Out of the Egg

Out of the Egg;

_______________________________________________________________________________

                                   I am tired; weary with the burden of long closed-eyes and slumber, and prior day’s exhaustion. -C.J.

Genre: Romance Lenght One-shot (3986 words) Rating PG Cast:  OC – Kwon Jiyong (Big Bang)

Aishh pergi-pergi!” tanganku mengibas-ngibas atas meja makan untuk mengusir burung gereja yang punya nyali untuk mengambil sisa sarapan kami.

“Apa makanan di hutan tidak cukup banyak?” Sambil berkata sendiri karena aku tahu burung itu tidak cukup pintar untuk mengetahui keluh kesalku pada mereka aku menutup jendela yang berhadapan persis dengan meja makan.

Setelah merapihkan piring-piring yang berserakan di meja dan membuang beberapa kotak susu kosong aku kembali berjalan menuju sofa besar yang sudah seperti kamarku sendiri melihat sofa itu cukup besar untuk meletakkan laptop dan beberapa novel sekalipun aku terlentang di atasnya.

“Aaaahh! Pergi kalian!” Aku segera berlari dan kembali mengusir burung gereja yang lagi lagi berani mengambil remah-remah biskuit yang berserakan di atas sofa.

Di tengah-tengah kesibukanku  tiba-tiba terdengar derap langkah menuruni tangga, begitu menengok aku mendapati okasan (a/n:panggilan untuk nenek dalam bahasa Jepang)  yang sedang memandangku “Kenapa kau ribut sekali sih?”

Dengan mimik cemberut tanganku menunjuk seekor burung yang terbang di langit-langit rumah mencari pintu keluar “Burung gereja itu tidak berhenti masuk rumah dan mengambil makanan!” ucapku berusaha membela diri.

Okasan menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali memberikan tatapan jengkel padaku “Buka jendelanya lagi Shinra, ini rumahku dan aku menerima burung-burung ini sebagai tamu.”

“Ta-tapi…”

“Buka Shinra.” Okasan berkata pendek tapi itu cukup jelas untuk membuatku mengikuti perintahnya. Dengan cemberut yang belum menghilang dari wajahku aku membuka semua jendela yang kututup tadi. Angin kembali masuk dan aku  suka hal itu, sayangnya selang beberapa detik seekor burung kembali masuk dan hinggap di atas kursi makan. Aku memutar bola mataku dan mengendikkan bahuku sudahlah jadi dewasa saja tidak ada gunanya marah dengan binatang.

Aku pun menghempaskan tubuh di sofa dan mengambil ponsel yang masih dicharge.  Sejak sampai di Jepang beberapa hari yang lalu, hal yang kulakukan pada ponsel hanyalah mematikannya. Tidak peduli seberapa stress aku membutuhkan teman untuk diajak berbicara mengenai betapa menyebalkannya okasan aku merasa saat ini menjadi seorang diri adalah hal yang tepat. Tapi hari ini aku memutuskan untuk kembali mengontak dunia luar, selain itu ada satu orang yang kurindukan.

20 New messages

62 miss calls

Dan lebih dari setengahnya panggilan dari Jiyong, baru aku mau menekan namanya untuk dipanggil tiba-tiba ponselku berbunyi, Jiyong memanggilku.

“Halo Shinra??”

“Halo Jiyong.” Aku menjawabnya dengan santai sekalipun aku dapat membaca betapa panik suaranya di seberang sana

Jiyong menghela napas “Aku tidak akan bertanya kenapa Shinra tidak menjawab panggilanku, tapi pertanyaanku sekarang, kau lagi di mana?”

Aku tersenyum, mengetahui seseorang masih peduli pada keadaanku tapi mendengar pertanyaannya yang mengingatkanku akan alasan aku pergi ke Jepang senyum itu langsung menghilang “Aku? Aku sedang di perbatasan Korea Utara dan Selatan mengikuti wamil.” Jawabku asal sambil memelintir ikal rambut yang menutupi pipiku. Jiyong tertawa “Bagaimana kalau kau kembali? Seseorang di Seoul hampir mati mengetahui kekasihnya mengikuti wamil tanpa sepengetahuan dirinya.”

Aku memutar bola mataku mendengar kata-katanya yang berkesan menggelikan, tiba-tiba okasan berteriak “Shinra! Bantu aku ke sini!”

“Ya okasan!” Aku menjawab spontan dan beberapa detik kemudian Jiyong mendengus “Di Jepang hah?”

