Oh My Prince -chapter 06-

finally Oh My Prince updated!

 

Oh My Prince

Chapter 06

Sehun’s POV

Tertangkap

Aku tersenyum melihat Jieun tertangkap akan dua hal. Pertama tertangkap oleh Luhan. Kedua tertangkap olehku. Mengerti maksudku?

Jika aku lihat sekarang, tangan Jieun tertangkap oleh Luhan, terima kasih untuk Luhan-hyung. Tapi sekarang hal ini menjadi tidak begitu berarti begitu aku menyadari sesuatu tentang Jieun.

Ia suka Luhan, dan aku menangkap hal itu, hahaha.

Aku melipat kedua lenganku di depan dada dan tersenyum pada Luhan-hyung yang segera melepas tangannya dari Jieun.

Jieun terdiam, tidak melanjutkan aksi kaburnya. Mukanya memerah, semburat yang sangat kuyakini itu bukan dari blush-on atau apapun. Itu semburat merah yang akan keluar bagi siapa saja yang sedang menyukai seseorang. Dan aku yakin orang yang membuat blushing itu bukan aku, tapi Luhan-hyung yang baru saja memegang tangannya.

“Baiklah ikut aku sebentar.” Aku menarik tangannya menuju  rak note book sementara Jieun hanya berjalan lemas mengikuti tarikanku, tapi satu hal yang kusadari, begitu aku berjalan menariknya aku merasa beban yang kutarik semakin berat. Aku berhenti berjalan dan menengok ke belakang. Luhan-hyung ikut berjalan di belakangku, Jieun menarik lengan bajunya, seperti tidak mau melepasnya.

Aku menatapnya bingung begitu juga dengan ia yang menatapku bingung.

“Ekhm Jieun Luhan-hyung ada urusan.”

Aku kaget tidak menyangka Jieun berani seagresif itu menarik Luhan.

Jieun menengok ke belakang dan menatap Luhan “Aku tidak mau berdua dengan Sehun.”

Luhan-hyung membulatkan matanya, kaget dengan pernyataan Jieun yang membuatku hanya memutar bola mata. Sebenarnya ada apa dengan perempuan ini? Apakah di matanya aku benar-benar menakutkan?

Luhan-hyung tersenyum dan tertawa “Ya ya aku mengerti baiklah.”

Akhirnya Jieun tersenyum dan melepas tangannya dari Luhan-hyung. Aku menghela napas dan kembali berjalan sementara Luhan-hyung dan Jieun berjalan berdampingan di belakangku.

“Baiklah Jieun, coba pilih di rak ini mana yang kau suka?”

Jieun segera menghampiri rak dan jongkok melihat benda yang berada di rak paling bawah.

“Mau jawaban jujur?” Ia bertanya yang segera kujawab dengan singkat “Tentu saja”

“Tidak ada yang kusuka.” Ia berdiri dan tersenyum padaku. Aku memejamkan mataku, menarik napas. Aku dapat mendengar tawa kecil Luhan-hyung yang membuatku semakin kesal.

“Baiklah, apakah di toko buku ini ada hal yang kau suka?” Aku kembali bertanya dan langsung mendapat anggukan kepala dari Jieun.

Jieun segera berjalan menghampiri rak yang agak jauh dan membuatku dan Luhan-hyung mengikutinya.

 “Aku  suka yang ini.” Jieun menunjuk sebuah album foto tebal berwarna hitam. Simpel atau kubilang terlalu simpel.

Aku segera mengambilnya, foto album? Aku tidak terpikir memberikan itu padanya, tapi mungkin ini lebih baik dari pada sebuah note book.

“Bukankah untuk seorang perempuan itu terlalu simpel?” Luhan-hyung bertanya, ah akhirnya laki-laki ini buka suara juga selain mengatakan ‘aku tidak tahu.’

Jieun memegang dagunya seperti memikirkan sebuah jawaban “Memang terlalu simpel untuk perempuan, tapi aku lebih suka mendesain album fotoku sendiri, jadi aku suka yang ini. “ Luhan-hyung mengangguk-ngangguk mengerti dengan jawaban Jieun.

