Hi to Him -04

chapter 04

Luhan’s POV

 

“Xiumin aku duluan ya” Aku mengetuk pintu toiletnya, ini sudah lima menit aku menunggunya di toilet, tadi ketika Ara tertidur ia memintaku untuk menemaninya ke toilet. Tiba-tiba terdengar suara muntahan. Aku menelan ludah “Kau butuh bantuanku?”

“Ti-tisu”

 

 

Aku segera mengambil setumpuk tisu di dekat wastafel “Ini” aku kembali megetuk pintu toiletnya
 
Ia membuka pintu toilet, tangannya menutup mulutnya yang sepertinya masih ingin mengeluarkan muntah “Maaf merepotkan Luhan, tapi bisa belikan aku teh hangat?” Suaranya terdengar lemas, membuatku ikutan prihatin mendengarnya.
 
Aku hanya mengangguk dan menepuk bahunya “Kutunggu di luar”
Akhirnya tanpa pikir panjang aku langsung keluar dari toilet. Tanpa sadar, begitu membuka pintu aku langsung melayangkan pandanganku pada tempat kami duduk tadi.
 
“Ara dimana?” aku menengokkan kepalaku kanan dan kiri mencari sosoknya. Mungkin dia ke toilet juga, akhirnya aku langsung menuju counter minum terdekat dan membeli dua gelas teh hangat, mendengar seseorang muntah membuatku menjadi ikutan mual juga.
 
Sambil terus berjalan menuju tempat duduk mataku terus mencari sosok Ara, tapi yang kutemukan hanya selembar sticky notes tertempel di koperku.
 
Luhan maaf aku sudah dijemput, uangmu akan kugantikan begitu kita bertemu lagi ^^
 
-Zhang Ara
 
Aku mencoba membaca sekali lagi notes itu siapa tahu aku salah baca, tapi berapa kali pun aku melihat nama yang tertera di sana tulisannya tetap “Zhang Ara” oke dia sudah pergi dan aku sama sekali tidak memiliki kontaknya. Bukan karena suka atau apa, tapi memiliki teman begitu baru sampai Seoul bukankah merupakan hal yang harus dijaga?
 
Kugantikan begitu kita bertemu lagi? Aku masih tidak mengerti kenapa dia yakin sekali kita akan bertemu lagi? Seoul luas dan padat, kalau aku memang akan bertemu dengannya berarti aku dan Ara memang harus…harus apa entahlah.
 
“Luhan!”
 
Aku menengok ke belakang dan melihat Xiumin yang berlari menghampiriku
 
“Sepertinya tadi di pesawat aku makan kebanyakan” Ia menjelaskan dengan suaranya yang sudah tidak terdengar lemas sama sekali, membuatku membatalkan niat untuk mencari obat jika lima menit lagi ia masih belum keluar dari toilet.
 
“Ini minum dulu” Aku mengulurkannya segelas teh, “Terima kasih” Xiumin segera meminumnya tapi matanya terus bergerak seperti mencari sesuatu.
 
“Mencari perempuan tadi?” Aku berusaha menebak
 
Ia seperti terkaget namun mengangguk “Siapa namanya? Aku lupa”
 
“Zhang Ara, dia sudah pergi” Aku menunjukkan notes yang baru kulepas dari koper, Xiumin segera menerimanya dan membaca pesan yang Ara tinggalkan. Wajahnya seperti berpikir sesuatu yang kompleks “Luhan, apa kita pernah bertemu di suatu tempat?”
 
Aku terdiam mendengar pertanyaannya, mencoba mengingat wajahnya di suatu tempat tapi memori itu sama sekali tidak keluar, akhirnya aku menggelengkan kepala “Aku rasa tidak.”
 
Xiumin hanya menggangguk tidak bertanya lebih lanjut, ia pun duduk sementara aku mengeluarkan hp  dari ransel yang tadi Ara pakai untuk bantal. Semoga saja noona segera menjemput, sudah tidak ada hp lagi yang bisa kupinjam untuk mnghindari kebosanan.
 
“Luhan ini gantinya” Xiumin menepuk bahuku dan menjulurkan selembar won, aku tertawa dan menggelengkan kepala “Itu hanya segelas teh tidak apa-apa”
 
Tiba-tiba handphoneku berbunyi, begitu melihat nama noona yang tertera di layar aku langsung menerima panggilannya
 
“Luhan aku sudah sampai!”
 
