PASTEL #008

A/N: THIS IS HALLUCINATION. DOUBLE DATE JUST YOUR IMAGINATION.

PASTEL

#008 

“Aaah!” Tao mengerang sepelan mungkin, begitu ia berjalan keluar dari toilet Sina yang ia pikir harusnya menunggu di dekat pojangmacha sama sekali tidak terlihat. Perutnya yang sakit mendadak membuatnya harus menghabiskan waktu di toilet lebih lama. Ia sudah lapar dan telanjur menyuruh Sina memegang semua jatah makanannya. Sekarang ia kehilangan dua hal penting, Sina dan odengnya.

Tao akhirnya memutuskan untuk berjalan pelan mencari Sina, panik tidak ada gunanya, atau mungkin hanya karena dia lapar dan tidak bisa mengerahkan seluruh tenaganya?

Harinya di Korea memang masih terbilang sedikit, tapi jalan di daerah pojangmacha pertamanya sudah Tao hafal di luar kepala. Malam itu begitu ia dan ahjumma dan Sina makan di pojangmacha, Tao langsung menghafal setiap belokan yang ia lewati. Tapi sebelum ia berjalan, Tao menghampiri ahjussi yang sudah ia kenal lumayan baik.

“Ahjussi, apakah kau melihat wanita yang tadi datang bersamaku?” Tao bertanya dengan bahasa Koreanya yang sudah jauh membaik.

“Aahh..yeojachingu?* Dia ke sana tadi” Ahjussi itu menunjuk dengan tangannya yang memegang dua odeng.

“Yeojachingu?” Tao berkata dalam hati, ia mengartikan yeojachingu dengan teman perempuan. Tao pun mengangguk dan tersenyum mendapatkan sebuah kosakata baru.

Begitu Tao melangkah, ia kembali menengok ke belakang dan menghampiri ahjussi yang sedang duduk istirahat. “Oh ya aku beli 12.” Tao menyeringai, ia ingin memberi kejutan pada Sina dengan membeli 12 odeng, enam untuknya dan enam lagi untuk Sina.

Mata tajam Tao akhirnya mencapai batas lelahnya juga, setelah hampir setengah jam ia berkeliling dengan enam odeng masing-masing di setiap tangannya ia memutuskan untuk beristirahat di sebuah kursi bawah pohon. Perutnya sudah berbunyi menuntut meminta makanan, tapi Tao tetap menahan, makan siang menurutnya akan lebih menyenangkan jika bersama seseorang, dan ia pikir Sina juga pasti kelaparan.

Tiba-tiba hp Tao berbunyi, ahjumma mengirimkan sms padanya. Nada deringnnya yang berisik membuat Tao ingin segera menghentikkan bunyi hp nya, tapi tangan yang sibuk memegang odeng membuat semuanya menjadi sulit. Tao berdiri dan berusaha mencari seseorang yang bisa ia minta tolong untuk memegangi sebagian odengnya.

Begitu memperhatikan sekitar dengan lebih fokus, ia menyadari bahwa hampir seluruh orang-orang di sekitarnya sedang berjalan berdua dengan pasangan mereka. Sedari tadi Tao hanya memfokuskan matanya mencari sosok Sina tapi sekarang matanya menjadi lebih terbuka dan menyadari bahwa ia satu-satunya sosok sendirian, mungkin terlalu hiperbola, tapi kenyataan seperti itu yang Tao tangkap.

Sesuatu yang berbeda tiba-tiba Tao rasakan, detak jantungnya lebih cepat, terasa hal geli namun membuatnya menjadi malu juga begitu membayangkan kalau ia dan Sina sebenarnya sama dengan orang-orang sekitarnya. Berjalan, berdampingan, ia dan Sina. Apakah itu tadi yang dimaksud kencan oleh ahjummanya?

Tao menggelengkan kepalanya dan kembali duduk, ia melupakan hpnya yang berisik, sekarang matanya berfokus pada pasangan yang berlalu lalang di depannya. Ada yang bergandengan tangan, ada yang saling menyuapi, ada yang hanya saling menatap. Tao tahu ini merupakan hal biasa, tapi 18 hidup sebagai laki-laki single membuatnya masih baru dalam melihat hubungan romantis pria dan wanita. Selama ini ia tidak tahu, apakah hormonnya yang terlambat bekerja tapi tidak ada wanita China yang dapat mengalihkan perhatiannya dari beladiri wushu yang ia tekuni sejak kecil.

