PASTEL #009

PASTEL

#009 

Pagi ketika Sina membuka jendela gorden kamarnya, tetesan air sudah memenuhi luar jendelanya, embun yang terlihat membuat Sina yakin kalau sejak kemarin malam hujan tidak berhenti. Sina membuka jendelanya dan membiarkan sepoi angin masuk ke kamarnya, ia suka hal itu. Meskipun Sina bukan penggemar hujan tapi ia selalu menikmati angin dingin yang datang lebih banyak jika hujan ada.

Setelah beberapa menit memandang keluar, hanya melamun, itulah Sina. Akhirnya ia pun menutup kembali jendelanya dan berjalan keluar dari kamarnya dengan sebelumnya memastikan penampilannya hari ini. Suhu yang cukup dingin membuat leher Sina terasa dingin hingga ia memutuskan menggerai rambutnya hari ini. Wangi apel masih tercium, dalam hati ia sedikit berterimakasih pada selera Tao.

“Sinaaaaa!” sebuah suara mengganggu paginya yang damai. Sina mendecak pelan dan segera keluar dari kamarnya.

Memiliki seorang ibu yang juga merupakan wanita karier membuat Sina dan Miyoung harus menjadi lebih mandiri. Miyoung sebagai kakak mengambil alih tugas memasak, dan Sina selalu bersyukur akan hal itu.

“Ada apa?” Sina berjalan menuju dapur menemukan kakak perempuannya sedang berkutat di depan kompor. Miyoung berbalik dan tersenyum pada Sina, senyum yang Sina mengerti pasti ada sesuatu di balik semua itu.

“Tolong titipkan ini untuk Sehun” Miyoung menjulurkan sebuah kotak bekal pada adik perempuannya itu. Sina segera menerimanya, merasakan sesuatu yang berbeda ia pun menaikkan sebelah alisnya “Kenapa lebih berat daripada punyaku?”

Miyoung menghela napas dan tersenyum “Dia laki-laki Sina dan lagi, dia kekasihku.”

Sina memutar bola matanya mendengar kalimat Miyoung yang terasa menggelikan, ketika Sina mau berbalik dan kembali ke kamarnya tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu “Tunggu, bukankah Sehun belum tahu kita kakak adik?”

Miyoung mematikan kompor di depannya dan membalikkan badannya menghadap Sina, ia tersenyum dan menaikkan bahunya “Katakan saja ada seorang wanita yang menitipkan bekal padamu di depan gerbang sekolah.” Sina menghela napas, sebenarnya semua akan lebih mudah kalau Miyoung mau mengakui bahwa ia adalah kakaknya “Katakan saja pada Sehun, adikmu satu sekolah dengannya, kurasa itu bukan masalah besar.”

Miyoung menggigit bibirnya seperti menimbang jawaban paling tepat “Kalau ada waktu yang tepat pasti. “ Ia pun kembali membalikkan badannya dan berjalan menuju kulkas menghindari pembicaraan itu berjalan lebih lanjut.

 

 

“Aaah hujan..” Sehun meniup poninya merasa sedikit kesal begitu mendapati hujan belum juga berhenti sejak kemarin malam. Sekarang ia sudah berada di depan pintu rumahnya bersiap berangkat menuju sekolahnya berlari menebus hujan. Tapi selalu, di saat seperti ini ada seseorang yang bertingkah terlalu over protective padanya.

“Sehun!” Seseorang menahan lengan Sehun yang sudah siap berlari. Sehun menghela napas, inilah alasannya kenapa kadang ia membenci hujan.

“Ini masih hujan dan kau tidak membawa payung!?” Ibu Sehun segera menarik anaknya kembali masuk ke rumah menuju ruang makan. Sehun memutar bola matanya dan mengikuti tarikan ibunya. “Sudahlah, aku sudah terlam–“ 

“Pakai ini” Ibu Sehun berjinjit dan memakaikan kupluk putih pada kepala anak kesayangannya itu.

