Pizza Man ~ Part III

pizza man copy

˚˚˚˚˚

“Morning darl…” sebuah suara lembut tetapi melankolis membangunkanku dari tidur nyenyakku. Suara yang amat sangat kurindukan, suara yang telah lama tidak menggetarkan gendang telingaku, suara yang selalu membuat sejukur tubuhku dialiri rasa hangat dan nyaman, suara yang selalu menumbuhkan senyum di wajahku, suara yang lebih dalam dari lautan dan suara yang aku tahu pasti berasal dari mulut ayahku.

Aku tersentak bangun mendengar dua kata yang diucapkan dengan volume suara yang relatif pelan. “Ayah?” tanyaku, pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena aku tahu pasti ayah ada di sana.

“Hai Alien mungil cantikku.” ujarnya seraya merentangkan tangannya lebar-lebar. Tanpa berpikir 2 kali aku langsung menghambur masuk ke dalam pelukannnya. Sentuhannya membuat seluruh partikel dalam tubuhku berjingkrak bahagia karena rindu. Sudah 3 bulan ayah menetap di apartemen mungilnya di dekat kantornya yang letaknya jauh dari rumah kami, dan ayah terlalu sibuk untuk pulang 3 bulan terakhir ini.

“Ayah! Masa anaknya sendiri dibilang Alien!” protesku pura-pura memberengut, tapi kemudian tawaku jebol dan ayah mencubiti pipiku dan mengacak rambutku dengan gemas.

“Yasudah, ayah istirahat dulu ya. Bangunkan kalau sudah saatnya makan siang.”

“Mau makan apa?”

“Umm… pizza boleh.”

“Oh ya, aku sekarang udah jadi vegetarian loh yah..” ujarku dengan antusias.

“Wah?! Kamu jadi manusia herbivora sekarang?”

“Komentar ayah sama kayak komentar mama.” ujarku pura-pura merajuk.

“Karena itulah kami menikah.” jawab ayah dengan senyum terkembang lebar, jenis senyum yang ingin aku lihat di pagi hari.

“Selamat istirahat ayah…”

Lalu ayah berlalu ke kamarnya dengan senyum. O-oh… sedang tidak bisa diganggu, aku yakin tidur hanya alasan. Di kamar sudah ada mama dan pintu langsung dikunci begitu ayah masuk…

Waktu makan siang…

“Aliana pesan pizza nak!” teriak mama dari kamarnya dan aku langsung berjalan menuju telefon dan mulai mendial nomor telefon pizza langgananku.

“Selamat siang ada yang bisa kami bantu?” ujar sebuah suara di ujung sana, suara perempuan sepertinya.

“Satu pizza peperoni tanpa peperoni ukuran personal dan satu double meat pizza ukuran medium.”

jawabku tanpa semangat, aku mulai bosan makan pizza.

“Saya ulang ya pesanan–”

“Nggak, nggak usah. Ditunggu 30 menit, anda berbicara dengan Miss Aliana alamatnya sudah terdaftar. Gomawo.” ujarku cepat memotong ucapan si pelayang pizza malang itu. Tapi aku benar-benar entah kenapa membenci wanita yang di ujung sana, walaupun aku tidak tahu siapa dia. Aku rasa… makin hari aku makin aneh saja.

30 menit kemudian…

“Aliana! Pizzanya sudah datang tuh, tolong terima ya. Uangnya di atas piano. Oke?”

“Ne.”

Kok nggak terlambat satu menit seperti biasanya ya? pikirku, tapi sesaat kemudian segera menyingkirkannya dari benakku, sangat tidak penting. Hanya perkara satu menit saja dipikirkan.

Lalu aku menyambar uang di atas piano, kemudian membuka pintu dengan perlahan-lahan. Sebagian diriku mengharapkan sebuah wajah yang telah kukenal muncul di depan pintu. Wajah seorang lelaki yang belum benar-benar kukenal kukenal tapi kurindukan.

Tapi…. siang ini aku harus kecewa. Yang ada di beranda rumah justru seorang wanita. Seorang wanita yang cantik, matanya penuh kecongkakan, ujung hidungnya runcing, rambutnya cokelat kemerahan ikal dan menyembul dari topi pengantar pizza merahnya. Yang mengesankan adalah bibirnya, bibirnya merah dan melengkung sempurna, lalu ditutup dengan potongan dagu yang runcing membuat wajahnya tampak lonjong sempurna. Baru melihatnya saja aku sudah langsung membencinya. Yeah, aku memang pernah bilang kalau aku nggak percaya yang namanya love at the first sight tapi aku percaya yang namanya hate at the first sight.

“Ohft,” aku mendengus kecewa tanpa benar-benar kusadari.

“Apa? Kau mengharapkan kedatangan Kyuhyun oppa?” tanyanya dengan nada yang sangat sarkastis. Pada jumpa pertama sekalipun aku tahu bahwa kita nggak akan akur.

