The Three Words 2/2

The Three Words Poster

Bagian kedua dan terakhir (akhirnya!) untuk The Three Words. Chapter kedua ini bakal lebih panjang, jauh lebih panjang/just saying ._.
Happy long reading~

my confession gushes out

as if i’ve been crazily running;

-part 02 [final]-

Kyungsoo bukanlah penggemar berat dari makanan cepat saji. Walaupun ia benar-benar lapar ia pasti akan menyempatkan dirinya mengunjungi restoran dengan makanan yang benar-benar dimasak. Menatap bungkus burger yang tergeletak di depannya, Kyungsoo menarik napas panjang. Ia sama sekali tidak merasa kenyang. Tapi untuk kondisi seperti ini ia membutuhkan sesuatu yang mengganjal perutnya karena kegiatannya kedepan akan membutuhkan waktu yang maksimal.

Ia melirik seorang ibu dengan kedua anaknya yang juga menikmati makan siang yang sedikit telat. Kyungsoo merasa iri dengan ibu itu. Bukan, ia sama sekali tidak iri kepada dua anak yang berisik itu. Jongin saja sudah sangat sulit untuk diurus dan adik kelasnya itu bahkan bukan anaknya!

Menghelakan napas, Kyungsoo melihat ke plastik belanjaan yang ada di samping tempat duduk ibu itu. Kyungsoo melirik ke sampingnya. Ia berangkat sangat pagi – untuk ukurannya – namun sampai sekarang ia belum membeli apapun, apabila tidak menghitung burger yang terasa hambar di mulutnya.

Penjaga kasir di swalayan melihatnya dengan satu alis terangkat saat Kyungsoo masuk lagi. Sepertinya orang itu mengingat Kyungsoo. Tapi bagaimana tidak? Kyungsoo adalah seseorang yang datang dari awal buka toko itu sampai menjelang makan siang tanpa membeli apapun kecuali permen mint karena merasa tidak enak apabila ia tidak membeli apapun.

Jari telunjuknya bergerak ke satu produk ke produk lainnya. Apakah ia harus membuat daging? Tapi ia sedang tidak membuat makanan untuk Jongin. Sup Kimchi? Sudah biasa. Salad? Memangnya ia sedang dalam proses diet? Dan Kyungsoo tidak ingin memberikan pesan yang salah. “Hah…” menghelakan napasnya, tangan Kyungsoo mengusap wajahnya.

“Haruskah aku membuat appertizer, main course dan dessert?” ia bertanya pada dirinya sendiri. Kyungsoo mengerang saat ia mengingat ia saja tidak bisa menetukan satu hidangan. Dan ia tidak memiliki banyak waktu. Sehebat-hebatnya ia memasak dibandingkan teman-temannya yang hidup dari mie ramen, Do Kyungsoo bukanlah seorang chef. Ia saja tidak yakin bisa masuk ke ajang memasak amatir sekalipun.

Saat ia sedang menangisi nasibnya, handphone-nya berdering dari saku celana. Bibir Kyungsoo membentuk garis lurus saat ia melihat caller ID yang terpampang dengan indah di layar handphone. “Berikan alasan kau menelponmu” katanya tanpa sapaan ‘halo’ sekalipun. Kyungsoo dapat merasakan orang di sambungan yang lain memutarkan kedua bola matanya.

“Kyungsoo hyung, kau tidak perlu marah-marah” ucap Jongin. Perkataannya sedikit menggantung karena Kyungsoo langsung berdehem-dehem. “Iya, iya! Aku hanya ingin bertanya bisakah kau mengganti makan malam itu di hari lain?”

Dibutuhkan beberapa detik untuk Kyungsoo agar ia dapat menangkap apa yang ingin dikatakan oleh Jongin karena lelaki yang lebih muda itu mengatakannya begaikan itu merupakan sebuah bagian rap dari lagu. “Memangnya kenapa?”

“Hyung~~ Aku ingin makan spaghetti Kimchi buatanmu hari ini. Benar-benar~ ingin” Kyungsoo yakin apabila ini bukanlah percakapan di telepon, Jongin pasti sudah melakukan aegyo. Namun dari tawa di latar belakang suara Jongin, entah kenapa Kyungsoo mendapatkan perasaan teman sekamarnya itu memang sedang melakukan aegyo pada handphone-nya.

Kyungsoo berusaha tidak mendengarkan pujian-pujian Jongin tentang masakannya. Sepertinya Jongin melakukan semuanya untuk mendapatkan makan malam berupa spaghetti Kimchi itu. Namun Kyungsoo merupakan hyung yang kebal aegyo – kurang lebih. “Bukankah kau selalu bilang makananku tidak enak? Dan kau terdengar seperti orang yang sedang hamil”

Ia bisa membayangkan Jongin sedang cemberut. “Masakan Hyung memang tidak enak tapi tidak ada yang bisa mengalahkan spaghetti Kimchi buatan Hyung~” Mendengar pengakuan Jongin, sesuatu di kepala Kyungsoo mengeluarkan suara ‘klik’.

“Kau tidak berbohong ‘kan?” tanyanya dan setelah Jongin mengeluarkan suara seperti kata ‘iya’, Kyungsoo mematikan handphone-nya tanpa peduli tentang permintaan Jongin – walaupun ia harus berterima kasih kepadanya di lain waktu. Senyum merekah di wajahnya karena tidak ada 15 menit dari ia mematikan telepon dari Jongin, ia sudah berada di depan penjaga kasir yang bertubuh tinggi kurus yang dari tadi memandangnya aneh.

Senyum Kyungsoo tidak hilang walaupun kasir itu terus melihatnya sambil men-scan semua barang belanjaan milik Kyungsoo. Mereka tidak berbicara apa-apa, yang terdengar ada suara beep dari mesin kasir sementara si kasir yang tinggi putih itu tetap bermuka datar dan Kyungsoo kembali menjadi jelmaan Chesire Cat. “Akhirnya kau dapat memutuskan untuk membeli apa” komentar si kasir yang sepertinya sedikit cadel saat mengucapkan huruf ‘s’.

