagi selain air yang mengucur itu. Aku berusaha mendapatkan kembali feel di novel itu.

Nuna”

Fokusku seketika langsung buyar. Sepertinya baru saja ia menyalakan shower dan kali ini ia akan berkata apa lagi?

“Ne?” Jawabku tanpa menengok ke belakang.

Shampoonya habis ya?” Tanya Tao membuatku berpikir. Aku lupa shampoo itu baru saja kuhabiskan tadi sore.

“Kuambil shampoo baru ya” Ucapku dan berniat untuk bangkit. Aku baru ingat, apa dia berani kutinggal sendiri?

“Tao… tunggulah sebentar, aku pasti kembali” Ucapku meyakinkannya. Ditinggal hanya semenit mungkin tidak apa-apa. Aku langsung berlari di tangga menuju kamarku. Aku ingat aku masih menyimpan shampoo yang kubeli kemarin. Aku berniat mencoba memakainya karena katanya itu jenis aroma baru. Tak apa kurelakan ke panda itu.

Aku memberikan shampoo itu tanpa menghadap ke pintu kamar mandi walaupun aku yakin Tao memakai handuknya. Aku tetap tak sudi jika mata suciku harus melihat tubuh toplessnya -__-

Gomawo” Ucapnya pelan. Aku tak membalas perkataannya.

Tao melanjutkan kegiatan mandinya dan aku juga kembali fokus pada novelku. Belum selesai aku membaca satu paragraf tapi lagi-lagi suaranya menggangguku.

Nuna

Ne??” Jawabku langsung. Kali ini apa lagi?? Benar-benar panda yang merepotkan.

“Kenapa sepi sekali? Setidaknya nuna mengajakku mengobrol atau bernyanyi” Ucap Tao. Mengobrol? Aku sedang tidak niat untuk itu. Dan apa tadi ia menyuruhku bernyanyi? Sudah cukup eomma adalah orang terakhir yang mendengar suara sumbangku.

“Kenapa harus aku? Lagipula yang penakut bukan aku” Jawabku sedikit kesal. Setelah itu aku mendiamkannya dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara senandungan. Dia bernyanyi? Mungkin sedikit putus asa karena aku tidak menanggapinya. Tapi.. sepertinya ia tak begitu semangat bernyanyi dan hanya menyanyikan lirik lagu sepotong-sepotong. Belum lagi suaranya yang terkadang fals di beberapa bagian.

Ya! Lebih baik aku mendengar kamu cerewet daripada mendengar nyanyianmu” Ucapku. Ayolah, aku bahkan belum berhasil membaca 1 halaman pun karena dia terus menggangguku dengan suara-suara yang ia buat. Termasuk nyanyiannya.

Baru saja aku berniat protes karena ia tak menghentikan nyanyiannya, tapi tiba-tiba nyanyiannya seolah ada di sebelah telingaku dan terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Reflek aku menoleh ke arah Tao yang untungnya sudah selesai memakai pakaiannya. Untunglah tadi ia sekalian membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi.

Aku menguap lama dan menyadari kelopak mataku yang memberat. Kurasa ini saatnya aku tidur. Aku melihat Tao yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

“Kurasa aku harus tidur.. jalja” Ucapku sambil menguap dan berjalan perlahan di tangga yang sudah kulewati 4 kali bolak-balik itu. Kulempar novelku asal saat aku membuka pintu kamar dengan kasar. Aku merebahkan diriku diatas kasur dan mulai memejamkan mata. Kurasa aku sudah hampir memasuki alam mimpi sampai seseorang mengetuk pintu kamarku.

Siapa lagi jika bukan panda itu? Dengan agak malas aku turun dari kasur dan membuka pintu kamarku. Begitu kubuka Tao memeluk gulingnya erat tepat di depan kamarku. Apa maksudnya?

Nuna.. bolehkah aku tidur disini?” Tanyanya pelan.

