Detour #2

A/N: No this is not hallucination, this is double update B)

 

2. Truthful

 

“Kau tidak mati kan?” Chaeri yang telah bersusah payah lepas dari Baekhyun yang menimpanya segera duduk dan menepuk-nepuk pipi Baekhyun. Ia memeriksa kepala bagian belakang Baekhyun yang Chaeri rasa terkena salah satu ensiklopedi tebal yang ia pinjam. Baekhyun pingsan.  Byun Baekhyun pingsan. Chaeri merasa depresi, ia tidak ingin sesuatu yang berhubungan dengan lupa ingatan terjadi pada Baekhyun. Menurutnya sebagai seorang murid baru, Baekhyun terlalu menyedihkan untuk kehilangan ingatannya, teman dan memori masa remajanya terlalu berharga untuk dilupakan.

Merasa tidak ada gunanya menepuk pipi Baekhyun akhirnya Chaeri berusaha mengangkatnya sekuat tenaga dan membopongnya. Ia tidak tahu ruang kesehatan di mana, tapi setidaknya ia harus mencari pertolongan.

Teman yang Chaeri buat selama di sekolah ini belum terbilang banyak, tapi ia kenal satu orang laki-laki yang tak lain merupakan tetangga sekaligus teman masa kecilnya atau mungkin sekedar kenalan masa kecil?  Yang jelas untuk sekarang orang itu yang paling bisa Chaeri andalkan.

Setelah menyandarkan Baekhyun pada tembok terdekat Chaeri mengeluarkan hp dari kantong kemejanya, tangannya segera mencari kontak yang sudah cukup lama ia simpan namun tidak pernah ia panggil atau sms.

“Ha-halo Jongdae?” suara Chaeri bergetar karena panik dan malu memanggil Jongdae, ia harap Jongdae tidak melupakannya.

“Chaeri?” Suara Jongdae berbisik, Chaeri tahu kelas sudah dimulai oleh karena itu Jongdae tidak bisa berbicara selain harus berbisik.

“Ma-maaf aku tahu kelas sudah dimulai, tapi bisa kau keluar sekarang ada sesuatu yang darurat, aku ada di lantai dua dekat tangga.”  Chaeri berkata dengan cepat. Beberapa detik terasa hening, Chaeri menahan napas takut Jongdae tertangkap basah menerima panggilan di tengah kelas, tapi tiba-tiba suaranya keluar lagi Chaeri menghela napas lega “Baik tunggu aku.”

Chaeri pun memutuskan panggilan. Ia mencoba percaya Jongdae akan datang, sekarang ia harus menunggu di sini bersama tubuh Baekhyun. Akhirnya ia memilih duduk bersandar di samping Baekhyun. Baru saja ia ingin memejamkan mata istirahat, matanya menangkap sesuatu. Chaeri memicingkan matanya, begitu ia sadar apa yang ia lihat, ia langsung bangun dan mengambil sesuatu yang tertinggal itu. Chaeri pun mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan dari awal.

“Aaaahh!” Chaeri ingin berteriak tapi ia tidak ingin membuat keributan sehingga ia memilih mengerang pelan. Kacamata Baekhyun terbelah menjadi dua, satu lensanya lepas dan pecah. Lengkap sudah definisi hancur. Dengan berhati-hati ia mengumpulkan satu persatu kepingan lensa.

“Baek!!” Suara yang Chaeri kenal tiba-tiba terdengar. Chaeri segera menengok ke belakang dan mendapati Jongdae sedang jongkok di samping Baekhyun, ia mengguncang-guncang tubuh Baekhyun yang sama sekali tidak merespon.

“Jongdae” Chaeri memanggil Jongdae yang belum menyadari keberadaannya, Jongdae menengok, mulutnya terbuka kaget “C-Chaeri apa yang terjadi dengan Baekhyun?” Jongdae menunjuk pada Baekhyun, ia mencubit pipi Baekhyun, tidak ada respon lagi “Apa ia mati?”

Tiba-tiba Chaeri merasa menjadi orang paling jahat, apa ia akan menjadi pembunuh? Tidak itu hanya sebuah kecelakaan, Jongdae hanya panik sehingga ia asal bicara, Baekhyun laki-laki yang kuat, Chaeri berusaha mempercayai hal itu.

