Detour #03

(A/N: Karena baekhyun sukses membuat author tertawa dengan aegyo terbarunya….here’s the update!)

 

3. Bound

 

 

Chaeri merasa dirinya terlalu banyak tahu, lagi. Kenapa ia harus mengetahui sebuah hal yang seharusnya tidak perlu ia ketahui? Sekarang semuanya terasa serba salah untuk Chaeri. Ia merasa ia terlalu mencampuri urusan Baekhyun, tapi lebih dari itu, ia merasa kecewa, tidak, Chaeri tidak merasa sedih, ia hanya kecewa ditambah sedikit perasaan yang disebut gelisah. Mengetahui ternyata ada seseorang juga memberikan perhatian pada nama yang selalu memenuhi otaknya belakangan ini, itu membuat Chaeri sedikit kecewa, tapi jauh dalam hati sedikit tenang, tenang karena sesuatu yang dipanggil posesif belum muncul dalam rasa tertariknya pada Do Kyungsoo.

Sambil duduk di beranda kamarnya, sesuatu yang hampir tidak pernah Chaeri lakukan karena ia tidak suka kegelapan malam hari, Chaeri membuka tasnya dan mengeluarkan satu persatu buku yang ia pinjam. Chaeri mempunyai kebiasaan untuk menyelipkan notes  pada buku yang ia baca, ia tahu itu bukan hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak ‘baik’ seperti Chaeri, tapi menurutnya selama itu itu tidak merusak isi buku, itu bukan masalah besar. Chaeri hanya ingin memasukkan pikirannya, ingin bertukar pikir dengan seseorang yang mungkin saja membalas notes nya itu.

“Moon!” Seseorang memanggil marganya. Chaeri menengok dan melihat Chen, atau Jongdae, entahlah ia belum terbiasa dengan nama Chen tapi nama itu terdengar cocok pada Jongdae sehingga ia akan mencoba membiasakan dirinya.

Chaeri berdiri dan menghampiri pagar beranda kamarnya, jaraknya dengan Chen sekitar 3 meter sehingga melihat isi kamar masing-masing merupakan hal yang mudah untuk dilakukan.

“Tumben kau keluar kamar!” Chen berteriak takut suaranya tidak terdengar. Chaeri meletakkan telunjuk pada kedua bibirnya “Ssst aku bisa mendengarmu Chen.”

Chen mengangguk dan tertawa “Menikmati bulan?” Ia bertanya.

Chaeri menggelengkan kepalanya “Hanya mencari udara malam.”  Chen mengangguk dan menunjuk teropong bintang di berandanya “Lain kali kau harus melihat melalui teleskop, bulan hari ini indah sekali.”

Chaeri hanya mengangguk tidak menyangka Chen cukup puitis mengakui keindahan bulan.

“Kau tahu? Rasanya tadi aku melihat ufo lewat” Chen tiba-tiba memasang tampang serius. “Aku tahu ini terdengar kekanak-kanakan tapi aku yakin diatas sana ada alien yang sedang mengawasi kita Chaeri.”

Chaeri diam, Chen seperti masih ingin mengungkapkan pemikirannya yang terdengar absurd di telinga Chaeri.

“Setiap jam dua pagi kau akan melihat sebuah ufo melayang dengan posisi diam.”

“Itu Venus Kim Jongdae.”

Chen menggelengkan kepalanya, tidak mau percaya. Sementara Chaeri hanya menghela napas,

Perkiraan Chaeri kalau Chen cukup puitis untuk laki-laki seumurannya ternyata salah. Chaeri pun kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Chen yang sudah tenggelam bersama teropong bintangnya.

 

“Ibu” Chaeri memanggil ibunya yang sedang membelakanginya, tangan ibunya masih memegang spatula menandakan ia masih sibuk menyelesaikan sarapan untuk keluarga mereka.

“Apa Chaeri?”

Chaeri menggigit bibirnya, terlalu takut mengungkapkan permintaannya, sedetik dua detik ia diam. “Kau hanya memanggilku tanpa alasan?” Ibu Chaeri kembali bertanya.

Chaeri akhirnya memantapkan dirinya “Boleh aku pinjam uang?”

Ibu Chaeri terdiam, ia pun berbalik badan dengan membawa wajan berisi telur setengah matang. Sambil meletakkan telur di masing-masing piring yang sudah tersedia ia bertanya “Berapa dan untuk apa?”

