Fallen Cupid

 

fallen cupid copy

Title: Fallen Cupid

Author:  bintangdj

Genre: Romance, AU,  triangle love?, friendship, little school life

Rating: G

Length: Two shoot

Cast: (OC)- Kwon Rae In, Luhan, Do Kyungsoo

a/n: Lupakan tentang perbedaan umur Kyungsoo dan Luhan~

Happy reading~

***

Kyungsoo’s

Seorang yeoja

Menangis

Di depanku

Bisakah kupercayai hal ini? Aku bahkan tak mengerti karena tentu saja aku bukan orang yang membuatnya menangis.

Matanya yang lumayan besar memerah dan penuh dengan air mata yang masih mengalir. Pipinya yang chubby itu basah terkena air matanya. Hidung mungilnya memerah dan aku yakin hidungnya tak berbeda jauh dengan rusa santa claus. Rambutnya yang pendek seleher juga sangat berantakan. Bahkan beberapa helai rambutnya menempel di pipi chubbynya.

Tapi, kupikir aku sedang berada di rumah Luhan, sahabatku yang mengajakku untuk bermain game di rumahnya karena hari ini hari pertama dari libur musim panas, walaupun awalnya Luhan sempat berniat membatalkannya. Tapi yang kutemui di rumahnya bukan orangtuanya ataupun saudaranya. Ah, aku yakin ia sama sekali tak memiliki saudara kandung karena selama 2 kali mengunjungi rumahnya aku hanya bertemu dengan orangtuanya.

Kutegaskan, aku tidak kenal dengan yeoja yang baru saja keluar dari kamar Luhan sambil menangis. Aku bahkan sempat mencari sosoknya dalam ingatanku, mungkin aku pernah bertemu dengannya. tapi tentu saja hasilnya nihil.

“Hyaaa!!!” Gadis itu berteriak dan langsung menutup pintu kamar Luhan. Dia bersembunyi. Entahlah, apa karena dia takut melihatku atau malu karena dilihat sedang menangis? Tapi bukan hal itu yang penting.

Aku masih tercengang tak percaya. Terlalu banyak pikiran di otakku yang membuatku tak bisa berkutik. Dan satu-satunya yang bisa menjawab semua pertanyaan di otakku hanya…

Luhan. Aku menolehkan wajahku ke arahnya dan dia hanya memperlihatkan gigi putihnya itu. Ya, seperti Luhan biasanya.

“Aku bisa jelaskan” Ucapnya karena ia melihat ekspresiku yang campur aduk. Walaupun aku tak bisa melihat diriku sendiri di cermin, aku yakin Luhan bisa melihat tanda tanya besar di wajahku.

Luhan membawaku ke ruang tengah dan mengeluarkan playstationnya, sesuai dengan janjinya. Ya, aku memang ingin menghabiskan waktu untuk menyelesaikan level yang tersisa di game ini. Tapi dia bahkan belum menjelaskan apa-apa tentang yeoja tadi.

Luhan memberiku konsol game tersebut dan aku sama sekali tak menerimanya. Dia menatapku sebentar, menaikkan alisnya “Wae? Kau bilang mau menyelesaikannya hari ini?”

“Kau bahkan sama sekali tidak menjelaskan apa yang baru saja terjadi” Ucapku

Luhan tertawa sebentar. Ya, mungkin dia pikir aku tidak begitu penasaran sehingga ia harus repot-repot menjelaskannya.

“Yah.. baiklah” Luhan tersenyum. “Dia hanya tetanggaku. Karena dvd player di rumahnya rusak, jadi dia meminjam tvku untuk menonton drama” Luhan menjelaskan dengan singkat dan memberiku lagi konsol game  itu. Kali ini aku menerimanya sambil mengangguk mengerti. Itu sebabnya dia menangis tadi. Jadi, bukan seseorang yang membuatnya menangis. Tapi, entah kenapa ada sesuatu yang masih mengganjal di hatiku.

“Kenapa lagi? Aku minta maaf karena sebelumnya aku bilang tak ada siapapun di rumahku. Tapi tenang saja dia tak akan keluar dari kamar. Aku tahu kamu sedikit canggung dengan orang baru” ujar Luhan. Sepertinya dia bingung karena aku hanya memegang konsol game itu sambil terdiam seperti orang bodoh. Aku hanya mengangguk membuatnya tersenyum puas.

***

Aku memutuskan untuk mengambil minuman setelah aku kalah dari Luhan 5 kali. Ya, kami sudah menyelesaikan game sebelumnya dan memutuskan bermain winning eleven. Yang mengesalkan, bahkan aku masih bisa mendengar suara Luhan dari dapur karena ia terlalu senang. Ia tak sesenang itu kalau aku tak akan mentraktirnya bubble tea. Ya, lima bubble tea. sebagai hukuman kekalahanku.

