Knock the Wind Outta You

Poster ver 2

 

 

 

 

Will I be able to express my feelings? Endless worries

 

I’m a dwarf wandering around Snow White

 

 

– Never Give Up; Bang & Zelo of BAP

Title: Knock the Wind Outta You; Genre: Friendship, romance, mama!AU; Rating: G Cast: Sehun-centric, Sehun x OC, EXO

"I’m nothing special but I can protect you"

Menatap dari kejauhan. Hanya itulah yang biasa ia lakukan. Membiarkan potongan-potongan gambar di hadapannya terus bergerak, cahaya matahari berubah-ubah karena lapisan awan yang menggoda dengan menutupinya sebelum pergi tertiup angin.

Tapi mungkin kali ini awan terus menerus menutup cahaya matahari. Alasannya cukup sederhana, karena Oh Sehun tidak ingin kepanasan. Walaupun pada kenyataannya interfrensi pada hukum alam – atau apapun yang dalam kamusnya dikategorikan ‘tidak penting’ – tidak diperbolehkan, tapi sesuatu yang tidak diketahui tidak masalah ‘kan?

Dengan pikiran ini Sehun terus menatapi satu objek yang telah menarik perhatiannya hampir dua bulan penuh. Rambutnya yang terlihat lebih pendek dibandingkan panjang aslinya karena rambut gelombangnya. Berantakan, tetapi tetap terlihat halus untuk disentuh. Kulitnya jelas dulu berwarna putih, namun entah kenapa Sehun menemukan kulit putih yang mulai menggelap itu menarik perhatiannya.

Mungkin karena ia merasa ada panggilan untuk menarik tangan kecil gadis itu dan memayunginya, melindunginya dari sengatan cahaya matahari. Dan mungkin saja alasan ia menggerakan awan dengan kekuatan anginnya adalah untuk melindungi Soo Hyoseon yang seperti tiap hari Sehun mengikutinya, selalu tidak peduli dengan cuaca hanya untuk berlari dan berlatih softball bersama dengan teman-temannya.

“Di sini kau rupanya,” sebuah suara mengagetkan Sehun yang langsung menggerakkan angin untuk meniup awan yang dari tadi menutupi matahari. Ia menoleh ke sampingnya dan menemukan Jongin tersenyum penuh arti.

Berusaha tampak tidak bersalah, Sehun membalas senyuman Jongin walaupun ia sadar senyum itu akan membuatnya tampak jauh lebih bersalah. “Hai Jongin” sapanya dengan suara datarnya. Sehun menghelakan napas di dalam kepalanya, untung saja ia terlahir dengan suara yang terdengar emotionless hampir setiap saat.

Ia menatap terus Jongin yang sekarang membuat dirinya nyaman dengan duduk di samping Sehun yang dari tadi duduk bersila di bawah pohon, ditemani dengan sebuah buku yang sebenarnya tidak ia sentuh semenjak latihan klub softball dimulai.

“Kau berhutang minuman kepadaku” perkataan Jongin membuat Sehun menatapnya kesal. Melihat muka masam lelaki yang lebih muda darinya itu, Jongin hanya tersenyum kecil. “Hyung membuatku berkeliling sekolah untuk mencarimu. Seharusnya kau membuat awannya bergerak lebih alami”

Mendengar ‘saran’ Jongin hanya membuat Sehun lebih ingin untuk mencekiknya. Ia sedang bersenang-senang dengan khayalannya sebelum Kim Jongin yang dengan segala definisi adalah menyebalkan, mengintrupsinya.

“Kau kan bisa menggunakan kekuatanmu. Itu sangat, sangat membantu” ujar Sehun tanpa basa basi dan sedetik kemudian menerima pukulan ringan di kepala. “Oww…” ia mengerang pelan.

Jongin menarik napas panjang. “Aku tidak ingin jadi seperti Joonmyeon Hyung atau Yifan Hyung, tapi kau ingat ‘kan aturannya, kita ti-“

“Tidak boleh menggunakan kekuatan di luar dari keperluan, aku tahu, aku tahu” Sehun menekankan kata-katanya, membuat Jongin memutarkan kedua bola matanya saat menyandarkan punggungnya ke dahan pohon.

“Kau tahu, apabila rambut Joonmyeon Hyung rontok semua aku tidak akan heran karena dia harus mengurus anak sepertimu” kata-kata pilihan Jongin agak kasar namun entah mengapa jawaban Sehun adalah anggukan dan ‘aku tahu’.

Jongin mengikuti arah pandangan Sehun dan ia menahan tawa apalagi dengan wajah bengong Sehun yang duduk di sampingnya. Menelan ludah yang berdiam di tenggorokannya Jongin berkata lagi. “Aku tidak akan heran mengapa Yifan Hyung berkali-kali ingin menendangmu keluar tim”

“Aku tahu” jawaban Sehun sudah diprediksi oleh Jongin yang tetap menahan senyuman dan sindiran di dalam mulutnya.