“Aku merusakkan kacamata temanku.”

“Aku baru tahu kau seceroboh itu Chaeri.” Ibu Chaeri melepas celemek dan mengeluarkan seteko susu dari kulkas. Tidak terdengar nada marah sedikitpun pada cara bicaranya, hal yang membuat Chaeri merasa makin ngeri.

“Ini bukan kesalahanku sepenuhnya, mungkin kami akan membayarnya berdua. Jadi boleh aku pinjam?”

Ibu Chaeri hanya memandang Chaeri dengan datar, beberapa detik kemudian ia menghela napas dan tersenyum

“Yah tentu saja, mau bagaimana lagi, sekarang bangunkan adikmu.”

Chaeri membuka mulutnya “Benar?”  Ibu Chaeri mengangguk membuat Chaeri segera berdiri dengan riang dan berjalan menuju tangga untuk membangunkan adiknya, hingga akhirnya kalimat selanjutnya yang keluar membuat bahu Chaeri menjadi turun. “Aku akan memotongnya dari uang jajanmu.”

 

“Chaeri! Kau mau ke perpustakaan?” Tiba-tiba Sehun yang kebetulan berpapasan dengannya menghentikkan langkahnya, tangannya memegang buku tebal, terasa déjà vu bagi  Chaeri. Chaeri langsung berjalan mundur selangkah menghindari Sehun yang tangannya sudah siap menitipkan sebuah buku. “Aku mau mencari seseorang.”

“Oh..baiklah.” Sehun pun kembali berjalan, tapi baru dua langkah ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti. Chaeri yang baru ingat kalau Sehun yang cukup dengan Baekhyun mungkin akan tahu di mana laki-laki itu sekarang. “Kau tahu di mana Baekhyun?”

“Baekkie? Ia sedang di kantin.”

“Ahh, baiklah.” Chaeri pun melepaskan pegangannya membiarkan Sehun pergi. Sekarang ia harus ke kantin, tempat yang membuatnya selalu berpikir ulang sebelum ke sana, ia tidak suka keramaian.

 

“Sudahlah Baek, banyak perempuan lain yang lebih cocok untukmu dari pada Nami.”  Kai menepuk-nepuk bahu Baekhyun yang sedang memakan ramennya. Niatnya untuk membuat Baekhyun semangat gagal karena tepukannya yang terlalu kuat hanya membuat Baekhyun terbatuk-batuk tersedak dengan makanannnya.

“Ya aku tahu itu Jongin, sudahlah kita bisa mencari topik lain.” Baekhyun mengelap mulutnya yang belepotan.

“Apa kau marah pada Kyungsoo?” Luhan bertanya sambil memberikan segelas air putih pada Baekhyun. Baekhyun langsung menegaknya sampai habis. “Marah? Bodoh sekali tentu saja tidak, ia sama sekali tidak tahu apa-apa soal itu.” Luhan pun mengangguk mengerti “Kyungsoo terlalu polos untuk menyadari Nami menyukainya.”

Baekhyun hanya tertawa, meskipun rasanya masih sakit ia berusaha terlihat bahwa penolakan Nami sama sekali tidak memberikan efek apapun pada dirinya. “Ngomong-ngomong di mana Kyungsoo? Sejak kemarin aku tidak melihatnya.” Baekhyun bertanya.

“Perpusta— hei Baekhyun aku rasa kau bisa menemukan pengganti Nami sekarang.”  Jongin menyenggol Baekhyun dengan sikutnya. Baekhyun menaikkan alisnya “Maksudmu apa?”

“Wah seseorang akan menyatakan perasaan padamu Baek!” Luhan tertawa terkekeh-kekeh. Baekhyun yang sama sekali tidak mengerti dengan perubahan sikap teman-temannya segera menengok kanan kiri, mencoba menangkap hal apa yang mereka maksud.

Tiba-tiba pandangannya terhenti pada sosok perempuan mungil yang sedang berjalan ke arah meja mereka. Meskipun tampak gugup dengan wajahnya yang memerah Baekhyun yakin sekali perempuan yang sedang berjalan mendekat ini datang bukan untuk menyatakan perasaan. Baekhyun yakin itu, Moon Chaeri datang padanya untuk alasan lain.