Kyungsoo tidak mengatakan apa-apa sampai ia sudah memegang dua plastik penuh akan bahan-bahan makanan. Ia melirik ke nametag yang berada di baju kasir itu sebelum menyeringai kepada lelaki yang lebih tinggi itu. “Aku butuh sedikit waktu agar semuanya sempurna, Oh Sehun-sshi” Kyungsoo membiarkan nama itu berlahan meninggalkan mulutnya.

Sehun – si kasir yang Kyungsoo duga sebagai seorang part-timer, hanya mengedipkan matanya. Namun Kyungsoo tidak ingin membuang waktunya percuma. Biarlah si kasir menyelesaikan rasa bingungnya sendiri anggaplah itu balas dendam kecil-kecilan karena berusaha membuat Kyungsoo kesal di tengah kolam kebahagiaannya.

“Yixing, bagaimana dengan yang ini? Apakah ini terdengar bagus?” Baekhyun berteriak di tengah permainan pianonya. Ia menekan not-not piano dengan apa yang ia ingat. Bahkan lagu apa yang ia mainkan saja Baekhyun tidak yakin. Tapi ia tetap menatap Yixing dengan mata penuh harapan.

Namun sepertinya lelaki asal Cina itu kurang setuju dengan senyuman Baekhyun yang sedikit dipaksakan itu. Jari telunjuk Yixing menggaruk dagunya – berpikir dengan kata-kata apalagi ia harus menjelaskan ini kepada teman lesnya. “Aku rasa memainkan instrumental lagu BTOB Insane tidak akan menghasilkan efek yang baik maupun apa yang kau harapkan”

Baekhyun mengahantamkan tangannya ke tuts piano dengan kasar, membuat Yixing meringis ketika suara piano keras menggema di ruangan kedap suara itu. “Mengapa tidak?!” Baekhyun setengah berteriak dan bahkan dirinya sendiri merasa ia terdengar seperti anak kecil. Tapi apa boleh dikata, ia adalah lelaki yang sedang putus asa. Seharusnya ia menyiapkan strategi cadangan namun tidak, ia tidak memilikinya. Untuk itu ia menjatuhkan kepalanya ke atas tuts piano – tidak peduli akan permukaan yang keras atau Yixing mengingatkannya itu dapat merusak piano.

Ia menggumamkan nada-nada lagu yang pernah atau tidak pernah ia dengar. Matanya melirik ke pintu studio yang terdapat kaca. Baekhyun sering protes kepada gurunya karena ia tidak senang seseorang melihatnya. “Hmm… aku pasti gila karena melihat sebuah bakpao berjalan melewati lorong…”

Yixing menutupi wajah dengan tangannya. “Aku tidak percaya kau mengatakan tentang Minseok hyung…” ujarnya pelan. Mungkin perkataan Baekhyun ada benarnya, Byun Bacon sudah gila, titik. Namun Yixing hanya mendekati Baekhyun yang masih menyanyikan lagu dan makin lama semakin keras.

“Memangnya kau ingin melakukan apa sih?” tanya lelaki Cina itu. Baekhyun mengangkat kepalanya. Ia tidak mengatakan apa-apa tapi terlihat jelas bahwa wajahnya sedikit memerah. Tidak ada satu detik, kata-kata sudah keluar dari mulutnya seperti banjir bah.

Menaikan salah satu alisnya Yixing berusaha mendengarkan dan memahami arti dari kata-kata yang keluar dari mulut Baekhyun. Mencoba mungkin lebih pantas digunakan karena pada ujung-ujungnya kalimat yang dikeluarkan lelaki yang lebih muda darinya terdengar seperti semacam jampi-jampi. Tapi saat akhirnya Baekhyun berhenti berbicara, Yixing dapat mengerti – mungkin, karena ia mengangguk-angguk layaknya orang yang paham.

“Jadi kau-“

Baekhyun mengangguk bahkan sebelum Yixing mengucapkan apa yang ia tangkap dari monolog Baekhyun barusan. Wajah Yixing tiba-tiba menjadi lebih tenang dan senyum muncul di wajahnya; lesung pipit dapat terlihat di pipinya. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi?” Baekhyun menatapnya bingung saat Yixing mengambil posisi di samping Baekhyun, membuat lelaki yang satunya harus bergeser agar tubuh Yixing muat untuk duduk di kursi piano.

Jari-jari Yixing menyentuh tuts piano dengan lembut. Ia melirik ke arah Baekhyun. “Aku dapat membantumu” Baekhyun merasa dibalik aksen dari perkataan Yixing, teman lesnya itu tau apa yang ia akan lakukan. Tetapi itu tidak membuatnya dapat menahan diri untuk tidak menelan ludahnya.

“Tapi kau tidak bisa membaca partitur”

“Tapi aku bisa membantumu” balas Yixing saat ia memainkan not-not piano tanpa bimbingan. Hanya berdasarkan perasaannya saja. “Tadi aku kira kau sedang ingin membuat pertunjukan kecil untuk orangtuamu atau apalah”

Wajah Baekhyun sedikit memerah, teringat bahwa ia memang pernah mengatakannya. Namun matanya berubah saat ia melihat ke arah Yixing lagi. Di dalamnya ada sedikit harapan. “Berarti aku boleh memainkan lagu yang sebelumnya kumainkan?”

Yixing berhenti bermain untuk melihat ke arah Baekhyun yang tersenyum lebar. “BTOB Insane?” Baekhyun menganggukan kepalanya seperti bobble-head. Pria Cina itu menyembunyikan tawa saat ia memainkan beberapa not di piano, ruangan kembali terisi suara merdu saat ia memberi jawaban. “Tentu saja tidak

“Maaf nomer yang Anda tuju tidak bisa dihubungi. Silahkan tinggalkan pesan-“

Dengan jarinya Tao mematikan handphone miliknya. Ia mengerang keras-keras; sudah tidak peduli bahwa ia berada di tempat umum dan dengan berteriak maka setengah pengguna jalan akan memandangnya dengan aneh. Tao berusaha menghubungi temannya untuk saran – atau paling tidak menyebutkan benda apapun ketika ditanya. Mungkin Tao tidak akan peduli apabila temannya mengatakan boxer, karena hal itu terdengar lebih jelas dari benang kusut di otaknya.

