The Three Words 1/2

The Three Words Poster

Hello, hello! Judul dari cerita ini adalah/drumrolls… The Three Words! Originally a One-shot tapi karena ini bukan lagu BAP (?) jadinya Two-shots. Mungkin bagi yang menonton trailer cerita ini sudah tau bahwa main charactersnya antara lain adalah Kim Minseok (Xiumin), Huang Zitao (Tao), Byun Baekhyun (Bacon) dan Do Kyungsoo (D.O)! Genrenya adalah Romance, fluff dan friendship (OT12)! Rated PG-13 cuz I’m paranoid :P 
Without further ado, please enjoy!

when a man’s in love, when i’m in love

when i have fallen for you;

-part 01-

Jalanan masih relatif sepi ketika ia keluar dari apartment-nya. Ia tersenyum ramah kepada penjaga resepsionis yang menatapnya bingung. Namun lelaki itu tidak peduli ketika ia berjalan melewati pintu depan gedung itu, menyambut cahaya matahari pagi. Matanya melihat ke langit, senyum kembali bermain di bibirnya. Tangannya tanpa maksud yang jelas terangkat ke arah matahari, di antara jemarinya cahaya matahari tipis berwarna kuning menyinari sebagian wajahnya

Tawa ceria pelan keluar dari mulutnya pada saat ia kembali melanjutkan perjalanannya di pagi hari dimana dia dan terlebih lagi, teman sekamarnya akan terlalu malas bahkan untuk membuka mata. Bersiul sebuah nada acak yang tidak pernah ia dengar, Kyungsoo berjalan ke pemberhentian bus di depan gedung apartment tempat ia tinggal.

Di sana sudah ada ibu-ibu yang menggandeng seorang anak perempuan dengan dua rambut terikat di kedua sisi kepalanya. Tas menggantung di punggungnya dan ia memakai seragam. Sedang di antar ke sekolah, pikir Kyungsoo. Anak perempuan itu menatapnya – ia pasti sudah pernah melihat Kyungsoo karena sepertinya ia sendiri pernah melihat anak itu bermain di lapangan belakang gedung tempat tinggalnya.

Kyungsoo hanya tersenyum kepadanya, bahkan menunjukkan beberapa gigi yang biasanya tersembunyi di dalam mulutnya. Anak itu menatapnya sebelum tersenyum juga, walaupun tampak seperti dipaksakan. Biasanya Kyungsoo akan tenggelam oleh rasa malu apabila hal ini terjadi, namun ia tidak dapat berhenti menunjukkan senyum itu. Pasti sekarang anak perempuan itu setengah ketakutan dengan keberadaannya – seorang Cheshire Cat gadungan.

Sebelum anak itu dapat menangis, sebuah bus datang ke arah mereka. Kyungsoo melepaskan napas lega karena ia tidak ketinggalan bus dengan nomer itu. Ia jujur jarang menggunakan bus dengan angka demikian – ia bukan orang yang mau repot-repot berangkat pagi hanya untuk datang ke toko swalayan.

Melempar jauh rasa malas dan enggannya, Kyungsoo menaiki bus itu dan memilih kursi di pinggir, di samping jendela. Saat bus mulai bergerak, ia melihat keluar dan melambaikan tangannya ke arah anak kecil yang masih harus menunggu bus ke sekolahnya. Kyungsoo tetap melambaikan tangannya dengan bersemangat walaupun dari kejauhan ia yakin ia melihat anak itu menarik baju ibunya dan berkata: “Ma, kakak itu kok aneh sekali ya?”

Banyak benda di rumahnya yang ia sangat sukai. Bahkan bisa dibilang ia menyukai semua benda miliknya. Tapi dari apa yang ia dengar dari teman-temannya hanya membuatnya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan hati-hati ia mengangkat sebuah frame dengan fotonya bersama klub sepak bola saat masih menjadi murid SMA. Menggunakan lap yang sudah dibasahkan untuk membersihkan meja di samping tempat tidurnya. Ia mengelap semua permukaan yang bisa ia lihat.