“Ssst tolong kalian diam.” Baekhyun mengetuk meja mereka tepat sebelum Chaeri berdiri tepat di samping Baekhyun. Suasana menjadi kaku antara Chaeri dan Baekhyun sebelum akhirnya Kai memecah semuanya “Silahkan kau bisa meminjam Baekhyun! Bawa dia pergi!”  Kai mendorong Baekhyun yang langsung diberi tatapan mematikan oleh Baekhyun. Baekhyun berdiri “Ayo kita bicara di tempat lain.”

Chaeri pun mengangguk dan mengikuti Baekhyun yang membawanya sampai keluar kantin.

“Be-berapa harga kacamatamu Baekhyun?” Chaeri segera bertanya begitu Baekhyun berhenti berjalan.

Baekhyun diam berpikir “Ahh kau ingin mengganti kacamata itu?”

Chaeri mengangguk sebagai jawabannya, tangannya sudah memegang beberapa lembar won yang ia dapat  dari ibunya. Baekhyun yang sebenarnya sudah merelakan kacamatanya jadi diam bingung apa yang harus ia katakan pada Chaeri. Setelah Jongdae mengingatkan kalau sebenarnya itu kesalahan Baekhyun yang seenaknya merosot, dan terlebih orang yang ditabraknya itu Chaeri, orang yang ia tuduh telah mengupingnya, Baekhyun jadi merasa tidak enak meminta uang ganti.

“Tidak perlu Chaeri, aku yang salah.”

Chaeri menelan ludahnya, kali ini ia harus mengakuinya. Chaeri pun menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan sesuatu dari kantong roknya. “Ini lensa kemarin, kau bisa melihat ada bekas sepatu di sini, aku yang menginjaknya.”

Baekhyun diam, memandang lensanya yang sudah setengah utuh “Ahh..iya..”

“Sebenarnya kalau aku tidak menginjak kacamatamu tidak akan rusak separah ini.”  Chaeri berkata sambil menundukkan kepalanya. Baekhyun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung. “Benar juga, tapi kalau aku tidak menabrakmu tentu kau tidak akan menginjak kacamataku.”

Baekhyun menghela napas “Dan lagi ini tidak sengaja kan?”

Chaeri mengangkat wajahnya dan segera mengangguk “Tentu saja ini tidak sengaja!”

Baekhyun pun tersenyum “Baiklah masalah selesai kau tidak perlu mengganti kacamataku.”

Dan Chaeri tetap menjadi perempuan yang keras kepala kembali menggelengkan kepalanya “Setidaknya aku bayar sebagian saja.”  Baekhyun menggigit bibirnya lalu menyeringai “Tidak perlu, coba kau lihat, aku tetap tampan kan tanpa kacamata?”

Chaeri yang kaget Baekhyun masih bisa bercanda dengannya hanya menatap Baekhyun dengan pandangan mengatakan aku-tidak-percaya-ada-orang-seperti-kau-di-dunia-ini. “Mmmm sebenarnya wajahmu terlihat lebih kosong Baekhyun. “ Chaeri mengatakan pendapatnya dengan lancar, tanpa keraguan sedikitpun, tanpa takut dengan respon dari Baekhyun. Chaeri hanya ingin mengatakan sebuah fakta.

Baekhyun yang rasa percaya dirinya selalu di puncak tiba-tiba terbatuk-batuk, tidak siap dengan komentar Chaeri “Baiklah aku ambil uangmu. Aku akan membeli kacamata baru.” Baekhyun mengambil selembar won dari tangan Chaeri tidak peduli dengan berapa jumlah yang ia ambil. Ia pun berjalan pergi dengan Chaeri yang menaikkan kedua bahunya tidak mengerti kenapa tiba-tiba Baekhyun berubah pikiran. Chaeri pun berjalan pergi, bebannya sudah terangkat, ia berjalan dengan sedikit lompatan menandakan suasana hatinya sedang baik sedangkan Baekhyun yang selalu berlari kapan pun ia bisa berjalan dengan langkah pendek, wajahnya memerah, menandakan ia sedang malu.

 

Kyungsoo meremas kedua tangannya, matanya tidak bisa berfokus pada buku yang sedang ia pegang. Sebagai laki-laki yang memiliki sisi OCD akan kerapihan dan kebersihan pemandangan di depannya benar-benar membangkitkan nalurinya untuk selalu membereskan apapun yang terlihat berantakan.

“Kyungsoo” Perempuan yang daritadi duduk di sebelahnya menyebut namanya, membuat Kyungsoo segera mengalihkan pandangan dari orang yang membuat konsentrasi membacanya buyar.

