Oh My Prince -Chapter 05-

o5

 

“Ku-kupikir kau bersama Sera?” Aku berusaha bertanya setenang mungkin dan sayangnya usahaku gagal, aku terlalu senang sehingga tidak bisa mengontrol gemetar suaraku.

“Kupikir kau bersama Sehun?” Luhan tersenyum ia malah membalik pertanyaanku.

Luhan hanya tertawa melihatku yang kehabisan kata-kata “Sama seperti kau dan Sehun, aku dan Sera tidak cocok.”

Aku mengangguk mendengar jawabannya, kupikir ia akan mengatakan sesuatu yang lain, mungkin sesuatu yang tidak terlalu frontal mengatakan bahwa ia dan Sera tidak cocok? Yah tapi sebenarnya aku senang, dengan kata lain aku masih ada harapan.

“Sama seperti kau dan Sera, aku dan Sehun tidak cocok.” Aku mengikuti kata-katanya yang hanya membuatnya kembali tertawa.

Tiba-tiba Luhan memasang tampang serius “Dan aku baru tahu Jieun menyukai MU.” Ia menunjuk kantong belanjaanku.

Aku diam, pertama aku tidak tahu harus menjawab apa, tidak mungkin kukatakan baju ini untuk pacarku di masa depan yang bahkan sampai sekarang aku tidak menjamin apakah aku benar bisa mendapatkan pacar lagi? Dan kedua, Luhan memanggilku Jieun? Lucu sekali!

“Aku tidak suka MU, ini untuk-“ Aku menggigit bibir berusaha mencari nama laki-laki yang kukenal.

Donghae? Ah aku sudah lupa siapa dia. Sehun? Kau bercanda Jieun, Baekhyun? Tidak, Hyun Joon? Ya adikku.

“Ini untuk adikku.” Aku tersenyum puas mendengar jawabanku sendiri sementara itu Luhan hanya mengangguk mengerti, aku tahu ia kecewa tapi aku tidak mungkin memberikannya atau ia akan mengira aku menyukainya, meskipun sebenarnya itu adalah sebuah fakta, mungkin?

Ia menghela napas “Kalau begitu aku pergi ya Jieun” Ia pun membalikkan badannya meninggalkanku dengan langkah yang gontai.

Aku melihatnya berjalan perlahan-lahan mengecil di pandanganku. Apakah pertemuanku dengan Luhan hanya begini saja? Ini bahkan tidak sampai lima menit! Tuhan sudah memberikanku kesempatan tapi yang kulakukan hanya mengahancurkannya seperti ini? Aku dan Luhan tidak boleh selesai sampai disini. Pasti ada yang bisa kulakukan.

“Lu-!” Aku berusaha berteriak tapi seketika aku sadar kalau ini sedang di tempat umum, akhirnya aku segera keluar dari toko dan mencari sosoknya yang sepertinya sudah berjalan agak jauh.

“Aish..”aku menggelengkan kepalaku begitu selesai mengitari beberapa lantai. Sosok Luhan sama sekali tidak kutemukan sekalipun aku menanyakan beberapa petugas yang sedang berjaga.  Kenapa dia menghilang secepat itu? Apakah ini karma karena aku menghindari Sehun sekarang Luhan menghindariku?

Sekarang sudah jam empat sore, jika aku pulang sekarang adik laki-lakiku tidak akan mengolok-ngolokku mengatakan kencanku gagal. Kondisiku sudah aman, tapi aku rasa aku akan pulang dengan rasa menyesal tidak dapat bertemu Luhan. Oleh karena itu aku akan menunda kepulanganku satu jam lagi.

Jika aku dan Luhan tidak bertemu lagi, berarti namja itu memang bukan takdirku. Dan aku akan mengerti. Tapi jika Sehun orang yang kutemui ia tetap bukan takdirku, jika Sehun yang kutemukan, itu akan kunamakan kesialan.

Sekarang pertanyaannya adalah, kemana aku akan pergi?

Aku sudah mendatangi seluruh toko olahraga, aku sudah melihat seluruh food court yang menjual bubble tea, bahkan aku sudah ke luar gedung siapa tahu menemukan Luhan di tempat parkir.

Ah aku tahu satu tempat lagi

Akhirnya dengan langkah mantap aku segera menuju tempat tujuan terakhirku. Lagipula ada hal yang harus kubeli di tempat itu!

 

Sehun’s POV

“Hyung menurutmu mana yang lebih bagus?” aku menunjukkan dua note book satu berwarna pink satunya lagi hijau. Harus kuakui dalam memilih pakaian atau sepatu untuk wanita aku cukup percaya diri sehingga dari awal aku memang berencana menjadikan Jieun sebagai modelku dan sekarang aku di toko buku di mana aku sama sekali tidak bisa mengandalkan seleraku.