Setelah makan siang – yang menghabiskan setengah dari uang yang ia bawa – Tao berusaha menggunakan serpihan keberuntungan terakhirnya dengan mencoba memasuki toko-toko secara acak. Namun ia belum dapat menemukan sesuatu yang ia anggap pantas. Adapun ia menemukan sebuah benda, Tao hanya meringis karena orang yang ia lihat membeli barang itu memakai mobil mewah dengan seorang asisten yang mengikutinya.

Dan terakhir kali ia memeriksa dirinya, Tao bukanlah anak seorang chaebol atau CEO sebuah perusahaan seperti tokoh-tokoh film drama yang ia tonton di waktu luangnya. Jadi pada akhirnya Tao hanya berjalan melewati toko-toko yang kurang mewah dengan wajah lesu. Ia tidak percaya ia akan pulang dengan tangan kosong.

Semua usahanya bertujuan untuk hari ini saja telah memakan seluruh kekuatan mentalnya untuk tiga bulan penuh, dan sekarang semuanya akan terbuang percuma. Apa yang harus ia katakan nanti? Maaf aku lupa? Terlalu klasik. Nanti akan kubelikan? Bahkan Tao sendiri akan kesal apabila seseorang mengatakan itu kepadanya.

Saat ia berjalan berlahan melewati kerumunan orang ia melihat sebuah stand kecil di pinggiran jalan. Sesuatu menangkap matanya. Kakinya berhenti dan Tao memutarkan tubuhnya untuk melihat benda-benda yang terjejer secara acak – namun cukup terklasifikasi untuk dilihat dengan nyaman.

Ia tidak sadar ketika jarinya mengambil sebuah kalung. Rantai tipis berwarna silver jatuh di antara jari-jarinya. Senyum muncul di wajahnya, giginya terlihat dari dalam mulutnya. Namun gerakan bibirnya detik itu berbeda dengan senyum yang sering muncul di saat bunyi mesin kasir terdengar dan ia melihat tas GUCCI yang ia beli dimasukkan ke dalam kantung belanja. Karena di saat cahaya matahari sore yang berwarna jingga menyentuh leontin yang menggantung di tangannya, pikiran Tao sudah jauh, jauh menuju mata yang bersinar di balik sepasang kacamata.

“Maaf ada yang bisa kubantu” Tao melihat ke arah orang yang bertanya. Seorang pria muda yang bertubuh lebih pendek dari Tao dengan rahang yang jelas terlihat, senyum ramah terpasang di wajahnya. Menduga bahwa lelaki tersebut adalah penjual dari benda-benda di atas meja itu, Tao menganggukkan kepalanya.

Tao meyerahkan kalung itu hati-hati ke tangan penjual itu. “Aku ingin membeli benda ini. Apakah bisa sekaligus dibungkus?” tanyanya dan ia dijawab pendek dan cepat oleh si penjual.

“Tentu saja” Lelaki yang bertubuh lebih pendek itu meraih kertas kado dan selotip berserta sebuah kotak kecil. Tao terus memandang si penjual itu melakukan pekerjaannya. Ia tau hal itu kurang sopan, namun entah kenapa ia sangat khawatir sesuatu hal yang buruk dapat menimpa nasib kalung yang merupakan hasil ‘pencariannya’ hari ini. Bahkan mungkin Tao sampai tidak mengedipkan matanya. Tao terus memperhatikan box yang sudah dihias itu sampai si penjual melambaikan kepadanya.

Mengedipkan matanya beberapa kali, Tao akhirnya sadar maksud dari penjual itu. Merogoh isi dompetnya, ia mengambil sejumlah uang berdasarkan tag harga di kalung yang sekarang berada rapih di dalam sebuah kotak yang dilapisi kertas berwarna orange muda dengan pita dengan warna baby blue. Secarik kertas kecil menggantung di pita yang telah terikat pada kotak itu seakan-akan memang ditakdirkan bersama. “Berapa biaya untuk kertas kadonya?”

Pria yang lebih pendek itu hanya tertawa. Hal ini sering terjadi pada Tao. Beberapa orang menaggap aksennya lucu, entah baik maupun buruk – walaupun lelaki di depannya dapat dikategorikan sebagai ‘baik’ dalam hal ini. “Maaf,” sahut pria itu. “Gratis. Aku tidak memungut biaya, apalagi bila alasanmu adalah sesuatu yang semanis itu” Tao tidak bisa melawan rona merah yang muncul di wajahnya saat mendengar perkataan orang tersebut apalagi dengan sorotan mata ‘aku-tau-itu’ yang ditujukan kepadanya. Ia hanya membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terima kasih sebelum berencana pergi.

Saat ia membalikan badannya, samar-samar terdengar suara lagu. Saat ia melirik ke belakang lelaki penjual sedang mengangkat sebuah panggilan di handphonenya. Tao mengangkat bahunya saat ia berjalan, namun ia masih dapat mendengar sedikit bagian dari percakapan orang tersebut.

“Bukankah sudah kukatakan berulang kali Luhan hyung, namaku bukan jeruk(1) tapi Chen! Jongdae saja tidak apa-apa-“

Selanjutnya Tao tidak bisa mendengarnya lagi, karena saat ia melihat kotak yang ada di tangannya, senyum kembali muncul di wajahnya dan tanpa sadar ia menggumamkan lagu yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Lagu-lagu yang biasanya ia tidak ingin dengar berkisah cinta terlalu manis untuk seleranya. Namun pada kenyataannya ia sekarang tengah menyanyikan lagu-lagu itu di bawah langit sore.

Memasang bohlam terakhir, Minseok tersenyum kepada dirinya sendiri, puas akan hasil jerih payah dari usahanya. Ia melihat ke langit yang semakin lama semakin gelap namun belum sepenuhnya menelan matahari. Menatapnya sekali lagi, Minseok menghelakan napas.

Terkadang ia sering bertanya-tanya mengapa ia terlahirkan dengan sedikit OCD. Apabila ia tidak memilikinya mungkin ia tidak akan terlalu tergesa-gesa karena banyak waktu terlewatkan karena teman sekamarnya tidak memiliki kemampuan dalam membersihkan barangnya sendiri dan membutuhkan bantuannya setiap kali.

