Pizza Man ~ Part II

pizza man copy

Haihaihai….. I’m back with the second part!!

Semoga lebih kece ya dibandingkan yang pertama:D

Enjoy!!

˚˚˚˚˚

Aku sudah memesan ratusan pizza dan pengantar pizzanya nggak pernah…. nggak pernah… oke jangan anggap aku gila. Tapi pengantar pizzanya nggak pernah seganteng ini. Aku sih nggak masalah kalau pengantar pizzanya ganteng, maksudku aku sudah pernah lihat ribuan orang ganteng di bumi ini. Tapi… gantengnya dia tuh… beda. Ngerti nggak sih? Aku nggak pernah percaya sama love at the first sight, itu tuh nggak rasional. Bukan tipe pemikiran yang kuanut. Maksudku love at the first sight itu bahkan nggak lebih baik daripada menghargai hak hidup sapi!!

Tapi…. ini BUKAN love at the first sight. Aku merasa pernah melihatnya entah di mana. Ah ya tentu saja, hanya dejavu. Fokus, aku lapar kan? Ya benar, jadi urus saja pizzanya.

Akhirnya kubuka kelopak mataku dengan amat sangat perlahan-lahan. Wajahnya mulai mengisi pelupuk mataku. Oke, menatapnya sama seperti menatap matahari. Silau banget.

Wajahku memerah ketika menyadari si pengantar pizza itu memperhatikanku lekat-lekat dengan tatapan aneh. Aku pasti teerlihat seperti idiot tadi. Tapi sungguh, dia 10 kali lipat lebih ganteng daripada ayahku. Ayahku pas muda dulu maksudnya. Tapi wajah mereka luamayan setipe.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyaku dengan nada gusar yang dibuat-buat.

“Dan kenapa wajahmu semerah tomat?” balasnya dengan senyum paling menyebalkan yang pernah aku lihat.

“Aku pakai blush-on tau!” oke aku berbohong, tapi aku perlu membela diri kan?

“Wajahmu tak semerah ini sebelum aku menatapmu dengan mata indahku.” ujarnya seraya menyerahkan pizza padaku.

“Mata indahmu? Apa kau tak pernah bercermin sejak lahir?” tentu saja hatiku berkata lain. Tentu saja hatiku mengatakan bahwa dia memiliki sepasang mata indah dan wajah tertampan yang pernah aku lihat.

“Aku jarang bercermin. Tapi sekalinya bercermin aku selalu terpana dengan ketampananku.”

“Sebaiknya kau tidak bercanda tuan.” kataku sambil menutup pintu dengan satu sentakan. Tapi aku sempat menangkap ujung bibir kanannya naik ke atas sementara ujung bibir kirinya tetap di tempat. Holy Crap!! His half-smile is super charming!! Aku hampir meleleh di depan pintu.

Setelah menghajar pizzaku yang hanya dihiasi potongan tipis buah zaitun, tomat dan paprika aku terlelap di sofa ruang tengah.

“Aliana! Aliana! Dear, buka pintunya sayang.” kudengar teriakan mama dari beranda. Ya Tuhan, sudah pukul 7 dan aku sudah tertidur selamaaa…. sekitar 5 jam. Aku bahkan lupa tadi aku mimpi apa, sepertinya sih mimpi indah.

“Ya ya! Aku datang!”

“Alianaa… Kamu harus menghilangkan kebiasaanmu untuk tidur seperti kerbau.” ujar mama kemudian terkekeh sendiri.

“Dan mama sebaiknya menghilangkan kebiasaan mama meninggalkan putrinya tanpa makanan.” aku memutar bola mataku dengan sebal.

“Honey, mama kan sudah menyiapkan bulgogi. Kamu tinggal memanggangnya, sama sekali tidak sulit kan? Masa iya kau semanja itu.” ujar mama seraya masuk ke dalam rumah dan melepas mantel  merah marunnya.

“Well yah, sepertinya mama benar-benar lupa bahwa aku seorang vegetarian sekarang.”

“Apa?! Kau jadi manusia herbivora sekarang?” mama tampak sangat terkejut sampai hampir menjatuhkan tas tangannya.

“Sekarang? Sudah dari sebulan yang lalu.” aku menyelipkan kedua tanganku ke dalam saku celana rumahku sambil menghempaskan tubuhku ke atas sofa.

“Ahaha yaya.. sekarang mama ingat. Maaf, mama banyak pekerjaan sekarang ini, tapi segera setelah mama melewati masa-masa sibuk ini mama janji akan membawamu ke pusat perbelanjaan. Kita akan belanja dan mempercantik diri.” ujar mama berseri-seri.

“Seru banget.” balasku tanpa semangat dan nada bicara yang datar.

“Oke, mama masakkan bibimbap untuk mak

an malam ya?”

“Perbanyak saus ikan dan minyak wijennya ya. Selama ini saus bibimbap mama selalu terlalu banyak cuka.” mendengarnya, mama hanya tersenyum simpul seraya mengangkat botol saus ikan dan minyak wijen tinggi-tinggi.