“Kenapa Nami?”

“Kau tahu artinya ini?”  Nami menujuk sebuah huruf mandarin dengan banyak garis yang sama sekali tidak dimengerti oleh Kyungsoo sekalipun. Kyungsoo menaikkan bahunya “Aku tidak tahu, kau bisa tanya Luhan.”

Nami hanya mengangguk dan kembali berfokus pada buku yang sedang ia pegang. Pertanyaan tadi hanya basa-basi agar Kyungsoo mengalihkan perhatian untuknya. Mata Nami yang seolah fokus pada buku di depannya sebenarnya sama sekali tidak fokus. Ekor matanya selalu mengikuti Do Kyungsoo. Tidak peduli Kyungsoo selalu memasang ekspresi yang sama tapi Nami tidak pernah bosan memandangnya.

Kyungsoo yang matanya masih tidak bisa teralih dari orang di depannya sama sekali tidak sadar di sebelahnya ada seorang gadis yang sedang tergila-gila padanya. Setelah beberapa menit menimbang-nimbang ia akhirnya memutuskan untuk bertanya pada Nami “Nami”

Nami yang haus akan perhatian Kyungsoo segera menengok dengan tersenyum “Ya ada apa?”

“Kau tahu, perempuan di depan kita itu siapa?” Kyungsoo berbisik mendekatkan mulutnya pada telinga Nami yang membuat perempuan itu rasanya ingin meloncat kegirangan. Nami menatap ke depan dan menemukan sosok teman sekelasnya yang sedang membaca dua buku sekaligus.

“Maksudmu Moon Chaeri?”

Kyungsoo mengernyitkan dahinya, tidak pernah mendengar nama itu sedikitpun. “Dia murid baru Kyungsoo.” Nami menambahkan.

“Pantas saja wajahnya masih terasa asing.”  Kyungsoo berkata. Nami yang sama sekali tidak menyadari Kyungsoo terus memperhatikan Chaeri kembali memberikan info tentang Chaeri “Ia anggota perpustakaan jadi untuk kedepannya kau akan sering bertemunya, dan lagi ia teman sekelasku, aku tahu nilainya tinggi, siap-siap Kyungsoo kau akan didepak dari ranking satu.”

Kyungsoo hanya tersenyum, senyum simpul yang menandakan bahwa ia menemukan sebuah hal menarik “Benarkah?”

Nami tertawa kecil, ia suka menggoda Kyungsoo, Kyungsoo yang selalu berusaha melakukan hal terbaik apapun kapanpun dimanapun “Aku serius dengan kata-kataku.”  Kyungsoo mengangguk “Ya aku tahu itu.”

 

Sudah jam empat sore. Sekolah sudah selesai, yang tersisa hanya kegiatan klub yang membuat beberapa murid masih harus bertahan di sekolah. Chaeri dan Kyungsoo merupakan salah satunya. Berita baik untuk Chaeri, kali ini ia menggantikan Sena yang tidak masuk untuk piket mengklarifikasi buku bersama Kyungsoo. Dan hal lain yang membuat Chaeri tidak menyadari kabar baik itu adalah fakta bahwa sampai sekarang ia tidak tahu laki-laki yang sedang berdiri di sampingnya itu merapihkan susunan buku adalah Do Kyungsoo. Setelah mengetahui Nami menyukai Kyungsoo, obsesi Chaeri untuk bertemu Kyungsoo menjadi berkurang, ia memutuskan untuk tidak mengetahui Kyungsoo lebih lanjut, ia memilih nama Kyungsoo hanya ia jadikan sebagai karakter fiktif di otaknya. Orang yang tidak mungkin ia temui selain melihat namanya di tabel daftar peminjam buku.

Berbeda dengan Chaeri yang sedang fokus membaca judul buku satu persatu untuk diklarifikasi. Kyungsoo masih memikirkan hal lain. Info yang didapatnya dari Nami bahwa Chaeri juga anggota perpustakaan merupakan pintu untuknya untuk dapat menjadi teman Chaeri. Kesamaan kesukaan merupakan hal umum untuk memulai topik pembicaraan, begitu yang Kyungsoo pikir.

Tapi semua tidak semudah yang ia pikir, ia tidak menduga Chaeri sama sekali tidak mengajaknya mengobrol. Sedangkan Kyungsoo, karena matanya yang terus melihat rambut Chaeri membuatnya tidak bisa memikirkan hal tepat untuk memulai dialog  dengan Chaeri.