Dan mungkin Minseok tidak harus berusaha menjabak rambutnya sendiri karena sebuah kabel yang tidak ingin disembunyikan dari pandangan. Minseok membutuhkan lima belas menit hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa kabel itu tidak terlihat. Bahwa seutas tali dengan listrik mengalir di dalamnya itu tampak sinkron dengan latar belakangnya.

Minseok melirik ke kabel itu sekali lagi sebelum memukul kepalanya sendiri. “Aish, Minseok! Berhenti.Melihat.Kabel.Yang.Sudah.Terlihat.Sempurna” ia saja masih dapat mendengarkan sarkasme di suaranya. Minseok menggeram pelan sebelum mengalihkan perhatiannya kepada bagian lain dari atap gedung yang ia telah sulap dalam waktu yang relatif singkat.

Ia menatap meja dengan dua kursi di tengah-tengah. Senyum kecil muncul di wajahnya saat ia membayangkan pembicaraan apa yang akan mereka miliki di bawah bintang-bintang malam itu. Memang sangat cheesy tapi Minseok tidak bisa menghentikan pikiran itu bermain di dalam kepalanya. Namun di saat ia tengah menikmati khayalannya.

Bergumam pelan, Minseok mengangkat panggilan itu. “Halo?”

“Minseok hyung!” ia mengenal suara Joonmyeon di sisi lain. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh saat mendengarkan nada panik Joonmyeon. Tetapi sebelum ia sempat bertanya, ia sudah langsung diberikan jawaban, jawaban yang mungkin membuatnya teramat panik. “Maafkan aku Minseok hyung, sepertinya aku tidak bisa mengantarkan kuenya. Chanyeol tidak bisa datang tepat waktu pada shiftnya dan toko sedang penuh”

Minseok jelas sangat kaget. Namun memarahi Joonmyeon tidak akan menyelesaikan apapun. “Tidak apa-apa, aku akan menemukan cara” Minseok memberitaunya. Joonmyeon terdengar merasa tidak enak karena sebelumnya sudah berjanji – walaupun pada kenyataannya Minseok memintanya tanpa informasi apapun. Tapi pada akhirnya hubungan telepon itu berakhir dengan matanya menatap layar handphone yang hitam.

Melihat ke langit lagi, Minseok berteriak keras. “Apa yang harus kulakukan?!” tanyanya pada dunia.

Entah kenapa ia merasa semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Mungkin noda cokelat di meja – yang tiba-tiba ia ingat – bertanda lebih dari Minseok harus mengingatkan Tao mengenai kebersihan. Minseok bukanlah tipe orang yang mempercayai hal-hal macam itu. Namun apakah ia bisa tidak percaya akan hal itu sekarang?

Walaupun begitu Minseok ingat bagaimana senangnya ia ketika Luhan menelponnya pagi ini. Mendengar berita itu langsung membawa pikirannya kepada seseorang yang ia ingin temui hari ini ataupun hari lainnya. Minseok masih mengingat saat-saat Luhan memberitaunya – entah kenapa semua suara di belakangnya tidak terdengar pada waktu itu.

Ia masih mengingat Luhan mengatakan bahwa ia sudah meminta izin kepada pemilik gedung. Minseok teringat ia ingin bertanya bagaimana sahabatnya itu dapat membuat pemilik gedung yang terkenal dengan keengganannya untuk meminjamkan bagian atap dari bangunan itu mau meminjamkannya kepada Minseok. Bahkan ia teringat permintaan konyol berikutnya. Minseok tentu saja tau hari ini bukanlah tanggal 20 April – memikirkannya saja membuatnya memutarkan bola matanya.

Tunggu dulu…

Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Dengan satu gerakan cepat ia menghubungi sahabatnya. “Luhan,” panggilnya tanpa basa-basi. Ia mendengar gerutuan Luhan karena ia tidak suka diganggu di saat sibuk – walaupun Minseok yakin arti kata ‘sibuk’ di kamus milik Luhan tidaklah jauh berbeda dengan ‘mengganggu’. “Luhan, katakan dimana aku bisa mendapatkan benda itu!”

“Baozi, apa yang kau maksud?” Luhan bertanya di saat ia tidak mengerti apa yang Minseok maksud dengan ‘benda’. Untuk itu Minseok memukul kepalanya secara mental saat berlari menuruni tangga dan melewati Chanyeol dan Kris – duo rapper yang menjulang seperti menara – ketika ia keluar dari studio.

Matanya setengah memperhatikan jalan saat ia terus bergerak di antara kerumunan. “Cupcake Luhan. Cupcake!” ia mendengar Luhan menarik napas karena kaget – atau apalah reaksi berlebihan sahabatnya. Minseok sudah dapat membayangkan muka Luhan dipenuhi oleh senyum lebar.

“Baozi, kau benar-benar akan membelikan cupcake untukku?” Minseok hanya ingin menghelakan napas saat mendengar secercah harapan dan ‘kebahagiaan’ di nada bicara sahabatnya.

Jangan pernah keluar rumah di saat matahari tenggelam, itu yang selalu dikatakan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Pada saat itulah bumi mengalami perubahan paling pesat. Cahaya matahari akan meredup saat berlahan ia membagi cahayanya kepada sisi lain dari planet ini. Langit yang awalnya biru berubah menjadi jingga dan terkadang awan berwarna pink dan ungu menghias langit.

Seperti saat matahari tenggelamlah perasaan Tao saat ini. Indah namun sedikit mmembuat bulu kuduk merinding seperti cerita menakutkan yang diberitau orang dewasa di sekitarnya saat ia masih anak-anak. Namun sesuatu di dalam dadanya seperti langit pada detik ini. Dipenuhi oleh awan yang menyerupai cotton candy.

“Tao Oppa!” ia memutarkan tubuhnya ke arah suara yang memanggilnya. Walaupun berbeda dengan suara perempuan seumurannya, Tao selalu menganggap suara yang sedikit serak itu menyenangkan untuk di dengar. Tanpa aba-aba ia sudah tertawa pelan saat seorang gadis yang ia kenal mendekatinya.

