#Detour 06

(A/N: Akhirnya writer’s block karena baca yaoi ilang juga ^^ Author kembali bisa buat exo x oc lagi!😀 Hari ini author seneng fanfic kesukaan author diupdate dan jadinya pengen buat orang seneng dengan ngupdate cerita~)

 

6. Misconception

Tangannya berkeringat tidak berhenti mengepal berusaha menahan sesuatu, tidak peduli seberapa keras keinginan Kyungsoo untuk membuat otaknya berhenti memerintah, sesuatu tetap mengganjal, dan jelas itu sangat mengganggu pikirannya. Semakin Kyungsoo berjalan sepanjang koridor semakin ia merasa tangannya gatal, matanya tidak lagi tahan untuk menatap puluhan jejak kaki kotor itu. Kyungsoo bertarung pada dirinya sendiri hingga akhirnya selang beberapa menit kemudian ia tidak bisa menoleransi lagi.

Ia menyerah, tanpa berpikir lagi Kyungsoo segera menggulung lengan jaketnya dan berlari menuju ruang janitor, tidak bisa, koridor ini harus dibersihkan.

Luhan yang masih berdiri di depan kelasnya mendengar langkah berlari, ia menengok dan mendapati Kyungsoo yang sedang berjalan cepat menuju arahnya. Sebagai teman sejak sekolah menengah pertama ia kenal baik dengan laki-laki bernama Do Kyungsoo itu, termasuk OCD nya. Dan melihat wajah serius sekaligus pucat seperti sedang dibayangi hal buruk Ia segera tahu apa yang terjadi.

“D.O.!” Luhan menegur Kyungsoo yang hanya melewatinya tidak sadar akan keberadaan Luhan. Kyungsoo berhenti melangkah dan menengok ke belakang, dahinya berkerut tanda sedikit jengkel seseorang tengah memanggilnya di saat yang tidak tepat. Luhan memutar bolanya mendapat tatapan seperti itu dari temannya sendiri.

Kyungsoo menghela napasnya dan menghampiri Luhan “Ada apa? Cepat”

“Hmm..kutebak kau mau ke ruang janitor?”

Kyungsoo memincingkan matanya memandang teman yang sedang menyeringai padanya itu “Bagaimana kau tahu?”

“Intuisi seorang teman?” Ia pun tertawa, Kyungsoo yang sama sekali tidak mengerti apapun hanya berdehem membuat Luhan kembali fokus pada tujuan awalnya.

“Kupikir kau harus menghentikkan kebiasaanmu Kyungsoo, yah daripada menghabiskan waktu membersihkan sesuatu yang tidak penting bukannya lebih baik kau menggunakan tenagamu untuk hal yang lain?”

Tidak penting? Membersihkan Koridor tidak penting? Kyungsoo berkata dalam hati, tapi ia tahu mengatakan hal seperti itu hanya membuat percakapannya dengan Luhan menjadi lebih panjang “Kau menghentikkanku hanya untuk berkata  itu?”

Luhan menyeringai dan menggelengkan kepalanya “Tidak, aku mau bertanya apakah kau sudah menerima sesuatu dari Chaeri?”

“Chaeri?” Kyungsoo menaikkan alisnya, ia pun segera menggelengkan kepalanya.

Luhan menggembungkan pipinya menandakan kecewa mendengar jawaban Kyungsoo. Sebenarnya ia sudah mengintip isi surat itu dan ia tahu hal menarik akan terjadi begitu Kyungsoo membaca surat yang ditunjukkan untuk dirinya itu. Luhan memang mengakui kalau si maniak bersih Kyungsoo kadang mengganggu dengan segala tuntutan dan keperfeksionisannya, tapi ia juga tidak bisa menyangkal bahwa ia suka dengan Kyungsoo seperti itu. Contohnya kali ini, ia sudah bisa membayangkan mata bulat Kyungsoo yang akan membesar  kaget begitu membaca setiap kalimat yang tertera di surat itu. Setiap kesalahan kecil dan ketidaksimetrisan huruf hangul akan terbaca jelas untuk Kyungsoo. Dan ia tahu hal selanjutnya yang terjadi akan menjadi mimpi buruk bagi si pengirim, Kyungsoo akan mengoreksi lalu memberikannya lagi, tipikal Kyungsoo.

