Pizza Man ~ Part VI {LAST PART:’)}

pizza man copy

AAAAA…… Ini dia akhir dari ff pertamakuu….

Semoga akhirnya klimaks dan nggak begitu ngegantung yah…

Selamat Membaca ff Pizza Man untuk yang terakhir kalinyaaa :’)

 

˚˚˚˚˚

“Aku… yah… aku lebih suka kau menjadi Pizza Man-ku. Itu lebih… lebih dirimu yang selama ini aku kenal.” aku merasa sudah menyampaikan suatu kebohongan, tapi MUSTAHIL aku akan mengatakan bahwa aku senang menjadi teman kencannya.

Kyuhyun menyunggingkan senyum kecil, tipikal senyum yang selalu membuat lututku bergetar.

“Jika itu yang kau mau… Baiklah.” ujar Kyuhyun, lalu mulai menstater motornya.

Begitu motor Kyuhyun sudah tak nampak lagi aku jatuh bertumpu pada lututku. Bungkus pizza pesanan mama tergeletak di sebelahku. Aku merasakan mataku memanas dan bibirku mulai bergetar.

“Apa seharusnya aku tidak berbohong?” erangku dengan kemeranaan penuh. Aku tahu aku bertingkah seperti anak kecil yang kehilangan bonekanya. Tapi siapa peduli? Aku merasa separuh jiwaku ikut terbawa oleh motor merah yang dikendarai Kyuhyun.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” aku terus meneriakkan satu kata itu dengan penuh nafsu, aku tentu saja menujukan kata itu untuk diriku sendiri yang sering berkata tanpa dipikir dahulu.

Lalu semua kedramatisanku ini berhenti begitu saja ketika aku memutar tubuhku 180% sambil meneriakkan “Bodoh” kencang-kencang. Dan ternyata di ambang pintu berdiri mama yang sedang tercengang melihat aksi kelewat heboh putrinya.

“Al?” mama memasang tampang yang benar-benar bodoh (lagi-lagi aku menggunakan kosakata itu).

“Hm?” sahutku pura-pura tak tahu apa-apa, seolah aku tak pernah duduk di depan pintu rumah sambil meraung-raungkan kata ‘bodoh’.

“Mama tidak bodoh.” ujar mama dengan nada tajam. Kenapa sih mama harus menirukan kosakata yang sedang kugemari ini?

“Aku tahu, aku tahu.” nada suaraku meninggi dan tanganku mulai mengacak-ngacak rambut lagi.

“Mana pizza mama?” tanya mama tanpa tedeng aling-aling.

Loh? Kukira mama akan menanyakan kenapa aku bertingkah seperti orang yang sudah berada di ambang pintu kewarasan. Ternyata…. cuma pengen pizza sialannya.

“Nih.” aku menyerahkan pizza mama tanpa semangat, bahkan tanpa menatapnya. Mama juga hanya berlalu begitu saja tanpa ucapan terima kasih.

“Ugh! Aku butuh ayah.” gumamku kesal sambil berlari ke kamar dan menyambar handphone-ku dari atas lemari.

Aku memencet sederet angka dan menunggu selama 4 nada sambung sampai ayah mengangkatnya.

“Hei! Angin mana yang membawamu menelepon ayah siang-siang begini?” suara ayah terdengar di ujung sana, riang tapi juga terdengar lelah.

“Maaf kalau aku mengganggu. Aku lagi bener-bener butuh ayah saat ini.” jawabku tergesa.

Anything for my darling.” jawaban ayah membuatku mendesah lega, walaupun sebagian kecil dari diriku mengharapkan bahwa Kyuhyunlah yang mengatakan itu padaku. Ngayal.

“Gini. Aku baru kehilangan sesuatu yang sangat berharga.” aku memulai.

“Oh? Apa kamu kehilangan bros batu kecubung mu? Kan ayah sudah bilang bahwa kau harus menyimpannya di laci meja riasmu dan hanya boleh dipakai pada hari Minggu. Ayah juga sudah bilang kan bahwa kamu itu orangnya teledor, jangan taruh barang berharga sembarangan, perlakukan barang-barang berharga dengan hormat, perlakukan mereka dengan semestinya.”

Aku tahu jawaban ayah ngaco, tapi entah kenapa itu menjawab tanda tanya besar dalam otakku. Ya, aku harus memperlakukan orang yang berarti bagiku dengan baik dan dengan semestinya.

Aku menginginkan Kyuhyun, lebih dari sekedar Pizza Man-ku.

Aku mengakuinya. Dan itu semestinya. Paling tidak dalam pandanganku.

“Ah! Ini sudah ketemu brosnya! Makasih ayah… Daah!” lalu aku menutup sambungan telefon. Bros batu kecubungku tak pernah hilang, bros itu masih berada dalam kegelapan laci meja riasku dan aku tidak pernah menggunakannya, bahkan pada hari Minggu.

Aku memencet nomor Kyuhyun yang aku save. 

“Sibuk?! Dasar sok sibuk!! Apa sih kerjamu?!” teriakku kesal, memarah-marahi handphone-ku yang tidak berdosa.

