PASTEL #010

author faints waktu bikin chapter ini

Karena author pengen buat poster baru tapi ga mood jadi sementara pajang Taohun aja

PASTEL

#010 

“Sina? sina?” Tao memanggil Sina yang sekarang sedang duduk di sebelahnya dengan punggung membelakangi Tao. “Hei kau tidak marah kan?”

Tao menginginkan sebuah kontak mata dari Sina, tapi Sina tidak memberikannya. Ia sudah menggoncang Sina tapi lagi-lagi Sina terlalu keras kepala untuk mau berbicara dengan Tao. Setelah sepuluh menit mengeluarkan segala usahanya Tao pun menghela napas dan memilih pasrah. Mungkin ia salah, tapi Sina marah seperti ini, itu sangat berlebihan.

Flashback

“Kau bercanda?” Sina langsung menolak permintaan Tao untuk mengantarnya pulang ke toko ahjummanya. Tao mengigit bibirnya dan memegang bahu Sina yang tidak perlu menunggu waktu lagi untuk Tao segera tahu kalau Sina tidak suka seseorang memegang bahunya.

“Aw!” Tao mengelus tangannya yang baru ditampar Sina.

“Aku harus pulang sebelum langit gelap Tao.” Sina berkata sambil memeluk dirinya yang menggigil kedinginan. Tao masih belum menyerah, ia harus pulang dan melihat tuhan menurunkan seseorang untuk membantunya (maksudnya Sina) Tao tidak akan menyia-nyiakannya.

“Sina tolong aku! Ahjumma pasti khawatir melihat keponakannya tidak pulang-pulang.” Ia memandang Sina dengan tatapan andalan puppy eyes yang selalu ia berikan pada temannya di China duu sekarang sama sekali tidak berefek pada Sina karena Sina sama sekali tidak menengok padanya.

“Jadi apa yang harus kulakukan?” Tao pun bertanya dengan lebih tenang, ia sadar panik sama sekali tidak akan membuatnya mendapat simpati dari Sina.

Sina melirik Tao dari ekor matanya, dalam hati ia benar-benar ingin mengatakan “Deritamu Tao.” Tapi Sina cukup punya hati untuk tahu kalau kata-kata itu benar-benar jahat. Ia pun menghela napas “Kau bisa bermalam di sini dan besok sore aku akan mengantarmu pulang.”

“HAH!?” Tao membuka kedua mulutnya lebar merasa kaget dengan solusi dari Sina Sina pasti bercanda. “A-aku sendirian di sini? Malam ini!?”

Sina memandang balik pada Tao dengan ekspresi apa-aku-telah-mengatakan-hal-yang-salah? Tao meniup poninya dari dahi, ia menggelengkan kepala lalu menundukkan kepalanya memandangi kedua sepatunya yang sudah dekil akibat berlarian sepanjang hari.

“Bagaimana kalau aku menginap di rumahmu?”

Sina memejamkan matanya perlahan dan mendengus, ia menengok pada Tao, tidak seperti Sina yang biasanya kali ini ia terlihat gusar “Kau? Menginap? Di rumahku? Tidak.”

Tao tidak begitu kecewa dengan penolakan Sina, sebenarnya ia  setengah bercanda, Tao mengerti laki-laki menginap di rumah perempuan bukan hal yang lumrah, setidaknya itu prinsip yang selama ini ia pegang, ditambah penekan; ia dan Sina tidak cukup saling mengenal.

“Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku tidak hafal nomor ahjumma, aku belum bisa membaca hangul dengan begitu baik, aku—“

“Stop.” Sina memotong kalimat Tao, semakin ia mendengar semakin ia merasa Tao hanya anak kecil yang terperangkap dalam tubuh seorang pria dewasa. Dan Sina, orang tuanya selalu mengajarkannya untuk tidak pernah membiarkan seorang anak kecil menangis terlebih sendirian. Dan meskipun Tao tidak atau mungkin belum menangis, Sina akhirnya memutuskan untuk mengikuti kata hati terdalamnya.