Aku mengambil air mineral dari dalam kulkas dan meneguknya saat aku mendengar suara isakan. Seperti suara menangis. Aku buru-buru menyelesaikan minumku dan melihat sekeliling untuk meyakinkanku itu bukanlah hantu. Aku bukan tipe orang yang percaya tentang hantu tapi cukup menakutkan kalau aku benar-benar melihatnya sekarang.

Suara isakan itu belum juga berhenti. Aku sedikit takut tapi teringat kalau yeoja tetangga Luhan yang baru saja kutemui juga menangis. Ah, sangat bodoh aku sempat berpikiran tentang hantu tadi. Benar, itu yeoja tadi. Yeoja tadi… aku kembali mengingat wajahnya dengan pipi chubby yang basah karena air matanya. Matanya yang memerah karena menangis dan bahkan bibirnya yang lucu. Ah.. tunggu, kenapa aku jadi memikirkan yeoja itu?

Aku ingin kembali ke ruang tengah saat aku melihat pintu kamar Luhan yang terbuka. Beberapa langkah lagi sampai aku bisa menuju ruang tengah tapi entah kenapa langkahku terhenti. Aku tak tak habis pikir kenapa aku malah mengintip ke dalam. Aku bisa melihat layar tv yang menampilkan dua orang yang sedang berbicara. Aku bukan tipe yang sering menonton film atau drama tapi aku tahu beberapa karena ibuku sangat suka menonton drama-drama seperti itu. Dan kupikir aku pernah melihat ibuku menonton film ini. Kurasa ini film Jepang. Dan aku benar karena aku bisa melihat case dvd kosong di depan tv yang bertuliskan ‘koizora’.

Aku mengalihkan perhatianku ke yeoja tadi yang duduk di depan tv. Ia menangis terisak dan maafkan aku karena aku sama sekali tidak bisa menahan tawaku. Yeoja tadi menangis sedikit ‘rusuh’. Ia sangat berisik dan mengambil napas berkali-kali seperti sedang berenang. Dan sepertinya ia tak punya tisu sehingga ia memakai lengan bajunya yang panjang untuk mengelap air matanya. Padahal itu membuat air matanya tambah melebar sampai ke leher dan dagunya.

Aku terkikik pelan, berusaha menyembunyikan suara tawaku, tapi sepertinya tidak berhasil karena ia langsung menoleh ke arahku. Tertangkap basah.

Aku mengubah ekspresiku menjadi straight face seketika. Dan yeoja itu hanya menatap ke arahku deng ekspresi sedikit terkejut karena aku memergokinya menangis lagi. Dan sebenarnya aku ingin tertawa lagi melihat ekspresinya yang aneh. Matanya melebar, alisnya sedikit naik dan mulutnya sedikit terbuka. Tapi kali ini kutahan dan kusembunyikan dibalik straight faceku.

Entah apa yang membuatku malah melangkah ke dalam kamar Luhan. Sedangkan mata yeoja itu mengikuti langkah kakiku dan kali ini ia mengerutkan alisnya heran. Sangat terbaca ia tak menyangka aku akan menghampirinya. Dan ia segera mengalihkan pandangannya dariku ke arah tv saat aku duduk tepat disebelahnya.

Aku juga tidak tahu kenapa aku malah menghampiri yeoja ini tapi aku tidak menyesal sama sekali melakukan hal ini. Ada sesuatu di dalam hatiku yang ingin mengenal yeoja ini lebih jauh. Dan lagipula aku merasa banyak keanehan dengan Luhan hari ini, dan kupikir bisa saja berhubungan dengan yeoja ini. Beberapa menit berlalu tanpa ada percakapan diantara kami. Yang terdengar hanya alunan musik dan percakapan dari film yang ia tonton.

Aku sama sekali tak menonton film itu. Aku hanya memperhatikan yeoja disampingku yang berusaha menahan tangisannya. Kuakui ia sangat cute karena aku tahu dia malu menangis di depanku. Aku mengangkat salah satu ujung bibirku, tersenyum. Yang untungnya ia sedang tak melihat ke arahku.

Aku melihat tv sebentar dan film ini sudah hampir mencapai endingnya. Tokoh utama namjanya yang bernama Hiro meninggal. Seketika aku langsung menolehkan kepalaku ke arah yeoja di sebelahku yang sudah kuperkirakan pertahanannya runtuh. Aku benar, ia kembali menangis sekarang. Aku yakin air matanya mengalir deras tapi ia berusaha menahan suaranya agar tidak berisik. Malah ia mem-pause dramanya dan menenggelamkan kepalanya di lututnya agar wajahnya tak terlihat. Usaha yang cukup bagus.

