Let the Hearts Do the Talk –3 [FINAL]

Final

TITLE: Let the Hearts Do the Talk

STATUS: Completed

CAST: Nam Woohyun (INFINITE), Kim Hyerin OC

Akhirnya sempet juga nulis chapter terakhirnya (blame it on photoshop and EXO. lol). Dan… emm… iya ini chapter terakhirnya. Tapi tenang, kalau dihitung-hitung chapter terakhir ini sama panjangnya sama dua chapter sebelumnya digabung. Ya udah deh, silahkan baca…~

–3

“Kim Hyerin,” panggil guru kelasnya sebelum Hyerin dapat keluar dari ruangan. Menahan keluhan karena lelah belajar dan tas dilengannya yang berat, ia segera menghampiri gurunya. Hyerin menatap gurunya yang masih menata kertas soal di mejanya.

Menelan ludah, Hyerin bertanya. “Ya, apakah ada yang bisa kubantu?” Hyerin menatap gurunya, berantisipasi apabila gurunya tiba-tiba akan melontarkan kata-kata pedas atas kesalahan Hyerin – walaupun Hyerin tidak merasa melakukan sebuah kesalahan.

Tak!

Hyerin meringis saat tumpukan kertas dijatuhkan pada permukaan meja dan membuat suara yang sedikit mengejutkan untuk gadis itu. Gurunya menatap ke arah Hyerin. Tetapi di wajahnya tidak ada amarah, lebih mendekati lelah. Dan hal tersebut malah membuat Hyerin menjadi semakin bingung dengan keadaannya.

Melipat kedua lengannya, gurunya, Mrs. Choi hanya menghelakan napasnya. “Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dengan murid Nam Woohyun, namun aku harus mengingatkanmu tugas kelompok kalian perkembangannya hampir tidak ada sementara kelompok lain bahkan ada yang hampir selesai. Aku tidak ingin kalian berdua harus mengulang kelas, mengerti?”

Mendengar perkataan gurunya seperti menambahkan garam pada luka. Tentu saja tugas mereka akan sangat sulit diselesaikan. Bukan karena mereka bertengkar hebat atau apa, tetapi sangat jelas bahwa ‘seseorang’ memilih untuk menghindari satu sama lain. Dan itu sudah cukup membuat Kim Hyerin frustasi.

Namun pada akhirnya Hyerin hanya tersenyum. “Baiklah,” katanya walaupun pada kenyataannya Hyerin sama sekali tidak yakin mengenai hal tersebut. Gurunya mengangguk dan memperbolehkan Hyerin untuk keluar dari kelasnya.

Saat sudah di luar kelas, pikiran Hyerin terus berputar. Kata-kata gurunya seperti mengingatkannya sesuatu – yang seharusnya sudah cukup jelas. Hyerin menatap kosong ke lorong di depannya. Tanpa sadar, pegangannya pada tasnya mengeras, begitu juga matanya yang sekerang penuh dengan sebuah tekad.

Dengan sebuah gerakan cepat, Hyerin memutar tubuhnya dan mulai berlari di lorong. Ia tidak peduli apabila akan ada murid atau bahkan guru memarahinya karena berlari dalam ruangan. Karena yang ada dipikirannya adalah satu hal dan apa yang Hyerin dengar sekarang hanyalah suara langkah kakinya yang menggema.

~//~

“Nam Woohyun! Yah, Nam Woohyun!” Hyerin berteriak sekeras mungkin agar temannya itu berhenti berjalan dan berbicara padanya. Tetapi walaupun Woohyun terkadang terlihat kikuk – hampir berbalik badan tetapi berhenti bergerak dan lanjut berjalan – Hyerin tau ada yang salah.

Semakin ia memikirkannya, semakin Hyerin berbulat hati dalam mencari tahu alasan seorang Nam Woohyun bersikap tidak biasa terutama pada Hyerin. Sebelum bertengkar mereka melakukan segalanya bersama tetapi tanpa alasan yang jelas Woohyun tidak menghiraukannya.

Ataukah aku tahu tapi menolak untuk mengakuinya?

Perutnya terasa aneh untuk satu detik, tetapi dengan cepat Hyerin berusaha mengabaikannya. Kenapa harus perasaan asing itu tiba di saat-saat seperti ini? Ia bertanya-tanya tetapi dengan gelengan kepalanya, pikiran itu segera pergi.

