Nickname

ZELO OF BAP x OC

ROMANCE, FLUFF, AU; PG

“”””

Zelo? Kenapa Zelo? Karena Zelo adalah satu-satunya idol yang mendekati kata ‘bias’ di-list author yang umurnya lebih muda daripada author. Ini anak bikin ngerasa tua… Ya udah deh o.o… Cerita ini tidak didedikasikan untuk Pikrachu tapi untuk nyenengin Pikrachu juga. So rather than I babble, onwards to the story! Enjoy~🙂

♦nickname- –

♦nickname- –

Cahaya matahari bersinar di langit biru. Awan putih seperti permen kapas menghiasi langit. Rerumputan dan pohon terlihat lebih hijau dari biasanya. Udara sejuk, kontras dengan musim panas pada umumnya yang hanya membakar kulit, dalam definisi paling mudahnya. Hari ini adalah hari yang tidak biasa – atau mungkin tepatnya adalah spesial.

“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Jung Yoonhye, selamat ulang tahun” suara anak-anak bernyanyi datang dari sebuah taman yang biasanya cukup sepi. Namun sekarang taman ini dihiasi balon-balon warna-warni.

Di tengah-tengah taman itu terdapat meja berwarna putih yang ditutupi oleh taplak kotak-kotak berwarna merah. Anak-anak sekitar umur enam dan tujuh tahun duduk melingkari meja itu, menatap kue putih dengan hiasan buah strawberry di atasnya.

Yoonhye, seorang anak perempuan yang sekarang berumur tujuh tahun tersenyum senang saat ia meniup tujuh buah lilin yang berdiri di atas kue yang tampak lezat itu. Ia menutup matanya, mengucapkan sebuah harapan di dalam hati sebelum melakukannya.

Anak-anak yang lainnya bersorak saat ibu Yoonhye memotong kue-kue itu dan membagikannya masing-masing satu potong kepada mereka. Dengan lahap, mulut mereka segera terisi oleh kue dan di sisi bibir mereka krim kue melekat sana-sini.

Sebelum semua anak dapat menyelesaikannya, seorang telah selesai. Anak laki-laki yang walaupun berwajah bayi, tubuhnya tinggi dan ceking untuk seumurannya. Ia menatap Yoonhye yang masih memakan kue porsinya.

Anak laki-laki itu tertunduk sebelum akhirnya dapat mengeluarkan keberaniannya. “Noona,” ia memanggil ke arah Yoonhye. Yoonhye melirik ke anak laki-laki itu, masih dengan kue di mulutnya.

“Ada apa Junhong-ah?” Yoonhye bertanya dengan senyum di wajahnya. Junhong menunduk lagi sebelum akhirnya menatap perempuan yang lebih tua sedikit darinya.

Ia menelan ludah. “Yoonhye Noona memohon apa tadi?” Junhong bertanya. Ia merasa sangat bodoh dalam melakukannya. Mana mungkin ada orang yang mau memberitau apa yang mereka harapkan di saat ulang tahun. Namun sebelum Junhong menarik kembali pertanyaannya, Yoonhye menarik lengan Junhong yang duduk di sebelahnya.

“Choi Junhong, kau harus berjanji padaku terlebih dahulu kalau kau tidak akan memberitau siapapun?” Junhong hanya bisa mengangguk sementara Yoonhye mendekatkan wajahnya ke telinga Junhong.

Ia dapat mendengar suara tawa pelan Yoonhye saat ia membisikan sesuatu ke telinga Junhong. “Aku berharap, nanti, NANTI, aku dapat mendapatkan laki-laki yang bisa menjadi Oppa-ku”

Entah kenapa sesuatu di dalam perut Junhong seperti terjatuh.

Sepuluh tahun tepatnya setelah ulang tahun yang menggariskan batas kehidupan Choi Junhong terjadi. Sepuluh tahun telah berlalu dan ia tumbuh menjadi laki-laki tinggi dan populer, disukai oleh banyak orang. Namun tetap saja, ia bukanlah tipe Gary Sue yang sempurna.

Choi Junhong memiliki sebuah ambisi. Ambisi yang mungkin bisa menjerumuskannya lebih dalam dari apa yang ia kira.

Pikirannya terlepas ketika ia mendengar seseorang memanggil namanya. “Junhongnie~!” Junhong hanya bisa menahan napas ketika sepasang lengan memeluknya dari belakang. Menahan mukanya yang memerah, ia mengintip ke belakangnya. Seorang perempuan – yang jelas lebih pendek dari dirinya yang menjulang – menyembunyikan mukanya di punggung Junhong. Walaupun begitu ia masih mendengar namanya disebut berulang-ulang.

“Yoonhye Noona, panggil aku Zelo. Semua orang memanggilku dengan itu, bahkan bibi juga” Junhong berkata, namun ia merasakan kepala Yoonhye menggeleng di punggungnya. Ambil napas, buang napas…

Yoonhye melepas pegangannya dan perpindah ke lengan Junhong. Senyum iseng ada di mukanya. “Junhong adalah Junhong” dan jawabannya hanya membuat laki-laki itu menghelakan napasnya. Rasanya meminta ibunya memanggilnya Zelo lebih mudah, JAUH lebih mudah.

“Terserah” Yoonhye tertawa melihat Junhong cemberut. Yoonhye menyentuh pipi Junhong dengan sedikit kesulitan, karena walaupun mereka lahir pada tahun yang sama dan teman sekelas, Choi Junhong harus telahir sebagai bagian dari Choi-line.

Junhong lagi-lagi harus berusaha keras agar darah tidak naik ke pipinya. Oleh karena itu ia melihat ke arah lain, membuatnya kelihatan lebih kesal dibandingkan dengan kenyataannya. Dan Yoonhye berpikiran demikian. Karena itu ia menarik tangannya kembali. Memiringkan kepalanya ke sisi kanan sedikit Yoonhye terus menatap Junhong yang masih menolak untuk melihat ke arahnya.