Untung saja kau tidak bisa melihat kolong bawah meja itu, sahabatnya Luhan pernah berkata padanya. Namun Minseok hanya tertawa dan mengatakan itu adalah hal yang konyol. Betapa ia menyukai kebersihan dan keserasian – atau lebih tepatnya kesimetrisan, kalau itu adalah sebuah kata – Minseok bukanlah orang yang terobesesi akan sesuatu, walaupun sesuatu itu adalah hal yang baik bagi kehidupan umat manusia.

Dahinya mengkerut dan bibirnya membentuk garis tipis ketika ia menatap kesal ke sebuah noda yang memilih untuk tinggal di meja yang terbuat dari kayu putih. Minseok tidak pernah ingat membawa gelas berisi cokelat atau kopi dan meletakannya di atas sesuatu yang berpotensi tinggi untuk kotor.

Ia menarik napas panjang. “Dasar, akan kuperingatkan lagi anak itu saat ia pulang” Minseok mendesah pelan saat foto yang ia pegang sekarang berada di lantai. Dengan menambahkan tenaganya, Minseok berusaha menghilangkan noda kecoklatan yang untungnya ia sadari sebelum semut datang dan membuatnya semakin gusar. Ia bergumam pelan tentang ‘Tao dan kebersihan’ dan ‘seharusnya aku tidak mempercayainya’.

Mata Minseok masih melekat pada noda kecoklatan yang juga masih keras kepala untuk berada di meja. Melihatnya dengan tatapan membunuh, Minseok berdiri. Mungkin Luhan tidak sepenuhnya salah mengenainya sebagai saudara yang hilang dari Death the Kid, tokoh kartun – anime, Sehun sering mengkoreksinya – yang hanya bisa ke kamar mandi dan mengurus ‘urusannya’ apabila ada tisu dengan bentuk segitiga yang simetris. Dan tidak, Minseok tidak membutuhkan itu. Namun noda membandel itu pelan-pelan mulai mengrogoti kesabarannya.

Minseok membuka mulutnya, namun satu detik sebelum ia dapat mengucapkan kata-kata dengan berbagai warna dan keindahan, handphone miliknya berdering dari saku celana yang sedang ia pakai. Tanpa memeriksa caller ID, Minseok langsung menjawab Telepon itu. “Halo-“

“Hai Minseok!” suara ceria datang dari speaker telepon miliknya. Minseok memutar kedua bola matanya, mengenali siapa orang yang menelponnya. Sebelum ia sempat bertanya apa yang sahabatnya inginkan, Luhan sudah mengucapkan kata-katanya terlebih dahulu. “Aku sudah bertanya pada pemilik gedung, kau boleh menggunakan atap hari ini”

Rahang Minseok sedikit jatuh. Ia tidak percaya akan apa yang sahabatnya baru katakan. Entah cara apa yang dilakukan temannya itu, Minseok diperbolehkan untuk menggunakan tempat terlarang di gedung studio tempat mereka latihan menari. “Apakah hari ini tanggal 1 April?”

Luhan terdengar kesal di ujung yang lain. Suara menghelakan napas karena kesal terdengar di telinga Minseok. “Bukan, tapi ini tanggal 20 April jadi lebih baik kau membelikan cupcake dari toko yang baru saja buka-“

“Terima kasih Luhan!” sorak Minseok mengabaikan nada sarkasme pada suara sahabatnya dan memutus perkataan pelan “Baozi?” dari Luhan.

Minseok setengah berlari ketika melewati pintu kamarnya, meninggalkan lap dan bingkai foto masih tergeletak di lantai – terabaikan dan kotoran berwarna coklat masih bersisa di atas meja. Namun nampaknya informasi yang baru diperolehnya membuat Minseok sedikit lupa ingatan.