Menarik napas panjang Hyerin berlari ke arah Woohyun yang masih berjalan di trotoar menghadap ke depan masih mengabaikan Hyerin yang telah memanggil namanya sejak gadis itu mengikutinya. “Woohyun-ah~” suara Hyerin berubah menjadi sedikit memelas, barulah di saat itu Woohyun memutar tubuhnya.

Saat Hyerin melihat Woohyun membuka mulutnya, rasanya ia sudah menemukan sesuatu yang hilang – padahal mereka hanya tidak berbicara untuk… hampir dua minggu berturut-turut?

“Hyerin-ah, jangan ikuti aku” dari nadanya tampak Woohyun berusaha menjauhkan dirinya dari Hyerin, namun di wajahnya terlukis hal lain. Dan itu terpampang dengan terlalu jelas, sangat amat jelas. Hyerin dengan wajah skeptis melipat kedua lengannya dan berjalan dengan lankah lambat ke arah Woohyun.

Menaikan salah satu alisnya, Hyerin berkata. “Itu terserah aku, mengikutimu atau tidak. Seperti kau menghindariku berhari-hari” di dalam hati, Hyerin benar-benar terkejut ia menambahkan kalimat semacam itu, dan itu membuatnya sedikit merasa malu dan apakah ia baru saja terdengar… posesif?

Woohyun seperti ingin berkata sesuatu, tetapi ia malah menelan ludahnya. Untuk beberapa waktu mereka hanya saling menatap. “Ah… Aku lupa, aku janji pada ibuku aku akan belanja untuknya” alasan, batin Hyerin melihat Woohyun tampak tidak nyaman dan… apa itu?

“Jadi, Hyerin. Daripada kau harus mengikutiku sampai malam, lebih baik kau pulang”

Begitu kalimat itu selesai diucapkan Hyerin menjulurkan lidahnya. “Aku akan tetap mengikutimu, bahkan mungkin menjadi stalker sampai kau menjelaskan mengapa kau mengabaikanku” Hyerin menyampaikan ultimatumnya.

Namun ekspresi Woohyun sulit dijelaskan. Di wajahnya jelas ada suatu jenis rasa ‘senang’ tetapi kemudian ia membuang muka, dan dengan terbata-bata ia berteriak. “T-terserah apabila itu maumu!” setelah itu ia berlari menuju daerah perbelanjaan.

~//~

Nam Woohyun selalu menyembunyikan sesautu. Sebelumnya ia sangat mahir untuk menutupinya, tetapi lama-kelamaan Woohyun benar-benar takut apa yang telah ia sembunyikan dengan begitu baiknya dapat terbongkar karena suatu kesalahan kecil yang fatal. Dan kondisi seperti ini membuatnya sangat berhati-hati.

Hyerin masih mengikutinya. Siapa tahu gadis pendiam, kutu buku ini dapat menjadi sangat keras kepala?

Setelah satu jam penuh Woohyun merasa… sebenarnya ia tidak merasa terganggu. Hyerin memang tidak tahu menahu mengenai ini, tetapi pada kenyataannya Woohyun merasa ada yang aneh tanpa seorang perempuan yang tersenyum sehari dapat dihitung hanya dengan tangan saja. Namun Woohyun tetap sedikit bergidik saat ia melihat ke belakang tubuhnya dan melihat Hyerin menatapnya – dan masih meminta jawaban dimana Woohyun menolak untuk menjawab.

Tangannya masih memegang satu bungkus permen lemon – dan ia sendiri tidak tahu mengapa ia memegang-megang bungkusan permen itu. Dengan muka cemberut ia mengembalikan benda yang tidak bersalah itu ke raknya.

Ketika ia menoleh sekilas ia melihat Hyerin dan Woohyun bergegas pindah ke tempat lain. Lagipula ia sudah berkata bahwa ia berjanji untuk berbelanja kepada ibunya. Hyerin adalah orang yang dapat menyatukan informasi satu demi satu cukup cepat sehingga Woohyun harus memperhatikan gerakannya.

“Sekarang aku akan membeli ramen” ucapnya sedikit dikeraskan agar Hyerin dapat mendengarnya. Woohyun menatap tas belanjanya yang hanya berisi snack yang biasa ia makan. Sudah sangat jelas ia membutuhkan benda yang lebih meyakinkan dibandingkan dengan ramen. Apakah aku harus sekalian membeli sabun diterjen sekalian?