Ia memutuskan pindah ke Korea dan memulai hidup barunya. Rasanya seperti tumbuh menjadi bayi lagi, belajar bahasa baru, bertemu orang baru. Tao menghela napas lega, tiba-tiba tenaganya terasa kembali penuh, ia harus mencari Sina, teman Korea pertamanya dan mungkin teman kencan pertamanya juga. Tanpa pikir panjang Tao segera berdiri dari kursi, matanya urus menghadap ke depan, kakinya siap kembali melangkah namun terhenti begitu matanya menangkap sosok hoodie leopard kesayangannya yang terlihat di dalam sebuah café.

Tao tahu orang itu tidak mungkin Sina, karena orang yang sedang memakai hoodie itu sedang makan berdua bersama seorang pria. Dan seperti yang ia tahu, Sina sendiri. Tapi Tao, menjadi laki-laki yang mudah penasaran membuat matanya yang minus harus melangkah lebih maju lagi agar dapat melihat orang yang satu selera dengannya itu.

“Hahahaha” Tao tertawa , terlihat bodoh, wanita itu tampak seperti Sina. Ia memutuskan akan menceritakan hal ini pada Sina, bahwa ia melihat perempuan yang mirip dengannya.

Namun tawa Tao berhenti begitu wanita yang menyerupai Sina itu berdiri dan memperlihatkan print serigala di bajunya. Kali ini Tao mengucek-ngucek matanya, ia kembali berjalan mendekati jendela café untuk memastikan siapa yang ia lihat.

Tepat beberapa detik Tao berjarak tiga meter dari jendela café, lututnya terasa lemas. Selama ini tidak ada yang mampu mengalahkan keseimbangan Tao. Tubuhnya sudah terlatih selama belasan tahun melalui beladiri wushu. Tapi pemandangan yang baru dilihatnya itu mendepak fakta itu, lutut Tao terasa lemas hampir jatuh, kalau saja ia bukan wushu panda tentu tinggal tunggu waktu sampai tangannya ikut melemas dan melepaskan kedua belas odeng.

Sina berdiri di sana, dengan senyuman yang Tao pikir selama ini hanya Sina tunjukkan untuknya. Tao tidak tahu apakah keluarganya memiliki keturunan penyakit jantung atau tidak, tapi entah kenapa dadanya terasa sakit.

Keringat menetes di dahi Miyoung membuat make upnya menjadi sedikit luntur. Setelah mengobrol dengan temannya ia baru sadar Sehun sudah menghilang dari sampingnya. Perasaan gelisah sekaligus bersalah muncul bersamaan, Miyoung merasa bodoh sempat melupakan keberadaan orang terpenting untuk dirinya selama beberapa saat. Jika Sehun marah Miyoung sudah mempersiapkan hal itu, ia tahu ia salah.

Sehun yang sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya membuat Miyoung semakin merasa bahwa hubungannya dengan Sehun sudah diambang-ambang hanya dengan alasan sederhana.

“Permisi apakah kau melihat laki-laki cukup tinggi yang memakai topi merah biru dan kemeja biru?”  Miyoung bertanya acak pada seseorang yang melintas di depannya itu. Orang itu hanya menggeleng membuat Miyoung makin frustasi, ia sudah bertanya lebih dari lima orang dan semua memberi jawaban yang sama.

“Sehuuuun!” Miyoung berteriak, keputusan terakhirnya. Ia tahu dengan memanggil nama Sehun sekencang itu hanya akan membuat Sehun terlihat sebagai anak hilang yang tidak bisa apa-apa meskipun pada kenyataannya Sehun memang menghilang.

Untungnya usaha Miyoung tidak sia-sia, seorang ibu muda bersama anaknya datang menghampiri Miyoung.

“Anakmu seperti apa?” Pertanyaan itu terdengar konyol di telinga Miyoung. Apakah ia sudah terlihat seperti seorang ibu? Tapi Miyoung tidak bisa lebih dari bersyukur seseorang bersedia membantunya, ia pun memaksakan sebuah senyuman “Di-dia pacarku, memakai topi merah biru dan kemeja biru, tubuhnya cukup tinggi.”                       

