Pizza Man ~ Part IV

pizza man copy

Happy reading! (itupun kalau kepingin baca:D)

˚˚˚˚˚

Esoknya…

“Al? Kenapa kamu?” tanya mama terperangah.

“Apakah aku terlihat seburuk itu?” tanyaku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Neaaah, nggak juga.” ujar ayah menahan tawa.

“Ayah pembohong yang buruk.” gumamku seraya mengacak rambutku yang sebenarnya sudah berantakan.

“Bagus bukan?” jawab ayah, kali ini benar-benar sudah tertawa.

Lalu aku merasa perlu mandi, dan memang benar. Wajahku kacau sekali. Aku yakin aku tidur semalam, tapi kenapa wajahku tampak seperti gelandangan yang tidak tidur berhari-hari?

“Drrrring….. drrrrriiiing….”

“Ada telefon? Untukku?” gumamku heran, sudah berbulan-bulan aku tak menyentuh hpku. Dan seumur-umur, belum pernah ada orang yang menelefonku.

“Ya halo?” jawabku santai.

“Alien?” ujar sebuah suara yang sangat kukenal. Dan saat itu juga, skenario yang sudah kutata rapi-rapi semalam mengalir deras keluar dari otakku. Mind blank.

“Kyu?” jawabku dengan suara lemah.

“Kaget ya? Aku mendapatkan nomormu dai Eun Su, dia sahabatku juga. Jangan kau pikir kau adalah satu-satunya sahabat Eun Su!” ujar Kyuhyun dengan tawa membahana, tawa yang anehnya terdengar kosong dan hambar.

“Bagaimana kau tahu bahwa…. Eun Su oppa sahabatku?” tanyaku.

“Yaa… Dia bercerita.” jawabnya singkat, seolah itu adalah bagian yang tidak ingin ia ingat-ingat lagi.

“Jadi… kalian saling kenal…” kesimpulan yang sulit kupercaya.

“Ya, kita bekerja di restoran pizza yang sama.” nada bicaranya normal, pikirku dalam hati.

“Aneh, kok aku tidak pernah tahu ya kalau Eun Su oppa bekerja di restoran pizza. Biasanya dia selalu bercerita padaku tentang apapun, begitu pula sebaliknya.” aku mengernyitkan dahi, tanda aku sedang berpikir keras.

“Mungkin sebenarnya kalian tidak sedekat itu.” Kyuhyun memberikan penekanan pada kata ‘sedekat’ dan kedengarannya ada sejumput nada berharap dalam suaranya. Apa hanya khayalanku saja ya? Mungkin iya.

Tapi tetap saja, saat itu pula jantungku mulai main trampilon.

“Ya… mungkin. Yang jelas sih nggak sedekat kamu dan Din Ri.” ujarku berusaha terdengar santai, memerangi semua rasa sakit yang mungkin terdengar dari nada bicaraku.

“Ya, aku tahu di mana Din Ri bekerja.” hampir saja aku membanting hpku.

“Oh… itu bagus.” suara yang keluar dari mulutku kedengaran parau, seolah dalam tempo menit aku telah menua 50 tahun.

“Alien? Apa kamu baik-baik saja?” suaranya terdengar sedikit khawatir.

Never been better.

“Kamu pembohong yang buruk.” balasnya diiringi dengan tawa kecil.

“Bagus bukan?” aku ingin tertawa, tapi tidak bisa. Syaraf-syaraf yang semestinya membuatku tertawa tidak merespon keinginanku.

“Mau makan siang bersamaku siang ini?” tanyanya tiba-tiba.

Jantungku yang semula sudah main trampolin makin menggila.

“Makanku banyak loh.” ujarku tanpa tawa, berusaha terdengar sesantai mungkin.

“Perutmu kecil.”

“Tidak, lambungku be-saar.”

“Yang pasti tidak sebe-saar lambungku.”

Lalu kita berdua tertawa, mengesahkan acara makan siang kita nanti.

“Jam 12 ya, aku jemput. Jangan sampai ketiduran loh, aku tahu kamu tidurnya seperti kerbau.” Oh! Dia sangat menyebalkan! Pasti Eun Su oppa yang memberitahunya informasi memalukan ini.

“Huh. Dan jangan terlambat 1 menit lagi ya.”

“Hahaha… Bukan aku kalau tidak terlambat 1 menit.”

“Hhh… terserah lah, kutunggu.” ujarku cepat.