“Nanti kutanya Chaeri, aku harus pergi sekarang.” Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Luhan Kyungsoo kembali berlari.

Luhan tersenyum dan melambaikan tangannya sekalipun ia tahu Kyungsoo sama sekali tidak menyadarinya. Ia pun kembali memesang earphonenya kembali menikmati quality timenya hingga seseorang mencabut earphonenya.

Ya!” Luhan protes dan mendapati si pengirim surat sedang menatapnya.

“Mana suratnya!?” Sena berkata dengan panik. Luhan mendengus dan mengendikkan bahunya “Sudah kuberikan.”

“A-apa? Bukannya sudah kubilang tunggu biar kuperiksa sekali lagi?” Sena menatap Luhan tidak percaya, laki-laki di depannya hanya bersiul mencoba membuat situasi menjadi lebih santai, setidaknya untuk dirinya sendiri. “Sudahlah, periksa apa lagi? Bukankah kau selalu menulis hal yang sama hah?” Luhan berkata dengan jengkel.

Luhan tidak memiliki catatan buruk tentang berteman dengan perempuan, tapi untuk Sena ia membuat pengecualian. “Apa!? Tentu saja kali ini berbeda!”

Luhan mengerutkan dahinya dan menatap Sena “Kau tertidur di kelas? Kenapa bisa ada di luar? Ujiannya masih belum selesai kan?” ia memutuskan untuk mengalihkan topik.  Sena memandang jam tangannya dan segera menepuk dahinya “Ah benar! Aku izin ke toilet tadi!” Ia pun segera berlari meninggalkan Luhan.

Luhan  meniup poninya dan kembali memasang earphone, melihat Sena membuat moodnya memburuk.  Alasan kejengkelan Luhan memang terdengar kekanakan tapi bagaimanapun juga ia merasa Sena pantas untuk mendapat perlakuan dingin darinya. Luhan menghela napas mengingat betapa bodohnya Baekhyun yang pernah menerima pengakuan dari Sena. Untuk kali ini Luhan bersyukur orang terpilih yang akan menjadi target selanjutnya  Sena adalah Do Kyungsoo. Dan ia tahu Kyungsoo cukup pintar untuk memberi ‘pelajaran’ pada Sena, terlebih ia memang terlalu polos untuk mengerti betapa rapuhnya hati seorang yeoja.

“Kubilang aku tidak sengaja melakukannya!” Baekhyun berkata untuk kesekian kalinya pada Chaeri yang tidak berhenti mengatakan kalau Baekhyun sengaja mengotori koridor. Setelah keluar dari ruang guru Chaeri dan Baekhyun tidak berhenti saling menyalahkan. Apalagi setelah mengetahui bahwa tujuan mereka sama-sama menemui Kyungsoo.

Di lain tempat Kyungsoo yang mereka cari masih sibuk mencuci sepatunya yang tidak sengaja menginjak tanah dari jejak Baekhyun ketika ia sedang membersihkan tangga. Kyungsoo memilih sepatu hitam karena ia yakin sepatu dengan warna cerah hanya membuat kegelisahannya mengenai noda di sepatu semakin menjadi-jadi tapi sebaliknya sekali sepatu itu kotor semakin ia merasa jengkel karena ia tidak bisa memastikan apakah sepatunya sudah cukup bersih untuk standar dirinya,

“Aish!” Kyungsoo melihat jam tangannya, melihat jam istirahat akan segera berakhir dan ia masih berurusan dengan sepatunya itu. Akhirnya setelah meyakinkan pada dirinya sendiri kalau ia hanya membuang waktu dan itu akan membuatnya terlambat untuk kelas selanjutnya, Kyungsoo pun mematikan keran dan berjalan masuk ke gedung  dengan sandal yang dipinjamnya dari janitor yang tentu sudah ia cuci untuk kepuasan dirinya.

“Wow kenapa koridor bersih sekali .”  Guru Kim yang berpasasan dengan Kyungsoo yang baru saja berhenti melangkah untuk merapihkan kerutan di kemejanya  tidak sadar bahwa kalimatnya telah membentuk seulas senyum kemenangan pada wajah Kyungsoo.

Sungjong yang baru berjalan keluar dari toilet merasa bahwa toilet lantai dua menjadi jauh lebih bersih, ia ingat jelas betapa penuh tanah lantai toilet itu, dan sekarang bahkan noda lama pun menghilang. Dugaannya bahwa Baekhyun hanya anak yang bisa main-main (tambah Matematika) salah, ia rasa ia harus memberi pujian pada Baekhyun nanti.