“Ahh! Oppa yang itu!” Anak perempuan yang digandeng ibunya itu tiba-tiba berseru. Miyoung langsung menengok. “Umma tidak ingat? Oppa yang tadi membelikanku bubble tea!”  Anak itu tampak gemas dengan ibunya yang seperti tidak mengerti apa-apa.

Beberapa detik kemudian senyum muncul di wajah ibu muda itu “Aah-! Namja itu!”  

“Kau melihat Sehun??” nada suara Miyoung meninggi menandakan semangat kembali muncul pada dirinya.

Ibu muda itu mengangguk tapi tiba-tiba senyumnya hilang, ia menggaruk dagunya seperti ada sesuatu yang salah “Tapi kau bilang, kau pacarnya?”

“Ya aku pacarnya” Miyoung tersenyum dan merapihkan rambutnya untuk membuat dirinya terlihat pantas bersanding dengan Oh Sehun.

“Tapi oppa tadi aku lihat sedang berdua dengan perempuan cantik yang terlihat seperti pacarnya.”  Anak perempuan itu berkata dengan santai, sangat berbeda dengan reaksi orang yang mendengarnya, Miyoung.

Miyoung menarik napasnya dan berusaha tersenyum “Maaf…Sehun berdua dengan siapa?”

“Pa—“ Tiba-tiba mulut anak perempuan itu tertutup, ibunya menutup mulut anak perempuan itu dan langsung tertawa mulai menyadari ada sesuatu yang salah “Hahahah laki-laki yang mungkin kau bicarakan itu, kami melihatnya di taman, kau bisa mengeceknya aku rasa dia belum pergi.”

Mereka berdua langsung pergi dari hadapan Miyoung, meninggalkan Miyoung yang berdiri kaku berusaha mengolah informasi yang baru didengarnya itu.

“Pasti bukan Sehun.” Miyoung berkata pada dirinya sendiri sambil berjalan menuju taman.

“Sehun sudah beribu kali kita periksa tidak ada temanku di taman ini.” Sina menjatuhkan dirinya di kursi taman meninggalkan Sehun yang hanya tertawa “Aku mau membeli bubble tea.”

Sina hanya mendecak dan menutup matanya, ia mulai mengantuk, kakinya pegal, berbeda dengan Sehun yang sama sekali tidak terlihat kehabisan tenaga.

Beberapa menit kemudian sesuatu yang dingin menempel di pipinya, Sina membuka mata dan mendapati Sehun sedang menempelkan segelas bubble tea pada pipinya. Sina mendorong bubble tea itu dari pipinya “Aku kenyang, tidak haus, dan aku tidak suka bubble tea.”

Penolakan itu hanya membuat Sehun tertawa sekalipun Sina jelas tidak bercanda ketika menjawabnya, ia tahu Sina, orang yang selalu mengatakan dengan jelas mana yang ia tidak suka.

Sehun hanya menaikkan bahunya “Baiklah, ayo kita mencari temanmu.”

Sina pun beranjak dari kursi, dan kembali mencari Tao, tapi tiba-tiba Sehun berjalan seenaknya sendiri, Sina mulai muak dengan Sehun yang seenaknya memberi arahan tapi ia terlalu malas mengeluarkan argumennya sendiri sehingga memilih menghampiri Sehun yang ternyata menghampiri seorang perempuan kecil.

“Hei, apa kau haus?” Sehun bertanya dengan lembut pada anak perempuan yang sedang duduk dengan ibunya di sampingnya yang hanya menatap kaget.

Sehun tersenyum pada ibunya untuk meyakinkan bahwa ia berniat baik, senyum Sehun sukses melelehkan jiwa waspada ibu muda itu. Ia tersenyum balik dan membiarkan Sehun berbicara dengan anaknya. Sina mengikuti Sehun dari belakang, dan duduk di samping anak itu.

“Oppa ini akan memberikanmu bubble tea asal kau mau memberitahu apakah kau melih—“ Tiba-tiba Sehun menutup mulut Sina, ia tertawa kecil dan meletakkan segelas bubble tea di sebelah anak itu “Ini gratis.”

