PASTEL #007

PASTEL

#007 

“Zitao!” Ahjumma memanggil keponakannya yang sedang duduk di kursi sambil fokus membaca kamus bahasa Korea untuk anak-anak.

“Ya?”  Tao pun menutup bukunya dan berjalan menghampiri Ahjumma yang menjulurkan pel pada dirinya.

“Ayo kita beres-beres, aku sudah menyapu sekarang tugasmu adalah mengepel oke?” Ahjumma tersenyum dan menyodorkan ember berisi air pada Tao

Tao kelagapan tidak benar-benar mengerti prosedur mengepel sebenarnya, tapi menjadi keponakan yang baik ia hanya ingin mengikuti permintaannya bibinya. Ia pun mengangguk dan segera memulai tugasnya.

 

Sementara itu Sabtu pagi yang cerah sama sekali tidak bisa memperbaiki mood Sina yang memburuk. Jika dihubungkan dengan janjinya bersama Sehun hari ini, harusnya mereka akan datang ke sekolah untuk melanjutkan tugas. Dan dengan begitu tugas mereka akan selesai dengan kurun waktu setengah dari yang diberikan, dan itu adalah target Sina sejak awal. Tapi Sehun, laki-laki yang baru saja menjalin sebuah hubungan ini akhirnya dapat mengecewakan seorang Sina. Keinginannya untuk membuat Sina puas bekerja dengannya menjadi hancur begitu Miyoung memaksanyau untuk melakukan kencan pertama mereka hari ini. Sehun, ia adalah laki-laki yang terlalu baik untuk menolak, dan kadang terlalu lemah jika diberikan dua pilihan. Hingga akhirnya pilihan jatuh pada Miyoung.

Maka pagi ini Sina memutuskan akan menghabiskan harinya di toko rajut langganannya sekalipun ia sama sekali tidak memutuskan untuk membeli sesuatu lagi. Salah satu hal yang ia suka dari toko rajut itu adalah bagaimana ia tetap di perbolehkan datang selama berjam-jam hanya untuk duduk di pinggir jendela sambil mengerjakan rajutannya tanpa seorang pun akan menegurnya. Sina butuh suasana tenang, ia butuh atmosfer menyegarkan, dan menurutnya toko rajut itu dapat menyediakan semuanya. Ya begitulah yang ia pikir.

Begitu berdiri di depan pintu toko, papan ‘close’ masih terpajang di pintu, Sina pun mengetuk pintu tersebut tiga kali. Tidak ada jawaban, tapi itu tidak membuat Sina mengurungkan niatnya masuk, mengetuk pintu baginya hanya formalitas dan itu tetap membuatnya memegang gagang pintu dan mendorong pintu tua yang langsung berderit begitu didorong.

Sina melangkahkan kaki kanannya dan membuka mulutnya untuk memanggil ahjumma tapi sayang moodnya yang kurang baik membuat ia kurang memperhatikan langkahnya sehingga dua detik sebelum ia menyelesaikan kata-katanya Sina dapat merasakan kaki kirinya bergerak di luar kendali.

BRUK!

Ia terpeleset, salahkan lantai licinnya tapi  yang membuat semuanya makin memburuk adalah ember penuh sabun yang tertendang sehingga melayang dan menyiram seluruh tubuhnya, atau lebih spesifiknya, kepalanya yang baru saja ia sampo pagi ini.

 

Tao yang sedang membongkar lemari di lantai atas sedang mencari handuk, kain, atau apapun itu. Ia baru saja terpeleset, tapi karena keseimbangannya yang cukup baik, hanya lututnya yang menyentuh lantai basah atau bisa kita katakan becek. Tiba-tiba ia mendengarkan sebuah gedebuk cukup keras yang langsung membuat kedua matanya membesar. Ia menghentikkan pencariannya yang nihil dan segera lari ke bawah. Di kepalanya terus terbayang bagaimana bibinya yang sudah berumur, duduk di lantai dengan ekspresi kesakitan yang membuatnya lemas cukup hanya dengan membayangkannya.

“Ahjumm—“ Tiba-tiba mulutnya tertutup, pemandangan yang ia lihat cukup membuatnya merasa ingin memukul dirinya sendiri. Ia merasa bodoh dan takut di saat yang bersamaan.

Sina yang menyadari Tao yang langsung berlari ke bawah begitu mendengar suara jatuhnya makin merasa bahwa dirinya dikutuk hari ini. Sina masih belum bisa bergerak, tubuhnya masih terlalu kaget, terlebih otaknya. Ember yang masih tersangkut di puncak kepalanya belum ia angkat. Tangan dan bokongnya masih terasa nyeri, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu pertolongan seseorang.