Ia benar-benar berusaha, Junhong bahkan bisa bersumpah atas nama semua orang-orang bermarga Choi, namun ia tetap tidak bisa menahannya sehingga ‘meminta’ orang yang satunya untuk tidak menatapnya adalah pilihan terakhir. “Noona, kau menatapku seperti ingin memakanku saja” nadanya bercanda.

Yoonhye memukul lengan yang sebelumnya ia pegang. “Yah, kita teman sekelas, bagaimana mungkin kau memanggilku Noona?”

Junhong hanya tertawa sambil mengacak-acak rambut Yoonhye, menerima teriakan protes dari perempuan itu. Namun itu hanya membuat tawa Junhong lebih keras. “Noona adalah Noona, selama aku lahir beberapa bulan setelahmu, Jung Yoonhye adalah seorang Noona” perkataannya membuat Yoonhye memukulnya lagi, namun lebih lemah dan Yoonhye tersenyum kecil.

Selang beberapa detik Yoonhye sudah memegang erat lengan Junhong lagi. Junhong berpikir mungkin ia harus segera mencari dokter terapi untuk Yoonhye mengingat mood swingnya yang terkadang terlalu ekstrim untuk dibiarkan saja.

Itu, atau mungkin Junhong tidak ingin melihat wajah Noona-nya itu menatapnya demikian. Namun ia tidak mengatakan apa-apa saat Yoonhye membuat laporannya. “Junhong-ah, apa kau pernah melihat Himchan Sunbae-nim?” itu adalah pertanyaan lugu, jelas. Namun itu bukan apa yang membuat Junhong merasa di tepian tebing.

“Junhong-ah, mungkin dia bisa menjadi Oppa-ku di masa depan” Yoonhye meletakan sebuah jari di dagunya. “Dia lebih tua dan lebih dewasa, ia pasti bisa memanjakan aku seperti… bayi!” ia setengah teriak ke arah wajah Junhong.

Tetapi Yoonhye terlalu ditutupi oleh khayalannya sendiri sehingga ia tidak menyadari muka masam Junhong yang hanya mengatakan beberapa kata yang tidak jelas di bawah napasnya. Mungkin apabila Yoonhye bukanlah Yoonhye bagi Junhong, dia mungkin benar-benar akan menyuarakan pikirannya.

Mari kita mulai lagi… Dengan sarkasme, berjuta ton sarkasme yang ada di dunia.

Kertas dengan warna merah di depannya, huruf A+ menghiasi latar kertas yang berwarna putih. Gurunya tersenyum kepada Junhong yang mengenakan wajah poker face. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya. Choi Junhong adalah pemalas yang menghabiskan waktunya untuk menari atau bermain skateboard sampai detik terakhir sebelum ulangan, namun selalu melewatinya dengan nilai-nilai yang melebihi kata ‘baik’.

Junhong kembali ke kursinya, mata menatap malas ke depan. Itu, sebelum orang di sebelahnya memanggil namanya. “Junhongnie,” ia tidak perlu menengok untuk tau siapa yang baru saja memanggilnya, lagipula bagaimana ia lupa dengan suara itu?

“Ada apa Yoonhye Noona?” Junhong hampir dilempar dengan sebuah penghapus karena lagi-lagi – walaupun sebenarnya hal tersebut merupakan bagian dari kesenangan Choi Junhong – Junhong memanggil Yoonhye dengan sebutan ‘noona’,

Untung saja mereka sedang berada di kelas sehingga tangan Yoonhye kembali ke bawah meja, walaupun mukanya tetap menunjukkan rasa tidak suka terhadap Junhong dan panggilannya untuknya. Tetapi sedetik kemudian senyum menghiasi wajahnya, seperti kejadian sebelumnya tidak pernah terjadi.

“Selamat ya, kau mengalahkanku lagi,” Junhong hanya bisa menganggukan kepalanya. Namun ia berhenti saat Yoonhye menyembunyikan senyum isengnya dengan menghadap ke depan kelas. Tetapi Junhong dapat mendengarkan kata-kata Yoonhye berikutnya. “… dongsaeng

Junhong yakin Yoonhye tidak bermaksud jahat. Nadanya memang iseng tetapi tidak ada niat buruk di baliknya. Tetapi Junhong merasakan tubuhnya menjadi kaku untuk berapa saat bahkan setelah kelas dimulai.

Ia mencuri pandang ke Yoonhye yang mulai menggambar asal di bukunya – seperti biasa, tapi Junhong menemukan dirinya tidak dapat menatap terlalu lama. Ia melihat ke dirinya sendiri – sejauh ia melihat dari posisi duduknya.

Choi Junhong tinggi menjulang. Ia bukanlah orang yang bodoh, pada kenyataannya orang-orang mulai memanggilnya 15 year old genius sejak setahun yang lalu. Junhong bukan orang yang membosankan dan ia tidak kekanak-kanakan – walaupun hanya dia yang beranggapan demikian.

Tetapi tetap saja, seberapa ‘dewasa’ seorang Choi Junhong, ia tidak bisa mengubah waktu agar dapat keluar dari rahim ibunya sebelum Jung Yoonhye.

Satu hal yang membuat sekolahnya berbeda adalah sebuah kenyataan dimana ranking paling bawah di suatu kelas merupakan bagian dari 50 besar di sekolah lain. Sangat selektif dan sangat mengutamakan hirarki sosial – atau nilai, melihat fenomena ini.

Choi Junhong tidak pernah senang dengan papan putih besar yang dipanjang begitu ‘megahnya’ di dinding pengunguman, sengaja dibuat begitu besar dan ‘jelasnya’ agar tidak ada yang dapat melewatinya. Termasuk dirinya dan Yoonhye yang baru sampai ke sekolah.

“Yoonhye Noona, ayo…” Junhong menarik hoodie jaket yang dipakai Yoonhye. Namun mata perempuan itu masih melihat barisan nama-nama yang berjejer rapih di papan tersebut. Junhong berusaha menahan keinginannya untuk menarik Yoonhye langung menuju kelas, tetapi bukankah sesuatu yang janggal terjadi?