“Oh! Nadinya masih berdenyut!” Jongdae terdengar kaget dengan pernyataannya sendiri. Chaeri yang sudah selesai merapihkan pecahan kacamata segera menghampiri Jongdae dan Baekhyun. “Nanti akan kuceritakan bagaimana kejadiannya sekarang bisa kau membantuku membawa Baekhyun ke ruang kesehatan? Aku tidak tahu di mana ruangan itu.”

Jongdae mengangguk, dengan tenaga laki-lakinya ia dapat mengangkat dan membopong Baekhyun dengan mudah. “Ayo.”

 

“Baek! “

Baekhyun membuka matanya, close-up wajah Jongdae langsung membuatnya segera mengerutkan dahinya “Chen wajahmu terlalu dekat.”

“Kau masih ingat denganku!” Jongdae segera memeluk Baekhyun. Baekhyun segera bangun dan mendorong Jongdae yang memeluknya terlalu kuat, tubuhnya masih terasa sakit begitu juga dengan kepalanya terutama bagian belakang.

“Tentu saja kau masih berutang 5000 won padaku, sekarang katakan kenapa aku bisa di sini?”

Baekhyun memiringkan kepalanya dan memijit leher belakangnya. Matanya yang baru terbuka belum menyadari ada sosok Chaeri sedang duduk di samping Jongdae. Tiba-tiba Jongdae menjitak dahinya pelan “Bodoh karena kau seenaknya merosot di tangga perempuan ini harus kerepotan.”

Baekhyun mengernyit, ia menengok pada sosok yang ditunjuk Jongdae. Seorang perempuan yang memandangnya dengan sorotan mata tolong-jangan-hukum-aku terlihat duduk dengan bahunya yang bergetar. Chaeri sama sekali tidak berkata apa-apa, selain tidak tahu harus berbicara apa ia lebih senang Baekhyun mengatakan sesuatu terlebih dahulu.

“Ah kau.” Baekhyun menunjuk Chaeri. Ia ingat. Tentu saja ia ingat, itu perempuan yang ia cari seharian ini, perempuan yang mengupingnya ketika ia menyatakan perasaan pada Nami, perempuan yang sama sekali tidak sadar bahwa dirinya sudah menjadi bulanan Baekhyun. Selebihnya Baekhyun tidak ingat, ia sama sekali tidak sadar bahwa perempuan yang ditabrak di tangga adalah perempuan yang sama.

“Sekarang kau minta maaf pada Chaeri.” Jongdae langsung memasang tampang serius yang sama sekali tidak memberi efek pada Baekhyun.  “Kenapa harus aku yang minta maaf? Ia yang salah.” Baekhyun tidak terima, Chaeri jelas pihak yang salah, yang telah seenaknya mengupingnya kemarin sore.

Jongdae menggelengkan kepalanya “Byun Baek, pertama siapa yang merosot?”

“Aku.” Baekhyun menjawab cepat “Tapi apa hubungannya dengan merosot dan aku yang salah? Jelas perempuan ini yang kemarin mengu—“

“AAH!!” Chaeri segera berdiri dari berseru, ia mengerti kemana Baekhyun akan membawa arah pembicaraan ini. Kesalahpahaman telah terjadi. Baik Jongdae atau Baekhyun sama-sama tidak sadar.

“Jongdae, kau bisa kembali ke kelas, aku akan menyelesaikan masalahku dengan Baekhyun.” Chaeri berusaha setenang mungkin, Jongdae hanya memandang Chaeri bingung. Chaeri memandang balik Jongdae dengan tatapan kumohon-kau-harus-pergi. Jongdae pun hanya mengangguk dan berdiri dari kursinya “Yah baiklah.”

Setelah Jongdae pergi dan menutup pintu, Chaeri kembali menghadap pada Baekhyun yang masih duduk di kasur dengan tangan terlipat di depan dadanya “Sebenarnya kau siapa? Kenapa Chen menyuruhku untuk minta maaf padamu yang jelas kau yang seenaknya mengu—“

“Iya maaf aku yang salah!” Chaeri memotong kalimat Baekhyun yang belum selesai. Ia tidak mau mendengar kata-kata ‘menguping’, itu hanya membuatnya seperti pengecut rendahan.

Baekhyun merupakan laki-laki yang suka memudahkan masalah, tapi kali ini ia tidak terima permintaan maaf akan menyelesaikan segalanya “Dan kau pikir aku akan memaafkanmu?”