Tapi melihat Tao orang pertama yang melihat kondisi konyolnya membuat ia merasa tidak butuh pertolongan, ia harus  bisa sendiri.

“Jangan mendekat, aku bisa sendiri.” Sina langsung membentengi dirinya begitu ia menyadari Tao terus melangkah mendekatinya. Tao langsung berhenti dan menelan ludahnya, tangannya yang sudah siap ia julurkan segera ia kepal.

Sina menghela napas dan mengangkat ember kecil yang terasa berat di kepalanya. Sekarang rambutnya tercium wangi apel hijau, dia suka tapi itu adalah sabun pel, sehingga wangi apel itu sama sekali tidak menghiburnya untuk sekarang.

Tangannya yang masih gemetar berusaha menopang berat badannya untuk berhasil berdiri. Tapi lututnya yang lemas membuat Sina yang hampir setengah berdiri kembali terjatuh, ditambah fakta lantai licin yang hanya memperburuk semuanya. Sina hanya mengerang pelan dan mengacak-ngacak rambutnya yang basah.

Tao yang melihat Sina berusaha terlalu keras untuk berdiri sendiri diliputi perasaan bersalah, belum lagi Tao sendirilah penyebab Sina harus mengalami semua hal ini.

“TAO!”

Tao tersentak, ia segera menengok pada asal suara di mana bibinya sedang berdiri di depan pintu dengan dua kantong belanjaan. Matanya menatap Tao tidak percaya “Apa aku pernah mengajarkanmu untuk menjadi pria seperti itu? Angkat Sina dan bawa dia ke kamar!”

Tao menatap Sina yang masih memberi tatapan tajam “Ta-tapi—“

“Huang Zitao angkat sekarang.” Bibinya berkata tajam singkat cukup membuat Tao lebih merasa ngeri dibanding harus mengikuti perkataan Sina. Tanpa menunggu omelan lebih lanjut ia segera jongkok di depan Sina, satu tangan memegang punggung Sina, satunya lagi memegang kakinya. Dengan bridal style ia segera mengangkat Sina dan berjalan menuju tangga. Langkahnya pelan karena ia tidak mau membuat kesalahan bodoh untuk jatuh kedua kalinya, terlebih ia mengangkat Sina yang tatapannya cukup membuat dia merasa bahwa ia bisa saja membunuhnya.

Sebelum menaiki tangga ia menengok pada ahjummanya “Ahjumma hati-hati lantainya licin.”

Ahjumma itu menghela napas dan mengangguk “Aku tau, sekarang kau khawatirkan saja Sina, berikan ia handuk dan bajuku.”

Tao mengangguk dan berjalan menaiki tangga.

Ia dapat merasakan tangan Sina melingkari lehernya, ia tahu Sina melakukan hal itu karena ia takut akan terjatuh dari gendongan Tao, tapi Tao menjadi seorang pria normal membuat jantungnya berdetak lebih cepat dua kali lipat.

Sina tercium apel hijau, ia suka wangi itu oleh karena itu ia memutuskan untuk mengepel dengan sabun wangi itu dibanding belasan wangi buah lainnya.

“Maafkan aku, itu aku yang mengepel.” Akhirnya Tao memutuskan untuk berkata sesuatu.

Ia menengok pada Sina yang sama sekali tidak menjawabnya atau menatapnya, pipinya memerah.

“Maaf aku akan segera menurunkanmu, ahjumma benar-benar marah aku membiarkanmu jatuh begitu saja.”  Tao menyadari Sina yang terlalu malu sehingga ia memutuskan untuk meyakinkan Sina bahwa ia akan segera diturunkan.

Sina dalam hati benar benar ingin melakukan hal apa saja untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Tao, tapi berada dalam gendongan Tao membuat ia tidak bisa melakukan banyak hal selain melingkarkan tangannya pada lehernya untuk membuat ia merasa aman.

Sina bukan orang yang mudah dekat dengan pria, jika dikatakan Sehun adalah laki-laki pertama yang cukup banyak berbicara dengannya, itu adalah hal yang benar. Tapi jika dikatakan Tao adalah laki-laki pertama yang melakukan skinship dengannya itu juga hal yang benar.