Ia mendengarkan detak jantungnya sedikit lebih cepat ketika wajah di depannya menjadi satu hal yang hanya ia dapat perhatikan. “Maafkan aku, jalanannya tadi macet” Tao sedikit merasa jahat karena, Tuhan, ia tidak bisa memproses perkataan perempuan di depannya karena tiap detik berlalu ia gunakan untuk tidak bersorak dan berlari seperti orang gila.

“Tidak apa-apa” ujar Tao berlahan. “Aku juga baru datang”

Gadis di depannya mengangkat satu alisnya dengan tatapan penuh tanya sebelum menandakan Tao untuk mulai berjalan. Lagipula acara kecil yang akan mereka hadiri akan mulai dalam beberapa saat. Tetapi sebelum ia dapat berjalan, Tao memegang pergelangan tangannya. “Tunggu”

Tao menelan ludah saat ia meletakan sebuah kotak kecil di tangan perempuan dengan kacamata itu. Ia melihat wajahnya yang penuh dengan kekhawatiran saat matanya dapat menangkap pantulan dirinya di lensa kacamata. Lama kelamaan gambarnya semakin menggelap dan hilang. Tao yakin saat ia mendongak ke atas ia akan melihat bintang-bintang di langit.

Tapi itu tidak membuatnya berhenti untuk bertanya kepada dirinya sendiri apabila bintang sudah berpindah tempat dari rumahnya di langit. Berpindah ke hadapannya dengan jelmaan dua bola mata yang bersinar ketika menatapnya. Membuat wajah Tao sedikit memerah dan ia tak mampu berkata.

“Tao-ah, terima kasih”

Hanya dengan caranya mengucapkan namanya. Ketika tiap hurufnya meninggalkan mulutnya. Saat ucapan terima kasih itu terasa jauh lebih berarti daripada saat Yifan membelikan tas GUCCI sebagai hadiah terlambat untuk ulang tahunnya. Di menit ia melihat perempuan yang bersinar bagaikan bintang di langit, Huang Zitao merasa ia sedang diikat di sebuah roket dan diterbangkan ke bulan tanpa ada satu-dua-tiga.

“Dimana Jongin?”

Kyungsoo hanya menjawab bahwa teman sekamarnya itu sedang berada bersama dengan teman-temannya. Ia sengaja tidak mengatakan bahwa Do Kyungsoo melakukan segala cara agar Kim Jongin tidak ada di apartment milik mereka malam ini, walaupun hanaya untuk satu dua jam. Itu, atau ia sudah terlalu nervous untuk teringat akan fakta itu.

Menetup pitunya pelan, Kyungsoo menutup matanya. Ini semua adalah mimpi. Ia tidak percaya semua ini terjadi di depan matanya. Terlalu indah untuk menjadi sebuah kenyataan namun Kyungsoo tidak perlu memukul mukanya sendiri untuk meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi atau bagian dari khayalan. Saat ia memasuki ruang tamu ia sudah melihat seorang perempuan yang tanpa tau malunya sudah dengan nyamannya menempatkan dirinya di atas sofa.

Tawa kecil keluar dari sela-sela bibirnya. “Memangnya kenapa?” tanya gadis yang beranjak dari sofa putih itu. Kyungsoo hanya menggelengkan kepalanya. Ia selalu menganggap sikap agak-masa-bodoh itu selalu menyenangkan dan menarik perhatiannya. Membuatnya selalu merasa ingin menolongnya di saat ada sesuatu, besar maupun kecil.

“Tidak, tidak” itu adalah sebuah kebohongan. Namun senyum di wajah mereka menandakan bahwa keduanya sadar akan arti dari kata itu digabungkan dengan nada bicara Kyungsoo. Yang mungkin tidak gadis itu sadari adalah Kyungsoo semakin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak meleleh di titik ini juga. Ia berdehem-dehem, berusaha menemukan suaranya kembali. “Kau ingin makan sekarang? Aku sudah memasakkan kita makan malam?”

“Benarkah?” tanpa menunggu respon dari Kyungsoo, lelaki itu langsung ditinggalkan. Suara langkah kaki menuju ruang makan. Dan Kyungsoo sangat lega karena walaupun ia sudah jam karet, ia masih sempat membersihkan apartment mereka yang bisa dikira sebagai kandang babi – karena seseorang dengan nama Kim Jongin – kalau tidak setumpuk buku di tengah jalan dapat membuat perempuan itu terjatuh.

Kyungsoo menelan ludah saat ia duduk di kursi makan, berhadapan dengan seseorang yang ia sangat sukai, sangat walaupun mungkin untuk mengatakannya Kyungsoo belum dapat menemukan keberaniannya. Gadis itu menatap makanan di hadapan mereka. Tangannya tiba-tiba mulai berkeringat. Ia harusnya tau lebih baik untuk tidak mengikuti perkataan Jongin – walaupun sebenarnya ia mendapatkan ide itu dari Jongin bukan atas usulan dari teman sekamarnya itu.

“Kimchi Spaghetti?” suara pelan bertanya dan otak Kyungsoo langsung overheat, tidak tau dengan respon apa ia harus menjawab atau gestur apa yang harus ia lakukan. Pada ujungnya ia hanya mengeluarkan beberapa suku kata yang tidak jelas ataupun dapat membentuk kata yang benar saat perempuan di depannya mulai memakan satu sendok dari piringnya.

Apabila seseorang merekam ini mungkin yang mendengar akan mengira rekaman itu adalah suara kaset rusak karena Kyungsoo. “Tidak.Jongin.Bingung.Jelek.Aku.Sehun.Swalayan.Suka-“

Ia dihentikan oleh sebuah tangan yang ada di depan wajahnya. “Jangan katakan apapun, karena kau harus mendengarku” Kyungsoo mengedipkan matanya, bingung saat perempuan itu meneguk air putih dari gelas yang terletak di samping piring. “Kyungsoo kau harus tau…” aba-aba menelan ludah untuk Kyungsoo. “Bahwa ini enak sekali!”

Mata Kyungsoo menjadi lebih lebar dari biasanya saat perempuan itu sudah melanjutkan makannya. “Benarkah?” ia dijawab dengan anggukan penuh semangat yang membuat Kyungsoo sedikit khawatir perempuan itu akan menjadi mual. Namun hal itu tidak terjadi, ia tetap memakan Kimchi Spaghetti buatan Kyungsoo.