“Daah..” lalu sambungan terputus.

Aku berkutat dengan lemari pakaianku. Apa yang harus kukenakan? Kaus? Terlalu santai. Blazer? Mau ngelamar pekerjaan kali. Dungarees? Kayak anak TK. Jaket wol? Panas ah. Long dress? Mimpi aja deh. Terus aku mau pakai apa dong?

Aduh, ini kan cuma acara makan siang bersama Kyuhyun… Kenapa aku jadi ribet gini sih? Aku langsung menyambar dress linen selutut berwarna biru langit dengan motif awan-awan putih. Lumayan… aku kelihatan normal dan santai.

12.01

TIIN TIIN TIIN TIIIN

Aku berlari keluar rumah dan menghambur masuk ke dalam mobil sedan hitam yang terparkir di depan halaman rumahku.

“YAK! KAMU INI! TERLAMBAT SATU MENIT SAJA MENGKLAKSON BERKALI-KALI!!” ujarku setengah berteriak, atau sudah berteriak?

“Hai… Kita makan siang di Tuscany. Suka masakan Italia kan?” tanyanya seolah aku tak pernah berteriak dalam mobilnya.

“MWO?! Itukan restoran mewah! Aku tidak mau bayar.” dengusku sambil menggeser posisi dudukku lebih dekat ke jendela.

“Restoran itu milik ayahku, jadi kamu tenang saja.” nada bicaranya dipenuhi kepongahan yang anehnya tidak membuatku langsung membencinya.

Sesampainya…

“Kau mau pesan apa?” tanya Kyuhyun sambil membolak-balik menu yang jelas-jelas tidak ia baca.

Caesar Salad.” jawabku mantap.

“Itu makanan yang paling kubenci di restoran ini.” ujarnya sambil memutar bola matanya.

“Itu satu-satunya menu vegetarian di sini.” jawabku ringan.

Kyuhyun menatapku seperti aku ini makhluk luar angkasa buruk rupa yang baru saja mencium tangannya.

“Hei? Ada yang aneh dengan menjadi vegetarian?” tanyaku, melambaikan tangan kananku di depan wajah Kyuhyun.

“Eh… tidak… kau aneh.” jawabnya, menangkap tanganku yang masih melambai di depan wajahnya.

“Seharusnya kau mengetahuinya dari pertama kita bertemu.” ujarku, seraya berusaha menarik tanganku. Tapi cengkeraman Kyuhyun pada pergelangan tanganku terlalu kuat.

“Soal kamu vegetarian atau soal kamu aneh?” tanyanya, baru melepaskan tanganku. Aku langsung mengipas-ngipas tanganku yang terasa sedikit sakit. Tapi entah kenapa rasa sakit yang bertengger di pergelangan tanganku itu membuatku lebih yakin bahwa keberadaan Kyuhyun dihadapanku bukan ilusi.

“Keduanya.” jawabku.

“Soal aneh, aku tahu itu dari jumpa pertama kita. Tapi soal vegetarian, aku baru tahu.”

“Pesan makanannya Kyu! Aku sudah lapar!” aku pura-pura membentaknya, dan dia hanya tertawa. Lalu Kyuhyun melambaikan tangan pada pelayan yang langsung setengah berlari ke arah meja kami, nyaris menyandung pelayan lain yang sedang membawa bergelas-gelas minuman.

Caesar Salad satu, Tagliata satu dan minumnya air putih saja.” ujarnya pada pelayan itu yang langsung mengangguk dan melaporkan pesanan kami ke dapur.

“Kenapa? Lambung be-saar mu sudah tak sabar ingin diisi ya?” Kyuhyun menyunggingkan senyum jahilnya, signature smile nya.

“Itu bukan topik yang aman untuk kamu bicarakan dengan perempuan.”

“Aku tahu, tapi kau kan bukan perempuan. Kau Alien.” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya lalu mencubit pelan ujung hidungku. Tapi anehnya yang memerah bukan hidungku, tapi pipiku.

“Tuan, kalau anda tidak bisa menutup mulut aku akan menyumpalnya dengan serbet.” ujarku saraya melepas lipatan serbet makan di hadapanku.

“Coba saja kalau berani nona, ini teritoriku.” dia melemparkan senyum menantang sambil merentangkan kedua tangannya.