“Ayo naik bus ini.” Tanpa melirik sedikitpun pada Tao ia berjalan menuju bus tidak mempedulikan tetesan hujan yang masih belum berhenti. Tao membuka kedua mulutnya tanpa mengeluarkan sedikit pun suara, terlalu kaget kalau Sina akan membantunya secepat itu. Ia hampir saja ingin berlutut di depan umum untuk mendapatkan simpati Sina.

“Oh Sehun?” Sehun mengalihkan pandangannya dari tv dan melihat ibunya sudah duduk di sampingnya dengan alis sebelah terangkat. Satu tangannya  mengangkat kotak bekal Miyoung yang terbungkus dengan kain bermotif floral, cukup menunjukkan bahwa benda itu bukan milik pria.

Sehun mengangkat kedua mulutnya, ingin menjelaskan sebelum ibunya asal mengambil kesimpulan. Ibu Sehun berdehem dan menggelengkan kepala, gestur kecewa seorang ibu pada anaknya. Ia pun mengeluarkan secarik kertas yang sudah terlipat dan membacanya keras-keras “Hunnie! Maaf  akhir-akhir ini aku sibuk, bekal ini sebagai tembusan atas kencan terakhir kita yang sedikit terganggu. –Miyoung.”

Sehun merapatkan bibirnya, membentuk garis tipis, tidak tersenyum atau cemberut, sekarang ia ingat ia belum menceritakan pada ibunya bahwa ia sudah memiliki pacar. Dengan kata belum dapat dipastikan Sehun bukan tipe yang menyembunyikan status dirinya pada orang tua sendiri, ia hanya lupa dan kalau ibunya tidak menemukan bekal itu mungkin ia akan terus lupa.

“Aah iya, beberapa minggu lalu aku baru jadian dengan teman perempuanku, namanya Miyoung.” Sehun berkata dengan datar yang sukses membuat ibunya makin jengkel. Sehun anak laki-laki satu-satunya baru saja mengakui ia memiliki pacar pertama dengan terlalu enteng, semudah ia memberitahu ibunya kalau ia baru saja mendapat teman sekelas baru (yang sebenarnya itu tidak cukup penting untuk diberitahu).

Menyadari ibunya masih duduk di sana sama sekali tidak puas dengan penjelasannya, Sehun pun mengambil ponsel dari kantong celananya “Ibu mau lihat?”

Ibu Sehun segera mengangguk dengan semangat, Sehun ikutan lega melihat basa-basinya memperlihat foto Miyoung ternyata berhasil memperbaiki mood ibunya. “Bagaimana?” Ia menunjukkan foto selca mereka berdua, saat keduanya baru saja jadian. Tidak terlihat terlalu intim, mengingat bahu mereka berpisah beberapa senti.

Dengan mata terpincing Ibu Sehun pun mengambil ponsel anaknya dan memperhatikan foto itu lebih dekat. Miyoung terlihat manis, kedua bibirnya yang kecil tersenyum lebar  memperlihatkan lesung pipi, wajahnya yang kecil ditutupi oleh poni yang belah pingir yang membuat kesan dewasa, dewasa? Ya Miyoung terlihat seperti itu sekalipun ia menyunggingkan senyum khas anak kecil, lebar hingga menyipitkan matanya. “Tipikal anak Seoul, ia manis.” Sehun pun kembali mengambil ponsel yang dijulurkan ibunya, ia hanya terkikih. Begitu ia ingin kembali memfokuskan diri pada tv tiba-tiba ibunya menyenggol sikutnya, tanda Sehun masih belum boleh mengalihkan perhatian darinya.

“Ceritakan bagaimana kalian bertemu.”

Sehum menghela napas, ia mengambil remote dan mematikan tv nya. Ibunya mulai menginterogasi dan Sehun mengerti sekali integrosi dimulai tidak boleh ada yang mengganggunya. “Aku kenal Miyoung dari Chanyeol.”

Ibu Sehun mengangguk, ia kenal Chanyeol, salah satu dari teman luar sekolah Sehun yang memiliki kesamaan hobi. “Setiap aku dan teman-teman latihan menari di studio milik Chanyeol, Miyoung selalu datang, selain karena mereka teman sekampus, Miyo—“

“Sekampus? Miyoung sudah kuliah? Ia lebih tua darimu?”