Aku bosan melihatnya menangis jadi aku mengambil remote tv dan memencet tombol play. Yeoja itu sadar begitu alunan musik terdengar lagi dan menatap ke arahku sebentar dengan wajah berantakannya sebelum ia merebut remote itu dariku.

Ya! Aku belum melihat saat-saat terakhir Hiro!”

Tanpa kuperkirakan ia meneriakiku. Mataku melebar karena ternyata ia bisa mengeluarkan suaranya sekencang itu. Kupikir ia tipe orang yang tenang. Tapi sedetik kemudian wajahnya memerah dan ia merubah posisi duduknya membelakangiku. Walaupun dari belakang tapi aku tahu ia sedang memegang kedua pipinya. Apa dia… malu karena akhirnya ia yang mengajakku berbicara duluan? Ya ampun, untuk yang kedua kalinya aku berpikir ia sangat cute. Dan kali ini, aku membiarkan tawaku lepas begitu saja. Dan aku bisa melihat kedua telinganya yang memerah setelah aku menertawainya. Ini seru, kupikir aku menemukan mainan baru.

Ia masih duduk membelakangiku saat aku berhenti tertawa. Kupikir ia tak akan kembali berbalik ke arahku karena kami cukup lama terdiam sampai aku yang merusak ketenangan ini.

“Hei, kamu ini apanya Luhan?” Tanyaku. Yah, bukan berarti apa-apa. Seperti yang kubilang aku hanya merasakan beberapa keanehan pada Luhan dan kurasa itu mengenai yeoja ini. Dan ia akhirnya memutar kepalanya menghadapku karena pertanyaanku.

“Kwon Rae In” Ucapnya pelan. Masih dengan wajah berantakannya.

Mwo?” Aku mendengarnya, tapi kurasa itu bukan jawaban dari pertanyaanku.

“Namaku” ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. “Namaku Kwon Rae In, tak enak dipanggil dengan sebutan ‘hei’’” Ucapnya lagi membuatku mengerti. Tapi kurasa ini awal yang baik. Ia bahkan mengenalkan dirinya padaku, padahal kukira ia orang yang tertutup.

Aku baru saja ingin menyebutkan namaku tapi ia mendahuluiku. “Do Kyungsoo” Ucapnya membuatku terkejut. Dia tahu namaku?

“Aku melihat album kelulusan SMP Luhan. Kamu sering terfoto bersama Luhan” Ucapnya sambil tersenyum. Senyum pertama darinya. Sedangkan aku hanya mengangguk mengerti. Dan dari penjelasannya aku yakin Luhan tak pernah menceritakan tentangku kepada Rae In. Apa mereka tak sedekat itu sampai Luhan tak menceritakanku? Padahal kupikir mereka bisa dibilang sahabat? Tak mungkin teman biasa bisa diperbolehkan meminjam kamar namja keras kepala seperti Luhan.

“Baiklah. Rae In apa hubunganmu dengan Luhan?” Aku menanyakan lagi pertanyaan awalku. Aku harus mendapatkan jawabannya.

Rae In memutar bola matanya ke atas. Ia berpikir cukup lama sambil menatap atap kamar Luhan sampai akhirnya menjawab. “Tetangga, teman, pengganggu?” Ia menjawab sambil menaruh telunjuknya di bibir. “Kenapa tiba-tiba bertanya?” Lanjutnya.

Aku hanya tersenyum “Hanya memastikan sesuatu. Aku belum pernah mendengar namamu sama sekali dari Luhan” Ucapku jujur. Masih ada pertanyaan di otakku. Apa Luhan menyembunyikanku dari Rae In dan menyembunyikan Rae In dariku? Tapi untuk apa?

Jinjja?” Tanyanya dan aku bisa melihat bola matanya yang memancarkan kesedihan. Bukan karena ia habis menangis. Tapi matanya terlihat lebih sendu. Seperti yang kukira yeoja ini sangat mudah terbaca. Aku kembali menaikkan kedua ujung bibirku dan kali ini Rae In melihatnya. Aku segera merubah wajahku menjadi straight face lagi. Ya, kurasa aku menemukan jawaban keanehan Luhan tapi aku masih belum yakin.

“Kapan kamu mengenal Luhan? Aku cukup kecewa ia tidak menceritakan tentangmu kepadaku” Tanyaku lagi. Dan Rae In tak butuh waktu lama untuk menjawab pertanyaan kali ini.

