Fallen Cupid [Chapter 2]

 

 

fallen cupid copy

Luhan’s

Rae In datang ke rumahku pagi ini. Aku cukup heran karena kemarin setelah ia puas mengobrol dengan Kyungsoo, ia menghabiskan waktunya dengan melanjutkan menonton drama. Aku tahu ia tidur sedikit larut karena aku masih bisa mendengar suara tv sampai hampir tengah malam, tapi hari ini ia bangun pagi dan bahkan sempat mampir ke rumahku. Ia juga bersalaman dengan orangtuaku yang sepertinya sudah pulang tadi malam.

Aku sedikit curiga karena ia bergumam dengan nada naik-turun yang tandanya ia sedang bernyanyi. Mungkin tidak terdengar seperti nyanyian, tapi mengenalnya lebih dari 6 tahun membuatku hafal apa kebiasaannya. Ia menyanyikan lagu kartun Disney Peterpan dan itu cukup untukku menyimpulkan ia sedang senang.

Rae In, yeoja ini selain maniak drama juga senang dengan kartun-kartun Disney. Dan yang paling disukainya Peterpan. Bahkan terkadang ia suka menirukan dialog-dialog dalam kartun itu yang membuatku bingung dengan kebiasaan anehnya itu.

“Luhan, apa kamu melihat dvdku yang tertinggal?” Tanyanya yang membuatku tersadar dari lamunanku.

Aku mengangkat alis dan mengingat saat aku terbangun aku menemukan 2 dvd yang akhirnya kutaruh di meja belajarku. Aku berjalan menuju ke kamarku yang diikuti Rae In. Walaupun aku tak bisa melihatnya, tapi suara langkahnya membuatku yakin dia mengikutiku.

Aku memberikan 2 dvd itu dan dia menerimanya dengan senang. Kupikir ia ingin melanjutkan menonton drama itu tapi tidak mungkin. Sangat jelas Rae In sudah mandi pagi ini, ia memakai kemeja berwarna coklat yang memiliki rok tambahan dan memakai jeans biru. Baju itu dipadukannya dengan sepatu kets berwarna biru. Walaupun ia tidak memakai sepatunya sekarang, tapi aku melihatnya ketika ia melepaskannya di pintu masuk. Dan karena rambutnya pendek, ia hanya menyisirnya rapi. Dulu ia sempat berambut panjang tapi ia memotongnya dengan alasan panas. Jujur aku lebih suka rambut panjangnya karena ia terlihat lebih feminin. Rambut pendeknya yang sekarang membuatnya terlihat lebih childish.

“Mau pergi kemana?” tanyaku membuat Rae In mengerutkan alisnya. Aku sedikit terkikik karena pasti ia bingung kenapa aku mengetahuinya.

Ia memperhatikan pakaiannya sendiri dan akhirnya mengerti. “Kyungsoo mengajakku ke rumahnya hari ini. Dan kamu tahu? Aku sangat senang”

Aku terkejut karena ia menyebutkan nama Kyungsoo. Apa mereka jadi sedekat itu hanya karena kemarin? Ya aku tak menyangka hal yang satu ini. Kupikir obrolan mereka hanya terputus sampai kemarin.

Ah, ini sangat mengesalkan. Sama seperti kemarin perasaan itu muncul lagi, perasaan aneh yang membuatku cemas, kesal dan takut sekaligus.

Kemarin yeoja pabo itu tiba-tiba  bilang dvd player di rumahnya rusak dan aku mengizinkannya menonton drama atau hal-hal sejenis itu di rumahku. Sebenarnya aku tidak begitu mengerti kenapa Rae In menyukai hal itu. Untuk apa kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menghabiskan air mata? Aku cukup mengerti kalau untuk hiburan, tapi aku tidak menemukan sesuatu yang bersifat hiburan selama aku mencoba menontonnya.

Dan aku ingat Kyungsoo akan datang ke rumahku hari itu, hanya saja aku lupa aku tak pernah menceritakan tentang Rae In padanya. Tak ada alasan yang spesifik untuk itu, hanya saja aku tahu Kyungsoo orang yang sedikit cuek pada dirinya dan lebih mengurusi urusan orang lain.

Dan jika dia tahu tentang Rae In, aku yakin rentetan pertanyaan dari mulutnya tak akan pernah habis sampai ia mengetahui segalanya. Ya, dan aku tak mau merasakannya. Membayangkannya saja sudah membuatku malas. Lebih baik Kyungsoo tak usah tahu tentang Rae In.

Tapi rencanaku gagal karena yeoja pabo itu malah keluar dari kamarku. Padahal aku sudah mengorbankan kamarku untuk menonton aktor kesukaannya yang sok tampan itu.

Seperti dugaanku Kyungsoo menanyakannya. Dan itu membuatku malas dan hanya menjawab dengan singkat dan jelas yang untungnya Kyungsoo bisa menerimanya.