“Atau mengapa Kyungsoo Hyung sering mengomel saat membuatkanmu makanan tiap hari”

Apabila tidak terlalu tenggelam dalam pikirannya, Sehun akan protes karena tiap hari bukan hanya Sehun yang lapar dan kemudian meminta dibuatkan makanan. Dan pada kenyataannya, Kyungsoo lebih memilih membuatkan makanan pada Sehun daripada untuk Jongin. Tetapi jawaban Sehun sesuai dengan apa yang Jongin inginkan: “Aku tahu Jongin, aku tahu”

“Dan tentu kau tahu bahwa Oh Sehun harus segera mengutarakan perasaannya kepada salah satu anggota klub softball supaya obsesinya terhadap awan dapat menghilang-“

“Aku tahu, aku ta-“

Sehun menoleh dengan cepat ke arah Jongin yang menyeringai seperti serigala. Sehun yakin wajahnya sudah merah, dan kulit putihnya hanya meneriakan itu lebih keras daripada seharusnya. “Kau tahu?” nada Jongin bermain-main dengan kesabaran dan harga diri Sehun yang terus turun melihat tatapan Jongin.

“A-aku-“

Ia diberhentikan oleh tangan Jongin yang ada di depan mukanya, terlalu dekat bagi Sehun.

Seringai Jongin tidak menghilang. “Tenang aku tahu” ucapnya dengan nada meyakinkan yang hanya membuat Sehun tambah kesal. “Tapi sekarang Joonmyeon Hyung mencarimu, dan berharaplah ia sedang dalam mood baik”

Ucapan Jongin langsung membuat Sehun melompat dari posisinya dan mengambil buku yang hampir terlupakan. Sehun tidak takut apabila Joonmyeon marah – ia bahkan tidak yakin apabila Joonmyeon memiliki kemampuan untuk marah – tetapi bila terjadi hujan latihan softball akan dihentikan.

Sehun mengikuti Jongin dengan wajah cemberut. “Kenapa kita tidak menggunakan teleportasimu? Aku sudah lelah- kau, kau juga sudah lelah” tambah Sehun ketika Jongin menatapnya dengan tatapan ‘katakan-kalau-kau-bercanda’.

Jongin berhenti dan memutarkan tubuhnya supaya dapat berhadapan dengan Sehun. Wajah datar Jongin terkadang dapat diartikan sebagai sebuah bahaya, namun sebelum Sehun dapat mengantisipasi sesuatu Jongin sudah tersenyum lebar dan menepuk pundaknya. Ujung bibir Jongin sedikit terangkat ketika ia menghelakan napasnya.

“Maafkan aku Sehunnie, tapi aku tidak bodoh sepertimu”

~//~

Sehun hanya dapat tertawa kecil saat Joonmyeon menatapnya serius, di belakangnya Baekhyun berdiri dengan menggelengkan kepalanya sebagai apa yang ia sebut sebagai ‘efek’. Namun pada kenyataannya bagi Sehun itu membuatnya tampak bodoh – lebih dari biasanya.

Tapi menatap Baekhyun cukup membuatnya tidak meleleh dengan rasa bersalah karena mata Joonmyeon yang dapat membuat siapapun luluh dan mengutarakan kesalahan mereka. Sehun menelan ludahnya, merasa tenggorakannya sudah terlalu kering.

“Aku percaya padamu” hanya itu. Satu serangan super effective dari Joonmyeon yang langsung menjadi critical hit pada Sehun. Tawa kecil kembali keluar dari mulut Sehun karena sungguh Sehun tidak tahu apa yang harus ia katakan. Sudah sangat jelas ia melanggar aturan, untuk itu ia menghelakan napasnya.

Satu tarikan napas panjang ia lakukan sebelum memasuki ladang ranjau. Merasakan oksigen masuk ke pernapasannya, Sehun membuka mulutnya. “Aku tidak bermaksud membuat Jongin terpental ke dinding sekolah” kata Sehun hampir dengan nada polos. Walaupun demikian dari sudut pengelihatannya, ia dapat melihat Jongin cemberut ketika Yixing menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan memar di wajah Jongin yang baru saja mencium tembok.

Kembali ke pembicaraannya dengan Joonmyeon. Sehun tidak mengira, Joonmyeon akan menggelengkan kepalanya. “Terus kalau bukan itu apa?” ia menunjuk Jongin dengan jari telunjuknya.

“’Itu’? Memangnya aku benda!”

Protes Jongin tidak dihiraukan oleh Joonmyeon yang bahkan tidak mengedipkan mata. Sehun tertawa di dalam pikirannya melihat ini. Namun tetap saja tatapan Joonmyeon terhadapnya masih sama. Ia menahan napas saat mata Joonmyeon melembut – sebuah tanda yang sangat buruk.

“Awannya harusnya tidak menutupi matahari, iya ‘kan?” Baekhyun mengangguk di belakangnya. Entah mengapa Sehun merasa bahwa pada masalah ini Baekhyunlah yang paling terganggu. “Hari ini harusnya cerah, mengapa aku melihat awan bergerak menutupi matahari?”

“A-ah…” Sehun menggaruk belakang lehernya. “Itu karena aku merasa kepanasan, jadi aku berpikir sedikit awan akan membantu” ujar Sehun berdalih. Ia menengok sedikit ke arah Jongin yang menggelengkan kepalanya tetapi tidak mengucapkan apapun.

Joonmyeon mengangguk pelan, tapi bibirnya membentuk garis tipis. “Kenapa kau tidak di dalam ruangan saja?”

Mengangkat buku di tangannya, Sehun memasang wajah serius. “Aku tengah membaca novel dan aku rasa dengan membaca di luar aku akan lebih menjiwai tiap katanya” Sehun sedikit bersorak saat mendengar kata-kata itu mengalir dari mulutnya. Ia akan berpura-pura menutup mata saat Jongin memutar kedua bola matanya dan Yixing terbatuk-batuk, menyembunyikan tawa.