“Ah, Kyungsoo, ini sangatlah enak. Aku jadi ingin menikahimu” walaupun perkataan itu disuarakan di antara kunyahan, itu tetap membuat Kyungsoo kehilangan suaranya, wajah berubah warna menyerupai warna Kimchi.

Minseok tersenyum sendiri saat kedua tangannya masih menutupi setengah wajah milik seseorang. “Minseok-ah, apakah kita sudah sampai?” namun Minseok tidak bisa langsung memberikan jawabannya. Matanya menatap kea tap gedung yang telah ia makeover sebelumnya. Langit tidaklah terlalu gelap karena lampu-lampu dengan berbagai ukuran telah menghiasi tempat itu.

Matanya melihat ke meja di tengah-tengah tempat itu dan sesuatu seperti dijatuhkan ke dalam perutnya. Ia menelan ludah. “Ya” jawabnya saat akhirnya kedua lengannya kembali ke sisi badannya. Minseok tersenyum kecil saat perempuan di depannya menengok ke belakang. Sepertinya satu detak jantungnya terlewatkan saat mata berwarna coklat itu menatap ke arahnya.

Ia adalah pembohong apabila ia tidak menganggap mata itu mengingatkannya sedikit kepada noda di meja putih yang sekarang berada di kamarnya. Namun, jangan anggap salah perumpamaan yang dibuat oleh Minseok. Karena tidak ada yang dapat membuat lelaki OCD ini melupakan keberadaan sedikit noda itu di pikirannya dan tidak ada siapapun yang dapat menyangkal hal tersebut. Bisa dikatakan gadis yang masih terpukau dengan suasana di atas atap itu merupakan salah satu bagian dari Obesessive Compulsive Disordernya. Dan kali ini Minseok tidak bisa menertawakan kemungkinan tersebut.

Walaupun ia sedang merasa senang, Minseok tetap merasa kurang nyaman ketika ia melihat satu bohlam tampak miring sedikit atau kabel yang ia terus berusaha anggap tidak menonjol dari latar belakangnya. Namun seberapa banyak kesalahan, kemiringan, ketidaksempurnaan yang Minsek lihat, senyum di wajah perempuan itu tidaklah hilang.

“Apakah itu kuenya?” Mata Minseok melebar saat gadis yang ia sukai itu mendekati meja yang ada di tengah-tengah. Minseok berada beberapa langkah di belakangnya. Sebelum laki-laki itu dapat membuka mulutnya untuk menjelaskan mengapa ia tidak dapat membelikan kue, perempuan itu sudah terlanjur melihat kue kecil dengan satu lilin di atasnya – Minseok ingin meletakan lebih tapi permukaan Cupcake hanyalah seper-berapa dari kue biasa. “Cupcake?”

Minseok berpikir apakah ia harus berbohong dan berkata: ‘tidak, kue sebenarnya bukan itu’ dan kemudian di saat ia tidak diperhatikan Minseok akan berlari dan menaiki bus menuju bakery tempat Joonmyeon masih bekerja mengingat rekannya Chanyeol belum dapat tiba sampai sekarang. Ia memikirkan pilihan itu untuk beberapa saat, tetapi akhirnya ia mengucapkan kebenarannya. “Kalau saja aku membelinya saat itu juga aku tidak perlu memberikanmu ‘kue’ kecil ini” tambahnya pelan.

Ia melihat jari-jari lentik menyentuh Cupcake itu seakan-akan itu terbuat dari gelas dan dapat hancur seketika. Yang Minseok tidak duga adalah senyum yang menggantikan garis tipis yang ada di wajah gadis itu. Sekali lagi Minseok bertemu dengan mata yang berwarna coklat, membuat napasnya semakin cepat. Suara seperti ledakan muncul sebagai suara latar.

“Minseok-ah, terima kasih banyak. Semuanya sempurna” kata-kata itu berlahan memasuki telinganya, seiring dengan dicernanya setiap huruf, mulutnya sedikit terbuka. Minseok tidak mengatakan apa-apa mengenainya, tetapi ia merasa dirinya dapat mempercayai ucapan itu tanpa OCDnya menghalangi. Ia hanya mengangguk pelan, mata masih melekat kepada dua bola berwarna coklat hangat yang bersinar karena lampu di sekeliling mereka dan pantulan warna-warni dari kembang api yang menghiasi langit.

Walaupun mereka berada cukup jauh dari festival yang sedang berlangsung, ia dapat melihatnya dari kaca yang membatasi bagian dalam toko instrumen musik itu dengan jalan di depannya. Langit seperti di belah dan memuntahkan pelangi. Walaupun hanya beberapa warna yang sama, merah, hijau dan kuning; tipikal warna kembang api pada umumnya, itu tidak membuat Byun Baekhyun melepaskan pandangan itu dari pengelihatannya maupun pikirannya.

Ia memutar tubuhnya, masih menyengir, Baekhyun menatap perempuan yang masih memiliki ekspresi bingung di wajahnya. Tapi mungkin itulah yang membuat Byun Baekhyun semakin bersemangat. Lagipula Yixing – yang secara otomatis resmi menjadi temannya – telah memberikan saran-saran yang Baekhyun yakin rencananya tidak akan gagal.

Dan untung saja sebagai ganti dari tidak bisa mengajar Baekhyun pada hari ini. Guru pianonya, Hyunwoo mengizinkan Baekhyun untuk bebas melakukan apapun di tokonya. Lagipula Hyunwoo terlalu tidak enak badan untuk membuka toko musiknya.

“Ayo!” sahutnya saat menarik lengan perempuan yang masih diam saja. Ia membawanya ke satu pojok di toko alat musik itu, melewati berjejer biola yang disusun berdasarkan ukurannya dan sebuah drum set. Benda yang mereka dekati merupakan benda yang cukup besar dan benda yang sudah menemani Baekhyun semenjak siang hari.

Satu alis terangkat di wajah perempuan itu ketika Baekhyun duduk di kursi piano dan mengangkat penutupnya. “Kau akan bermain piano?” Baekhyun hanya menjawabnya dengan senyuman seakan menjawab ‘iya’. “Apa yang akan kau mainkan?” tanyanya lagi saat mendekati dimana piano dan Baekhyun berada.