“Astaga, ini bahkan belum musim gugur.” Sehun masih tidak habis pikir pada ibunya. Ia segera melepas kupluk itu dan mengembalikkan pada tangan ibunya “Imunku cukup kuat, aku janji aku akan kembali dengan sehat.” Ia berusaha meyakinkan ibunya dengan kalimat yang menurut dirinya sendiri juga terlalu berlebihan.

Menghiraukan perkataan anaknya tiba-tiba ibu Sehun segera menjetikkan jarinya “Ah! Harusnya kau memakai jas hujan!” Ia segera berjalan meninggalkan Sehun yang pada detik berikutnya segera menahan ibunya pergi “Akan kupakai kupluknya.” Sehun segera mengambil kembali kupluknya dan memakainya, merasa konyol tapi menurutnya itu lebih baik daripada harus memakai jas hujan.

Sehun pun kembali berjalan menuju pintu depan tapi lagi, ibunya menghentikkan “Jangan lupa payungmu nak.”

Pandangan penuh kasih sayang terpancar dari mata ibunya, Sehun anak laki-laki yang paham akan kekhawatiran ibunya itu hanya bisa menelan ludah dan memilih pasrah menerima payung bergambar hello kitty yang disodorkan ibunya.

 

 

Tao membuka jendela toko bibinya lebar-lebar menghiraukan hujan yang bisa masuk ke dalam tokonya itu.

“Tao! Ini hujan!” Ahjummanya meneriaki dari counter. Tao hanya membalikkan badannya dan tersenyum “Justru karena hujan aku membuka selebar ini, ahjumma.”

Tao menyukai hujan lebih dari orang pada umumnya, benar-benar menyukai. Ia tidak peduli apakah hujan akan mengganggu kegiatannya, yang jelas ia menikmati hujan. Jika orang lain biasa mengeluh ada hujan dan mengatakan itu akan mengganggu aktivitasnya di luar, Tao jelas berbeda. Ia memang suka keluar, ia suka bermain basket dan bersepeda, setidaknya itu yang harus ia lakukan sampai kuliahnya dimulai daripada harus terus berada di toko dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Dan hujan sama sekali tidak menjadikan alasan bagi Tao untuk berhenti keluar, kebalikan, justru itu menjadi sebuah motivasi yang membuat Tao makin ingin keluar dan menikmati tetesan air yang akan membasahi kulitnya.

“Ahjumma! Aku keluar!” Tao segera berlari dan mengambil topinya sebelum tepat melangkahkan kakinya keluar.

Sambil berjalan santai memandang langit pagi yang tidak terlalu mendung namun tidak cocok untuk dikatakan cerah Tao memasang earphone pada telinganya dan memulai jogging paginya. Hujannya tidak cukup deras, membuat Tao merasa yakin berjam-jam di luar sana tidak akan membuatnya masuk angin.

 

 

“Hahahah!” beberapa anak tertawa keras melihat Sina yang menginjak kubangan air. Sina terlalu marah pada dirinya sendiri sehingga ia sama sekali tidak menyadari anak-anak yang lewat mentertawainya. Ia mengangkat kaki kanannya yang semata kaki terkena genangan air. Sneakernya menjadi basah, memang tidak terlalu kotor tapi mengingat ia baru saja mencucinya beberapa hari yang lalu membuat Sina mengerutkan dahinya. Sekarang apa yang akan ia lakukan? Berjalan dengan kaki yang basah bukan pilihan yang menyenangkan untuk Sina.

“Hei kau baik-baik saja?” seseorang menepuk bahu Sina. Sina yang masih jengkel hanya mengabaikan suara yang terdengar familiar itu.

“Apa anak-anak tadi mendorongmu?” suara itu kembali bertanya membuat Sina segera membalik badannya dan menemukan sosok Oh Sehun berdiri dan memayunginya. Sina berdiri dan menggelengkan kepala “Tidak ada yang mendorong ini kesalahanku.”

Sehun memandang kaki Sina dan memiringkan kepalanya “Aku baru tahu kau seceroboh itu Sina.” Sina hanya memandang datar Sehun, ia tahu kadang ia memang ceroboh tapi ia tidak tahu reaksi yang tepat untuk mengomentari Sehun. Sehun yang tidak terbiasa ditatap Sina sepanjang itu segera mengalihkan pandangannya dengan muka yang mulai memerah “Sudahlah, ayo cepat jalan lagi.”