Luhan-hyung hanya melihatku sekilas dan mengangkat bahunya “Aku tidak tahu.” Ia pun melanjutkan membaca majalah olahraga yang langsung menarik perhatiannya begitu ia masuk toko.

Aku menghela napas, setelah sampai di rak majalah yang tempatnya cukup jauh dari rak note book yang kudapatkan hanya jawaban singkat yang sama sekali tidak membantuku.

Akhirnya dengan langkah gontai aku kembali menuju rak note book, aku tidak berani menarik Luhan-hyung yang sudah terhisap dengan bacaan di tangannya. Ia mengatakan moodnya sedang jelek karena jersey yang ia incar sejak dulu dibeli oleh seorang yeoja. Siapapun itu yeoja yang membeli barang incaran Luhan-hyung, ia telah membuatku repot karena jika Luhan-hyung sedang jengkel ia akan melimpahkannya pada orang yang dekat dengannya dan itu aku.

“Ekhm, permisi” Aku menepuk bahu seorang anak perempuan yang sedang fokus pada susunan tempat pensil di depannya. Ia menengok padaku, matanya kaget karena  sada seorang asing yang menyapanya, aku tidak peduli apakah dia takut padaku atau tidak tapi sekarang aku butuh saran seorang perempuan.

“Menurutmu lebih bagus yang ini atau ini?” Aku menunjukkan padanya dua note book yang tadi kutunjukkan di depan Luhan-hyung. Ia terdiam dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Seperti apa perempuan yang akan kakak kasih buku ini?”

Sekarang giliran aku yang diam, apa yang harus kukatakan tentang Heeyoung?

“Dia….sepertimu” aku mengatakan dengan singkat tapi memang kenyataannya seperti itu, rambutnya diikat dan memakai rok.

Anak itu pun terdiam, ia menggigit kedua bibirnya lalu menggelengkan kepalanya “Aku tidak suka dua-duanya”

Aku tersenyum mendengar komentarnya meskipun dalam hati aku mengutuk anak di depanku ini, berani sekali ia mengatakan hal seperti itu.

“Mungkin oppa bisa bertanya dengan wanita itu.” Anak itu menunjuk rak sebelah kami, aku segera mengikuti arah jari telunjuknya dan menemukan sosok perempuan yang sedang menyisir rambutnya dengan jari sambil satu tangannya memegang sebuah buku tebal

Bibirku tersenyum begitu aku menyadari sesuatu.

Jieun.

“Baiklah, terimakasih ya” aku tersenyum dan menepuk bahunya.

Begitu tinggal beberapa langkah aku sampai di samping Jieun aku menghentikkan langkahku. Aku melupakan sesuatu. Jieun sedang menghindariku, dan aku yakin jika tiba-tiba aku muncul di sampingnya ia akan langsung berlari.

Akhirnya aku kembali melangkah mundur dan berpindah ke rak belakangnya sehingga aku bisa terus mengawasinya tanpa ia sadar ada aku di dekatnya.

Sekarang bagaimana aku menyergapnya?

Aku menghela napas, kenapa harus aku yang sembunyi? Sebenarnya siapa yang lari dari siapa? Kenapa situasi ini malah membuatku seperti menghindari Jieun dan takut dengannya.

Baiklah Sehun, sekarang kau datangi dia. Kalau Jieun lari kau harus segera memegang lengannya, bukan bajunya. Kalau ia teriak kau langsung tutup mulutnya. Dan selamat Sehun kau akan dianggap sebagai maniak.

Aku memutar bola mataku atas ide bodoh yang keluar dari otakku. Sebenarnya ini bukan masalah rumit, aku hanya perlu mendatanginya, minta maaf, minta bantuannya, selesai.

Begitu aku sudah memantapkan rencanaku tiba-tiba Jieun bergerak dari posisi awalnya, ia berjalan dan aku langsung mengikutinya dalam hati aku benar-benar berharap ia tidak keluar dari toko buku.

Ketika aku pikir aku sudah cukup di dekat Jieun dan siap membuka mulut memanggilnya, langkahku terhenti begitu menyadari kemana ia berjalan.

Tempat Luhan.                       

 

Jieun’s POV

“Lu-luhan?” aku menggosok kedua mataku untuk meyakinkan bahwa itu bukan ilusi.  Tanpa pikir panjang aku langsung meletakkan album foto yang hampir kubeli dan berjalan menghampiri sosok laki-laki yang pakaiannya sama persis dengan Luhan, jaket varsity dengan warna biru dan putih, itu sudah pasti Luhan kan? Dan begitu aku mendekat aku meyakinkan diriku sendiri bahwa itu bukan ilusi. Ada Luhan di sini!