“Yah ada panggilan darurat, Jepang butuh bantuanku, sudah ya kumatikan.” Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut darinya aku segera mematikan ponsel dan berlari menuju beranda bagian depan. Batas kesabaran nenekku rendah dan sekali aku terlambat memenuhi permintaannya aku harus bersiap dengan bermenit-menit omelan menjengkelkan darinya.

“Bantu aku menebarkan makanan ini di halaman.” Okasan menjulurkan padaku sepiring penuh biji-bijian warna-warni, aku mendecak pelan “Bukankah burung-burung ini sudah cukup punya banyak makanan di hutan?” Telunjukku menunjuk hutan yang berada kurang lebih 10 meter dari rumah kami. Okasan yang sedang mengelus kucingnya langsung memandang tajam padaku “Dan aku punya cukup banyak makanan untuk dibagi-bagikan, sekarang bagikan.”

Setelah menjulurkan lidah yang langsung dibalas dengan hardikan okasan aku segera menyeret kakiku menuju tengah halaman. Sambil menggumamkan lagu piano yang terakhir kumainkan Claudine aku menebar biji-biji itu, dan tidak perlu waktu lama untuk melihat senyum di wajah okasan karena burung-burung rakus itu segera mendatangi halaman.

Sebenarnya apa yang sedang kulakukan di sini? Mencari ketenangan? Itu alasan kuno yang kukatakan pada orang tuaku tapi sebenarnya, bahkan ketenangan di sini sama sekali tidak membantu apa-apa. Okasan bahkan sama sekali tidak melakukan tugas semestinya bagi seorang nenek yang memiliki cucu yang sedang frustasi sepertiku. Di saat seperti ini aku harusnya, bermanja-manja dengannya, bukannya mendapat hardikan dan tumpukan tugas seperti ini.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Itu kalimat pertama yang kukatakan begitu Jiyong mengangkat telponku. Ia terdiam beberapa detik, mungkin sedikit kaget karena aku berinisiatif untuk memanggilnya.

“Aku sedang menyi—“

“Ah aku tau masa orientasi kan? Kau sedang sibuk menyiapkan segala hal untuk hari pertama kuliahmu kan?” Aku memotong kalimatnya penuh dengan rasa kesal, Jiyong tertawa kecil, aku tidak mengerti kenapa ia tertawa tapi setidaknya aku suka mendengar tawa renyahnya itu “Bagaimana belajar di sana?” Aku kembali melanjutkan topik itu sekalipun aku tahu aku benar-benar tidak siap dengan jawaban darinya

“Di sini menyenangkan.” Ia menjawab singkat, jawaban yang membuatku mendengus kesal karena itu hanya membuatku semakin iri dengannya dan lagi, jawaban yang kuharapkan adalah “Tidak menyenangkan, kurang Shinra di sini.”

“Aku sedang di rumah nenek dan di sini juga menyenangkan.” Jiyong tidak boleh merasa menang “Di sini aku bertemu banyak laki-laki yang tampan dan mungkin aku akan menerima mereka jika mereka menyatakan perasaannya padaku.” Aku melanjutkan kalimat itu dengan senyum puas di wajahku.

Lagi-lagi Jiyong tertawa, tapi segera tawa itu berhenti terganti dengan dehemannya “Di sini aku bertemu banyak wanita cantik, tapi entah kenapa tidak peduli seberapa manis dan baik mereka padaku aku rasa aku tidak akan menyukai mereka.”

Aku terdiam mendengar jawaban Jiyong, meleset dari dugaanku. Kurang lebih lima menit aku terdiam, Jiyong juga diam. Masing-masing dari kami hanya mendengar suara napas, Jiyong terdengar tenang, napasnya teratur

“Aku mau putus.” Ucapku singkat

“Kenapa?” Masih tanpa sedikitpun terdengat kaget, jengkel, sedih, Jiyong merespon singkat.

“Aku merasa kita tidak cocok lagi.”

Jiyong tertawa membuatku segera bangun dari posisi tidurku dan menaikkan sebelah alisku “Aku pikir orang sepertimu akan punya alasan lebih keren untuk putus, Shinra.”

“Kau mau putus?” Aku bertanya, kali ini kupikir dia akan tertawa lagi tapi menjadi seorang Jiyong aku tidak bisa menebak dirinya sekalipun aku sudah bersamanya hampir setahun.

“Tidak.” Satu kata, tanpa penekanan, tidak ada basa-basi tepat seperti yang kuinginkan darinya.

Aku menghela napas dan kembali menidurkan diriku di atas sofa. Sambil mengangkat kaki tinggi-tinggi aku meraih keripik ubi yang bercecer di atas meja “Kalau begitu kita tidak bisa putus.”