Aku mencondongkan tubuhku, mencoba untuk menyumpalkan serbet makanku ke mulut besarnya, tapi…. tapi dia malah menangkupkan kedua tangannya di sisi wajahku. Menutupi telinga dan setengah pipiku. Tangannya dingin, tapi reaksinya bagiku sungguh luar biasa. Kakiku melemas, wajahku memanas, bibirku tak bisa meninggalkan formasi senyuman dan rasanya ada penari balet gila menari dalam perutku. Bayangkan saja bagaimana rasanya.

Lalu tiba-tiba Kyuhyun melepaskan tangannya dari wajahku dengan satu sentakan pelan, membuatku tersungkur ke tempat dudukku, nyaris jatuh ke lantai. Kyuhyun, di hadapanku, sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya dan posisi duduknya sudah hampir melorot.

“Apanya sih yang lucu?” protesku sambil membetulkan posisi dudukku. Walaupun rasanya aku tahu betul apa yang dia tertawakan.

“Lihat, aku hanya menangkupkan kedua tanganku di sisi wajahmu dan seketika itu pula wajahmu berubah menjadi merah dan bibirmu membentuk senyum malu-malu yang menggelikan.” terangnya, masih diselingi tawa.

Aku mengulum senyum gusar. Untung saja aku pintar, dengan cepat aku bisa memutar momen memalukan ini, pikirku langsung menyusun strategi kilat dalam otakku.

Lalu aku pura-pura tertawa, selepas yang kubisa.

“Aktingku bagus kan?” ujarku dengan nada santai, dan seketika itu pula tawa Kyuhyun berhenti

“Kau tidak akting tadi.” balas Kyuhyun dengan senyum kecil.

“Ya, aku berakting.”

“Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak?”

“Karena aku mengenalmu.”

Oke, telak. Ternyata aku tak cukup cerdik untuk mendebat Kyuhyun. Bendera putih berkibar. Aku mengangkat serbetku tinggi-tinggi lalu mengibaskannya.

“Kau menyerah semudah itu nona?” ujarnya dengan senyum kemenangan.

“Makanan sudah datang.” ujarku, fiuuuh… pelayan yang mengantarkan makanan kami bertubuh pendek dan kurus dengan kepala botak bak biksu, tapi saat dia datang membawa dua piring makanan, di mataku, pelayan itu nampak seperti malaikat dari surga yang menyelamatkanku dari pendebat gila di hadapanku.

Begitu makanan tersaji aku langsung pura-pura sibuk dengan Caesar Salad-ku, padahal rasanya nggak luar biasa. 11:12 lah sama menu sarapan kambing.

Kami makan dalam hening, hening yang kuartikan sebagai kedamaian. Walaupun makananku nggak begitu enak, aku tetap memakannya sampai tandas. Ya, aku tipe orang yang lebih memprioritaskan kebutuhan perut ketimbang lidah. Aku benar-benar lapar. Lalu aku mendongak ke piring Kyuhyun. Dagingnya sudah habis, begitu juga potato wedges nya  tetapi ia tidak menyentuh saladnya.

“Kenapa tidak dimakan?” ujarku sambil mendentingkan pisau makanku ke piringnya.

“Kalau kau herbivora, aku karnivora.” jawabnya sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang normal.

“Tapi kau HARUS makan sayur, sayur itu sehat! Kau bisa sakit kalau terus-terusan makan daging tanpa sayur.” ya, aku kedengaran seperti seorang ibu yang sedang memarahi anaknya karena tidak mau makan sayur.

“Sepertinya kau sangat peduli padaku.” Kyuhyun sedang memainkan ujung taplak meja, tapi bibirnya menyunggingkan senyum yang pasti kau gunakan jika ayahmu pulang kantor membawakan sebuah mobil sport untukmu. Sebenarnya seberapa banyak sih koleksi senyum Kyuhyun??

“Kyuhyun-ssi! Aku khawatir dengan gaya hidupmu yang jauh dari kata sehat.” sekuat tenaga aku mengabaikan sindirannya yang tepat sasaran.

“Sangat tidak adil.” gumamnya, menatap langsung ke mataku, seolah membaca pikiranku. Dan ya, aku khawatir jika Kyuhyun memang benar-benar bisa membaca pikiranku.

“Siapa?”

“Kau.”

“Kenapa?”

“Kau memanggil Eun Su dengan oppa, tapi kau tidak memanggilku oppa.”

“Kau ingin kupanggil oppa?” tanyaku mengangkat sebelah alis.