Sehun pun berjalan meninggalkan Sina. Sina tidak menggubris kata-kata Sehun, ia tetap santai tapi ia tahu berdiri juga tidak ada gunanya sehingga akhirnya Sina melepas kedua sepatunya sekalipun yang basah hanya satu, kaos kakinya yang ikutan basah ia lepas. Akhirnya sambil menenteng sepatu Sina kembali berjalan.

Sehun yang sengaja memelankan langkahnya agar Sina dapat berjalan disampingnya melirik ke belakang dan melihat Sina yang berjalan di dekatnya “Hei Sina, kemarin aku minta ma— hei kenapa kau melepas sepatumu?!” Sehun segera menghentikkan langkahnya membuat Sina berjalan mendahuluinya.

“Sepatuku basah dan aku tidak suka berjalan dengan sepatu basah.” Sina menjawab tanpa memandang Sehun. Jawaban Sina hanya membuat Sehun melipat kedua tangan di dadanya “Apa aku perlu menemanimu?”

Sina berhenti berjalan dan melihat converse merah Sehun yang terlalu bersih untuk dikatakan kotor “Sepatumu masih bersih Sehun.” Sehun hanya tersenyum dan mengendikkan bahunya “Bukan masalah itu, kau tidak malu berjalan dengan kaki telanjang seperti itu?”

Sina hanya tersenyum, senyum kecil yang beberapa detik kemudian menjadi sebuah tawa “Kita bisa menahan malu bersama? Ayo lepas sepatumu.” Melihat Sina yang tertawa membuat Sehun yakin bahwa Sina sama sekali tidak marah atas insiden kemarin Sehun meninggalkan dirinya. Tanpa pikir panjang ia pun melepaskan kedua sepatu bersama kaos kakinya dan membiarkan kakinya menginjak beberapa genangan air yang jernih.

“Enak kan?” Sina bertanya begitu Sehun kembali berjalan di sampingnya. Sehun menengok pada Sina dan tertawa kecil “Sudah lama aku tidak main air.”  Sina hanya mengangguk dan tersenyum, sebenarnya alasan ia membiarkan Sehun menemaninya melepas sepatu bukan karena ia malu dan butuh teman, Sina hanya merasa bahwa kesenangan bermain air seperti ini tidak dapat dilakukannya sering-sering, dan ia rasa mengajak Sehun merasakan hal yang sama dengannya bukan hal yang buruk.

“Ngomong-ngomong aku suka payungmu.”

“Ya! Sina! Ini ibuku yang memilih!”

 

Perjalanan menuju sekolah Sina dan Sehun pagi tiu menjadi lebih menyenangkan, Sehun tidak mengerti tapi entah kenapa ia merasa keputusannya untuk memilih rute jalan yang berbeda menuju sekolah pagi ini terasa menjadi pilihan yang tepat. Dan melihat Sina  yang begitu rileks di pagi hari membuatnya berpikir sebagai sebuah pertanda hari ini akan menjadi menyenangkan.

 

 

Mengelap pelipisnya yang berkeringat, Tao memandang matahari yang makin bersinar membuat dugaannya bahwa pagi yang akan terus teduh ternyata salah. Ia memang suka hujan, tapi ia juga tidak bermasalah dengan cuaca cerah. Tapi entah kenapa pagi ini Tao lebih memilih hujan dibanding harus berhadapan dengan panas matahari.

Sambil beristirahat di halte pemberhentian bus Tao mengeluarkan botol minumnya dan menegaknya sampai habis. Sekarang persedian minumnya habis.

“Aku bahkan tidak tahu sekarang di mana” Tao berkata dalam hati. Terlalu hiperaktif membuatnya terus berlari hingga ia sama sekali tidak memikirkan arah mana yang ia tuju. Tao tidak tahu apa yang harus akan dilakukannya sekarang, ia melupakan hp nya dan yang terburuk, ia tidak hapal nomor telpon ahjummanya.