Jiyong diam, aku tahu ia masih di sana dan aku yakin ia tidak akan berbicara sampai aku melanjutkan kalimatku “Katakan padaku kalau ingin putus jadi kita bisa putus, oke?”

“Hmmm ya ya baiklah.” Ia berkata dengan malas dan aku bisa membayangkan Jiyong sedang memutar bola matanya, membayangkannya saja sudah membuatku ikutan memutar bolamata, ah, dulu kami pernah lomba memutar bola mata paling lama, aku tertawa mengingat betapa konyolnya Jiyong yang mengatakan ia bahkan berlatih semalaman untuk melawanku.

“Kenapa kau tertawa?” Jiyong bertanya, menyidik, kali ini ia kebingungan mendengarku tertawa.

Aku menutup mulutku menghentikkan tawa itu tapi tiba-tiba otak yang menuntut oksigen membuatku menguap lebar sebelum menjawab pertanyaan Jiyong “Aku lelah hari ini.”

“Sudah kuduga.”

“Hari ini nenek membuatku banyak melakukan pekerjaan rumah.”

Jiyong tertawa, sekalipun kali ini kecil tapi tetap tawa itu terdengar menarik, yah setidaknya untuk telingaku “Kau mau tidur?”

“Hmm.” Aku mengangguk sekalipun Jiyong tidak akan menyadari hal itu, dengan satu uapan yang jauh lebih lebar aku tersenyum dan menutup mataku “Selamat tidur Jiyong.”

“Ya, selamat tidur.”

Telepon kami pun  putus. Dengan membuka mata yang sudah cukup berat aku melihat sekeliling bagus tidak ada okasan. Dalam hitungan detik mataku kembali terpejam, aku tertidur di atas sofa, tidak peduli seseorang akan marah karena aku belum merapihkan sofa yang kujanjikan akan kurapikan semenjak kemarin lusa.

“Okasan, apa tidak ada laki-laki tampan yang seumuran denganku di desa ini?”

Aku bertanya pada okasan yang sedang mengasah pisaunya. Ia memandangku dengan aneh tapi ia tetap menjawab pertanyaan itu “Tidak ada, mereka semua sudah pindah ke kota untuk melanjutkan sekolah mereka.

Kuliah? Aku berkata dalam hati. Mendengarnya lagi membuat otakku kembali memanas.

“Bagaimana denganmu? Sudah mulai belajar?’ Okasan menanyakan pertanyaan terakhir yang paling ingin kudengar belakangan ini.

“Belum, tiga universitas sudah menolakku.”

Okasan hanya mengangguk-ngangguk, kupikir ia akan menyemangatiku tapi sebaliknya, respon darinya hanya membuatku  berpikir bahwa pertanyaan tadi hanya basa-basi, bukan karena ia benar-benar tertarik dengan urusanku.

“Ngomong-ngomong kau belum menyentuh piano semenjak kau datang ke sini Shinra.”

Sambil menyisipkan beberapa helaian rambut ke belakang telinga aku tersenyum “Okasan ingin mendengar permainanku?”

Ia memandangku datar dan mengangguk, satu anggukan yang cukup membuat sedikit beban terangkat dari pikiranku.

“Baiklah, akan kumainkan!” Aku berdiri dan mengangkat lengan bajuku hingga sikut dengan semangat hingga akhirnya okasan berdehem dan menunjuk seekor tuna besar di sampingnya “Duduk, sekarang aku akan mengajarimu cara memotong tuna ini.”

“Heeh? Tapi aku tidak suka ikan.” Aku kembali duduk dan memeluk kedua lututku, melihatnya saja sudah terbayang betapa amis aroma yang tercium begitu ikan itu dibelah.

“Bukan masalah suka atau tidak, tapi kau harus tahu cara memotong tuna.” Okasan menatapku dengan matanya yang tajam, ia memang tua tapi aku masih merasakan ia terlalu kuat untuk dikatakan sebagai seorang wanita tua. “Sekarang pegang bagian ini.”

“Ya  ya ya baiklah.” Aku berkata dengan malas, sama seperti Jiyong yang meresponku soal memberitahuku begitu ingin putus. Jiyong, aku ingin mendengar suaranya lagi.

“Hei  kenapa kau memandangku seperti itu?” Aku menepuk pelan kepala kucing yang sedang menatap datar padaku. Kucing ini membosankan sekali, kucing pemalas, ia sama sekali tidak membulatkan matanya menunjukkan aegyo padaku, aku memantulkan bola tepat di depan matanya tapi ia sama sekali tidak terlihat tertarik untuk mencabik bola itu.