Ia berhasil sampai ke depan kloset – tempat ia dan teman sekamarnya, Tao menyimpan barang-barang milik mereka yang tidak muat disimpan di dalam kamar tidur. Minseok menghelakan napas. “Tenang Kim Minseok, kau mampu melakukannya” ucapnya pelan. Tangannya meraih ujung pintu geser di depannya. Dengan gerakan cepat ia menggeser pintu itu. Namun seperti rangkaian peristiwa yang disengaja, ketika Minseok mendongak, wajahnya langsung bertemu dengan tas demi tas. ‘Menghantamnya’ dan membuatnya terjatuh ke lantai.

Mengerang pelan, Minseok membuka matanya. Ia dapat melihat sebuah kardus yang ada di dalam kloset, masih berada tepat dimana ia meletakannya. Matanya beralih ke benda-benda yang menindihnya. Menarik satu tas dari pangkuannya, Minseok memperhatikan tas yang ia belum pernah ia lihat sebelumnya. Membolak-balik, membuka dan mencari satu bentuk identifikasi, Minseok menangkap satu logo yang menjelaskan kenapa tas-tas ini menumpuk dengan sembarangan di tempat penyimpanan yang Minseok baru bersihkan tidak ada dua hari yang lalu.

GUCCI

“HUANG ZITAO!” suara tinggi dan melengking milik Minseok menghancurkan ketenangan di pagi hari.

Achoo!” Tao mengusap hidungnya seusai bersin dan berhasil menarik perhatian banyak orang. Ia melihat ke atas – melihat langit biru dengan beberapa awan berwarna putih seperti kapas menghiasinya. Matahari memancarkan kehangatannya. Ia sedikit bertanya-tanya mengapa ia bisa sakit pada hari yang hangat seperti ini. Namun pada akhirnya Tao hanya mengangkat kedua bahunya dan melupakan pertanyaann sebelumnya.

Sudah menjadi kebiasaan Tao untuk berjalan keluar rumahnya setiap kali ada hari libur di kuliahnya. Selain agar teman satu apartemennya, Minseok dapat membersihkan tempat tinggal mereka tanpa harus mengomel setiap saat Tao mengkotori apa yang ia harus bersihkan, ada satu hal yang selalu Tao lakukan pada hari-hari bebasnya.

Ia dapat melihat orang-orang masih jarang terlihat walaupun jam sudah menunjukkan angka 10 di pagi hari. Tetapi justru itu yang ia inginkan. Matanya melihat ke aisle yang di atasnya berjejer berbagai pakaian dan aksesoris. Tao tersenyum saat ia melihat blazer berwarna biru tua yang memanggil namanya.

Tao… Tao… beli aku… beli aku…

Ya, Huang Zitao memiliki kelemahan pada barang-barang itu. Ia sendiri kurang mengerti mengapa tampaknya ia sangat senang dengan membeli pakaian dan aksesoris yang mungkin ia sendiri hanya akan sempat memakainya satu kali saja. Tanpa ia sadari ia sudah berjalan ke arah pintu toko itu, tangannya sudah memegang ganggang pintu. Namun ia berhenti.

Menggelengkan kepalanya, Tao mengerang pelan. “Ayolah, kau lebih baik daripada itu” katanya pada dirinya sendiri. Tapi ketika matanya melihat blazer itu lagi, ia menelan ludahnya. Sepertinya lebih mudah dikatakan daripada dilakukan untuk seorang Tao tidak membeli barang yang sudah mencuri perhatiannya. Dan ia sudah hampir menggunakan semua uang jajannya – yang tidak sedikit – untuk sebuah tas yang meneriakan hal yang sama dengan blazer yang masih melekat di tubuh mannequin itu. Ia yakin sekarang Minseok sedang marah-marah karena Tao sudah berjanji untuk tidak membeli hal-hal yang tidak perlu lagi.

Selain itu ia harus membeli sesuatu yang lain. Hal lain yang bukan blazer berwarna biru tua yang akan tampak sempurna dengan celana formal hitam dan kemeja yang menggantung di lemari pakaiannya yang tidak kecil.

Tangannya merogoh sesuatu di saku celananya. Ketika situasi sudah cukup ekstrim, maka diperlukan solusi yang ekstrim juga. Tao tidak tau apabila ia bisa hidup setelah membangunkan seekor naga di pagi hari dan mengusik tidur indahnya. Teleponnya berdering dan Tao hanya berharap yang terbaik.