“Sungjong-ah! “ seseorang memanggil namanya.

Sungjong yang masih mencermati lantai koridor yang terlihat sangat berkilau segera mengangkat kepalanya dan melihat sahabat sekaligus saingannya Kyungsoo sudah ada di depannya.

“Apa  Chaerimasih di ruang guru?”

“Chaeri? Kau ada perlu dengan Chaeri?” Sungjong merasakan hal janggal melihat temannya yang terkenal jarang menaruh perhatian itu bertanya soal Chaeri.

Kau pikir siapa yang datang merusak pengenalanku pada Chaeri? Kyungsoo berkata dalam hati. Ia menghela napas “Ya aku ada perlu dengannya.”

Sungjong mengangguk-ngangguk, ia tidak akan bertanya lebih lanjut sekalipun ia telanjur penasaran keperluan apa itu “Tadi dia bersama Baekhyun sudah pergi dari ruang guru.”

“Baekhyun?” Sekarang giliran Kyungsoo merasakan hal janggal.

“Yah, Chaeri terseret masalah Baekhyun.”

Kyungsoo diam dan mengingat ulang catatan alasan masalah yang dibuat oleh Baekhyun. Pertama yang paling sering adalah berlari di koridor, apa Baekhyun mengajak Chaeri berlari di koridor? Tidak mungkin, Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Kedua memecahkan kaca jendela karena home runnya. Dan tanpa analisis lebih lanjut Kyungsoo yakin bukan soal itu. Sungjong yang melihat Kyungsoo diam disibukkan pikirannya akhirnya kembali membuka mulut.

“Baekhyun meninggalkan jejak kotor di koridor, lalu Chaeri menginjaknya sehingga sampai perpustaan lantai sekolah kotor.”

“Hah? Jadi jejak-jejak kotor itu ulah Baekhyun?” Kyungsoo kaget. Ia tahu Chaeri membuat kekotoran di lantai perpustaan tapi ia tidak tahu penyebabnya karena ia menginjak jejak Baekhyun.

Sungjong mengangguk “Dari pintu masuk sampai toilet dan ruang kelasnya, kotor semua.”

Dan aku sudah membersihkannya Kyungsoo memutar bolanya menyadari bahwa ia telah membantu temannya itu secara tidak sengaja. “Dan aku baru tahu, Baekhyun pintar membersihkan.” Sungjong berkata lagi. Kyungsoo menaikkan sebelah alisnya.

“Seluruh kerak di wastafel lantai dua hilang menjadi seperti baru.” Sungjong menyeringai.

“Tentu saja, aku sudah memberi hcl pada kerak i—“ Kyungsoo segera menutup mulutnya, seseorang tidak boleh tahu kalau Kyungsoo cukup punya waktu untuk membersihkan toilet sekolah.

“Hah?” Sungjong tidak mengerti, Kyungsoo yang bersyukur Sungjong tidak mendapat maksud perkataannya hanya tertawa  “Hahaha maksudku Baekhyun pasti mengoleskan hcl pada keraknya.”

“Baiklah Sungjong, aku duluan!” Kyungsoo pun menepuk bahu Sungjong dan berjalan cepat menuju kelasnya.

“Do Kyungsoo telat!” Chen berbisik pada Kyungsoo yang hanya melengos dan memandang tajam Chen yang segera membuatnya tutup mulut. Kyungsoo yang baru saja duduk di kursi sebelah Chen segera mengeluarkan buku tulis dari laci mejanya. Begitu ia ingin membuka tempat pensilnya dan melakukan ritualnya seperti biasa; menyusun setiap pulpen dan pensil di meja sesuai ukuran mereka mata Kyungsoo menangkap sesuatu yang aneh, menyembul dari salah satu bukunya.

Chen yang melirik Kyungsoo dari ekor matanya ingat ia baru saja menyisipkan sebuah benda di dalam buku temannya itu “Ah itu surat, aku dititipkan Chaeri, katanya untukmu.”

Chaeri? Apa ini yang dimaksud Luhan? Kyungsoo memincingkan matanya sebelum akhirnya meletakkan surat itu kembali dalam laci mejanya.

“Kau tidak membukanya?”