“Baiklah Tao! Ayo bisa!” Tao menguatkan tekadnya setelah berkata pada dirinya sendiri. Dengan gugup ia berdehem dan menyapa perempuan berseragam yang sedang duduk di sebelahahnya “Pe-permisi?”

Perempuan itu menengok sedikit merasa kaget laki-laki asing baru saja menegurnya “Y-ya?”

“A-apa kau tahu aku harus naik ke bis apa untuk ke Jongno-gu?” Tao berusaha bertanya setenang mungkin dan usahanya gagal, ini pertama kalinya ia berbicara dengan wanita Korea selain ahjummanya dan Sina.

Jongno-gu?” Perempuan yang ditanyai itu terlihat bingung, ia baru tinggal di Seoul beberapa bulan dan Jongno-gu hanya pernah dikunjunginya sekali. Tapi berusaha menjadi orang yang baik membuatnya tetap memberi arahan pada laki-laki yang bertanya padanya itu.

“Apakah itu daerah yang ada Namsan Parknya?”

“I-iya! Benar benar! Aku harus naik bus apa ke sana?” Tao bertanya dengan semangat, melihat secercah harapan untuk pulang ke rumahnya.

“Ah! Aku pernah ke sana! Naik bus ini dan—“ Perempuan itu menunjuk bus yang baru saja berhenti membuat Tao yang terlalu senang dan langsung bangkit berlari menuju bus itu tanpa mendengar penjelasan selanjutnya.

Perempuan yang melihat Tao masuk hanya tersenyum merasa sedikit bangga pada dirinya yang sudah melakukan sebuah kebaikan di pagi hari.

 

 

Setelah menghela napas frustasi begitu mendapat pesan dari kakaknya Sina mengacak-ngacak rambutnya yang sudah susah payah Miyoung tata pagi tadi. Baru saja ia mendapat kabar bahagia Sehun sudah mendapat persetujuan soal paper mereka tiba-tiba Miyoung mengirimkan pesan bahwa ia menginap di rumah temannya hari ini.

Sina mungkin terlihat kuat untuk menjadi seorang adik tapi tetap saja ia punya sesuatu yang selalu ia andalkan pada Miyoung.

“Kenapa menghela napas?” Sehun bertanya ketika menyadari helaan napas Sina.

Sina menutup bukunya dan beranjak dari kursi “Tanya saja pada Miyoung.”

“Heh?” Sehun ikutan berdiri dan membereskan buku-buku yang bertebaran di meja perpustakaan sementara Sina terus berjalan meninggalkannya membuat Sehun sedikit jengkel. “Hei Sina! Tugas kita belum selesai!”

“Sssst” Sehun langsung mendapat hardikan dari penjaga perpustakaan. Sambil menggigit bibirnya merasa malu mendapat teguran ia membereskan buku-buku, entah kenapa di saat Sina selalu kesal Sehun merasa bahwa ia merasakan dampak akibatnya, dan yang membuat Sehun makin tidak mengerti adalah mengapa dirinya tetap nyaman dengan orang seperti itu?

“Sina! Pulang sekolah mau melanjutkan tugas kita?” Sehun berkata sedikit terengah setelah berhasil mengejar langkah Sina.

Sina menengok pada Sehun dan menatapnya dengan dahi sedikit berkerut “Aku mau pulang cepat hari ini.”

Sehun meniup poninya sedikit tidak terima akan jawaban Sina, begitu ia ingin melanjutkn meyakinkan Sina untuk pulang sore hari ini tiba-tiba Sina kembali melanjutkan kalimatnya “Sudahlah kita tidak perlu menyelesaikan tugas ini buru-buru.”

“Hah? Kenapa?” Sehun mendecak protes dengan tawaran itu.

“Aku jadi malas mengerjakan buru-buru, lagipula paper kita sudah disetujui dan waktunya masih banyak, lebih baik kita beristirahat saja.” Sina berkata dengan santai tanpa sedikitpun memandang Sehun yang sama sekali tidak terima dengan perubahan rencana mereka.