Junhong mengikuti arah mata Yoonhye namun ia sama sekali tidak punya ide nama siapa yang sebenarnya sedang Yoonhye cari. “Noona, kukira kau tidak suka mengetahui rankingmu?” Yoonhye hanya mengangguk, membenarkan perkataan Junhong.

“Kau mengalahkanku lagi…” komentar Yoonhye, menarik lengan Junhong agar tubuh menjulang Junhong dapat mendekat ke tanah. Jari Yoonhye menunjuk ke arah papan itu, namun Junhong tidak benar-benar memperhatikan, karena wajahnya dengan Yoonhye terlalu dekat, sangat-terlalu dekat.

Junhong mengalihkan pandangannya agar wajahnya tidak terlalu memerah, atau lebih tepatnya tidak bertambah. Junhong menelan ludahnya. “Tapi tidak ada yang peduli di antara kita” respon Junhong terlambat, namun tidak seperti Yoonhye keberatan atau paling tidak, merasakan ada yang aneh.

Yoonhye menatapnya dan tersenyum lebar. “Tentu saja, mengapa aku harus merasa kecewa bila dongsaengku mengalahkanku, lagi?” Junhong tertawa sarkasme.

“Dan kau terus kesal setiap kali aku memanggilmu ‘noona’?” ia berkomentar dan Yoonhye hanya memukul pelan bahu Junhong sebelum menariknya lagi. Yoonhye menunjuk ke arah papan.

“Kau lihat di sana…” dan setelah itu kata-kata Yoonhye tidak terdengar lagi. Junhong berusaha terlihat seperti mendengarkan, namun pada kenyataannya ia tidak. Apabila ia boleh mengutarakan unek-uneknya – mungkin dengan sedikit pemilihan kata yang ‘berwarna-warni’ – maka Jung Yoonhye akan mengerti betapa kesalnya Junhong setiap kali nama kakak kelasnya disebut satu persatu, walaupun tidak ada apa-apa dibalik nada bicara Yoonhye.

Namun tetap saja, apapun yang terjadi pada akhirnya Choi Junhong selalu kesal.

Junhong menegakkan badannya, dan tentunya walaupun Yoonhye menggenggam salah satu lengannya, ia tidak memiliki masalah apapun dalam melakukannya. Junhong melihat nanar ke arah papan putih itu dan menghelakan napasnya.

“Noona benar-benar menyukai lelaki yang lebih tua ya?” Junhong tidak menyadari betapa dinginnya ia mengatakan kata-kata itu sampai Yoonhye menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

Namun Yoonhye, menjadi Yoonhye yang percaya seorang Choi Junhong adalah malaikat dengan sayap di punggungnya – dan pada kenyataannya Junhong jauh dari istilah itu setelah mengerti beberapa ‘hal’ yang ia dengar dari seorang kakak kelasnya – hanya mengedipkan matanya kebingungan.

“Hah?”

Junhong memberikan cengiran lebar sebelum menarik Yoonhye. “Tidak, tidak ada apa-apa” ia berusaha menyingkirkan ingatan mengenai perkataan sebelumnya. “Ayo kita ke kelas sebelum terlambat”

Walaupun Yoonhye merasa ada yang aneh dengan nada yang dipaksakan oleh Junhong, Yoonhye membiarkan dirinya ditarik melalui lorong menuju kelas mereka.

Hari ini jelas bukanlah hari terbaik bagi Junhong, tunggu. Hapus kata-kata sebelumnya, karena hari ini, dengan sangat teramat jelas adalah hari terburuk bagi seorang Choi Junhong.

Bukan karena ia hampir terlambat ke sekolah karena nyaris, sangat nyaris menabrak sebuah stan es krim baru di tepi jalan.

Dan tidak, bukan karena orangtuanya menolak untuk membelikannya skateboard baru. Tidak, ia tidak menyalahkan teman di dekat rumahnya yang harus terlahir sebagai orang paling ceroboh di sepanjang kehidupan pendek Junhong.

Tapi matanya, matanya harus terkontaminasi oleh sebuah adegan yang lama kelamaan terus terulang berkali-kali di kepalanya.

Dan Choi Junhong hanya ingin menyingkirkan ingatan Jung Yoonhye sedang berjalan di samping salah satu kakak kelas mereka. Dan itu begitu ‘menjijikan’ – atau apapun alasan yang digunakan Junhong untuk menjelaskan perasaan yang ia rasakan – bahkan ia tidak tau siapa orang yang bisa-bisanya mencuri posisinya. Posisi Choi Junhong!

Junhong lebih dari sekedar kesal. Maka dari itu ia mengabaikan ajakan pulang Yoonhye – walaupun ia sangat senang, tetapi pada ujungnya egonya menang – dan langsung pergi ke taman tempat ia biasa bermain skateboard.

Tidak perlu mencari terlalu lama bagi Junhong untuk menemukan sesosok pria yang lebih tua darinya – namun maaf-maaf saja, tidak lebih tinggi darinya. Dari kejauhan kulit seniornya yang agak gelap – untuk ukuran orang Korea – dapat terlihat seperti tiang yang berdiri tegak di antara rerumputan.

Atau mungkin Junhong hanya tidak ingin mengakui bahwa seniornya, Kim Jongin sekarang tengah menari di satu pojok dan mencuri perhatian orang-orang di sekitarnya.

Junhong menunggu gerombolan itu menipis saat lagu yang dinyalakan oleh Jongin sebelumnya akhirnya habis. Setelah itu barulah Junhong menghampiri Jongin yang sedang berlatih lagi, namun sekarang tanpa lagu. Junhong hanya berdiri di depan Jongin yang benar-benar fokus dengan latihannya.

Jongin baru tersadar setelah beberapa menit berlalu. “Ah, Junhong-ah…” lelaki yang lebih tua itu hanya melihat ke arah Junhong yang berdiri di sana dengan wajah seperti ingin membunuh siapa saja, skateboard dijepit menggunkan lengan kanannya.