“Kau lebih baik memiliki alasan yang bagus untuk membangunkanku pagi-pagi sekali” terdengar suara rendah yang serak. Walaupun orang itu baru saja bangun nada mengancamnya terdengar di suaranya dengan sangat jelas. Tetapi Tao hanya memutarkan bola matanya. Seberapa menakutkan seorang Wu Yifan, Tao bisa menendangnya sampai ke ujung dunia.

Mengabaikan fakta bahwa sekarang bukan pagi lagi, Tao menjawab. “Dhuizang~~ Belikan aku satu benda saja. Ada satu blazer yang akan tampak lebih hebat di tubuhku dibandingkan dengan sebuah patung” pintanya.

Ia mendengar helaan napas dari Yifan. “Kenapa kau tidak beli sendiri? Bukankah kau baru saja dikirimkan uang?” Mendengar ini Tao berusaha untuk tidak tertawa malu. Memang ia baru saja bertambah uangnya, namun berita paling barunya adalah ia sudah memakai setengahnya untuk sebuah tas GUCCI yang sedang tidak discount padahal ia memiliki rencana lebih besar daripada mengkoleksi semua barang keluaran merek tersebut.

“Aku tidak bisa menahan diri…” akunya pelan. “Tapi hari ini aku ingin membeli sesuatu yang spesial tetapi blazer ini memanggilku! Lihat dia baru saja memelototiku. Dhuizang~~” andaikan saja ia sedang berhadapan dengan Yifan, mungkin ia sudah menggunakan aegyo untuk dapat memperoleh apa yang ia inginkan.

“Itu ‘kan masalahmu sendiri. Tao, kau benar-benar harus belajar menahan diri terutama dengan hobimu untuk berbelanja…” Tao berusaha tidak menghembuskan napas karena kesal. Ia yakin setelah ini Minseok juga akan mengomelinya. Jadi sekarang ia tidak memfokuskan dirinya dengan kata-kata Yifan. Mendengarnya dari telepon saja sudah membuatnya begitu kesal. “Aku tidak akan membelikanmu blazer itu”

Tao ingin berteriak dan memarahi Yifan karena dia sangat, sangat putus asa di sini, di depan sebuah toko dengan sebuah benda yang merengek untuk dibeli. Namun benar, Tao memiliki prioritas dan ia tau dibalik semua keinginannya untuk pakaian itu, ia ingin membeli sesuatu yang lain.

“Kau menyebalkan” ucap Tao pendek. “Oh ya, dan Dhuizang, jam 10.15 bukan pagi lagi” sebelum Yifan bahkan dapat mencerna perkataannya, Tao memutuskan panggilan itu.

“Hah…” Tao menghelakan napas sambil menatap sedih blazer yang juga menatapnya sedih. “Aku akan kembali untukmu, bersabarlah” janjinya sebelum berjalan pergi sebelum ia benar-benar akan membeli sepotong pakaian itu.

“Kau baru saja bangun?” Kyungsoo bertanya, di telinganya menempel sebuah handphone dan tangannya yang tidak memegang alat komunikasi itu sedang memegang sebuah tomat merah. Ia memperhatikan buah itu untuk memastikan tomat tersebut sudah matang dan tidak busuk. Akan sangat memalukan apabila ia memasak sesuatu dengan bahan yang buruk.

Orang di sambungan yang lain hanya menggumam, kemungkinan ia masih setengah tertidur. Kadang-kadang ia tidak mengerti mengapa teman sekamarnya yang bisa pecicilan itu kadang-kadang bahkan mampu untuk tidur dalam kondisi berdiri. “Jongin apabila kau kebanyakan tidur itu juga tidak baik untuk kesehatanmu”

Tidak ada jawaban dari Jongin. Kyungsoo tidak akan heran apabila sekarang teman sekamarnya hanya mengangguk-angguk, lupa Kyungsoo tidak dapat melihat jawabannya. “Tapi kata orang banyak tidur dapat membantu pertumbuhan”

Kyungsoo benar-benar ingin menjitak kepala anak itu. “Yah, sana makan sarapan – walaupun ini sudah terlambat untuk sarapan. Dan jangan terlambat ke studio” terkadang Kyungsoo merasa dirinya adalah seorang ibu-ibu saja apalagi sekarang ia tengah berbelanja di toko swalayan, melihat produk mana yang sedang ada potongan harga.

