OH EH AH Part II

Part II

>Seunghyun’s POV

Perkiraanku tepat, menunggu seorang wanita di salon merupakan keputusan yang salah.  Sudah satu jam lebih aku berdiri disini, menghabiskan piring keduaku yang sebenarnya sama sekali tidak membuatku kenyang.


Jagiya” Aku memanggil Nanhee, aku tahu ini menggelikan memanggilnya ‘Jagiya’ tapi hanya dengan cara seperti ini ia akan memberikanku simpati.

 

Dan benar Nanhee segera menengokkan kepalanya denganku lengkap dengan sunggingan senyuman diwajahnya “Ada apa yoebo?”

 

Aku merinding mendengar, kata ‘yoebo’ keluar dari mulut seorang Nanhee membuatku merasa mual mendengarnya. Tapi memiliki wajah yang datar membuatku dengan mudah menyembunyikan rasa geli yang kurasakan itu.

“Aku benar-benar harus pergi, atasan memanggilku.”

 

Nanhee tertawa kecil, respon yang salah melihat wajahku yang begitu serius mengatakannya “Choi Seunghyun, aku tahu hari ini hari Minggu, dan sudah kubilang kan? Hari Minggu kau tidak boleh bekerja. ” Ia berkata dengan datar, kalimatnya terdengar mutlak membuatku hanya berani memprotes dalam hati. Nanhee membalikkan kepalanya menghadap cermin malang yang harus melihat wajahnya berjam-jam.

 

Aku menghela napas, aku harus mencari akal keluar dari sini.

“Ummaaaa.”

Aku refleks menengok mendengar seorang gadis yang daritadi berada di sebelahku merengek pada ibunya. Sebelum aku dan Nanhee masuk ke salon ini aku sudah melihat sosoknya duduk di sini, dan ini kedua kalinya dia merengek yang sebenarnya menurutku sedikit  aneh untuk seorang perempuan remaja berani melakukannya di depan banyak orang.

 

Ibunya hanya diam menanggapi protes dari anaknya, sepertinya ia mengerti jika ia menjawab keluhan anaknya, adu mulut pasti akan keluar. Sementara itu, gadis itu kembali diam, mungkin hanya dengan rengekan ‘ummaaaa’  ia merasa ibunya sudah mengerti betapa muak ia menunggu.

 

Nanhee menengok pada gadis itu dan hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali berfokus pada majalah yang sedang dibacanya. Dalam hati aku benar-benar ingin melakukan hal yang sama dengan gadis itu. Tapi aku tahu Nanhee dan ibu gadis itu adalah wanita yang berbeda, dan respon yang kudapatkan pasti akan berbeda. Mungkin ia akan menghukumku, entahlah Nanhee terlalu berkuasa memimpin sebuah hubungan dan hal itu masih membuat pertanyaan besar kenapa dulu aku memintanya menjadi kekasihku.

 

“Unnie, aku mau nambah lagi.” Sekarang gadis itu berdiri dan berjalan menghampiri counter makanan. Aku menelan ludah melihat itu adalah piring keempatnya. Aku tahu makanan itu memang tidak akan membuat kenyang, tapi menambah sampai empat kali?

Hmm mungkin aku harus mencobanya juga

 

Aku berdiri dan menghampiri counter makanan juga mengikuti gadis itu. “Ah..saya juga ingin menambah lagi.”

Wanita yang dipanggil unnie itu terlihat kaget namun ia tersenyum dan mengangguk. Aku mengangguk dan kembali duduk di tempat semula, gadis itu pun sudah duduk dengan piring penuh garlic bread di sebelahnya. Dan aku baru sadar betapa bebasnya ia duduk di kursi itu. Kakinya diangkat di atas kursi, ia memakai tiga kursi, meskipun ia gunakan untuk duduk hanya satu. Kursi sebelah kanan untuk meletakkan ipod dan handphone nya sementara kursi sebelah kiri untuk meletakkan makanan dan tumpukan majalah.