Tinggi badan Sina yang hampir mencapai 170 cm membuat ia merasa menjadi manusia besar. Tapi sekarang, di gendongan Tao fakta itu membuat ia merasa tidak ada apa-apanya, Tao memang tinggi, ia tahu itu semenjak pertama kali mereka bertemu, tapi sekarang, digendong olehnya hanya membuatnya makin menyadari seberapa tinggi pemuda China ini. Bahu Tao yang lebar dan lengannya yang cukup kuat untuk menopanng tubuh Sina, membuat Sina seolah hanya gadis mungil di matanya.

Akhirnya setelah merasakan satu detik yang terasa satu menit, Tao menurunkan tubuh Sina dengan pelan di atas kasur.

“Ambilkan aku handuk.” Sina langsung berkata begitu ia melihat Tao hanya berdiri di samping kasur sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

Tao mengangguk dan segera berlari ke luar dari kamar. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan beberapa handuk di tangannya. Ia langsung memberikan Sina segepok handuk “Aku hanya butuh satu.” Sina berkata singkat sebelum melempar empat handuk yang ia tidak butuhkan.

“ Kau baik-baik saja?” Tao bertanya sambil duduk di pinggir kasur.

“ Menurutmu?” Sina malas menjawab, ia hanya mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum ia merasa akan masuk angin.

“Boleh aku lihat kakimu?” Tao kembali bertanya, ia mulai terbiasa dengan perilaku dingin Sina.

“Lihat sampai kau gila.” Sina menjawab jutek “Sekarang Tao, daripada melihat kakiku yang mana aku bisa melakukan hal itu sendiri, bisakah kau meminjamkan baju untukku?”

Tao mengangguk dan segera membongkar lemarinya, Ia mengambil satu baju lengan panjangnya yang cukup kebesaran untuk dirinya sendiri, yang ia pikir bisa menutupi tubuh Sina sampai lututnya. Harusnya ia meminjamkan baju ahjumma untuk Sina, tapi untuk apa kalau sebenarnya dengan bajunya sendiri sudah cukup?

“Ini.” Tao menjulurkannnya pada Sina, yang langsung Sina terima.

Sina merentangkan baju itu di depannya lalu mengangguk setuju dengan pilihan baju Tao. Ia ingin segera melepas pakaiannya yang terasa lengket di badan begitu menyadari Tao masih ada pinggir kasur.

“Kakiku masih sakit, aku tidak bisa bergerak.” Sina berkata pada Tao yang memandangnya dengan pandangan khawatir.

Tao mengerjapkan kedua matanya “Ka-kau tidak bisa ganti baju sendiri?”

Sina menutup matanya dan mendecak “Bodoh, maksudnya aku tidak bisa ke kamar mandi, sekarang keluar dari sini, kalau kau tidak ingin kuanggap sebagai seorang byuntae.”

“Apa itu byuntae?” Tao bertanya yang hanya membuat Sina makin depresi ingin segera mengusirnya.

“Mesum.”

Tao segera membuka mulutnya kaget. “Aku bukan byuntae!

“Keluar kalau begitu.” Sina menatap Tao datar berbanding terbalik dengan muka Tao yang memerah, Tao mengangguk panik dan segera berlari keluar kamarnya.

 

“Maaf” ahjumma sudah mengucapkan itu entah yang keberapa kali terdengar di telinga Sina. Sina hanya mengangguk dan menunjuk lutut merahnya yang sudah diperban Tao.

“Lihat Ahjumma, lututku sudah baik-baik saja, aku sudah ganti baju sehingga aku tidak mungkin masuk angin.”

Ahjumma hanya tersenyum dan mencoba mempercayai kata-kata Sina. Sementara itu Tao berada di counter kasir sedang membuatkan teh untuk mereka bertiga. Pipinya merah setelah ditampar Sina, insiden tidak sengaja memegang paha Sina begitu ia sedang membalut lututnya membuatnya segera mendapat blush-on instan dari Sina.

Tao menghampiri ahjumma dan Sina yang sedang mengobrol di meja dekat jendela. Sina yang menyadari Tao menghampiri dirinya segera menarik ujung bibirnya ke atas, menunjukkan half-smile yang ia tunjukkan begitu ia menemukan hal baru. Sina baru saja menyadari bahwa menjahili Tao adalah hal yang menyenangkan. Setelah kecelakaan ‘kecil’ tangan Tao tadi dan melihat betapa paniknya Tao membuat Sina sadar bahwa Tao adalah Tao, pemuda berbadan tinggi, dengan muka tegas yang sangat kontras dengan kepribadian aslinya. Polos, tidak tahu apa-apa.

