Detour #05

[Today’s Pic ; Do Kyungsoo] 

5. Case


“Lima belas menit lagi waktunya habis.” Guru Park mengingatkan seluruh murid-muridnya yang masih berkutat dengan lembar soal di depan mereka.

Segera kelas didominasi oleh helaan napas murid, antara lega dan tertekan. Chaeri sudah menyelesaikan lembar ujiannya sekitar lima belas menit yanglalu, daripada menghela napas sepanjang ujian hal yang ia lakukan adalah menguap, sekarang matanya terasa berat karena tidur yang di dapatnya kemarin malam terganggu.

Setelah mengecek lembar jawabannya lebih dari dua kali Chaeri segera membalik kertas ulangannya. Ia pun menopang dagunya dan menatap ke luar jendela mendapatkan sosok Baekhyun dan teman-temannya sedang berlarian di lapangan. Berbeda dengan Chaeri yang terlihat kurang tidur hari ini, Baekhyun tetap menjadi laki-laki enerjik seperti biasa, sebuah hal ironis bagi Chaeri mengingat Baekhyun adalah alasannya mengapa ia tidak bisa menikmati tidurnya.

“Semua gara-gara Jongdae dan Baekhyun” Chaeri protes dalam hati. Kemarin malam merupakan malam terburuk bagi sejarah Chaeri selama tinggal di rumahnya. Awalnya ia merasa tidak bermasalah dengan kehadiran Baekhyun di rumah Chen. Sampai jam sepuluh malam Chaeri masih mendengar dengan jelas tawa mereka dari seberang  sana. Sungguh Chaeri tidak mengerti hal  lucu apa yang membuat mereka terus tertawa mengingat sepanjang malam mereka hanya melihat bulan dari teropong bintang. Chaeri tidak tahu banyak mengenai selera humor Baekhyun dan Chen, yang jelas begitu tengah malam Chaeri terbangun mendengar gelak tawa dari Chen, Chaeri tahu bahwa ada yang salah dengan mereka.

“Hoahm” Sekali lagi Chaeri menguap membuat perhatian guru Park teralih padanya.

“Kau sudah selesai Chaeri?”

Chaeri sedikit tersentak mendapat pertanyaan dari guru yang terkenal terlalu strict dari guru lainnya, tapi meskipun begitu Chaeri sedikit berterimakasih karena itu artinya, ia bisa keluar dari kelas lebih awal. “Ya seonsangnim.”

Guru Park mengangguk “Kalau begitu kau boleh keluar dan meninggalkan kelas.”

Chaeri pun segera bangkit dari kursinya menyita beberapa perhatian anak yang tidak percaya Chaeri sudah menyelesaikan ujian terlalu cepat bagi standar mereka.  Chaeri membawa lembar ujiannya pada meja guru Park. Setelah membungkuk ia pun berjalan dan keluar dari kelasnya.

Dengan perasaan senang karena itu artinya ia bisa menghabiskan waktu di perpustakaan lebih lama Chaeri berjalan dengan langkah yang diberi sedikit lompatan menandakan suasana riang hatinya.

Luhan menggerakkan badannya mengikuti musik yang didengar lewat earphonenya. Meskipun kakinya sudah berdiri lebih dari satu jam hukuman lupa mengerjakan PR yang kesekian kalinya ia tetap berdiri di depan kelasnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengeluh mendapat hukuman.

“Hai Han!” Seseorang menepuk bahunya membuat Luhan membuka matanya dan melihat sahabatnya sedang menyeringai berdiri di sana. “Lupa mengerjakan PR? Datang terlambat? Ketahuan tidur?” Baekhyun menyebut seluruh alasan tipikal mengapa Luhan berada di luar kelasnya lagi.

Luhan tertawa dan melepaskan earphonenya “Alasan yang pertama, ngomong-ngomong kau mau ke perpustakaan?”

Baekhyun menunjuk handuk yang digantung di bahunya “Aku mau mandi tadi aku terpeleset ketika menendang bola “dan dengan bangga ia menunjuk baju dan celananya ternoda oleh tanah, Luhan mengangguk-ngangguk mengerti, ia memandang Baekhyun dari ujung kaki sampai kepala dan menyadari suatu hal. Luhan menengok ke arah Baekhyun datang dan tertawa  “Wow jejakmu.” Baekhyun segera menengok dan mendapati puluhan jejak bertanah yang sama persis dengan motif alas kakinya, ia menelan ludah dan menepuk bahu Luhan “Kalau begitu aku harus segera lari jangan sampai guru Park melihatku!”

Luhan mengangguk dan menyeringai melihat Baekhyun yang segera berlari membuat jejak kakinya menjadi semakin abstrak. Luhan menggelengkan kepalanya dan kembali memasang earphone di telinganya. Beberapa menit kemudian ia melihat sosok lain yang sedang berjalan menuju arahnya. Tidak butuh waktu lama hingga akhirnya Luhan mengenal siapa orang itu.