Dan aku tak menyangka Kyungsoo masuk ke kamarku dan mengobrol dengan Rae In. Itu sangat tidak kuprediksi. Semua orang tahu Kyungsoo jarang dekat dengan yeoja. Semua orang tahu alasan Kyungsoo masuk sekolah khusus namja yang juga kumasuki karena ia menghindari mereka. Semua orang tahu Kyungsoo sendiri yang bilang ia sama sekali tak mengerti pikiran yeoja. Jadi kupikir Kyungsoo tak akan menghampiri Rae In seberapa besarpun rasa penasarannya.

Tapi pikiranku itu berubah total saat aku melihat Kyungsoo dan Rae In tertawa dengan lepas seperti mereka telah kenal lama. Dan yang membuatku tak berkutik karena mereka menjadi seakrab itu padahal aku sama sekali tak menjadi perantara untuk mengenalkan mereka berdua.

“Luhan?” Suara Rae In lagi-lagi menyadarkanku. Aishh bahkan aku tak bisa berhenti memikirkan kejadian kemarin. “Apa kamu mau ikut?” Tanyanya membuatku bingung. Rae In mengajakku?

“Kyungsoo menawarkanku untuk mengajakmu. Aku juga bingung karena kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal ini” Ia mengucapkan hal itu dengan wajah polosnya. Yaa.. dengan jawabannya itu aku sudah memutuskannya.

“Tidak usah” Ucapku tanpa ekspresi. Kupikir ia akan mengangguk dan segera pergi untuk bertemu Kyungsoo tapi ia malah memiringkan kepalanya. Mungkin karena aku jarang menolak ajakan untuk pergi keluar. Ia tahu aku tipe orang yang tidak suka berlama-lama dalam rumahku sendiri.

“Tapi Kyungsoo bilang ia ingin mentraktirmu 5 bubble tea!” Kali ini ia menaikkan kelima jarinya dan memberikan senyuman yakin kalau aku akan ikut. 5 bubble tea? Ah, Kyungsoo mau membayar kekalahannya kemarin? Tapi aku sama sekali tak tertarik jika hanya untuk melihat mereka berdua.

“Bilang padanya lain kali saja” Jawabku singkat. Ini membuat Rae In kembali menurunkan tangannya dengan sedikit ekspresi kecewa. Apa dia kecewa karena aku tidak ikut?

Tiba-tiba ia mengepalkan telapak tangannya dan mengangkatnya keatas. Mau apa dia?

“Batu gunting kertas!” Ucapnya dengan kencang yang membuatku reflek mengepalkan tanganku, membentuk batu.

Rae In tersenyum penuh kemenangan karena ia mengeluarkan kertas. “Baiklah, ayo kita pergi”

Sial. Kurasa memiliki reflek yang bagus juga tidak begitu baik.

***

“Kenapa diam saja?” Tanyaku sambil menepuk boncengan belakang sepedaku. Rae In hanya diam saja dan terlihat seperti berpikir.

“Tidak ada sepeda lain? Atau berjalan kaki?” Tanyanya membuatku membuang napas. Dia itu, terkadang suka membuatku kesal. Aku tahu seumur hidupnya ia tak akan pernah dekat dengan namja bahkan anak seumurannya jika aku tidak duduk di kursi sebelahnya saat SD. Aku masih mengingatnya, ia sangat canggung dan pendiam. Tipe-tipe penurut.

Sekarang Rae In punya beberapa teman perempuan, tapi Rae In tetaplah Rae In. Ia tak pernah dekat dengan seorang namjapun kecuali aku. Dan sepertinya saat ini ia masih ingin menghindari skinship denganku. Menjadi seorang sahabat Rae In juga bukan berarti menghilangkan Rae In yang canggung dengan namja. Sampai sekarang ia tetap Rae In yang dulu, kecuali dengan Kyungsoo. Ya, Kyungsoo.

“Kamu sendiri yang bilang sepedamu rusak” Aku mengucapkannya dengan nada kesal. “Dan kita bisa mandi keringat jika berjalan kerumahnya di hari sepanas ini” Tambahku. Tapi ia masih tetap diam. “Atau pilihan terakhir bilang pada Kyungsoo untuk menjemput kita dengan mobilnya”

Rae In menatap ke arahku karena kalimat terakhir. Sudah pasti ia tidak setuju dengan pilihan yang kuberikan. “Padahal 3 hari yang lalu sepedaku masih bisa dipakai” Ucap Rae In dan ucapannya itu sama sekali tidak berhubungan dengan pilihan yang kuberikan.

“Aku tahu, aku bersepeda denganmu saat itu” Ucapku  malas. Ya, aku tahu dia hanya memberi alasan agar dia tidak dibonceng denganku. Dan yang membuatku kesal karena ia mengelak dengan fakta yang sudah kuketahui dari kemarin. Ya, 2 hari yang lalu dia menolak bersepeda denganku karena sepedanya rusak. Padahal bersepeda di pagi hari saat hari libur adalah kebiasaan rutin kami berdua.

Dan sepertinya jawabanku tidak cukup untuk memberitahu seorang Rae In bahwa aku serius sekarang. Yaa, dia memang Rae In yang lambat dan tidak sensitif. Baiklah…

“Kalau begitu aku tidak jadi ke rumah Kyungsoo” Ucapanku itu sangat berpengaruh karena 2 detik kemudian ia segera duduk di kursi boncengan sepedaku. Itu membuatku tersenyum puas. Karena akhirrnya Rae In tidak menunda perjalanan kami hanya karena masalah sepele seperti itu.