“Kenapa pipimu merah Tao? “ Ahjumma menyadari pipi keponakannya yang terdapat rona merah hanya  di pipi kanan.

“Aku menamparnya karena tadi ada nyamuk” Sina setengah berbohong tapi sama sekali tidak mendapat protes dari Tao.

Ahjumma hanya tertawa membuat Tao menunduk, pipi kirinya ikutan memerah mengingat insiden tadi “Baiklah, sekarang aku akan membuatkan sarapan, kau temani Sina di sini.”

“Eh?” Tao mengangkat wajahnya

“Sina masih belum bisa berjalan dengan benar, kau disini sehingga kalau ada apa-apa kau siap membantu.”

Tao terdiam dan mengangguk “Lebih baik kau melanjutkan belajar bahasa Koreamu di sini saja.” Ahjumma meletakkan kamus bahasa korea di atas meja yang segera membuat Sina ingin menahan tawa.

Begitu ahjumma pergi Sina pun segera membuka mulutnya.

“Umurmu berapa?” Sina bertanya sambil mulai melakukan rajutannya.

“19 tahun, Shina?” Tao langsung bertanya, ia ikut penasaran.

Berbeda dengan Tao,  sebenarnya Sina sama sekali tidak penasaran mengenai umur asli orang di depannya ini, ia hanya ingin menggoda Tao kenapa seorang laki-laki berumur 19 tahun masih membutuhkan kamus anak-anak?

“Aku 18 tahun.” Sina mengurungkan niatnya untuk mempermasalahkan soal kamus, tapi tiba-tiba ia mengingat hal lain yang tidak kalah menarik untuk membuat Tao malu.

“Haruskah aku memanggilmu Tao-oppa?” Tao yang sedang membolak-balik halaman bukunya segera menatap Sina. Ia mengedipkan matanya dua kali sebelum mengatakan sebuah hal konyol bagi Sina.

“Sina menyukaiku?”

Senyum Sina segera menghilang begitu mendengar pertanyaan menggelikan itu. “Kenapa tiba-tiba aku harus menyukaimu hah?”

“Tadi Sina bilang mau memanggilku oppa?”  Tao  bertanya tanpa sedikitpun memperlihatkan keraguan. Selama ini drama Korea yang ia tonton menunjukkan bahwa panggilan oppa ditunjukkan dari gadis pada laki-laki yang disukainya.

Sina menghela napas “Oppa ditunjukkan untuk laki-laki yang lebih tua, tidak harus selalu suka.” Sina menjelaskan yang segera dijawab anggukan kepala oleh Tao.

“Sina boleh memanggilku oppa.” Tao tersenyum pada Sina, entah kenapa oppa terdengar manis di telinganya.

Sina hanya menatap balik Tao dengan datar, laki-laki ini terlalu bodoh hanya itu yang ia pikirkan “Lupakan, aku tidak akan memanggil laki-laki sebodohmu dengan oppa.”

Tao memanyunkan bibirnya sedikit namun ia tidak protes dan kembali melanjutkan pelajaran bahasa koreanya.

Dari ekor matanya Sina dapat menangkap bahwa Tao sedang membaca satu demi kata dengan matanya, terlihat sangat fokus. Ada satu hal tentang mata Tao yang membuatnya segera bertanya “Kau bergadang? Kantung matamu besar sekali.”

Tao segera mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Sina yang jarang sekali menatapnya, Sina tampak penasaran, meskipun rasanya sudah ribuan kali Tao menjawab pertanyaan mengenai kantung matanya itu, dan biasanya ia selalu bosan menjawab hal itu, entah kenapa kali ini rasanya berbeda jika Sina yang bertanya.

“Bawaanku dari lahir.” Tao tersenyum dan Sina mengangguk-ngangguk “Sudah mencoba berobat?”

Tao menggelengkan kepalanya “Tidak, aku nyaman dengan kantung mata ini, lagipula ini membuatku terlihat lebih pria dewasa kan?” Tao menyeringai, sisi kanaknya terlihat dan membuat Sina tertawa kecil “Yah seperti panda jantan dewasa.”

Tao ikutan tertawa “Aku suka Kungfu Panda”

Sina menggelengkan kepalanya  “Sayangnya tidak mirip, kau tidak bisa beladiri.”

Tao langsung menutup bukunya “Siapa bilang, aku bisa wushu” Ia langsung berdiri untuk membuktikkan kata-katanya benar.