Jongin menunggu reaksi Junhong berikutnya. Merasa mengeluarkan kata-kata secara acak dapat menyinggung Junhong. Dan wajah adik kelasnya yang seperti itu, bahkan pada Jongin sendiri, meneriakan ‘jangan-ganggu-aku-atau-aku-akan-membunuhmu’.

Memilih untuk menunggu, Jongin hanya menatap Junhong dengan salah satu alisnya terangkat. Dan pada akhirnya Kim Jongin hanya dapat menghelakan napasnya ketika Junhong memanggilnya seperti orang yang ingin menangis.

“Hyung~~!”

Kaleng soda terbuka denga suara ‘pop’ yang pelan. Jongin hanya tersenyum kepada Junhong yang langsung menerima minuman yang disuguhan padanya. Sungguh aneh baginya untuk memperlakukan Junhong yang menjulang namun memiliki sikap anak kecil dengan pantas – sesuai umur dan penampilan. Terkadang rasanya Jongin hanya ingin menggelengkan kepalanya.

Junhong langsung meminum setengah dari kalengnya. Ia menghelakan napas saat ia selesai. Untungnya saja ia tidak cegukan dengan kecepatan minum seperti itu.

“Jadi, apa masalahmu lagi?” tanya Jongin tanpa basa basi terlebih dahulu. Junhong yang mulai minum lagi tersedak karena kaget. Walaupun lelaki yang lebih tua ingin mentertawakan dongsaengnya itu, pada akhirnya Jongin menahan tawa sambil menepuk pelan punggung Junhong sampai ia sudah tidak tersedak lagi.

Setelah berhasil menguasai dirinya, Junhong memberikan tatapan kesal pada Jongin yang hanya tersenyum-senyum saja. “Kenapa? Kau tampak memiliki masalah” kata Jongin ringan saja.

Junhong membuka mulutnya untuk berkata hal yang lain. Namun pada akhirnyaia hanya cemberut saja. “Hyung… Apa yang kau rasakan ketika kau sudah sangat~ dekat,” Junhong memperagakannya dengan mendekatkan ujung jari telunjuk dan jempolnya namun berhenti di tengah-tengah. “Tapi kau tidak dapat memperolehnya?”

Jongin hanya tertawa kecil. “Itu lagi?” kurangnya semangat di nadanya membuat Jongin harus menerima satu pukulan di bahunya.

“Yah, bagaimana kalau bahuku patah?” canda Jongin. Junhong menjulurkan lidahnya.

“Itu salah Jongin Hyung dan kalau Hyung tidak bisa menari lagi aku dengan senang hati akan menggantikanmu” mulut Jongin terbuka dengan tatapan tidak percaya. Tapi sebelum ia mengatakan apapun, Junhong mulai mengeluarkan kata-kata pedas pada Jongin.

“Pokoknya Hyung, ini serius!” jelas Junhong. Walaupun suaranya seperti orang kesal ia tetap terdengar seperti orang yang putus asa. Ia memegang tangan Jongin dan memberikan wajah anak anjing yang terluka.

“Hyung, apa yang harus aku lakukan agar tampak lebih dewasa?”

Jongin mengernyitkan dahinya. Ia tau bahwa hanya masalah waktu Junhong akan mempertanyakan hal ini. Satu jarinya menepuk pelan dagunya, berpikir. Kemudian ia melirik ke Junhong yang masih menatapnya dengan penuh harapan akan ‘kata-kata bijak’. “Kau yakin tidak akan menyesal mendengarnya? Karena bagiku menjadi anak-anak tidaklah salah-“

“Tidak, beritahu aku Jongin Hyung” jawaban Junhong sangat mantap, membuat Jongin semakin sulit untuk tidak membuat anak SMA itu melupakan pertanyaannya. Dan Jongin rasanya ingin memukul dirinya karena ia tau ia telah memberikan harapan kosong pada anak itu.

Menelan ludahnya, Jongin memilih satu jalan yang mungkin dapat membuat Junhong mengurungkan niatnya. Kim Jongin tidak ingin anak yang seperti adik kandungnya itu tiba-tiba berlaku seperti Joonmyeon – seorang kakek di tubuh pria awal dua puluh tahunan. Tidak, ia bahkan tidak ingin memikirkannya.

“Kau tau Junhong, kehidupan orang dewasa itu tidak enak” Jongin memulai setelah terbatuk pelan. “Kau akan mudah depresi karena banyak tekanan dan maka dari itu kita sering melihat mereka bermabuk-mabukan sementara kita dapat bersenang-senang. Menari, bermain… tidak peduli akan kata dunia,”

Mata Jongin tidak terlepas dari Junhong yang hanya mengangguk-angguk. “Jadi…” tetaplah menjadi seorang anak kecil selama kau bisa.

Itu yang Jongin ingin katakan sebagai penutup yang luar biasa hebat. Namun tidak, Choi Junhong harus berdiri dengan wajah yang meneriakan ‘masalah’ langsung ke muka Jongin.

“Sekarang aku mengerti!”

Teriakan Junhong malah membuat Jongin semakin was-was. “Aku harus mengumpulkan segala rasa frustrasiku dan akan menghapuskannya kemudian. Mungkin setelah itu aku akan berubah menjadi seorang namja” Junhong mengucapkan revelasinya dengan rasa bangga.

Dunia seperti kaca pecah bagi Jongin yang berusaha mengumpulkan kesadarannya satu demi satu. Mulutnya ternganga. Sungguh, apakah ia terdengar begitu ambigu sampai seorang jenius seperti Junhong salah mengartikannya? Ataukah Junhong menghantam kepalanya di suatu tempat dan kehilangan beberapa sel otaknya?

Jongin tidak dapat menemukan jawabannya ketika Junhong melambaikan tangannya dan menggunakan skateboardnya, pergi meninggalkan Jongin yang di ambang kepanikan.

“Yah, Choi Junhong!” namun panggilannya sudah tidak terdengar oleh anak itu. Jongin menatap tempat Junhong mulai tidak terlihat dan berharap yang terburuk tidak terjadi.

