Hi to Him -06

(A/N: Update ga terduga, awalnya author mau ngupdate PASTEL tapi tiba-tiba di timeline muncul Xiumin ganteng  yang langsung bikin author ingin jadiin poster dan update cerita)

Chapter 6 

 

“Apa rencanamu hari ini Ara?” Halmoeni tersenyum sambil menuangkan susu pada gelasku. Aku hanya diam dan membetulkan posisi kacamataku. Apa yang akan kulakukan hari ini? Masuk kuliah masih agak lama, punya teman di Korea pun belum. Benar juga ya, apa yang akan kulakukan hari ini?

“Ah aku tidak tahu halmoeni.” Aku menjawab jujur.

Halmoeni hanya terkikih mendengar jawabanku “Kalau kau masih lelah kau bisa menemaniku di rumah hari ini.”

Aku tersenyum dan mengangguk “Sebenarnya aku tidak lelah tapi menurutku menghabiskan waktu di rumah menyenangkan juga.” Aku segera berdiri dan meregangkan badan sambil menghirup udara dalam-dalam menikmati udara pagi Seoul yang segar. Rumah kami yang cukup besar didukung kecintaan halmoeni pada pohon membuat rumah ini menjadi lebih hijau dan menenangkan.

Halmoeni mengajakku sarapan di halaman belakang hari ini, cuaca pagi cukup cerah namun tetap sejuk mengingat kemarin malam turun hujan. Sambil menikmati roti yang baru dibakar, pagi pertama di Seoul benar-benar sempurna.

“Hari ini aku ingin memangkas rumput liar di taman, dan memetik beberapa bunga untuk di letakkan di rumah.”

Aku segera tersenyum dan mengangguk membayangkan semuanya, berkebun merupakan kesenangan yang tidak bisa kutekuni mengingat rumahku di Beijing tidak cukup besar untuk menanam berbagai macam tanaman. Tapi melihat rumah di Seoul ini, sepertinya aku bisa melakukan itu kapan saja.

“Ngomong-ngomong halmoeni, semua bunga dan pohon di sini benar-benar terawat, apakah kau melakukannya sendiri?” Aku bertanya begitu mataku menyadari tidak satupun bunga tampak layu.

Halmoeni menggelengkan kepalanya dan tertawa “Aku masih muda Ara.”

“Hhah? Tapi seluas ini? Sendirian?” Aku benar-benar tidak bisa membayangkan halmoeni di depanku ini dapat melakukannya.

“Seminggu sekali tukang kebun datang dan hampir setiap hari ada seorang anak yang membantuku merawat semua ini.” Ia menjelaskan “Sepertinya sebentar lagi anak itu akan datang.” Halmoeni melihat jam tangan tuanya.

Aku mengangguk dan segera menegak sampai habis susu putihku. “Sepertinya ia akan menjadi teman pertamaku?”

“Bisa jadi Ara.” Halmoeni tersenyum.

 

 

 

Setelah menanam tanaman barunya Ara mengelap pelipisnya yang berkeringat lupa kalau kedua tangannya masih bertanah. Sekarang kedua pipinya coklat, dan sebagai orang yang terlalu fokus pada pekerjaannya Ara hanya melanjutkan merapihkan tumpukan tanah yang ia cangkul dengan tangannya tidak menyadari betapa dekil penampilannya.

“Ara! Anak itu sudah datang! Bisa kau membuka pagar rumah?” Halmoeni berteriak dari ujung sana. “Ya Halmoeni!” Ara pun berdiri dan berjalan menuju halaman depan. Pagarnya rumahnya yang tinggi membuat Ara merasa dirinya tertutup dari dunia luar.

“Tunggu sebentar!” Ara berseru sambil membuka gembok pagarnya yang besar.

“Apa kau pembantu halmoeni yang baru?” Orang di luar sana membalas seruan Ara.

Ara yang merasa dirinya tersindir segera membuka pagarnya “AKU CUCU—“ 

“HAHAHAHAHA” tiba-tiba suara tawa laki-laki di depannya meledak. Ara memelototinya yang hanya membuat laki-laki itu makin mengeraskan tawanya.  Setelah menunggu dua menit sambil berkacak pinggang Ara menghela napas dan kembali menutup pagarnya.