Setelah menimbang-nimbang beberapa kemungkinan, Woohyun pada ujungnya memilih membeli ramen dan segera berpindah lorong. Tetapi matanya masih mencuri kesempatan untuk melihat apakah Hyerin akan tetap mengikutinya. Ia tidak mengatakan apa-apa ketika melihat Hyerin berpura-pura tidak melihat Woohyun – yang memang tidak menjulang.

Tetapi Woohyun tidak bisa menahan senyumnya ketika ia mendapati Hyerin menatap satu rak penuh dengan batangan cokelat. Hyerin terlihat bimbang untuk sekitar satu menit penuh, dan Woohyun terus mengamati ‘stalker’-nya itu. Barulah beberapa detik kemudian Hyerin mengambil satu batang cokelat dan berlari, mengira Woohyun sudah pergi jauh.

Sementara itu, orang yang ia ikuti terus mengambil kesempatan tipis untuk segera bergegas ke lorong tempat took swalayan itu menjual mie instant. Walaupun ia terus berlari dan berusaha tidak menabrak apapun – karena Hyerin dengan badannya yang kecil terbukti sangat cepat saat berlari – pikiran Woohyun lebih jauh dari Antartika.

Atau mungkin hanya beberapa meter dari dia berada sekarang?

Woohyun teringat muka Hyerin yang sangat kebingungan saat memilih cokelat untuk dibeli. Antara murah tapi tapi tidak terlalu enak atau yang sedikit lebih mahal. Mengapa kau begitu lucu sih, Kim Hyerin?

Jari tangan Woohyun bergerak sedikit tanpa sadar, dan itu berhasil membangunkan Nam Woohyun dari hayalannya.

Ia berhenti berlari dan mulai berjalan dengan pelan. Matanya melirik ke tangan kanannya. Woohyun tertawa dalam hatinya. Apakah hal itu menjadi sebuah kebiasaan? Seperti aku ingin mencubit pipinya karena begitu lucunya dia?

Woohyun menggelengkan kepalanya. Andwae, aku tidak boleh memikirkan itu. Ramen. Ramen. Ramen.

Selama hampir dua minggu – seperti perkataan Hyerin – Woohyun hampir tidak melakukan interaksi dengan perempuan yang telah menjadi temannya – dan mungkin lebih di posisi Woohyun – dan itu membuatnya merasa seperti orang yang salah tidur lebih dari satu malam.

Woohyun berbohong apabila ia berteriak pada dunia bahwa ia tidak merindukan Kim Hyerin.

Ia terdiam dan menatap kosong ke depannya sebelum akhirnya tersadar akan sesuatu. Woohyun memukul pelan kepalanya dan menggelengkan kepalanya saat ia menuju lorong yang ia tuju dan lewati.

Saat ia berputar arah ia melihat Hyerin menghadap ke rak berisi benda-benda yang detailnya tidak usah dijelaskan. Melihat perempuan itu saja sudah membuat kakinya seperti jelly. Ketika sudah cukup jauh dari Hyerin, Woohyun kembali memukul kepalanya dengan harapan isi kepalanya tidak lagi terisi oleh seseorang yang telah ia coba hindari beberapa hari ini.

Ramen. Ramen. Hyerin. Hye-

Ramen. RAMEN

~//~

Kantung belanjaannya tidak berat, tapi jelas-jelas ada sesuatu yang membuat Woohyun kesulitan untuk berjalan. Matanya melirik ke matahari yang mulai tidak terlihat. Ia mempercepat langkahnya, khawatir akan tiba di rumahnya saat hari gelap.

Begitu juga dengan ‘seseorang’ dibelakangnya.

Woohyun menghelakan napasnya. Ia berusaha, ia sungguh berusaha untuk mengabaikan Hyerin semenjak permintaannya kepada Woohyun waktu itu. Woohyun berusaha untuk menuruti permintaan tersebut namun ada satu hal yang harus dikorbankan untuk itu.

Ia melihat ke jam tangannya, angka 17.58 mengedip dari jam digital itu. Selang beberapa detik, muncul kepanikan, marah dan khawatir. Ia berhenti pada waktu itu juga dan berputar. Seharusnya ia tidak lagi terkejut melihat Hyerin masih mengikutinya. Dan walaupun rumah mereka satu jalan, rumah Hyerin sudah lewat beberapa blok yang lalu. Fakta itu tidak membantu Woohyun yang wajahnya menunjukkan amarah. Tidak ada Nam Woohyun dengan senyum 24/7-nya.