30 menit kemudian…

“Makan malam siap!” teriak mama dari dapur. Aku menguncir buntut kuda rambut hitam ikalku lalu langsung berderap menuruni tangga.

“Mana ayah?” tanyaku pada mama.

“Dia juga sibuk.”

“Ma?”

“Ya?”

“Bukankah seharusnya kita merayakan sweet seventeen-ku?”

“Apakah itu penting?”

“Ya. Sangat.”

Lalu mama mendesah berat.

“Nih, bibimbap mu. Sesuai dengan permintaanmu, kurangi cuka dan perbanyak saus ikan dan minyak wijen.” ujar mama sambil menyorongkan mangkuk berisi bibimbap ke hadapanku.

“Mama belum menjawab pertanyaanku.” jawabku merajuk.

“Baiklah, mama menyerah. Tidak ada uang untuk pesta nak, lagi pula pesta seperti itu hanya akan buang-buang waktu, energi dan uang.” jawab mama sambil mulai memakan bibimbapnya. Aku menarik nafas panjang sekali lalu mulai menggigit tunaku dan memakan chin namul yang ada pada bibimbap.

“Rasanya masih kurang cocok dengan lidahku.” gerutuku.

“Lalu?”

“Aku mau pesan pizza saja.”

“Apa kau gila?”

“Belum.”

Lalu aku melengos pergi ke telefon dan untuk kedua kalinya dalam hari ini aku memencet nomor restoran pizza yang sama.

“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?” O-oh… aku kenal suara itu!! Dia petugas pizza ramah sekaligus menyebalkan yang tadi siang menerima telefonku!

“Rupanya jammu sudah diperbaiki.” gumamku.

“Kau Nona Bernyali Besar yang tadi siang ya?”

“Ya tentu saja, dan pesananku sama seperti tadi siang.”

“Ya oke! Ditunggu 30 menit ya, gomawo…”

Lalu hubungan terputus. Dan aku kembali ke tempat dudukku di hadapan mama.

“Beres.” ujarku, menyunggingkan senyum kemenangan sambil mengangkat bahuku tinggi-tinggi.

31 menit kemudian…

“Pizza!” mendengarnya aku langsung berpacu ke arah pintu depan. Begitu pintu itu terbuka, aku berdengap.

“Hai, kamu lagi.” ujar sang pengantar dengan nada rendah misterius tapi tetap terdengar ringan. Aneh kan? Tapi begitulah adanya.

“Ya memang. Kamu terlambat satu menit lagi tuan. Mana pesananku?” aku sebisa mungkin tidak menatap wajahnya walaupun godaan itu selalu muncul dan sulit kutepis. Bayangan senyumnya terpatri di pelupuk mataku, dan entah apapun yang kulakukan aku tak sanggup menghilangkannya.

“Uangnya?” tagihnya sebelum menyerahkan bungkusan pizzaku.

“Nih.”

“Nih.”

Dan saat itu juga mataku bergerak ke wajahnya tanpa kukomandoi. Dia tersenyum sambil menatapku lekat-lekat, tatapannya mengingatkanku akan…. ayah? Dia memiliki aura yang mengingatkanku pada ayah.

“Menunggu apa lagi Alien?”

“MWO?!” Dia memanggilku dengan apa? Alien? Makhluk luar angkasa buruk rupa itu?

“Namamu Alien bukan?” ia menyinggungkan seulas senyum super jail dan super evil.

“Aliana.” ujarku membung mukaku.

“Oh begitu, menurutku nama Alien lebih cocok.” katanya sambil

mengacak rambutku. Ya. Mengacak rambutku. Lancang benar dia. Tapi toh aku tak bergeming, sentuhannya membuat sekujur tubuhku dialiri kehangatan. Darahku berdesir dan my heart skipped a beat.

Hei tunggu. Seseorang pernah mengacak rambutku dengan cara yang sama sepertinya. Tapi siapa? Nggak mungkin, aku mengalami dua kali dejavu di hari yang sama dan dengan orang yang sama!! Ada apa sih dengan hari ini?? Atau tepatnya ada apa sih dengan orang ini??

“Sudah ya tuan, aku ingin segera makan.” ujarku dengan suara yang tidak kukenali.

“Selamat malam dan selamat menikmati pizza anehmu.” ujarnya sambil naik ke atas motornya.

“Terima kasih dan semoga malammu menyenangkan.” seusai mengatakannya aku menutup pintu dan hanya bisa menghabiskan malam ini dengan senyum-senyum sendiri.

Esoknya…

˚˚˚˚˚

Sebenernya sih aku agak bingung mau menggal di mana supaya yang baca penasaran hehe, jadi gimana? Penasaran nggak??

Kayaknya aku buatnya lagi laper ya? Makanya yang keluar pizza, hehe…^,^

images-6

With love,

naminaya^^

2 thoughts on “Pizza Man ~ Part II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s