The Mirror

The Mirror

TITLE: The Mirror

AUTHOR: itsredpenguin

GENRE: Angst, Horror(?)

LENGHT: One-shot (+7000 kata)

RANTING: PG

CAST: L/Kim Myungsoo (INFINITE), !side character Byun Baekhyun (EXO)

WARNING: Violence, mentioned of murder (…kenapa warningnya pake bahasa Inggris ya?)

Pertama-tama author ini HARUSNYA tau dari judul blognya kalau fanfic ini tidak pantas di sini… Tapi sudahlah, keburu ngomong ke author Pikrachu soal keberadaan ide FF ini. Jadi bagi readers yang merasa tidak kuat membaca kekerasan dan ke-psycho-an (emangnya itu kata ya?) jangan dibaca deh… Tapi yang mau ya silahkan^^

Go ahead (with cautions)~

Happy reading – or not.

Everything I gave to you
Wasn’t for you
It was only because I wanted to believe that it was
That we’re reachable
               –41 Days; Kim Sunggyu of INFINITE

Langit berwarna abu-abu, awan mengumpul di atas kepala. Angin mendesis, membawa udara dingin yang menusuk kulit tanpa rasa ampun. Ibu-ibu memanggil anak-anaknya agar kembali ke dalam rumah saat suara gemuruh mulai terdengar. Orang-orang menarik jaketnya agar terlindung dari udara yang menusuk tajam ketika mereka mencari tempat berteduh.

Kilat menyambar jauh di udara, mengancam semua orang tentang kedatangan badai yang akan datang. Semakin sering suara gemuruh dan kilat bersinar di langit, jalan yang awalnya ramai menjadi semakin kosong, tidak terkecuali sebuah jalan kecil di pinggiran kota.

Jalan tersebut terlihat lebih gelap dari sebenarnya karena cuaca yang tidak mendukung serta kurangnya cahaya matahari yang menyinari. Sebelum hujan turun, semua orang sudah berada di bawah naungan rumah, toko swalayan, atau tempat apapun yang dapat mereka gunakan untuk berteduh.

Namun tidak bagi seseorang. Kulitnya yang pucat dihiasi dengan warna biru di bagian pipinya. Jalannya ringkih dan nampak akan terjatuh tidak lama lagi. Pakaian seragam putihnya terdapat cipratan merah, dan mungkin walaupun tidak terlihat, namun blazer hitamnya terdapat lebih banyak darah yang menyerap di dalamnya.

Napasnya tidak teratur, ia berusaha menarik napasnya namun yang ada hanyalah suara batuk. Udara dingin musim gugur tidak membantu tubuhnya yang sudah lemah. Ia menatap ke depannya melewati poni rambut hitam yang menutupi matanya yang berkantong hitam di bawahnya.

Tangannya meraih dinding kasar di samping jalan. Jari-jarinya mencengkram permukaan dinding tersebut, meminta pertolongan agar lututnya tidak jatuh ke aspal. Lama kelamaan pundaknya bersandar ke dinding tersebut. Ia membuka mulutnya untuk mengambil napas tetapi ia malah terbatuk-batuk saat kabut tipis keluar dari mulutnya.

Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan bintik-bintik hitam di pengelihatannya yang semakin memburam karena kekelahan yang mulai menguasainya. Kepalanya terasa berat dan ia mulai tertuduk, kakinya menolak untuk membawanya lagi. Matanya yang berat tertutup dan ia menggigit bibirnya.

Kim Myungsoo… mengapa kau membiarkan semua ini terjadi?

Tubuhnya yang terasa sakit tiba-tiba terkena sebuah sensasi dingin. Ia melihat ke arah langit dan tetesan hujan mengenai wajahnya, tergelincir melewati pipinya sebelum bertemu dengan jalan di bawah kaki Myungsoo – seorang laki-laki yang di ambang kehancuran dan keputusasaan.

Lama kelamaan tetesan rintik-rintik hujan semakin banyak dan mulai membasahi sekujur tubuhnya. Jasnya yang terkena darah ketika bertemu dengan air, meneteskan cairan berwarna merah. Butiran air menetes dari ujung-ujung rambutnya. Memegang lengannya yang dari tadi membuatnya kesakitan. Masih menggigit bibirnya, membuat terbukanya sebuah luka, ia melangkah menjauh dari bantuan tembok. Berjalan dengan kesulitan ke tengah jalanan yang kosong.

Myungsoo mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia terus berjalan tanpa henti walaupun tubuhnya berteriak untuk berhenti. Namun otaknya menolak untuk menuruti permintaan tersebut. Dengan napas terengah, Myungsoo terus berjalan tak peduli kemana asalkan ia tidak perlu kembali.

Kembali dimana ia akan selalu disakiti. Dimana ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ketika keberanian dan kekuatannya berada di level paling rendah. Kim Myungsoo selalu berharap ia terlahirkan tidak sebagai orang yang lemah. Sebagai orang yang berada di rantai makanan paling bawah.

Jalanan yang licin tidak membantu langkahnya sampai pada akhirnya ia terpeleset dan terjatuh. Tubuhnya langsung terkena permukaan aspal yang kasar dan tidak memberikan rasa simpati, seperti dunia Kim Myungsoo, yang telah meninggalkannya seorang diri.

Ia tidak bergerak. Ia membiarkan hujan membasahinya, menutupi air matanya yang keluar tanpa henti. Di dalam kepalanya Myungsoo menyalahkan dirinya lagi. Mengapa ia begitu lemah? Menangisi sesuatu yang seharusnya ia sudah kenal.

Tetapi itu tidak membuat isakannya mereda.

Kim Myungsoo membencinya. Ia sangat, sangat tidak menyukainya. Membenci dengan segenap hati kepada dirinya sendiri yang selalu lemah dan membiarkan dirinya ditindas lagi dan lagi seperti sepatu yang dipakai hanya untuk diinjak.

Fakta itu hanya membuat hatinya semakin sakit. Tangannya meraih dimana jantungnya berada. Kim Myungsoo berharap dirinya mati saja dibandingkan hidup dengan semua permasalahan ini. Andaikan saja ia dilahirkan dengan kekuatan. Sebuah kekuatan yang membuatnya dapat berdiri di atas dunia, melihat orang dari atas, menatap orang-orang di bawahnya.

Matanya tertutup, senyum miris menghiasi wajahnya.

Bayangan itu saja begitu indah. Apabila ia harus pergi dari dunia yang menyakitkan ini dengan sebuah hayalan yang membuat hatinya melayang sedikit demi sedikit, seperti tubuhnya yang mulai kehilangan kehangatannya, mungkin ia tidak akan keberatan sama sekali.

Ketika Myungsoo benar-benar berharap hal itu akan terjadi, tiba-tiba hujan berhenti mengenai wajahnya. Ia tetap merasakan air mengenai bagian bawah tubuhnya. Karena anomali ini, ia membuka matanya berlahan. Berusaha memfokuskan padangannya yang buram. Dan ia melihat sebuah bayangan milik seseorang.

Tidak hanya itu, ia melihat sepasang kaki yang menggunakan sepatu hitam. Myungsoo menarik napasnya ketika ia mendongakkan kepalanya walaupun hanya sedikit.

Seseorang dengan payung hitam berdiri di atasnya. Wajahnya pucat, putih bagaikan kertas. Rambut dan matanya yang hitam tampak sangat kontras dengan warna kulitnya. Pakaiannya berupa jas hitam dengan celana yang sesuai. Di baliknya ia mengenakan kemeja hitam dengan sebuah kalung silver tipis dengan tag berwarna sama menggatung di lehernya. Myungsoo merasakan sesuatu yang dingin di punggungnya – dan ia yakin itu bukan karena air hujan.

Tetapi itu tidak menghentikan matanya tetap menatap ke bola mata hitam milik orang yang tidak dikenal itu. Myungsoo tidak tau, tetapi sesuatu menariknya semakin dalam. Dan ia tidak dapat memutuskan apakah hal itu baik atau tidak. Ia sudah terperangkap pada hal yang mungkin tidak nyata.