“Kau yakin ini?” Aku bertanya. Ia mengangguk sekali. Begitu aku mau memutuskan ingin membelinya tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Tapi bukankah tadi kau ingin membeli ini? Apakah tidak apa-apa aku yang membelinya?”

Jieun menunjuk rak di belakangku “Stoknya masih banyak, aku memang akan membelinya– tunggu bagaimana kau tahu?”

Jieun menatapku dengan kaget, sementara Luhan-hyung hanya tersenyum melihatku yang tertangkap basah mengintipnya.

Feeling.” Aku menjawab asal dan segera memasukkan album itu ke tas belanjaan. Jieun hanya menaikkan sebelah alisnya dan Luhan-hyung membisikkan sesuatu padanya, sesuatu yang sepertinya tidak menyenangkan melihat Jieun yang hanya makin menatapku dengan aneh.

Akhirnya aku berjalan menuju kasir meninggalkan mereka  berdua.

 

Jieun’s POV

“Sebenarnya perempuan seperti apa yang akan menerima hadiah ini?” Aku bertanya pada Luhan yang sedang berjalan di sampingku mengikuti Sehun yang sudah sampai lebih dulu di depan kasir.

Luhan menatapku “Berbeda denganmu. “

Aku mengangguk dan memperhatikan Sehun yang memasang wajah puas setelah membeli semua hal yang ia butuhkan “Apakah itu untuk pacar?” Aku bertanya yang dibalas dengan tawa Luhan.

“Bukan, atau mungkin kubilang belum?” jawaban ambigu dari Luhan membuatku menarik kesimpulan kalau itu hadiah untuk orang yang disukai oleh Sehun.

Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu “Tunggu, kalau begitu untuk apa Sehun ikut kencan buta kalau sebenarnya ia sedang menyukai seseorang?”

Luhan terdiam dan tersenyum padaku “Seingatku aku tidak pernah mengatakan kalau Sehun sedang menyukai seseorang?”

“Hahh?” Laki-laki di depanku ini benar-benar membuatku semakin bingung dengan setiap jawabannya.

“Yah lebih baik kau bertanya langsung pada Sehun, sudahlah, kita sudah ketinggalan Sehun, kau tidak ingin pulang sendirian kan?”

Aku menghela napas dan berlari mengikuti Luhan yang sudah berjalan di samping Sehun. Aku tidak begitu mengerti tapi Luhan dan Sehun tampak menyimpan sebuah rahasia. Luhan yang kulihat tadi membuatku berpikir ulang apakah benar aku menyukainya, ia tidak terlihat seperti apa yang ia perlihatkan.

 

“Bye Jieun!” Luhan membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya padaku sebelum akhirnya mobil hitam Sehun melaju kencang. Berbeda dengan Luhan yang tampak begitu semangat, Sehun yang duduk di depan setir hanya terus memandang spion tampak sedikitpun menoleh padaku. Aku mendengus kesal, sekalipun aku tahu memang karakternya seperti itu, tetap saja untuk seseorang yang telah ia repotkan seharian ini ia harusnya sedikit lebih menghargaiku.

Dengan langkah gontai aku berjalan masuk ke rumah, langkahku terhenti begitu menyadari sebuah sepeda asing terparkir sembarang di depan pintu rumah, yang tentu sangat menghalangi dan seenaknya. Moodku yang memburuk di tambah memang salahnya si pemilik sepeda aku menendang sepeda itu tidak peduli seberapa terlihat mahal sepeda merah itu. Apa Hyun Joon membawa temannya untuk menginap lagi? Aku mendecak kesal membayangkan malam berisik yang akan kulewatkan.

“Aku pulang.” Ucapku sambil membuka pintu yang langsung di sambut dengan teriakan Hyun Joon “Aaaah! Hey Jieun pulang!”

Sambil meletakkan heels yang sukses membuat kakiku tersiksa hari ini aku menyadari sebuah sepatu converse hitam dekil di letakkan berantakan. Aku memutar bola mataku, sepatu ini minta ditendang. Akhirnya aku kembali membuka pintu, kakiku yang sudah gatal siap menendang sepatu yang sama sekali tidak memiliki sopan santun ini, tapi tepat sebelum kakiku menyentuh sebuah teriakan yang sangat kukenali  terdengar, bukan teriakan Hyunjoon, teriakan ini teriakan yang sangat kusukai, dulu.