Hyerin melihat ini tetapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia tetap berjalan ke arah Woohyun, namun langkahnya melambat. Mata mereka bertemu, Woohyun dengan rasa frustrasinya dan wajah Hyerin jelas-jelas menantang Woohyun untuk segera membuka mulutnya yang tertutup untuk Hyerin.

“Yah, Kim Hyerin!” Teriak Woohyun dan Hyerin berhenti berjalan. Jarak mereka sekarang hanya beberapa meter. Cahaya matahari sekarang sepenuhnya hilang, digantikan dengan bulan dan lampu jalanan yang menyala redup-redup.

Tetapi perubahan terhadap lingkungan mereka, atau fakta bahwa malam sudah tiba terabaikan baik oleh Hyerin maupun Woohyun.

“Hyerin, kenapa kau terus mengikutiku? Rumahmu sudah lewat, tidakkah kau melihat jam?!” bentaknya. Berbeda dengan temannya yang lain, Hyerin tidak biasa keluar rumah di malam hari.

Hyerin yang pada saat itu terus menatap trotoar akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya tetap terisi rasa kesal dan keinginan kuat.

“Tidakkah kau dengar aku?” Hyerin mendesis. “Aku akan terus mengikutimu sampai kau memberitahuku apa kesalahanku sampai kau mengabaikanku?” perkataan Hyerin membuat Woohyun melembutkan tatapannya.

Mulutnya sedikit terbuka. “Hyerin-ah,” Woohyun berkata pelan, namun sebelum ia menyampaikan kata-kata yang ia ucapkan Hyerin menghentikannya.

“Aku belum selesai” ucap Hyerin dengan tatapan tajam dari matanya. “Tidakkah kau ingat kita punya tugas bersama? Teganya kau, kamu ingin aku menyelesaikan semuanya?!” Woohyun membuka mulutnya tetapi lagi-lagi Hyerin memotongnya.

“Awalnya aku berpikir bahwa kau sedang ada masalah, namun lama kelamaan aku sadar, akulah masalahnya” Hyerin menunjuk dirinya. “Jujur aku bukan orang yang mudah menyadari kesalahanku, dan Woohyun, kau harusnya tahu itu”

Suaranya semakin lama semakin terdengar serak dan Woohyun berjalan mendekati Hyerin namun berhenti ketika gadis itu mengangkat tangannya menandakan Woohyun untuk berhenti. Hyerin tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat sebelum mengangkat kepalanya agar matanya dapat bertemu langsung dengan milik Woohyun.

Hyerin menelan ludah dan menundukkan kepalanya sebelum akhirnya ia mengucapkan kata-kata yang sudah mendekam di dalam dirinya. “Apakah itu karena aku tidak memperbolehkanmu bertingkah seperti itu?” ia bertanya dan tersenyum saat muka Woohyun terlihat bersalah.

“Kau tahu?” suara Hyerin semakin rendah dan Woohyun mengabaikan perintah Hyerin dan berjalan ke arahnya dengan langkah kecil dan pelan. Di saat itu Hyerin melanjutkan perkataannya, sama sekali tidak sadar Woohyun mendekatinya.

“Aku hanya memintamu untuk berhenti melakukannya di depanku agar aku tidak merasakan ‘hal yang aneh’ di dalam perutku. Aku tidak pernah memin-, ingin Woohyun-ah meninggalkanku…”

Suara Hyerin berhenti saat seseorang mencubit pipinya. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat Woohyun berada tepat di depannya. Detak jantungnya bertambah cepat, mukanya terasa hangat dan perutnya… bertingkah lagi, hanya jauh lebih parah dari sebelumnya.

“Woohyun-ah…”

Woohyun hanya tersenyum, jari tangan kanannya masih mencubit pipi Hyerin. “Tidak usah dilanjutkan” nada Woohyun menenangkan Hyerin.

Tangan Woohyun kembali ke sisi tubuhnya dan Woohyun mengambil napas panjang sambil mendongak ke atas, menatap langit gelap berhias bintang. “Hyerin, ketika aku berbicara denganmu kau tahu? Semua itu, hati dan perkataan itu harus kuucapkan saat untuk dapat sekedar mengobrol denganmu”

Hyerin menatapnya bingung dan Woohyun hanya tertawa pelan, sekali lagi mempertanyakan mengapa seorang Kim Hyerin dapat menjadi begitu lucu.

“Kalau aku tidak melakukannya aku akan… membuat diriku tampak jauh lebih bodoh dari sebenarnya” Woohyun mengaku. Ia kemudian melihat ke arah Hyerin.