Myungsoo membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tetapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya bahkan lebih sulit digerakkan, ia seperti diberhentikan oleh waktu ketika menatap mata yang dingin, menunjukkan kekosongan yang Myungsoo tidak pernah lihat sebelumnya di sepanjang hidupnya yang pendek.

“Itu kah apa yang kau inginkan?” suara yang tipis seperti kertas berkata. Mata Myungsoo melebar sedikit ketika otaknya berlahan memproses apa yang baru saja orang tak dikenal itu katakan.

Satu langkah. Hanya satu langkah dari orang itu untuk membuat jantung Myungsoo berdetak lebih cepat. Ada sesuatu yang membuatnya merasa sangat terintimidasi dari orang ini. Ia memiliki sesuatu yang selalu diinginkan oleh Myungsoo. Tanpa sadar ia menggigit bagian dalam mulutnya, merasakan rasa besi di dalamnya.

Orang tersebut tersenyum kecil. “Kekuatan, kau menginginkannya bukan?” Myungsoo menatapnya bingung. Kenapa ia merasa orang ini membaca apa yang ada dipikirannya? Sebelum ia dapat mengatakan apa-apa, orang dengan pakaian serba hitam itu jongkok di dekatnya. Sekarang Myungsoo dapat melihat wajahnya, memperhatikannya dan merasa ia pernah melihatnya di suatu tempat. Tetapi ia tidak ingat, kepalanya terasa ringan dan kosong.

“…Bagaimana?” Myungsoo tidak mengatakan lebih dari satu kata itu, namun pria itu seperti paham apa yang diinginkan oleh laki-laki yang benar-benar putus harapan. Suara Myungsoo serak, entah karena hujan dan udara yang dingin dan menusuk kulit ataukah karena ia baru saja menangis bagaikan anak kecil.

Dunia seakan menjadi diam ketika pria asing itu menjawab. “Katakan; katakan kau ingin menjadi kuat. Menjadi orang yang bukan dirimu sekarang ini”

Myungsoo mengatakannya. Pelan, dan kalimatnya pun terpotong-potong. Apabila orang lain yang mendengarnya mungkin ia tidak akan mengerti apa yang ia katakan. Tetapi orang asing itu tau.

Ia meletakan payung hitamnya ke tanah, dan dengan senyum penuh arti ia melepaskan kalungnya. Diselipkannya kalung itu ke tangan Myungsoo yang masih tidak bisa digerakan. Orang itu merapatkan jari jemari Myungsoo agar ia dapat menggenggam kalung itu.

Dan apa yang Kim Myungsoo ingat sebelum matanya terasa berat dan tubuhnya terasa terlalu ringan adalah orang di depannya berbicara sesuatu. Tetapi ia tidak mengerti, ia tidak dapat mendengarnya. Yang ia bisa lihat adalah mulutnya yang mengatakan sesuatu, bahkan dengan pengelihatannya, yang sama sekali tidak membantu karena pandangannya yang memburam sebelum akhirnya Kim Myungsoo diselimuti oleh kebisuan dan kebutaan. Tidak lama kemudian ia sudah tidak ada di sana lagi.

Cahaya matahari mengintip ke sela-sela matanya membuat Myungsoo tersadarkan dari tidurnya. Pada awalnya hanya jarinya saja yang dapat ia gerakan sebelum matanya terbuka berlahan. Awalnya pengelihatannya buram dan dibutuhkan beberapa menit untuk Myungsoo agar dapat menyesuaikan matanya dengan perbedaan cahaya di ruangannya.

Tunggu…

Myungsoo baru menyadari kepalanya berada di atas sebuah bantal lembut. Jemarinya takut-takut tapi pada akhirnya menyentuh tekstur dari seprei. Seperti baru dibangunkan dengan siraman air dingin, Myungsoo terperanjat dan bangun dari posisi tertidurnya.

Matanya menunjukkan rasa panik saat ia melihat ke sekitarnya. Ruangan gelap dengan dinding berwarna pucat. Pakaian berserakan di lantai kayu. Kepalanya menoleh ke sebuah meja belajar di sebelah cermin berdiri antik, buku-buka tergeletak dengan sembarangan. Namun begitu semua ini begitu familiar bagi Myungsoo.

Tangannya meraih sisi kepalanya, pelan-pelan ia menutup matanya. Untuk satu detik ia menutupnya sebelum membukanya lagi. Mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha menarik satu kesimpulan. Tetapi semuanya berujung balik pada suatu fakta, Kim Myungsoo berada di kamarnya.

Bukanlah furniture, baju bermotif kotak-kotaknya ataupun buku pelajarannya yang mengingatkan tentang tempat ini. Namun kesunyian dan cahaya matahari yang menyinari dari luar jendelanya. Berlahan Myungsoo berdiri, keluar dari tempat tidurnya. Selimutnya jatuh ke lantai saat Myungsoo mendekati jendelanya.

Ia mengangkat tangannya. Jemarinya bermain dengan pinggiran gorden abu-abu yang menggantung di samping jendela dengan kusen putih. Matanya menatap keluar, melihat pemandangan yang sudah tidak asing lagi.

Suara teriakan dan benda berjatuhan memberi tau Myungsoo bahwa ia tidak tinggal sendirian di apartemen kumuh ini. Tersenyum sedikit ketika mendengar sekali lagi teriakan dari luar kamarnya, Myungsoo mengalihkan pandangannya ke pintu kamarnya. Keributan teman sekamarnya itu mengingatkan bahwa hari ini Kim Myungsoo harus pergi ke sekolah.

Walaupun pada kamusnya, sekolah hanyalah kata lain dari neraka.

Myungsoo mengintip keluar lagi dari jendelanya. Cahaya matahari mengejeknya yang masih berada di dalam ruangan. Dari tempatnya berada ia dapat melihat anak-anak mulai berangkat sekolah atau tetangganya mengobrol satu sama lain.

Dengan satu gerakan cepat dan kasar, Myungsoo menutup rapat gorden jendelanya, tidak membiarkan cahaya matahari untuk masuk ke dalam ruangannya. Bibirnya membentuk garis tipis saat ia membalikkan badannya, menuju pintu kamarnya.

Ia membenci jendela yang terbuka. Membuat cahaya matahari membanjiri kamarnya. Menghancurkan batas yang telah ia buat dengan dunia luar yang hanya mengetahui cara untuk menyakitinya. Untuk itu ia menutup gordennya rapat-rapat, selalu. Baik pada hari paling terik maupun hari yang lembab dan berkabut.

Walaupun begitu, ia tidak ingat bagaimana gorden itu dapat terbuka pada pagi itu, sesulit apapun ia mencoba untuk mengingatnya.

Pakaian sekolah yang ia gunakan antara lain adalah celana hitam beserta blazer warna biru tua dilengkapi dasi bergaris-garis. Di balik jas sekolahnya itu ia mengenakan kemeja putih, harusnya. Berbeda dengan pakaian teman sekamarnya yang putih bersih atau pakaian anak lainnya, kemeja Kim Myungsoo selalu lusuh dan sudah mulai berwarna.

“Kemarin aku bermain di lapangan, maafkan aku” alasannya tidak pernah berubah setiap kali gurunya memilih untuk bertanya padanya, seseorang yang berusaha untuk menyampur dengan latar belakang, untuk tidak dapat terlihat. Tapi mengapa di akhirnya ia selalu harus memperoleh perhatian yang tidak pernah ia inginkan.

Gurunya memukul pelan kepala Myungsoo dengan tongkat kayu panjang. Myungsoo tidak pernah protes saat gurunya itu melakukan hal tersebut. Ia pernah mendengar tongkat itu dapat melakukan hal yang lebih buruk. Dan ia tidak ingin mengetahuinya secara personal apa itu sebenarnya.