“Kau di sana saja” ucap Baekhyun saat ia merenggangkan jari-jarinya. “Yang kau perlu lakukan adalah melihat” saat ia mengatakan ini nada-nada piano mulai dapat terdengar. Baekhyun tidak dapat mengingat lagu apa yang ia mainkan karena sekarang semua perhatiannya tercurah kepada sebuah wajah yang menunjukkan seribu perasaan.

Baekhyun tidak menghafal lagu apapun. Di hari sebelumnya ia mendengarkan berbagai jenis lagu, dari ballad, pop dan mungkin ia bahkan mendengarkan lagu rock. Tetapi ia mengikuti pesan Yixing seperti seorang amatir mengikuti sebuah tutorial. Jangan fokuskan dirimu pada apa yang ingin dia lihat darimu, tunjukkan apa yang kau lihat darinya.

Dan itu tepat apa yang ia sedang lakukan. Ia ingin memberi tau kalau ia selalu menganggap pembicaraan mereka yang berat sebelah menyenangkan. Bahwa Byun Baekhyun yang selalu menjadi dirinya yang memiliki mulut tanpa kunci juga pernah menutup mulutnya karena kehadiran seseorang. Seorang perempuan yang masih melihatnya dengan wajah datar. Namun Baekhyun mengenalnya lebih baik daripada itu. Dan ia merasa senang karena gadis di depannya mulai tersenyum.

Tapi tertawa bukanlah apa yang ia harapkan.

“Kenapa kau tertawa?” Baekhyun bertanya dengan nada seperti anak-anak. Ia cemberut saat perempuan di depannya berusaha menahan tawa. Ia sudah memutar tubuhnya sehingga ia dapat berhadapan dengan perempuan yang masih tertawa kecil. “Yah, memangnya apa yang lucu?” Lelaki itu dibuat terkejut ketika sebuah jari telunjuk mengarah kepadanya. “Aku?”

“Ekspresimu aneh” kata gadis itu masih menahan senyuman kecil yang merusak usahanya untuk tidak membuat Baekhyun kesal. Namun berbeda dengan apa yang ia takutkan, seorang Byun Baekhyun memiliki satu kelemahan – senyum langka yang sekarang sedang menghiasi wajah perempuan yang ia suka. Ia ingin mengatakan itu tapi Baekhyun berusaha melanjutkan rencananya. Tapi bukannya rencananya selalu memiliki kendala?

Dan kali ini masalahnya adalah mulutnya yang tidak memiliki resleting untuk menutupnya rapat-rapat.

Baekhyun mengeluarkan desahan dengan suara keras. “Harusnya aku tau ini ide buruk” ucapnya tanpa banyak berpikir. Ia tidak memperhatikan tatapan yang diberikan gadis itu saat ia memperbaiki posisi duduknya di atas kursi piano. Helaan napas keluar dari sela-sela bibirnya. “Apa yang membuatku percaya menggunakan ekspresi wajah ketika bermain piano dapat menunjukkan kau menyukai seseorang” suara nyaring piano terdengar saat kepala Baekhyun bertemu dengan tuts berwarna hitam-putih.

Ia merasakan kursi piano itu berbunyi saat seseorang mendudukinya. Tetapi Baekhyun tidak memberikan respon apapun, sudah terlalu sibuk dengan menangisi nasibnya sendiri. Perempuan di sampingnya menatap Baekhyun yang tidak bergerak dari posisinya. “Kau… menyukaiku?”

Matanya yang terpejamkan langsung terbuka begitu mendengar pertanyaan – atau pernyataan, karena jawabannya sudah cukup jelas. Ia menegakkan dirinya dan ketika ia melihat ke samping Baekhyun yakin jantungnya nyaris melompat. Bertemu dengan wajah yang bertanya namun tanpa rasa kesal, membuat Baekhyun hanya dapat tertawa kecil. “Mungkin tepatnya, aku lebih dari menyukaimu” katanya pelan, berbeda dengan biasanya.

Not C menggema di toko musik yang kosong. “Kau tau, kalau kau ingin menunjukkan itu dengan lagu – mengingat ekspresi wajahmu kurang menunjukkan maksudnya…” Baekhyun meringis sedikit ketika ia kembali teringat tawa gadis itu – namun tidak berarti ia tidak menyukainya. Not D kali ini terdengar dan mata perempuan itu bertemu dengan mata milik Baekhyun; senyum kecil ada di wajahnya. “Jangan gunakan instrumental lagu Haru Haru”

Wajah Baekhyun memerah. Pantas saja lagu barusan terdengar sangat familiar, mengingat adik kelasnya Tao sering tiba-tiba menyanyikan lagu Big Bang dengan bahasa Koreanya yang terdengar aneh. “Aku ‘kan hanya memainkan lagu yang aku dengar saat melihatmu” ucap Baekhyun layaknya seorang anak kecil.

“Berarti kau salah mengartikan” ujar perempuan itu. “Karena kalau kau memperhatikan dengan jelas seharusnya kau akan mendengar lagu Couple Song”

Baekhyun menatapnya bingung ketika kata dalam bahasa Inggris itu masuk ke telinganya. “Couple Song?” ia terdiam, terus menatap senyuman di wajah perempuan di hadapannya. “Couple- Ah!” wajahnya langsung memerah dan ia membeku di posisinya – tidak mampu untuk menggerakan ototnya.

“Mainkan aku sebuah lagu” pinta gadis di sebelahnya yang terdengar lebih bersemangat dari sebelumnya. Baekhyun menyeringai lebar sebelum meletakan jemarinya di atas tuts piano. “Tapi jangan mainkan lagu sedih” canda perempuan itu. Mengangguk, Baekhyun mulai menekan tuts piano dan nada-nada mulai terdengar, membentuk sebuah lagu yang menggambarkan perasaannya.

Perasaan seorang pria yang sedang jatuh cinta.

Memberikan lapisan terakhir pelembab ke wajahnya, Yifan menatap bayangannya di cermin. Ia berusaha tidak menggurutu saat lingkaran hitam di bawah matanya mulai terlihat jelas. Mendekatkan wajahnya ke cermin, Yifan memperhatikan warna hitam yang terlihat jelas di kulit putihnya. “Aku harus menagih biaya concealerku ke Tao” katanya pelan.