Sina pun memutar bola matanya “Sudahlah duduk, aku capek.”

Tao tetap berdiri, ia masih ingin memperagakan beberapa tehnik yang ia kuasai. Sina menghela napas “Ya ya ya, aku akan memanggilmu wushu panda.”

Tao pun menyeringai dan duduk. Sina meletakkan rajutannya yang belum sampai setengah dan menyeruput teh yang sudah mendingin. “Mau kubuatkan lagi?”

Sina menggeleng. Tao pun kembali melanjutkan bacaannya.

Keheningan menyeliputi mereka berdua. Keheningan yang membuat keduanya merasa nyaman. Tao sedang mengingat satu persatu kata yang ia baca, Sina sibuk memberikan simpulan terapih untuk setiap bagian rajutannya.

Ahjumma hanya tersenyum melihat kedua orang yang cukup pentingnya menghabiskan waktu dengan damai. Tao yang pernah bercerita bahwa ia takut pada Sina sepertinya sudah bisa menangani rasa takutnya. Sementara Sina yang terlihat selalu jengkel dengan keponakannya itu tampak sudah nyaman dengan kehadiran Tao.

 

“Hatchihh” Sina bersin untuk ketiga kalinya , Tao yang mendengar merasa bersalah. Sekarang sudah siang dan cahaya matahari mulai memanas tapi ia masih bisa melihat bibir pucat Sina.

“Sudah kubilang ini bukan salahmu.” Sina berkata sambil mengucek hidungnya yang terasa gatal. Tidur dengan rambut basah kemarin malam membuatnya sedikit flu.

“Bagaimana kalau kita jalan keluar sekarang?” Tao berusaha mencari akal untuk membuat Sina merasa lebih baik. Ia sudah menawarkan Sina untuk minum obat tapi Sina selalu menyangkal bahwa ini hanya flu ringan.

“Kenapa jadi jalan keluar?” Sina bertanya, ia membenarkan posisi jaket yang ia pinjam dari Tao. Tubuhnya tiba-tiba menggigil, ia membuat janji pada dirinya sendiri untuk membeli hair dryer baru besok minggu.

“Cahaya matahari bisa menghangatkanmu dan kita bisa makan odeng untuk makan siang.”

Sina diam dan berpikir tentang tawaran Tao, perutnya memang lapar, dan mendengar oden selera makannya segera meningkat. Sina pun mengangguk dan membuat Tao tersenyum dan berdiri dari kursinya.

Ahjumma yang sedang berjaga di counter kasir memperhatikan keponakannya dan Sina berdiri dari kursi mereka. “Ahjumma kami mau membeli oden.” Tao menghampiri ahjumma yang hanya tersenyum “Kau berani juga ya Tao.”

 “Berani apa?” Tao segera memasang ekspresi bingungnya

“Mengajak kencan seorang Ahn Sina? Bukankah itu sebuah tindakan berani?”

“HAH?”  Tao terperanjat dan hanya membuat ahjumma nya makin merasa geli melihat tingkah lucu keponakannya “Sudahlah Sina sudah menunggumu ayo cepat.”

Tao menggigit kedua bibirnya, lalu berjalan menuju Sina yang sedang berdiri di depan pintu menghadap ke luar jendela.

Ini pertama kalinya Tao melihat Sina menggerai rambutnya, selama ini Sina yang ia lihat adalah Sina sebagai murid SMA yang selalu mengikat rambutnya dan mengangkat poninya dengan jepit. Tipikal murid SMA yang tidak ingin rambut menghalangi aktivitasnya. Sekarang karena rambutnya baru saja kering Sina membiarkan rambut lurus panjangnya itu tergerai menutupi sebagian punggungnya. Ia tersenyum menyadari bau apel masih tercium kuat dari rambutnya.

“Ayo kita keluar.” Sina mendengar suara Tao dari belakang, tangannya sudah memegang gagang pintu. Sina mengerutkan dahinya “Aku keluar dengan baju seperti ini?”

Tao memiringkan kepalanya melihat penampilan Sina dengan baju dan jaketnya, tidak ada yang salah di matanya. Kalau boleh jujur Sina terlihat lebih manis, ia tampak tenggelam di baju tao yang membuatnya seperti memakai daster, ditambah dengan jaket berhoodie leopard yang membuat Sina seperti wanita galak yang sulit didekati.

“Kau tampak—“ Tao ingin mengatakan manis tapi entah kenapa ia takut Sina akan merasa geli mendengan pujian itu. “Keren.” Tao menyeringai.