Sina menginjak kaki Sehun membuat Sehun segera melepaskan tangannya “Katakan, apakah kau melihat laki-laki tinggi dengan wajah agak menyeramkan? “ Sina bertanya tidak peduli dengan tatapan Sehun yang seperti berkata hei-dia-anak-kecil-Sina.

Anak itu tidak peduli dengan Sina yang keras kepala ingin bertanya dengannya, sekarang ia fokus menyesap bubble tea nya, ia pun menggelengkan kepalanya pada Sina. Sina menghela napas lalu berjalan meninggalkan anak perempuan itu dengan Sehun.

Sina tidak tahu sebenarnya siapa yang tersesat, ia atau Tao. Sebenarnya tidak penting juga siapa mencari siapa, yang penting ia harus menepati janjinya makan siang bersama Tao sekalipun hal itu sudah ia lakukan terlebih dahulu bersama Sehun.

Dan Sehun, jiwa kekanakannya keluar, yang ia inginkan sekarang adalah bermain bersama teman dan Sina memenuhi persyaratan itu. Mencari Miyoung atau pun teman Sina bukan menjadi prioritasnya lagi. Ia tahu ia jahat tapi ia merasa Miyoung sudah besar begitu juga dengan teman Sina. Semuanya akan menjadi baik-baik saja, anggap saja hari ini mereka tersesat dan besok mereka akan bertemu lalu, selesai tidak terjadi masalah.

“Ahn Sina!” Sehun berlari mengejar Sina.

Sina berlari, entah kenapa ia tidak ingin Sehun dapat mencapainya. Sehun membaca bahwa Sina berlari darinya, ia tersenyum dan menganggap sebuah permainan anjing dan kucing akan dimulai.

Sina dan Sehun berkejaran, Sina tidak tahu, selama ini ia menjadi perempuan semi pemalas yang lebih memilih melakukan penghematan energi, tapi bersama Oh Sehun lama-kelamaan menarik jiwa bermainnya yang sudah terkubur sangat dalam bangkit. Euforia begitu larinya lebih cepat dari Sehun dan Sehun gagal mendapatkannya terasa sangat menyenangkan untuknya.  Ia berlari dan merasakan angin sepoi yang mengusap lembut wajahnya yang berkeringat. Ternyata ide Tao untuk mencari cahaya matahari benar juga, demamnya hilang dan tubuhnya terasa lebih segar.

Lima menit ia berlari, tujuannya kabur dari Sehun sudah hilang, ia hanya ingin berlari tidak peduli lagi Sehun dimana.

Sehun yang berlari kehilangan jejak Sina di antara kerumunan orang-orang, napasnya terengah-engah, lelah dan panik tidak bisa menemukan Sina. Di saat ia berhenti seseorang memegang tangannya “Sehun!”

Sehun segera menengokkan kepalanya, suara familiar terdengar, ia tahu itu Miyoung.

“Kau kemana saja Hunnie??” Miyoung memegang kedua tangannya, meskipun sudah menemukan Sehun tersayang ekspresi panik belum hilang dari wajah Miyoung.

“Aku—“ Sehun terdiam dan mengacak-acak rambutnya “Aku mencarimu.” Sehun berbohong.

Miyoung tersenyum, Ia tahu hal itu, ia terus berkata pada diri sendiri, Sehun pasti akan mencari dirinya, meskipun terdengar naïf tapi ia ingin semua sesuai keinginannya.

“Kau terlihat lelah sekali, ayo kita pulang.” Miyoung mengeluarkan sapu tangan dari tasnya dan mengelap pelipis Sehun. Sehun tersenyum dengan perhatian manis dari Miyoung tapi pikirannya masih belum bisa meninggalkan Sina yang menghilang begitu saja. “Ta-tapi.”

“Tapi apa? Ayo kita pulang aku juga lelah.” Miyoung memeluk lengan Sehun dan menariknya jalan, sementara Sehun akhirnya memilih pasrah dan mengikuti keinginan Miyoung. Ia membuat janji tidak tertulis untuk minta maaf pada Sina besok di kelas.