Interupsi, sebelum semua menjadi salah paham mengira Kyungsoo mengagumi rambut Chaeri. Sesuatu harus dijelaskan disini. Kyungsoo, laki-laki perfeksionis yang selalu membuat jadwal untuk setiap kegiatannya mulai dari potong rambut sampai belajar,  sekali lagi disebutkan, tidak suka melihat sesuatu yang berantakan. Sebuah kata sifat yang tepat untuk menjelaskan kondisi rambut Chaeri.

Tangan Kyungsoo terasa gatal ingin mengikat rambut hitam tebal itu. Ia ingin, bukan, ia harus segera berteman dengan Chaeri. Lalu ia berkata pada Chaeri “Hei Chaeri rambutmu berantakan sekali, biar kuikat.” Dan selesai, Kyungsoo tersenyum hanya dengan membayangkan rencananya saja.

Sementara Kyungsoo tersenyum sambil memandang rambut Chaeri, membuat Chaeri yang peka segera berdehem “Apa ada yang salah denganku?”

Kyungsoo terbatuk tertangkap basah, ia benar-benar ingin mengatakan secara frontal, “Ya rambutmu, itu yang salah.” Tapi Kyungsoo pintar, posisi ranking satu yang didapatnya membuktikkan bahwa ia harusnya bisa memilih mana kalimat yang boleh dan tidak ia keluarkan. Dan begitulah yang ia lakukan, Kyungsoo hanya tersenyum dan menggeleng “Tidak.”

Chaeri mengangguk dan kembali menyusun tumpukan buku-buku. Merasa tadi ia hanya kegeeran.

“Bisa tolong ambilkan buku itu?”  Kyungsoo memecah keheningan sambil menunjuk salah satu buku yang berada di dekat Chaeri. “Yang mana?” Chaeri balas bertanya.

“Yang tebal.”

Chaeri memandang Kyungsoo dengan bingung “Semuanya tebal.”

“A-ah maksudku yang berwarna biru muda itu.” Kyungsoo sadar bahwa penjelasannya bodoh.

 

“Hhaah.” Baekhyun menghela napas setelah mendapat posisi terbaiknya di atas pohon. Pohon mapel merupakan ruangan pribadinya, setidaknya itu yang ia pikir karena sampai saat ini belum ada seorang pun menemukannya berada di atas sana. Menjadi orang yang memiliki banyak urusan membuat Baekhyun sedikit kesulitan menemukan sebuah tempat di mana ia tidak butuh ada orang lain di sana. Tempat yang hanya boleh Byun Baekhyun berada di sana tanpa diganggu.

Sore ini Baekhyun bebas, sebuah hal yang jarang untuk didapatkan baginya. Baekhyun yang benci statis membuatnya mengikuti hampir setiap kegiatan untuk membuatnya tetap bergerak. Ia suka bermain bola dengan Chen, tidak lupa setidaknya lima belas menit dalam sehari ia selalu menari dan bernyanyi bersama Luhan dan Jongin, ketika makan siang kadang ia memilih mendatangi klub masak melihat Nami memasak dan kalau beruntung ia bisa mencicipinya, menjadi teman lempar tangkap bola bersama Sehun juga kegiatan rutinnya, bahkan bersama Kyungsoo yang jelas memiliki perbedaan karakter dengannya juga hal yang sering ia lakukan.

Dan sekarang, Baekhyun bebas.

Baekhyun tidak membuat janji dengan siapapun, itu hal yang tidak sengaja, dan ia benar-benar bersyukur akan hal itu. Saat ini Baekhyun ingin menidurkan badannya  di atas dahan pohon yang ia percaya dapat menahan berat badannya. Tapi sebelum itu, ia harus memikirkan sebuah hal, sesuatu yang berhubungan dengan harga dirinya.

Baekhyun pun membuka handphonenya dan melihat dirinya sendiri melalui front camera. Melihat matanya yang bulat dan kecil, yang tidak memiliki double eyelids juga bulu mata yang cukup tebal tapi sesuatu tetap membuatnya merasa percaya diri. Apakah wajahku sekosong itu? Baekhyun bertanya pada dirinya sendiri. Kata-kata Chaeri masih menempel di otaknya, ia cukup kaget karena ia pikir ia tidak semudah itu dalam mengingat, andai saja ia dapat mengingat rumus fisika semudah ia mengingat sindiran Chaeri.