“Chaeri!”  Luhan menyahuti Chaeri yang sedang menghentikkan langkahnya merasa heran melihat banyak jejak kotor di koridor. Chaeri pun menengok dan melihat seorang laki-laki yang cukup familiar sekalipun ia tidak tahu siapa namanya.

“Kau memanggilku?” Chaeri bertanya dengan dibalas tawa Luhan “Siapa lagi di sini yang bernama Chaeri? Ngomong-ngomong kita belum berkenalan, namaku Luhan teman Baekhyun.” Luhan ingat bahwa Chaeri dan dirinya belum pernah berkenalan.

Chaeri mengangguk-ngangguk ingat kalau sebelumnya ia pernah melihat Luhan duduk di meja yang sama dengan Baekhyun ketika dirinya menghampiri Baekhyun di kantin.

“Kau ingin ke perpustakaan?” Luhan langsung membawa pada inti pembicaraan. Sepanjang ia berdiri di depan kelas ia selalu menghentikkan orang yang lewat dan menanyakan apakah perpustakaan tujuan mereka. Chaeri mengangguk membuat Luhan langsung mengepal tangannya merasa senang akhirnya pencariannya selesai.

“Boleh aku titip ini ke Kyungsoo?” Luhan pun mengeluarkan amplop kuning dari kantong kemejanya. Chaeri segera memutar otaknya merasa familiar dengan nama itu, tentu saja, itu nama yang sempat menjadi alasannya untuk datang ke sekolah.

“Aku tidak kenal Kyungsoo.” Chaeri menggelengkan kepalanya dan membuat Luhan mengangkat mulutnya tidak percaya “Kau tidak kenal Kyungsoo? Hah! Bukannya kau sering ke perpustakaan?”

Chaeri memiringkan kepalanya tidak mengerti letak kesalahan mengapa tidak mengenal Kyungsoo menjadi sebuah hal yang fatal.

Luhan yang mengerti bahwa Chaeri serius dengan kata-katanya hanya menghela napas “Baiklah jadikan kesempatan ini untuk mengenal Kyungsoo” Luhan pun segera meraih tangan Chaeri dan memaksanya memegang amplop kuning itu.

Chaeri menaikkan sebelah alisnya ingin protes sebelum akhirnya Luhan kembali melanjutkan kalimatnya “Ayolah! Teman sekelasku memintaku memberikan ini pada Kyungsoo, tapi aku benar-benar sibuk, bantu aku Chaeri?” Luhan menggigit bibirnya, pertama ia benar-benar malas ke perpustakaan dan kedua ia memang tidak suka perpustakaan, ia pun terus menatap  Chaeri yang segera menghela napasnya”Baiklah”  Chaeri menyerah ia memang tidak pernah tahan dengan tatapan semi puppy eyes.

“Yeah!” Luhan segera melompat, Chaeri mengendikkan bahunya lalu kembali berjalan melalui Luhan yang terus berteriak terima kasih hingga ia mendapat hardikan dari guru kelasnya karena terlalu berisik.

Chaeri  melihat amplop yang di pegangnya, tertulis nama perempuan yang tidak diketahuinya dan nama Do Kyungsoo, tidak perlu seorang jenius untuk tahu ia yakin itu surat cinta. Chaeri merasa sedikit geli, mengingat penyampaian melalui surat ternyata masih eksis di dunia modern ini, tapi meskipun begitu ia tahu perjuangan gadis yang menulis itu hingga akhirnya Chaeri memutuskan untuk menjadi anak baik dan memberikannya pada Kyungsoo.

“Mungkin aku harus bertanya pada petugas perpustakaan.”  Chaeri berkata dalam hati mengingat ia memang tidak tahu siapa itu Do  Kyungsoo. Dan terlalu fokus pada rencananya mencari Kyungsoo, Moon Chaeri tidak menyadari bahwa ia menginjak beberapa jejak kotor Baekhyun membuat tanah menempel di sneakers putihnya, kabar buruknya hal itu membuat  jejak kaki di koridor menjadi dua kali lipat lebih banyak.

“Permisi aku mau meminjam buku ini.”  Kyungsoo meletakkan beberapa tumpukan buku tebal di atas counter resepsionis.

Petugas yang sudah mengenal Kyungsoo itu terbiasa melihat Kyungsoo meminjam buku dalam jumlah banyak tapi baru kali ini ia melihat Kyungsoo meminjam kumpulan skenario, terlebih dengan tema romans “Kau berminat pada film?” ia bertanya sambil memberikan Kyungsoo  tabel peminjam buku.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dan tersenyum “Aku hanya ingin mengerti bagaimana sebuah cerita bagus berjalan.” Ia pun menuliskan namanya di tabel peminjam. Hari ini ia memutuskan untuk mendalami bagaimana seorang perempuan dan laki-laki bisa menjadi teman baik, dan ia rasa bertanya dengan teman-temannya merupakan pilihan terburuk sehingga sekali lagi, membaca merupakan cara terbaik dalam menjawab pertanyaannya.