“Hhh” Sambil menghela napas aku membalikkan badanku yang tadinya tengkurap dan memperhatikan lonceng angin yang terus berbunyi aku mengangkat ponsel dan mengangkat kucing yang sudah hampir tertidur itu. “Ayo selca bersamaku, aku akan mengirimkan ini pada Jiyong.”

Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan foto terbaik, karena kucing itu diam dan aku memasang wajah datarku, mencari senyum terbaik sangat merepotkan.

“Bagus, sekarang aku akan menelpon Jiyong, kau ingin mendengar suaranya? Aku yakin kau akan suka.” Ujarku pada kucing yang sama sekali menghiraukan perkataanku, iya aku tahu aku manusia dan dia kucing, tapi setidaknya sebagai kucing yang baik seharusnya dia mengeong kan?

“Shinra menelponku lagi!” Jiyong terdengar senang, ia bahkan langsung menerima panggilanku dua detik setelah aku menekan tombol panggilan.

“Jiyong sudah lihat foto yang kukirim?” Aku menyalakan loud speaker dan meletakkannya di samping kepalaku.

“Sudah, aku suka kucingnya, dia manis.”

“Oh ya? Dia jantan Jiyong.” Aku mengangkat ekor si kucing dan menyadari bahwa aku baru saja berbohong pada Jiyong.

Jiyong terkikih “Aku pikir kau tidak suka kucing Shinra.”

“Aku suka.” Aku menjawab singkat kembali diam, diam yang Jiyong mengerti kalau aku masih ingin melanjutkan kalimatku “Aku ingin bercerita, mau dengar?”

Jiyong menggumam pelan, dari suara gedebuk pelan yang aku dengar aku tahu ia sedang menjatuhkan dirinya di atas kasur.

“Hari ini aku banyak melakukan pekerjaan rumah.”

“Ceritakan padaku apa saja itu.” Ia berkata dengan tenang, Jiyoung tenang tapi aku yakin ia mengantisipasi ceritaku, dan bagusnya, aku cukup pintar untuk mengambil kesimpulan seperti itu.

“Kau tahu cara memotong tuna raksasa? Tidak tahu kan? Aku tahu.” Nada riang terdengar, bahkan telingaku sendiri menyadari hal itu. Jiyong tertawa, dan itu membuatku tersenyum membayangkan matanya yang menyipit setiap ia memulai tawanya. “Aku mencuci beras di sungai yang jerniiiiih sekali.” Ucapku sambil mengingat peristiwa okasan yang memarahiku karena aku nyaris terpeleset.

“Aku mau melihat fotomu bermain di sungai itu, kalau bagus aku juga mau ke sana.”

“Hei! Aku bukan bermain, kubilang aku mencuci beras.” Ujarku protes sambil memanyunkan kedua bibirku, tapi tiba-tiba seulas senyum muncul dengan kalimat selanjutnya “Tapi kau harus ke sana, kita bisa bermain dan menurutku bersama menjadi lebih menyenangkan.”

Jiyong terkikih sambil mengangguk, astaga aku sok tahu sekali tapi aku yakin hal itu yang Jiyong lakukan.

“Aku mengepel seluruh rumah sambil lomba dengan okasan.”

“Lalu siapa yang menang?”

Aku diam menimbang lebih baik berbohong atau tidak, kalah dengan seorang nenek-nenek bukan hal yang dapat dibanggakan, tapi sudahlah ini Jiyong yang mendengarku “Okasan yang menang, aku hampir menang tapi karena  aku terpeleset ia jadi lebih cepat dari pada aku.”

“Mungkin kau harus lomba dalam hal yang lain.” Hah, Jiyong berusaha menghiburku, tidak membantu tapi aku hargai niatnya itu.

“Aku menekan tuts piano hari ini, hanya asal sih.”

“Hm? Kenapa hanya asal? Kenapa tidak sekalian memainkan sebuah lagu saja?”

Jiyong tidak mengerti, memangnya mudah memainkan piano setelah tiga kali aku gagal mengikuti tes dan berpikir bahwa piano membenciku? “Jiyong.” Aku memanggilnya.

Dia menggumam, menunjukkan dirinya masih di sana “Bagaimana kalau aku jadi ibu rumah tangga saja?”

“Maksudmu?” Jiyong terdengar bingung, tentu saja bingung, aku bahkan bingung dengan pertanyaanku sendiri.