Sadar jawaban atas pertanyaannya tidak akan keluar ia mematikan hpnya. Sekarang matanya yang belum terasa berat hanya menatap langit yang berusaha mengintip dibalik dahan dan daun yang menutupinya. Setelah peristiwa penolakan Nami, Baekhyun yang memilih untuk menenangkan dirinya di dalam ruang janitor itu baru menyadari betapa berharganya pemandangan di jendela sore itu. Selama 17 tahun hidupnya, mungkin ia terlalu sibuk dan terlalu nyaman dengan dunianya tanpa memperhatikan arti dunia yang sebenarnya. Maksudnya, bagaimana bisa ia baru menyadari kalau langit sore seindah itu? Baekhyung orang positif, dan ia berpikir dengan Nami menolaknya sebagai gantinya ia menemukan sebuah hal berharga. Pengetahuan langit sore dan cantik adalah satu kata yang tidak terpisahkan adalah sebuah hal berharga bagi Baekhyun.

Baekhyun tersenyum, ketenangan merambati dirinya, dan ia bersyukur ia tidak mengantuk, tidur untuk saat seperti ini sebuah kesalahan besar. Sambil menghitung kombinasi warna yang ia lihat tiba-tiba rasa keingintahuannya tergelitik untuk keluar. Apakah langit malam juga indah? Baekhyun segera bangun dan meregangkan badannya, jawabannya bisa ia temukan dengan membuktikkannya sendiri, dan menginap di rumah Jongdae adalah jawaban terbaiknya.

 

Chaeri memiliki kebiasaan buruk meskipun sebenarnya itu tidak begitu buruk, beberapa orang menganggap Chaeri terlalu malas atau terlalu cuek tapi sebenarnya ia hanya merasa hal itu tidak cukup penting untuk dilakukan. Menanyakan nama adalah hal yang sepertinya harus segera dibiasakan Chaeri. Contohnya adalah sore ini,  karena kecuekannya momen yang harusnya menjadi sebuah drama manis bagi setiap gadis remaja akhirnya menjadi acara mengantar pulang biasa, karena ia tidak tahu pria yang sedang mengantarkannya sampai di depan pagar rumahnya itu bernama Do Kyungsoo.

“Terimakasih.” Chaeri tersenyum sambil membuka pagarnya. Kyungsoo menggangguk dan membalas senyum Chaeri. Senyum yang akan membuat Nami mengutuk Chaeri karena ia merasa Chaeri terlalu asing untuk mendapat senyum itu.

Mengklarifikasi puluhan buku, membuat mereka berdua harus pulang terlalu sore. Kyungsoo tidak bermasalah dengan hal itu, berbeda dengan Chaeri yang selalu melirik jam tangannya hampir setiap lima menit dan membuat Kyungsoo segera mengakhiri tugas mereka.Kyungsoo pun memutuskan untuk menemani Chaeri pulang, jika saja Kyungsoo tidak berbohong bahwa ia dan Chaeri berada dalam satu komplekperumahan tentu Kyungsoo tidak akan diperbolehkan untuk mengantar Chaeri.

Selama perjalanan, dapat dipastikan bahwa Chaeri akhirnya mendapat teman laki-laki keduanya di sekolah. Baekhyun tidak dihitung oleh Chaeri. Percakapan mereka berdua dimulai dengan suasana yang canggung, itu yang dirasakan Kyungsoo. Sementara Chaeri hanya menjawab setiap pertanyaan Kyungsoo seperlunya, pertanyaan umun yang kalau terlalu lama dilanjutkan akan membuat Kyungsoo terlihat menginterview Chaeri.

Tapi ketika Chaeri mengeluarkan hp nya dan tidak sengaja memperlihatkan gantungan kunci charmandernya, Kyungsoo segera mengedipkan dua kali matanya dan menanyakan sesuatu yang membuat Chaeri memperlihatkan sisi bertemannnya “Kau suka Pokemon?”

 

“Daehaa!” Chaeri berteriak memanggil adik perempuannya. Tidak ada jawaban. Chaeri pun berlari menuruni tangga dan berteriak sekali lagi. Ia mengepal tangannya, Nintendo kesayangan yang selalu terkunci di laci mejanya menghilang dan ia tahu hanya Daehaa yang berani membongkarnya.