Kalimatnya terpotong, terlebih dengan pertanyaan yang membuatnya merasa muak. Sehun ingin memutar bola matanya, tapi sebagai seorang anak laki-laki yang memiliki manner ia memilih hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan ibunya.

Ibunya balas mengangguk mengartikan ia tidak benar-benar bermasalah mengenai umur dan Sehun sangat bersyukur ia tidak perlu lagi berargumen soal umur dalam menjalani sebuah hubungan. “Miyoung dari jurusan piano, ia suka datang ke studio Chanyeol untuk berlatih sampai malam, dan mau tidak mau aku selalu bertemu dengannya. Dan…yah begitulah, ia menyatakan perasaan lalu aku menemukan kecocokan hingga akhirnya sampai sekarang aku berpacaran dengannya.”

Sehun berhenti sejenak mengamati respon dari ibunya yang sama sekali tidak terbaca. Ia tahu ibunya berpikir, tapi berpikir untuk apa? Hubungan Miyoung dan dirinya tidak kompleks, mereka hanya seperti pasangan pada umumnya, dan sebagai keluarga pada umumnya ibunya Sehun harusnya hanya mengangguk mengerti tidak perlu berpikir seolah anaknya baru saja menceritakan salah satu kisah detektif.

“Kalian pernah bertengkar?”

Sehun kembali menengok pada ibunya dan langsung mengangguk “Pernah tapi bukannya itu hal yang wajar?”

“Iya itu wajar.” Ibu Sehun pun menghembuskan napas dan menyenderkan dirinya pada sofa. Ia melihat anaknya Sehun sudah kembali berfokus pada tv, hal itu membuatnya terus mengamati figur Sehun dari samping, biasanya Sehun selalu mengomel setiap ibunya meneliti wajahnya, dan melihat Sehun yang terlalu asyik pada acara variety show membuat ibunya dapat dengan tenang memperhatikan wajah tampan anaknya. Rasanya baru kemarin ia mengantar Sehun menuju sekolah dasarnya sekarang anaknya itu sudah menginjak SMA. Sebagai ibu ia merasa dirinya memang protektif, Sehun yang ia kenal Sehun yang semasa kecil sering menangis karena tetangga perempuan yang lebih tua darinya selalu menyubit pipinya, Sehun yang setiap hari minum susu dengan alasan ia ingin cepat-cepat besar sehingga ibunya tidak perlu melindunginya lagi.

Jauh dari lubuk hatinya ibu Sehun selalu menantikan saat di mana anaknya sudah besar, sekalipun ia tahu itu artinya Sehun tidak bisa lagi diajak bermanja seperti dulu. Dan sekarang saat penantiannya tiba, Sehun sudah tidak pantas dikatakan bocah tapi tidak cukup jantan untuk dikatakan dewasa. Dengan hobi menonton drama, ibu Sehun diam-diam bersyukur memiliki anak dengan paras menarik seperti Sehun, ia selalu mengkhayalkan kehidupan cinta Sehun yang nantinya penuh drama; pengakuan, penolakan, dan hal sejenis lainnya. Ia selalu menginginkan Sehun akan membawa drama pada kehidupannya, dan sekarang yang ia rasakan; Miyoung tidak cukup mencolok sebagai lawan main Sehun dalam hidupnya. Ia memang cantik, ia baik, cukup mempesona dan justru di situlah masalahnya. Mungkin memang terdengar konyol, apalagi ini pemikiran seorang ibu, tapi tetap, ia berharap Sehun akan membawa seorang perempuan ‘lain’ yang bisa membuat skenario tidak terduga pada kehidupan cinta Sehun. Bukan hal lazim yang terlalu lancar yang bisa ditebak endingnya. Tidak sekedar terisi dengan kencan, pertengkaran ringan, berbaikan, damai, bertengkar lagi, siklus hubungan perempuan dan laki-laki yang tidak ada habisnya dan berkesan retoris (baca: membosankan) tapi sesuatu yang berbeda yang membawa warna baru pada kehidupan Sehun.

