PASTEL #005

o5

“Bagaimana Tao? Enak kan?” Ahjumma bertanya pada keponakan kesayangannya. Tao hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya berkali-kali. Satu tangannya memegang tiga odeng, mulutnya masih penuh tapi ia kembali memasukkan odeng baru ke mulutnya.

Sementara itu Sina masih tercengang, ia masih menguyah odeng keduanya tapi melihat belasan tusuk odeng sudah ada di depan Tao membuat ia meragukan sebenarnya apakah ia yang makan terlalu sedikit atau memang Tao saja yang memiliki porsi melebihi normal.

Tao sendiri tidak menyadari pandangan aneh dari Sina, yang ia pikirkan sekarang adalah betapa lezatnya odeng yang sekarang sedang ia kunyah, ia baru tahu bahwa ternyata ikan bisa diolah menjadi selezat itu. Dan kaldu yang ia rasakan, mungkin ia merasa bahwa itu kaldu tergurih yang pernah ia rasakan. Ditambah dengan temperatur Seoul yang dingin di malam hari membuat selera makan Huang Zitao meningkat.

Ahjumma hanya tertawa melihat Tao yang begitu menikmatinya makanannya, ia baru tahu bahwa keponakannya memiliki nafsu makan sebesar itu sementara ia melihat Sina yang masih mengunyah odengnya dengan tenang berbeda dengan Tao yang kadang tersedak di tengah-tengah kunyahannya.

“Coba lihat Sina, Tao makan semangat sekali.” Ahjumma berkata dengan riang.

Sina hanya menatap Tao yang akhirnya memberanikan diri menatap Sina, mulut Tao masih penuh namun ia tersenyum, ia lupa bahwa ia sedang menghindari Sina yang sekarang ingin ia lakukan adalah menunjukkan pada Sina bahwa ia sangat menyukai odeng.

“Ini enak sekali!” Tao berkata dengan semangat

Sina ingin berkomentar bahwa odeng memang enak tapi melihat Tao yang berbicara dengan mulut penuhnya membuat Sina ingin mengatakan hal lain yang justru membuat Tao mengingat misinya dari awal, menghindari Sina.

“Selesaikan dulu menguyahnya, baru bicara.” Ia berkata datar, Sina tidak marah, ia hanya merasa perlu untuk mengingatkan Tao akan hal itu.

Senyum Tao segera menghilang ia hanya mengangguk dan kembali mengunyah makanannya. Ia pikir Sina memang membencinya.

Menjadi orang yang tidak sensif membuat Sina kembali memakan odengnya tanpa sebelumnya mengatakan bahwa ia setuju dengan kata-kata Tao bahwa odeng memang lezat. Ahjumma hanya tersenyum melihat Tao yang selalu berubah menjadi diam di depan Sina. Melihat mood Tao yang agak turun ia segera mengambil makanan lain.

“Tao! Sekarang kau coba tteokbokki ini!”

Tao menelan odeng terakhir yang ia kunyah dan segera membuka lebar matanya yang sipit begitu menyadari betapa wanginya makanan yang ahjummanya tawarkan itu.

Ia menelan ludah dan segera menusuk satu benda putih yang masih asing di matanya. Tanpa pikir panjang ia langsung memasukkannya pada mulut melupakan fakta bahwa makanan itu masih panas.

“A-aa! Pa-panas” Tao segera membuka mulutnya dan mengipas-ngipas tangannya di depan mulutnya.

Sina memutar bola matanya melihat kelakuan Tao yang ia anggap bodoh

Dasar rakus.

Ahjumma hanya tertawa, menganggap bahwa itu adalah hal lucu, Sina segera meminta segelas air putih dan langsung memberikannya pada Tao.

Tao terdiam melihat air yang tiba-tiba dijulurkan di depannya, terlebih itu dari Sina. “Ma-maaf aku tidak minum soju.”

Sina menghembuskan napas, masih tidak mengerti dengan pikiran Tao “Air putih, cepat minum kalau tidak ingin lidahmu terbakar.”

Tao segera mengerjapkan matanya, semburat merah terlihat di pipinya, ia malu telah mengira air putih sebagai soju, dalam hati ia mengutuk dirinya telah membuat dirinya makin terlihat bodoh di depan Sina.

Sina melihat Tao yang segera menghabiskan air putih dalam hitungan detik, ia segera mengambil tteokbokki dan meniupkannya sebelum ia julurkan pada Tao.

“Makan” Terdengar seperti perintah di telinga Tao, tapi dari sudut pandang Sina, ia hanya ingin menawarkan Tao tteokbokki ‘hangat’ yang setidaknya dapat membuat Tao lebih menikmatinya.