“Iya, iya” kata Jongin. “Apakah ada yang bisa kumakan? Aku tidak mencium bau makanan dari tadi. Hyung tidak membuat sarapan?”

Dengan gumaman Kyungsoo menjawab pertanyaannya. “Tapi ada roti dan selai. Kalau mau yang lain beli saja sendiri” ia pura-pura tidak mendengar gerutuan Jongin yang tidak senang dengan jawaban yang diberikan oleh Kyungsoo.

Diletakannya kembali tomat itu setelah ia merasa melihat satu buah yang nampak lebih bagus dari apa yang ia pegang. Di saat itu barulah Kyungsoo teringat apa yang ia ingin tanyakan kepada Jongin namun lupa di tengah jalan. “Oh iya, menurutmu apakah lebih baik aku membuat makanan barat atau makanan Korea saja?”

“Eh, untuk apa? Makan malam?” Kyungsoo tidak percaya Jongin lupa. Padahal baru saja kemarin ia bercerita kepada teman sekamarnya itu.

Kyungsoo berusaha tidak terdengar kesal, walaupun kata-katanya saja sudah cukup tajam. “Untuk apa? Bukankah kau selalu bilang masakanku tidak enak? Sana makan malam saja bersama teman-temanmu. Aku ingin makan sendirian saja” ujarnya. Ada keheningan sebelum Jongin mengeluarkan suara “Oh!”

Ia hanya dapat menghelakan napas. Ternyata temannya ini sama sekali tidak bisa membantunya. Kyungsoo harusnya tau hal itu lebih baik. “Sudahlah, lupakan saja” ia mematikan handphone miliknya sambil memasukan tomat ke dalam plastik bening sebelum menjatuhkannya ke keranjang di tangannya.

Namun saat ia melihat isi keranjangnya, Kyungsoo ingin memukul kepalanya sendiri saat ia melihat bungkusan tomat itu ada di atas pack yang berisikan terigu. Mungkin itu tidak akan menjadi sebuah masalah apabila Do Kyungsoo tau cara memasak pie tomat – kalau itu pun ada. Tetapi ia tidak tau bagaimana membuatnya. Selain itu siapa yang ingin memakan pie malam-malam?

Mungkin urusan masak-memasak ini lebih sulit dibandingkan apa yang ia bayangkan.

Baekhyun selalu merasa menyetir mobil adalah kemampuan dasar yang bisa ia lewati. Selain karena ia adalah seorang yang paranoid, ia juga merasa menyetir adalah kegiatan yang terlalu sulit dan merepotkan. Namun sekarang ia ingin mengganti pernyataannya, karena di umurnya kemampuan ini seharusnya dapat membantunya mengatasi keperluan banyak orang menggunakan transportasi umum.

Ia terengah-engah saat memasuki satu gedung sederhana. Sebuah studio yang dilengkapi dengan beberapa ruangan musik. Saat ia memasuki ruangan ia melihat sosok tinggi yang langsung menyapanya begitu Baekhyun masuk.

“Hai Baek! Tidak biasanya kau terlambat” Chanyeol, salah satu orang yang juga mendatangi tempat ini secara rutin berkata. Sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya, namun melihatnya hanya membuat Baekhyun memutar bola matanya. Chanyeol memberikan sebuah gelas berisi air kepada Baekhyun yang banjir keringat.

Baekhyun memberikan ucapan terima kasih singkat sebelum meminum air di dalam gelas itu dengan kecepatan yang dapat dimasukkan ke dalam buku rekor. “Macet… bus… orang” jelasnya sepotong-sepotong. Lelaki yang lebih tinggi itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebelum mengangkat kedua bahunya.