Sina mengerjapkan kedua matanya, kaget dengan komentar Tao. Ia hanya mengangguk, Tao pun membuka pintu toko dan membiarkan Sina keluar terlebih dahulu.

 

“Hoahm” Sehun menguap entah yang keberapakalinya siang itu. Di tengah kencannya ia terpisah dengan Miyoung yang tiba-tiba bertemu dengan teman sekolahnya.

Miyoung yang jaraknya terpisah dua tahun dari Sehun membuat Sehun dalam kodratnya harus memanggil Miyoung dengan noona. Dan melihat Miyoung bersama teman-temannya tadi, aturan itu terasa menjadi wajib bagi Sehun. Miyoung bersama temannya membuat ia mengeluarkan aura sebuah wanita dewasa yang membuat Sehun seperti tidak mengenal kekasihnya sendiri. Reaksi dari teman-teman Miyoung makin meyakinkan Sehun bahwa Sehun merasa dirinya terlalu menggemaskan di mata mereka ,yang membuat harga diri Sehun sebagai seorang pria sedikit turun.

Hal yang memperburuk keadaan adalah hp Sehun yang tiba-tiba habis di tambah fakta ia lupa membaca charger.

Sekarang Sehun sedang duduk di kursi taman, menunggu Miyoung melihat dirinya. Ia tahu itu tindakan bodoh seorang pemalas tapi entah kenapa hari ini tidak merasa menjadi Sehun yang seperti biasanya.

“Boleh aku duduk di sini?” Dengan mata tertutup oleh topi ia merasakan seorang perempuan di depannya meminta izin pada dirinya. Sehun menganggukkan kepalanya. Beberapa detik kemudian ia merasakan sebelahnya yang daritadi kosong terisi. Wangi apel hijau yang sama dengan wangi lantai kamarnya membuat Sehun membenarkan posisi duduknya dan mengangkat topi dari wajahnya.

Seorang gadis dengan tangan terlipat di depan dada tampak sedang memakan odeng, poninya yang panjang membuat sebagian wajahnya tertutupi. Gadis itu tampak terganggu dengan poninya sendiri, sehingga dengan karet pembungkus makanan ia mengikat poninya itu.

“SINA??” Sehun setengah berteriak. Mendapati sosok Ahn Sina duduk di sampingnya. Faktanya Sina juga merasa kaget mendapati Oh Sehun sekarang berada di sampingnya, tapi Sina bisa mengontrol ekspresinya jauh lebih baik dari Sehun sehingga yang ia lakukan hanya menggumamkan nama “Sehun?”

“Bagaimana kau bisa di sini?” rasa kantuk Sehun segera hilang. Rasa ingin tahunya langsung mendominasi otaknya, kebetulan ia alami benar-benar terasa seperti sebuah hal yang sudah di rencanakan.

“Aku berjalan keluar dari rumah dan aku di sini.” Sina menjawab pertanyaan merepotkan Sehun dengan malas. Sehun meniup poninya “Semua orang tahu itu Sina.”

Sina menaikkan kedua bahunya “Aku tersesat.”  Jawaban singkat yang jujur keluar dari mulut Sina. Beberapa menit setelah membeli odeng, tiba-tiba Tao ingin ke toilet. Sina memutuskan untuk menunggu Tao di bawah pohon dekat pojangmacha, tapi entah kesabaran Sina yang salah atau Tao yang terlalu lama ke toilet Sina merasa ada yang salah sehingga ia akhirnya berjalan mencari sosok Tao. Tao orang baru disini, mungkin saja ia tersesat, begitu yang Sina pikir.

Dan sayangnya Sina melupakan fakta tentang dirinya sendiri bahwa ingatannya untuk mengingat jalan sangat diragukan untuk orang seumurnya, lima menit setelah ia terus melangkah, daerah sekitarnya menjadi terasa sangat asing. Sina tersesat.

“Bukannya kau bersama Miyoung?” Sina menyadari hal aneh melihat Sehun sendirian di tengah taman.

“Aku terpisah dengan Miyoung.”

“Pabo.” Sina merespon singkat dengan mulut penuh odengnya.

Sehun tertawa melihat respon cuek Sina. Ia merasa nyaman dengan perempuan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa suka pada dirinya membuat ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri.

“Jadi kau jalan dengan siapa?”

Sina memikirkan jawaban tepat yang bisa mendeskripsikan Tao “Teman.”