Tao terkaget, tidak menyangka seorang Ahn Sina akan membantunya meniupkan makanan, dalam hati ia sedikit terenyuh, tapi begitu ia mendekatkan kepalanya untuk memakan tteokbokki itu kata-kata dari Sina membuat ia sedikit merasa konyol.

“Ambil sendiri, aku tidak akan menyuapimu.”

“Ah..baik.” Tao langsung mengambil tusukan tteokbokki itu dari Sina dan memakannya dengan perlahan. Merasakan betapa lembutnya tteokbokki bercampur dengan sausnya yang pedas namun manis di saat yang sama membuat Tao segera bingung mana yang lebih lezat antara odeng atau tteokbokki.

“Bagaimana enak Tao?” Ahjumma mengeluarkan pertanyaan retoris yang sudah ia ketahui jawabannya hanya dari melihat ekspresi Tao yang begitu menikmati kunyahannya.

“Jjang!” Tao mengancungkan jempolnya. Tanpa pikir panjang ia segera mengambil tteokbokki lagi, dan tentu kali ini ia meniupnya dulu sebelum langsung memasukkan pada mulutnya.

 

Setelah satu jam makan di Pojangmacha Sina baru ingat bahwa rumahnya berada tidak dekat dari lokasinya sekarang, Sina memutuskan tteokbokki yang sedang ia kunyah akan menjadi tteokbokki terakhirnya sebelum ia pulang.

“Ahjumma..sekarang sudah jam delapan lebih aku harus pulang.”

Ahjumma membuka kedua mulutnya, sepertinya ia sama sekali tidak menyadari berapa banyak waktu yang telah mereka habiskan. “Omo, dan rumahmu agak jauh dari sini! Kita harus pulang sekarang! Tao ayo cepat!”

Tao yang masih sibuk dengan odeng di tangan kanannya dan tteokbokki di tangan kirinya segera menelan sebelum berbicara, ia benar-benar mengingat kata-kata Sina “Apakah besok kita boleh ke sini lagi?”

“Tentu saja boleh! Ayo cepat Tao!” Ahjumma langsung memberikan beberapa lembar won pada ahjussi yang menjaga toko dan menarik Tao. Ia tahu rumah Sina tidak dekat, dan terlebih Sina adalah seorang gadis SMA yang sebenarnya berbahaya jika dibiarkan berjalan sendirian di malam hari.

Sina hanya mengikuti ahjumma dan Tao yang sudah berjalan di depannya, berbeda dengan Ahjumma yang terlihat panik, Sina sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia harus cepat pulang. Ahjumma menyadari betapa tenangnya Sina, ia tahu Sina memang gadis seperti itu, tapi kali ini itu cukup membuat gemas dirinya.

“Ya Sina! Ayo cepat!!” Ahjumma menghentikkan langkahnya dan menengokkan kepalanya menemukan Sina yang berjalan dengan langkahnya yang tenang seperti biasa. Melihat ekspresi ahjumma yang panik membuat Sina segera berlari kecil dan menyamakan langkahnya dengan Tao dan ahjumma.

“Tao? Apakau bisa mengantar Sina pulang ke rumahnya?” Ahjumma berkata dengan nada  seriusnya, Sina menggelengkan kepalanya “Ahjumma..bukankah Tao baru saja sampai di Korea? Ia tidak mungkin pulang sendiri.”

Ahjumma menghela napas, sebenarnya ia sadar akan ucapannya hanya saja, siapa tahu, mungkin, Tao bisa saja mengantar Sina pulang.

Tao bukan pengecut, ia seorang gentleman ia tahu bahwa seharusnya ia mengantarkan Sina, tapi Tao juga bukan seorang yang bodoh, ia tahu ia baru sampai di Korea dan tak mungkin ia menghafal jalan hanya dengan sekali perjalanan, ditambah fakta bahwa ia sendiri mengakui menghafal merupakan salah satu kelemahannya.

“Aku bisa pulang sendiri, lagi pula ini bukan pertama kalinya aku pulang semalam ini.” Sina berusaha meyakinkan ahjumma yang sama sekali tidak membuat ahjumma menjadi lebih tenang “Ini sudah hampir jam sembilan. Aku tidak tenang, aku tidak bisa mengantarmu, maaf Sina, ahjumma tua seperti a…”

“Ya ahjumma, sudah kubilang aku bisa” Sina memotong ucapan ahjumma.

“Bagaimana kalau menginap saja?”