“Apa kau marah karena kemarin aku membatalkan janji karena kencan?” Sehun langsung menebak alasan di balik semua itu tanpa basa basi lagi.

Sina menghentikkan langkahnya lalu membalikkan badannya menghadap Sehun “Kalau aku bilang iya?”

“Kalau memang itu alasannya, aku tidak akan pergi dengan Miyoung lagi sampai tugas kita selesai.” Sehun berucap dengan yakin serius dengan kata-katanya, dulu ia memang merasa bertemu dengan Miyoung adalah prioritas utamanya tapi entah kenapa sekarang ia rasa dalam menjalani sebuah hubungan, frekuensi bertemu bukan menjadi masalah lagi.

“Sayangnya alasannya bukan itu.” Sina pun kembali berjalan meninggalkan Sehun yang masih belum puas.

 “Aku bahkan sudah membatalkan janjiku untuk main futsal hari ini Sina!” Sehun berbohong, yah Sehun memang bukan pembohong, tapi sekali dua kali bukan masalahkan?

Sina menggigit bibirnya sebelum menjawab Sehun, alasan mengapa ia menolak Sehun sebenarnya tidak terlalu menyulitkan untuk dikatakan tapi entah kenapa ia tidak ingin Sehun mengetahui hal itu. “Hari ini Miyoung tidak pulang ke rumah.”

“Lalu?” spontan Sehun bertanya karena tidak mengerti apa yang salah. Ia tahu Miyoung sedang mengerjakan tugas kuliahnya sehingga jalan-jalan kemarin dengan Miyoung juga sebagai ganti atas janji kencan mereka yang selalu dibatalkan oleh Miyoung.

 “Lalu itu artinya aku akan sendirian di rumah malam ini.”

“Ahh kau takut? Tunggu, bukankah dulu kau sempat menolakku mengantarmu pulang? Kenapa tiba-tiba kau jadi takut?” Sehun bertanya, penasaran, mendapat fakta baru tentang teman perempuannya yang unik ini.

 “Siapa bilang aku takut? Aku hanya tidak suka sampai di rumah terlalu sore dengan kondisi rumah kosong.” Sina melipat tangan di dadanya dan mengalihkan pandangannya dari Sehun ia tidak terima dibilang takut oleh seorang Oh Sehun.

“Jadi kau memilih sampai di rumah dengan langit cerah, lalu mengurung diri di rumah sampai Miyoung pulang, begitu?” Sehun mengambil kesimpulan yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Sina.

“Bagaimana kalau aku mengerjakan di rumahmu?”

Sina langsung menatap tajam pada Sehun “Tidak.”

“Heh kenapa?” Sebenarnya Sehun tidak begitu protes dengan penolakan Sina ia hanya penasaran kenapa Sina menolak dirinya untuk datang ke rumah Sina.

“Kupikir Miyoung tidak akan suka dengan ide itu, sudahlah sebentar lagi pelajaran akan di mulai ayo ke kelas.” Sina segera mengakhiri pembicaraan itu lalu berjalan cepat meninggalkan Sehun yang sepertinya sudah pasrah dengan menerima jawaban ambigu itu.

Sina mempunyai alasan tersendiri, berdasarkan pengalaman dengan kekasih Miyoung dulu sebelum Yoseob, Jinki. Saat itu ketika Jinki datang ke rumah mereka ketika Miyoung tidak ada, yang mau tidak mau membuat Sina hanya berdua dengan kekasih kakaknya itu membuat Miyoung marah besar keesokan harinya. Bertengkar dengan kakak sendiri bukan hal asing lagi bagi Sina, tapi marah yang terjadi saat itu cukup menjadi pelajaran untuk Sina bahwa kakaknya memiliki sifat pencemburu yang tidak biasa dari orang pada umumnya. Dan Sina tidak ingin lagi merasakan kemarahan itu, bukannya ia takut pada Miyoung, ia hanya merasa Miyoung mogok masak cukup menyusahkan dirinya.