“Tao-ssi” Sina memanggil Tao yang sedang duduk di kursi taman di bawah pohon mapel rindang. Masing-masing tangan Tao memegang enam odeng, Sina tersenyum sekaligus bersalah berpisah dengan Tao sekalipun itu tidak sengaja.

Sekarang sudah sore hari, Sina yang terus berlari akhirnya kehabisan napas dan memilih menjadikan hari ini menjadi hari jalannya seorang diri hingga akhirnya langkahnya membawa ia menuju pohon maple yang terlihat membawa kesejukan untuk sekitarnya.

Sepertinya Tao berpikiran sama dengan Sina, ia pun memutuskan di bawah pohon itu akan menjadi tempat istirahatnya. Sosok Tao sedang bersandar pada batang pohon  yang Sina temukan membuat ia merasa girang, tapi tetap menjadi Ahn Sina, ia hanya berjalan dengan tenang menghampiri Tao.

Tao yang tidak tertidur namun dengan kepala tertunduk menyadari seseorang berdiri di depannya, kaki dengan sneakers merah, tentu itu Sina. Harusnya ia senang, harusnya ia segera bangkit dan menjulurkan enam odeng yang ia beli untuk Sina tapi entah kenapa otaknya berpikir lain. Tao hanya mendiamkan Sina yang sudah memanggilnya dengan Tao-ssi.

Sina tidak peduli dengan Tao yang jelas mengabaikan dirinya, ia pun memilih duduk di samping Tao dan mengambil odeng dari tangan kiri Tao, terlihat seenaknya tapi ia yakin Tao menyiapkan itu untuknya.

“Kau tidak lapar?” Sina bertanya sambil mulai mengunyah odengnya.   

Tao diam, perutnya berbunyi, jawaban jelas untuk pertanyaan Sina.

Sina tidak tertawa, sebaliknya ia merasa bersalah, ia mengerti seberapa besar rasa cinta Tao pada odeng, dan menahan memakan odeng hingga melewatkan jam makan siangnya? Ia tahu itu pengorbanan besar dari Tao.

“Ayo makan Tao” Sina mengambil odeng keduanya, sementara Tao masih bertahan mendiamkannya.

Keheningan terus berlanjut hingga Sina tinggal menyisakan satu odeng di tangan kiri Tao. Ia mulai lelah, dan akhirnya memutuskan melakukan sesuatu.

“Sebenarnya siapa yang salah?” Ia bertanya. Dan sesuai perkiraannya Tao tidak akan menjawab.

Sina pun menghela napas “Aku mencarimu, dan kamu mencariku, kita seimbang.”

Tao mengangkat kepalanya, Sina belum menyadari Tao sedang menatap wajahnya. ”Kita seimbang? Aku mencarimu dan kamu mencariku. Aku menemukanmu dan kamu tidak menemukanku. “

Sina menengok dan menaikkan sebelah alisnya menatap Tao tidak mengerti “Bagaimana makan siangnya?” Tao bertanya dengan ekspresi datar, ekspresi yang sangat jarang diperlihatkan seorang Huang Zi Tao.

Sina diam, akhirnya ia mengerti bahwa Tao melihatnya makan siang bersama Oh Sehun. Ia diam memikirkan kata-kata yang terbaik untuk membuat Tao merasa lebih baik. Apa dia harus minta maaf? Tapi menurutnya itu bukan kesalahan besar, ia hanya lapar dan butuh makan siang, sehingga ia bisa mencari Tao.

Sina menghela napas, dan menatap Tao yang kembali menundukkan  kepalanya, akhirnya Sina memutuskan untuk membiarkan mulutnya terus bicara tanpa otaknya memberi filter, “Makan siangnya enak Tao.” Sina memilih untuk menjawab pertanyaan retoris Tao. Tao mengepal tangannya, ia merasa saat ini Sina terlalu bodoh untuk menjadi seorang Ahn Sina.

“Parfaitnya lezat kupikir aku harus mengajakmu makan di sana.”

“Aku lebih suka odeng.” Tao menjawab asal, yang membuat Sina sedikit menyunggingkan badannya untuk tersenyum, Sina terbiasa mengacuhkan orang seperti ia mengacuhkan Miyoung atau Seukri dan sekarang diacuhkan oleh Tao membuatnya mengerti betapa senangnya begitu orang yang kita ajak berbicara menjawab.