“Ah, menarik sekali maknae” kata-kata Joonmyeon lembut, namun Sehun tau betul apa arti dari suara itu. “Bagaimana kalau kau ceritakan isinya? Romeo dan Juliette memang menarik untuk dibaca” Joonmyeon menunjuk buku yang dipegang Sehun dan begitu menyadarinya, wajah Sehun langsung memerah.

Sehun habis akal sudah. Mengapa ia mencoba berbohong kepada hyungnya yang satu ini. Sudah jelas ia akan kalah hanya dengan beberapa kalimat saja. Tetapi itu tidak membuat Sehun berhenti membuka mulutnya untuk mungkin melontarkan beberapa kata yang dapat memperingan sangsinya. “Hyung-“

“Aish, apa susahnya sih mengatakan ‘aku sedang menonton perempuan yang aku suka memukul bola ke ujung lapangan’?!” teriakan Jongin langsung diikuti ketenangan yang awkward.

Kepala Baekhyun tidak lagi mengangguk atau menggeleng. Cahaya penyembuh di jari jemari Yixing langsung menghilang terlalu seketika – Jongin sedikit meringis saat memar di lengannya mulai terasa sakit lagi. Joonmyeon terbatuk-batuk dan Sehun… Sehun ingin lantai di bawahnya terbuka dan menelannya ke dalam bumi.

“Sehun, Oh Sehun menyukai seseorang?” entah mengapa Sehun merasa sedikit kesal dengan nada tidak percaya yang digunakan Baekhyun. Itu membuatnya terdengar seperti sebuah robot yang tidak memiliki perasaan. “Kau bercanda ‘kan?”

Jongin tampak tidak peduli saat dia melanjutkan ocehannya. Sehun tidak bisa berkata apapun karena nampaknya Jongin mengetahui banyak hal, terlalu banyak. Mungkin lain kali saat ia melakukan sesautu ia butuh memperiksa sekitarnya, kali-kali Jongin ingin melakukan tur singkat di sekolah. Tetapi untuk sekarang ini ia hanya terdiam dan menonton semua perubahan ekspresi di wajah hyung-hyungnya.

Jari Jongin menunjuk keluar jendela. “Untuk itulah dia,” jarinya berpindah ke arah Sehun, “bermain dengan awan menggunakan kekuatannya” ucapnya bagaikan seorang detektif handal bak Sherlock Holmes.

Apabila mereka sedang tidak berada di dalam ruangan, Sehun tidak akan berpikir dua kali lagi untuk meniupkan angin tepat di wajah Jongin. Karena tidak bisa, secara mental Sehun melakukannya di dalam kepalanya. Itu cukup memuaskannya.

“Oh Sehun,” mendengar namanya tiba-tiba dipanggil membuatnya sedikit kaget. “Apa benar itu alasanmu?”

“Apa yang harus kulakukan? Ia berlarian di lapangan tanpa sunblock atau apapun! Kulit putihnya nanti tambah terbakar, jadi-“

Kalimatnya terhenti ketika ia menyadari sesuatu. Apa yang baru saja kukatakan?!

“Jadi kau memayunginya dengan awan” Joonmyeon melanjutkan perkataannya. Tangan Sehun bertemu lagi dengan lehernya. Sehun sedikit bertanya-tanya mengapa tiba-tiba ruangan menjadi sangat panas dan tidak nyaman baginya.

Berdehem-dehem untuk menemukan kembali suaranya, Sehun memutar badannya ke sisi ruangan yang tidak ada orang. “Hmm… mungkin, kurang lebih. Tapi dengan bahasa yang lebih indah dan kurang frontal seperti-“

“Oh Sehun!”

Maknae itu langsung mengeluarkan suara berdecit karena kaget. Ah, kenapa ia masih berusaha tidak mengakui apa yang sudah terlalu jelas – karena penjelasan seseorang dengan nama Kim Jongin sudah cukup lengkap. Sehun hanya menutup matanya dan menunduk, menunggu keputusan Joonmyeon. Ia hanya berharap apapun itu bukanlah membersihkan tempat tinggal mereka. Apalagi berurusan dengan kamar Jongin atau tumpukan baju yang menggunung Joonmyeon. Ia sudah merinding memikirkannya.

Namun sebelum Joonmyeon berkata apapun, pintu ruangan kelas terrbuka. Chanyeol dengan senyum lebar, baju klub basket menempel di tubuhnya, masuk ke dalam ruangan. Jelas-jelas tidak dapat membaca situasi.

“Hai! Kalian merindukanku?” ujarnya mengabaikan tekanan di dalam ruangan. Semua mata tertuju kepada lelaki yang menjulang itu. “Eh…? Apa yang aku lewatkan?” ia bertanya-tanya. Yixing dan Baekhyun berjalan keluar ruangan merasa kehadiran Chanyeol telah merusak suasanan secara terlalu ekstrim. Sebelum keluar Yixing menepuk bahu Chanyeol.

“Banyak, banyak sekali” Yixing menjawab pertanyaan Chanyeol sebelum keluar. Namun itu menambah kebingungannya. Ia menatap Joonmyeon, berharap pengendali air itu akan memberikannya penjelasan yang memuaskan. Namun Joonmyeon beranjak dari kursinya dan keluar ruangan.