“Temanku juga terlambat, walaupun pastinya karena ia tidak bisa bangun sebelum jam 11 pagi dan memerlukan transisi 2 jam sebelum merasa cukup pantas untuk keluar dari rumahnya…” jelas Chanyeol sementara Baekhyun hanya mendengarkannya setengah jalan.

Ia sudah terlalu lelah karena hampir tidak tidur, memikirkan tentang hasil dari usahanya hari ini, the D-day. Memikirkannya saja sudah membuatnya serasa diaduk-aduk. Namun tiba-tiba perkataan lelaki yang lebih tinggi itu membuat jantungnya hampir keluar dari tulang rusuknya. “Oh iya, Baekhyun sekarang sudah jam satu-”

“Benarkah? Mengapa kau tidak bilang dari tadi?!” sebelum Chanyeol dapat menjelaskan kalau ia baru saja ingin memberi tau, Baekhyun sudah melesat ke tangga.

Lagi-lagi ia terengah-engah saat ia memasuki ruang musik. Baekhyun melihat ke sekitar namun berbeda dengan hari biasanya ia tidak melihat sosok guru pianonya. Ia hanya melihat teman lesnya seorang lelaki asal Cina, sedang memainkan gitarnya di pojok ruangan. “Yixing, dimana Hyunwoo-seosangnim?” ia bertanya, berusaha menjaga suaranya untuk tidak terdengar seperti orang seusai lomba marathon agar perkataannya dapat terdengar jelas.

Yixing mengangkat kepalanya dan menatap Baekhyun. “Guru sedang sakit. Sepertinya ia tidak akan datang hari ini” jelas Yixing dengan aksen dalam bahasa Koreanya sebelum ia kembali memainkan gitar yang sedang ia pegang, meninggalkan Baekhyun dengan muka pucat.

Sepertinya tidak hanya gurunya saja yang sakit hari ini. Secara tidak sadar tangan Baekhyun menyentuh perutnya. Setelah mendengar berita itu dari mulut Yixing tiba-tiba ia mendapatkan sakit perut dan keringatnya berubah menjadi dingin.

Matanya melihat ke arah piano yang berada di posisinya, tidak pernah berubah. Baekhyun menatapnya seperti berharap piano itu akan tiba-tiba berbicara kepadanya dan memberikan solusi kepadanya. Mungkin ia tidak hanya tiba-tiba ia sakit secara lahir, namun pemeriksaan mental juga nampaknya layak untuk dilakukan.

Apa yang harus kulakukan?

Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk Minseok dapat membersihkan semua sudut di kamar apartment miliknya dan Tao. Ia tidak tau bagian tempat tinggal mana lagi yang Tao gunakan sebagai lemari penyimpanan pribadi. Minseok tau betapa berharganya semua koleksi sepatu, baju dan tas – mari kita tidak lupakan tas-tas yang menimpanya barusan – bagi teman sekamarnya itu.

Ia mengibaskan kedua tangannya saat ia sudah selesai mengklasifikasikan seluruh tas milik Tao berdasarkan warna dan fungsinya masing-masing. Ia menghelakan napas, lega akhirnya ia dapat memulai melakukan apa yang harusnya ia lakukan dari tadi. Matanya melihat ke arah jam, dan Minseok harus menggunakan seluruh kekuatannya untuk tidak berteriak.

Jam 2 siang. Empat jam terbuang percuma. Apabila Tao tidak jauh lebih muda darinya mungkin Minseok sudah akan mengomelinya habis-habisan, namun ia tidak enak hati apabila berkata sedikit keras kepada lelaki yang menyerupai Panda itu.

Minseok setengah berlari kembali untuk mengambil kardus berisikan barang-barang yang akan ia gunakan. Sebelumnya ia memeriksa isi dari kotak tersebut, takut ia melupakan sesuatu yang penting. “Lampu kecil, kabel…” ia menyebutkan tiap barang yang ada dalam kotak itu. “Ah, sudah ada semua” ujarnya. Dengan hati-hati ia mengangkat box itu dan berjalan keluar rumah – tidak lupa menguncinya.