“Permisi” Kyungsoo mendengar suara familiar ia menengok dan dugaannya benar bahwa memang Chaeri yang sekarang berada di sebelahnya. Chaeri yang sepertinya sedang terburu-buru membuat Kyungsoo tidak segera menegurnya.

“Ada apa Chaeri?” Petugas itu bertanya dengan ramah, ia sudah hafal dengan wajah Chaeri. Seorang perempuan yang hari pertamanya langsung mendaftar jadi anggota perpustakaan.

“Apa kau tahu laki-laki bernama Do Kyungsoo yang mana?”

Kyungsoo berhenti menulis begitu menyadari namanya di sebut oleh Chaeri, tiba-tiba ia merasa konyol mengingat ia belum pernah mengenalkan dirinya secara formal pada Chaeri. Petugas perpustakaan itu membulatkan matanya tidak percaya Chaeri belum mengenal Kyungsoo, rasanya baru kemarin ia melihat Kyungsoo dan Chaeri pulang bersama dan ternyata Chaeri belum mengetahui nama laki-laki yang menghabiskan sore bersamanya.

“Ekhm Chaeri?” Kyungsoo akhirnya menegur perempuan yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya itu. Chaeri segera menengok dan membuka mulutnya kaget “Ah pas sekali! Kau kenal sama laki-laki bernama Do Kyungsoo? Atau biasa dipanggil D.O.” Chaeri  menjelaskan pada Kyungsoo yang memandangnya dengan bingung.

Kyungsoo ingin membuka mulut mengenalkan namanya pada Chaeri, hal  yang seharusnya ia lakukan sejak dulu tapi sayangnya seseorang mencuri start.

“D.O.!!” tiba-tiba Nami sudah mengapit lengannya. Memanggil nama panggilannya yang dalam hati membuat Kyungsoo sedikit jengkel, jengkel karena ia mengganggu Kyungsoo mengenalkan namanya.

Chaeri memandang laki-laki di depannya, terlalu kaget sehingga tidak menunjukkan ekspresi. Hal yang membuat Kyungsoo sangat merasa tidak nyaman “Ah Nami lepaskan”Kyungsoo melepas lengannya yang dipeluk oleh Nami. Nami hanya tertawa lalu berjalan pergi menuju rak buku yang menarik minatnya.

“A-aku baru mengenalkan siapa namaku Chaeri.” Kyungsoo berkata sedikit gugup.

Chaeri di sisi lain tidak mengerti hal apa yang harus dikatakannya.

“Hahahha jadi kau Kyungsoo? Ya ampun bagaimana bisa aku baru tahu sekarang?” Tidak, Chaeri tidak akan seperti itu, pertama menurutnya ini bukan hal yang lucu.

“K-kau…Do Kyungsoo? Selama ini aku mencarimu!” Chaeri memutar bolanya membayangkan betapa dramatis jika ia benar mengatakan hal itu.

Kyungsoo masih berdiri di sana, meskipun ia sudah selesai menulis namanya di tabel peminjam ia merasa ia harus tetap berada di sana sampai Chaeri meresponnya. Chaeri yang masih sibuk dengan beribu skenario di kepalanya tidak menyadari bahwa laki-laki di depannya itu masih menunggu sebuah reaksi.

Chaeri masih tidak percaya, selama ini nama laki-laki yang selalu meminjam buku yang sama dengannya (dan sukses menarik perhatiannya) ternyata adalah laki-laki yang baru saja mengantarnya pulang kemarin sore. Ia tidak percaya, sebagai murid baru ia memang tidak mengetahui reputasi laki-laki di depannya ini di sekolah, dan setelah mengetahui Kyungsoo sama gilanya menggemari Pokemon ia tidak menyangka orang yang mengakui dirinya Kyungsoo ini adalah Kyungsoo yang pernah meminjam biografi ‘Soros’ . Sebuah hal yang dilakukan bagi laki-laki pecinta ekonomi sejati.

“Apa tidak ada Do Kyungsoo lain di sekolah ini?”

Sebelum sempat Kyungsoo menjawab pertanyaan yang terdengar retoris itu seseorang muncul dan merusak percakapan mereka.

“Moon Chaeri?”

Chaeri menengok dan menemukan seorang pria berdiri tepat di belakangnya dengan tangan terlipat di dada. Kyungsoo semakin jengkel seseorang datang lagi-lagi merusak acara pengenalan dirinya, tapi melihat ketua OSIS lah yang mendatangi ia yakin suatu hal penting terjadi.

“Bisa kau ikut aku ke ruang guru sekarang?”    

“Hah?” Chaeri dan Kyungsoo mengangkat kedua mulutnya terkejut. Kyungsoo yakin kalau Chaeri adalah tipe murid yang tidak akan repot-repot mencari masalah, terlebih ia masih anak baru.

Chaeri menggigit bibirnya dan berusaha mengingat hal apa saja yang telah terjadi belakangan ini di sekolah.