Sesibuk itukah Kyuhyun sampai tisak mau mengangkat telfonku?!

“ALIANAAA! ADA TELEFOOOOON!” kudengar mama berteriak dari lantai bawah.

“SIAPAAA?” jawabku balas berteriak, malas beranjak dari tempat tidur.

“NGGAK TAHU! COWOK!” aku memutar bola mataku.

“TANYAIN NAMANYA SIAPA!” aku hampir lupa bahwa aku sedang berbicara (atau tepatnya saling teriak-teriakan) sama mamaku.

“EUN SU!” teriak mama lagi setelah jeda sekitar beberapa detik.

“Hwah!” aku langsung terlompat turun dari tempat tidurku dan berderap menuruni tangga. Aku membisikkan kata terima kasih pada mama yang langsung menyerahkan gagang telefon kepadaku.

Oppaaa?” aku bisa mendeteksi sejuta kebahagiaan dalam suaraku. Mungkin Eun Su oppa adalah orang kedua yang bisa menjadi sandaranku setelah ayah.

“Ya Al?”

“Tumben nelfon.” ujarku memasang senyum termanisku, walaupun aku tahu Eun Su oppa tak dapat melihatnya.

“Yaa, aku sedang jam istirahat dan tiba-tiba aku kangen banget sama kamu.”

“Hahaha.. Kangen sama omelan dan suara cemprengku ya?”

“Haha.. Itulah kamu yang kukenal selama ini.”

Aku hampir menjatuhkan gagang telefon yang semula kugenggam dengan mantap. Untung saja baru ‘hampir’, belum beneran jatuh.

“A..a..a..aoke.” aku memaksakan sebuah tawa hambar. Tapi sayangnya Eun Su oppa mengenalku dengan baik.

“Kenapa Al?” tanyanya dengan nada khawatir.

“Apa kamu bisa menjaga rahasia?” tanyaku langsung.

“Ya. Tentu saja aku bisa.”

Aku menghela nafas dalam-dalam. Aku merasa perlu menceritakan hal ini pada orang lain.

“Aku rasa… aku rasa aku menyukai Kyuhyun.” ujarku pelan. Aku mendengar Eun Su oppa mendesah.

“Aku tidak menyukainya.” ujar Eun Su oppa.

“Kenapa?” yah, aku melupakan suatu fakta, Eun Su oppa dan Kyuhyun bekerja di restoran pizza yang sama.

“Dia sudah berkali-kali mengencani Din Ri.” jawab Eun Su oppa, membuatku ingin menyertika muka Din Ri dengan panci panas.

When you love, you love.” jawabku agak sok.

“Bukankah lebih baik kamu mencintai orang yang jelas-jelas mencintaimu?” tanya Eun Su oppa dengan sebersit nada terluka.

“Siapa?” jawabku putus asa.

“Aku.”

Kontan aku menutup gagang telefon. Bukan menutup, membanting sepertinya lebih cocok.

“Aku kenapa sih?!” aku merasa benar-benar kacau. Tepat ketika Eun Su oppa mengatakan satu kata pendek itu tanganku langsung membanting telefon menutup.

Aku mengacak rambutku lagi. Bukankah aku seharusnya senang? Sebaliknya, aku merasakan kehampaan luar biasa.

Aku terduduk di sofa, menutup mataku dengan jemariku sambil menengadah. Yang kulihat hanya hitam, hitam. Warna hitam kedengarannya ‘aku banget’.

 

TING TUNG

“Tuhan, tolong jangan hadirkan wajah itu.” doaku.

Tapi sepertinya aku kurang mujur.

“Aliana? Telefonmu rusak atau bagaimana sih?” tanya Eun Su oppa langsung menuntut penjelasan. Aku hanya menggeleng lemah.

“Maksudmu?”

“Yaa… aku menutupnya dengan… sengaja.” aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, tak sanggup bertemu mata dengan Eun Su oppa.

“Aku… takkan memaksamu. Tapi kamu harus tahu bahwa kamu adalah satu-satunya yeoja yang kucinta.” dengan itu, Eun Su oppa pergi. Mungkin untuk selamanya.

Aku tidak menggila dan bahkan tidak menangis.

Lagi, aku belum menyerah. Aku berlari ke kemarku dan menghubungi nomor Kyuhyun sekali lagi.

“Kyuhyun. Ini kali terakhir aku menelfonmu. Kalau kau tidak mengangkatnya, artinya kau kehilangan seorang yeoja imut yang menyukaimu.” bisikku, sibuk sendiri dan tidak menyadari bahwa nada sambung sudah tidak terdengar lagi.

“Hahaha! Kau pikir kau imut?! Baiklah, aku akan ke rumahmu sekarang juga dan mendengarkan pernyataanmu dengan lebih jelas.” tawa Kyuhyun dari ujung sana. Langsung membuat wajahku semerah tomat.

Baru saja aku akan meneriakkan sergahanku, tiba-tiba saja sambungan terputus.

“Yah… nasi telah menjadi bubur.” desahku pasrah dan mulai mempersiapkan diri.