Tanpa sadar aku tersenyum, melihat orang bebas merupakan hal menarik untukku.

“Boleh aku pinjam majalahnya?” Aku menghampirinya. Gadis itu mengerjapkan matanya begitu melihatku ia langsung terlihat kaget “Si-silahkan pilih saja.”

 

Aku memilih menghiraukan reaksi kagetnya dan langsung mengambil majalah fashion yang menurutku memiliki cover paling menarik.

“Seunghyun-oppa” Nanhee memanggilku. Kalau aku jahat aku akan memutar bola mataku mendengar ia memanggil oppa mengingat fakta Nanhee beberapa tahun lebih tua dariku.

“Hm?” Aku bertanya sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya sama sekali tidak kubaca.

“Menurutku apa lebih baik aku cat rambutku saja?”

Aku langsung menutup majalah yang kubaca, maksudku kulihat, dan menggelengkan kepalaku sebisa mungkin. Nanhee tidak boleh mengecat rambutnya.

“Kenapa?” Dahinya mengerut melihat jawabanku.

Karena itu akan membuatku lebih lama menunggumu.

Tapi jelas aku tidak akan menjawab itu, karena hal itu akan membuat Nanhee segera mengecat rambutnya, aku harus mencari kalimat tepat yang membuat Nanhee meyakinkan dirinya bahwa warna bukan hitam tidak cocok untuk rambutnya.

“Kau tahu Nanhee? Akhir-akhir ini aku sudah jarang melihat wanita Korea dengan warna rambut aslinya dan sebenarnya itu sedikit membuatku sedih. Jadi kumohon kau tetap Nanhee dengan rambut hitamnya.”

 

Aku benar-benar ingin menampar diriku sekarang.

“Benarkah? Baiklah kalau itu kata oppa aku akan mengikuti.”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk lalu kembali berfokus pada majalah.

 

“Aram, bagaimana kalau umma sekalian mengecat rambut sekarang?”

Aku kembali menutup majalah dan segera menengok pada gadis di sebelahku. Meskipun bukan aku yang ditanya tetap menengok, rasanya ironis karena ia mendapat pertanyaan yang sama dari orang yang sedang ia tunggu, sama sepertiku.

Dan satu lagi,

Namanya Aram.

 

“Umma bercanda? Ini sudah hampir dua jam dan aku harus menunggu di sini lebih lama?” tanpa perlu menunggu ibu gadis itu langsung mendapat jawaban tegas dari anaknya.

 

Aku mengepal tanganku merasa setuju dan puas dengan jawaban yang dikeluarkannya. Kuharap Nanhee mendengar ini.

“ Tapi Aram, umma merasa warna coklat cocok untuk umma.”

Aram menghela napasnya “Sayangnya itu salah. Dengarkan kata-kataku. I-tu ti-dak co-cok.”

Ibunya menggelengkan kepala namun hanya tersenyum. “Baiklah, tolong cat rambutku.” Ia berkata pada stylist nya.

 

Sebagai seorang penonton aku ikut merasa kaget dengan keputusannya. Dan reaksi Aram membuatku makin yakin, bahwa gadis itu memiliki batas kesabaran yang rendah. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Mataku terus mengikutinya yang berjalan, tanpa terlihat takut ia akan dimarahi ibunya, jiwa pemberontaknya tinggi.

“Han Aram.” Ibunya memanggil nama anaknya. Tegas, dan itu membuatku semakin yakin bahwa Aram merupakan pemberontak sejati melihat ia yang membuka pintu dan berlari tanpa menjawab panggilan ibunya.

Mataku langsung kembali pada ibunya yang sekarang sedang menggelengkan kepalanya sedangkan stylistnya sedang menghiburnya. Aku hanya terdiam. Aku juga ingin seperti Aram.

__________________________________

Author’s note

OH EH AH cerita author yang paling lama updatenya ._.

Tapi kedepannya diusahakan bisa nyusul cerita lainnya ^^

Selanjutnya apa yang akan diupdate??  ayo tebak~

xoxo,

Pikrachu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s