Sehun mengangguk-ngangguk, ia pun berdiri dan meregangkan kedua temannya, bertemu teman cukup membuat moodnya menjadi lebih baik.

“Aku rasa kita sama-sama tersesat hari ini mengartikan kita memang harus mengerjakan tugas.” Sehun menengok ke belakang pada Sina yang sedang menatapnya dengan datar, mulutnya masih mengunyah odeng sehingga ia tidak menjawab apapun.

Setelah satu odengnya habis Sina ikut berdiri dan meregangkan badannya “Apa kau tidak bisa menghubungi Miyong?”

Sehun menggelengkan menunjukkan layar hpnya yang hitam “Mau kupinjamkan hpku?” Sina pun menjulurkan hpnya. Sehun lagi-lagi menggeleng “Nanti saja, lebih baik aku membantumu mencari temanmu sekarang, bagaimana?”

Sina segera mengangguk, tersesat merupakan kondisi terburuk baginya, otak Sina sangat sulit diajak mengingat jalan, entah apa yang salah mengingat bahwa dalam mengingat langkah merajut Sina bisa melakukannya dalam sekejap.

Sebelum mereka berdua berjalan, Sehun memperhatikan pakaian Sina yang cukup membuatnya kaget tidak menyangka Sina memiliki selera seperti itu, kaos dengan print serigala dan jaket berhoodie leopard “Gayamu keren.” Sehun tersenyum, pujian yang sama dengan Tao, Sina dalam hati merasa harus berterima kasih dengan Tao karena rasanya Tao lah yang memilihkan pakaian untuknya.

“Terima kasih.” Sina menjawab.

“Kau tidak ingin memujiku?” Sehun menyeringai, Sina pun menatap Sehun dari ujung kaki sampai kepala. Sehun memakai kemeja biru terlihat santai dengan kancingnya yang dibiarkan terbuka sampai setengah memperlihatkan kaos dalamnya yang berwarna hitam terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Tambahan memakai jeans dan sneakers. Itu penampilan biasa. Tapi satu hal yang tetap tidak bisa dikelak, Sehun tampan.

“Kau tampak seperti biasanya Sehun.” Sina menjawab jujur sambil berjalan meninggalkan Sehun yang mendecak tidak puas dengan jawaban Sina.

Sehun segera berlari dan menyesuaikan langkahnya dengan Sina. “Sekarang katakan bagaimana penampilan temanmu.”

“Tubuhnya tinggi, mungkin beberapa senti lebih tinggi darimu.”

Sehun membulatkan matanya “Hah? Tinggi sekali?” Ia terkaget mendapati seorang perempuan yang bisa melebihi tingginya, yang rata-rata untuk seorang laki-laki Korea cukup tinggi.

Sina tertawa melupakan satu hal “Ah aku lupa dia laki-laki.”

Laki-laki? Sehun bertanya dalam hati “Aku baru tahu kau punya pacar.”

Sina mengerutkan dahinya “Pacar dan teman laki-laki adalah hal yang berbeda Sehun.”

Sehun hanya mengangguk “Tapi laki-laki dan perempuan jalan berdua? Bukankah itu kita sebut kencan?”

Sina menghela napas “Kalau begitu sekarang kita juga sedang kencan?”

Sehun terdiam cukup lama sebelum menjawab “Baiklah aku mengerti.”

Sina pun melanjutkan deskripsinya setelah yakin Sehun mengerti bahwa dia dan Tao tidak ada hubungan spesial. “Rambutnya hitam, pendek, kantung matanya besar, memakai jaket hitam panjang selutut.”

“Baiklah siap!’ Sehun berkata dengan semangat.

“Tapi aku belum siap.” Sina berkata dengan lemas sambil menarik ujung baju Sehun. Sehun menengok dan melihat Sina menatapnya dengan tatapan datar tapi tersirat rasa lelah. “Aku lapar.”

Sehun menyeringai “Dan kabar baiknya aku juga lapar.”

 

“Untuk seorang perempuan selera makanmu lumayan besar Sina.”

Sina menghentikkan kunyahannya dan menatap Sehun yang sedang menyedot cola nya.

“Aku tidak tahu standar makanmu tapi aku memang lapar.” Sina menyuap sendok terakhirnya lalu meneguk lemon tea gelas keduanya.

Sekarang mereka berdua sama-sama kenyang. Sehun menghela napas dan membetulkan posisi duduknya sementara Sina masih harus menghabiskan fruit parfait sebagai makanan penutup yang ia pesan.

