Pizza Man ~ Part V

pizza man copy

Akhirnya bisa ngupdate jugaaa… Maaf ya nggak begitu panjang, dan maaf juga bagi yang sudah menunggu (ada nggak sih yang nunggu? hehe)

No more waiting then😀

naminaya presents…

˚˚˚˚˚

“Din Ri?”

Sosok itu menoleh dengan perlahan dengan senyum manis yang dingin.

“Ah, Aliana… kemana saja kamu?”

“Aku… eh ya, aku… habis.. emm… makan siang?” tak yakin apakah aku akan menyebut tadi itu sebagai kencan.

“Kenapa balik bertanya, manis?” bibir Din Ri bergerak seperti slow motion. 

“Tak apa. Sedang apa kamu di rumahku?” ujarku tanpa melanjutkan basa-basi yang mengintimidasiku ini.

“Mencarimu tentu saja.” ujar Din Ri dengan gaya seolah dia sedang mengajariku 1+1.

“Ada apa mencariku?” aku menegakkan badan dan mengangkat dagu.

“Tak usah tebar kecongkakkan. Kamu baru kencan sekali saja gayanya sudah selangit.” nada suaranya kedengaran muak. Dan yeah, aku juga muak melihat gayanya. Jadi impas, kita saling muak pada satu sama lain.

“Bagaimana… bagaimana…” ujarku setengah megap-megap.

“Aku tahu?” Din Ri menuntaskan kalimatku.

“Yeah.”

“Ingat aku pernah bilang bahwa Kyuhyun oppa adalah sabahatku?”

“Nggak mungkin lupa.” jawabku, berkacak pinggang.

“Apa fungsi sahabat?”

“Jangan sok menggurui Nona Lee.”

“Ya tentu saja saling berbagi rahasia dan menceritakan masa lalu dan harapan kita untuk masa depan. Persahabatan antara aku dan Kyuhyun oppa tidaklah berbeda, yah mungkin sedikit lebih dekat dari sahabat, tapi apalah arti sebuah status. Singkatnya, Kyuhyun oppa bercerita padaku tentang kencan kalian ini.”  tutur Din Ri tegas, setiap kata diiringi kebencian yang tak bisa aku jelaskan.

“Lalu? Kenapa kamu kesini?” tanyaku mulai malas dengan ocehannya tentang sahabat.

“Hanya ingin menyampaikan. bahwa yang tadi itu bukan kencan pertama Kyuhyun.” Din Ri benar-benar nggak punya perasaan.

“Pembawa kabar terkutuk.” gumamku, melupakan keberadaan Din Ri di depanku.

“Bisa diulang?” Din RI mencondongkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di belakang daun telinganya.

“Pendengaranmu buruk?” nada suaraku terdengan sangaaaaaaaaaat melecehkan.

Din Ri melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu mendesah kecil.

“Shift-ku dimulai 15 menit lagi. And I’ll repeat my warning, don’t mess with Lee Din Ri.” gayanya benar-benar sok misterius.

“Nggak pengen, dah sana kerja.” jawabku kurang ajar.

Din Ri akhirnya keluar dari rumahku setelah melemparkan tatapan dinginnya sekali lagi.

Lalu aku menghempaskan tubuhku ke sofa dengan dramatis. “Aku hanya butuh tidur.” gumamku pada diri sendiri. Baru saja mataku akan terpejam, tiba-tiba…

“Alianaaa!” mama meneriakkan namaku dari dapur.

“He-eh?” ucapku tak jelas, seraya membalik posisi rebahanku.

“Siapa sih orang tadi?” tanya mama dengan nada menyelidik.

“Din Ri.” jawabku malas.

“Siapa dia?”

“Manusia?”

“Itu, mama juga tahu!”

“Kenapa sih maa? Pengen tahu banget.” protesku, mengangkat kepalaku dari bantalan sofa.

“Mama tidak ingin kamu berteman dengan manusia seperti dia.”

“Huh. Siapa juga yang berteman dengan dia?! Dia musuhku.” entah kenapa, menurutku kata “musuh” sangat cocok untuk Din Ri.

“Mama juga nggak ingin kamu punya musuh.”

“Mama maunya apa sih?” aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikir mama.

“Menurut mama kamu lebih baik tak usah kenal dengan manusia sepertinya.” ujar mama sambil berlalu.

“Maunya sih gitu.” gumamku gusar sambil kembali berusaha tidur.

TING TUNG TING TUNG

“Ugh! Aku nggak boleh tidur ya?” aku mulai memarahi bantalku. Tapi pada akhirnya aku bangkit juga dari sofa dan membuka pintu.

“Hai!”

GLEKK!! Kenapa? Kenapa? Kenapa dia lagi?”

“Hei Alien… Belum puas ya makan siang bersamaku tadi. Kok masih memesan pizza lagi?” ujar Kyuhyun sumringah.

Otomatis, tanganku mulai bergerak ke kepalaku. Merapikan rambutku sekananya, aku sadar betul bahwa tadi saat aku dicekam rasa frustrasi tanganku mengacak-ngacak rambutku dengan kegilaan yang intens.

“Sini. Biar kubantu.” ujar Kyuhyun seraya maju selangkah dan mulai metekkan kedua tangnnya di kepalaku. Tangannya mulai menari-nari di atas kepalaku. Bukannya merapikan, dia malah mengacak rambutku.

“Kau tidak merapikannya!” protesku sambil berusaha menangkap tangan Kyuhyun.

“Haha.. sepertinya kau sangat memperhatikan penampilanmu saat bersamaku.” lagi, half-smile itu lagi. Dan lagi, aku meleleh lagi.

“Tuan, itu bukan pizza pesananku. Mungkin milik mama.” aku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Aku tak perlu tahu hal itu nona.” jawab Kyuhyun seraya mengambil sebungkus pizza dari motornya.

“Ini.”

“Sebentar Kyu, aku belum mengambil uang.” lalu aku berlari dan menyambar uang dari atas piano.

“Ini.” ucapku sambil menyerahkan sejumlah uang pada Kyuhyun. Dan saat itu pula aku merasakan daguku digerakkan oleh sebuah tangan. Tangan itu mengangkat daguku hingga aku benar-benar menatap langsung ke dalam sepasang mata paling teduh yang pernah kulihat. Mata Kyuhyun.

“Aliana… Sepertinya aku kembali menjadi Pizza Man-mu, dan bukan lagi teman kencanmu.”

˚˚˚˚˚

Pendek banget ya?

Spontan banget nih…

Masukannya masih diharapkan yaa🙂

😄

😜

with love,

naminaya~

4 thoughts on “Pizza Man ~ Part V

  1. WAE?!?!?!?! BARU MAKAN SIANG BARENG KOK UDAH NGOMONG GITU ㅠㅠㅠㅠ

    CEPETAN DILANJUTIIIIIIIIIIN JANGAN LAMA LAMA JANGAN PENDEK PENDEK ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s