Chanyeol menatap dua maknae di depannya dan berlari keluar. “Joonmyeon Hyung, tunggu aku!”

Saat di dalam ruangan tinggal ada Sehun dan Jongin, Jongin langsung tertawa terbahak-bahak. Sehun hanya menatapnya dengan kesal. “Apakah itu perlu kau katakan pada Joonmyeon Hyung, atau di depan wajah Baekhyun Hyung?”

Jongin hanya menyeringai lebar ke arah Sehun. “Kau akan berterima kasih padaku nanti” ucapannya membuat Sehun benar-benar kesal – dan ia masih malu setelah ‘interogasi’ Joonmyeon. Untuk itu ia langsung memukul-mukul lengan Jongin.

“Yah, aku korban di sini!” Jongin menutupi erangan sakit karena kali ini Sehun benar-benar memukulnya.

“Aku tidak peduli!” Sehun berteriak. Namun pada detik selanjutnya Jongin sudah tidak ada di sana. Berdecak, ia berjalan keluar ruangan – dan membanting pintunya sebagai efek yang ia anggap keren. Sehun memasang mental note untuk meniupkan angin yang dapat menghancurkan rambut Jongin ketika ia bertemu dengannya lagi.

~//~

Sudah lebih dari lima belas menit namun tidak ada pertukaran kata-kata di antara mereka. Memang terkadang Luhan berharap lelaki yang sering ia anggap sebagai adiknya sendiri itu dapat berhenti mengomel mengenai harinya – atau terkadang membicarakan seseorang yang bernama Soo Hyeseon yang bahkan Luhan tidak kenal. Ia saja yakin Sehun sendiri tidak pernah bicara padanya.

Tetapi tetap saja, melihat Sehun yang memainkan bola-bola tapioka di minumannya alih-aih memakannya membuat Luhan sedikit khawatir.

Bruk!

Kepala Sehun menyentuh permukaan meja dengan suara yang cukup keras, menarik perhatian pengunjung toko bubble tea ke arahnya. Luhan meminta maaf kepada mereka sebelum kembali melihat Sehun yang mengeluarkan suara erangan-erangan tidak jelas. “Sehun, apa kau tidak apa-apa?”

Luhan hampir melompat dari kursinya saat Sehun tiba-tiba mengangkat wajahnya. “Hyung, apa yang harus aku lakukan?” Luhan – yang sudah berhasil mengontrol detak jantungnya karena kaget – dapat melihat wajah masam Sehun yang hanya dapat diartikan satu hal.

“Soo Hyoseon?”

Bruk! Lagi-lagi Sehun menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Satu-dua detik kemudian, wajah Sehun mengintip ke arah Luhan di depannya. “Hyung… Joonmyeon Hyung sudah tahu…” mendengar ini pria asal Cina itu hanya menarik napas panjang.

“Bagaimana-“

“Jongin”

Luhan hanya bisa mengangguk. Sebenarnya anak kedua paling muda itu sepertinya sudah tahu mengenai rahasia ‘kecil’ milik Sehun namun hanya menunggu waktu yang tepat untuk menghumbarnya pada dunia. Luhan sedikit bersimpati pada Sehun, namun ia tahu itu merupakan hal yang salah pada urusan ini.

“Yah, Oh Sehun, ‘kan sudah aku ingatkan kalau-“

“Kita tidak menggunakan kekuatan di luar keperluan. Bagaimana aku tidak tahu kalau hanya itu saja yang diulang-ulang? Mengapa sih semua hyung hari ini begitu menyebalkan?!” Sehun menunjukkan rasa gusarnya dengan menghentakkan kakinya berkali-kali – tidak seperti anak kecil, dan sekali lagi menarik perhatian pengunjung yang lain. Namun itu tidak menghentikan Sehun untuk mengerang-erang seperti kucing di tengah malam.

Meminum bubble tea miliknya dengan senyum kecil, Luhan menyentuh bahu Sehun. “Kau tahu, dibandingkan dengan bermain-main menggunakan kekuatanmu, mengatakannya langsung kepada Hyoseon seperti orang normal lainnya terdengar lebih baik”

Sehun menutup telinganya dengan kedua tangan dan menghentakkan kakinya. Ia tidak ingin dengan ceramah yang sama dari Luhan walaupun hyungnya yang ini selalu mentraktirnya bubble tea.

Tapi setelah dipikir-pikir, perkataan Luhan ada benarnya. Wajah Sehun memerah walaupun tidak ada yang melihatnya. Sehun mengeluarkan suara-suara aneh lagi karena rasa kesalnya pada drinya sendiri. Luhan menahan tawa saat menepuk bahu Sehun.

“Tenang, cepat atau lambat kau akan menemukan jalannya keluarnya” ucap Luhan, berusaha menenangkan Sehun. Setelah mendengarnya Sehun mau tidak mau sedikit berharap waktu itu akan datang lebih cepat, karena kalau tidak ia tidak tahu berapa lama ia harus menjadi tukang bersih-bersih di rumah.

~//~

Oh Sehun tidak pernah menemukan pelajaran atau kegiatan tambahan menarik. Ia memilih untuk diam saja dan membiarkan dunia memberikannya apa yang harus ia lakukan pada detik itu juga – kecuali bila seorang atlet Wushu melakukan ‘sesuatu’. Dan kali ini adalah hukuman karena ‘dituduh’ menyerang kakak kelasnya – yang bernama Kim Jongin – walaupun tidak ada bukti konkrit mengenainya – karena tidak ada yang bisa menjelaskan angin yang tiba-tiba menerpa wajah Jongin.