Menghelakan napasnya, Myungsoo ditatap dengan wajah lelah gurunya. “Ya sudah, sana kembali ke kelas” perintahnya dan Myungsoo hanya bisa menganggukan kepalanya. “Dan beli kemeja baru” kata gurunya sambil menunjuk kemeja lusuh yang dikenakan Myungsoo menggunakan tongkat kayunya

Mengangguk pelan, Myungsoo berjalan ke kelasnya. Tangannya bermain dengan ujung bawah kemejanya dan ia tersenyum.

Ia tidak mengatakan apa yang membuat kemejanya berwarna seperti itu, ataupun mengapa ia tidak repot-repot membeli kemeja sekolah baru. Semuanya akan bernasib sama, pikirnya sambil melihat ke depannya. Orang-orang yang mungkin atau tidak ia kenal menatapnya.

Myungsoo tidak dapat melihat atau menentukan pasti apa yang tergambar dari ekspresi mereka. Jarak mereka masihlah jauh, dan Myungsoo tidak bisa protes dengan jarak di antaranya dan gerombolan murid-murid dengan rambut yang berantakan, baju yang berantakan, dan muka yang berantakan.

Langkahnya tiba-tiba terdengar lebih keras dari seharusnya di telinganya. Langkahnya melambat dan menjadi tidak pasti. Tubuhnya mulai terasa dingin. Ia memang seorang penakut yang lemah, orang yang tidak dapat melindungi dirinya sendiri bahkan hanya untuk melarikan dirinya.

Napasnya tidak teratur. Ia terbatuk-batuk saat menemukan betapa sulitnya ia untuk bernapas. Sakit menjulur di sekujur badannya. Bahkan menggerakan sebuah jari terasa begitu menyulitkan. Mengapa ia begitu lemah? Bahkan menerima rasa sakit yang diberikan padanya saja ia tidak bisa.

Kakinya berusaha menyeimbangkan tubuhnya saat Kim Myungsoo mencoba berdiri. Ia terengah-engah saat mengumpulkan tenaga – sebuah usaha yang akan sia-sia namun karena kebodohannya, Myungsoo tetap melakukannya.

Akhirnya setelah perjuangan yang rasanya seperti bertahun-tahun lamanya, lututnya dapat terangkat dari permukaan aspal yang kasar walaupun meninggalkan lecet sana sini. Tetapi sebelum ia dapat berdiri dengan benar, tubuhnya terlempar ke belakang dan terjatuh lagi. Sebuah pukulan kuat di arahkan tepat ke ulu hatinya, menyebarkan rasa sakit yang langsung menyerang seluruh syarafnya.

Myungsoo mengerang kesakitan. Pandangan matanya kabur saat ia berusaha melihat ke penyerangnya. Namun, mengapa ia melakukannya walaupun ia tau dengan sangat jelas siapa orang-orang yang berdiri di depannya.

Tak perlu sebut namanya, karena mengetahui nama-nama mereka merupakan hal terakhir yang ia inginkan dari gerombolan orang yang selalu melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas. Atau mungkinkah itu karena Myungsoo yang tidak tau apa yang telah ia lakukan sebelumnya kepada mereka?

Namun mempertanyakannya hanyalah memperburuk keadaan – itu hanyalah sebuah asumsi tentu saja, tetapi Myungsoo memilih untuk tidak mengetahui jawabannya.

Ia berusaha mengangkat kepalanya, paling tidak ia tidak perlu tampak lebih lemah daripada ini. Namun ia bahkan tidak dapat melakukannya. Yang ia dapat lakukan hanyalah tetap berbaring di lantai yang dingin, berusaha untuk tetap bernapas dan mendengarkan suara tawa mereka yang menggema di ruangan gelap dan sepi ini.

Tetapi itu tidak membuat suara kecil di dalam otaknya untuk melontarkan ancaman balas dendam, caci maki dalam bahasa yang berwarna-warni, untuk meneriakan kekesalannya, rasa sakit yang telah mereka buat padanya.

Dan Kim Myungsoo adalah manusia yang bodoh, karena ia tetap berada di atas lantai yang kasar, tidak bergerak sedikitpun. Tawa mereka berubah menjadi musik latar kehidupannya dan ia hanya dapat menatap muka mereka yang merendahkannya, merendahkannya melebihi dasar lautan.

Kim Myungsoo walaupun merasakan dirinya dipenuhi oleh rasa takut, sesuatu di dalam dirinya memaksanya untuk terus berjalan. Untuk itu langkahnya, walaupun tidak pasti, namun terus bergerak maju dengan kecepatan tetap.

Semakin ia mendekati mereka, Myungsoo dapat merasakan antisipasi meningkat dengan waktu yang cepat. Ia menggiggit bagian dalam mulutnya, namun tidak ada rasa besi di dalamnya. Apakah luka di dalam mulutnya sudah sembuh?

Matanya berusaha melihat orang-orang lain, benda lain, apa saja selain dari mereka yang seperti sebuah bayangan bagi kehidupan Myungsoo. Mereka selalu di sana namun tidak ada di sana pula. Namun itu tidak cukup mendeskripsikan bagian mereka dalam kehidupan Kim Myungsoo, atau mungkin lebih tepatnya keberadaan Myungsoo pada kehidupan mereka.

Karena bagi Myungsoo mereka adalah bayangan yang terkadang meraihnya hanya utuk tertawa dan melampiaskan kekesalan mereka dalam satu hari. Tetapi apa Myungsoo bagi mereka? Ia tidak akan terlalu terkejut apabila mereka menjawab Myungsoo adalah udara bagi mereka.

Udara yang mereka hirup dan setelah kebaikan yang ada di udara itu diambil oleh darah mereka, akan dihembuskannya udara keluar dalam kondisi yang berbeda. Dan kata berbeda di sini tidak pernah merujuk kepada hal yang positif.

Walaupun paranoia dan ketakutan menyeliputi dirinya, Kim Myungsoo melihat ke arah mereka. Mata mereka saling bertemu. Myungsoo mempersiapkan diri apabila mereka akan mulai menariknya, memabawanya ke suatu tempat dan ketika kembali bukanlah kelas yang akan ia datangi, tetapi ruang perawatan dengan alasan konyol seperti jatuh dari tangga.

Myungsoo tinggal beberapa meter sebelum mendekati mereka. Detak jantungnya menjadi lebih cepat dan sepertinya lari sekarang merupakan pilihan. Namun suara di dalam dirinya lagi-lagi membisikkan sesuatu yang lain. Dan tanpa mempertanyakannya lagi, Myungsoo melanjutkan langkahnya walaupun ia mungkin akan menjauhi jalan mereka.

Tetapi dunia senang melakukan keterbalikan dari apa yang diharapkan olehnya saat salah satu dari rombongan itu – seorang yang juga merupakan adik kelas dari Myungsoo berlari dari arah belakang. Tentu Myungsoo tidak akan tau siapa itu bila ia tidak ditabrak dan keduanya terjatuh ke lantai.

Lagi-lagi tubuhnya terasa sakit karena beberapa titik bengkak terkena permukaan lantai yang kasar. Myungsoo mengerang kesakitan saat ia berusaha berdiri, dan tentu saja mulai berlari. Ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan orang-orang ini di pagi hari.

“Bodoh, jangan halangi jalanku!” teriakan adik kelasnya seperti angin, masuk telinga satu dan keluar dari yang lainnya. Bukan karena Myungsoo berusaha mengabaikannya, tetapi hanya karena ia sudah terlalu biasa diperlakukan seperti itu. Hirarki seorang kakak kelas hampir tidak pernah berlaku pada Kim Myungsoo yang masih terduduk di lantai, poni rambut hitamnya menutup matanya. Myungsoo yang penakut tidak ingin melihat apa yang dipersiapkan dunia kepadanya kali ini.

Walaupun mungkin ia tau ketika suara langkah kaki mulai terdengar mendekatinya. Myungsoo selalu mendapatkan nilai baik di matematika dan untuk itu ia lebih dari tau berapa orang yang mendekat. Bahkan ia dapat tau siapa saja yang berada di dekatnya sekarang.