“Sekarang kita lagi belajar.” Kyungsoo berbisik pelan, matanya sudah berfokus pada papan tulis. Chen merosot dari kursinya, ia benar-benar menantikan saat di mana Kyungsoo membaca surat itu.

Mata Nami terus memandang ke depan dengan intens, bukan papan tulis yang mendapat perhatiannya melainkan pintu karena orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Saat jam istirahat tadi telinga dan matanya tidak sengaja menangkap Chaeri yang sedang memanggil Chen di koridor. Awalnya ia berniat tidak mengikutinya, tapi melihat Chaeri yang memegang surat kuning yang terlalu manis untuk dikatakan itu surat biasa rasa ingin tahu Nami tergelitik. Ia melihat Chaeri menyerahkan surat itu pada Chen, bibir Nami tersungging rupanya ada juga orang yang masing menggunakan surat cinta, begitu yang ia pikir sampai akhirnya rahangnya mengeras begitu mendengar perkataan Chaeri. “Tolong berikan ini pada Kyungsoo.”

Kyungsoo? DO KYUNGSOO? Moon Chaeri menyukai Kyungsoo??

Nami menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha meyakinkan dirinya ia salah dengar, tapi melihat Chen menyebutkan nama D.O ia yakin memang Kyungsoo penerima surat itu. Nami tahu ia sama sekali tidak memiliki hak untuk membenci kenyataan kalau seorang perempuan juga menyukai Kyungsoo. Tapi tetap saja, sebagai orang yang sudah menyimpan perasaannya hampir setahun Nami merasakan Kyungsoo sudah seperti miliknya, (setidaknya secara mental) mengingat selama ini tidak ada perempuan yang cukup kuat dengan respon acuh dari Kyungsoo selain dirinya.

Dan sekarang Nami tidak bisa fokus sepanjang pelajaran, ia harus menginterogasi Chaeri. Ia benar-benar tidak menduga anak sependiam Chaeri cukup bernyali untuk menuliskan surat cinta.

“Chaeri, kenapa kau telat?” Guru Kim berkata dengan datar melihat salah seorang muridnya baru masuk setelah lima belas menit kelas di mulai.

“Ada keperluan di ruang guru.” Chaeri menjawab yang langsung dianggukkan oleh guru Kim. Chaeri pun menghela napas lega dan berjalan menuju kursinya di pinggir jendela sebelum akhirnya ia sadar kursi sebelahnya yang biasa kosong terduduki, Ia memiringkan kepalanya merasakan hal janggal Seo Nami yang memang tidak cukup dekat dengannya sekarang duduk di sebelahnya.

Nami menyadari Chaeri memandangnya dengan aneh, ia pun tersenyum dan berbisik “Tidak apa-apa kan aku di sini?”

Chaeri mengangguk, sebenarnya ia sama sekali tidak terganggu, hanya merasa aneh.

Nami menggigit bibirnya, ia tidak berhenti mencuri lirik pada Chaeri yang sekarang sedang membuka bukunya dan mulai menulis apa yang tercatat di papan tulis. Berbanding terbalik dengan Nami yang catatannya hanya penuh dengan coretan dan rencana konyol untuk mendapatkan Kyungsoo.

Ia menunggu guru Kim membalikkan badanya untuk menuliskan penyelesaian salah satu rumus pemuaian. Harapannya segera terkabul, guru Kim membalikkan badannya dan Nami segera menyenggol pelan sikut Chaeri. Chaeri segera menengok dengan wajah kagetnya.

“Chaeri, maaf aku tidak sengaja melihatnya. Apa kau menitipkan sebuah surat pada Chen?” Nami berbisik.

Chaeri menepuk dahinya pelan, rupanya ia kurang hati-hati, sekarang Nami akan mengira ia menyukai Chen. Dan sekarang hal itu harus segera diklarifikasi “I-iya, tapi itu bukan untuk Chen! Untuk Kyungsoo”

Detik berikutnya Nami membulatkan matanya kaget, sama dengan Chaeri yang tiba-tiba merasa bodoh

Aish Nami kan suka Kyungsoo! Dan sekarang Nami akan mengira aku menyukai laki-laki yang sama dengannya.

Tanpa menunggu reaksi lebih lanjut dari Nami Chaeri kembali membuka mulutnya “Seseorang menititipkan surat padaku untuk diberikan pada Kyungsoo, dan karena tidak bertemu Kyungsoo aku menitipkannya pada Chen.”