Ia berusaha tidak tergesa-gesa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Minseok tidak langsung naik ke bus untuk pergi ke studio tempat Luhan sudah memesankan tempat. Kakinya membawanya ke jalan yang ia sudah kenal, tidak jauh dari kompleks apartment tempat ia tinggal. Senyum muncul di wajahnya ketika ia melihat papan nama sebuah toko pastry yang sudah tidak asing lagi.

Suara bel pelan menandakan kedatangannya. Ia menyeringai senang ketika temannya yang berdiri di balik counter melambaikan tangannya. “Hai Joonmyeon!” sapa Minseok saat dia berjalan ke arah Joonmyeon. Lelaki yang lebih muda menatap kardus yang dibawa oleh Minseok dengan tatapan tertarik.

“Apakah itu perlengkapannya?” Joonmyeon bertanya sambil menunjuk kotak yang Minseok letakan di samping mesin kasir. Minseok hanya memberikan sebuah senyuman ketika lelaki yang lebih muda menarik kardus tersebut dan melihat isinya. “Kau yakin mempunyai waktu untuk memasang semua ini?” tanya Jonnmyeon.

Minseok mengangkat kedua bahunya. “Aku bisa saja pergi lebih awal – Luhan menelponku cukup pagi. Namun sebelum berangkat aku menemukan barang-barang milik Tao berceceran” mendengarkan penjelasan dari Minseok, Joonmyeon hanya tertawa.

“Kekurangan dari teman sekamar?” ujar Joonmyeon dan Minseok tidak bisa tidak mengakui hal tersebut. Walaupun ia tidak merasa keberatan untuk merawat orang lain yang bukan dirinya sendiri.

Perhatian Minseok teralihkan ke kue-kue yang terpajang rapih. Ia dapat melihat berbagai macam kue. Kue cokelat, black forest, dan ada pula rainbow cake. Semuanya terlihat begitu enak di mata Minseok walaupun alasan utama repot-repot membeli kue bukanlah untuk kepuasannya sendiri. “Joonmyeon, aku pesan kue ini” jari telunjuk Minseok mengetuk-ngetuk kaca, menunjuk sebuah kue.

Joonmyeon tersenyum. “Baiklah, satu kue cokelat putih dengan strawberry. Aku akan membungkusnya… Minseok hyung, hyung! Hyung mau kemana?!” Jonnmyeon setengah berteriak. Minseok memutar tubuhnya dan menyeringai lebar.

“Joonmyeon-ah, aku sibuk. Shift-mu akan berakhir sebelum jam 5 ‘kan? Tolong antarkan kuenya ya! Aku akan mengganti uangnya nanti!” ucap Minseok sebelum keluar dari toko kue, meninggalkan Joonmyeon yang mulutnya masih ternganga.

Lima toko. LIMA toko dan seorang Huang Zitao masih belum menemukan apa yang ia cari. Tentu saja dalam petualangannya di mall ia menemukan beberapa benda yang menarik perhatiannya. Namun benda-benda itu tidak lain dan tidak bukan adalah pakaian pria yang hanya bisa dipakai apabila tinggimu lebih dari 180 cm, seperti Tao.

Tao menghelakan napasnya saat ia duduk di pinggiran air mancur di depan mall yang baru saja telusuri. Kakak kelasnya, Yifan memang sering memberitaunya “Selalu ada yang pertama kali untuk semua hal” Tao mengingat perkataannya, dan hal ini hanya membuatnya semakin depresi. Ia tidak pernah menduga hari dimana ia tidak dapat berbelanja dengan nyaman akan tiba. Bukan berarti ia tidak senang melakukannya. Justru Tao sangat senang dan adrenalin memompa dalam dirinya, namun seperti melakukan level tersulit dalam game. It’s simply a bittersweet kind of thing.

Berdiri, Tao kembali dengan sepercik semangat dan sedikit harapan. Ia berjalan menuju toko keenamnya hari ini. Dan berbeda dengan toko yang biasanya ia kunjungi, tempat ini meneriakan hormon wanita dimana-mana. Rok, blouse, sepatu heels.