“AAAHHH! SIAL AKU KALAH!”

Sambil mengepal tanganku aku langsung berlari menyerbu ruang tamu. Kata-kata kotor sudah siap keluar dari mulutku untuk mencaci si pemilik suara menyebalkan itu.

“DONGHAEE!” Aku berteriak tidak peduli teriakan itu akan membangunkan nenek tetangga sebelah yang selalu langganan memarahi kami.

Donghae yang terlalu tenggelam bermain XBOX bersama Hyunjoon sama sekali tidak menggubrisku. Matanya masih fokus pada layar televisi. Aku menghela napas, dengan langkah yang sengaja kusentakkan sangat keras aku berjalan sampai berada di antara televisi dan Donghae bersama Hyunjoon.

“Ya jelek kau menghalangi.” Donghae mendorong bahuku, dengan tenaganya yang kuat dengan mudah aku tersingkir. Aku merasakan darah naik ke kepalaku, tidak cukup bertemu dengan seorang menyebalkan seperti Oh Sehun, bahkan di rumah sendiri pun aku masih harus bertemu dengan mantan kekasihku sendiri.

“Sudah malam, jam menerima tamu sudah habis. “ Aku mencabut kabel monitor pada stop kontak yang segera membuat layar hitam pada monitor. Hyunjoon dan Donghae mengerang kesal “Ah noona jelek!” Hyunjoon hanya mengacak-ngacak rambutnya dan menghempaskan dirinya pada sofa diikuti dengan Donghae.

“Hari ini aku menginap Jieun.” Donghae menyeringai padaku, yang langsung kusambut dengan tatapan terdingin, bersama Sehun membuatku bisa belajar tatapan mematikan itu darinya. “Tidak boleh.”

“Hey Hyunjoon, hyung mau menginap hari ini apakah boleh?” Donghae mengabaikanku dan menengok pada Hyunjoon. “Tentu saja boleh hyung, kita bisa bermain game semalaman!” Hyunjoon mengangguk dengan semangat, Donghae langsung tertawa dan tersenyum padaku “Tuan rumah sudah mengizinkan.”

Sial aku sudah kalah. Aku menginjak kakinya keras sebagai pelampiasanku, Donghae langsung berteriak, dan mengata-ngataiku begitu aku berjalan ke tangga menuju kamarku. Dalam hati meskipun aku terlihat sangat atau mungkin terlalu membencinya, dan kenyataannya memang iya, aku tidak bisa mendepak fakta kalau ternyata berhenti menyukai seseorang adalah hal yang sulit.

Sampai detik ini pun aku masih heran kenapa dulu aku menyatakan perasaan pada laki-laki bajingan  (a/n: maaf rated m) itu, kenapa sempat terpikir untuk menyatakan perasaan pada sahabatku sendiri, padahal jelas aku tahu sifat main-mainnya itu jadi kenapa aku harus menyukainya!? Dan lagi, masalah dari segala masalah adalah; kenapa Lee Donghae harus menerimaku? Kenapa ia tidak mengatakan kalau ia memang tidak menyukaiku sehingga aku tidak perlu mengalami hal ini, sehingga aku tidak perlu ikut kencan buta dan bertemu Oh Sehun, tapi kalau begitu aku tidak bertemu dengan Luhan—

“Noona! Ayo turun! Donghae-hyung menantangmu main!” Teriakan Hyunjoon hanya membuatku semakin lelah.

Donghae pabo.

Malam ini aku belum menghapus make upku, aku belum mandi, aku belum sikat gigi, aku benar-benar melanggar seluruh aturan yang kubuat untuk diriku sendiri sebelum tidur. Tapi aku benar-benar lelah, aku harus tidur dan hanya berharap Luhan muncul dalam mimpiku.

 

“AAAA!” mataku terbuka karena teriakanku sendiri. Aku dapat merasakan keringat menjalari pipiku. Dengan panik aku segera bangun menendang selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Aku menengok kanan kiri memastikan semua yang baru saja terjadi hanya mimpi, tentang namaku berubah menjadi Oh Jieun. Ugh menggelikan.