“Siapa pula sih Kyuhyun oppa itu?” tanyaku, walaupun aku punya perasaaan kuat bahwa namja yang bernama Kyuhyun itu adalah pizza man favoritku yang mengantarkan pizza untukku tempo hari.

“Jangan pura-pura tak tahu, aku sahabatnya. Dan aku merasakan perubahan sikapnya semenjak kali pertama mengantarkan pizza ke rumahmu. Dia jadi sering tersenyum sendiri dan ketika kutanya kenapa, dia pasti menjawab bahwa ia teringat padamu.” mendengarnya aku berusaha menahan pipiku agar tidak merona, tapi bisa kurasakan pipiku memanas, sial.

“Ooh, jadi kau sahabatnya?” aku mengucapkan kata sahabat seolah itu suatu hal yang berbahaya.

“Ne.”

“Tenang saja, aku tak berniat menyaingimu.” jawabku sok santai sambil menyerahkan sejumlah uang. Lalu wanita arogan di hadapanku menyerahkan pesananku.

“Sebaiknya begitu, don’t mess with Lee Din Ri.” dan aku langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih.

“Mama! Ayah! Makan siang!!” teriakku sekuat tenaga, sekalian melepas rasa lelah. Pertamuan singkat dengan Din Ri ternyata menguras tenagaku.

Kami bertiga berkumpul di ruang makan. Ya, sepi sekali. Aku adalah anak tunggal dari banyak keturunan anak tunggal di atasku. Ayah anak tunggal, mama anak tunggal, nenek anak tunggal, kakek anak tunggal dan seterusnya. Yah, ayah memang punya adik perempuan yang usianya jauh dibawahnya, masih belia dan tidak pernah terlalu dekat dengan ayah. Tanteku itu, satu-satunya tanteku, usianya hanya… sekitar 3 tahun di atasku. Bukankah itu aneh? Sepertinya halmoeni baru berhenti mens di usia senjanya.

Seusai makan siang…

“Ayah, aku ingin ke toko antik boleh ya? Kata Seu Li oppa ada koin China baru yang dijual di sana.” pintaku pada ayah, memasang muka memelas terimutku.

“Tentu saja boleh, mau ayah temani?”

“Kenapa tidak? Pasti perjalanannya jadi lebih seruu! Kajja!” seruku seraya menarik pergelangan tangan ayah.

Toko antik itu terletak tak jauh dari kompleks rumahku, dan tepat di sebelahnya ada sebuah toko elektronik yang tak pernah ingin aku kunjungi. Tapi hari ini berbeda, bagian depan tokonya kaca transparan dan itu membuatku dapat melihat seisi toko. Daaan… aku menemukan sesosok yang kuekanal di dalam.

Sesosok yang sangat ku….. ekhem… rindukan? Sebenarnya aku tidak tahu nama perasaan ini. Maksudku gejalanya itu sulit tidur, terbayang-bayang wajahnya, perasaan ingin bertemu yang amat sangat dan lama-lama terasa menyesakkan. Apakah itu rindu?

Tanpa berpikir dua kali aku menarik tangan ayah menuju toko elektronik, tanpa menghiraukan teriakan ayah yang mengingatkanku bahwa sebenarnya kita mau ke toko antik. Begitu memasuki pintu toko aku menghambur ke sosok yang sangat kurindukan itu.

“Kyuhyun-ssi!! Kenapa kau tidak mengantar pizzaku siang ini?!!” teriakku, sesaat lupa akan semua pengunjung di toko itu. Dan segera setelah mengatakannya, aku langsng membekap mulutku erat-erat dengan kedua tanganku. Ingin rasanya menarik kembali ucapanku yang baru saja melompat keluar dari mulutku.

“Alien? Sepertinya kau merindukanku.” respon Kyuhyun tenang tanpa mengalihkan pandangan dari PSP putih di tangannya, walaupun kedua bibirnya membentuk sebuah formasi yang kusebut dengan tersenyum.

“Ekhem… sebaiknya ayah menyingkir dulu ya.” ujar ayah samtai sambil melenggang ke arah pintu keluar. Aku tidak berusaha menghentikan langkahnya, anehnya.

Setelah kepergian ayah suasana menjadi canggung. Aku memelintir ujung bajuku sambil menatap ubin sementara Kyuhyun… dia hanya memandangi PSP nya yang sepertinya baru selesai diservis.

Tiba-tiba saja aku merasakan telapak tanganku yang semula memelintir ujung baju kaosku digenggam oleh sepasang tangan berjari panjang. Perlahan arah pandangku mengarah ke atas, persis ke wajah Kyuhyun yang berada hanya beberapa senti di hadpanku. Aku bisa merasakan napasnya menderu di telingaku dan aku bisa merasakan bahwa ia menatapku dengan tatapan yang belum pernah kuterima darinya sebelumnya.

“Maafkan aku, tadi Lee Din Ri sangat ingin mengantarkannya.” jawabnya ringan, harus aku akui ada sedikit rasa kecewa. Kupikir ia mau mengatakan sesuatu yang lebih…. katakanlah penting.