“Kelas 3 SD. Saat ia baru pindah dari Cina dan menetap di rumah sebelahku. Ia juga teman sebangkuku di sekolah” Jawaban itu membuatku berpikir. Mereka sudah lama kenal dibandingkan denganku yang kenal dengan Luhan sejak SMP.

“Dan kamu bilang Luhan pengganggu?” Tanyaku penasaran dengan apa yang Rae In ucapkan sebelumnya. Wajar jika jawabannya tetangga atau teman. Tapi kata ‘pengganggu’ ini membuatku penasaran.

“Ah, dia sangat senang menggangguku. Dia selalu meledek tentang impianku, tipe namja idealku dan mengkritik rencana kehidupanku 10 tahun kedepan yang kubuat dengan rapi. Dia bahkan bilang ia lebih manly dibanding Lee Min Ho. Dan itu membuatku hampir muntah. Luhan manly? Aku tidak yakin” Rae In menjawab lumayan panjang dan aku tak bisa menahan tawa saat ia menirukan gerakan muntah. Tapi… aku tidak tahu siapa Lee Min Ho.

“Lee Min Ho?” Tanyaku.

Rae In terlihat berpikir dan akhirnya memberiku sedikit clue. “Tokoh utama namja di Boys Before Flower”

“Ahhh” Aku mengangguk dan mengingat drama terkenal itu. Tergambar di kepalaku Gu Joon Pyo yang berambut keriting dan membandingkannya dengan Luhan sebelum akhirnya tertawa karena aku hanya bisa mengingat wajah feminin Luhan. Entah kenapa Rae In ikut tertawa melihatku yang hampir terjengkang ke belakang saking hebohnya aku tertawa.

Dan saat itulah aku bisa melihat sosok Luhan di depan pintu. Ia mengerutkan alisnya dan akhirnya menatap datar pada kami berdua. Rae In sama sekali tak menyadari keberadaan Luhan sampai aku menghentikan tawaku perlahan.

“Luhan?”

Suara Rae In yang agak bergetar itu menyebut nama Luhan. Bukan karena ia sedih atau takut. Sejak awal aku mendengarnya berbicara, suaranya memang seperti itu. Itu bawaan dari lahir.

Dan ekspresi Luhan datar. Tidak berubah. Aku melihat tangannya yang mengepal dan aku tahu ia sedang kesal. Apa ia kesal karena aku meninggalkannya di ruang tamu sendirian? Aku tidak begitu yakin.

Dan baru kali ini kulihat Luhan mengeluarkan ekspresi ini. Ah, tidak. Aku pernah melihatnya sekali. Sekali dan kupikir aku hampir melupakannya. Saat tangannya cedera dan ia tak bisa ikut pertandingan basket. Ia menatap teman-temannya yang sedang bertanding dengan ekspresi yang sama seperti sekarang. Ekspresi datar tapi menyembunyikan banyak emosi di dalamnya.

AH!

Ya aku mengerti. Misteri tentang Luhan kupikir aku sudah memecahkannya. Alasan kenapa pagi ini ia hampir membatalkan kedatanganku kesini, alasan kenapa Luhan ‘menyembunyikan’ Rae In di kamarnya, alasan Luhan hanya menjawab singkat saat kutanya tentang Rae In dan yang paling penting alasan Luhan tak pernah mengenalkanku dengan Rae In dan tak pernah mengenalkan Rae In denganku.

Ekspresi Luhan saat ini… aku tahu ia cemburu sekarang.

***

a/n

Maaf selama ini menghilang karena aku sibuk menjelajahi asianfanfics~ Dan baru sadar aku harus lanjutin ff karena secara tidak langsung ditagihin sama author Pikrachu.

Karena aku agak putus asa dengan Hunter or Wolf aku membuat ini -___-

Setidaknya ini mungkin bisa menggantikan HoW sementara karena HoW sedang dalam masa pengetikan tapi nggak yakin bisa segera mempublishnya~

Sekalian ini sogokan untuk Pikrachu karena castnya sengaja kubuat 2 biasnya, D.O sama Luhan^^

Oh iya, mungkin banyak yg nggak tau ‘Koizora’ atau ‘Sky of Love’ tapi kusaranin nonton~ Karena film itu sangat menguras air mata…

salam dari maninjau~ asal tau aja perjuangan banget nyari sinyal disini cuma buat ngepost ff …obinfastirabias

3 thoughts on “Fallen Cupid

  1. Aaaa bagus banget idenya bin! Cast nya juga pas banget jadi waktu baca langsung dapet feelnya. sukaaaaa bgt❤ btw dvd playerku juga lagi rusak ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s