“H-Hei!! Hei! Buka! Pembantu baru! Tolong buka pintunya!” Laki-laki yang dapat dikategorikan kurang sopan itu segera mengetuk-ngetuk pagar kayu yang hanya membuat tangannya merah. Ara hanya melipat kedua tangannya di dada sambil bersender pada pagarnya. Kepalanya panas, merasa jengkel dengan laki-laki yang sama sekali tidak tahu sopan santun itu.

“Aku mau membantu halmoeni!” Laki-laki itu pun kembali berseru. Ara memijit pelipisnya, merasa pusing dengan teriakan itu. “Aku belum mendengar minta maaf.”

“Minta maaf? Minta maaf untuk apa?”

“Minta maaf untuk mentertawakanku dan menganggapku sebagai pembantu di rumah ini.” Ara berkata dingin berusaha untuk tidak terdengar terlalu emosi.

Laki-laki itu menggigit kedua bibirnya, mulai merasa ragu bahwa ternyata gadis yang dilihatnya itu memang bukan pembantu. Ia sudah bertahun-tahun tinggal di daerah ini dan menjadi tetangga halmoeni yang dikenalnya sejak kecil itu. Dan ia yakin 100% di rumah itu tidak ada gadis yang tinggal di sana.

“Kalau begitu kau siapa?” Akhirnya laki-laki itu bertanya

Ara yang ingin melihat wajah penuh perasaan bersalah dari anak laki-laki itu akhirnya membuka pagar dan menjulurkan kepalanya, dengan cemberut yang belum hilang dari wajahnya ia berkata “Aku cucunya baru pindah ke sini kemarin, namaku Zhang Ara”

Tidak perlu menunggu lama tiba-tiba laki di depannya segera membungkukkan badannya, Ara pun keluar dan tersenyum “Kuanggap ini sebagai permintaan maaf.”

Hyungseok segera mengangkat kepalanya dan mengindikkan bahunya “Maaf, aku bertahun-tahun tinggal di sini dan aku benar-benar tidak tahu halmoeni mempunyai cucu sepertimu”

Ara menggigit bibirnya tidak senang mendengar perkataan laki-laki tersebut “Cucu sepertiku? Apa maksudmu?”

Hyungseok segera tertawa dan tanpa pikir panjang ia segera menyentuh pipi Ara mengelap tanah yang terlihat sangat menganggu “Pipimu kotor.”

Ara memang bukan perempuan yang suka disentuh, ia tidak akan membiarkan orang terlebih jika itu orang asing seenaknya menyentuhnya tapi sesuatu yang berbeda terjadi kali ini, sentuhan laki-laki yang baru ditemuinya beberapa menit yang lalu itu terasa bersahabat, bukan untuk menggoda atau apapun itu hal yang selalu Ara hindari. Dan Ara tahu ia akan memiliki teman pada hari pertamanya di Seoul.

 

 

“Ara! Kau sudah keliling Seoul?” Hyungseok berkata dengan riang sesuai dengan wajahnya yang selalu memancarkan aura bahagia.

Ara bersama neneknya dan Hyungseok sedang menikmati teh mereka setelah hampir seharian penuh membereskan halaman belakang mereka.

Ara menggelengkan kepalanya dan menyeruput tehnya “Belum, kau ada rekomendasi tempat?”

Hyungseok berdiri dari kursinya dan menepuk-nepuk dadanya dengan bangga “Kau bertanya dengan orang yang tepat.”

 

 

“Baiklah kalian boleh istirahat!” Guru Kim mengelap keringatnya setelah selesai memberikan pelajaran tari pada beberapa trainee baru dari negeri China. Xiumin dan Luhan membungkukkan badannya serempak sebelum guru mereka meninggalkan ruang latihan.

“Sudah jam berapa?” Xiumin menengok dan bertanya pada Luhan yang sedang terlentang di lantai kayu. Luhan yang memejamkan matanya memperlihatkan jam tangannya pada Xiumin. Xiumin memincingkan matanya lalu memegang kedua perutnya yang meminta pasokan. “Bagaimana kalau kita makan dulu?”

Luhan pun beranjak dan tidur dan tersenyum “Ayo kita ke kantin.”

Xiumin pun berdiri dan berjalan menuju jendela untuk melihat langit. Permainan palet langit begitu berwarna-warni membuat ide lain terlintas di kepalanya “Bagaimana kalau kita makan di luar? Sekaligus berjalan-jalan di Seoul?”