Apa yang harus kupersiapkan. Aku mematut-matut diri di kaca. Yah aku tidak kelihatan buruk-buruk amat. Maksudkuuu… rambutku rapi, tidak ada lingkarang hitam di bawah mata dan senyumku masih terpajang. Itu lumayan kan?

 

TING TUNG

“Oh Tuhan, aku harus bersiap.” gumamku menepuk dadaku berkali-kali. Nafasku memburu dan jangtungku mulai jumpalitan dalam rongganya.

Ngeeeek…

Aku membuka pintu dengan amat sangat pelan, mengintip dari sela kecil yang terbuka.

“Untuk apa malu-malu? Anggap saja aku sedang mengantar pizza seperti biasanya.” ujar Kyuhyun santai dengan tawa kecil yang menyebalkan.

“Ugh!” aku menyuarakan merangan kesal sambil menghentakkan kakiku keluar pintu.

“Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan nona?”

“Aku sudak mengatakannya sekali. Di mana kau simpan kupingmu tuan?” kembali bisa menggunakan gaya bahasaku membuat diriku sendiri menjadi lebih rileks.

“Hanya memastikan.”

“Nyali punya, malu tak mau.” ujarku mengutid kalimat dalam sebuah novel berbahasa Indonesia yang pasti belum pernah Kyuhyun baca. Karena itu mungkin saja Kyuhyun mengira bahwa itu kalimatku sendiri, dan menurutku kalimat itu cukup keren.

“Kalau kau memang tak ingin mengatakan apapun, yaaah… baiklah, aku tak bisa membuang-buang waktuku di sini.” ucap Kyuhyun seraya menaiki sepeda motornya.

“Eeeh! Tunggu. Baiklah.” aku pikir aku takkan sanggup kehilangan Kyuhyun. Apa sebaiknya aku jujur saja?

“Tapi sebelumnya aku ingin bertanya. Berapa kali kamu mengencani Din Ri?” tanyaku selugas mugkin. Sebenarnya aku sadar betul bahwa suaraku bergetar karena takut mendengar jawabnnya.

“Nol.” jawab Kyuhyun sambil memnyentuhkan ujung jari telunjuk dan jempolnya, membentuk angka 0.

Aku terbelalak. Walaupun harus kuakui sedikit merasa lega juga.

“Seumur hidupmu… kau sudah berkencan dengan berapa wanita?” tanyaku legi dengan nada menyelidik.

“Satu.” jawab Kyuhyun lagi seraya menaikkan jari telunjuknya membentuk angka 1.

Aku terbelalak, lagi. Tapi rasanya senang juga.

“Tapi Din Ri dan Eun Su oppa bilang kau sudah berkencan dengan Din Ri berpuluh-puluh kali.” responku dengan nada memprotes.

“Aku tak pernah bilang padanya bahwa itu sebuah kencan. Itu hanya ancara makan antara dua sahabat.” jawab Kyuhyun datar.

Aku mengangguk, tak berusaha menjadi kritis lagi.

“Baiklah… aku menyukaimu.” ucapku cepat sekali.

“Sudah kuduga.” respon Kyuhyun dengan senyum evil-nya.

“Apa?! Apa maksudmu?” tanyaku benar-benar bingung.

“Sudah kuduga bahwa kau menyukaiku.” jawab Kyuhyun ringan.

“YAK!! KYUHYUUN!! APA KAU BILANG?!” teriakku sambil mengayun-ayunkan kepalan tanganku di udara. Dan menyebalkannya lagi, Kyuhyun masih tertawa.

 

˚˚˚˚˚

Gimanaaaa? Oke nggak untuk part terakhir?

Oh ya, karena ini part terakhir… plis banget komennya yah, supaya ff-ff ku yang berikutnya bisa lebih baik lagi.

Walaupun posisiku sebagai maknae sudah dirampas oleh author beningAT-_-“

Aku akan terus berkaryaaa, heehee😀

Oke deh!

With love,

naminaya~

 

 

10 thoughts on “Pizza Man ~ Part VI {LAST PART:’)}

  1. NAYAAA Itu endingnya kamu ubah dari plot awal? o_o
    Aku lebih suka yang ini😀 dan aku suka gaya Aliana sepanjang cerita ini berjalan ga peduli seberapa ga tau sopan santun ini cewek wkwk.

    Ayo cerita baru!

  2. hahahaha akhirnya selesai juga yaaa!!!^^ ceritanya lucu…bagus kok!tp agak kecepatan g sih?apa cm perasaanku doang?ya intinya daebak!(y)

  3. Dari ff awal smp akhir terlalu cepet. Konfliknya malah bisa dibilang ga ada. Penyelesaian konfliknya juga. Karakternya juga ga di jelasin. Jadi masih ngambang gitu.
    Tapi yang aku suka sifat aliana, enak aja kalo pas baca dialog dia.
    Maaf ya kalo tersinggung sm kritikan aku hihihii

    • eeeh… nggak apa-apa lagiii… aku malah seneng, jadi bisa buat pelajaran untuk ff-ff ku yang berikut-berikutnya.. Makasih yaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s