“Sepertinya kau tidak tahu masalahmu tapi kalau kau melihat kakimu aku yakin kau mengerti.”

Chaeri segera menundukkan kepalanya dan melihat sneakers putihnya memiliki bercak cokelat. Ia mengangkat kakinya  memastikan apakah sepatunya cukup kotor untuk meninggalkan jejak. Dan jawabannya iya, sepatunya cukup kotor untuk meninggalkan jejak.

“Sekarang ikut aku ke ruang guru, hanya sebentar karena sepertinya kau hanya korban di sini.”

Chaeri menelan ludah dan mengangguk, sebelum mengikuti ketua OSIS itu Chaeri memandang Kyungsoo yang sedang tersenyum padanya “Tenang saja Sungjong tahu kau tidak bersalah.”

Chaeri lagi-lagi hanya mengangguk membalas kalimat Kyungsoo, sambil berjalan mengikuti orang yang sepertinya namanya Sungjong itu Chaeri mendecak begitu ia menyadari bahwa ia pasti menginjak jejak kaki yang ia temukan di lantai dua itu. Dan siapa saja orang yang meninggalkan jejak bodoh itu, Chaeri akan menyalahkannya jika mereka harus mengepel koridor sekolah.

Ketika Chaeri pergi berjalan keluar dari perpustakaan Kyungsoo menghembuskan napasnya, ia sudah membawa laptop ke perpustakaan saat itu untuk menunjukkan pada Chaeri seberapa jauh levelnya. 

“Kyungsoo!” Seseorang menarik tangannya tepat sebelum Kyungsoo berjalan mencari kursi kosong.

“Aku sibuk Nami, dan bukankah harusnya kau di klub masak?”  Kyungsoo berjalan malas dan melepas pegangan Nami. “Justru itu aku ke sini untuk mencari resep!” Nami kembali menahan Kyungsoo dan membawanya menuju rak yang ditujunya tadi.

“Kau suka makan apa?” Nami bertanya dengan riang berbanding terbalik dengan Kyungsoo yang berdiri bosan di sebelah Nami “Aku suka bebek panggang.” Kyungsoo menjawab  asal, sebenarnya tidak asal, beberapa minggu yang lalu ia dan Baekhyun membicarakan bebek panggang, dan janji mereka untuk mencari restoran bebek tidak pernah tercapai. Hingga saat ini Kyungsoo masih mengidamkan hal itu.

Nami yang mendengar jawaban spontan dari Kyungsoo kehilangan kata-kata karena jawaban itu sama sekali tidak pernah terlintas di kepalanya, sebenarnya dari cerita yang ia dengar ia tahu Kyungsoo menyukai variasi pasta khusunya spageti, tapi bebek panggang? Ia benar-benar kaget.

“A-ah  bagaimana dengan kue? Kupikir aku bisa membuatkan untukmu di sekolah?” Nami kembali bertanya.

Kyungsoo diam lalu menengok pada Nami dengan datar “Aku mau bebek panggang.”

Dan dengan kalimat itu ia berjalan meninggalkan Nami yang kehilangan kata-kata.

“Hhah?” Baekhyun memincingkan matanya untuk meyakinkan kalau benar nama D.O. yang tertera di e-mail masuknya. Kyungsoo mengontak dirinya? Tentu itu hal yang jarang sekalipun mereka berdua adalah teman baik.

“Hahahaha, baiklah, sore ini.” Sambil  mengetik jawaban smsnya Baekhyun berusaha menahan tawa. Rupanya Kyungsoo masih ingat dengan janji lama itu.

 “Byun Baekhyun.” Guru Park memanggilnya. Baekhyun segera mematikan hpnya dan membenarkan posisi duduknya yang merosot “Ya seonsang-nim

“Kau tahu alasanmu datang ke sini?” Guru Park membetulkan posisi kacamatanya dan menatap Baekhyun tajam. Baekhyun berdehem dan menyeringai, jumlah kedatangan Baekhyun datang ke ruang guru memang tidak sebanyak Luhan ataupun Kyungsoo (dan keduanya memiliki alasan kontras) jika Luhan selalu dipanggil untuk mendapatkan waktu detensi karena pelanggaran aturan maka Kyungsoo dipanggil karena diminta untuk mewakilkan sekolah dalam beberapa olimpiade. Dan Baekhyun, ia datang karena beberapa kali terseret oleh Luhan dan kadang dipanggil untuk diminta menemani Kyungsoo dalam olimpiade Matematika.

Dan hari ini, Baekhyun datang karena ulahnya sendiri.

“Aku mengotori koridor sekolah sampai lantai dua, kantin, dan juga kelasku sendiri.” Baekhyun menggerakkan jarinya sambil mengingat di mana saja ia melangkahkan kakinya sehabis pelajaran olahraga.

Guru Park mengangguk “Lalu kau tahu seseorang menginjak jejakmu dan mengakibatkan lantai tiga sampai perpustakaan ikutan kotor?”