“Ahjumma” Sina menatap ahjumma dengar datar, meminta pengertian darinya, ia tidak bisa memasang mata puppy eyes tapi ia yakin dengan pandangan datarnya ahjumma mengerti kalau Sina bisa dipercaya.

“Nanti kupikirkan dulu, lebih baik kita bicarakan di halte bus.”

Sina menghela napas dan kembali berjalan sambil mendengar percakapan Tao dan ahjummanya dengan menggunakan bahasa mandarin yang hanya membuat Sina diam sepanjang perjalanan sampai halte.

 

“Baiklah Sina..” Ahjumma tersenyum begitu mereka sampai di depan pemberhentian bis.

Sina memiringkan kepalanya tidak mengerti mengapa tiba-tiba sebuah senyum sudah ada di wajah ahjumma yang dari tadi tidak  berhenti mengkhawatirkannya itu.

“Tao akan mengantarkanmu pulang, ia sudah kuberikan kertas alamat toko sehingga ia bisa kembali dengan sendiri.”

Sina diam dan hanya memandang Tao yang sekarang sedang berdiri di belakang ahjummanya sambil menghindari tatapan mata dengan Sina. Kenapa ia terlihat begitu takut dengan dirinya? Sangat ironis melihat tubuhnya yang tinggi besar di banding dengan Sina.

Sina tidak setuju ia ingin menolak kebaikan ahjumma tapi begitu ia membuka mulut tiba-tiba seseorang memotong ucapannya yang membuat Sina segera menengok pada asal suara yang membuyarkan konsentrasinya itu.

“Ahn Sina??”

Sehun menunjuk Sina dengan kaget, sama dengan Sina yang langsung membulatkan matanya begitu melihat sosok Oh Sehun berada tidak jauh dari posisinya, masih dengan seragamnya.

“Siapa itu Sina?” Ahjumma yang tidak mengerti apa-apa langsung bertanya, karena agak gelap ia baru menyadari bahwa pemuda itu dan Sina memakai seragam yang sama “Ahh..temanmu?”

Ahjumma bertanya yang Sina balas hanya dengan anggukan. Tiba-tiba sebuah senyuman lebar kembali muncul pada wajah ahjumma, ia langsung berjalan menghampiri Sehun yang masih terdiam di sana.

“Namamu siapa?”

“Oh Sehun” Sehun segera menjawab

“Sehun, apa kau kenal Ahn Sina?”

Sehun langsung menganggukkan kepalanya “Ah, Sina teman sekelasku.”

Dan jawaban Sehun pun langsung meyakinkan ahjumma bahwa idenya yang terlintas tadi cukup pintar.

“Apakah kau bisa mengantar Sina pulang? “

Sina terdiam, sama dengan Sehun. Jelas Sina tidak setuju dengan ide itu. Ia memiliki beberapa alasan mengapa Oh Sehun tidak perlu, tidak boleh mengantarnya pulang. Pertama adalah alasan bahwa Miyoung, kekasih dari Sehun adalah kakaknya sendiri yang sampai sekarang Sina sengaja merahasiakan fakta itu. Kedua, karena ia yakin ia bisa pulang sendiri, dan ketiga ia lebih memilih Tao yang akan mengantarnya kalau ternyata ahjumma masih bersikeras seseorang harus mengantarnya pulang.

Sehun terdiam mendengar permintaan dari ahjumma yang menghampirinya itu, awalnya ia pikir ahjumma itu adalah ibu atau siapapun yang memiliki hubungan darah dengan Sina, tapi melihat bahwa ternyata ia tidak pulang bersama Sina membuat Sehun segera tahu bahwa orang itu bukanlah keluarga Sina.

Sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan mengantar Sina pulang, dan menurutnya dengan mengantar Sina itu bisa membantunya mengetahui rumah Sina sehingga kerja kelompok di rumah Sina menjadi lebih mudah untuknya. Tapi sayangnya begitu Sehun mengangguk dan ingin membuka mulut, Sina memotongnya.

“Tidak, tidak bisa”

“Sina! Sehun mau membantumu, harusnya kau berterimakasih!” Ahjumma gemas melihat penolakan Sina.

Sina kembali ingin berargumen tapi ia baru ingat bahwa tidak ada alasan yang bisa ia kemukakan untuk menolak kebaikan Sehun. Tidak mungkin ia mengatakan alasan pertamanya, dan alasan kedua pasti di tolak mentah-mentah oleh ahjumma. Tapi ia pikir ia masih bisa menggunakan alasan ketiga.

“Bukankah Tao yang mengantarku?” Sina menunjuk Tao yang dari tadi hanya terdiam tidak mengerti apa-apa.