Beban Nami seketika terangkat, ia merasa lega mengetahui kesalahpahaman baru saja terjadi. Tidak seperti Nami yang percaya diri seperti biasanya, ia tahu jika Chaeri akan menjadi saingannya, Kyungsoo tidak akan jatuh  pada dirinya, ia tahu tipe Kyungsoo dan ia rasa Chaeri hampir sesuai dengan tipe itu, yah pengecualian soal rambut tebal ikal itu.

“Boleh aku tahu siapa yang menitipkan surat itu?” ketegangaan di wajah Nami menghilang digantikan senyum bersahabat.

“Luhan.”

“LUHAN!?” Nami berkata dengan keras dan tak perlu menunggu waktu lagi, guru Kim menghardik dan menujuk pintu kelas mereka “Seo Nami, keluar.”

Luhan menari tenggelam dengan dunianya, earphone yang melekat pada kedua telinga membuatnya menghiraukan hiruk pikuk di sekitarnya. Ia sudah terbiasa mendapat tatapan aneh dari orang-orang, aneh karena jarang ada orang yang berani menari sendiri di tengah-tengah halaman sekolah. Beberapa orang yang sudah terbiasa dengan Luhan yan seperti itu hanya melaluinya menganggap Luhan hanya boneka selamat datang yang terus menari.

Sama seperti sore biasanya, matanya yang jarang terlihat begitu serius sekarang memancarkan aura aku-tidak-mau-diganggu. Luhan selalu menghabiskan sorenya di halaman sekolah, ia lebih suka menari diterpa  cahaya serasa mendapat lampu sorot gratis  dibanding harus berbagi ruangan dengan Jongin yang cenderung selalu mengkritik gerakannya. Tapi sesuatu yang berbeda terjadi kali ini, Luhan yang sedang melakukan pendinginan akhirnya menyerah berteriak “Ya! Siapapun yang terus mengintipku di balik pohon sekarang keluar!”

Awalnya ia merasa tidak bermasalah seseorang menontonnya latihan, beberapa murid yang mengaku fansnya bahkan merekam Luhan secara terang-terangan. Tapi dari tadi, ia merasakan tatapan seperti laser terus menyorotinya, seperti mengintimidasi karena tatapan itu tidak hilang bahkan setelah hampir sejam ia terus menari.

Chaeri yang refleks bersembunyi di balik pohon lantaran mendapat teriakan dari Luhan akhirnya memantapkan niatnya untuk bertatap muka dengan Luhan. Chaeri benar-benar mengutuk dirinya sendiri, kenapa ia selalu membuat masalah, atau mungkin karena ia terlalu baik dan mencoba untuk bertanggung jawab pada setiap masalah yang terjadi karena ketidakpekaannya kali ini, tapi untuk yang ini, ia tahu ia memang harus minta maaf pada Luhan, tentu saja, siapa yang tidak akan marah mendapat predikat gay karena mulut ceplos Chaeri.

“Chaeri?” Luhan menaikkan sebelah alisnya. Ia  kaget, sejak kapan Chaeri jadi fansnya? Terlebih dengan menguntit seperti itu. Chaeri yang pernah berpengalaman dengan Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat ekspresi bingung Luhan “A-aku bukan fansmu! Tadi ada keperluan dan melihatmu yang tidak mau diganggu aku memilih menunggu di bawah pohon.”

“Ahh iya-iya.” Luhan mengangguk-ngangguk. Tiba-tiba ia tersenyum baru ingat Chaeri merupakan tokoh penting dalam misi penyerahan surat cinta untuk Kyungsoo. “Oh ya? Suratnya bagaimana? Sudah?”

Terbalik dengan ekspresi girang Luhan, Chaeri menggigit bibirnya sebelum membuka mulutnya “Aku serahkan pada Chen, seingatku mereka teman sekelas, dan lagi aku ingin meminta maaf.”

“Minta maaf?”

“Ya minta maaf karena….”

“Karena?” Luhan membungkkan badannya mendekatkan kepalanya karena suara Chaeri yang terlalu kecil.

“Karena……akumembuatNamimengirakauadalahgay!” Mulut Chaeri berkomat-kamit cepat. Luhan tidak menangkap kalimat itu, hanya satu kata yang tertangkap dan itu sangat aneh keluar dari mulut Chaeri, gay?