Chaeri yang mukanya memanas karena kesal dan malu tertangkap basah akhirnya kembali membuka mulutnya, sesuatu harus diklarifikasi untuk membuatnya dirinya tampak tidak terlalu bersalah “Sebelumnya aku mau bertanya, apa kau tahu siapa aku?”

Baekhyun memandang Chaeri dari atas sampai bawah, sesuatu yang membuat Chaeri menghindari pandangan Baekhyun, ia tidak biasa seseorang memandangnya seperti itu, terlebih ia baru ingat pagi ini ia lupa menyisir rambutnya.

Baekhyun yang baru sadar kalau ia masih asing dengan Chaeri hanya mengangguk “A-aku tidak tahu.”

Chaeri menghela napas “Bagus, sekarang aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Moon Chaeri murid kelas 2-a. Aku murid baru yang baru pindah seminggu di sini. Dan kau, aku tahu kau adalah Byun Baekhyun.”

Baekhyun mengangguk “Aku kelas 2-b.” Baekhyun menambahkan sebuah fakta yang menurut Chaeri sama sekali tidak penting, masalah Baekhyun di kelas mana bukan hal yang harus ia ketahui, tujuannya memperkenalkan diri adalah untuk mengklarifikasi sesuatu tentang dirinya dan menghentikkan kesalahpahaman ini. “Aku murid baru, kau murid lama. Aku tidak tahu apa-apa, aku bahkan hanya tahu namamu, jadi Baekhyun, tolong jangan menganggapku sebagai salah satu dari fansmu.”

Baekhyun diam, membuat Chaeri kembali melanjutkan kalimatnya “Kejadian kemarin sore di ruang janitor aku bersumpah sama sekali tidak mendengar apapun. Aku hanya tahu kau dan seorang perempuan bernama Nami masuk. Lalu aku sadar kalian butuh privasi, dan bisa kalian bayangkan betapa merusak kehadiranku nanti jika tiba-tiba aku muncul sehingga aku memilih mendengarkan musik dan menunggu urusan kalian selesai. “

Baekhyun masih terdiam, semua yang dikatakan Chaeri terdengar masuk akal. Mata Chaeri yang memandang Baekhyun sama sekali tidak memperlihatkan keraguan. Baekhyun menelan ludah, ia harus mengakui kalau ia salah karena terlalu cepat menjugde seseorang.

“Kau percaya?” Chaeri bertanya. Baekhyun mengangguk. Satu anggukan yang langsung membuat hampir seluruh beban Chaeri terangkat. Satu masalah selesai. Chaeri tersenyum.

“Tapi yakin kau tidak mendengar apapun? “Baekhyun bertanya, sedikit memberi nada curiga. Chaeri terdiam, sebenarnya apapun bukan hal yang sepenuhnya benar, ia mendengar Baekhyun meminta maaf telah memanggil Nami dan ia mendengar jawaban Nami mengatakan tidak apa-apa. Tapi ayolah menurut Chaeri itu sama sekali tidak penting.

“Iya aku yakin.”

Baekhyun mengangguk, ia mencoba percaya, sekarang otaknya terlalu capek untuk diajak menganalisa. Nyeri di kepala belakangnya belum sepenuhnya hilang. “Baiklah kau boleh kembali ke kelas.” Baekhyun pun kembali tiduran dan menarik selimut sampai menutup seluruh wajahnya, mungkin tidur siang bisa menjadi pilihan baik untuk menghilangkan sakit kepala dan sakit hatinya.

Tapi Chaeri masih belum bergerak dari tempatnya, tangannya masih memegang kacamata Baekhyun yang sudah remuk, urusannya dengan Baekhyun belum selesai.

“Hmm..Baekhyun..” Chaeri memanggil namanya pelan, rasa takut kembali menjalarinya.

“Mmmm.” Baekhyun merespon dengan gumamannya yang tidak jelas. Selimut masih menutupi wajahnya, ia sedang tidak mood untuk diajak mengobrol lebih lanjut.

“Barangmu tertinggal.” Chaeri meletakkan kacamatanya di meja kecil sebelah kasur. Baekhyun yang mulai merasakan matanya memberat sama sekali tidak tertarik untuk menarik selimutnya dan melihat barang apa yang Chaeri maksud “Letakkan saja di meja.”

Chaeri mengangguk, tanpa pikir panjang ia segera membuka pintu dan keluar dari ruangan kesehatan itu. Ia tahu tindakannya ini dinamakan sebagai lari dari masalah. Tapi ia lelah, Baekhyun juga lelah. Biarkan saja masalah ini diselesaikan begitu mereka berdua sama-sama sudah siap.