“Angkat kepalamu!” lagi-lagi anak itu berteriak kepadanya dengan bahasa bangmal. Tunggu, hampir semua orang yang Myungsoo tau memanggilnya dengan bahasa informal. Apabila situasinya tidak seburuk ini mungkin Myungsoo akan tertawa.

Tetapi sekarang Kim Myungsoo disibukan dengan pikirannya. Apa yang akan mereka lakukan padaku kali ini? Apakah mereka akan memarahiku? Memukuliku?

“Jangan!” suara teriakan kali ini berbeda, namun suaranya adalah suara milik seseorang yang ia kenal. Tapi sesuatu sangat salah. Suara itu seharusnya diisi dengan nada arogan. Suara yang seharusnya dilapisi otoritas dan kekuatan. Namun sekarang suara itu terdengar… lemah dan ketakutan.

Myungsoo mengangkat kepalanya. Wajahnya yang masih diiringi oleh ketakutan dan kebingungan bertemu dengan tatapan lima orang yang ekspresinya melebihi semua definisi dari kata takut. Wajah mereka sangat pucat, membuat luka di wajah mereka semakin kentara bagi mata.

Pemimpin mereka menahan adik kelasnya dengan memegang erat bahunya. “Itu…” Myungsoo menelan ludah saat mereka terus menatapnya namun pelan-pelan mereka menjauh. Myungsoo mencoba untuk berdiri dan ketika ia melakukannya mereka mundur lebih cepat.

Ia menatapnya bingung. Ia sama sekali tidak tau mengapa mereka melihatnya seakan-akan Myungsoo bukanlah Kim Myungsoo, ataukah mereka berhalusinasi? Atau mungkinkah semua ini adalah hayalan Myungsoo, ketika pemimpin anak-anak nakal itu menyebutkan namanya dengan semua ketakutan dan horor di dunia.

“Itu… Ia…K-Kim M-Myungsoo…”

“Myung Hyung, terkadang kau begitu aneh”

Di bawah bintang, ditemani sekaleng soda untuk masing-masing, Kim Myungsoo menatap temannya dengan wajah bingung. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan yang baru saja ditunjukkan kepadanya.

Meminum sedikit dari kalengnya, temannya yang bertubuh lebih kecil, matanya bersinar karena lampu jalanan di bawah mereka, serta rambut yang sangat jelas dicat warna merah maroon, menyengir kepada Myungsoo. “Hyung, kau harusnya senang mereka tidak menganggumu lagi!”

Mendengar kalimat dengan kata-kata polos dan bebas dari masalah, Myungsoo akhirnya dapat tersenyum.

Tidak semua orang dapat membuat hati Myungsoo menjadi lebih baik. Bukan orang tuanya yang tidak pernah ada untuknya, bukanlah adiknya yang memang sudah tidak ada di dunia ini. Dan tentu saja, bila kurang jelas, dirinya sendiri.

Namun hanya satu orang yang dapat membuat Myungsoo merasa lebih baik setelah hari yang meletihkan. Ia tidak pernah bercerita padanya, khawatir senyum ringan Byun Baekhyun, adik kelasnya, teman satu kamarnya dan mungkin orang yang paling dekat dengan panggilan keluarga, akan hilang.

“Begitukah?” salah satu alis Myungsoo terangkat sebelum ia melepaskan tawa kecil yang kemudian segera tertutupi oleh tawa ceria Baekhyun.

Biarlah sahabatnya tidak mengetahui apapun, karena Kim Myungsoo ingin menjaga waktu-waktu seperti ini. Dan ia sangat takut karena sebenarnya apa yang sedang ia lindungi adalah sesuatu yang lebih sensitif dan mudah rusak dari sebuah vas antik dari Cina.

Salah satu hal yang jarang terjadi pada kesehariannya adalah dapat pulang dengan berdiri tegak. Tentu itu merupakan sesuatu yang langka, namun sejak ‘konfrontasi’nya dengan sekelompok orang itu di sekolah, hidup Kim Myungsoo tidak pernah sedamai ini.

Terkadang ia bahkan melupakan mengenai semua hal buruk yang terjadi padanya. Ia mungkin tidak akan pernah ingat kecuali apabila ia tengah mengganti bajunya. Seperti ingatannya yang memudar, begitu pula dengan bengkak-bengkak dan lecet, hampir semuanya sudah tidak terlihat. Mungkin perkataan orang ada benarnya.

Kebahagiaan membuat orang lupa akan kesedihan.

Walaupun begitu Myungsoo adalah orang yang biasa berdiri sendiri. Menjadi orang yang ditargetkan oleh beberapa orang membuatnya lebih dari kesulitan dalam berbaur dan membentuk ikatan pertemanan dengan orang lain.

Ia tidak repot-repot menyalakan lampu. Cahaya matahari dari luar sudah lebih dari cukup untuk menyinari apartemen itu dengan baik. Suasana apartemen Myungsoo selalu terlihat gelap, abu-abu dan tidak bersahabat walaupun ia telah berusaha merapihkannya dengan sebaik mungkin.

Myungsoo menghelakan napasnya sambil menggerak-gerakkan lengannya yang terasa kaku. Kemarin ia cukup beruntung hanya lengannya yang terkilir, begitu juga dengan pergelangan kakinya. Walaupun begitu tetap saja, gerakan Myungsoo menjadi lebih lambat dari sebelumnya.

Ia tidak dapat lebih bersyukur mengetahui hari ini adalah hari sabtu. Myungsoo dapat memanfaatkan hari ini untuk menyembuhkan luka-lukanya selama lima hari harus berangkat ke sekolah dan melakukan ‘hal’ yang sama.

Tetapi hari yang tenang bersama dengan dirinya tidak dapat terjadi ketika tiba-tiba seorang laki-laki yang berambut cokelat dan lebih pendek darinya berdiri di depan pintu apartemennya. Myungsoo hanya dapat menatap orang tersebut dengan muka bingung.

“Hai,” sapa orang itu tiba-tiba, membuat Myungsoo yang anti-sosial sedikit terkejut. “Namaku Byun Baekhyun, aku akan menjadi teman sekamarmu mulai sekarang!”

Myungsoo tidak dapat mengatakan apa-apa. Jujur ia tidak mendengar informasi mengenai kedatangan seorang teman sekamar. Mungkin apabila ia tidak sibuk dengan alat P3K setiap malam ia akan memiliki waktu yang cukup untuk memeriksa voice mail dan surat-surat yang ditujukan padanya.

Baekhyun memasuki apartemennya – mereka – dengan senyum optimis di mukanya. “Tempat ini perlu banyak redekorasi!” ucapnya tiba-tiba dan Myungsoo harus jujur bahwa ia bingung bagaimana seharusnya ia bersikap terhadap perkataan Baekhyun. Haruskah ia merasa tersinggung ataukah haruskah ia membiarkannya.

Namun sebelum ia dapat mengatakan apapun, sebuah tangan tersodor kepadanya. Matanya bertemu dengan senyuman yang entah mengapa memberikan sedikit perasaan yang berbeda kepada ruangan yang meneriakan ‘aku sendirian’ dan ‘aku membosankan’.

“Siapa namamu?” tanyanya kepada Myungsoo yang hanya dapat melihat tangan itu diarahkan kepadanya. Baekhyun langsung menggenggam tangan Myungsoo yang dari tadi berada di samping tubuhnya.

Baekhyun menjabat tangan Myungsoo erat-erat, dan tanpa ia sadari, Myungsoo memberitaukan namanya kepada laki-laki di hadapannya. Sekarang mata Baekhyun seperti bersinar. “Bolehkah aku memanggilmu Myung Hyung?”

Setelah itu ia meninggalkan sisi Myungsoo dan melihat-lihat sekitar sebelum akhirnya melihat kembali ke Myungsoo yang masih berusaha untuk memproses perubahan drastis yang tengah terjadi di rumahnya.