“Kalau begitu makan odengmu.” Sina menunjuk enam odeng di tangan kanan Tao. Tao mengangguk dan memakan dua sekaligus, terlihat ia memang lapar.

“Bukankah lebih enak makan bersama?” Sina pun mengambil odeng terakhirnya. Tao mengangguk, tujuannya dari awal memang makan bersama Sina, dan seandainya Sina benar-benar menghabiskan enam odeng tanpa menunggu dirinya mungkin Tao akan melanjutkan marahnya.

“Sina siapa laki-laki yang makan bersamamu tadi?”

“Teman sekelasku.”

Tao mengangguk, tiba-tiba ia teringat sesuatu, Tao pun mengeluarkan hpnya.

“Hei Sina, sebagai yeojachinguku sepertinya aku harus menyimpan nomormu.”

“Mwoh?” Sina terbatuk. Tao yang sedang menelan odengnya menengok pada Sina yang terlihat tersedak mendadak “Tunggu kucarikan minuman.”

Sina yang masih terbatuk menggelengkan kepala dan menahan tangan Tao sebelum ia berjalan pergi. “Tu-tunggu, coba katakan sekali lagi.”

Tao memiringkan kepalanya “Tunggu kucarikan minuman?” Sina memutar bola matanya “Bukan sebelumnya.”

“Ahh yang yeojachingu?” Tao bertanya lagi, tiba-tiba ia melihat rona merah yang menyebar di pipi Sina. Apakah demamnya muncul lagi? Tao pun menjulurkan tangannya memegang dahi Sina yang langsung segera dikelak Sina. “Aku tidak sakit Tao.”

“Kalau begitu kenapa mukamu merah?” Tao pun kembali duduk, ia kembali memasukkan dua odeng sekaligus pada mulutnya sambil menatap bingung pada Sina. “Mukaku tidak merah.”

“Mukamu merah.” Tao berkata dengan santai sama sekali tidak menyadari bahwa kata-kata yeojachingu lah yang menyebabkan rona merah pada wajah Sina.

“Tao apa kau tahu arti yeojachingu?” Sina berusaha menahan diri gemas akan kebodohan Tao. Tao segera mengangguk “Yeoja perempuan dan chingu teman, kalau digabungkan teman perempuan.”

Sina memejamkan matanya berusaha menahan malu, begitu ia ingin membuka mulut tiba-tiba Tao memotongnya “Dan itu artinya aku adalah namjachingu mu kan Sina?”

Pertanyaan bodoh. Sina berkata dalam hati. Setelah berdiam cukup lama akhirnya ia mengerti bagaimana ia harus mengajari Tao.

“Tao berapa nilai bahasa Inggrismu?”

Tao yang sudah menghabiskan odengnya menggelengkan kepalanya “Aku lupa, memang tidak begitu bagus tapi tidak jelek juga.”

“Bagus” ucap Sina singkat “Apa kau tahu arti girlfriend dan boyfriend?”

Tao tertawa “Ya aku tahu itu Sina, kau menganggapku sebodoh apa?”

Sina mengabaikan tawa Tao “Beritahu aku apa artinya”

Tao yang menyadari Sina menjadi serius akhirnya menghentikkan tawanya “Pacar perempuan dan pacar laki-laki kan?”

Sina pun menengok pada Tao dan menggelengkan kepalanya “Bukannya girl itu perempuan dan friend itu teman sehingga artinya menjadi teman perempuan?”

Tao menaikkan sebelah alisnya tidak menyangka Sina memiliki keterbatasan dalam bahasa Inggris, meskipun pada konteks aslinya Sina hanya berpura-pura karena ia tahu itu cara terbaik untuk memberitahu Tao “Yah tapi itu artinya pacar Sina.”

Sina pun mengganti ekspresi tidak tahu  apa-apanya menjadi senyum jenaka yang jarang sekali ia perlihatkan, terutama pada Tao yang baru saja melihat itu hari ini, Tao mengerjapkan matanya berusaha meyakinkan apakah matanya yang salah atau memang kenyataannya yang seperti itu? Sina menjadi lebih manis?

“Mau kuberitahu sebuah fakta menarik?”