Balas dendam memang menyenangkan, Sehun mengakuinya. Namun kali ini tidak. Sebenarnya kalau hukumannya berlari keliling lapangan atau detensi dan menetap di kelas sampai waktu pulang sudah lewat, langit berubah menjadi kejinggaan, ia tidak akan protes. Yang ia tidak suka adalah hanya satu: membersihkan ruangan yang bukan miliknya sendiri

Saat ia memasuki ruangan olah raga. Anak-anak klub basket baru menyelesaikan latihan mereka. Sehun dengan mudah dapat melihat tubuh Chanyeol dan Yifan yang menjulang di antara orang-orang yang menjulang – dan Sehun sendiri tidaklah pendek. Begitu matanya bertemu dengan mata Chanyeol yang selalu berkilau kapanpun dan dimanapun, Sehun langsung menyesal. Mengapa? Karena Park Chanyeol harus berlari ke arahnya. Hebat…

“Sehun-ah, mengapa kau di sini?” pertanyaannya langsung terjawab ketika tangan Sehun sedikit menggerakkan tongkat pel yang sedang ia pegang. “Hukuman? Apa yang terjadi?”

Walaupun pada awalnya Sehun enggan menjawabnya akhirnya hal itulah yang ia lakukan. “Aku ‘menampar’ Jongin dengan angin” jawabnya singkat dan Chanyeol hanya mengangguk-angguk seperti figuran bobble-head di dashboard mobil.

“Kau butuh bantuan, tempat ini cukup besar untuk kau sendiri bersihkan-“

“Biarkan saja,” tiba-tiba Yifan datang dan memotong pembicaraan mereka. Sehun menghelakan napas lega. Paling tidak hyungnya yang ini tidak akan aneh-aneh. “Aku rasa menampar Jongin dengan angin juga tidak diperlukan walaupun tidak sepenuhnya”

Mungkin tidak, Sehun sekarang 100% yakin hyung-hyungnya sedang kampanye ‘hukum penggunaan kekuatan’ atau apapun itu. Namun itu hanya membuat telinga Sehun seperti ingin berdarah. Tapi ia harus berterima kasih pada Yifan karena sebenarnya membersihkan sesuatu – atau tepatnya apapun – bersama dengan Chanyeol adalah ide buruk.

Karena itu ia mengangguk. “Aku saja yang bersihkan” mendengar perkataan Sehun, Chanyeol hanya tersenyum dan kembali merapihkan barang-barangnya. Ia dan Yifan meninggalkan ruangan setelah ‘memberikan semangat’ pada maknae yang merana itu.

Setelah semua orang pergi barulah Sehun melakukan pekerjaannya. Dan tiap lima menitnya ia akan mengomel pelan. Atau terkadang berteriak dan melempar peralatan kebersihannya karena menurutnya melakukan hal ini tidak akan menghentikannya untuk mencari celah menyerang Jongin. Kadang-kadang ia bertanya kepada dirinya sendiri apabila ia seorang yang sadis.

“Aku tidak mengerti!” Sehun menjatuhkan dirinya ke lantai, tidak peduli bahwa celananya akan menjadi basah. Ia menghentakan kakinya berkali-kali. Tubuhnya pegal dan berkeringat. Ia bahkan dapat mengatakan ia lebih berkeringat daripada Chanyeol dan Yifan yang baru saja menghabiskan waktunya berlari dan melompat-lompat dengan bola yang harus dimasukkan ke keranjang yang berlubang di bawahnya.

Memicingkan matanya ke jam di dinding, pikiran lain menginvasi otaknya. “Apa klub softball sudah selesai ya?” ia bergumam. Begitu menyadari ucapannya sendiri, Sehun menutup mukanya dengan kedua tangannya. Ia tidak perlu seseorang untuk mengatakannya. Ia tahu sekarang mukanya memerah.

Ia tidak pernah berbicara dengan Hyoseon namun sepertinya hanya memikirkannya sudah membuatnya seperti ini. Sehun kembali teringat perkataan Luhan dan Jongin sebelumnya. Selama ini ia hanya bisa menjadi penonton di belakang dan baru belakangan ini obsesinya dalam menghalangi cahaya matahari sore muncul. Tapi hanya memikirkan cara mengucapkan ‘aku suka padamu’ saja sudah membuat dirinya menciut dan menghilang dari permukaan bumi.

Bisa dibilang Oh Sehun adalah seorang penakut, namun kata itu saja tidak cukup menjelaskan siapa dia dalam kondisi ini. Posisinya berbeda dengan orang lain. Tidak semua orang dapat menggerakan angin semudah bernapas, atau meniup awan seperti meniup gelembung sabun.

Sehun mengacak-acak rambutnya seraya berdiri. “Aish, kontrol dirimu Oh Sehun. Fokus pada apa yang kau sekarang tengah kerjakan” mengingatkan dirinya, Sehun meraih tongkat pel dan kembali mengepel lantai lapangan basket. Kali ini ia tidak mengatakan satu katapun sampai ia menyelesaikan seluruh pekerjaannya dan menutup pintu ruangan olah raga. Walaupun begitu, rona merah yang ada di wajahnya setia menemani bahkan sampai ia keluar dari gerbang sekolah.