Dengan sebuah cengiran Baekhyun berkata, “Myung Hyung kau tau apa yang harus kita dekorasi ulang pertama kali?” tanyanya pada Myungsoo yang masih hilang dalam pikirannya. Walaupun begitu Myungsoo masih dapat menggelengkan kepalanya.

“Itu adalah… Myung Hyung” jawabnya sambil menunjuk Myungsoo, cengiran itu masih menempel di mukanya. Myungsoo menemukan marah kepada Baekhyun adalah tidak mungkin.

Sangat tidak mungkin karena ia tidak pernah berurusan dengan orang seperti ini sebelumnya. Senyum yang diberikan tidak mengejeknya, gerak-geriknya tidak menunjukkan sebuah niat untuk tiba-tiba menyerang Myungsoo dengan sebab yang bahkan Myungsoo tidak tau.

Dan walaupun perkataan yang ditujukan padanya terkadang terdengar sedikit melewati batas ‘aku-baru-bertemu-denganmu-beberapa-menit-yang-lalu’, tetapi semuanya terdengar jujur dan bebas, tidak terkekang dengan dunia.

Kebebasan.

Myungsoo tertawa pelan saat Baekhyun masih menunjuk ke arahnya. “Benarkah begitu?” responnya membuat Baekhyun tertawa bersamanya. Dan Myungsoo merasa senang ketika mendengar tawa teman sekamarnya sekarang terasa ringan di telinganya.

Dan walaupun mereka tidak pernah membicarakannya ataupun Myungsoo meneriakannya kepada dunia. Keduanya tau, bagi Myungsoo – dan mungkin juga bagi Baekhyun, mereka adalah sahabat, seorang kakak dan seorang adik yang tidak pernah lepas satu sama lain.

Myungsoo setengah tersenyum ketika ia melanjutkan jalannya pulang. Ia sedikit merasa aneh dengan betapa normalnya perjalanannya kali itu. Tetapi pada akhirnya Myungsoo menggelengkan kepalanya. Berusaha meninggalkan perasaannya yang setelah dipikir-pikir merupakan hal yang sangat konyol.

Bukankah Baekhyun sudah bilang padanya? Tapi sebuah perubahan ekstrim membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi. Dan dua tahun dibawah jempol orang lain bukanlah waktu yang singkat.

Lagi-lagi Myungsoo menggelengkan kepalanya.

Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal itu. Myungsoo berkata pada dirinya sendiri. Tidak ketika besok merupakan hari yang ia tunggu-tunggu – walaupun pada dua tahun terakhir ia sendiri bahkan tidak sempat berharap untuk menanti hari tersebut.

Myungsoo berhenti berjalan ketika matanya menangkap sesuatu di balik aisle sebuah toko.

“Myung Hyung, kau harus membelikanku ini” suatu hari Baekhyun mendatanginya dengan sebuah brosur di tangannya. Myungsoo benar-benar kaget melihat temannya memasuki kamarnya tanpa ketukan. Ia dengan cepat menyembunyikan sebaskom air hangat dan kain yang ia gunakan untuk meringankan rasa sakit di pergelangan kakinya.

Berusaha tersenyum kecil ketika melihat orang yang ia mulai anggap sebagai adiknya, duduk di sampingnya. Dengan senyum lebar, Baekhyun menyodorkan brosur tersebut ke tangan Myungsoo.

Melihat sebentar, Myungsoo memberikan tatapan yang meneriakan ‘apa-kau-yakin-ini-yang-kau-inginkan’. Baekhyun tidak perlu kata-kata untuk tau apa yang Myungsoo ingin sampaikan. Ia hanya menunjuk lagi gambar benda yang ia inginkan dengan tatapan memohon.

Banyak hal di dunia ini yang dapat membuat Kim Myungsoo tidak dapat berkata tidak. Selain tentu saja beberapa hal yang ia tidak bisa hindari seberapapun keras ia berusaha, salah satu hal – dan mungkin yang paling tidak menyakitkan adalah Baekhyun dengan muka memohon.

Anak itu dengan definisi apapun bisa dikatakan seperti seekor anak anjing yang tiba-tiba ada di depan pintu rumahmu. Ironisnya, itulah bagaimana mereka pertama kali bertemu.

Tetapi tetap saja, kalau ia ingin tetap dapat makan dan membeli keperluan lainnya, ia harus menolak permintaan ‘adik’nya itu. Myungsoo menghelakan napasnya. “Maaf, aku tidak bisa membelikannya walaupun aku benar-benar ingin melakukannya” ia meminta maaf dan membuat senyum di muka Baekhyun sedikit mengendur.

“Hyung… Hyung tidak pernah membelikan sesuatu untukku” kata Baekhyun pelan. “Tapi hanya satu ini saja, aku akan senang apabila Myung Hyung membelikannya”

“Tapi-“

“Aku tidak peduli kapan” Baekhyun tersenyum lebar. “Myung Hyung dapat membelinya kapanpun! Aku akan menunggu”

Myungsoo memikirkannya untuk beberapa saat. Tentu uang yang selalu dikirim oleh orang tuanya – entah dimana mereka sekarang – selalu habis di akhir bulan, tepat sebelum uang berikutnya dikirimkan. Melihat lagi ke sahabat satu-satunya itu Myungsoo hanya dapat tersenyum.

Obat memarnya habis, tapi asalkan luka itu tidak terlihat, itu tidak akan menjadi masalah. Dan luka kadang-kadang lebih baik dibuka dan dibiarkan kering, walaupun itu harus membuatnya lebih menjaga kebersihan agar tidak terjadi infeksi.

“Coba aku lihat nanti,” Myungsoo berusaha berdiri senormal mungkin, menyembunyikan pergelangan kakinya yang masih biru. “Tapi kau harus berjanji untuk memakainya setiap hari”

“Tentu saja!”

Melangkah keluar dari toko dengan tas belanja kecil, Myungsoo tersenyum senang, puas karena pada akhirnya ia dapat menggunakan uang yang telah ia tabung hampir satu setengah tahun dan memiliki waktu untuk melakukannya.

Saat ia memasuki gedung apartemennya, Myungsoo menyembunyikan belanjaannya di punggungnya. Selama ini ia selalu pulang larut malam dan Baekhyun selalu sampai ke apartemen mereka sebelum Myungsoo pulang. Walaupun memang hampir setiap malam Myungsoo harus mengurus sesuatu.

Terkadang ia merasa seperti seorang kakak yang buruk. Memang ia dan Baekhyun tidak memiliki jarak umur yang jauh, pada kenyataanya mereka berdua lahir di tahun yang sama. Hanya saja Kim Myungsoo tetaplah lebih tua di antara mereka. Menjaga dan merawat adiknya merupakan hal natural yang seharusnya ia lakukan.

Namun selama ia kenal dan berbagi ruangan apartemen dengan Baekhyun, ‘adik’nya itulah yang melakukan pekerjaan rumah, menanyakan apabila Myungsoo sudah makan atau belum. Mungkin Byun Baekhyun bukanlah seseorang yang pandai memasak, namun apabila Myungsoo sedang lapar, ia tidak enggan untuk segera memasakkan ramen dan bahkan berjalan ke depan gedung menuju sebuah restoran untuk meminta kimchi.

Myungsoo menganggukan kepalanya. Jelas hal ini harus berubah, dan untungnya saja sekarang ia memiliki banyak waktu untuk merubahnya.

Memasang senyum yang jarang ia gunakan, ia memasuki lorong kea rah ruangan apartemennya. Namun senyum tersebut hilang secepat munculnya.

Ia kakak yang buruk.

Tubuhnya terasa ringan dan rasa dingin menjulur di punggungnya. Sesuatu tercekat di lehernya saat matanya tidak terlepas dari adegan yang terjadi di depan mukanya. Dimana saja ia selama ini? Mengapa ia tidak pernah melihat ini sebelumnya? Pertanyaan mulai berputar di atas kepalanya, menolak untuk berhenti.