 

“Chen!” Nama panggilannya langsung terpanggil begitu ia baru memasuki kantin sekolah. Jongdae menengok kanan kiri mencari sosok yang memanggilnya

“A-aah!”  Tiba-tiba seseorang mencekik lehernya dari belakang “Lepaskan Baek!” Jongdae memukul lengan yang mencekik itu. Baekhyun segera melepas dan menunjukkan kacamatanya yang sudah terbelah pada Jongdae. “Siapa yang merusak kacamataku?”

Jongdae memandang kacamata di depannya dengan pandangan bingung “Kau bodoh atau apa? Tapi bukannya kau baru jatuh dari tangga? Wajar saja kan kalau rusak.” Baekhyun tidak menyadari barang tertinggal yang Chaeri katakan dan kacamatanya adalah hal yang sama.

Baekhyun diam, benar juga, tapi ia langsung menggelengkan kepalanya “Tapi ini rusak seperti diinjak seseorang! Kau harus membantuku menemukan siapa yang berani merusak kacamata ini!”

Jongdae menghela napas, ia yakin kacamata itu rusak ketika insiden Baekhyun dan Chaeri bertabrakan tapi ia sama sekali tidak mengerti kenapa Baekhyun harus menyalahkan seseorang padahal jelas, itu rusak karena kebodohannya sendiri. Chaeri terlalu baik kalau ia ingin mengganti kacamata itu “Sudahlah, lagipula minusmu tidak seberapa kan? Kau hanya memakai ini hanya untuk gaya kan? Aku tahu Baekhyun.” Jongdae pun berjalan meninggalkan Baekhyun menghampiri meja yang sudah dipenuhi teman-temannya.

“Katakan siapa yang menabrakku tadi di tangga?” Baekhyun memegang lengan Jongdae dan Jongdae mengernyitkan dahinya “Bukan siapa yang menabrakmu  tapi siapa yang tertabrak olehmu.”

Baekhyun memutar bola matanya atas koreksi Jongdae “Ya ya ya katakan siapa itu.”

“Chaeri.” Jongdae menjawab singkat tanpa menengok sedikitpun pada Baekhyun. Baekhyun terdiam, sekarang semuanya menjadi masuk akal kenapa tiba-tiba Chaeri ada di ruang kesehatan, kenapa ia terlihat takut, dan kenapa ia mengatakan ada barangnya yang tertinggal. Baekhyun memukul kepalanya gemas akan kebodohannya sendiri “Aaw” Ia lupa kepalanya masih sakit, sekarang ia tidak mengerti kenapa harus Chaeri lagi yang berurusan dengannya.

 

“Chaeri!” Sena teman perempuan pertama yang ia buat memanggilnya membuat Chaeri berhenti melangkah sebelum ia masuk pintu perpustakaan.

Chaeri tersenyum pada Sena yang segera mengapit lengannya “Ayo kita masuk bersama!”

Begitu pintu terbuka, bau buku segera tercium membuat Chaeri bernapas lega, ia selalu suka wangi ini. Menghabiskan siang hari di perpustakaan merupakan kebiasaannya, daripada harus makan di kantin ia lebih suka makan diam-diam di antara rak-rak menjulang tinggi.

Sama dengan Chaeri, ia langsung tersenyum begitu pintu perpustakan terbuka khususnya mendapati beberapa komputer di ujung ruangan masih kosong. Sebagai sesama anggota perpustakaan Chaeri dan Sena memiliki tujuan berbeda. Jika Chaeri menjadi anggota dengan alasan kecintaannya terhadap buku, Sena menjadikan internet gratis sebagai tujuan utamanya menjadi anggota. Tanpa pikir panjang mereka berdua langsung berjalan menuju tempat masing-masing, Sena berjalan menuju komputer dan Chaeri menuju rak mana saja yang terlihat menarik siap kembali meminjam buku.

Sambil memegang dagu, Chaeri mengambil dua buku sekaligus dari setiap baris rak. Dari pada mencari novel keluaran terbaru ia lebih memilih novel kuno yang ia pikir tidak akan ia temukan lagi begitu ia lulus dari sekolah ini. Setelah memilah-milah novel mana yang akan ia bawa pulang hari ini, Chaeri pun berjalan menuju resepsionis, ia harus membuat janji kapan buku itu akan ia kembalikan.