“…Aku akan menelpon apabila aku mendengar informasi darinya… Iya, selamat malam bibi” Yoonhye mematikan panggilan itu dengan perasaan cemas di balik wajah kesalnya.

Jung Yoonhye tidak tau apa yang dipikirkan oleh Junhong untuk membuat ibunya sangat khawatir. “Aish, sampai aku melihatnya, aku akan memukul kepalanya” janji Yoonhye pelan sebelum melempar handphonenya ke tempat tidur – dan untungnya berhasil.

Yoonhye menyorakkan kebahagiannya di dalam hati sebelum melompat ke tempat tidurnya, dimana berserakan pensil dan buku-buku pelajarannya.

Ia bukanlah orang yang rajin belajar, namun mengenal si pemalas namun pintar Choi Junhong mengubah segalanya. Mereka teman yang sangat dekat, berbagi kelas, makan siang – karena Junhong selalu lupa membawa punyanya, dan bahkan mungkin orang tua karena terkadang mereka lupa siapa orangtua siapa.

Namun apabila Yoonhye tidak dapat mengejar nilai gemilang dan prestasi Junhong, mereka dapat berpisah. Mungkin dalam beberapa hal saja, tapi Yoonhye tidak menginginkannya.

Setelah beberapa menit, barulah Yoonhye dapat terfokuskan pada soal matematika yang berjejer, menunggu untuk dikerjakan. Tetapi baru membacanya saja sudah memberikan rasa frustasi. “Apaan ini?!” Yoonhye berteriak kesal, menahan keinginan untuk membuat kertas itu menjadi bola dan melemparnya ke tempat sampah.

Terkadang Yoonhye tidak mengerti mengapa Junhong dapat menatap soal-soal macam ini dengan senyum kecil sebelum mengerjakannya. Yoonhye tidak mengerti mengapa terkadang Choi Junhong, anak yang selalu mengikuti kemana pun ia pergi, memanggilnya ‘noona’ padahal hanya berbeda beberapa bulan, terkadang terlihat lebih tua dibandingkan dengan Yoonhye.

Yah… kalau bukan pada faktanya bahwa memang Choi Junhong menjulang dengan tinggi badannya itu. Tetapi tetap saja, bukan itu permasalahannya.

Tangan Yoonhye meraih handphonenya. Namun ia menariknya kembali sambil menggelengkan kepalanya. Entah mengapa Yoonhye merasa aneh apabila ia yang menelpon Junhong padahal itu merupakan kebiasaan Junhong sebagai yang menelpon terlebih dahulu.

Yoonhye kembali mencoba fokus untuk menyelesaikan kertas yang sudah ia lecek. Namun ia tidak mampu ketika setiap menit matanya melirik ke handphone yang tergeletak dan meneriakan panggilan kepada Yoonhye untuk menggunakannya. Untuk menelpon Choi Junhong.

Berteriak kesal Yoonhye menelpon Junhong. “Paling tidak aku bisa bertanya mengenai soal matematika dari neraka ini” ia berusaha meluruskan apa yang akan ia.

Anehnya Junhong tidak segera mengangkat. Dering ketiga sudah lewat dan Junhong paling lama mengangkat telpon setelah dering kedua. Yoonhye menggigit bagian dalam mulutnya ketika ia terhubung dengan voice mail.

“Apa sih yang sedang ia lakukan?” Yoonhye bertanya pada dirinya sendiri. Ia mematikan perangkat telpon yang mulai menyebalkan itu dan langsung membereskan peralatan belajarnya, memilih opsi dimana ia terlalu ‘lelah’ – bukan karena ia khawatir – untuk belajar.

Tetapi sebelum ia benar-benar akan tidur Yoonhye menyalakan handphonenya lagi. Yoonhye tidak begitu mengapa ia melakukannya, namun rasanya itu adalah hal yang benar untuk dilakukan.

Jam menunjukkan angka sepuluh ketika handphone Yoonhye berdering. Mungkin apabila ID callnya tidak diperhatikan, Yoonhye akan membiarkannya sampai mati sendirinya. Namun tidak, Yoonhye melihatnya dan ia tidak percaya.

Choi Junhong menelponnya jam sepuluh malam. Rasanya Yoonhye benar-benar akan memukul kepala Junhong tanpa ampun ketika mereka bertemu di kelas besok.

“Kau lebih baik memiliki alasan yang bagus untuk membangunkan pada jam seperti ini” omel Yoonhye sebelum ada suara yang datang dari Junhong. Namun ia tidak bisa menahan rasa terkejutnya ketika suara yang membalas, dalam definisi apapun, bukanlah suara milik Choi Junhong.

“Maaf apabila mengganggu” suara ibu-ibu datang dari sisi lain. Yoonhye hanya menelan ludahnya karena perasaan buruk mulai muncul di dalam dirinya, khawatir akan Junhong. “Namun pemilik handphone ini sedang mabuk dan tertidur. Aku berusaha menelpon nomer yang lain namun hanya nomer ini yang diangkat. Bisakah kau membawa orang ini pulang?”

Yoonhye hanya terdiam, mulutnya sedikit terbuka. Otaknya tidak dapat bekerja sejak kata ‘mabuk’. Memangnya apakah mungkin anak di bawah umur seperti Junhong mendapatkan akses ke minuman beralkohol? Lupakan itu, Junhong memiliki otak untuk berpikir, namun kenapa ia tidak menggunakannya, Yoonhye sama sekali tidak mengerti.

Sekarang bagi Yoonhye, rasa kesal dan khawatir sepertinya terlalu bercampur aduk. Tanpa basa-basi Yoonhye menanyakan lokasi tempat Junhong berada. Setelah ia mengingat tempatnya, ia mengambil jaketnya.

Ia tidak bisa menentukan apabila orangtuanya yang sedang kerja lembur adalah hal yang baik atau bukan, karena Yoonhye dapat dengan mudah keluar rumahnya kali itu. Semuanya seperti sudah direncanakan sebelumnya. Yoonhye mungkin akan mempertanyakannya, tapi itu bukanlah prioritas utamanya. Ia mengingatkan dirinya sendiri saat masuk ke dalam bus.