Baekhyun menggigit bibirnya berusaha menahan tawa menemukan bahwa orang itu cukup ceroboh untuk menginjak jejak dirinya “Yah aku tahu, dan itu bukan salahku, salah dia sendiri tidak melihat langkahnya.” Baekhyun membela dirinya sendiri.

Guru Park berdehem “Kau tidak  boleh berkata begitu kare—“

Seonsang-nim aku membawanya.” Tiba-tiba suara Sungjong memotong kalimat guru Park. Baekhyun menengok dan melihat Sungjong sudah berdiri tepat dibelakang mereka. Di belakang Sungjong terlihat bahu kecil bersembunyi dibaliknya seperti meminta perlindungan dari Sungjong.

Perempuan? Baekhyun bertanya dalam hati. Hatinya terasa lega, kalau perempuan itu salah satu fansnya mungkin ia akan memaafkan Baekhyun yang menyeretnya ke masalah ini.

Guru Park melongokkan kepalanya untuk melihat siapa murid yang bersembunyi di balik punggung Sungjong “Chaeri?”

Sontak Baekhyun segera berdiri untuk meyakinkan siapa sebenarnya orang itu.

“B-Baek.. Baekhyun!” Chaeri segera berjalan dari punggung Sungjong dan menunjuk Baekhyun. “Jadi kau!?” Chaeri meninggikan suaranya, kaget dan jengkel di saat bersamaan.

Baekhyun meniup poninya lalu kembali duduk di kursinya dengan tangan terlipat di dada “Ck, jadi kau.”

Sekarang dua-duanya sama mengalihkan pandangan tidak mau menatap satu sama lain.

Kenapa harus Byun Baekhyun? Kenapa di antara sekian orang yang bermain futsal harus Baekhyun yang menjadi orang bodoh dan meninggalkan jejak tanah di koridor? Chaeri terus mengeluarkan pertanyaan kenapa sekalipun ia tahu jawaban yang ia tunggu tidak akan datang.

Kenapa harus Moon Chaeri? Kenapa di antara sekian banyak murid yang lewat harus Chaeri yang menginjak jejak kakiku?  Pertanyaan sia-sia terus keluar dari otak Baekhyun.

Sementara kedua tokoh utama hari ini sibuk dengan pikirannya masing-masing, guru Park dan Sungjong berdiskusi tentang hukuman yang tepat untuk Baekhyun dan Chaeri. Keduanya merasa kalau Baekhyun pantas mendapat hukuman berat tapi melihat nama Byun Baekhyun cukup membawa nama baik untuk tim futsal sekolah mereka guru Park memutuskan memberi keringanan padanya. Sementara Chaeri, meskipun ia masih murid baru tapi nilai ujiannya yang terhitung di atas rata-rata kebanyakan murid membuat guru Park yakin kalau suatu saat Chaeri akan bersanding dengan murid kesayangannya Do Kyungsoo.

“Baiklah, Baekhyun dan Chaeri.” 

Chaeri segera menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan posisinya sekarang, ia tengah mengkhayal sedang mencaci Baekhyun dan panggilan namanya membuat otak Chaeri kembali ke asalnya “Ya seonsang-nim.”

“Baekhyun” Sungjong memanggil Baekhyun yang masih tenggelam dalam pikirannya. Tidak ada respon dari Baekhyun. Chaeri yang ikutan gemas mengepal tangannya dan langsung mengeluarkan salah satu unegnya pada Baekhyun “Ya Bacon!” “

B-b..ba apa?” Baekhyun langsung menengokkan kepalanya pada Chaeri. Khayalannya tengah menyiram Chaeri dengan selang untuk pembalasan kemarin segera putus begitu mendengar panggilan paling mengganggu yang pernah ia dengar.

Bacon ! Byun Bacon.” Chaeri berkata tanpa keraguan.

Baekhyun berdiri “Bacon?” Baekhyun meniup poninya dan memejamkan matanya beberapa detik  “Kau memanggilku dengan B-b-bacon? “  

Chaeri memutar bola mata “Ya aku memanggilmu dengan Bacon.”

Baekhyun memincingkan matanya pada Chaeri merasa jengkel. Nama Bacon merupakan panggilan yang paling ia benci, semenjak di sekolah dasar. Ia tidak akan pernah lupa ketika seisi kelas pernah mentertawakannya dalam kelas Bahasa Inggris ketika salah satu temannya menyamakan namanya dengan Bacon. Lelucon itu menjadi trend selama bertahun-tahun. Dan Baekhyun kecil bukan orang yang terlalu baik untuk siap dijadikan bahan lelucon teman-temannya.

“Namaku Baekhyun, BYUN BAEK—“

“Yak! Cukup Baekhyun.” Sungjong memotong kalimat Baekhyun.