Ia begitu terfokuskan kepada pikirannya, ia melewatkan suara dentuman akibat bertemunya bola dengan tongkat pemukul dari lapangan softball.

~//~

Sehun membenci hidupnya. Paling tidak hidupnya semenjak kemarin dan seminggu ke depan. Ia hanya berharap dirinya tidak melakukan hal konyol lagi yang membuat waktu itu bertambah dari jumlahnya sekarang.

Kyungsoo mendapatkan pekerjaan tambahan dari sekolahnya, walaupun tidak ada yang mengerti mengapa nilainya yang sudah bagus itu ingin ia tingkatkan lagi. Dan Sehun benar-benar jengkel saat mereka tidak menemukan makanan instant apapun di kulkas maupun lemari makanan. Ia, Oh Sehun, sekarang berjalan pada malam hari untuk membelikan hyung-hyungnya yang tidak tahu berterima kasih, makanan yang pantas.

Ia tidak takut pada malam hari, berbeda dengan Tao atau Joonmyeon yang akan melompat pada suara sekecil apapun. Dengan mudahnya Sehun sampai ke minimarket yang terletak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Sangat tidak efisien, namun mereka tidak mampu menyewa tempat yang strategis.

Memutuskan ramen adalah semua jawaban dari masalah, Sehun mengambil berbungkus-bungkus makanan instant itu dan memasukkannya ke keranjang. Tidak lupa dengan membeli minuman hanya untuk dirinya sendiri. Apa boleh buat, ia sudah merelakan waktunya dan sekarang hyungnya harus merelakan uang kembalian mereka.

Jus yang ia beli cukup melegakan tenggorokannya. Kali ini Sehun ingin menggunakan waktunya sebaik mungkin. Mengambil jalan pulang kesukaannya, ia berhenti di atas jembatan di atas jalan – tempat orang menyebrangi jalanan yang biasanya ramai akan kendaraan. Namun kali ini jalan menjadi sangat sepi. Sehun menduga hal ini dikarenakan daerah ini merupakan daerah perindustrian sehingga tidak heran di luar jam kerja tempat ini pantas menjadi lokasi syuting film hantu. Menghelakan napasnya, mata Sehun menatap ke kejauhan. Bulan purnama menyinari langit dan bintang-bintang malu-malu dapat terlihat dari posisi Sehun berdiri.

“Ah, sudah habis” Sehun mencari tempat sampah dari posisinya yang masih cukup jauh dari tanah. “Itu dia-“

Matanya menangkap gambaran lain. Namun berbeda dengan apa yang berada di atas kepalanya. Apa yang sekarang ia lihat membuatnya merinding. Tangannya tiba-tiba menjadi basah, degup jantungnya menjadi semakin cepat. Botol minumannya terjatuh saat ia secara terburu-buru menghubungi seseorang.

“Ayo Luhan Hyung… jawablah…” ia bergumam pelan dengan suara yang bergetar. Setiap dering tak terjawab membuatnya semakin panik dan frustrasi. Ia dihubungkan dengan voice mail. Tanpa pikir dua kali, ia kembali menghubungi nomer yang sama saat kakinya membawanya ke tangga.

Sehun berharap Luhan cepat menjawabnya. Dilema sedang menyerangnya dari segala sisi, Sehun tidak tahu apakah ia dapat menentukan jawabannya; pilihannya. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan!”

~//~

Ia tahu mereka mengikutinya. Ia berharap mereka segera berbelok dan meninggalkannya. Tapi tidak, mereka tetap di sana. Jaraknya masih cukup jauh namun Hyoseon sangat terintimidasi oleh kehadiran mereka.

Hyoseon mengenal seragam yang mereka pakai, namun wajahnya tidak. Dan minimnya cahaya membuatnya hampir mustahil untuk dapat mengenali wajah-wajah penguntitnya. Ia bahkan tidak ingin tahu siapa mereka.

Setiap menit berlalu atau bahkan tiap detiknya membuat kakinya semakin lemah. Hyoseon sedikit mengutuk dirinya karena memilih hari ini untuk berlatih hingga larut, lupa akan perseteruan antar sekolahnya dengan sekolah tetangga. Kalau ia sedang tidak di bawah ketakutan mungkin ia sudah memukul dirinya sendiri karena kebodohannya.

“Soo Hyoseon, kau Soo Hyoseon ‘kan?”

Mendengar namanya dipanggil membuatnya mempercepat langkahnya. Ia tidak begitu terkejut saat mendengar langkah-langkah di belakangnya semakin cepat. Saat mengintip ke belakang, jantungnya rasanya mau copot. Mereka sudah sangat dekat. Hyoseon memfokuskan dirinya pada pelarian, berusaha tidak memikirkan kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada dirinya.

Tiba-tiba dari depan ia merasakan angin sejuk menerpa wajahnya. Ia dapat salah mengartikan bahwa angin tersebut merupakan angin malam. Namun Hyoseon merasakan hal yang berbeda. Tubuhnya menjadi rileks dan ia merasa – walaupun betapa anehnya baginya untuk memikirkannya demikian – seperti ada yang meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja.

Ia tidak tahu dorongan apa yang membuatnya menengok ke belakang. Tetapi Hyoseon berteriak saat rombongan penguntitnya terdorong ke belakang oleh angin kuat yang melewatinya dengan mudah. Hyoseon terpaku di tempatnya, menatap murid-murid sekolah lain itu bergelimpangan di jalan.