“Dia masih di bawah umur” Yoonhye menjelaskan kepada ibu penjaga toko. Jujur saja ia tidak marah dengan ibu-ibu itu. Memang siapa yang dapat menduga Junhong adalah anak di bawah umur dengan tingginya itu.

Yoonhye hanya tersenyum kecil ketika ia berusaha membangunkan Junhong. Kepala Junhong berada di atas meja. Mulut Junhong ternganga dan air liur menetes dari sisi mulutnya. Yoonhye menahan tawa melihat botol Junhong nyaris penuh. “Yah, kau masih anak kecil juga…” katanya pelan sambil mengacak-acak rambut Junhong yang baru saja dicat.

“…Noona?” Junhong pelan-pelan membuka matanya. Ia nampak sangat terkejut dengan kedatangan Yoonhye. Ia berusaha berdiri dari posisinya namun yang ada dia bergerak ke kanan dan ke kiri sebelum nyaris menabrak meja di sampingnya.

Yoonhye secara refleks memegang lengan Junhong agar paling tidak ia dapat berdiri. Namun tetap saja, tubuh Junhong tetap bergerak-gerak di antara dia memang sedang tidak bisa diam atau Yoonhye yang keberatan dengan tubuh Junhong yang lebih besar daripada tubuhnya.

Menunduk pelan, Yoonhye meminta maaf kepada orang yang menggunakan meja itu. Tetapi Junhong yang mabuk, harus memilih untuk berteriak – dan membuat kondisi menjadi lebih buruk lagi.

“Jangan marahi Noona!” teriak Junhong dengan tampang mabuknya. Namun sebelum Yoonhye dapat menghentikannya, mulut Junhong terlanjur tidak bisa berhenti.

Dengan tubuh yang masih bergoyang ke kanan dan ke kiri, Junhong menunjuk-nunjuk Yoonhye. “Yoonhye Noona adalah noona yang baik – baik sekali, hic” Junhong mulai cegukan tetapi itu tidak menghentikannya ketika ia mulai menangis pelan dengan terisak-isak. Walaupun ketika kau melihatnya itu bukanlah tangisan orang sedih, namun lebih tepatnya, apabila belum cukup jelas, adalah tangisan orang mabuk.

Dan itu membuat Yoonhye semakin frustasi. Namun bukanlah sebuah fakta baru bahwa sebenarnya Choi Junhong beratus-ratus kali lebih memusingkan dibandingkan dengan soal matematikanya.

“Junhong-ah…”

Lagi-lagi, sebelum Yoonhye dapat ‘membantu’ situasi mereka, Junhong menepis tangannya dan mulai mengucek matanya seakan sedang meratapi sesuatu. “Noona suka bersikap aneh –hic, apalagi kalau sedang berse –hic –mangat” Junhong tersenyum konyol.

“Tapi tetap saja, Yoonhye Noona –hic, sangat baik. Noona pantas mendapatkan pria –hic yang pantas… tinggi, tampan, pintar –hic, dan… lebih tua” Junhong menatap tajam ke arah Yoonhye. “Kenapa sih –hic Noona harus suka dengan yang –hic lebih TUA?!”

Yoonhye hanya bisa menutupi mukanya karena menahan malu dengan Junhong yang tiba-tiba benar-benar menangis. Ia kemudian menuntun Junhong keluar dari tempat itu, memberitau Junhong untuk berhenti terisak-isak – karena itu tidak pantas untuknya – dan meminta maaf pada pengunjung yang lain.

Tidak ada yang aneh daripada Choi Junhong yang sedang mabuk. Atau… mungkin ada satu. Sebelum Yoonhye keluar dari tenda itu, sepasang wanita tersenyum misterius kepadanya, seakan-akan mereka tau sesuatu yang Yoonhye tidak tau.

Ia harus membopong Junhong dari halte bus. Rumah Junhong tidak terlalu jauh dari rumahnya sendiri, namun dengan apa yang ia lakukan, rasanya jarak rumahnya yang sudah dilewati ke rumah keluarga Choi, seperti membutuhkan waktu berjam-jam.

Yoonhye melirik ke Junhong yang melihat ke langit, tersenyum-senyum sendiri sambil melihat bintang dan terkadang menggumam tidak jelas. Tetapi ia adalah pembohong besar apabila tidak mengakui bahwa Junhong walaupun ia sedang mabuk berat, cukup tampan.

Apa yang kupikirkan?! Yoonhye menampar dirinya secara mental sebelum memfokuskan dirinya ke jalan kosong di depannya, berusaha tidak memikirkan apapun yang berhubungan dengan Choi Junhong.

Namun, sangat disayangkan ketika Yoonhye sudah dapat mengalihkan pikirannya, Junhong memanggilnya.

“Noona, bisakah kita berhenti dahulu?” sepertinya Junhong sudah tidak cegukan lagi walaupun suaranya masih sedikit mabuk.

“Aku sudah memberitau ibumu sebelumnya, dan ia sangat khawatir-“

“Yoonhyennie, aku mau muntah”

Yoonhye hanya duduk di pinggiran trotoar, menunggu Junhong mengeluarkan isi perutnya sampai puas. Ia mendongak ketika Junhong menghampirinya dan langsung terduduk di samping Yoonhye dengan wajah yang lebih sadar dari sebelumnya.

“Sudah lebih baik?” Junhong mengangguk pelan.

“Aku rasa begitu…” namun tetap ada sedikit nada orang mabuk di suaranya. “Noona, bisakah kita duduk di sini sebentar” Yoonhye tidak menjawab, sudah jelas ia akan menunggu Junhong lebih sadar, lagipula itu akan membantunya.

Mereka terdiam sebelum Yoonhye membuka mulutnya. “Hei Junhong, ketika ibumu bertanya aku menjawab kau tidak sengaja meminum minuman beralkohol milik Jongin Oppa. Tapi sebenarnya, mengapa kau mabuk? Kau bahkan belum 17 tahun”

Junhong menelengkan kepalanya ke arah Yoonhye dan tersenyum kecil. “Aku… aku sedang berusaha menyortir pikiranku… dan mungkin… mencari jalan keluarnya?”