 

“Sina!” Seukri memanggil temannya yang baru masuk ke kelas itu bersama Sehun. Ia  menepuk kursi sebelahnya meminta Sina segera duduk di sebelahnya.

“Kenapa?” Sina bertanya singkat dan menjatuhkan dirinya di kursi. Sambil meletakkan kepalanya di atas meja ia menatap Seukri yang terus memandangnya dengan tatapan tidak-bisakah-kau-lebih-ceria-aku-ingin-menceritakan-sesuatu! “Katakan” ucap Sina datar.

“Tadi pagi ada namja tampan menegurku!”

“Menegur? Memang kau melakukan kesalahan apa?”

Seukri mengerutkan dahinya dan menggeleng “Bukan menegur itu! Maksudku dia bertanya padaku soal arah jalan.” 

Sina tersenyum lalu mengangkat kepalanya “Kasihan sekali sepertinya laki-laki itu bertanya pada orang salah.”

“Tentu saja tidak, yang penting aku sudah membantunya, kau harus lihat betapa lucunya wajah dia waktu aku membantunya!” Seukri tidak mengambil pusing sindiran Sina, ia terbiasa dengan Sina yang kadang suka merusak mood dengan kata-kata tajamnya.

“Lucu? Dia masih kecil?”

Seukri membulatkan matanya terkejut Sina bertanya, benar-benar tidak menduga Sina tertarik dengan topik yang dibawanya “Tidak, mungkin seumuran kita, tapi dia tinggiiiiii sekali. “ Seukri menaikkan tangannya.

“Baiklah kau berlebihan.”

Seukri menyeringai dan mengendikkan bahunya “Kau harus melihatnya sendiri, wajahnya lucu, matanya tajam tapi kau bisa melihat bahwa dia begitu menggemaskan karena terlihat panik.”

“Hei apa menurutmu dia suka denganku? Wajahnya merah dan terlihat malu” Seukri mulai mengambil kesimpulan konyol yang hanya direspon oleh tawa kecil Sina.

Menit selanjutnya dihabiskan dengan Seukri yang terus mengoceh soal laki-laki yang baru ditemuinya itu. Sina sama sekali tidak memberi respon berarti untuk setiap kalimat deskripsi yang Seukri keluarkan tentang namja itu, sekedar ‘hmmm’ ‘oh’ ‘ya’ sudah cukup membuat Seukri merasa dihargai. Sambil menatap ke luar jendela Sina berpikir apa yang harus dilakukannya untuk makan malam nanti.

 

 

Tao bukan orang yang mudah depresi, sebaliknya, dia selalu berusaha untuk membalikkan keadaan buruk menjadi lebih menyenangkan untuk dihadapi. Tao jarang mengeluh, ia tidak suka mengeluh, ia benci mengeluh. Ajaran ayahnya mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa selalu dicamkan pada otaknya baik-baik.

Oleh karena prinsip itulah, saat ini Huang Zitao masih tetap tersenyum sambil berdiri mengantri odeng yang menarik perhatiannya di tengah kepadatan yang asing untuknya.

“Apa yang harus kulakukan setelah ini?” Tao bertanya dalam hati, bertanya dengan perempuan yang ia temui tadi pagi sama sekali tidak membantu apa-apa, buruknya itu hanya memperburuk keadaan  karena semakin jauh bus melaju membawanya pergi semakin Tao merasa terasingkan. Ia sudah mencoba bertanya dengan beberapa orang tapi otak Tao tidak bisa diajak kerjasama untuk mengerti setiap nama tempat yang disebutkan orang-orang itu.

“Permisi ini jam berapa?” Tao membungkukkan badannya dan bertanya pada anak kecil yang sedang mengantri di depannya. Anak itu memperlihatkan jam tangannya pada Tao, sepertinya ia belum mengerti bagaimana cara membaca jam. Tao memicingkan matanya dan melihat jarum jam di angka empat.

“Terimakasih.” Tao tersenyum lalu menggerakkan jari-jarinya untuk menghitung sudah berapa jam ia tersesat. “Bagus belum 24 jam.” Tao berkata dalam hati dengan perasaan lega, mengingat ia masih punya banyak waktu sebelum ahjummanya menelpon posisi untuk melapor kehilangan dirinya.