Aku tersenyum, doa’a didengar “Aa-ah! Iya iya aku segera kelu-“
 
“Jangan keluar! Aku akan masuk ke sana, kebetulan aku datang bersama temanku”
 
“Ahh, baiklah” Aku mengangguk dan memutuskan panggilan. Akhirnya aku kembali duduk dan meletakkan ransel yang tadi siap kupasang di bahu.
 
“Kau sudah di jemput?”
 
Aku mengangguk “Ya sebentar lagi mereka akan datang, mau kupinjamkan hp buat menelpon?”
 
Xiumin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum “Tadi dia bilang lima belas menit lagi akan datang, mungkin sebentar la— ah itu dia!” Tiba-tiba Xiumin membulatkan matanya dan menunjuk arah gerbang keluar aku mengikuti pandangannya dan menemukan sosok noona yang sedang berlari menuju arahku.
 
“Luhan!”
 
“Minseok!”
 
Dua wanita yang masuk berbarengan tadi menyebut namaku dan seorang nama laki-laki bernama Minseok. Aku menengok pada Xiumin karena aku yakin wanita di sebelah noona tadi sedang memandangnya “Minseok?” Aku bertanya.
 
Xiumin tersenyum “Nama Koreaku”
 
“Kau orang Korea?” Aku kaget mendengar penjelasannya tadi, Xiumin, oke salah, apa Minseok? Aku tidak tahu harus memanggilnya siapa, melihat kebingunganku Xiumin hanya tertawa “Panggil saja aku Xiumin”
 
“Arasso–”Tiba-tiba seseorang memotong ucapanku, bahuku ditepuk dengan keras membuatku sedikit tersentak “Maaf noona telat!”
 
Aku hanya menyeringai “Sebagai gantinya teraktir aku makan”
 
“Noona yang ini akan membayarnya!” Hana Noona tersenyum lebar sambil menunjuk wanita yang datang tadi bersamanya. Ia tersenyum “Annyeong, aku teman noonamu, namaku Hyejin”
 
Aku tersenyum membalas senyumnya, tapi tiba-tiba mataku menangkap sosok Xiumin di sebelah Hyejin noona, ekspresinya kaget, persis seperti ku.
 
“Hyejin lebih baik kau mengenalkan Minseok pada Luhan sekarang” Hana noona sepertinya dapat membaca ekspresi kagetku “Dan kau juga, kenalkan Luhan pada Minseok sekarang” Kali ini Hyejin noona yang berkata.
 
Mereka berdua tertawa membuat aku dan Xiumin makin tidak mengerti. Setelah satu menit lebih tertawa akhirnya kedua noona itu memasang tampang serius.
 
“Ekhm” Hana noona berdehem membuat suasana serius di antara kami berempat.
 
“Luhan dan Minseok” Ia menyebutkan nama kami berdua dan menatap kami bergantian
 
“Ya?” Aku dan Xiumin menjawab dengan kompak
 
“Omo lucunya kalian menjawab bersamaan! Apakah kaliah sudah mengenal satu sama lain?” Tiba-tiba Hyejin noona merusak atmosfer serius dengan rasa penasarannya itu.
 
Kami berdua mengangguk, mengenal satu sama lain, mengetahui nama saja sudah dikategorikan mengenal satu sama lain kan?
 
“Hah? Kalau begitu kalian berdua harusnya tidak perlu kaget begitu” Hana noona memiringkan kepalanya, kali ini ia yang memasang ekspresi tidak mengerti.
 
Begitu aku mau membuka mulut menanyakan sesuatu tiba-tiba Hyejin noona memotong dengan sebuah kalimat yang membuat aku dan Xiumin tercengang
 
“Kalian sudah tahu kan kalau kalian berdua trainee S.M? “Hah Xiumin juga trainee?

_________________________________

(A/N)

Maaf telat dan pendek ._.

Setelah ini author akan mengupdate O  V E R ^^

Hari ini author berangkat ke Yogya doakan ujiannya sukses ya! ^^

2 thoughts on “Hi to Him -04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s