“Ayah, aku sudah katakan, aku tidak punya uang” suara Baekhyun serak, seperti ia telah berteriak dalam jangka waktu yang lama. Atau mungkin ia memang telah melakukannya, melihat keringat yang terlihat di mukanya.

Lelaki di depan Baekhyun – ayahnya, hanya menggelengkan kepalanya, keras kepala. “Aku tau kau masih menyimpan uang. Berikan padaku” perintahnya namun Baekhyun tidak bergerak dari posisinya di depan pintu, seperti berusaha melindungi apartemen mereka, sementara Myungsoo hanya dapat berdiri di sana, menonton semuanya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Tidak. Ayah sudah mengambil semua milikku” tegas Baekhyun. Ayahnya mendekat ke arah Baekhyun dan membisikkan sesuatu dan tiba-tiba punggung Baekhyun menjadi semakin rapat dengan pintu.

“Uang itu milik Myungsoo Hyung, aku tidak akan pernah membiarkanmu mengambilnya-“

Kepalan tangan Myungsoo mengeras dan ia menggiggit bibir bawahnya, mengeluarkan sedikit darah. Apakah ini sering terjadi? Apakah setiap hari ayah Baekhyun yang ia tidak pernah lihat seumur hidupnya, meminta uang dan bahkan uang milik Myungsoo?

Dan adiknya mempertaruhkan tubuhnya untuk melindungi barang-barang, uang milik Myungsoo. Sementara ketika semua hal ini terjadi, ‘kakak’nya hanya dapat menjadi penonton yang ‘tidak tau apa-apa’. Myungsoo merasakan darahnya membeku saat tubuh Baekhyun yang relatif kecil menghantam pintu apartemen mereka. Tubuhnya kemudian terjatuh ke lantai yang dingin dan kotor.

Kim Myungsoo memang seorang kakak yang buruk.

Matanya terbuka berlahan dan langsung berusaha beradaptasi dengan cahaya redup-redup ruangannya. Myungsoo berusaha untuk keluar dari tempat tidurnya, namun seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal.

Ia tidak ingat mengapa badannya bisa terasa sakit. Kemarin Myungsoo lari keluar dari kompleks apartemennya. Ia bingung apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia katakan apabila ia berdiri di sana. Pada titik itu saja Myungsoo tidak dapat memprediksi apa yang dapat terjadi setelahnya. Dan Myungsoo berbohong apabila ia takut akan apa respon dari Baekhyun apabila ia terlihat di sana.

Menekan pikiran itu, Myungsoo teringat akan sesuatu dan setengah berlari ke pojok dimana ia meletakan tasnya. Ia ingat menyelipkan barang untuk Baekhyun di dalam tasnya. Setelah menemukannya, Myungsoo menggenggam erat benda yang masih di dalam kantong plastik kecil itu.

Memaksakan senyum, Myungsoo berjalan keluar kamarnya dengan hati penuh harapan. Mungkin saja satu hal ini dapat mendekatkan mereka dan Myungsoo sedikit berharap Baekhyun akan merasa lebih baik setelah pertemuan dengan ayahnya kemarin. Dan mungkin juga memaafkannya yang menjadi seorang penakut.

Myungsoo benar-benar terkejut saat ia memasuki kamar Baekhyun. Anak itu benar-benar terfokuskan dengan pikirannya sendiri, saat Myungsoo mengetuk pintu kamarnya dan tidak ada jawaban dari dalam. Namun bukan itu alasan mengapa ia begitu kaget dan bingung, karena Byun Baekhyun tengan memasukkan seluruh barang-barangnya ke dalam koper, kotak kardus, bahkan plastik-plastik.

“Baekhyun-ah, apa yang sedang kau lakukan?” Myungsoo tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Namun reaksi Baekhyun sangat, sangat berbeda dengan apa yang ia biasa lakukan, kaget maupun tidak.

Karena Byun Baekhyun tidak pernah menatapnya dengan tatapan takut sambil berjalan mundur. Badannya dalam kuda-kuda, seperti siap melindungi dirinya dari serangan seseorang.

Hanya saja, satu-satunya orang lain dalam ruangan itu adalah Kim Myungsoo yang kebingungan dengan sikap Baekhyun. Ia berjalan mendekat namun hanya satu langkah ia buat, Baekhyun berteriak keras.

“Jangan mendekat!”

Langkah kaki Myungsoo berhenti. Matanya bertemu dengan muka ketakutan yang seperti melihat setan atau psikopat. Dan Myungsoo, walaupun dalam sejarah kehidupannya bukanlah orang baik yang selalu bebas dari masalah, merasakan ada yang aneh dari tatapan Baekhyun terhadapnya. Anehnya, ia merasa seseorang pernah melihatnya seperti itu.

Menemukan dirinya tidak mampu menatap Baekhyun untuk terlalu lama, Myungsoo mengalihkan perhatiannya ke tas dan kardus yang berserakan di lantai. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Myungsoo bertanya pelan dan masih menolak untuk menatap Baekhyun dan menyibukkan dirinya dengan memperhatikan baju-baju Baekhyun hanya asal dimasukkan, seperti sedang terburu-buru.

Keheningan yang mengisi ruangan kembali diisi oleh suara. Hanya saja bukan suara tawa Baekhyun yang mengatakan ‘Myung Hyung, aku tak menduga kau akan benar-benar percaya!’. Tetapi Myungsoo tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat ke orang yang mulai ia anggap sebagai adiknya.

Karena Byun Baekhyun menangis sambil membisikan kata ‘maaf’ berulang-ulang.

Myungsoo hanya bisa menunduk. Ia tidak tau apa yang seharusnya ia katakan. Bukankah hari ini adalah hari yang selalu Baekhyun tunggu. Tapi ia terus diam sampai kata-kata Baekhyun yang tidak jelas membentuk kalimat dan mulai masuk akal – atau tidak.

“A-aku tidak percaya Hyung benar-benar akan melakukannya…” suaranya serak dan Myungsoo mulai berpikir apabila Baekhyun menangis sepanjang malam. Namun, bukankah kemarin Baekhyun memiliki masalah dengan ayahnya, bukan dengan Myungsoo.

Baekhyun menarik napas, berusaha menenangkan dirinya, namun gagal saat suaranya menjadi naik turun saat ia melanjutkan. “Hyung terdengar serius, tapi kukira Hyung hanya ingin bercanda”

Setiap kali Baekhyun melanjutkan kekecewaannya pada Myungsoo, semakin Myungsoo terdiam karena kebingungan membasahi dirinya. Tetapi satu kalimat membangunkannya yang seperti melayang-layang di ruangan penuh pertanyaan.

“K-kenapa Hyung harus melakukannya di hari ulang tahunku?”

Sesuatu terasa berat di dalam perutnya saat Baekhyun setengah berlari keluar dan menabrak Myungsoo yang tubuhnya mulai terasa ringan.

Di mata Myungsoo benda-benda mulai berputar dan memburam. Namun pada satu titik dimana jantungnya berdetak, rasa sakit membludak di dalam kepalanya. Rasa sakit itu benar-benar melampaui semua sakit kepala yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Kedua tangannya memegang kepalanya erat, seperti ia takut kepalanya akan terjatuh karena tekanan yang seperti memasuki otaknya. Ia mengerang kesakitan, matanya tertutup rapat. Namun satu detik kemudian kedua matanya terbuka ketika potongan-potongan gambar yang berputar seperti kaset rusak muncul di dalam kepalanya.

Darah.

Ada seseorang.

Bukankah itu ayahnya Baekhyun?

Darah lagi.

Lagi, dan lagi.

Ia tidak lagi bernapas.

“Baekhyun, seperti janjiku… ayahmu sudah tidak ada”

Dan suara itu, suara Kim Myungsoo.

Myungsoo berteriak tanpa mengetahui alasan yang jelas. Ia terjatuh pada lututnya dan satu tangan ia gunakan agar ia tidak benar-benar terjatuh. Namun pegangannya pada benda yang ia genggam megendur ketika ia terjatuh dan bersamaan dengan tubuh Myungsoo, benda itu menyentuh tanah.