 

 

“Oh Sehun!” Sina menyahuti Sehun yang sudah menyandang tas dan berjalan keluar dari kelas. Sehun menghentikkan langkah lalu menengok ke belakang mendapati Sina yang sudah berdiri tepat di belakangnya.

“Maaf aku lupa ini seorang perempuan menitipkan ini untukmu.” Tangan Sina menjulurkan kotak bekal yang ia terima pagi tadi dari Miyoung. Sehun menaikkan sebelah alisnya “Kau memberiku baru ketika sudah jam pulang?” Tanpa pikir panjang Sehun segera mengambil kotak itu, ia tahu itu dari Miyoung tidak perlu ditanya lagi “Sampaikan ucapan terima kasihku.”

Sina mengendikkan bahunya “Ucapkan sendiri” Ia pun berjalan mendahuli Sehun. Sehun hanya mendengus tapi ia memilih untuk tidak berargumen lagi. Sina menjadi lebih menyebalkan hari ini, sepertinya ia harus segera mengklarifikasi suatu hal pada Miyoung.

 

Belum sampai setengah perjalanan menuju rumahnya tiba-tiba perjalanan Sina harus terhentikkan.

“Kenapa harus hujan sih?” Sina protes dalam hati sambil berlari menuju kanopi dari café yang ia lihat untuk berteduh. Hujan yang selalu dinikmatinya kali ini menjadi terasa sangat mengganggu, Sina ingin cepat-cepat pulang lalu mengurung diri di kamarnya tapi tiba-tiba hujan deras turun datang merusak rencananya.

Tasnya diangkat untuk melindungi kepalanya yang sebenarnya sudah terlanjur basah, Sina berlari hati-hati jangan sampai ia terpeleset. Dua sepatunya berkali-kali menginjak kubangan air, tapi ia sudah tidak peduli lagi, sekarang ia harus berteduh untuk menghindari kemejanya terus basah.

“Apa aku harus pulang malam hari ini?” Sina berpikir melihat hujan deras yang sepertinya berniat tidak akan berhenti setidaknya untuk beberapa jam ke depan.

“SINA!”

Tiba-tiba terdengar namanya terpanggil, Sina mengangkat tasnya dari kepala begitu sampai di bawah kanopi dan melihat siapa yang meneriaki namanya “Hah? Tao?!” 

A/N:

Chapter yg ini emang rada2 ‘tenang’ gitu jangan bosan ya karena author janji chapter berikutnya bakal bikin klepek klepek lagi ^^

Sina harus segera membuat perkembangan, dan pertanyaannya adalah…….

dengan siapa ia membuat perkembangan? JENG JENG JEENG

Btw apakah awal mula hubungan Miyoung dan Sehun harus segera dibahas? Author takut kecepetan tapi ga terasa ini udah chapter 10~

7 thoughts on “PASTEL #009

  1. Aku gak ngerti. Jadi sehun udah tau miyoung itu kakaknya sina apa belum? Tadi kok sina ceritain miyoung tapi sehun gak curiga ‘-‘

    • udah, kan di chapter 6 sehun nganterin sina pulang, terus dia ngeh rumah sina dan miyoung kok sama, nah di situ sina ngaku dia adiknya miyoung.

  2. Seukri? Seukri bukannya kalo di detour seneng ama sehun ya? Lah ini kok seneng ama tao? Nahloh

    Yah ini emang chapter tenang sampe aku bingung mau komentar apa, tapi ih sehun sesuatu anet siiih >< dia mau nyeker begitu bareng sinaa aw aw aw sehunkuuuu~~

  3. Kenapa miyoung nggak bilang aja sama sehun kali sina itu adiknya? Kenapa tao suka hujan? Kenapa seukri kegeeran? aku bukan bermaksud menyindir atau bagaimana kak tapi aku kehabisan kata-kata buat komen chapter ini jadi aku buat komennya begini deh😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s