Sontak pertanyaan itu membuatku membelalakkan mata. Setelah ia menyuruhku menemaninya mandi, sekarang ia ingin tidur disini? Apa dia takut juga tidur di kamarnya?

“Lalu bagaimana caranya kamu tidur selama 2 malam kemarin?” Tanyaku penasaran. Kalau ia takut di kamarnya sendiri, kenapa ia bisa tidur 2 malam kemarin?

“Aku menyetel musik dengan volume full dari handphoneku lalu meringkuk dalam selimut. Meskipun aku tetap sulit untuk tidur” Ucapnya polos. Baiklah, aku menyerah.

“Baiklah” Ucapku pelan, membuat Tao tersenyum senang lalu ia segera menuju kasurku sambil tetap memeluk gulingnya.

Childish” Gumamku pelan lalu aku berjalan menuju kasur. Begitu aku ingin naik ke kasurku, Tao telah tertidur dengan pulasnya. Aku menghela napasku lalu menyelimutinya dengan selimutku. Apa dia selelah itu hari ini?

Aku berniat untuk tidur disebelahnya tapi aku segera mengubah pikiranku begitu melihat wajahnya. Aku tak akan nyaman tidur dengan melihat wajahnya yang seram itu di sampingku.

Aku mengambil selimut lagi lalu memilih untuk tidur di lantai dengan selimutku. Tadinya aku ingin tidur di sofa ruang tengah atau di kamar Tao tapi aku terlalu malas untuk keluar kamar. Dan malam itu aku langsung tertidur pulas di lantai kamarku.

Itu hanya sabagian kecil cerita tentang Huang Zi Tao yang penakut dan manja. Masih banyak sifat anehnya yang belum kutelusuri. Kurasa memang orang tak bisa menilai seseorang dari fisiknya. Walaupun awalnya aku merasa sedikit kesal dengan orang ini, tapi aku harus berpikir positif. Aku harus berpikir ini sama saja seperti aku mendapatkan seorang adik laki-laki.

Mungkin memang berbeda karena Tao berumur 15 tahun dan wajahnya sama sekali tak menunjukkan umur aslinya. Tapi, sekesal apapun aku padanya, ia akan tetap tinggal disini. Tak ada gunanya menolak kedatangannya di rumahku.

Saat ini sudah 6 bulan panda itu tinggal disini. Selama ini yang berubah darinya hanya bahasa Koreanya yang semakin membaik. Sisanya, kurasa ia tetap Tao yang sama.

Aku memperhatikan jam dinding. Saat ini sudah menunjukkan pukul 9 malam.

Tok Tok

Nuna”

Aishh panda itu datang lagi.  Apa dia belum sembuh juga?

Kurasa, ia akan terus seperti ini sampai ia menyelesaikan SMAnya. Apa mungkin lebih? Entahlah…

End

Wkwk.. gimana? Aku langsung kebayang pas Tao bilang dia penakut. Soalnya dulu author juga pernah takut mandi sendiri -__- (bocorin aib sendiri)

Abisnya parno nonton film setan. Untung kakaknya author lebih parnoan lagi jadi ada yang nemenin mandi😉

Wuah gausah dibahas lagi deh. Kalo udh bikin ff bias sendiri tuh rasanya langsung plong gitu. Jadi bisa lanjutin ff  lain deh😀

Bye!

2 thoughts on “Frightened Panda

  1. Aku.. aku udah pernah baca ini, dan ternyata BELUM KOMEN.. waduh.

    puk puk.. taozi.. takut gelap, takut rumah & cerita hantu. Ternyata di dunia ini emang bener ada yg luarnya sangar tapi hatinya hello kitty.

    kipwraytingg ><

  2. Tao imut~ btw sisi romancenya dimana ya thor? :p ehehehehhe tapi aku suka Tao disini, aku ngebayangin Tao di exo showtime ep.10 pas masuk rumah hantu kkkkkk feelnya pas bgt😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s