Tao yang gelagapan langsung mengangguk “A-aku mau.”

“Konsep istilah pacar dalam bahasa Korea dan bahasa Inggris sama.”

Tao masih diam, belum mengerti benar apa maksud perkataan Sina. Sina yang menangkap Tao belum mengerti melanjutkan penjelasannya “Jika kata teman dan perempuan digabungkan maka akan membentuk arti baru, pacar perempuan.” Penjelasan Sina diakhiri senyuman itu sekali lagi, senyum yang membuat Tao merasakan kupu-kupu terbang di perutnya, senyum yang membuat Tao yakin harus bertanya pada bibinya apakah keluarganya mempunyai riwayat penyakit jantung atau tidak mengingat rasanya ada yang ada aneh di dadanya, bukan sakit, Tao tidak mengerti.

“Kau mengerti maksudku?” Sina menghilangkan senyum di wajahnya dan kembali memasang ekspresi flat Sina. Tao segera kembali dari lamunannya, otaknya langsung bekerja cepat memproses seluruh penjelasan Sina.

“M-m-mwoh?” bibirnya bergetar “Maksudmu yeojachingu artinya pacar perempuan?”

Sina mengangguk “Dan namjachingu artinya pacar laki-laki.”

Tao segera menunduk, ia merasakan darah naik ke kepalanya, pipinya terasa panas, tanpa bercermin pun ia sudah tahu rona merah sudah memenuhi wajahnya. Kira-kira sudah berapa kali ia mengatakan dengan santai Sina adalah  yeojachingunya? Dan ia mengatakan bahwa ia adalah namjachingu Sina? Ia, Huang Zitao, kekasih dari Ahn Sina?

“Ma-maaf.” Hanya itu yang keluar dari mulut Tao.

Sina hanya memandang Tao, merasa laki-laki besar di depannya itu terlalu malu untuk alasan yang sebenarnya sudah Sina maklumi “Sudahlah, daripada minta maaf kau harus berterimakasih aku sudah mengajarimu.”

Tao pun mengangkat wajahnya “Terima kasih Sina.” Sina tersenyum dan mengangguk “Kalau begitu ayo kita pulang, aku capek. “

Tao yang melihat Sina sudah berdiri dan berjalan pergi segera mengikutinya “Tunggu, katanya kau ingin mengajakku makan parfait?”

“Bukannya kau lebih suka odeng?”

Tao mengangguk “Tapi itu bukan artinya aku tidak suka parfait.”

Sina meregangkan tangannya dan menarik napas dalam-dalam, sebenarnya ia hanya asal berkata akan mengajak Tao datang ke café itu.

“Lain kali saja.” Ia berkata tanpa menengok pada Tao. Tao hanya mengangguk dan tersenyum kata-kata Sina tedengar seperti janji, itu artinya ia dan Sina akan berjalan-jalan lagi. Dan membayangkannya kembali membuat perut Tao tergelitik, ia masih belum terbiasa dengan perasaan itu. 

__________________

(A/N)

Dan bintangdj memaksa  meminta author untuk  ngupdate pastel.

Dan karena author baik, maka dikabulkan~

ooooooxxxxoo,

pikrachu

5 thoughts on “PASTEL #008

  1. Apa itu yeojachinguuuu hahaha xD aku juga dulu salah mengartikan tauuu.. aku kira yeojachingu itu teman perempuaan hahahaha, sehati nih ama tao wkwkwk

    Lah itu sina kenapa lari dari sehun coba, ga jelas banget hahaaha tapi lucu lucu, ceritanya simple manusiawi tapi lucu aku suka aku sukaa xD

  2. Oke aku merubah pikiran~ kayanya Sina-Tao boleh jugaaaaaa
    Kyaaaaaaaaa* apa ini? Padahal aku Sena-Sehun shipper, tp karna pikrachu menggambarkan Tao yg begitu lucu, aku jadi berpaling huaaaaaaa~

  3. Satelah lama ditunggu akhirnya konflik dataaaaanggggg*yeeeaaayyyyy
    Diaini tao polos banget sih kaya anak kecil jadi emezzzzz😊 tapi bukannya sehari-hari tao juga gitu yah??? Ah lupakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s