Chaeri menyadari dirinya terlalu panik, ia pun menarik napas dan menatap Luhan kali ini lebih mantap “Nami bertanya padaku apakah aku memberikan surat pada Kyungsoo lalu aku bilang aku dititipkan seseorang untuk memberikannya pada Kyungsoo, lalu Nami bertanya siapa yang menitipkannya padaku dan aku menyebut namamu, Nami berteriak dan sebelum sempat aku mengkonfirmasi ia salah sangka mengiramu yang mengirim surat Nami dipanggil keluar dan setelah itu aku belum bertemu dengannya lagi!”  Chaeri menghela napas panjang melihat ia hanya mengambil satu tarikan napas untuk menceritakan ulang peristiwa tadi.

Luhan mengerutkan dahinya, sungguh ia merasa konyol. Apakah ini yang dinamakan karma? Sejujurnya ia tidak begitu keberatan gosip miring itu diketahui seseorang, tapi ini Nami yang mengetahuinya. Dan Nami yang ia tahu, Nami yang segudang otaknya dipenuhi Kyungsoo dan gosip. Luhan menggeleng-gelengkan kepala tiba-tiba merasa tidak habis pikir kenapa perempuan yang disukai Baekhyun lagi-lagi bermasalah.

“A-aku akan mencari Nami!” Chaeri kembali berkata, begitu ia ingin berlari dan meneruskan pencarian Nami tiba-tiba Luhan memegang lengannya. “Tidak perlu, ada cara lebih cepat.

Luhan melepaskan pegangannya dan mengeluarkan ponselnya dari kantong celana, dalam beberapa detik ia sudah merekatkannya pada telinga “Halo Kyung?”

Chaeri memiringkan kepalanya berusaha mencari hubungan antara cara lebih cepat dan menelpon Kyungsoo.

“Aku melihat ada coretan di pagar sekolah kita, mungkin kau tau siapa yang berani mencoretnya? Mengingat kau satu-satunya murid yang selalu mencari orang yang berani mencoret-coret di pagar sekolah kita.”

Beberapa detik kemudia Luhan menutup telponnya dan tersenyum pada Chaeri “Sudah selesai. Sekarang kita tinggal menunggu di depan sana.” Dengan santai Luhan pun berjalan menuju gerbang sekolah mereka  diikuti dengan Chaeri yang masih belum mengerti apa yang ia maksud selesai kalau bahkan memulai saja belum?

Baekhyun masih keheranan melihat lantai koridor mereka yang bersih, apa Chaeri sudah membersihkannya terlebih dahulu? Atau janitor mereka yang terlalu perfeksionis? Atau siapapun itu Baekhyun berterima kasih karena itu artinya ia tidak perlu menghabiskan sorenya di sekolah. Dan itu artinya ia bisa makan bebek panggang memenuhi janjinya dengan Kyungsoo.

Akhirnya dengan langkah ringan senang tidak perlu menjalani hukuman ia pun menenteng sepatu futsalnya dan berjalan menuruni tangga hingga akhirnya ia menemukan sosok Kyungsoo berjalan keluar dari kelasnya. Begitu Baekhyun ingin menyahuti Kyungsoo kalau ia bisa pergi sore ini tiba-tiba sosok Nami terlihat mengekori Kyungsoo. Melihat hal itu Baekhyun tiba-tiba merasa bodoh, kenapa ia tidak menyadari itu sejak awal? Kalau Nami memang  menyukai Kyungsoo? Melihat tingkah agresif Nami harusnya itu terbaca jelas bagi siapa saja yang melihatnya tentu saja dengan pengecualian untuk Kyungsoo yang harusnya dapat membaca keadaan kalau jelas Nami sedang mengejar-ngejarnya.

D.O!” Baekhyun memanggil Kyungsoo tidak peduli seberapa canggung keadaan nanti mengingat kalau Nami pernah memberitahu alasannya menolak tidak lain karena ia suka Kyungsoo. Nami ikutan menengok refleks merasa dirinya harus tahu siapa orang yang berkeperluan dengan Kyungsoonya dan begitu melihat Baekhyun yang memanggilnya ia hanya bisa menggigit bibir, malu dan bersalah menjalarinya.