“Aku melakukannya kepada banyak orang, tetapi alasan pertama aku melakukan itu hanya satu” ia menepuk pelan kepala Hyerin dan mengacak pelan rambutnya. “Karena saat aku mengatakannya padamu, itu…” Woohyun terdiam dan menarik napas sekali lagi.

“Itu apa yang benar-benar ingin kukatakan padamu”

Mata Hyerin melebar saat ia akhirnya mengerti apa yang Woohyun coba katakana. Hyerin ingin mengatakan sesuatu namun tidak ada kata-kata yang keluar. Semua anggota tubuhnya tidak lagi mendengarkannya. Sebelum semua pikiran kacau balau, rollercoaster, halilintar, badai dapat selesai, Woohyun harus membuat semuanya menjadi lebih ‘buruk’ bagi kesehatan mental Hyerin.

Woohyun hanya tertawa pelan. Tawanya yang biasa namun Hyerin mengetahui Nam Woohyun lebih baik dari itu.

“Hyerin, apa yang kau akan katakan apabila tiba-tiba aku melakukan sesuatu?” Hyerin kembali memberikan tatapan bingung kepada Woohyun.

Namun sebelum ia dapat bertanya apa yang Woohyun maksud dari ‘sesuatu’, Woohyun membentuk hati dengan dua tangannya. Senyumnya yang selalu didefinisikan bodoh oleh Hyerin merekah. Nadanya tidak pernah berubah saat Woohyun mengucapkan satu kalimat yang ia ucapkan hampir sama banyaknya dengan menyebut nama ibunya.

“Hyerin-ah~ saranghae~”

Wajah Woohyun selalu seperti itu, suaranya sama persis namun Hyerin tidak bisa bereaksi sama seperti biasanya. Ia tidak bisa menjawab dengan jawaban asal, setengah hati, dingin atau sarkasme tingkat tinggi.

Yang ia rasakan adalah detak jantungnya bertambah cepat sampai-sampai terdengar di telinganya. Hyerin sebenarnya ingin paling tidak mengatakan sesuatu pada Woohyun yang mulai menggunakan aegyo karena dia sendiri sedang berada di posisi yang sama dengan Hyerin.

Hyerin tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba memutar badannya dan berlari ke arah jalan rumahnya. Woohyun yang akhirnya bisa menguasai keterkejutannya memanggil Hyerin.

“Yah, Kim Hyerin!”

Kakinya terus bergerak walaupun Hyerin tahu bahwa ini adalah apa yang dilakukan seorang pengecut. Lama kelamaan ia berhenti berlari. Hyerin adalah seorang penakut, Kim Hyerin adalah seorang penakut yang sering melarikan diri.

Hyerin sudah melakukannya dan ia menyesalinya sekarang, bukankah apabila ia melakukan hal yang sama semuanya akan berputar lagi? Hyerin dan Woohyun akan bertengkar dan mereka harus mengalami hal yang sama – dan merepotkan – lagi dan lagi.

Untuk itu Kim Hyerin berhenti. Mengatur napasnya dan menarik satu napas panjang Hyerin menggigit bagian dalam mulutnya. Apakah aku harus mengatakannya?

Woohyun hanya melihat bingung ke Hyerin yang dengan pelan dan gerakan tidak yakin memutar tubuhnya sehingga dapat melihat ke arah Woohyun. Woohyun baru saja membuka mulutnya sebelum rahangnya menganga dan tidak ada suara yang keluar.

“Nam Woohyunnie~” Hyerin memanggil namanya dengan suara anak-anak. Wajah Hyerin yang biasanya datar dihiasi dengan senyum, kalau perlu bersama dengan pelangi dan unicorn sebagai latar belakang.

“Woohyun-ah, saranghae~”

Woohyun tidak bisa mempercayai pengelihatannya saat Hyerin mengangkat kedua lengannya dan membentuk hati di atas kepalanya. Belum pulih dari keterkejutannya, ia langsung diserang oleh Hyerin yang menggunakan aegyo.

Aegyo! Seumur hidup mengenal Hyerin, gadis itu tidak pernah menggunakan tingkah imut kepada lawan jenis. Namun hal itu membuat Woohyun tersenyum, bahkan ia tidak menyadari ia mulai tertawa. Kim Hyerin adalah definisi dari semua hal yang imut dan lucu.

Hyerin menyadari Woohyun tertawa langsung berhenti dan menatap Woohyun dengan tatapan marah sebelum menjulurkan lidahnya. “Dasar!” Gadis itu berteriak gusar sebelum berlari.