Sehun menatap Sina yang sedang mengeluarkan hp untuk memfoto makanan cantik yang rasanya terlalu sayang untuk dimakan.

“Habis ini mau nonton apa?” Sehun bertanya sesuatu yang keluar kendali dari otaknya. Sina yang sedang menyendok parfait nya menatap bingung Sehun “Kupikir kita akan mencari temanku?”

Sehun menepuk dahinya “Maaf aku lupa, atmosfer ini benar-benar membuatku berpikir kalau kita memang sedang jalan-jalan.”

Sina hanya mengangguk memaklumi dan segera memasukkan cream yang terasa begitu manis di lidahnya, dalam beberapa menit setengah gelas sudah ia habisi, sementara Sehun hanya menatapnya dan mengomentari cara makan Sina yang kadang berantakan.

“Aku lupa ini kau yang bayar Sehun, mau?” Sina berhenti mengambil dan menatap Sehun yang sedang menyandar pada kursi, ia baru ingat kalau ia lupa membawa dompetnya sendiri sehingga Sehun mentraktirnya. Sehun terdiam merasa kaget dengan tawaran Sina. Ia ingin mengangguk dan memajukan posisi duduknya untuk mencoba parfait yang terlihat lezat itu, tapi posisi badan yang sudah terlalu nyaman membuat Sehun mencoba memikirkan hal baru. “Tolong suapi aku.”

Sehun tertawa mengetahui permintaannya adalah hal konyol, dan beruntungnya Sehun, Sina sama sekali tidak merasa bahwa itu adalah hal yang konyol. Beberapa detik kemudian, sendok penuh cream sudah terlihat di depan mata Sehun. Sehun menatap sendok dan wajah Sina bergantian, masih tidak percaya.

Sina menghembuskan napas “Ayolah cepat aku pegal.”

Tanpa pikir panjang Sehun langsung membuka mulutnya dan membiarkan sendok itu masuk ke mulutnya. Potongan strawberry yang asam terasa manis, entah bagaimana.

“Enak kan?” Sina puas melihat wajah Sehun yang terlihat terkesima dengan makanan yang baru masuk ke mulutnya itu.

Sehun hanya mengangguk, benar makanannya terasa enak tapi ada hal lainnya yang membuat otaknya seperti memproses hal baru. Bukan masalah seberapa enak parfait itu, yang membuat semua menjadi tidak biasa justru dari Sina sendiri. Sehun tidak tahu apa yang salah, dan dia tidak begitu suka ketika Sina tersenyum padanya karena rasa bersalah tiba-tiba menggerogoti Sehun begitu ia menyadari kata manis cocok untuk senyum itu.

________________________________

(A/N)

Nah, that’s Tao fluff moment❤

(sekarang author minta senaXkyungsoo di HoW)

Kurang fluff? tenang author masih banyak di kantong /wink

xxooxoxoxoooxox,

pikrachu

7 thoughts on “PASTEL #007

  1. KYYAAAAAA~~ KYAAAA~~~ AASHXBKKLASDFGHJKLQWER
    FAVORIT FAVORIT FAVORIT
    Ada Tao-Sina moment, ada juga Sehun-Sina moment
    Apalagi yang terakhirrr, huhuhuhu jd pengen gigit Chanyeol sumpahh.. SEHUN KAMU MANISSSSS BANGETT TT.TT

    Tadi aku baca ada beberapa typo ya

    Tapii..
    Pikrachu hebat, keren..

  2. Sina mau nyuapin sehun aaaaaaaa
    Kok bisa sih dia mau kaaak?? Padahal sama tao aja dia gamaauuu adudududuuh ><

    Sumpah tao polos bangeeet, masa panggilan oppa cuma buat pacaaar, aduh kalo gitu satu cewek sana punya pacar banyak banget ya haahaha
    Eh tapi itu ngomong ngomong air pelnya udah dipake belum sih? Belum kan yah? Plis belum, kalo udah kasian banget sinaaa hahahaha xD

    Sehun serius ga sih ama miyoung? Entah kenapa aku ngebayangin miyoung tuh kaya sandara gitu deh hahaha padahal udah liat sosoknya di omake tapi kebayangnya sandara mulu, wkwkwk xD

  3. Asdghjkl sinaxsehun moment omoooo omoooooo. Jangan bilang sehun suka sama sina aku nggak bisa bayangin reaksi miyoung ke sina kalo mereka(sehunxsina) pacaran nantinyaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s