Con.” Dan Chaeri berbisik melanjutkan pengenalan nama yang terpotong itu

“CHAERI!” Baekhyun membulatkan matanya menyadari bisikan kecil yang terasa menggema di otaknya. Sungjong menghela napas dan menggelengkan kepalanya

“Sungjong! Dia mengejek namaku! Chaeri mengejek namaku!” Baekhyun menunjuk-nunjuk Chaeri yang sedang memandang ke atas berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Melihat Chaeri yang memasang ekspresi tidak bersalah membuat kekesalan Baekhyun menjadi-jadi terlebih Sungjong yang sama sekali tidak menegur Chaeri.

Ya Baekhyun kau sudah SMA hal seperti ini harusnya bukan menjadi masalah bes—“

“Ini masalah besar! Nama yang susah payah dibuat orangtuaku seenaknya diubah oleh orang ini!” Baekhyun kembali menunjuk Chaeri. Chaeri tidak habis pikir kenapa Baekhyun mengambil candaan ini terlalu berlebihan, bukannya ia merasa tidak salah, tapi ayolah ini hanya satu kata dan Baekhyun bereaksi seperti seseorang baru saja memfitnah dirinya.

“Kalau begitu kau boleh mengejek namaku, dan kita seri.” Chaeri pun mengatakan solusinya.

Baekhyun yang kembali ingin melakukan pembelaan diri segera menutup mulutnya dan menatap Chaeri hati-hati.  “Aku boleh?”

“Kamu boleh.” Chaeri menghela napas.

Jari Baekhyun memegang bibirnya tanda ia sedang berpikir, nama apa yang cocok Chaeri? Baekhyun sendiri tidak pernah memikirkannya. Jujur, pertama kali ini mendengar  nama Chaeri, harus diakui ia suka nama itu. Chaeri, namanya terdengar menarik dan menggemaskan. Baekhyun selalu suka hal yang manis dan menurutnya nama Chaeri adalah hal yang manis.

Sementara itu Sungjong yang harusnya berperan sebagai pelerai pertengkaran sepele Baekhyun dan Chaeri memutuskan berhenti dari perannya dan memilih duduk di kursi melihat bagaimana jalannya sitcom  antara Baekhyun dan Chaeri.

“Aaah  sudahlah! Aku tidak sekanak-kanakan itu balas mengejek namamu!” Baekhyun mengacak-ngacak rambutnya setelah menghabiskan waktu bermenit-menit mencari celah ejekan untuk nama Chaeri.  Baekhyun tidak mau mengakui kalau ia suka nama itu, dan terlebih ia merasa konyol mengingat ia pernah membuat mental note bodoh kalau suatu saat nanti ia akan meminta izin pada Chaeri memakai namanya untuk nama anaknya kelak.

“Kau bisa memanggilku dengan pie Cherry.” Chaeri berkata dengan santai. Itu nama panggilannya ketika SD  dulu, dan Chaeri sama sekali tidak bermasalah akan hal itu.

Baekhyun menggelengkan kepalanya “Tidak-tidak, tidak ada gunanya kalau kau tidak marah. “

“Jadi?” Chaeri menaikkan sebelah alisnya

“Jadi? Ya sudahlah cukup berjanji jangan pernah memanggilku dengan nama itu lagi.”

Chaeri merasa kurang puas, lebih tepatnya ia tidak suka seseorang melarang melakukan hal yang disukainya. “ Kalau aku tidak mau?”

“Kau harus mau.” Baekhyun merespon cepat

“Kalau aku tidak mau?”

“Tidak ada kalau.”

“Aku tidak mau.”

“CHAERI!”

“BAEKHYUN! tiba-tiba seseorang  ikut berteriak. Baekhyun, Chaeri dan Sungjong langsung menengok dan melihat guru Park sudah kembali di dekat mereka. Beberapa menit melihat Baekhyun yang tidak berhenti merengek pada Sungjong membuatnya merasa ia hanya menghabiskan waktu  dan begitu ia kembali memantau ketiga muridnya, Baekhyun kembali berteriak dan itu sukses membuat sisi strictnya muncul.

“Hukumanmu bertambah, bersihkan seluruh koridor.”

Baekhyun membulatkan matanya merasa kaget “Ta-tapi seonsang-nim Chaeri yang memulainya!” Ia kembali menunjuk Chaeri. Chaeri menutup dahinya merasa Baekhyun menjadi terlalu kekanakan.

“Dan kau berteriak mengganggu seluruh guru di ruangan ini.”

Baekhyun menjadi gemas ia mengerutkan dahinya dan memandang sinis pada Chaeri “Dan itu semua gara-gara perempuan itu.”

Guru Park memandang Chaeri, ia kurang yakin tapi ia tahu ia harus bertindak adil “Dan Chaeri kau juga, bantu Baekhyun membersihkan seluruh koridor.”

“Tidak!” Baekhyun dan Chaeri berkata serempak. Sungjong menutup mulutnya berusaha menahan tawa , ia  ingin ikut bicara dan membela Chaeri kalau ia hanya korban tapi entah kenapa ia merasa Baekhyun terlalu malang untuk membersihkan seluruh koridor seorang diri.