Dan dari kantong plastik itu, keluar secarik kertas dan sebuah eyeliner bermerek menggelinding melewati karpet, hanya bisa melihat Myungsoo yang mengerang kesakitan. Keringat dingin mengucur di dahinya saat napasnya menjadi tidak stabil. Dan suaranya menghilang saat ia sekarang mengingat seluruh detail bagaimana ia, Kim Myungsoo telah membunuh ayah dari sahabatnya sendiri.

“…Apa yang aku lakukan?”

Matanya melirik ke kertas yang ia tulis sendiri isinya.

Selamat ulang tahun Byun Baekhyunnie,

Maaf aku baru membelikannya sekarang^^

Tepati janjimu, oke?

Kim Myungsoo/Hyung-mu; 06.05.2006

Namun saat matanya jatuh ke jam dinding di kamar Baekhyun yang tidak hanya menunjukkan jam namun juga hari. Myungsoo tercekat dan ia menatap penuh horor saat ia menyadari pada jam itu, hari ini bukanlah tanggal 6 Mei, tapi tanggal 7 Mei.

Atap kamarnya sekarang memiliki pola-pola yang pada awalnya tidak ada di sana. Mungkin Myungsoo baru menyadarinya setelah berbaring jam demi jam yang kemudian berubah menjadi hari. Tentu Myungsoo masih mengurus dirinya walaupun minimum. Tetapi ia tidak pergi ke sekolah selama seminggu, semenjak Baekhyun pergi dan meninggalkan Myungsoo hidup sendiri di dalam apartemen yang gelap.

Terkadang hati kecilnya mengajaknya untuk keluar dan mungkin bersekolah. Tapi walaupun tidak ada seorang pun yang mengganggunya, sekarang bahkan tidak ada yang ingin bicara padanya.

Manusia memang tidak pernah puas, Myungsoo berkata pada dirinya sendiri sebelum memutar posisi tidurnya ke arah samping.

Ia menatap kamarnya dan merasa semuanya berada di posisi yang salah. Ada sesuatu yang tidak biasa namun ia tidak bisa menentukan apa itu. Semuanya berubah menjadi asing di mata Myungsoo. Dan itu membuatnya merasa sangat kosong, sangat tidak aman, seperti semua benda di ruangan itu akan memanjat tempat tidurnya dan mencekiknya.

Myungsoo bergidik sebelum menutup matanya, berusaha menghilangkan pikirian sinting itu dari dalam kepalanya.

Ia melakukan ini hampir setiap hari. Ia akan terbangun dengan perasaan berat dan kemudian hanya menemukannya berada di ruangannya dengan posisi yang sama. Dan Myungsoo akan menjadi paranoid kepada semua benda yang ia lihat. Tentu ia tidak akan takut melihat orang lain, atau mungkin tepatnya tidak tau. Selama seminggu penuh ia tidak berbicara pada orang lain satu kata pun.

Tapi Myungsoo tidak ingin mencari tau ketika satu-satunya tempat ia bersembunyi sekarang adalah dengan matanya tertutup. Walaupun dimana pun ia berada bahkan kamarnya sendiri, tidak membuatnya nyaman.

Hari ini Myungsoo terbangun dengan rasa sakit yang menjulur ke seluruh badannya, seperti orang yang selesai melakukan lari marathon. Ia sedikit terkejut menemukan dirinya memakai kaos lengan panjang. Namun pikiran itu meninggalkan kepalanya ketika matanya bertemu dengan eyeliner di atas meja belajarnya.

Eyeliner yang seharusnya ia berikan kepada Baekhyun.

Menelan ludahnya, Myungsoo mengambil alat make-up itu dan berjalan keluar kamarnya.

Ia baru menyadari betapa hancurnya ruangan lain di apartemennya. Ruang makannya dipenuhi bungkusan makanan, piring dan gelas kotor. Dapurnya lebih kotor dari biasanya dan TV di ruang tamu terus menyala. Myungsoo membayangkan uang yang ia harus bayar untuk biaya listrik.

Tapi mengingat ia sebentar lagi ia akan ditendang dari sekolah, Myungsoo membiarkan TV itu menyala ketika ia mengambil beberapa lembar tisu sebelum berjalan masuk ke kamarnya.

Ia tau bahwa kamarnya gelap, dan berusaha memakai eyeliner dengan cahaya minim bukanlah pilihan yang baik. Dan di sanalah fungsi dari tisu yang baru ia ‘repot-repot’ ambil di ruang tamu.

Myungsoo menatap dirinya dari atas sampai bawah menggunakan cermin di kamarnya. Ia hanya menggunakannya untuk melihat beberapa luka yang berada di punggungnya. Namun karena ia tidak lagi berada dalam masalah, cermin itu hanya berfungsi sebagai hiasan.

Melihat ke eyeliner di tangannya, Myungsoo sedikit lega ia belum memecahkan cermin itu menjadi ratusan beling. Menggelengkan kepalanya sekali, Myungsoo mendekatkan wajahnya dengan cermin di hadapannya.

Berlahan ia menggunakan eyeliner hitam itu, hati-hati agar tidak melakukann sebuah kesalahan. Myungsoo bukanlah tipe orang yang menggunakan make up namun hasilnya cukup memuaskan. Hanya sedikit lapisan hitam di matanya dan ia tampak seperti orang lain.

Myungsoo menatap dirinya lagi. Mulutnya sedikit terbuka saat ia memperhatikan setiap detail dari wajahnya. Ia menjatuhkan eyeliner yang menyebabkan suara yang menggema di ruangan.

Tanpa ia sadari, Myungsoo berjalan mundur dengan langkah yang lemah dan bergetar.

“Itu… Ia…K-Kim M-Myungsoo…”

“Jangan Mendekat!”

Takut dengan bayangannya sendiri, Myungsoo langsung berlari ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya, sama sekali melupakan tisu yang ia telah ambil sebelumnya.

Atau itulah yang otaknya rencanakan. Namun bagaikan gedung pencakar langit, kakinya tidak bergerak. Tidak bisa. Myungsoo mulai panik. Apakah sekarang bahkan tubuhnya enggan melakukan apa yang ia inginkan.

Myungsoo menarik napas namun itu tidak mampu menenangkan dirinya ketika ia mencoba menggerakan jarinya. Tetapi jari itu tidak bergerak. Dengan segenap kekuatan pikirannya ia berusaha melakukannya.

Tidak ada yang terjadi dan keringat dingin mulai bercucuran saat degup jantungnya bertambah cepat. Namun tiba-tiba tangan kanannya terangkat, dan ia yakin ia tidak berpikir untuk melakukannya. Gerakannya terlalu lambat, terlalu pas dan sempurna untuk dibuat-buat maupun merupakan sekedar refleks tubuh.

Myungsoo melihat mulutnya terbuka dan suaranya terdengar. Hanya saja itu bukan dia. Nadanya, pemilihan katanya. Itu bukan Kim Myungsoo, itu bukan dirinya. Ia merasa punggungnya terasa dingin saat suara yang familiar di telinganya terdengar.

“Sepertinya aku tidak bisa sembunyi selamanya” mendengar suaranya sendiri berbicara membuat Myungsoo benar-benar ketakutan. Apabila ia memiliki kendali akan tubuhnya mungkin ia tidak akan mampu untuk tetap berdiri dan menatap mata bayangannya di cermin. Mungkin bahkan ia tidak mampu untuk membuka matanya.

Suara mengerang keluar dari tenggorokannya. Sepertinya beberapa hal masih Myungsoo dapat lakukan namun apa gunanya ia membuat suara-suara apabila bicara dengan mulutnya ia tidak bisa. “Sshh…” mulutnya membisikannya.