“Silahkan tulis namamu” Petugas perpustakaan menjulurkan sebuah kertas berisi tabel nama-nama yang meminjam. Sambil menulis namanya Chaeri tersenyum, senyum kecil yang tidak disadari oleh dirinya sendiri, karena bahkan ia tidak tahu kenapa ia tersenyum. Mungkin ia tahu tapi ia terlalu malu untuk mengakuinya.

Lagi-lagi nama yang sama tertulis, nama yang mencuri perhatian Chaeri sejak hari keduanya meminjam buku di perpustakaan. Nama yang selalu berada tepat di atas namanya sendiri. Chaeri terus bertanya kapan ia akan diberikan kesempatan oleh Tuhan bertemu dengan orang yang selalu meminjam buku yang hampir selalu sama dengannya. ‘Do Kyungsoo’  Chaeri memberikan ruang pada nama itu di otaknya.

 

 Tas yang Chaeri bawa terasa berat dua kali atau mungkin tiga kali lipat. Dalam hati ia sedikit menyesal tidak memperkirakan beban buku yang akan ia bawa pulang nanti. Sekarang otaknya sedang berpikir tentang sesuatu yang terdengar sepele tapi menurut Chaeri sangat penting. Kemungkinan tinggi badannya yang menurutnya sudah cukup dekat dengan bumi bisa saja terhenti atau mungkin berkurang karena  beban yang ia bawa terlalu berat.

“Sepertinya aku harus ikut klub renang.” Chaeri berkata dalam hati.

“Chaerii!” Seseorang berseru memanggil namanya. Chaeri berhenti dan menengok ke belakang, ia mendapati Jongdae sedang berlari mendekatinya.

Setelah berhasil menyamakan langkahnya dengan Chaeri, Jongdae membetulkan posisi tas yang ia gantung di bahunya ia pun menengok dan tersenyum pada Chaeri “Tumben kau pulang sore.”

“Hari ini giliranku membereskan buku di perpustakaan.” Chaeri menjawab apa adanya. Jongdae hanya mengangguk-ngangguk mengerti. Selama ini Chaeri dan dirinya memang tidak begitu dekat, fakta bahwa mereka berdua adalah tetangga sejak kecil tidak membuat hubungan mereka dekat seperti teman pada masa kecil umumnya. Chaeri terlalu menutup dirinya tidak peduli seberapa sering Jongdae kecil sering mengajaknya bermain keluar. Tapi sekarang, melihat Chaeri memanggilnya ketika kecelakaan kecilnya dengan Baekhyun, Jongdae merasa bahwa Chaeri masih menganggapnya sebagai teman.

“Ngomong-ngomong kau dapat nomorku dari mana?” Jongdae terus berusaha membuat percakapannya dengan Chaeri terus berlanjut.

“Dari ibumu, ia selalu memberikanku nomor terbarumu, katanya kalau ada apa-apa panggil saja Jongdae.”

“Hahahaha aku sama sekali tidak sadar ibuku seperti itu.” Jongdae tertawa yang hanya dibalas dengan anggukan dari Chaeri. Jongdae tahu kalau Chaeri memang seperti itu, tapi sebagai orang yang selalu mengamati Chaeri sejak kecil, ia sudah terbiasa dengan perlakuan dingin Chaeri. “Jadi bagaimana rasanya sekolah barumu Chaeri?”

Chaeri terdiam, menimbang-nimbang jawabannya “Hmm..Menyenangkan, sekolahnya besar beda dengan sekolahku yang dulu, selain itu perpustakaannya lengkap.”

Jongdae tersenyum, tiba-tiba ia teringat sesuatu “Lalu bagaimana masalahmu dengan Baekhyun tadi?”

“Eh? Byun Baekhyun?” Chaeri terdiam bingung harus menjawab apa, ia merasa menceritakan insiden menguping Baekhyun dan Nami bukan cerita yang tepat untuk saat ini.

Jongdae yang menyadari Chaeri hanya terdiam dan menunjukkan ekspresi panik segera mengambil sebuah kesimpulan “Ehhh— aku tahu, kau suka Baekhyun kan?” Jongdae menyeringai.

Chaeri yang mendengar pertanyaan bodoh itu terlalu kaget sehingga tidak bisa merespon apa-apa dan hanya membuat Jongdae makin yakin dengan kesimpulannya sendiri itu. “Hahaha, sudah kuduga, kau perempuan Chaeri, wajar saja kau menyukai seorang Byun Baekhyun.”