“Dia sedang pergi Chaeri.”  Ibunya membalas dari halaman belakang. Chaeri pun berlari menuju halaman belakang. Ia tidak suka melakukan komunikasi jarak jauh, dimana maksudnya ia dan ibunya harus saling berteriak.

“Pergi kemana?”  Chaeri berkata memperlihatkan kepalanya dari balik pintu.

“Ke rumah Jongdae.” Ibunya menjawab sambil tersenyum “Lebih baik kau menjemputnya sekarang.”

“Hhah? Sejak kapan dia dekat dengan Jongdae?”

Ibunya hanya mengendikkan bahu “Mungkin sejak menyadari bahwa Jongdae tumbuh menjadi seorang kakak laki-laki yang menarik?”

Chaeri memutar bola matanya “Baiklah aku akan menjemputnya.”

Chaeri pun segera mengambil cardigan abu-abunya dari gantungan di balik pintu kamarnya. Sebelum membuka gagang pintu, ia memperhatikan dirinya sebentar. Rambut hitam ikal sebahunya sudah mengering sehabis ia mandi, tapi masih menyisakan kelembaban pada rambutnya membuat ia merasa bahwa rambutnya sedang berada dalam kondisi terbaik, ia  dapat mencium wangi coklat dari samponya. Ketika tersenyum tiba-tiba ia baru sadar sejak kapan aku mempedulikan penampilanku?

Chaeri pun menggelengkan kepalanya ia pun berlari kebawah lalu keluar dari rumahnya. Pagar rumah Chen terbuka, Chaeri pun masuk dan berdiri tepat di depan pintu rumahnya.

Kapan terakhir kali Chaeri berkunjung ke rumah ini?

Chaeri berpikir sebelum memencet bel rumahnya. Warna cat pada pintunya terlihat masih baru, menandakan sejak terakhir kali Chaeri datang ke rumah ini pada perayaan ulang tahun Chen beberapa tahun lalu sudah ada renovasi yang dilakukan.

Chaeri berdehem sebelum akhirnya ia menekan tombol hitam di samping pintu.

 

“Chennie belnya berbunyi.” Baekhyun berkata begitu potato chips  yang ia masukkan 10 sekaligus ke dalam mulutnya tertelan.

“Tolong bukakan!” Chen menyahut dari balik pintu kamar mandi.

Baekhyun pun beranjak dari posisi tidurannya dan membersihkan remah-remah yang berserakan di bajunya. Rambutnya mencuat kemana-mana efek dari tidur singkat di atas sofa yang dipenuhi bantal-bantal.

Bel pun kembali berbunyi, Baekhyun mengacak-ngacak rambutnya dan berjalan menuju pintu, sebelah tangannya masih memegang potato chips yang hampir habis. Tanpa keraguan malu akan penampilannya yang terbilang berantakan Baekhyun memegang gagang pintu dan membukanya.

Hal selanjutnya yang terjadi menjadi pelajaran untuk Byun Baekhyun untuk selalu bercermin begitu terbangun dari tidur di rumah Jongdae.

___

(A/N)

who ship KyungsooXChaeri?? /raise hand/

45 thoughts on “Detour #03

  1. kebetulan yg luar biasa…
    dalam 1 hari, diantar oleh namja yg sama sekali ia tidak tau namanya– kyungsoo dan melihat keadaan baekhyun yg berantakan saat membukakan pintu untuk chaeri…
    wow… lanjutkan eonni!!!😀

  2. Chen emang troll.. aneh, venus dibilang ufo, jangan2 Chen begadang tiap tengah malam cuma buat ngeliat ‘UFO’ ?? Sodaraan sama kelelawar ya bang?😀

    Chaeri-Kyungsoo moment bener2 dikemas dengan baik. Lucu
    Baekhyun apalagi.. Ngegemesin bgt tu orang, ughh biar berantakkan gimanapun pasti tetep unyu :*

    Aku suka bgt cara penulisan kamu. Banget banget nget nget

  3. Ceritanya g berlebihan.. Gimana ya jelasinnya ? Mengalir seperti air(?)
    hahaha g tau deh.
    Aku suka karakter cwe yang kalem ky chaeri. Pembawaan yg tenang kesannya misterius
    wkwkwk

  4. hahahaha..tapi Baekhyun ttp ganteng kok wlaupun bru bgun tdur..aduh..aduh kyaknya D.O udah mlai trtarik sma Chaeri..johae…..