Yoonhye menghiraukan nada bertanya yang diberikan Junhong. Memeluk kedua lututnya, jarinya bermain-main dengan tekstur kasar dari aspal di bawah kakinya. “Apakah itu berhubungan dengan apa yang kau katakan tadi? Tentang aku menyukai pria yang lebih tua”

Tidak ada jawaban selain lampu jalanan yang menyinari muka Jonghun yang warnanya berubah seperti tomat. Yoonhye otomatis tertawa melihat ini dan memukul pelan bahu Junhong yang seperti telah bertemu dengan Medusa. “Aku hanya bercanda!”

Tawa Yoonhye tidak bertahan lama ketika ia melihat betapa seriusnya Junhong dari mata setengah mabuknya. Yoonhye menelan ludah. “Kau tidak bercanda… soal itu?”

Junhong terdiam sebentar sebelum menoleh ke Yoonhye dengan senyuman kecil. “Noona, mengapa kau suka dengan yang lebih tua darimu?”

Yoonhye tidak langsung menjawab. Ia tidak bisa menjawabnya apabila harus melihat ke arah wajah Junhong. “Umm… kenapa ya? Mungkin karena ia akan lebih dewasa daripada aku. Dapat memberitauku apa yang belum kuketahui, dapat melindungiku saat aku ketakutan. Seperti seorang oppa (A/N: kakak)”

Memiringkan kepalanya ke arah Junhong, Yoonhye tersenyum kecil. “Kurang lebih seperti itu”

“Noona,” senyum Yoonhye menghilang mendengar betapa seriusnya suara Junhong, begitu juga dengan ekspresinya. “Apabila aku dapat memberitau apa yang Noona tidak tau, melindungi Noona kalau ada yang menceritakan hantu-“

“Yah!”

“-dan menjadi lebih dewasa dari aku yang sekarang. Bisakah aku menjadi seorang oppa bagi Noona?” Yoonhye hanya menatap Junhong, berusaha memproses perkataan Junhong barusan. Namun entah apabila Yoonhye adalah seseorang yang suka mengelak akan sesuatu atau memang ia tidak tau, karena sekarang Jung Yoonhye hanya tertawa pelan.

“Junhong-ah, kamu masih lebih muda daripadaku, bagaimana kau dapat menjadi seorang kakak bagiku?” kata Yoonhye dengan nada bercanda. Tetapi suara ringan tidak melepaskan raut muka serius Junhong.

“Noona ‘kan tidak bodoh” Junhong cemberut sambil menyilangkan kedua lengannya. Mukanya tidak lagi terlihat begitu serius, namun jelas sesuatu masih mengganggunya. Yoonhye baru saja ingin membuka mulutnya untuk menanyakan apa yang Junhong maksud – walaupun dengan seluruh kesadarannya, Yoonhye paham apa yang lelaki lebih muda itu ingin katakan.

Tetapi sebelum ia dapat melakukannya, sesuatu yang lembut menyentuh pipinya. Wajah Yoonhye langsung berubah merah lebih cepat dibandingkan dengan lampu merah di jalanan. “…J-Junhong” tangan Yoonhye menyentuh tempat Junhong menciumnya.

Junhong tersenyum lebar seperti sebuah beban berat yang menggantung di hatinya terangkat dengan sepenuhnya. “Yoonhye Noona, aku menyukaimu”

Yoonhye tidak percaya dengan pendengarannya, dan otaknya bekerja lebih parah dibandingkan dengan saat ia mengerjakan soal-soal pelajaran yang sangat, sangat sulit. “Tapi bukankah itu akan terdengar aneh? Aku akan memanggilmu ‘oppa’ sementara kau tetap memanggilku ‘noona’?”

Itu bukanlah suatu penolakan. Bukan, karena wajah Yoonhye cerah dan tersenyum kepada Junhong yang sekarang pada posisi tidak percaya. Selang beberapa detik barulah Junhong menjawab. “Tapi prinsipnya sama saja dengan saat Noona bertanya pada seseorang: ‘bolehkah aku memanggilmu secara lebih informal’?”

“Jadi asalkan kita setuju, pendapat orang lain tidaklah penting. Bukankah itu yang Noona sering katakan?”

Yoonhye mengangguk pelan sebelum berkata. “Yah, Junhong Oppa, kau masih mabuk ya?” Junhong membalas dengan tertawa. Entah karena nada bercanda Yoonhye atau karena baru saja Yoonhye memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Itu saja dapat membuat dunia menjadi tanpa gravitasi bagi Junhong.

Junhong tersenyum lebar. “Mungkin~” katanya saat ia setengah meloncat untuk berdiri, tetapi ia kehilangan keseimbangan dan pantatnya akan mencium tanah apabila Yoonhye tidak begitu cekatan untuk membantunya agar tidak terjatuh.

“Ya ampun… Junhong Oppa, kamu benar-benar masih mabuk ya?” Junhong lagi-lagi hanya dapat tersenyum ketika detak jantungnya semakin cepat ketika Yoonhye memanggilnya ‘oppa’. Ia merasa pada akhirnya seorang Choi Junhong seorang yang masih sering bertingkah kekanak-kanakan, dapat menjadi orang yang dapat dipanggil Jung Yoonhye dengan sebutan ‘oppa’.

Mungkinkah ini seperti liburan akhir sekolah datang lebih awal?

Junhong tidak tau, namun ia merasa persis seperti itu – dan mungkin lebih baik. Ketika ia diantar pulang lagi oleh Yoonhye karena jelas-jelas pengaruh alkohol masih ada dalam dirinya, Junhong membuatan mental note untuk berterima kasih pada Jongin entah kapan mereka akan bertemu lagi.

Choi Junhong benar-benar ingin membunuh seniornya. Sangat, sangat ingin. Namun sebelum ia dapat memikirkan seribu cara untuk membunuh Kim Jongin, sakit kepalanya muncul lagi. Junhong mengerang sambil memijat pelan kepalanya.