Aku menyadari sesuatu dan turun dari sepedaku. Rae In hampir saja mengikutiku turun dari sepeda tapi aku menghentikannya dan menyuruhnya tetap duduk. Aku berlutut di depannya dan mengikat tali sepatunya yang terlepas. Aku tahu Rae In tidak sengaja karena sebenarnya ia sudah mengikat tali sepatunya tapi ia tidak mengetahui trik agar ikatan itu bertahan lama.

Aku menengok ke atas dan melihat Rae In yang tersenyum usil. “Kupikir Luhan tidak akan berbuat baik kepadaku” Dan aku hanya menatapnya datar.

“Kamu pikir kemarin aku meminjamkan kamarku bukan perbuatan baik? Lagipula aku capek mengajarimu cara mengikat tali sepatu karena kamu selalu melupakannya” Jawabku dan kembali duduk di atas sepedaku.

“Dan jangan injak bagian belakang sepatumu”Aku menengok ke arahnya dan dia hanya tersenyum canggung karena ucapanku memang kenyataan yang selalu ia lakukan setiap hari tanpa sadar.

Aku mulai menggenjot sepedaku dan secara reflek Rae In langsung melingkarkan lengannya yang kurus di pinggangku. Aku tersenyum karena skinship itu meskipun sebenarnya bukan skinship. Kulitnya tidak menyentuh langsung kulitku, tapi aku bisa merasakan telapak tangannya yang hangat di perutku.

Kami mungkin bisa diam saja selama perjalanan, tapi tidak denganku. Aku tidak suka situasi semacam ini. Jadi kupikir aku bisa menanyakan sesuatu padanya. Dan aku teringat sesuatu yang sebenarnya kupertanyakan dari tadi. Sesuatu yang menurutku tak mungkin Kyungsoo melakukannya, mengundang seorang yeoja ke rumahnya.

“Hei, kenapa Kyungsoo mengajakmu ke rumahnya?” Tanyaku tanpa mengalihkan perhatianku dari jalanan.

“Eh? Ah… Kyungsoo berniat meminjamkan beberapa dvdnya kepadaku. Dan kupikir itu bagus karena akhir-akhir ini uang tabunganku sedang habis untuk membeli beberapa” Ucapnya dengan agak tergagap di awal. Mungkin ia sedang melamun tadi? Entahlah. Tapi jawaban itu membuatku mengerti kenapa Rae In terlihat senang tadi.

Dan sepertinya pengetahuan Kyungsoo tentang drama-drama itu merupakan nilai plus bagi Rae In yang tak pernah dekat dengan namja. Jarang sekali ada namja yang mengerti tentang hal seperti itu dan aku termasuk populasi namja yang tidak tahu sama sekali.

Dan saat aku ingin berbicara lebih lanjut, kami sudah sampai di depan rumah Kyungsoo. Cukup cepat tapi kalian harus merasakan berjalan kaki menuju rumah Kyungsoo. Itu sangat melelahkan dan kupikir aku harus menyediakan beberapa botol minum terlebih dengan cuaca cerah yang tak mendukung. Aku menghentikan sepedaku dan hanya berjalan menuju pintu depan rumah Kyungsoo. Meninggalkan Rae In yang sekarang pasti sedang menurunkan standar sepedaku. Aku menengok ke arahnya dan ia kesulitan karena ia menahan badan sepeda, bukan stangnya membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan sepedaku. Aku hanya tersenyum dan membalikkan lagi kepalaku untuk membunyikan bel rumah Kyungsoo.

Pintu yang cukup besar itu terbuka dan aku sangat mengenali wajah itu. Siapa lagi kalau bukan Kyungsoo? Dan Kyungsoo melemparkan pandangannya dari mata besarnya itu bergantian ke arahku dan ke arah Rae In yang entah sejak kapan sudah ada di sebelahku.

Kyungsoo akhirnya menampilkan senyum dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aneh, ini sangat aneh karena kupikir itu campuran antara senyum puas, senang, dan usil. Hei, apa yang dia pikirkan?

Entah kenapa aku berfirasat buruk tentang itu.

***

Maaf karena lama update -,- awalnya mau nunggu poster tapi nggak jadi. Awalnya juga mau twoshoot tapi nggak jadi juga.

Lagi-lagi author menonjolkan luhan karena memang salah satu bias author…

Tapi karena bias utama Pikrachu Kyungsoo jadi tenang aja untuk selanjutnya aku udah menyiapkan banyak Kyungsoo^^ Dan perlu diingat Kyungsoo bukan hanya sekedar support cast~ Banyak arti lain dari adanya Kyungsoo di fanfic ini~ wkwk

Oh iya habis ini author mau publish ff baru^^

–>

4 thoughts on “Fallen Cupid [Chapter 2]

  1. raein ama luhan lucu banget sih, kesannya kaya luhan oppanya terus raein dongsaengnya😀
    coba aja aku punya oppa kaya luhan🙂 asik kali ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s