“Bagaimana kalau aku jadi wanita desa saja? Aku akan  terus di sini dan belajar melakukan pekerjaan rumah tangga; memasak, mencuci, menyapu, mengurus anak. “

Jiyong tertawa “Aku senang kau belajar pekerjaan-pekerjaan itu.”

“Kau senang? Baguslah, aku akan di sini menunggumu sambil belajar menjadi istri yang baik lalu di kota kau belajar dan memiliki pekerjaan terus kau melamarku dan kita menjadi pasangan yang bahagia.”

Jiyong diam, kupikir dia akan tertawa, tapi baguslah dia diam, itu artinya dia memikirkan benar perkataanku. “Kita bisa menjadi pasangan bahagia tanpa kau harus menungguku seperti itu Shinra.”

Aku menggembungkan mulutku, rupanya Jiyong kurang suka dengan tawaran itu “Aku suka menunggu.”

“Bohong, waktu aku terlambat lima menit kau memakiku seperti aku terlambat selama lima hari.”

“Hahaha.” Aku tertawa, yah itu memang benar.

“Rumah nenekmu seperti apa? Terdengar nyaman.” Jiyong mengganti topik, ia tahu itu harus mengalihkan perhatianku sebelum aku memulai omelanku lagi.

“Rumah nenekku di tengah hutan, setiap aku bangun aku selalu di sambut burung gereja yang tertangkap basah memakan sisa makananku. Di sini sepi, sehingga aku main piano pun tidak akan ada tetangga yang protes mengatakan aku berisik.”

“Sepertinya bagus untuk membuat film dokumenter.”

Kalimat Jiyong membuatku mengingat suatu hal yang menyebalkan “Kenapa kau diterima dan aku tidak sih?”

Tidak ada jawaban darinya, aku tahu dia membiarkanku untuk mengeluarkan semua omelanku, ia tahu aku tidak cukup kuat untuk menahan ini tanpa memberitahu pada siapapun.

 “Padahal aku yang membantumu belajar untuk ujian akhir SMA, padahal kau yang diperingatkan guru untuk mengulang setahun lagi, tapi kenapa malah jadi aku yang tidak kuliah?”

“Benar juga, kenapa ya?”

Respon bodoh  dari Jiyong memancing emosiku “Kenapa kau bisa diterima di bidang yang kau sukai? Kenapa kau diterima di bagian perfilman dan aku ditolak di bagian piano? Kenapa? Jawab aku bodoh.

Jiyong diam, bukannya menjawab ia malah mengatakan hal konyol “Boleh aku memelukmu?”

Aku memutar bola mataku dan berguling kanan kiri gemas akan ketidakseriusan Jiyong “Ya ya ya” jawabku asal.

Jiyong menghembuskan napasnya, serempak dengan angin sepoi yang datang dan meniupkan lonceng angin. “Pejamkan matamu Shinra.”

Aku mengikuti perintahnya. Hampir semenit Jiyong terdiam “Sudah lebih tenang?”

“Hmmm” Aku menggumam.

“Sekarang aku di depanmu, bersila di depanmu yang sedang duduk sambil memeluk lutut berkeluh kesah, Shinra terus melampiaskan rasa kesalnya padaku, kau memukul dadaku, menjambak rambutku, bahkan menendangku.”

Aku tertawa karena aku benar-benar membayangkan hal itu “Sudah, sudah, Shinra akan baik-baik saja, aku mengatakan hal itu sambil menepuk bahumu yang terus bergetar, bukan karena ketakutan tapi karena kau kedinginan.”

Kali aku berhenti tertawa, ucapan Jiyong meresap dan seperti sihir aku merasa seseorang sedang menepuk bahuku. “Biar kupeluk Shinra, mendekatlah padaku dan menangislah.”

Tanpa sadar pipiku merasakan air hangat yang menetes dari mataku, dia benar aku menangis “Tidak apa-apa aku menangis? Sekalipun akan mengotori bajumu dengan ingusku?” Aku bertanya berusaha menyembunyikan isak tangis yang mulai muncul.

“Tidak apa-apa, kita sama-sama kedinginan di sini, aku kesepian kekasihku pergi, dan di sana kau kesepian tidak ada yang menghiburmu.”

Aku terkikih, malu ia baru saja menyebutku sebagai kekasih. “Jiyong? Mau terus memelukku sampai aku tidur?”

Ia tertawa “Tidak terganggu? Bukannya kau tidak suka dipeluk?”

Aku berdiri dengan mata tetap terpejam “Aku nyaman dengan pelukan jenis ini, tunggu, aku sedang berjalan menuju sofa dengan mata terpejam.”