“Jadi makan sore ini?” Baekhyun menepuk bahu Kyungsoo dan berjalan di sampingnya, keberadaan Nami dihiraukannnya, bukan karena benci atau apa tapi ia memang tidak berurusan dengan Nami kali ini.

Kyungsoo terdiam sejenak sebelum menjawab, ia baru ingat Baekhyun baru saja bebas dari detensi karena bantuannya membersihkan koridor dan kelas  “Kau tahu tempatnya?

Baekhyun mengangguk dan menepuk dadanya “Serahkan padaku! Pamanku memiliki restoran China di daerah ini.”

“Bebek panggang?” Tiba-tiba Nami ikut angkat bicara membuat Baekhyun menjadi gelagapan tidak menyangka Nami akan bicara, Baekhyun yang masih merasa canggung berterima kasih karena Kyungsoo lah yang menjawab pertanyaan Nami “Kami mau makan habis ini.” Ia memandang Nami sekilas lalu kembali menghadap Baekhyun “Oh ya sebelumnya aku ada urusan dengan Luhan, aku pergi dulu kita bertemu di gerbang sekolah.” Kyungsoo pun berlari meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa melongo melihat temannya sudah berlari meninggalkan dirinya dalam suasana terberat.

Nami yang baru saja ingin membuka mulut mengatakan ia ingin ikut, ikutan terdiam merasa kaget, pertama karena sekarang ia hanya berdampingan dengan Byun Baekhyun dan kedua karena nama Luhan tersebut, asumsinya Luhan memiliki ‘kelainan’ semakin menjadi ia menggeleng-geleng kepalanya berusaha mendepak pikirannya itu.

Sementara itu Baekhyun terus memutar otaknya mencari skenario terbaik untuk menghancurkan keheningan ini. Rasanya bukan dirinya yang biasa mendapat julukan ‘atmosfer maker’ harusnya membuat Baekhyun dapat mengatasi suasana canggung dengan mudah.

“Baekhyun?” Nami memutuskan untuk memulai pembicaraan. Baekhyun yang hampir saja ingin menyusul Kyungsoo berlari kabur dari situasi segera menengok pada Nami “Ya?”

“Kau tidak membenci Kyungsoo kan?”

Mendengar pertanyaan itu membuat Baekhyun menghela napas, apa dirinya terlihat seperti orang yang dapat membenci temannya sendiri dengan alasan sedangkal itu? “Tentu tidak, aku akan merasa konyol jika  iya.”

Nami tersenyum dan mengangguk, harusnya ia tahu Baekhyun bukan orang seperti itu, dan begitu ia ingin menyemangati Baekhyun bahwa banyak perempuan lain yang pantas untuknya tiba-tiba Baekhyun mengatakan sesuatu yang membuat otaknya memanas “Lagi pula belum tentu Kyungsoo menyukai mu kan?”

Nami segera menengokkan kepalanya pada Baekhyun, matanya yang bulat menunjukkan kilatan menantang “Aku tidak akan kalah dengan Luhan!”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Baekhyun ia segera  berlari, ia harus menyusul Kyungsoo dan menghentikkan Luhan. Dan Baekhyun yang benar-benar clueless dengan nama Luhan yang tiba-tiba muncul hanya bisa memandang jendela samping koridor berusaha mencari jawaban dari langit yang ia sukai akhir-akhir ini.

44 thoughts on “#Detour 06

  1. finally an update!

    kenapa aku merasa akan ada yg lebih lanjut dg Sena dan Luhan? o.o
    tapi bagian kesukaanku adalah:

    “Aku tidak akan kalah dengan Luhan!”
    it’s so wrong yet i like it/bricked

  2. aigoo~ segitunyakah nami suka ama kyungsoo, ampe” gak ngebiari 1 orangpun menyatakan perasaan pada kyungsoo termasuk luhan… hihihihi😀
    aduh thor… pokoknya daebakk lah🙂

  3. Wkwkwk ini kok ceritanya jadi aneh gini ?
    Hahaha mksudnya bkn aneh dalam artian jelek tp awalnya aku pikir ini romance fluff gitu tp ternyata banyakan komedinya(?)

    Nami orangnya terlalu gampang salah paham.
    Kasian sama luhan yg dicap gay sama nami.

