PASTEL #006


PASTEL

#006 

  song of the day 

Sina mengutuk dirinya sendiri yang lupa mencharge hp nya sejak kemarin malam. Sekarang ia harus duduk di sebelah Oh Sehun tanpa tahu dirinya harus melakukan apa selain memandang ke luar jendela yang rasanya sudah ratusan kali ia lewati sehingga rasa tertarik melihat apa yang terjadi di luar sama sekali tidak ada.

Dalam hati sebenarnya Sina protes pada Sehun yang sekarang sedang duduk di sampingnya, di antara sekian kursi kosong di bus kenapa dia harus memilih duduk tepat di sebelah Sina?

Sehun sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa gadis di sebelahnya kurang nyaman dengan pilihan tempat duduknya. Ia hanya berpikir Sina dan dirinya adalah teman dan duduk di samping seorang teman merupakan hal yang wajar.

Awalnya Sehun berencana hanya mendengarkan musik dari ipodnya sepanjang perjalanan, tapi begitu melihat kantung belanjaan Sina di mana ia melihat sebuah benang pink menyembul, rasa ingin tahunya tergelitik. Ia segera melepas earphone nya dan bertanya pada Sina yang sedang memandang bosan pada jendela.

“Kau bisa merajut?”

Sina segera menengok pada Sehun tidak menyangka pria di sebelahnya berinisiatif memulai pembicaraan.

“Hmm, lumayan.” Sina menjawab singkat, sadar bahwa benangnya lah yang menarik perhatian, Sina segera memasukkan kantong belanjaannya ke dalam ranselnya.

“Kau mau buat apa?” Ia kembali bertanya, pertanyaan yang paling dihindari Sina meskipun dari awal ia sudah yakin hal itu lah yang akan ditanya seseorang apabila melihat benang wol.

Sina diam memikirkan kebohongan yang bisa ia keluarkan, tapi ia malas memutar otaknya sehingga ia menjawab apa yang ada di kepalanya “Topi.”

“Untukmu” Sina menambahkan dalam hati.

Sehun mengangguk, sebenarnya ia ingin masih melanjutkan pembicaraan tapi melihat Sina yang ekspresinya seperti mengatakan bisa-kau-diam-saja? Akhirnya Sehun memilih diam. Sementara itu dengan Sina. Ia memang bosan dan memilih memasang wajah bosannya daripada pura-pura tersenyum ketika Sehun mengajaknya bicara, dan kenyataan yang tidak ditangkap Oh Sehun adalah justru karena ia bosan ia butuh teman bicara. Sina sama sekali tidak terganggu dengan Sehun yang mengajaknya bicara, mungkin ia memang cukup pendiam untuk gadis pada umumnya tapi itu tidak membuat Sina menjadi seorang manusia yang tidak membutuhkan teman bicara.

Sehun dan Sina sama sekali tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, jika saja Sehun mengerti Sina memang memiliki wajah seperti itu dan Sina mengerti bahwa ekspresi wajahnya membuat orang berpikir ulang untuk mengajaknya mengobrol tentu perjalanan di bus malam itu tidak akan menjadi sunyi.

 

“Kita sampai.” Sina berdiri dan menepuk bahu Sehun yang sudah tertidur lebih dari setengah perjalanan. Sehun segera berdiri dan mengucek matanya. Ia menguap sekali dan cukup memberitahu Sina bahwa ia memang mengantuk.

“Dari sini aku bisa berjalan sendiri Sehun.” Sina merasa sedikit sungkan melihat Sehun yang masih memaksakan diri mengantarnya.

Sehun segera membuka matanya lebar dan menggelengkan kepala “Tidak, justru sudah sampai disini sekalian saja aku mengantarmu.” Sehun segera berdiri dari kursinya dan menyandang ransel ke bahunya.

Akhirnya mereka berdua turun dari bus, tanpa Sina berusaha keras meyakinkan dirinya sekali lagi ia bisa pulang sendiri, ia tahu itu percuma untuk menghentikkan Sehun.