Dengan langkah cepat aku mendekatinya, rasanya aku benar-benar takut kehilangannya lagi.

“Ekhm” aku berdehem membuat Luhan segera menengokkan wajahnya dari majalah yang ia baca. Mulutnya terbuka membentuk huruf O, ia kaget dan itu lucu sekali.

“Ji..”

“Eun?” Aku menyelesaikan kata-katanya. Aku menyeringai merasa bangga bisa mengulang kejadian sebelumnya ketika aku tidak menyebut nama Luhan secara lengkap, sekarang giliran ia terkaget.

“Woah  kita bertemu lagi?” Luhan menutup majalahnya dan tersenyum padaku. Aku hanya tertawa, kesempatan ini tidak boleh kurusak lagi. “Ada sesuatu yang harus kubeli di sini.”

Luhan tertawa “Tentu saja ada sesuatu yang harus kau beli, bukankah itu alasan setiap orang datang ke toko?”

Aku hanya tertawa kecil, kata-katanya benar dan aku benar-benar merasa bodoh dengan caraku memulai pembicaraan.

Menyadari tawaku yang mungkin terdengar seperti sebuah tawa paksaan Luhan melanjutkan kalimatnya “Tapi aku di sini tidak membeli apa-apa, seperti yang kau lihat aku hanya numpang baca di sini.”

Tiba-tiba Luhan membulatkan matanya seperti menyadari sesuatu yang membuatku bingung “Kau hanya numpang baca? Di sebuah mall?”

Ia menggaruk kepalanya  “Hmmm tujuan awalku membeli sesuatu tapi sayangnya seseorang sudah membelinya duluan.” Ia menyindirku dan itu membuatku semakin gugup.

Tiba-tiba Luhan terbatuk,

“Yah sebenarnya aku sedang menemani seorang teman, katanya pasangan kencannya kabur…”

Aku memiringkan kepalaku belum mengerti maksud pembicaraannya.

Luhan tersenyum, membuat kerutan di sekitar matanya yang membuat senyumannya tampak menarik di mataku. “Kalau kau penasaran siapa orangnya, ia ada di belakangmu” Ia menunjuk sesuatu di belakangku sambil menyeringai.

Aku segera menengok ke belakang sama sekali tidak mengerti maksud perkataan Luhan.

Pasangan kencan? Kabur?

Oh Sehun?!” aku meneriakkan namanya membuat hampir seluruh pengunjung toko menengokkan kepalanya pada kami. Aku menunduk, merasa malu telah mencuri perhatian banyak orang tapi Sehun hanya tertawa sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang.

“Jangan kabur.” Sehun menghentikkan tawanya dan menatapku dengan tatapan datarnya. Aku menaikkan alisku jengkel mendengar kata-katanya yang seperti perintah, kata-katanya barusan malah membawa efek yang berlawanan dengan yang ia harapkan, aku harus kabur.

“Sehun, kau harus berkata lebih lembut.” Luhan tiba-tiba bicara aku segera menengok ke belakang dan ia hanya tersenyum padaku seperti tidak ada hal yang terjadi.

Aku merasa ada yang aneh dengan dua laki-laki yang sekarang seperti menjagaku dari dua sisi. Bahkan seorang Luhan, aku anggap aneh.

Akhirnya aku melangkahkan kakiku mundur bersiap untuk lari, tapi tiba-tiba seseorang memegang lenganku. Dan melihat tangan siapa yang memegangku membuatku hampir pingsan.

Luhan.

—————–

(A/N)

Dan ini dia update terakhir dari pikrachu~ Mungkin sampai minggu depan author ga akan update ._.v

Ada beberapa hal yang harus author fokusin.

Bagaimana ceritanya? Tadi siang author diganggu bilang ada yg minta update /lirik raydaiven/ dan karena author baik tadah! oh my prince updated!^^

Dan permintaan maaf karena kedepannya updatenya telat author kasih foto Sehun sm Luhan yang ganteng-parah-banget dan imagenya di foto ini sesuai sama bayangan author untuk ff ini🙂

grumpy sehun❤

Lulu being cute❤

xoxo,

Pikrachu

4 thoughts on “Oh My Prince -Chapter 05-

  1. Dih aneh gak sih kalo aku dugeun dugeun baca ff ini?
    Aku sukaaaa sehun, dia dingin-dingin greget gitu~
    Luhan cowok baik yah? Emmmmm
    Makasih thor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s