Pizza Man

pizza man copyTitle : Pizza Man

Author : naminaya

Genre : Romance, comedy and family togetherness

Rating : PG

Length : Chapter

Cast : Cho Kyuhyun, Aliana, Ryeowook, Lee Din Ri and Aliana’s family

My first ever fan fiction!! Aku tahu sih pasti masih banyak cacatnya… tapiii semoga layak publikasi yah, amiiin…

Oh ya, kritik dan saran sangat diharapkan ya kawaaan🙂 Selain itu aku nggak bisa bikin poster hehe… mungkin nanti aku minta bantuan kakak-kakak kelasku yang baik hati yah… hehe. Cause I’m the youngest author ’till now:D real name? Inaya Putri Namira aka Inaya.

Enjoy!

˚˚˚˚˚

Kelopak mataku membuka perlahan-lahan, maksudku dengan amat sangat perlahan lahan.

Siapapun yang ada di depanku, yang jelas mata fanaku tak sanggup melihat pesonanya yang menyilaukan.

Jadi begini, kita harus mundur 1 jam jika ingin tahu cerita lengkapnya.

Pukul 12 siang, matahari persis berada di atas kepalaku–ralat, lampu bohlam yang ada di atas kepalaku. Yang jelas saat itu aku benar-benar lapar. Aku mencopot earphone ku, sayang sekali, padahal aku lagi seru-serunya nonton My Princess. Kuseret langkah menuju kulkas dan membukanya dengan satu sentakan. Hatiku mencelos, mama pasti bercanda. Mama pergi sampai malam untuk rapat dengan orang-orang penting (yah, paling tidak mereka penting di mata mama, tidak di mataku) dan meninggalkan putrinya tanpa makanan!

Maksudku makanan yang bisa dimakan. Di kulkas memang ada irisan daging asap dingin, kalkun panggang, daging bulgogi dan susu. Tapi ayolah! Mama sudah tinggal bersamaku 17 tahun dan mama masih sering lupa bahwa anaknya adalah seorang vegetarian! Memang sih aku mulai menjadi seorang vegetarian baru 2 bulan. Dan kalian harus tahu bahwa aku menjadi vegetarian bukan karena aku mengikuti ajaran Hinduisme atau menghargai hak hidup sapi atau apapun alasan-alasan konyol semacam itu. Aku bisa berpikir rasional, dan menghargai hak hidup sapi?! Itu bukan jenis pemikirian yang kuanut.

Menjadi vegetarian, aku punya alasan yang kuat untuk itu.

Yah, 2 bulan yang lalu mama mengajakku ke sebuah penjegalan hewan ternak. Percayalah, mama mengajakku ke PENJEGALAN hewan ternak di SABTU PAGI. Sangat buang-buang waktu. Sebenarnya aku tidak masalah menyaksikan seekor sapi disembelih, maksudku bukannya aku kejam, tetapi… bukankah itu tujuan sapi diciptakan? Untuk dimakan kan? Bukan salahku mereka harus disembelih, jadi menurutku menyaksikan penjegalan hewan ternak itu nggak buruk-buruk banget.

Yang membuatku jadi vegetrian adalah… setelah menyaksikan penjegalan dan setelah mama mendapatkan bagian sapi paling empuk yang ia inginkan kami melewati tempat pembuangan. Ya, tempat pembuangan daging-daging tentunya. Dan percayalah padaku, pemandangan tempat pembuangan daging busuk yang dihuni ratusan lalat dan bau yang menyengat bukan pilihan yang oke untuk menghabiskan Sabtu pagimu yang berharga. Well, sejak saat itu aku menolak menyantuh daging apapun. Dengar itu? APAPUN! Tanpa terkecuali, tapi tentu saja aku masih makan seafood.

Kembali ke siang diamana aku merasakan lapar setengah mati tanpa makanan yang dapat kumakan itu. Karena tidak ada makanan yang dapat kumakan kuputuskan untuk memesan pizza. Harus menunggu, tapi aku cukup yakin dapat bertahan hidup selama satu jam dengan segelas susu dan perut keroncongan.