Tapi tidak ada yang mengalahkan keimutan Kim Hyerin saat ia marah.

Tertawa karena pikirannya sendiri, Woohyun mulai mengejar Hyerin. Beban belanjaannya seakan berubah menjadi angin saat ia dengan mudahnya dapat mengejar Hyerin – nampaknya juga Hyerin tidak benar-benar berusaha melarikan diri. “Hyerin-ah, aku akan menemanimu pulang”

Melihat ke belakang, Hyerin menjulurkan lidahnya lagi. “Aku bisa sendiri!” Hyerin menambah kecepatan larinya.

Woohyun hanya tertawa pelan sebelum akhirnya menjatuhkan barang belanjaannya – yang memang isinya kurang penting – dan barulah ia melakukan sprint. Setelah posisi Woohyun tepat di belakang Hyerin, tawanya semakin keras. Seperti dugaannya, Hyerin melihat ke belakang dan berhenti.

“Wo-Woohyun! Yah, Nam Woohyun, turunkan aku!” Tawa Woohyun semakin nyaring saat Hyerin berteriak. Woohyun memeluk tubuh Hyerin yang kecil dari belakang dan berputar, membuat Hyerin menjadi lebih histeris.

Suara teriakan dan tawa berhenti tiba-tiba saat muka Hyerin berubah menjadi berbagai gradasi warna merah. Woohyun melepaskan pegangannya dan hanya menyeringai saat Hyerin menolak untuk melihat ke arah Woohyun, tapi tangan Hyerin secara tidak sadar memegang pipinya dan mengangkat dagunya agar dapat melihat Woohyun dengan jelas.

“Kau tidak…”

“Aku melakukannya” Nada bangga Woohyun membuat Hyerin ingin memukul kepalanya.

Hyerin tiba-tiba menyadari sesuatu ada yang hilang. “Dimana belanjaanmu?” ia bertanya dan Woohyun menjawab dengan menunjuk jalan yang mereka lewati. Hyerin membuka mulutnya dan langsung berjalan ke arah Woohyun ‘menjatuhkan’ tas belanjanya.

“Hyerin, apakah kau marah?” Woohyun mengikuti Hyerin tapi seperti film-film, komik atau sinetron di TV, Hyerin memberikannya silent treatment. Sangat klasik, pikir Woohyun.

Woohyun berjalan di samping Hyerin yang masih diselubungi awan hitam di atas kepalanya, sementara Woohyun tersenyum senang seperti matahari cerah. Woohyun menggenggam ujung lengan panjang yang dipakai Hyerin dan menariknya pelan.

“Hyerin-ah maafkan aku~”

“Diam,” kata Hyerin tajam. Walaupun begitu dapat terlihat jelas dibalik muka kesalnya, Hyerin sebenarnya berusaha menekan rasa malunya. Senyum Woohyun semakin melebar ketika menyadari ini.

“Kim Hyerin, saranghae~” Woohyun sekarang memegang salah satu lengan Hyerin sepenuhnya. Hyerin sedikit bergerak-herak tidak nyaman tapi tetap menyuruh Woohyun diam dengan tatapannya.

Sampai Woohyun mendekatkan mukanya ke depan Hyerin barulah Hyerin benar-benar berusaha keluar dari ‘cengkraman’ greasy Nam. “Y-yah! Nam Woohyun, apa kau gila?!” setelah berteriak dengan muka merah tomat, Hyerin bisa melepaskan dirinya dan berjalan lebih cepat, meninggalkan Woohyun yang tertawa pelan.

“D-diam!” Hyerin berusaha membuat Woohyun berhenti tertawa. Namun tawa itu hanya digantikan oleh sebuah cengiran. Dan catchphrase Woohyun berikutnya tidak membantu Hyerin yang sepertinya kebanyakan darahnya mengumpul di muka.

“Hyerin-ah~ mengapa kau begitu lucu~?”

THE END?

~//~

Crappy ending, rushed ending, what the hell ending…

Aku sendiri gak tahu kenapa endingnya begitu… Terus banyak makanan disebut, itu dikarenakan ngidem makan. Ya udah… gitu aja. Terima kasih sudah membaca cerita chapter super singkat yang harusnya bisa digabung jadi satu tapi author terlalu sibuk aka malas jadinya jadi…

Oh iya, author gak tau kapan, tapi udah ada dua kemungkinan cerita baru. Please anticipate!

Again, thanks~!

itsredpenguin, SIGN OUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s