Seseorang berdiri dan kembali mengejar Hyoseon, mengucapkan kata-kata yang Hyoseon tidak dengar. Namun sebelum mendekatinya, lagi-lagi anomali terjadi. Orang tersebut terdorong angin misterius.

Melihat ke sekitarnya, mata Hyoseon menemukan sosok tidak jelas. Ia berusaha memanggil figur itu. Namun sebelum ia dapat melakukannya, orang tersebut sudah berlari menjauh, seperti tidak ingin identitasnya diketahui. Saat mendengar erangan orang-orang yang dari tadi mengikutinya, Hyoseon teringat masalah yang sedang ada di hadapannya. Memutuskan keberuntungan ada di pihaknya, Hyoseon mengambil langkah dan berlari.

~//~

“Yah, Oh Sehun! Oh Sehun!”

Luhan benar-benar terkejut saat melihat orang-orang kesakitan di jalanan. Ia tidak ingin ikut campur dengan urusan tersebut sehingga ia meninggalkan mereka. Jahat mungkin, namun kalau Sehun benar yang melakukan hal ini pasti ada penjelasan. “Baozi, lupakan saja mereka!” sahutnya kepada Minseok yang mendekati orang-orang tersebut.

Dengan Minseok di belakangnya, Luhan berhasil menemukan Sehun yang terduduk di tangga sebuah jembatan penyebrangan. “Hei, kau tidak apa-apa?” tanyanya kepada Sehun yang sepertinya tidak sadar akan kehadiran mereka.

“…Hyung?” Kepala Sehun mendongak. Begitu menyadari bahwa orang tersebut adalah Luhan, ia langsung beranjak dari tangga. “Maafkan aku Luhan Hyung. Mereka di sana. Ada Hyoseon, ia ketakutan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak bermaksud menyakiti mereka Hyung. Aku takut terjadi apa-apa. Hyung-“

Luhan mengangkat tangannya ke depan wajah Sehun, berhasil membuat Sehun berhenti berkata apapun. Ia memandangi Sehun, berusaha menenangkan maknae mereka. “Apakah mereka melihatmu? Apakah Soo Hyoseon melihatmu?” Luhan bertanya selembut mungkin agar Sehun tidak akan salah paham dan mulai mengoceh lagi.

Sehun menggeleng. “Aku rasa tidak… Hyoseon tidak melihat wajahku, aku rasa…” saat melihat wajah tegang Luhan, Sehun menjadi panik. “Hyung apakah itu salah?” suaranya bergetar karena takut.

Suara tawa Luhan menggema di malam hari. Sehun menatapnya bingung saat Luhan menepuk-nepuk bahu Sehun. “Ayo, sekarang kita kembali ke rumah. Yang lain pasti menunggu entah makanan apa yang kau bawa” Luhan tidak menjawab pertanyaannya.

“Baozi, kau lambat sekali” omel Luhan. Minseok hanya cemberut.

“Mungkin apabila kau membawa tasmu sendiri aku dapat berjalan lebih cepat” ujarnya kesal.

Sehun masih menatap hyungnya itu. “Hyung” Luhan melirik ke arah Sehun kemudian teringat akan pertanyaan Sehun sebelumnya. “Apakah itu salah?” Sehun mengulangi pertanyaannya. Luhan tersenyum dan mengacak poni Sehun, membuat pria yang lebih muda merasa sedikit terganggu.

“Tidak Sehun, kau melakukan hal yang benar”

~//~

Sudah dua hari berlalu sejak hari itu dan sampai sekarang Sehun masih belum dapat menemukan keberaniannya untuk berhadapan muka dengan perempuan yang ia sukai. Bahkan ia sekarang tidak bisa menghabiskan waktunya memperhatikan Hyoseon dari jauh. Sehun merasa dirinya payah dan Jongin seperti biasa menyuarakannya lebih keras dibandingkan dengan seharusnya.

Sehun akan menolak untuk mengakuinya, namun entah kenapa tidak mengakui perasaannya sendiri membuatnya terkesan lebih buruk dari sebenarnya.

Untuk itu ia akan menghabiskan satu lagi sore merana di bawah pohon, ditemani buku yang menurut Yifan dapat menginspirasinya. Namun untuk setengah jam Sehun hanya menatap cover buku itu. Ia bahkan tidak membaca sinopsis atau pujian-pujian buku yang ada di cover belakang. Ia merasa moodnya hancur. Menggerakan awan saja membuat ujung bibirnya semakin ke bawah.

Sehun meyakinkan dirinya bahwa ia tidak pantas untuk seorang Hyoseon. Lagipula siapa dirinya? Seorang pengendali angin penakut yang sedang jatuh cinta. Bahkan selera humornya saja tidak membaik.

Saat ia menghelakan napas untuk keseribu kalinya pada hari itu, matanya menangkap sesuatu. Selembar kertas dibawa oleh angin yang mengejek Sehun. Ia mendesis, objek kekuatannya saja mempermainkannya. Dengan wajah serius Sehun mengangkat tangannya dan membuat sebuah gerakan yang menarik angin-angin lembut yang membawa lembaran kertas itu ke tangannya.

Membuka lembaran itu terbukti adalah hal yang salah. Wajahnya terasa terbakar lebih panas dibandingkan dengan sengatan cahaya matahari.

“Hei, apakah seseorang melihat sebuah kertas?”