  4. Nami salah paham.. Luhan dikira gay -_- Kasian Chaeri-nya deh, bolak-balik menghadapi masalah
    Kyungsoo itu pinter tapi bego, ga peka sama perasaan cewek.
    Tapi, cewe2 agresif mirip Nami ini rada gimanaaa deh over banget, terobsesi sama cowok.. Pikirannya sempit, efek jatuh cinta mungkin ya

    Bagus.. Love it
    -@donghhaesbutt-

  5. ya ampunnn seneng banget deh nemu fannfic ini…lucu sangatt bikin ngakak..
    apalgi maincast nya si keepmoving baekhyun..kereen pokoknya thor ngakak ngikik sendiri di pagi buta,,

  6. Waah btapa senangnya kalau punya d.o dan ocd-nya dirumah. Kbayang skinclong apa rumahku.
    Chaeri bnar2 orng yg brtanggung jawab, gk pduli skecil atau sbesar apapun salahnya sma orang dia tetep harus minta maaf, daebak.. Itu patut d contoh,
    makasih kak, ff mu mnghibur bngat..
    Smangat!

  7. Thor, aku ngakak abis abisan baca ff ni, apalagi pas bagian “aku tidak akan kalah dengan Luhan” HAHAHA daebak, suka banget ff ini ^^

  8. Ampuuun d.o baik bangeet~ *ngebayangin kalo ada orang yg begitu beneran di dunia*
    Tuh kaaaan aku ga berhenti ketawa lagiiii.. kayanya aku harus siap siap capek ketawa deh buat chapter chapter ke depan soalnya asli ini kocak bangeet wkwkwk xD
    Daebaaak!!😀

  9. Duh sumpah ngakak baca part ini
    Bias utama qw di exo lagi kena complicated problem. Bang lulu yang disangka gay sama kyungsoo dan bebek yang spchleess diakhir scane.
    Entahlah qw g begitu suka sosok nami dia kepedean😐
    Akhhhhhh fix qw bisa fangirling di ff ini hahahha #evillough

  10. aing… Luhan? Si ikan lohannya EXO? Bias aku?
    Gay? Suka sama Kyungsoo? Engaklah, Nami kok bisa percaya gitu aja sih?
    Makanya jangan terlalu suka sama orang segitunya kaliii~
    Tadinya aku pikir Nami bakalan sebel sama Chaerin gitu di sini, tapi kayaknya nanti *eh? Bener gak?
    Oh, punya firasat-firasat gitu tentang Luhan dan Sena

  11. Pingback: Rekomendai Fanfiction | Anggi Nindya Sari

  12. hahahahaha sumpaah yah seruuu banget ini ff
    nami nami .. gampanh banget ngambil kesimpulan
    ckckckc baekhyun selalu suka sama cewe aneh eiyuuhh hahahaha

  13. waaa si d.o perfectsionis ya ….
    sampek segitunya, ngeliat kotor dikit, langsung diberesin
    hahaha masak iya luhan dikira gay😄
    lucuuu sumpah😄

  14. bwahhahaahahah, bentar .jadi kasihan sama luhan btw luhan suka sena ya?? ok kayaknya ada seauatu dan apesnya dia niat balas dendam malah dikira homo wakakka well jelas ni takut kesaing luhan soalnya luhan lbh cantik hekekekwkww

  15. Yaampun ngakak pas bagian “Aku tidak akan kalah dengan Luhan!” HAHAHA :v konyol bgt.., chaeri ngomongnya kepotong potong siii…jadi pada salah paham gitu kan! Daebaklah thor🙂

  16. Pingback: rekomendasi ff exo berchapter | choihyunyoo

  17. Pingback: rekomendasi ff EXO berchapter part 1 | choihyunyoo111's Blog

  18. astaga thor .. semakin lama semakin jatuh cinta sma ff ini..
    gg ngebosenin slalu …
    comedy banget, aku gg sabar sih nungguin perkembangan nya baekhyun sma chaerin.. hahhaa…lanjut baca..

  19. Aku sempat kaget pas nami bilang, “aku tidak akan kalah dengan Luhan.” . Trnyata nami bnr2 salah paham. Dan itu lucu pake bgt😀

  20. Eung…
    Aku merasa Nami berlebihan deh!
    Dan aku rasa Kyungsoo begitu peduli sekitar bgt! Sampe-sampe melupakan fakta bahwa sebuah masalah pasti ada pelaku…heol, entahlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s