Chaeri segera menggelengkan kepalanya “Tolong dengarkan ak—“

Jongdae tidak mempedulikan Chaeri yang menggeleng-gelengkan kepalanya, rona merah di muka Chaeri hanya membuatnya merasa semakin benar. Jongdae pun menepuk-nepuk pelan punggung Chaeri “Tenang saja Chaeri, Baek teman baikku, aku bisa membantumu.”

“TIDAK JONGDAE.” Chaeri segera berseru. Jongdae yang daritadi berusaha menahan tawa tiba-tiba gelagapan, kaget dengan penolakan Chaeri yang spontan.

“Pertama aku tidak suka Baekhyun dan kedua, bukankah ia baru saja jadian dengan perempuan bernama Nami?”  Chaeri berhenti melangkah dan memegang kedua pinggangnya.

Jongdae memiringkan kepalanya “Kupikir kau sudah tahu, berita Nami menolak Baekhyun sudah menyebar di sekolah seharian ini.”

“Di-ditolak?” Chaeri pun kembali berjalan, meskipun itu sama sekali bukan urusannya tapi entah kenapa berita itu terdengar sangat menyedihkan untuknya. Ia tidak tahu benar soal Baekhyun, tapi ia yakin dari ekspresi Nami yang ia lihat Nami menyimpan perasaan untuk Baekhyun.

Jongdae menganggukkan kepalanya, sambil memandang ke depan dan memasukkan kedua tangannya pada kantong celana ia kembali melanjutkan ceritanya “Alasannya karena Nami menyukai orang lain, itu yang Baekhyun ceritakan padaku.”

“Siapa?” Chaeri langsung bertanya yang langsung membuat Jongdae menengok dan menyeringai padanya  “Hee— sudah kuduga, kau penasaran, kau menyukai Baekhyun kan?”

Chaeri memutar bola matanya “Aku tidak, AKU BEN-“ belum sempat ia menyelesaikan kata ‘benci’ nya Jongdae langsung memotong

“Ah iya! Aku tahu!” Jongdae mengangkat kedua tangannya, mengakui kesalahannya, ia tidak ingin teriakan Chaeri membuatnya seperti sedang membully Chaeri “Nami menyukai sahabat Baekhyun. Drama sekali bukan?”

Chaeri menaikkan alisnya dan menunjuk Jongdae “Maksudnya, kau?”

Jongdae tertawa keras membuat ia menghentikkan langkahnya. Sekarang mereka berdua sudah sampai di depan pagar rumah Chaeri. Chaeri masih diam menunggu jawaban dari Jongdae sebelum ia masuk ke rumahnya. Setelah tawanya berhenti Jongdae mengelap airmata yang serasa keluar karena tawanya yang terlalu keras “ Aku bukan sahabat satu-satunya Baekhyun, Chaeri.”

“Lalu siapa?”  Chaeri masih penasaran.

Jongdae pun berdiri tegak dan berdehem, membuatnya seolah akan melakukan sebuah pidato penting “Dengar Chaeri, aku tidak akan mengatakan ini dua kali. Pertama ini rahasia, Baekhyun memintaku untuk tidak mengatakannya pada siapapun tapi karena kau temanku aku akan memberitahumu.”

Chaeri diam, tiba-tiba rasa bersalah lebih mendominasi dari pada rasa penasarannya, sebelum ia membuka mulut untuk menghentikkan Jongdae sebuah nama asing sudah keluar dari mulut Jongdae. “D.O.”

D.O?

“Dia orang asing?” Pertanyaan spontan keluar dari mulut Chaeri.

Jongdae tertawa, tapi kali ini jauh lebih tenang “Itu nama panggilannya, sama seperti teman-teman memanggilku Chen, D.O nama panggilan untuk Kyungsoo.”

Chaeri diam, sesuatu terdengar salah, ia takut tapi ia harus meminta Chen mengulanginya “Maaf siapa?”

“ Kyungsoo. Do Kyungsoo.”

55 thoughts on “Detour #2

  1. bener kan bakal jadi cinta segi empat haha walau pun baru di awal. ntah nanti siapa yg bakalan jd saingan nya baek disini. apa bener2 d.o ?
    hai author, reader baru disini. aku dpt rekomendasi nih buat nangkrik di ff mu hehe

  2. Oh My God! Entah kenapa aku kaget tipis-tipis/:3
    tpi hey…ehh kukira tadi yg disukai Chaeri itu Sehun hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s