Aku berjalan menuju telefon dan mulai memencet nomor restoran pizza terdekat. Setelah menunggu  selama 3 nada sambung akhirnya seorang petugas mengangkatnya.

“Selamat sore, ada yang dapat kami bantu?” tanyanya dengan nada riang.

“Bodoh, ini masih siang.” gumamku ketus.

“Oh yah? Ya Tuhan! Hyung, kau belum memperbaiki jam tanganku?” Huh, aku bahkan tak peduli jika jam tangannya masuk selokan. Yang kupedulikan saat ini adalah pizza! Tak bisakah mereka mengerti? Oh ya, bodoh. Tentu saja mereka tak tahu kondisi perutku. Aku mendesah frustrasi.

“Hei jam tanganmu kau urus setelah pesananku bisa tidak?!” bentakku pada telefon, tapi suara yang keluar dari mulutku kedengaran lebih kasar daripada yang kumaksudkan.

“Oh ya.. Minhae, jongmal minhae. Kalau begitu ada yang dapat kami bantu?” Menyebalkan, siapapun yang ada di ujung sana perlu getokan tepat di puncak kepalanya. Ya benar dia minta maaf, tapi nada suaranya tetap riang, bahkan kedengaran seperti sedang menahan tawa.

“Peperoni pizza tanpa peperoni, ukuran personal.” jawabku santai sambil mengamati kukuku.

“Mwo? Bisa tolong diulangi?” kedengarannya bingung.

Aku menyunggingkan senyum kemenangan, walaupun pria menyebalkan di ujung sana takkan bisa melihatnya. “Di mana kau simpan telingamu tuan? Aku bilang peperoni piza tanpa peperoni, ukurannya personal.” aku kedengaran sangat menyebalkan.

“Oh ya, baiklah jika itu yang anda mau. Ditunggu selama 30 menit. Nama dan alamat?” tanyanya walaupun nada suaranya masih kedengaran sangsi.

Aku berdeham dan mengusahakan suara yang berwibawa. “Anda berbicara dengan Miss Aliana, dan saya tinggal di kompleks Seongbuk-dong’s Noble Homes  blok A nomor 13. Cukup jel

“Bukan nama Korea.” gumamnya.

“Aku memang bukan orang Korea, aku hanya menetap di sini untuk sisa hidupku. Aku orang Indonesia. Yah, ayahku orang Korea sih.” jawabku dengan kebanggaan.

“Well, never heard about that country before.” Apa dia bilang? Oh-oh-oh… dia berani menghina negaraku? Takkan kubiarkan.

“Aku juga tidak ingin tinggal di negeri ini, pelayanan pizzanya payah.” balasku.

“Haha, kuakui kau punya nyali nona. Baiklah tunggu 30 menit lagi dan pizza pesanan anda akan segera datang.”

“Kutunggu. Dadah.” ujarku lalu menutup telefon. Apakah aku kedengaran tidak sopan? Atau bahkan kurang ajar? Terserah lah. Aku tak peduli.

31 menit kemudian…

“Pizza!” terdengar ketukan dan teriakan pelan dari pintu. Aku langsung berlari sprint menuju pintu dan segera membukanya.

“Terlambat 1 menit.” ujarku malas, sambil menyerahkan sejumlah uang. Lalu mataku menatapnya, menatap si pengantar pizza, entah kenapa menatap langsung ke matanya dan sontak mataku menutup lagi.

˚˚˚˚˚

How is it?? Is it good?? Or maybe bad?? Oh ya, tapi nggak seru niiih… author pikrachu udah tahu akhir ceritanyaa:(

Rencananya aku nggak akan buat ff baru sebelum yang ini selesai, biar fokus dan lebih maksimal.

With Love,
naminaya~

One thought on “Pizza Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s