 

 

“Hei hei Ara coba kau lihat gedung itu.” Hyungseok menyenggol sikut Ara. Ara yang sedang mengunyah tteokbokki menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti apa yang spesial dari gedung yang sedang Hyungseok tunjuk

Hyungseok meniup poninya sedikit tidak puas dengan respon dari Ara “Itu gedung SM entertainment.”

Ara mengangguk dan menengok pada teman barunya itu “Lalu?”

Hyungseok tersenyum, meskipun orang yang diajaknya tidak memberikan reaksi yang ia harapkan tapi justru dari situ ia bisa lebih leluasa mengajak Ara. “Kau mau masuk ke sana?”

Ara diam berpikir. Ia tahu itu gedung yang sudah menerbitkan beberapa hallyu star papan atas. Kyuhun adalah salah satu contohnya, memiliki kakak sepupu seperti Kyuhun membuatnya tidak begitu asing dengan dunia selebritis. Meskipun bukan penggemar fanatik tapi Ara harus mengakui bahwa lagu korea memang mendominasi playlist ipodnya.

“Kalau aku mau memangnya jadi bisa?”Ara bertanya, meskipun sebenarnya ia bisa saja masuk dengan koneksi dari Kyuhun ia memilih mengikuti permainan Hyungseok.

“Aku trainee dari S.M. Academy jadi aku bisa mengajakmu main.” Hyungseok tersenyum membuat Ara segera membulatkan matanya karena merasa kaget.

“Kalau begitu kenapa kau masih bisa bermain-main di sini? Bukannya trainee itu harus latihan setiap hari selama berjam-jam?”

Hyungseok pun berdiri dan meregangkan kedua tangannya “Kan kubilang, aku dari S.M. Academy, itu artinya aku membayar jadi trainee dan tujuanku bukan menjadi artis.”

“Hhah?” Ara masih belum mengerti

Hyungseok tersenyum dan menjulurkan tangannya “Aku hanya suka menyanyi dan menari jadi aku ikut S.M. Academy” Ara hanya mengangguk dan diam melihat juluran tangan Hyungseok. Hyungseok mendecak kesal melihat Ara yang tidak menerima uluran tangannya, ia pun menarik tangan Ara dan membawanya berlari “Ayo kuperlihatkan hal yang menyenangkan!”

 

 

“Hahaha!” Xiumin tertawa sambil berlari kencang menuruni tangga menikmati permainan siapa-yang-kalah-dia-yang-bayar dengan Luhan. Meskipun sedikit janggal mengingat mereka baru saja kehabisan tenaga menghabiskan waktu berjam-jam menari, tapi faktanya ternyata tenaga untuk berlari masih tersimpan di tubuh mereka. Xiumin yang terlalu merasa senang karena dirinya berlari lebih cepat daripada Xiao Lu panggilan barunya untuk Luhan sama sekali tidak memikirkan bahwa gedung SM tidak cukup sepi sebagai tempat berlari.

“Ya!” beberapa detik kemudian suara Luhan terdengar, naluri kekanak-kanakan Xiumin bangkit, ia panik, tanpa alasan yang cukup rasional mengingat jika mereka kalah mereka hanya perlu mentraktir kimbab, dan masalahnya Xiumin berlari seperti Luhan adalah seorang debt collector.

“Minseok! Hati-hati ada orang lewat!”

“Haha! Aku tidak akan percaya pada tipuanmu!” Xiumin menyeringai sambil menengokkan kepalanya ke belakang untuk memantau sedekat apa jarak Luhan dengannya

“Aku serius!”

“Aku juga serius!”

“Kim Minseok aku SERI—“

Pelajaran penting untuk Kim Minseok bahwa berlari di koridor bukan hal yang benar untuk dilakukan, terlebih untuk orang seumurnya.

2 thoughts on “Hi to Him -06

  1. Aku akan jadi org paling menyebalkan untuk pikrachu kalau minta ff ini di update, karna aku jg minta update detour, pastel, oh my prince, dan catching feeling >< heuuu bingung mesti gmn karna sejujurnya aku penasaran sama ceritanya😦 maafkan aku

  2. Hai Pikrachu😀
    Aku sedang menjelajahi (?) semua ff yg kamu tulis. Setelah baca Detour, Pastel, sm Catching Feeling jadi suka banget sama gaya bahasa yang kamu pake. Mungkin ff ini dalam status hiatus, tapi aku berharap masih bisa di lanjutin *eheem* walaupun aku beneran nungguin Catching Feeling update😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s