“Kalau ada Sehun yang jelas mengerti Seoul, untuk apa Tao yang mengantarmu Sina?” ahjumma terlihat lelah dengan sifat keras kepala Sina.

Sina diam, kalau ia masih keras kepala menginginkan Tao yang mengantarnya, tentu mereka akan salah paham, dan mengira Sina menyukai Tao. Sina langsung merinding membayangkan hal itu, akhirnya ia menggigit bibir dan mengangguk.

“Baiklah”

Ahjumma tersenyum “Aku titip dia Sehun!” ahjumma berkata dengan senang pada Sehun yang hanya tersenyum dan mengangguk bahwa ia siap menjaga Sina. “Ah Tao! Itu bus kita!” Ahjumma menarik lengan Tao dan mengajaknya masuk bis yang baru saja berhenti.

Mereka berdua pun masuk, Tao hanya melambaikan tangan tidak jelas untuk siapa, melihat ia tidak menatap siapapun, tapi Sina tahu lambaian tangan itu untuknya dan Tao pun yakin Sina mengerti hal itu.  Sina hanya diam, ia tahu sekalipun ia melambaikan tangan Tao tidak akan sadar Sina membalas lambaiannya.

Begitu bis berjalan Sina langsung membalikkan badannya pada Sehun yang sudah duduk dengan earphone di telinganya. “Bus mu yang mana?” Sehun bertanya.

Sina menghampiri Sehun dan duduk di sebelahnya “Kau tidak perlu mengantarku Sehun.”

“Kenapa?” Sehun bertanya, ia tidak terlihat kaget dengan penolakan Sina, karena ia tahu Ahn Sina tidak akan menyerah secepat itu, tapi yang jelas, ia makin penasaran dengan alasan di balik semuanya.

“Aku bisa sendiri.” Sina kembali mengatakan kalimat yang rasanya sudah ratusan kali keluar dari mulutnya malam itu. Sehun sama sekali tidak merasa cukup dengan alasan itu, sehingga ia menggelengkan kepala “Tidak, aku akan tetap mengantarmu.”

Sina menghela napas, ia memutar otak namun sayangnya ia terlalu lelah membuat otaknya tidak bisa menemukan alasan tepat.

Akhirnya beberapa menit mereka duduk, menunggu bus, tidak ada kalimat keluar dari mulut Sina bahwa ia setuju Sehun akan mengantarnya, ia memilih diam dan membiarkan Sehun mengambil kesimpulan sendiri apakah Sina mau diantarkan olehnya atau tidak. Tapi Sehun, sebenarnya ia tidak peduli dengan jawaban Sina, kalaupun Sina menolak ia hanya akan mengikutinya dari belakang. Ia sudah telanjur janji pada ahjumma yang baru ia temui dan terlebih Sehun adalah seorang gentleman yang tidak akan membiarkan wanita pulang sendirian, apalagi malam hari.

Tiba-tiba bus yang ditunggu Sina berhenti. Sina melirik Sehun yang matanya terpejam seperti tertidur atau entah hanya lelah membuka matanya. Sina tahu musik yang didengar Sehun agak keras, dan itu membuat Sina dengan mudah masuk ke bus tanpa sepengetahuan Sehun. Tapi Sina, entah apa yang terjadi dengannya, ia menepuk bahu Sehun dan menunjuk bus yang berhenti.

Sehun yang membuka mata kaget melihat Sina yang tangannya menunjuk sebuah bus yang sedang berhenti itu. Ia pun berdiri dan mengikuti Sina yang sudah duluan berjalan masuk.

“Ini akan menjadi perjalanan panjang”Sina berkata dalam hati.

 

_____________________________________

(A/N)

Double updates hari ini! ^^

Kekekekeke author baik banget kan?

Daan melihat poster kecil ada krystalnya..

Ini bukan karena author menshipping dia dengan sehun atau tao. Tapi setelah melihat art film f(x)  Author hanya ngerasa raut wajah dia cocok untuk jadi Sina

(karena ga mungkin author pake foto bintangdj di poster? XD)

Dan ini jadi post author ke 20! WOH o_o

oxox, Pikrachu

4 thoughts on “PASTEL #005

  1. Kyaaaa sehun nganterin sina pulang padahal sehun baru aja dari sina aaaaaaa kaya apa reaksi sehun nantiiiii *jeder jeder jeder*
    Aduh tao kasian banget yaaa hahaahaha *pukpuk tao*

    Mau baek sumin, mau krystal jung aku suka dua duanya! Hahaha tapi aku sestal shipper sih, jadi aku lebih berharap sina ama sehun dan bukan ama tao Hahaha xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s