“Sudah terlalu banyak yeoja yang memanggilku oppa dengan nada manja.” aku ingin menamparnya, tapi mau tidak mau aku harus percaya bahwa barusan itu adalah sebuah pengakuan.

“Kau gila jika mengira aku akan menjadi salah satu diantara mereka.” dengusku pura-pura kesal, walaupun aku menyangsikan perkataanku sendiri.

“Kita lihat saja nanti Alien.” Kyuhyun melemparkan senyum menantang, aku membalasnya dengan senyum menantang dan tatapan ‘challange-accepted’.

“Sudah, kau sudah terlalu lama menghabiskan waktu bersamaku.” aku bangkit dari kursiku, dengan sedikit perasaan enggan.

“HUP!” Kyuhyun berseru sambil melemparkan kunci mobilnya padaku, aku bukan atlet dan aku tidak gemar berolah raga. Jadi dengan pandangan ngeri seolah kunci mobil itu memiliki taring yang dapat menggigitku aku menepis kunci itu. Dan kunci itu jatuh ke dalam gelas berisi air putihku yang baru setengah kuminum.

“Ups.” aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, tapi aku tak bisa menahan sinar jahil yang pasti muncul di mataku.

“Aku tak tahu kau sepayah ini.” gumam Kyuhyun, mulai mengobok air putihku dan mengeringkan kuncinya.

“Untuk apa sih kau lempar barng terkutuk itu?!”

“Kamu belum bisa menyalakan mobil?” tanya Kyuhyun, mengabaikan peranyaanku.

“Lelaki lah yang seharusnya melakukan itu.” kilahku.

“Manja.” gerutunya sambil menepuk tangannya, menarik perhatian seorang pelayan.

Aku melenggang keluar pintu dan bersandar pada mobil Kyuhyun.

“Masuk.” terdengar suara Kyuhyun dengan nada memerintah.

“Kau tidak membukakan pintu untukku?”

“Kamu itu siapa, eh?”

Tanpa memperpanjang perdebatan yang rasanya tiada berakhir ini aku segera masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya dengan bantingan.

Perjalanan berlalu dengan damai, walaupun aku merasa Kyuhyun adalah teman bicara yang sulit karena dia adalah pendebat yang andal tapi tetap saja, Kyuhyun yang berisik tetap lebih menyenangkan ketimbang Kyuhyun yang pendiam.

“Sampai.”

“Aku punya mata Kyuhyun-ssi! Aku tahu kita sudah sampai.”

Satu kakiku sudah keluar dari mobil ketika aku merasakan tanganku ditarik sedikit oleh sang pengemudi.

“Apa lagi?” tanyaku dengan nada malas yang dibuat-buat tanpa menengok ke arah Kyuhyun, padahal sebenarnya hatiku melonjak gembira, penasaran apa yang akan Kyuhyun katakan di penghujung pertemuan kita.

“Kau teman kencan yang menyebalkan.” Kyuhyun mengatakannya dengan jelas dan mantap. Lalu Kyuhyun melepaskan cengkeramannya pada sikuku. Tanpa mengucapkan sepatah katapun aku keluar dari mobil Kyuhyun.

Aku tak membalas lambaian Kyuhyun, membalas senyumnya pun tidak. Aku masih diam, kakiku seolah tertanam dalam aspal di bawah kakiku, otakku mencerna terlalu banyak informasi sehingga aku tak tahu haru merasa senang atau sakit hati.

Sejak kapan dia bilang berusan itu adalah sebuah kencan? Dia hanya mengajakku makan siang bersama kan? Apa itu arti lain dari kencan? Dan apa aku benar-benar menyebalkan? Yah, mungkin sedikit. Tapi bukankah Kyuhyun bertingkah lebih menjengkelkan lagi? Dengan segala kepongahan dan argumennya, jelas dialah yang menyebabkanku tampak menyebalkan tadi.

Aku berjalan memasuki rumah, tapi aku yakin betul bahwa gerak-gerikku terlihat seperti mayat hidup.

Begitu memasuki rumah perhatianku tertumbuk pada sosok yang sedang duduk menyampingiku. Dan aku berani sumpah aku merasakan jantungku naik ke tenggorokan.

˚˚˚˚˚

Kritik dan saran? butuh banget nih, hehe

kelanjutan ceritanya masih misteri, bahkan untuk diriku sendiri-_-”

meet you next time!^^

with love,

naminaya~

8 thoughts on “Pizza Man ~ Part IV

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s