Sehun yang meregangkan tangannya begitu turun dari bus segera sadar pemberhentian bus ini merupakan pemberhentian yang baru saja ia datangi sore tadi ketika ia ke rumah Miyoung. Rasanya aneh mendatangi tempat yang sama dua kali secara kebetulan, begitu yang ia pikir.

“Aku baru saja ke sini.” Sehun berkata pada Sina yang sedang mengambil minuman di vending machine. Sina memberikan satu kaleng kopi hangat pada Sehun sementara dirinya meminum susu pisang. Meskipun Sina tampak tenang tapi dalam hati sebenarnya ia mulai panik tidak tahu kemana ia harus pulang, apakah membiarkan Sehun tahu bahwa ia dan Miyoung adalah kakak adik adalah hal yang baik?

“Ada temanmu disini?” Sina pura-pura bertanya, ia tahu alasan Sehun datang ke perumahannya, tentu saja mengunjungi Miyoung yang tak lain adalah rumahnya juga. Tapi tetap, Sina penasaran apakah Sehun segera mengakui ia mendatangi rumah kekasihnya?

Sehun tersenyum dan menunduk sambil memegang leher belakangnya, pipinya yang putih pucat menjadi kemerahan, jika perempuan lain melihatnya mungkin mereka akan menganggap ekspresi Sehun sekarang merupakan ekspresi termanis untuk seorang pria, tapi Sina, ia bukan perempuan lain, ia tidak atau mungkin belum, menemukan sisi manis dari ekspresi tersebut, ia hanya menatap Sehun datar menunggu jawabannya.

“Rumah kekasihku di sini.” Sehun menjawab jujur membuat Sina dalam hati sedikit lega, hal itu mengartikan Sehun cukup serius dengan Miyoung. Ini bukan karena Sina peduli pada Miyoung ia hanya suka melihat pria yang jujur.

Dan melihat Sehun yang jujur membuat Sina segera mengambil pilihan bahwa ia akan membawa Sehun ke rumah aslinya, ke rumah tempat di mana Miyoung yang baru saja Sehun kunjungi akan kaget melihat kekasihnya kembali datang ke rumahnya terlebih bersama adiknya. 

Sina memilih membiarkan hal yang sudah seharusnya diketahui segera diketahui. Ia sadar ia tidak menginginkan ada saat di mana ia harus bersembunyi dari Sehun, membayangkan sebuah adegan drama ketika Sina tertangkap basah merupakan adik dari Miyoung saja segera membuat Sina yakin bahwa Sehun harus segera tahu bahwa teman sekelasnya sendiri adalah adik dari kekasihnya.

 

Sehun terus berjalan di belakang Sina, matanya terus menyusuri jalan yang mereka lewati, dan semakin ia melangkah semakin kuat rasa yakinnya bahwa bisa jadi Miyoung dan Sina adalah tetangga. Jalannya sama persis, sekalipun malam hari ia masih mengingat pagar masing-masing rumah.

Sina terus berjalan, ia bisa mendengar langkah kaki Sehun di sebelahnya dan sebenarnya itu membuatnya merasa paranoid. Mendengar suara orang berjalan di belakangnya untuk jangka waktu yang lama membuat ia merasa diikuti meskipun pada konteks aslinya ia memang diikuti.

“Sehun” Sina menghentikkan langkahnya dan menengok pada Sehun yang ikutan berhenti.

“Sudah sampai?” Ia bertanya.

Sina menggelengkan kepalanya “Kau bisa berjalan di sebelahku atau mungkin di depanku. Ada orang berjalan di belakangku membuatku merasa akan disergap kapan saja.”

Sehun terdiam merasa kaget dengan dua alasan.

Itu kalimat terpanjang pertama yang pernah ia dengar dari Ahn Sina. Selama menghabiskan waktu berhari-hari dengannya, rekor terpanjang Sina adalah tujuh kata itu pun karena ia harus membaca sebuah kalimat di buku. Dan sekarang Sina mengatakan dua kalimat tanpa jeda yang membuat Sehun kaget untuk alasan yang sebenarnya sepele.