“Kenapa kalian menolak?” Guru Park bertanya yang langsung dibalas dengan saling menatap antara Baekhyun dan Chaeri.

“Aku tidak mau bersama Chaeri.”

“Aku tidak mau bersama Baekhyun.”

Dan lagi-lagi keduanya berkata bersamaan. Guru Park menghela napas dan kembali membenarkan kacamata frame tebalnya yang kembali merosot “Dan aku mau kalian bersama, sore ini kalian berdua bersihkan seluruh koridor.”

“Kalau aku tidak ma—“ Chaeri segera menutup mulut Baekhyun yang menurutnya sudah terlampau melewati batas normal pemberontakkan seorang murid.

“Ya seonsang-nim, sekarang boleh kami kembali ke kelas?” Chaeri berkata dengan tenang, sedangkan Baekhyun akhirnya memilih pasrah.

“Kembali dan jangan kabur.” Guru Park berkata singkat lalu kembali berjalan pada mejanya.

Chaeri pun segera keluar dari ruang guru dengan perasaan berat, rasa menyesal telah memancing emosi Baekhyun tiba-tiba merambati dirinya. Ia menepuk pipinya untuk menyadarkan menyesal hanya membuat semuanya menjadi lebih buruk. Ia pun mengepalkan tangannya dan kembali berjalan menuju perpustakaan, ia harus membatalkan janjinya pada Kyungsoo memainkan Pokemon setelah pulang sekolah. Dan semakin Chaeri melangkah semakin Chaeri menyadari seseorang mengikutinya dari belakang.

“Kenapa kau mengikutiku?” Chaeri menengokkan kepalanya dan tebakannya benar, Baekhyun berada di belakangnya.

“Siapa yang mengikutimu?” Baekhyun menjawab jengkel. Ia berjalan mendahului Chaeri. Baekhyun harus menemui Kyungsoo dan membatalkan janji mereka. Pulsanya habis sehingga satu-satunya cara adalah mendatangi sahabatnya itu sendiri yang ia tahu perpustakaan adalah tempat yang harus ia tuju.

Baekhyun masih kesal, kesal pada dirinya yang terlalu terbawa emosi dan Chaeri yang memanfaatkan hal itu. Ia berjalan dengan langkah cepat, merasa gusar mendengar suara langkah yang terus terdengar. Tidak tahan, ia pun menghentikkan langkahnya dan menengok ke belakang.

“Dan kenapa kau mengikutiku!?”

“Aku tidak mengikutimu!”

“Kau berjalan tepat di belakangku!”

“Sekarang tidak.” Chaeri melangkah dan membuatnya selangkah di depan Baekhyun. Baekhyun mendecak kesal dan kembali melangkah untuk dapat berada di depan Chaeri “Sekarang iya.”

Chaeri menarik napas, ia kembali berjalan “Sekarang tidak.”

Baekhyun tidak pernah suka kalah, terlebih dari perempuan, apalagi orang itu Chaeri “Sekarang iya.” Ia kembali berjalan.

Chaeri meskipun berbeda tapi kalah dari seorang Baekhyun bukan hal yang menyenangkan untuknya. “Sekarang tidak!” Ia segera berlari sekuat tenaga meninggalkan Baekhyun yang beberapa detik masih shock  “Kau salah menantang atlet sepertiku berlari!” Baekhyun langsung melesat.

Chaeri yang menyadari ia cukup bodoh untuk menantang Baekhyun berlari hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak terima  ia harus kalah dari Baekhyun, dan tepat beberapa detik sebelum Baekhyun dapat melampaui Chaeri, nama mereka berdua kembali terpanggil.

“Chaeri! Baekhyun!”

Keduanya berhenti mencari asal suara.

Dan di ujung sana guru Yoon berkacak pinggang menunjuk mereka berdua “Berlari di koridor, kalian berdua ikut aku ke ruang guru.”

“HEEEEEH?”

Baik Chaeri dan Baekhyun tahu, hari ini akan menjadi hari berat untuk mereka.

______________________________

A/N:

Dan author baru nyadar image Baekhyun ternyata sekanak-kanakan itu di mata author ._. Ketika ngetik entah kenapa dialog yang keluar jadi seperti itu. Hahaha apapun itu semoga pembaca terhibur dengan chapter ini ^^

49 thoughts on “Detour #05

  1. hihihihi….
    baekhyun… chaeri…
    lucu banget si kalian berdua, pake jalan dulu-duluan ke perpustakaan….
    jadi penasaran ama kelanjutan tingkah mereka…
    next part 6😀

  2. Aku readers baru salam kenal ^^
    maaf aku bru komen d part ini
    seru cerita nya author ,cute banget aplgi baekhyun nya menghibur banget keg anak TK aja mrka saling dlu”an😀

  3. Haha, Baekhyun dramatis banget nama doang ampe ngotot gitu, wkwkwk.. Apalagi waktu main dulu-duluan. Sumpah itu norak plus kekanakkan😄
    Terhibur sekali dengan part ini. 2 Kali dipanggil ke ruang guru dalam 1 hari hahaha
    Penulisannya rapih, menarik, kocak.. Love it