“Hah? Buka saja matamu, sihirnya tidak akan hilang kok.”

“Tidak mau, aku lebih suka seperti ini.”

Meskipun beberapa kali terjatuh dan itu sukses membuat Jiyong mengumpat frustasi takut aku jatuh dan sesuatu menimpa kepalaku akhirnya aku berhasil menjatuhkan diri di atas sofa.

“Sudah, lanjutkan lagi Jiyong skenarionmu, sepertinya kau lebih berbakat jadi penulis skenario daripada sutradara.”

Jiyong mendengus, aku tertawa “Aku merindukanmu, kau tahu itu?”

“Akhirnya kau mengatakannya juga.” Jiyong terbatuk “Sudah hampir sebulan aku menunggumu mengatakan hal itu.”

“Ayo ayo kalian kuundang untuk mendengar permainanku.” Aku menebarkan biji-biji di beranda. Pintu tatami kubuka lebar hingga aku tidak perlu lagi cahaya lampu untuk penerangan ruangan. Lima menit biji-biji itu sudah di santap oleh burung gereja yang bercicitan, dulu aku memang terganggu dengan suara itu, tapi sekarang kombinasi cicitan burung dan dentuman piano sepertinya akan menjadi harmoni yang menyenangkan.

“Kalian mau request lagu apa?” aku bertanya pada burung-burung, ugh aku terdengar bodoh tapi memang hal itu yang kulakukan sekarang.

“Aku suka lagu mu yang kau bilang seperti aliran sungai” Okasan tiba-tiba datang dengan kucing di gendongannya.

Aku tersenyum dan menekan salah satu tuts acak memastikan suaranya masih terdengar tepat “Rivers flow in you?”

“Yah apalah itu, tolong mainkan, suasana saat ini bagus sekali.” Okasan duduk di beranda membelakangiku.

Seulas senyum kembali menyapu bibirku “Baiklah aku mengerti.”

Aku menahan tawa melihat dering ponselku yang belum berhenti, nama Jiyong tertera di layar, dan aku memilih hanya untuk memandanginya, melihat notification yang memintaku untuk mengangkat panggilan itu. Panggilan pertama, kudiamkan, kedua kudiamkan, ketiga, tunggu, apakah ini urusan penting?

“Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif, tinggalkan pesan setelah terdengar nada ‘piip’ “ Aku berkata berusaha setenang mungkin layaknya seorang operator

Jiyong mendengus jengkel “Hey Shinra, aku serius sekarang jangan bermain-main, sekarang tolong ka—“

Yak  waktu habis tekan bintang untuk mengulang pesan tekan pagar un—“

“Shinra!”

Aku terdiam, permainanku sudah tidak lucu lagi, Jiyong sepertinya serius.

“Jiyong hari ini aku bermain piano di sungai.” Aku kembali memasang loud speaker dan meletakkannya tepat di samping bantal.

Jiyong diam, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namanya, aku mengerutkan dahiku, harusnya ia menyiapkan waktu sendiri ketika menelponku, sekarang perhatiannya akan terbagi dua. “Apakah menyenangkan?” Ia menjawab, sepertinya ia mengabaikan orang yang memanggilnya itu.

“Menyenangkan, sangaaaaat menyenangkan. Penontonnya banyak dan begitu aku selesai bermain, tepuk tangan mereka meriah sekali.” Aku tersenyum mengingat itu bukan sebuah kebohongan, yah tapi sedikit ditambah rekayasa, tapi itu benar, tadi burung yang mendatangiku banyak sekali beberapa di antara mereka bahkan berani hinggap di piano, dan soal tepuk tangan, cicitan mereka benar-benar berisik.

Jiyong bertepuk tangan “Sekarang kau mendapat tepuk tanganku, permainanmu sempurna”.

Aku mendecak tapi aku tahu, aku memang butuh tepuk tangannya “Jadi kenapa kau menelponku?”

“Ahh, aku baru mengirimkan sebuah foto, kau harus liat karena itu lucu sekali.”

Sebelah alisku naik “Lucu? Lucu sampai kau benar-benar ingin aku melihatnya dan kau menelponku?”

“Yah begitu.”

“Baiklah, kubuka sekarang.” Aku segera memutuskan panggilan dan berjalan dengan langkah gontai menghampiri laptop berdebu  yang sudah berminggu-minggu tidak kusentuh.