Untung saja ibunya percaya bahwa Junhong tidak sengaja meminum minuman milik Jongin atau teman-teman sesama dancer yang sudah usia legal semua. Kalau tidak, beban Junhong akan menjadi sepuluh kali lipat dari hangover yang sekarang ia rasakan.

Ia mengerang sekali lagi. “Rasanya kepalaku mau dipecah jadi dua,” omelnya pelan. Namun tiba-tiba suara teriakan membuat semua penat di kepalanya menghilang.

“Junhong Oppa!” napasnya tercekat di tenggorokan. Junhong hanya mengingat beberapa hal di antara ia mabuk semalam. Dan sekarang potongan-potongan gambar itu semakin jelas, dan jelas, dan semakin jelas.

Ia hanya dapat tertunduk ketika Yoonhye sudah ada di depannya, senyum terpasang di wajahnya. Namun Junhong tidak mendongak, sepatu usangnya nampak lebih ‘nyaman’ dilihat dibandingkan dengan wajah Yoonhye. Paling tidak memandang sepatunya tidak membuatnya semerah tomat.

“Yah, Oppa” Yoonhye memanggilnya tidak sabaran. Junhong menggigit bagian dalam mulutnya saat orang-orang mulai berhenti dan melihat mereka.

“Yoonhye Noona… bisakah kau menurunkan suaramu?” pinta Junhong, namun ia dibalas dengan Yoonhye yang menjulurkan lidahnya. Dengan tatapan mengejek, Yoonhye menggelengkan kepalanya.

“Dasar, kau sendiri ‘kan yang bilang,” Yoonhye mendekatkan diri ke Junhong, dan karena Yoonhye lebih pendek darinya, ketika Yoonhye mendongak, wajah mereka hanya selisih beberapa centimeter saja. “Kalau asalkan kita setuju, memanggil satu sama lain dengan sebutan itu tidak apa-apa. Terserah apa kata orang”

Kaki Junhong seperti berubah menjadi jelly. Rasanya berdiri saja membutuhkan energi dan usaha yang besar. Junhong membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, namun saat Yoonhye memanggilnya ‘oppa’ lagi, jantungnya seperti melakukan salto di dalam dadanya.

Mungkin seharusnya ia tidak memiliki ide untuk mabuk saat itu. Mungkin ia masih anak-anak, karena bagaimanapun yang terjadi degup jantungnya semakin cepat dan napasnya tidak teratur. Hanya karena satu kata yang ironisnya merupakan kata yang ia ingin dengar dari mulut ‘temannya’.

“Oppa~” Yoonhye menarik ujung lengan jaket Junhong, mata memohon terpasang di wajahnya. Junhong tau ia meminta sesuatu, namun Junhong tidak dapat mendengarnya dengan kondisi ini.

Kenapa semuanya serba salah?

Junhong memutar arahnya dan berjalan, meninggalkan Yoonhye yang berteriak-teriak kesal di belakangnya. Langkah Yoonhye dan omelannya mengikuti langkahnya, namun kepalanya tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Itu, dan senyum yang ada di mukanya.

Tangan kecil memainkan sekuntum bunga. Rumput hijau menjadi karpet dan langit biru menjadi atap. Cahaya matahari lembut dan angin sepoi-sepoi melengkapi suasana damai ini. Jung Yoonhye, usia lima tahun melihat temannya yang duduk di sampingnya.

Kurus dan tinggi untuk usianya, Choi Junhong hanya menatap depannya dengan nanar. “Junhong-ah,” barulah setelah Yoonhye memanggilnya, mata Junhong terlepas dari pemandangan di depannya.

“Kenapa Noona?” tanya Junhong dengan suara khas anak kecil. Ia menyadari Yoonhye tampak sedang memikirkan sesuatu. “Noona?”

“Junhong, bolehkah aku memanggilmu ‘oppa’?” pinta Yoonhye. Junhong menatapnya dengan bingung.

Jari telunjuk Junhong menggaruk pelan dagunya, berpikir. “Bukankah itu aneh? Aku memanggilmu ‘noona’ sementara Noona memanggilku ‘oppa’. Nanti orang akan bingung siapa yang lebih tua?”

Senyum Yoonhye sedikit mengendur setelah menyadari kebenaran dari kata-kata Junhong. Menyadari temannya agak kecewa, Junhong menepuk pundak Yoonhye dan tersenyum lebar.

“Tapi nanti saat aku benar-benar dapat menjadi orang dewasa yang keren, Noona dapat memanggilku ‘oppa’ kapanpun Noona suka!” Junhong berusaha membuat Yoonhye senang lagi. Perkataan Junhong berhasil membuat Yoonhye tersenyum kembali.

“Benarkah?” Junhong mengangguk dan Yoonhye langsung berteriak senang. Anak laki-laki itu hanya dapat melihat sahabatnya mulai bersemangat sekali karena rasa bahagia. Namun di saat ia lengah, Yoonhye mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Junhong.

“Janji?”

“Janji” jawab Junhong dengan mantap. Yoonhye langsung memeluk Junhong dan hampir membuat Junhong jatuh ke belakang.

“Oppa~! Junhong Oppa!” teriak Yoonhye tanpa henti. Ia terlalu senang sampai-sampai ia tidak menyadari muka Junhong yang tertunduk dan semerah buah apel.

AUTHOR’S NOTE

Lagi-lagi bermasalah dengan ending. Kenapa apel? Kayaknya author lagi ngidem -.-” Author mau minta maaf terutama pada Pikrachu yang sudah membuatkan poster dari… 1 bulan yang lalu? idr – karena baru upload cerita sekarang/bows. Semoga cerita ini berhikmah (cielah, efek bikin tugas blog di sekolah). Thank you for reading~! [P.S: Kak Pikrachu, layout Zelonya seharusnya GAK kayak gitu /cough/diafflebihrapih/cough/, ok? ^^v]

ouch…

itsredpenguin SIGN OUT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s