“Ada apa Jieun?” Ayahku berteriak dari lantai bawah, tampaknya aku bangun kesiangan karena bahkan ayah yang selalu kubangunkan sekarang sudah bangun lebih cepat dariku.

“Hanya mimpi buruk!” Aku menjawab sambil bangun dari kasur dan membuka jendela kamar. Ruangan ini benar-benar pengap, akibat lupa menyalakan AC rasanya sekarang tubuhku berkeringat luar biasa serasa di sauna.

Sambil asal mengambil baju aku memperhatikan wajahku sendiri melalui cermin lemari. Jelek sekali. Aku menghela napas sedikit menyesal karena terlalu malas mencuci make up kemarin. Tapi mengingat hari ini hari Minggu tiba-tiba terlintas di otakku untuk melakukan sebuah perubahan kecil. Aku tersenyum dan berjalan menuju kamar mandi. Hari ini aku bisa memanjakan diriku! Make over terdengar hal yang menyenangkan bukan?

 

Oh Sehun tidak bisa menghentikkan tangannnya yang terus mengetuk meja, hal yang selalu ia lakukan begitu rasa bosan mendatanginya.

“Sehun bisa kau diam?” Heeyoung memandang Sehun jengkel

Sehun hanya memandangnya balik tanpa memberikan ekspresi “Bisa tapi aku tidak mau.”

Heeyoung yang sedang memegang botol air mineral yang ia pesan hanya bisa meremas botol itu, ia harus menjaga sikap, jangan sampai ketidaksabarannya membuat rencananya menjadi gagal.

Sementara Heeyoung sibuk mengoles lipbalm di bibirnya berkali-kali Sehun hanya memandang luar jendela sambil menghela napas. Hari ini merupakan hari Minggu yang selalu ia nantikan, hari yang ia pikir ia dapat terlepas dari Heeyoung dan bergabung bersama hyung-hyungnya. Tapi kali ini teman masa kecilnya Heeyoung tidak membiarkan Sehun menikmati hari minggunya.

Sehun harus menemani Heeyoung berpura-pura sebagai kekasihnya hari ini pada double date yang Sehun bahkan tidak kenal siapa orang yang akan bertemu dengannya. Tapi sebenarnya ia tidak peduli, siapapun itu orangnya Sehun hanya ingin tugasnya segera selesai dan ia bisa bebas dari Heeyoung.

“Sehun itu orangnya!” Heeyoung menyenggol sikut Sehun. Sehun  menguap dan melirik pintu café yang berderit terbuka. Sesosok pria bersama wanita datang, tangan pria itu merangkul bahu mungil si wanita, sementara si wanita terlihat nyaman dengan sentuhan pria itu. Sehun memutar bola matanya, menganggap bahwa public display of affection merupakan hal menggelikan.

“Hei Donghae disini!” Heeyoung berdiri dan melambaikan tangannya, membuat pria yang sepertinya bernama Donghae itu datang menghampiri meja mereka.

“Perkenalkan ini kekasihku Yoona.” Donghae tersenyum dan mengenalkan wanita di sebelahnya sebelum akhirnya mereka berdua duduk.

Heeyoung hanya tersenyum dan mengangguk, dalam hati ia sedikit panik melihat Donghae musuhnya membawa wanita yang cukup cantik, tapi meskipun begitu, mengingat ia membawa senjata andalannya Oh Sehun, rasa percaya diri Heeyoung kembali meningkat “Dan perkenalkan ini kekasihku Oh Sehun.”

Donghae tersenyum pada Sehun, dan seperti biasa Sehun hanya memandang balik tanpa membalas senyum sedikitpun. Heeyoung sebenarnya cukup muak dengan perilaku dingin Sehun, tapi melihat ia melakukan itu pada Donghae, Heeyoung janji ia berutang pada Sehun.

“Jadi bagaimana rencana kita hari ini?” Donghae pun membuka percakapan sambil membalik-balik buku menu. Untuk membuatnya makin terlihat mesra ia mengajak Yoona untuk melihatnya berbarengan.