Ini di desa tapi entah kenapa sinyal yang kudapatkan lumayan bagus sehingga tidak butuh lama untukku menemukan sebuah pesan masuk yang sangat mencolok. Terlihat berbeda dari pesan yang kuterima pada umumnya, sangat berbeda karena seingatku aku tidak pernah berhubungan dengan Conservatoire.

Conservatoire?” Aku berkata sendiri sambil mengklik dua kali. Apa ini foto lucu yang dimaksud Jiyong?

Mataku membulat kaget begitu aku membaca satu persatu kalimat. Bodoh, ini sama sekali tidak lucu Jiyong.

Tanpa menimbang-nimbang lebih panjang lagi aku menyambar ponsel dan menekan panggilan pertama, Jiyong. Sepertinya Jiyong sudah menduga reaksiku karena pada detik itu juga panggilanku segera diangkat.

“INI TIDAK LUCU JIYONG.” Aku berteriak untuk melampiaskan segala rasa kagetku.

“Iya aku tahu, aku salah, maafkan aku.” Jiyong berkata dengan pelan, tidak seperti dirinya yang biasa. Rasa bersalah menyerang diriku, aku menggelengkan kepalaku dan segera berlari ke luar rumah untuk mendapat sinyal yang lebih baik, siapa tahu terdengar pelan karena sinyalnya “Tidak, tidak, Jiyong tidak salah.”

“Lalu kenapa kau membentakku?”

Aku menggigit bibirku, bibirku bergetar “Sekarang aku tidak membentakmu.”

Jiyong menghela napasnya “Ceritakan padaku.”

Beberapa menit aku tidak melakukan permintaan Jiyong, bibirku masih terkatup rapat, otakku masih memproses segala hal yang kubaca lima menit yang lalu “A-aku……bulan depan aku………….”

“Bulan depan kenapa? Bulan depan bulan September, ada hal yang menarik?”

Rasanya sekarang aku benar-benar ingin membanting ponsel ini, kenapa ia berpura-pura bodoh? Aku tahu jelas ia yang diam-diam mengirimkan formulir atas namaku. Aku tahu Jiyong yang seenaknya mengambil keputusan ini.

“Video apa yang kau kirimkan pada mereka?” Aku bertanya sambil duduk, diatas rerumputan hijau bersih sehingga aku tidak perlu takut rokku akan ternoda oleh tanah.

“Ketika kau bermain di hall sekolah, sendirian, saat sore hari, film pertama yang kubuat.”

Bibirku tersungging, lagi-lagi dia berhasil membuatku tersenyum “Terima kasih.”

“Hanya terima kasih?”

Aku meniup poni dan kembali tersenyum “Aku akan berangkat, aku yakin orang tuaku akan setuju.”

Jiyong tersenyum, lagi-lagi aku sok tahu “Jiyong apa kau tersenyum?”

“Hmm aku tersenyum.” Benar tebakanku, ia tersenyum “Apa kau akan tetap tersenyum sekalipun aku akan pergi jauh beratus-ratus mil?” tanyaku penasaran.

Ia bergumam memainkan sebuah lagu, seperti musik pembuka sebelum ia menjawab pertanyaanku “Ya aku akan tetap tersenyum.”

Jawaban darinya membuatku bibirku maju, tidak puas, secara tidak langsung dia mengakui jauh denganku membuatnya senang. “Kau tidak akan merindukanku? Kenapa kau tersenyum? Kenapa Jiyong malah senang pacarnya sendiri pergi jauh?” Bertubi-tubi pertanyaan keluar. Aku tidak butuh ia menjawab semua pertanyaan itu, yang kubutuhkan Jiyong tahu kalau jawabannya sama sekali tidak membuatku senang.

“Apakah merindukan hal yang tidak bisa kulakukan jika aku tersenyum?”

“Tentu saja kau bisa.” Aku menjawab spontan “Sangat bisa.” Aku meyakinkannya

“Baguslah, aku akan merindukanmu”

Aku diam memikirkan definisi merindukan yang sebenarnya “Tapi bukankah merindukan hal yang menyedihkan? Kau ingin bertemu dengan orang itu tapi tidak bisa.”

Jiyong diam, lagi-lagi keheningan, aku hanya bisa mendengar suara gesek antar daun dan cicit burung yang memang tidak akan pernah berhenti. Dengan memejamkan mata aku menunggu jawaban Jiyoung “Aku menyukai hal itu.”

“Kenapa kau menyukainya?”

“Karena aku tidak membencinya.”