Sina paranoid? Itu merupakan fakta baru tentang Sina yang cukup membuat Sehun mengerti bahwa perempuan ini tidak seperti apa yang selama ini ia lihat di sekolah. Hal itu membuat Sehun yakin bahwa ia tidak cukup tahu tentang Sina sekalipun mereka sudah menghabiskan waktu bersama banyak, meskipun hanya dengan membaca buku dan bertukar pikiran tanpa sekalipun mengangkat urusan pribadi dalam topik pembicaraan mereka.

Dan hal selanjutnya yang terjadi begitu mereka berjalan melewati beberapa rumah hanya makin meyakinkan Oh Sehun bahwa ia memang tidak mengetahui Sina sebaik apa yang ia kira.

Sina berhenti di depan rumah Miyoung dan mengatakan hal yang membuat otaknya berusaha merecap ulang apa yang telah terjadi selama ini.

“Ini rumahku.”

Satu kalimat itu cukup menjawab tanda tanya Sehun namun membuat pertanyaan baru dalam otaknya, apakah ia cukup mengenal Miyoung?

 

Miyoung masih tersenyum di meja makan, mengingat momen Sehun mengunjunginya. Ia memegang pipinya yang terasa hangat meskipun sudah beberapa jam sejak Sehun mengecup pipinya lembut, ingatan Miyoung masih terasa segar. Ia memang bukan gadis yang sekali dua kali pacaran. Kalau dikatakan Miyoung berpengalaman dalam menjalani sebuah hubungan romantis antara pria dan wanita itu memang benar. Ciuman pertamanya sudah diambil sejak ia masih SMP, dikecup oleh seorang pria bukan hal baru untuknya. Namun meski begitu, ia masih tidak mengerti bagaimana bisa Sehun meninggalkan kesan yang berbeda dengan pria sebelumnya. Itu hanya kecupan di pipi biasa, tidak sampai dua detik, tapi jantung Miyoung rasanya berhenti berdetak.

“Hhaaah..” Miyoung menghela napas panjang, bibirnya belum berhenti tersenyum. Tangannya segera mengambil hp yang tergeletak di atas meja makan. Tanpa pikir panjang ia langsung menekan panggilan pertama, Sehun.

 

“Hunnie!” terdengar panggilan baru dari Miyoung begitu ia menerima panggilan. Sehun menatap Sina meminta sedikit waktu sebelum Sina masuk ke rumahnya.

“Sudah sampai rumah? Sudah mandi? Sudah makan?” Miyoung langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan. Sehun segera menjauhkan hp dari telinganya, suara keras tidak terlalu cocok untuk telinganya “Pelan-pelan Miyoung.”

“Jawab pertanyaanku!” Miyoung terdengar tidak peduli dengan protes Sehun. Sehun yang sudah mengerti karakteristik Miyoung hanya menggelengkan kepala sekali pun ia tahu Miyoung tidak akan melihatnya. “Aku masih belum pulang jadi aku belum mandi atau makan.”

Miyoung kembali mengoceh mendengar jawaban Sehun, tapi Sehun, pikirannya masih sibuk pada fakta yang baru ia dapatkan, sebenarnya ia tidak marah Miyoung tidak memberitahu bahwa Sina adalah adiknya, Sehun hanya bingung. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang, apakah ia harus memberitahu Miyoung “Miyoung ternyata adikmu adalah teman kerjaku, kenapa aku baru tahu sekarang ya?”  Tidak, ia merasa konyol.

Sina mulai bosan menunggu Sehun berbicara di telpon, kakinya mulai lelah ia ingin duduk tapi Sehun memintanya untuk menunggunya. Sehun yang menyadari wajah bosan Sina yang terlihat makin  bosan akhirnya segera mengakhiri panggilannya dengan Miyoung. “Batereku habis!” Ia berbohong dan segera mematikan telepon, ia tahu Miyoung akan marah, tapi ia yakin keesokan harinya Miyoung akan melupakan hal itu.