Tangan kanannya menutupi sebagian dari mukanya dan jempolnya mengelus sisi mukanya pelan. “Jangan takut Kim Myungsoo, ini aku dan tidak akan ada yang menyakitimu” suara itu meyakinkannya. Myungsoo sebenarnya ingin percaya apa yang ‘orang’ ini katakan. Tapi tidak, Kim Myungsoo tau apabila ia percaya maka itu adalah akhir darinya.

Ia ingin melakukan protes. Ia tidak ingin terkekang dan Myungsoo merasa apabila hal ini dibiarkan, hal yang buruk akan terjadi padanya. Myungsoo memang tidak bisa berteriak menggunakan mulutnya tapi ini bukan pertama kalinya ia meneriakan hal melalui pikirannya. Walaupun biasanya tidak ada yang dapat mengerti, Myungsoo tau siapa pun itu yang ada di tubuhnya dapat mendengarnya dengan jelas.

Myungsoo menumpahkan segala rasa frustasinya, namun bahkan pikirannya dapat menjadi kosong ketika jari telunjuknya menempel pada bibirnya. Bibirnya membentuk senyuman asing yang bahkan Myungsoo sendiri tidak tau bibirnya dapat membentuk lekukan seperti itu.

“Tenang Kim Myungsoo” katanya pelan, namun senyumnya tidak membuat Myungsoo percaya. “Tenanglah dan coba dengarkan…”

Mau tidak mau Myungsoo diam, bahkan relatif berusaha untuk tidak berpikir. Ia hampir berusaha menguasai dirinya lagi sebelum suara TV samar-samar datang dari ruang tamu.

“… Konglomerat Kim, yang diduga melakukan korupsi ditemukan terbunuh bersama dengan istrinya…” jantung Myungsoo berdetak lebih cepat ketika mendengar kedua orang tuanya meninggal. Mungkin keduanya bukanlah orang yang dekat bahkan dengan anaknya sendiri tapi bukankah itu sama saja?

Menelan ludahnya, Myungsoo lanjut mendengar sisa dari berita itu. “…Para petugas berhasil mengikuti dan mengejarnya sampai orang tersebut melompat – dan menabrak jendela – dari lantai dua. Polisi menemukan TKP penuh dengan darah dan…”

Myungsoo belum sempat mendengarkan berita itu sampai akhir karena tiba-tiba rasa sakit seperti ditusuk menjalar ke kedua lengannya. Seluruh badannya terasa sakit. Dan apabila tubuh itu dibawah kendali Myungsoo, mungkin ia sudah tidak dapat tersenyum dengan sadis menghadap ke cermin.

Ia ingin berteriak kesakitan, namun ia tidak bisa. Ia ingin menggeliat untuk paling tidak berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Namun tidak. Dirinya di cermin tetap berdiri tegak, mata menghadap lurus ke depan, bibir tetap membentuk seuntas senyum.

“Aku berusaha sebaik mungkin mengeluarkan pecahan beling itu dari kulitmu – terutama lenganmu” Myungsoo mendengar suaranya menjelaskan. Sesuatu di perutnya seperti terikat.

Tidak, itu tidak mungkin… Myungsoo meyakinkan dirinya. Itu tidak benar, apapun yang sekarang ia pikirkan adalah tidak benar. Orang ini berbohong.

Kedua lengannya sekarang terjatuh di sampingnya. Pelan-pelan, hampir dengan kecepatan yang dapat membuat orang frustasi, kedua tangannya melepaskan bajunya, dan Myungsoo tidak bisa menahan keterkejutannya ketika ia melihat tubuhnya dipenuhi oleh luka-luka sayatan dan yang paling parah adalah lengannya.

“Aku mengganti bajumu dengan lengan panjang, kau tau untuk menutupinya… namun mungkin kali ini apa yang kau lakukan sudah terlalu parah”

Jangan katakan. Jangan katakan… batin Myungsoo berulang-ulang seperti matra.

Namun tubuhnya – yang dikendalikan oleh… siapapun, apapun itu – hanya menghelakan napasnya. “…Lagipula kau baru saja membunuh mereka” katanya bagaikan mengucapkan sebuah fakta umum seperti tanaman butuh cahaya matahari. Namun Myungsoo tidak bisa menerima ini, namun entah mengapa ia mengingat semua bagian dari kejadian itu.

Darah dan wajah orangtuanya yang ketakutan saat ia berjalan medekati mereka dengan ekspresi haus akan darah.

Myungsoo menjadi panik, takut dan ia tidak bisa berpikir jernih. Namun di tengah semua ini tiba-tiba tangannya merogoh sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kalung tipis berwarna silver dengan tag yang menggantung. Sesuatu di lehernya tercekat dengan pandangan kalung itu.

Jemarinya memainkan kalung itu, dan kepalanya sedikit menunduk sehingga Myungsoo dapat melihatnya dengan jelas. Gelombang kesadaran menghantamnya. Mungkin ini terdengar gila, tapi bagi Kim Myungsoo ini adalah satu-satunya penjelasan.

“Aku menghilangkan orang-orang yang menyakitimu” ucapnya merujuk pada anak-anak di sekolahnya.

Tapi kau membuatku tampak seperti monster. Tidak ada yang mau berbicara padaku.

“Aku membantumu untuk menghilangkan kesedihan sahabatmu”

Tidak, kau membuatku menjadi seorang pembunuh dan Baekhyun, sahabatku harus pergi.

Sepertinya orang di dalam dirinya dapat mendengar setiap jawabannya. Myungsoo baru saja ingin menghelakan napas – di dalam hati, tetapi kalimat berikutnya keluar. “…Dan aku tau kau ingin orangtuamu menghilang saja”

Myungsoo hanya bisa terdiam. Memang selama ini orang yang membuangnya ke apartemen gelap tanpa siapa-siapa adalah orangtuanya. …Tapi bagaimanapun aku mencintai mereka… Mereka orangtuaku.

“Tapi itu yang membuatmu lemah, percaya atau tidak” responnya ringan. Melempar kalung itu di udara dan menangkapnya sebelum jatuh, Myungsoo merasakan dinginnya metal kalung itu bersentuhan dengan lehernya. Myungsoo menatap bayangan tubuhnya di cermin yang sedang memakaikan kalung itu di lehernya.

“Lihat, kau, kita terlihat begitu kuat” tangan kanannya terangkat dan menutup sebagian muka Myungsoo di samping kanan. Myungsoo menatap wajahnya, wajah mereka, dua orang yang berada di dalam satu tubuh.

Tidak, apakah kau tidak lihat betapa lemahnya wajah itu?

Sebuah senyum merekah. “Begitu kuat, begitu indah, begitu sempurna

Hentikan, ini bukan yang aku inginkan! Keluar dari tubuhku!

Teriakan protes Myungsoo di dalam otak mereka tidak memberikan efek apapun saat ia melanjutkan. “Kau, Kim Myungsoo dan aku, kita. Kita akan selalu bersama, tumbuh bersama, mati bersama, untuk selama-lamanya…”

__________________________________________________________________

Heol…

APAAN INI?/gak percaya nulis cerita begini

Dan ini sama sekali gak di proof read, jadi maaf kalau ada typo sana sini.

Ehem, ya walau begitu author ini TIDAK AKAN menulis cerita seperti ini (unless someone asked) untuk waktu yang lama. Mari kita akan fokus pada cerita fluff saja. Nah, kalau Let the Hearts Do the Talk anggota INFINITE yang keluar Woohyun dan Sungyeol, kali ini adalah Kim Myungsoo aka L! Dan di cerita ini castnya adalah biasnya author, walaupun Baekhyunnya cuma side doang sih, hehehe~~

Kenapa Myungsoo dan Baekhyun? Selain keduanya bias itsredpenguin, pas sekali minggu ini EXO mengeluarkan WOLF drama ver. dan INFINITE comeback dengan Destiny!

… Tunggu, BAP juga comeback sama MV Hurricane. Let’s see what can I do with it~

Thank you for reading and I hope I don’t scared you in any possible ways!

itsredpenguin SIGN OUT

with style

with style

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s