Terhenyak aku membuka mataku yang terpejam, penjelasan singkat dari Jiyong membuat sesuatu berubah di sini, sekilas aku yakin otakku baru saja memandang dunia dari sisi lain “Aku akan merindukanmu juga, mungkin kadang aku akan membencinya, tapi aku tahu kau merindukanku juga jadi kita impas.” Aku pun menghela napas lega dan menjatuhkan diriku di atas rumput. Setelah memasang loud speaker aku meletakkan ponsel tepat di samping bahuku “Kau mendengar tepuk tangan mereka? Mereka berkata selamat padaku karena aku diterima.”

Jiyong tertawa “Aku mendengarnya, mereka penonton concert saloon pertama mu kan?”

“Hmm benar” Aku mengangguk dan tersenyum “Kapan kau ingin aku pulang Jiyong?”

“Sekarang juga.” Jiyong menjawab dengan cepat, membuat gelak tawaku keluar. Mungkin ini saatnya aku melakukan sihir itu pada Jiyong.

“Pejamkan matamu.” Aku berkata pelan, mataku ikut terpejam melawan cahaya matahari sore yang masih bersinar terik.

“Aku sudah, tapi aku belum melihatmu di sini.”

Aku mendengus “Aku baru mau menghampirimu, sabar dulu. Nah sekarang, kau merasakan seseorang berada di belakangmu.”

“Hmmm aku mendengar derap langkahmu, aku tahu kau mau mengagetkanku tapi karena aku baik aku akan berpura-pura tidak sadar.”

Aku tertawa dan kembali membayangkan skenario manis itu “ Matamu tertutup oleh sebuah tangan seorang perempuan yang berkata tebak siapa aku. “

“Apa aku akan berhasil menebakmu lalu kau membuka mataku dan kita berpelukan?”

Aku mencibir dan tertawa “Tidak, itu terlalu klise biar kupikirkan sesuatu yang lebih bagus.”

Sambil menggigit bibir cukup lama aku berpikir keras memikirkan hal apa yang harusnya kulakukan, semua skenario yang terlintas di otak terasa terlalu murahan. “Baiklah” Aku menghela napasku, aku menyerah “ Kau berbalik dan tidak menemukan siapa-siapa. Ternyata semua itu hanya mimpi. Nah sekarang kau boleh bangun!”

Aku membuka mata, cahaya matahari langsung menyerbu mataku. “Jiyong!” Sahutanku membuat burung-burung yang mendarat di sekitarku segera berterbangan

Tidak ada jawaban, terdengar dengkur. Seseorang tertidur karena skenarioku yang terlalu membosankan. Aku segera bangun dan meregangkan tanganku. Dengan sedikit senam ringan aku terus menggumam. Semua terasa berbeda, setiap pohon yang menjulang tinggi yang dulu kuanggap menyeramkan sekarang terlihat menentramkan memintaku untuk mencoba berteduh di bawah mereka.

Burung yang tadinya ingin kulempari sekarang terlihat riang mengajakku untuk ikut menyanyi dengan mereka.

Apa waktuku telah tiba?

“Shinra! Kenapa kau tersenyum?” Bahkan okasan yang selalu cuek padaku sekarang berubah. Aku menengok dan mendapati dirinya yang sedang duduk di beranda, selalu dengan kucing di pangkuannya.

“Okasan!” Aku berteriak, rasa\ terlahir kembali menyelimuti perasaanku, dan aku tahu telur pesimis ini sudah cukup lama mengekangku.

“Aku akan pulang sekarang!”

_______________________________________________________________________________

(A/N).

Terinspirasi dari pengalaman author dan jumlah burung gereja yang membludak di rumah. Selain itu kalau ada yg tahu anim piano no mori, my neighbor totoro, anime itu juga cukup menginspirasi di sini. Oneshot ini sebagai penyegaran untuk author sendiri dan mungkin untuk kalian karena author nyoba bikin cerita yg agak beda dari cerita author yang biasanya.xoxo, Pikrachu. 

(layout credit. )

2 thoughts on “Out of the Egg

  1. Kebawa anime bgt~~~ Dan aku ngebayangin Jiyong di masa2nya Heartbreaker sama Butterfly (miripkhrbelphegor, asdfghjkl XD)

    Sedikit penasaran bagian yg mana berdasarkan pengalamannya author… hehehe
    Light-hearted romance with good amount of cheedar(?) cheese , love it♥
    /throws hearts

    • Yep mood cerita ini pas sama Butterflynya G-Dragon.
      Hhah..pengalaman ga keterima😄
      dan SDFGHJKL CHEESY setujuu aku juga ga ngerti kenapa cheesy bgt ;A;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s