Tolong aku… pinta Tao tidak pada seorang pun saat hampir semua populasi di dalam toko menatapnya. Dan ini adalah hal memalukan paling besar dalam hidupnya yang paling tidak terulang untuk keenam kalinya. Menarik napas panjang, Tao berusaha mengabaikan tatapan aneh yang ia peroleh.

Ia mendekati sebuah rak dimana mereka memajang pakaian wanita dari kemeja, kaos biasa dan rok. Tao melihat ke sekelilingnya, menemukan ia menjadi bahan tontonan bagi pengunjung lainnya. Seperti dimasukkan ke dalam kandang singa, Tao hanya menelan ludahnya. Melihat-lihat ke koleksi baju-baju itu untuk lima menit, barulah Tao sadar betapa konyolnya hal itu. Mana mungkin ia membeli baju perempuan – walaupun itu bukan untuk dirinya? Lagipula ia tidak dapat memastikan apabila baju itu benar-benar bagus apabila ia tidak mencobanya. Dan Tao masih menyukai harga dirinya, terima kasih banyak.

Tao beralih ke kumpulan sepatu. Ia melihat sebuah sepatu yang mungkin cukup pantas untuk dicoba. Tanpa berpikir panjang, Tao mengambil salah satunya dan meletakannya di lantai. Mengeluarkan salah satu kakinya dari sepatunya dan menyelipkannya ke sepatu yang sudah ia pilih. Satu detail yang ia lupakan. Itu sepatu wanita dimana Tao adalah – terakhir kali ia mengecek – masih 100% pria. Apabila semua fakta itu digabungkan maka kita dapat memperoleh tawa yang tidak terlalu disembunyikan dan Tao dengan warna merah sebagai ‘blush-on’ di wajahnya.

Berusaha terlihat ia memang ‘sengaja’ melakukannya, Tao meletakan kembali sepatu itu ke tempat asalnya. Ia berjalan ke arah acak, matanya melihat benda-benda hanya dengan perhatian yang tidak lebih lama daripada 2 detik saja, masih berusaha untuk tidak terlihat malu – walaupun pada kenyataannya ia ingin pergi ditelan bumi saja.

Baju, baju, rok, gelang, kalung, sepatu, jaket. Secara tidak sadar Tao menyebutkan tiap benda yang ia lihat di dalam pikirannya. Ia menggunakan cara ini untuk mengalihkan rasa malu pada kejadian sebelumnya. Kaos, gelang, gelang, sepatu, kemeja, celana panjang, rok, b-

Oh-Panda-Pink-yang-Terbang

Setengah berlari, Tao keluar dari toko itu, berusaha tidak melihat ke belakang dan pengunjung yang masih menatapnya setengah bingung. Ia tidak berhenti berlari bahkan ketika ia sudah di luar. Kakinya membawanya pada satu tempat. Foodcourt. Makanan adalah satu-satunya hal yang dapat menolong seorang Huang Zitao yang sedang di ambang kepanikan. Lagipula ia jelas membutuhkan sesuatu yang membuatnya lupa bahwa matanya baru saja melihat benda yang hanya dapat ditemukan di lemari pakaian ibunya.

Pada saat ini ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi berikutnya kecuali satu hal. Tao sedang dalam sebuah masalah. Mungkin apabila ia tau, ia akan merasa sedikit lega bahwa ia tidaklah sendiri dalam perjalanan roller coaster ini.

NOT-SO-IMPORTANT AUTHOR’S RANT-
Pertama-tama maaf kalau ending part ini gantung, karena harusnya tidak ada perbagian untuk cerita ini/sobs. Sebenarnya baru sadar kalau semua main-character cerita ini adalah bias EXO authors di LSF (or is it most of them?) o_o Thus this story is dedicated to all authors of LSF❤
Part 2 akan diupload… setelah ceritanya selesai diketik/bricked
cr. FYEAH, INFINITE.GIFS @tumblr

Wake up and focus!

2 thoughts on “The Three Words 1/2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s