Hari bagi seorang Wu Yifan selalu mirip. Ia akan bangun jam sebelas pagi, kemudian akan berangkat ke studio jam satu siang. Walaupun temannya Chanyeol akan datang pada jam dua belas. Temannya itu akan mengomel padanya, tetapi tidak akan lama karena itulah seorang Park Chanyeol. 80% kemarahannya adalah bohong belaka, terkadang kau tidak tau apabila ia bercanda atau tidak. Pada malam hari ia akan mendapatkan kesulitan untuk tidur karena telepon Tao yang berlangsung berjam-jam – memotong waktu tidur berharga miliknya.

Tetapi hari ini ada perbedaan. Mungkin perbedaan pertama adalah ia dibangunkan pada jam sepuluh pagi oleh seorang Huang Zitao – sepuluh lima belas tepatnya, berdasarkan perkataan Tao. Kemudian Chanyeol yang tiba-tiba lupa hari ini ia memiliki shift di bakery tempat ia bekerja. Walaupun Yifan yakin teman kerja sahabatnya itu tidak akan mampu marah pada si Happy Virus. Tetapi yang paling-paling berbeda adalah sebuah pesan yang dikirim dari Tao tepat sebelum Yifan membuka pintu rumahnya.

Memasuki kamarnya, Yifan membuka pesan Tao sekedar meyakinkan dirinya kalau ini bukan mimpi. Layar handphonenya menunjukkan isi pesan itu: “Gege! Aku berhasil! Dia bilang ‘iya’!”

Yifan langsung mendengar nyayian bidadari – atau lebih tepatnya lagu ninabobo. Dengan kisah cinta Tao berjalan dengan lancar, Yifan tidak perlu tidur terlalu malam. Ia menjawab pesan itu dengan jawaban: “Aku turut senang mendengarnya”. Ia tentu tidak menambahkan alasan tepatnya ia merasa senang akan hal itu. Tapi ia tidak perlu mengatakannya, yang penting setiap hari ia dapat bertemu dengan bantal empuknya dan langsung tertidur.

Namun nampaknya seseorang membenci dengan ide Wu Yifan merasa bahagia dengan wajah penuh senyuman. Yifan berhasil menahan sebuah teriak yang nyaris keluar dari mulutnya saat teleponnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu, namun sebelum mengatakan sesuatu, suara rendah namun penuh semangat berteriak dan Yifan yakin apabila suara itu lebih keras maka gendang telinganya akan pecah.

“Yifan! Kau tidak akan percaya! Seorang gadis manis mengajakku kencan minggu ini!” suara Chanyeol menggema di kepalanya akibat volume yang terlalu keras. “Aku tanpa sadar menjawab iya. Bagaimana? Apa yang harus lakukan? Apa yang harus pakai? Yifan, pinjamkan aku baju-“

Yifan berusaha tidak mendengar suara Chanyeol yang terus mengoceh tanpa henti. Matanya menatap nanar ke atap kamarnya. Menjauhkan handphonenya dari telinganya, Yifan menghelakan napas panjang.

Ia tidak pernah menyalahkan mereka yang sedang diselimuti kebahagiaan yang terletak di dalam box dengan duri di sekelilingnya. Dan Yifan bukanlah tipe orang yang mudah cemburu – ia sendiri cukup popular, terima kasih banyak. Namun terkadang ia berpikir untuk membalikan posisi mereka agar Tao dan sekarang Chanyeol mengetahui perasaannya di malam hari – kekurangan tidur.

Yifan meletakkan handphonenya di atas meja di samping tempat tidurnya. Ia bukan pecinta hawa panas, namun ia tetap menarik selimut sampai menutupi kepalanya. Menggerutu pelan, Yifan memejamkan matanya dan memaksa system tubuhnya untuk tidur – masih dengan suara Chanyeol sebagail ‘lagu pengantar tidurnya’.

Memang terkadang tidak enak untuk berada di sekitar pria yang sedang jatuh cinta.

AUTHOR’S SHOUTOUT!-
Cheese balls~~! Keju; keju dimana-mana -.- Sebelum mengakhiri cerita ini ada beberapa hal yg worth mentioning:
Pertama, ide cerita ini based on MV Man In Love INFINITE. Kalau diperhatikan partsnya maka: Tao-Hoya, D.O-Sungyeol, Baekhyun-Woohyun (maunya L tp gk jadi), dan Xiumin-Sunggyu. Lirik lagu di awal chapter 1 dan 2 juga lagu Man In Love INFINITE.
Kedua, kenapa Bacon gk boleh menyatakan suka sama perempuan pake BTOB Insane? karena lirik: You make me go insane; she gives me so much pain; I won’t be back again; I wanna hate you… jadi…gak usah dijelasin lagi.
Untuk lagu yang dimainin sama Baekhyun ini (tapi anggap lagunya dimainin pake piano doang)
Dan iya, adegan Kris di akhir WAJIB dimasukkan.
Ini author note panjang banget jadi mari kita hentikan/waves
___________________
(1) ‘Chen’ bisa disalahartikan dengan ‘Cheng‘ yang artinya jeruk, bagi yang belum tau
cr. FYEAH, INFINITE.GIFS! @tumblr

baozi + dinowoo = exofinite moment :3

2 thoughts on “The Three Words 2/2

  1. akhirnya setelah menscroll yg kayak ga ada habis2nya tamat juga bacanya ^^
    endingnya kris lagi lol
    Dan entah kenapa cerita ini pas bgt sm masing2 author…(atau jangan2 memang sengaja?)
    aku /cough/ sama kyungsoo….
    bintangdj si cewek yg nerima kalung dr tao
    andradnf yg minseok
    dan main starnya baekhyun X itsredpenguin HAHA

    Btw, kenapa bagian menyatakan perasaan cuma ada di bagian baekhyun doang? =3=

    • Muungkiinn~/innocent smile
      Dan jujur awalnya semuanya harusnya gantung endingnya. Tapi berhubung ‘screen-time’nya Baekhyun lebih sedikit jadinya endingnya ditambah^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s