Telan aku wahai bumi… Kyungsoo Hyung buat retakan dimana aku berada dan telan aku sampai ke dasarnya…

“Maaf, apakah itu milikku?” Sehun mendongak dan ia yakin ia telah mati dan dibangkitkan secara instan karena ia menahan napas, jantungnya lupa berdetak untuk satu detik atau bahasa apalah yang digunakan dalam novel-novel yang sering dibaca oleh Tao di waktu luang.

Yang jelas adalah untuk pertama kalinya, Sehun merasa semua angin yang ada di dirinya maupun apa yang ada di sekitarnya, tersedot keluar secara paksa dari tubuhnya. Bernapas saja sulit, sangat sulit ketika ia melihat – untuk pertama kalinya – wajah Hyoseon secara dekat. Soo Hyoseon yang sama dengan perempuan yang ia perhatikan selama dua bulan.

“Eh?”

Tangan Hyoseon sibuk dengan box kardus yang mencapai dagunya. Sehun harus menahan dirinya untuk berteriak ‘imutnya’ di depan Hyoseon yang menatap ke kertas yang sedang dipegang oleh Sehun yang terlalu sibuk di dunia khayalannya. “Apakah ada tulisan Soo Hyoseon pada kertas itu?”

Sehun mengedipkan matanya dua kali sebelum memeriksa kertas yang ia tahu memang terdapat nama Hyoseon – alasana wajahnya memerah barusan. Namun bukan jawaban yang ia berikan.

“Oh Sehun”

“Hah?” Hyoseon kaget dengan jawaban Sehun, dan baru pada detik itu pula Sehun menyadari betapa bodoh jawabannya tadi.

Menggaruk belakang lehernya, Sehun berdiri dan berusaha terlihat tidak bodoh. “Namaku Sehun. Maksudku ya. Ya, ini kertas milikmu” kata-katanya terbata-bata dan Sehun nyaris saja terpeleset di antara huruf-huruf dan kembali cadel.

Hyoseon hanya tertawa pelan. “Kau bisa meletakan kertasnya di atas box” pintanya. Sehun memandang Hyoseon yang hampir tidak kelihatan dengan membawa box besar macam itu.

Ia tidak tahu siapa yang mengontrol otaknya, syarafnya dan dirinya saat ia tiba-tiba berkata: “Butuh bantuan?” ucapnya sambil menunjuk ke bawaan Hyoseon yang terlihat berat. Gadis itu tampak bertanya-tanya dan memikirkan ucapannya barusan.

Hyoseon menelengkan kepalanya sedikit ke samping. “Kau yakin? Aku tidak ingin merepotkanmu, dan ini cukup berat” ia mengingatkan pria yang ia rasa baru ia lihat hari ini. Sehun menggelengkan kepalanya seraya mengambil box langsung dari pegangan Hyoseon.

“Tidak apa-apa. Aku memang jarang berolah raga, tapi aku tidak selemah itu” Sehun berdehem-dehem begitu menyadari ia mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya. “Umm… dimana box ini harus dibawa?”

Senyum Hyoseon membuat Sehun tidak bisa berkata-kata saat gadis itu memintanya untuk mengikutinya ke ruangan arsip. Sehun hanya mengikutinya di belakang. Mulutnya membentuk sebuah senyum. Ia tidak melakukan apa-apa, tapi Sehun merasakannya – ia tahu semua orang dapat merasakannya juga – bahwa angin kering musim panas mulai berubah. Lembut, pelan, namun tidak membosankan. Bahkan Sehun berani berkata angin yang berhembus membawa rasa senang yang ia rasakan sekarang ini.

“Kau lama sekali” Hyoseon menengok ke belakang, memberikan sebuah cengiran yang bagi Sehun terlihat manis di wajahnya. Sehun tertawa kecil.

“Kau yang cepat-cepat” walaupun berkata demikian, Sehun mulai berlari kecil ke arah Hyoseon, merasakan angin berhembus melewati rambutnya.

Yang ia tidak sadari adalah seseorang memandang dari jauh. Dari jendela sebuah ruangan kelas. Joonmyeon menyembunyikan sebuah senyum bangga melihat maknae timnya berjalan dengan orang yang ia suka. “Ia tumbuh dengan cepat…” ujarnya seperti seorang ibu melihat anaknya mengambil langkah pertama. Sementara Jongdae membuat suara seperti orang terharu di belakangnya.

– -author's note

Sebenarnya ide cerita ini sudah ada semenjak hampir sebulan yang lalu. Tapi karena 'sibuk' akhirnya baru sekarang bisa selesai. Author no comment aja sama plot cerita ini. mama!AU karena author itsredpenguin kangen sama konsep MAMAnya EXO dan Weekly Idol memberikan momen nostalgia/bricked

Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca~

because revenge is sweet~~

itsredpenguin SIGN OUT

2 thoughts on “Knock the Wind Outta You

  1. saya senyum-semyum sendiri bacanya hahašŸ˜€, yah membayangkan bagaimana Sehun jatuh cinta adalah hal yang kuinginkan selama ini.. apakah ada sequel?

    • /blush/ arigatou!! maaf baru bales komen OTL
      hahaha menurutku Sehun yang sedang jatuh cinta adalah Sehun yang paling dork dan lucu. Untuk sequel sedang dipertimbangkan (mumpung lagi liburan, lol).
      Thanks for readingā¤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s