“Mungkin jalan-jalan di taman.” Heeyoung menjawab asal, ia merasa kalah dengan kedekatan Donghae dan Yoona, ia pun segera memutar otak, ia harus lebih agresif karena Sehun sama sekali tidak bisa diandalkan untuk hal seperti ini.

“Sehun mau makan apa?” Heeyoung bertanya dengan nada semanis mungkin. Sehun yang sebenarnya sama sekali tidak lapar hanya menaikkan bahunya “Apa saja.”

Heeyoung dalam hati kesal, mengutuk teman masa kecilnya itu, tapi Heeyoung menjadi wanita yang tidak mau merusak rencananya sendiri ia tetap memasang senyum terbaiknya “Benarkah? Bagus kalau begitu kita bisa memesan menu yang sama, iya kan Sehun?”

Sehun hanya mengangguk. Heeyoung pun segera membuka buku menu dan mencari menu yang akan membangkitkan selera makan Sehun. Sehun memandang jam tangannya, kencannya masih lama dan sekarang ia benar-benar menginginkan suatu hal. Ia haus dan bubble tea merupakan jawaban paling tepat untuknya.

 

“Taroo!” Jieun menyebutkan rasa yang menarik perhatiannya pada ahjumma penjual bubble tea. Setelah melakukan beberapa treatment di salon dan mempunyai potongan rambut yang baru Jieun merasa sedang dalam mood terbaiknya. Ia merasa hari ini adalah wanita tercantik, dan sepertinya semua orang setuju dengannya.

“Kau tampak segar hari ini Jieun!” Ahjumma berkata sambil memasukkan sedotan pada minuman Jieun.

Jieun tersenyum “Terimakasih ahjumma, aku suka potongan rambutku yang baru.”

“Iya itu lebih cocok untukmu, kau cocok dengan rambut sebahu dan poni. Tampak lebih manis dan segar.”

Jieun yang tidak terbiasa mendengar pujian hanya mengangguk dengan malu “Ah syukurlah keputusanku hari ini tepat.”

“Tapi kenapa kau tiba-tiba memotong rambut? Apa karena Sehun memutuskanmu?”

Jieun menghilangkan senyumnya, ekspresi tidak terima segera ia tunjukkan “A-aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sehun!”

Ahjumma hanya menyeringai “Benarkah? Padahal kemarin kalian terlihat dekat, ya sudahlah, ini bubble tea mu.” Ahjumma pun mendorong segelas bubble tea pada Jieun. Jieun langsung tersenyum dan memberikan selembar won pada ahjumma. Ia tidak membalas perkataan ahjumma itu, Jieun sebenarnya sedikit bangga, ia, Choi Jieun, bisa bersanding dengan laki-laki setampan Oh Sehun? Bukankah itu hal yang membanggakan?

 

Luhan’s POV

Aku menonton pertandingan MU dengan tangan terkepal, menonton lewat etalase TV yang dipajang membuatku tidak bisa  berteriak sepuasnya menunjukkan dukunganku pada tim sepak bola yang baru mencetak gol ketiga mereka itu.

Hari ini TV di rumahku rusak dan Sehun sedang sibuk dengan kencannya sehingga aku tidak bisa menumpang nonton di TV LCD nya yang besar di rumahnya itu.

Orang di dalam toko memandangku dengan curiga melihatku yang sudah berdiri di depan toko hampir satu jam. Aku hanya tersenyum dan itu berhasil membuat beberapa pegawai wanita terlihat menyerah dan membiarkanku berdiri di depan toko mereka sesukaku.

“Kyaaa Changmin-Oppa!” Seseorang berteriak tepat di sampingku. Aku memandangnya bingung baru sadar ada seseorang di sebelahku mungkin karena aku terlalu fokus pada pertandingan. Rupanya ada seorang perempuan yang sama-sama tidak tahu malu sepertiku, lebih parahnya, ia berani berteriak di tempat umum.

 “Ahh Oppa tampan sekali” Wanita itu berkata sendiri. Aku menggelengkan kepalaku pelan melihat kelakuannya yang memalukan. Tunggu, jangan-jangan orang akan mengira aku berteman dengannya melihat ia yang berdiri dengan jarak yang cukup dekat denganku.