“Boleh aku masuk rumahku sendiri?” Sina bertanya sambil memegang gagang pintu rumahnya, melihat hal itu Sehun langsung berlari dan menghentikan tangan Sina sebelum ia membuka pintu. Sina mengerutkan dahinya melihat seseorang memegang pergelangan tangannya.

“Tunggu! Ada sesuatu yang harus kuberitahu pada-“ begitu Sehun menyelesaikan kalimatnya Sina langsung memotong “Aku tahu kok”

“Miyoung kan? Kau pacar kakakku kan?” Sina bertanya dengan santai, ia tidak peduli dengan wajah Sehun yang kembali memerah.

“Bagaimana kau tahu?” Sehun bertanya

Sina memutar bola matanya, menurutnya pertanyaan itu tidak penting. “Aku melihat foto kakakku di hp mu.”

Sehun mengerjapkan matanya “Ba-bagaimana kau tahu?”

Sina yang mulai mengantuk akhirnya tersenyum “Oh jadi itu benar?” Sina tertawa kecil melihat Sehun termakan jebakannya, Sehun mengerutkan dahinya dan menunduk, kesal dan malu pada saat yang bersamaan.  

“Tentu saja Miyoung sendiri yang memberitahu padaku, kau pikir aku membututi kalian berdua?” Akhirnya Sina berkata lagi untuk menjelaskan semuanya.

“Apakah Miyoung sudah tahu bahwa aku teman sekelasmu?” Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Sina, semburat merah pada pipinya sudah hilang. Sina menggigit bibirnya dan menggeleng “Sepertinya belum tapi mungkin sebentar lagi akan.”

“Bisa jangan beritahu dia kalau aku sudah mengetahuinya?”

Sina terdiam, berpikir apa ia harus menerima permintaan Sehun?

“Aku akan diam  saja, tapi kalau Miyoung bertanya aku akan menjawab dengan jujur.” Sina akhirnya menemukan jawabannya, ia tidak suka berbohong.

Sehun pun tersenyum dan mengangguk kepalanya “Terima kasih Sina! Baiklah aku akan pulang dulu, setelah aku sampai di pertigaan kau baru boleh membuka pintu, oke?” Sehun pun berjalan mundur dan melambaikan tangannya pada Sina.

Sina hanya mengangguk dan melihat Sehun yang terus berlari sampai pertigaan dan kembali melambaikan tangannya. Sina pun mengangkat kedua tangannya dan melambaikan tangannya. Sehun tersenyum tidak menyangka seorang Ahn Sina akan membalas lambaian tangannya.

_____

(a/n)

AH SEHUN ;_;

Maaf untuk bintangdj tapi salahkan Sehun kenapa ia begitu ganteng di Growl sehingga mau ga mau kemunculan dia di pastel jadi…

agak banyak ._.

HAHA

Tenang aja itu memang plot😉

Dan lagi yang bikin author gemes, konsep anak sekolahan Growl bener-bener persis sama bayangan author kalau Sehun pake seragam kayak gimana ._.v

Oke untuk SinaXTao shipper mohon sabar ya ^^

xoxo,

Pikrachu❤

3 thoughts on “PASTEL #006

  1. Sina butuh belajar gimana caranya berekspresi dari Baekhyun deh.. Soalnya ini bocah ekspresi bersahabat aja mirip pengen ngajak orang berantem

    Oooohhhh Sehhhuuuunnn.. Aku nge-shipp Sina-Sehun Hohoho alasannya karena kita seumurann /alasan apa ini??/ Tapi sama Tao kiyut juga sih
    Aaggjhhh bingung *jambak rambut*

  2. Waaaa akhirnya sehun tauuuuu ><
    Tapi kenapa sehun minta dirahasiain kalo dia udah tauuu?? Hayo hayoo..

    Kenapa sina ngelanjutin "untukmu" nya dalem hati? Aduududuuuuuh ih gemes sama sehuuuun x3

    Okefix sehun cintaku emang minta digebuk saking aw aw nya (?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s