“Tak masalah, dia sangat menyenangkan.” ujarku dengan senyum mengejek.

“Memang perlu usaha untuk mengerti Din Ri, terkadang dia agak aneh dan bersikap sarkastis.” hatiku melonjak bahagia, Kyuhyun tidak menyukai Din Ri!

“Baiklah, aku mau ke toko antik di sebelah.” ujarku seraya perlahan-lahan menarik kedua tanganku yang ternyata masih dalam genggaman Kyuhyun, aku hampir tidak menyadarinya.

“Ya, dan sepertinya aku juga harus kembali ke restoran pizza untuk menjemput Din Ri, aku sudah berjanji padanya untuk menemaninya ke taman kota sore ini.” ujar Kyuhyun dengan senyum bahagia. Dalam hati aku mengutuk senyum bahagia Kyuhyun, dan mengutuk Din Ri juga tentunya. Tak bisakah Kyuhyun mengerti perasaanku? Tapi apakah Kyuhyun tahu apa yang aku rasakan? Hanya Tuhan dan Kyuhyun yang tahu…

Tiba-tiba saja, aku sudah tak ingin lagi memberi barang-barang antik. Toko elektronik itu memang benar-benar sialan, aku berjanji tidak akan pernah menginjakkan kakiku dalam toko itu lagi.

“Nggak belanja apa-apa nona?” tanya ayah begitu melihatku di depan pintu. Aku hanya menggeleng lemah, kedua tanganku masih terasa hangat, tapi rasa hangat itu justru menciptakan sodokan bagi hatiku. Mengingat mungkin saja Kyuhyun akan menggenggam tangan Din Ri di taman sore ini.

Ayah sangat mengerti aku, ayah tidak berusaha menghiburku. Ayah tahu aku sedang butuh waktu sendiri. Aku suka tidur, karena saat tidur untuk sesaat kita bisa melupakan semua keresahan. Jadi aku memutuskan untuk tidur saja, pilihan yang bijaksana menurutku.

Ketika terbangun aku langsung menyibak tirai. Kupikir sinar matahari sore akan masuk membanjiri kamarku, tapi yang kulihat hanya sinar keperakan rembulan yang setengah tertutup awan. Aku kari menuruni tangga dan terpeleset sekitar 3 kali, tapi kemudian segera bangkit dan melanjutkan berlari. Tidak! Ayah dan mama sudah tidur, bekas makan malam sudah dirapikan. Dengan langkah gontai aku berganti pakaian.

Sepertinya di luar agak dingin, jadi aku memutuskan untuk menggunakan jeans baru, kemeja kuning sewarna mentega dibalut dengan jaket rajut putih hadiah dari halmoeni di hari ulang tahunku yang ke 17 kemarin.

Aku memutuskan untuk mencari makanan di luar saja, dan kakiku membawaku ke McDonald’s yang buka 24 jam. Begitu masuk aku serasa seperti habis disiram air dingin, pemandangan di hadapanku membuat hariku tersayat, entah kenapa.

Kyuhyun sedang menyuapi Din Ri McFlurry.

Aku melihat jam tanganku, sudah hampir tengah malam. Bukankah mereka sudah bersama sejak sore tadi kan? Fakta itu membuatku… membuatku… merasakan sesuatu yang… yang seharusnya tidak aku rasakan.

Kyuhyun itu siapa? Siapa dia bagiku? Aku bahkan belum betul-betul mengenalnya. Lalu, kenapa aku merasa cemburu?

Aku duduk di tempat duduk yang jauh dari Kyuhyun dan Din Ri, tapi aku bisa tetap memantau mereka. Aku memesan cheeseburger, french fries dan Sprite. Aku mulai memakannya, tapi mataku mesih menatap ke arah mereka, tak sedetikpun aku mengalihkan pandang. Bahkan untuk mengedip saja aku agak takut.

Lalu saat aku lihat tangan Kyuhyun sedang dengan perlahan-lahan bergerak menuju wajah Din Ri tiba-tiba saja seorang bapak-bapak gendut sialan menghalangi pandanganku. Bapak-bapak itu berjalan perlahan sekali, sambil memakan burgernya. Gah! Aku hampir saja menyasarkan box kentang gorengku ke wajah chubby nya yang sama sekali nggak imut.

Dan… setelah pria gambul itu lewat Kyuhyun dan Din Ri sudah berdiri dan siap-siap pergi.

Malamnya aku sulit tidur, Pemandangan di McDonald’s tadi terus terbayang-bayang. Lalu aku mulai melakukan hal aneh yang sering kulakukan. Aku membuat skenario dalam otakku, apa yang akan aku katakan pada Kyuhyun apabila kita bertemu lagi.

 ˚˚˚˚˚

Don’t know what to say… so….

with love,

naminaya~

2 thoughts on “Pizza Man ~ Part III

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s