Aku pun melangkah bergeser beberapa meter darinya pelan-pelan. Begitu mataku kembali memandang layar TV tiba-tiba pertandingan berganti menjadi iklan. Aku meniup poni kesal karena di potong pada saat yang benar-benar kritis pada sebuah pertandingan.

Akhirnya sambil menunggu iklan ekor mataku melirik pada perempuan yang tercium seperti rasa bubble tea favoritku, taroo.

Padahal ia cukup manis

Aku menghela napas cukup menyayangkan sikap perempuan di sebelahku yang sama sekali tidak tahu malu melompat sendiri begitu melihat oppanya melakukan sebuah gerakan tari yang menurutnya luar biasa.

Ia memakai rok floral sedikit di atas lutut, dan oversized-tees  putih yang ia masukkan pada roknya. Rambutnya pendek sebahu, meskipun tipe perempuanku adalah yang perempuan berambut panjang tapi kuakui perempuan ini tetap terlihat menarik dengan rambut pendeknya. Meskipun penampilannya cukup terbilang feminime tapi melihatnya memakai sneakers membuatku melihat sisi cueknya, ia terlihat menarik menunjukkan sisi manis dan cuek pada saat yang bersamaan. Dan aku suka itu.

Tiba-tiba sorakan penonton terdengar, iklan sudah selesai. Aku segera mengalihkan pandanganku dari perempuan itu, tapi sayangnya sesuatu membuatku tidak bisa melanjutkan menonton pertandingan.

“Luhan?” Seseorang menyebut namaku.

Detik berikutnya aku merasa aku bukan seperti diriku yang biasanya. Jieun perempuan yang merebut jersey ku berada di sampingku, berhasil membuatku kehabisan kata-kata dengan penampilan barunya, penampilan yang baru saja kukomentari dalam hati dan kuakui, aku menyukainya.

 “Kau Choi Jieun?” Aku bertanya untuk meyainkan bahwa memang benar Jieun yang sekarang berdiri di sampingku.

Jieun memandangku dengan bingung, mungkin kaget dengan reaksiku. “Ya tentu saja ini aku, apa kau sudah lupa denganku? Bukankah baru kemarin kita bertemu?”

Aku tersenyum dan mengangguk, ayo Luhan kembali menjadi dirimu yang sebenarnya.

“Jadi apa yang kau lakukan di sini?” Aku bertanya berusaha santai. Sementara Jieun menyeruput sedotan bubble teanya sebelum menjawab “Hari ini tv di rumahku dikuasai seseorang sehingga aku tidak bisa menonton konser live TVXQ”

Aku tertawa melihat seseorang yang bernasib hampir sama denganku. Tiba-tiba sebuah ide iseng terbesit di otakku. Aku menjulurkan tanganku “Bagaimana dengan kencan hari ini?”

_______

(A/N)

wohoooo cliff hanger!!  maaf pasti menggantung bgt ya ._. dan kabar buruknya beberapa hari kedepan author kembali hiatus karena harus pulkam lagi

Oh ya author minta maaf karena updatenya lamaaa bgt (khususnya hi to him)

tp Insya Allah begitu kembali author pikrachu akan kembali dengan marathon update! /pump fist/

btw pada ga pusing kan tiba-tiba point of view waktu bagian sehun di cafe ganti? terus terang author kurang biasa pake sudut pandang orang pertama, jadi author butuh no one’s pov untuk jembatannya ^^ kalau pusing bilang aja, nanti chapter selanjutnya author kasih penjelasan

Baiklah, until the next chapter~❤

Bye!

Pikrachu

XOXOXOXOXO

5 thoughts on “Oh My Prince -chapter 06-

  1. author ditunggu lanjutan chapternya ya🙂 aku penasaran, ceritanya udah makin seru. ini engga cinta segitiga kan? engga tau kenapa aku lebih suka si sehun sama jieun. dan syukurnya si heeyoung cuma temen masa kecilnya. kalo misalkan cinta segitiga dan sehun beneran sama jieun, kesian Luhan sebagai bias utama yang ternistakan. Kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s