  4. G heran knp kelakuannya baekhyun itu lucu karna dia suka hal2 yg lucu
    hahaha semacam girly gitu ?
    Haduhh kopel ber-2 ini selalu aja tingkahnya konyol klo udah ketemu.
    Kemaren siram2an sekarang balapan. Bsok apa ?
    Hahaha

  5. Maaf ya thor baru komen di chapter ini ^^v hehe. Beneran deh, aku ngakak gegulingan gegara tingkah baekhyun sama chaeri xD mulai dari yang di ruang guru, sampe maen kejar-kejaran di koridor xD Hahahaha menghibur banget lah Detour ini =)) iya thor, aku juga ngeliat baekhyun masih kayak anak kecil gitu ._. Soalnya mukanya ngegemesin >…< haha

    • eh ga usah minta maaf yang penting komen! ^^
      Iya kan setuju sama kamu baekhyun itu fix childish jadi kalau aku bikin dia di sini super kekanakan maklum ajaaa C;

  6. dan aku juga baru nyadar kalau air mata aku sampai meleleh gara2 kbanyakan ktawa..oh ini mmbuat mood ku naik..aku suka..aku suka…

  7. Like like like banget part yg iniiih~~
    Kocak banget sumpaaah aku ga berhenti ketawa (lagi) apalagi yg pas mereka sama sama mau ke perpus nyamperin d.o asli itu kocak banget wkwkwk xD
    Makin penasaran iiih ><

  8. Ya ampun bayangin muka si bebek yang gak mau kalah malah bikin ketawa.
    Akhhhh gak bisa ngomong apa2 ini chapter menghibur nanti qw kebablasan jadi fangirling terutama disini komplit ada bang lulu, bebek sama kyungsooo.
    Wlpun qw juga harus jujur setiap baca part ada ketakutan sendiri utk menerima tokoh utama si bebek yang bersanding sama chaeri. Dan kyungsooo hanya sebatas sahabat yang mungkin bisa menyatukan bebek-chaeri.
    Perbanyak moment baeksoo *-* soal’a disini keseringan bebek’a sama chen. Akhhhhhhhhh gak tau qw mau bilang apa lagi, semua karakter komplit terutama pas baca bang lulu ternyata bisa juga jadi orang yg bandel. Huft

  9. aku mau kyungsoo-chaeriiii~
    Baekhyunnya adek-adek bangeeet, imut sih. Tapi D.Onya cocok gitu buat Chaeri.
    Tapi gak apa-apa ko Author-nim, cuman menunjukkan pendapat aja. Ehehehe

  10. terhibur banget hahaha,, pas baekhyun sm chaeri adu mulut masalah yang ga terlalu penting, kaya anak kecil, ngebayangin baekhyun kaya gitu keliatan imut >w<

  11. Pingback: Rekomendai Fanfiction | Anggi Nindya Sari

  12. hahahaha lucu banget.. selalu aja terhibur
    ditengah rasa patah hati terhadap baekyeon ff ini jadi obat huuaahhhhh seruuuuu bangeett

  13. hahaha mereka itu lucu ya
    udah lah kalian bersatu aja, udah ditakdirin selalu berdua gt kan😄
    romantis banget ya keliatannya mereka😀

  14. Byun Bacon :p kamu aduh.. Wkwkwkwk
    Luhan kasian bgt kamu dihukum —
    Kyungsoo, wkwk entah selalu ketawa kalo pas bagian D.O, selalu kebayang ekspresi dia ~ hehe

  15. lucu banget mereka berdua, gemes haha. aku setuju sama author, baekhyun disini kekanak-kanakan banget, tapi gapapa lucu😀 dan ga tau kenapa setiap liat part jongdae selalu mau ngakak, good job!

  16. ya ampun kak.. sy slalu ketawa baca ff ini..
    ahahaha
    .. nda prnh ketawa seheboh ini slama baca ff
    ini chapter bikin sy ketawa capek
    parah… siip deh
    dan… maaf kak baru komen…

  17. image nya emang cocok bgt thor😀
    dia emang begitu orang nyaa, ga mau kalah, seenaknya, egois, bawel, tapi menyenangkan.. wkwkwkk
    cara author menyampaikan karakter baekhyun kebayang banget!!! dapet feel nya!! hihihi

  18. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  19. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  20. Terhibur banget. Bener2 yah tu baekhyun chaeri, ngakak bacanya. Sama2 gak mau ngalah.. Pasangan yg sgt kekanakan. Sekaligus menggemaskan..

  21. Smpahnya ngakak baca chapter ini, dimana si baek yang ngotorin lantai dua, kantin dan entah aku tidak tau terus yanv nginjek jejak kakinya harus si chaeri, dan yang manggilnya bacon si chaeri😍
    Makin ska sama ff ini😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s