  5. Suka sama chaeri. Suka sama ceritanya, suka sama baekhyun, suka sama chen. Semuanya aku suka. Aku bingung mau komen apa. Hohoho ~

  6. Sebenarnya aku susah ngbayangin wajah baek yg ‘kosong’ tapi abaikan, aku suka bnget sama chen dan ufo-nya, d.o dan ocd-nya dan pasti baek sama chaeri-nya…kkk

  7. aaaaaaak. coment buat part 1 dan 2 disatuin disini yak. hihi

    plis laaah aku suka bangeeeet. ceritanya school life dan aku udah lama gak baca fanfict macam ini. banyak plus nya jugaak. cast nya semua yg aku sukak. terutama baekhyun. aku lagi cinta bangrt sama tu bocah iih pengen gigiiiiit.
    kereeeen. mau lanjut baca lagiiiih. yippppiii

  8. Aku setuju kyungsoo ama chaeri! Hahaha xD /angkat tangan paling tinggi/
    Kai jahat banget ih bikin baekhyun keselek wkwkwk
    Ohiya, si Chaeri sebenernya rambutnya begimana sih? Seberantakan apa? Jadi penasaran (?)

  9. Wlpun komen qw telat qw ikut acungin tangan. Qw ship kyungsoo><chaeri hahaha

    Gak bisa bayangin seorang bebek (panggilankesayngansayabuatbyunbaekhyun) bisa merenung di atas pohon huwaaaaa mesti manis banget. Soal'a qw lbh suka bebek yang mukanya sangar plus diem daripada cute ==»(efekMAMA)
    Aduh caeri, chaeri masa kmu jdi orang cuek aja, udah beberapa menit bahkan satu jam tetep gak mau tau nama'a — kyungsoo juga sbg cwk tetep aja sikap'a dingin — haduh haduh nanti saya gregetan (peluk luhan)

  10. me!!! but I Ship both actually. chaerixkyungsoo is fine. chaerixbaekhyun is also fine. hehehe

  11. Pingback: Rekomendai Fanfiction | Anggi Nindya Sari

  12. hahahahahahaah kelakuan si baekhyun bener bener deh kocak
    jangan2 nanti kyungsoo malah suka sama chaeri
    hayooo loohh chaeri hihi

  13. aa.. kenapa aku ngk suka kyungsoo sama chaeri?? wkk..
    lebih suka baekhyun sama chaeri..
    lah kalok ada baekhyun di rumah chen adeknya chaeri ngapain di situ?? wkk

  14. Waduh ternyata si d.o udah tertarik sama chaeri dari pertama ngeliat
    suka banget sama sikap cueknya chaerin, keliatan keren banget

  15. Muka baek kosong ? aku blm bisa bayangin nya

    nami beneran suka sama do? tapi kenapa dia merona?
    jangan2 entar do suka sama chaeri dh

    si sehun peran nya cuma jadi seseorang yg selalu nitipin buku? kerjaan nya nitip buku mulu, males banget jalan tuh org

  16. Hmmmm author pikarchu ini punya ciri kas kebahasaan yang unik dan sedikit membingungkan. author ini orang mana sih? kayaknya orang luar jawa ya? ya meskipun bahasanya sedikit memakan waktu dan membuat readers membaca lebih detail lg, justru kebahasaan author ini yang membuat identifikasi kalo ff ini tulisan pikarchuu

  17. alur ceritanya sebenernya klasik. tapi dengan hebatnya author mengemas cerita menjadi keren gk ketulungan. oh my. . aku sebenernya gk nge bias baekhyun. tapi kenapa sekarang aku terus ngintil ya

  18. aniii, aku baekhyun x chaeri ship wkwkw mereka emang beda tapi aku nganggepnya cocok sejak tabrakan maut terjaadi wkwk dan jadi chaeri itu blm tau do kyungsoo itu ug mana?? astogehhhh

  19. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  20. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  21. Sudah kuduga kalo si chen gokil, salah gaul lah anaknya! Masa venus dibilang ufo? Terus tetep keukeh sama pilihannya itu😂
    Ko aku jadi suka kyungsoo ya disini? Waaa ada cerita baru dong😍
    Btw, si baek ga tau malu di rumah orang gaya kaya begitu, berantakan :v

  22. Wah~ Chaerin sama Kyungsoo beneran cuek yak! Mau buat topik aja sulit bgt. Ah makanya jgn berteman sama buku terus haha😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s