“Aku pulang!” Tao membuka pintu toko dengan kedua tangannya, ia segera berlari menghampiri bibinya yang sedang memegang telpon dan spontan membuat Tao merasa bibinya ingin menghubungi polisi.

“Jangan panggil polisi!” tangan Tao segera merampas telpon dari tangan ahjummanya. Ahjumma mengernyitkan dahinya “Aku hanya ingin memesan pizza!” Ia kembali mengambil paksa telpon itu membuat Tao menelan ludah merasa malu dan mengangguk.

Sina yang hanya mengamati dari pintu masuk hanya menggelengkan kepalanya.

“Tao aku pulang ya.” Sina berkata masih dengan posisi di depan pintu, hari memang sudah gelap dan kalau jujur,  ia benar-benar tidak ingin pulang dan tampaknya Huang Zitao dapat membaca isi kepala Sina “Ah Sina! Makan malam dulu!”

“Ada Sina?” Ahjumma yang baru saja menutup gagang telponnya segera mengalihkan pandangannya ke pintu masuk melihat pelanggan nomor satunya berdiri di sana dengan rambut kuyup, basah? Ia pun melihat Tao dan menyadari kondisi rambut yang sama dengan Sina, basah.

“Kenapa kalian basah?” Ia bertanya pada Tao yang langsung menyeringai

“Aku tersesat dan kebetulan bertemu Sina, jadi aku bisa pulang.” Tao berhenti sebelum akhirnya ia sadar ia belum menjawab pertanyaan bibinya “Ah tadi hujan makanya kami kebasahan.”

Kedua mata bibinya membulat kaget “Ka-kau meminta Sina mengantar dirimu hingga ke sini?”

Tao mengangguk “Kubilang aku tersesat, dan Sina satu-satunya orang yang bisa membantuku.”

Sina yang dapat membaca situasi akhirnya berjalan maju menghampiri mereka berdua. Ia tersenyum dan berusaha mengalihkan omelan ahjumma untuk Tao dengan hal lain “Ahjumma, boleh aku pinjam handuk?”

Rencana Sina berhasil dan Tao segera memandang Sina penuh terima kasih bersedia untuk membantunya menghindar dari omelan bibinya “Ya tentu saja, tunggu kuambilkan.” Ahjumma pun segera berlari menaiki tangga.

Sementara itu Tao yang sadar kalau dirinya memang merepotkan Sina hanya bisa mengacak-acak rambutnya kebingungan sendiri, nalurinya sebagai laki-laki mengatakan kalau membiarkan seorang perempuan pulang malam dengan catatan pulang sendirian dan terlebih murid SMA ia tahu itu tidak cukup aman tapi seberapa keras keinginan Tao untuk  mengantar pulang Sina ia tidak bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk mengingat bus apa saja yang harus ia naiki untuk pulang kembali nanti.

 “Sina?”

“Hmm?” Sina hanya menggumam membalas panggilan Tao, pikirannya juga masih sibuk, mencari akal agar rasa panaroidnya tiba di rumah yang kosong bisa hilang.

“Bagaimana kalau menginap di sini saja?”

Sina segera mengangkat kepalanya menghadap pada Tao. Tao yang hanya memandang datar padanya seolah ia baru saja mengajak Sina pergi minum teh.

“Ah benar! Kau menginap saja!” Ahjumma tiba-tiba datang menimpali. Ia segera menyerahkan handuk pada Sina dan Tao. Sina masih terdiam menimbang tawaran itu, tidak terdengar buruk, tentu karena menurutnya berada di rumah kosong adalah hal paling buruk.

“Tapi bagaimana aku sekolah besok?”

Ahjumma segera menjawab berbeda dengan Tao yang ikut kebingungan dengan pertanyaan Sina “Besok pagi Tao akan mengantarmu, dan kebetulan besok siang aku ada keperluan dekat sekolahmu jadi aku bisa menjemput Tao. Ah dasar namja ini! Kau sudah 19 tahun tapi pulang sendiri saja belum bisa!” Ahjumma memandang gemas pada Tao membuat Sina mengulum senyum geli karena ia memiliki pendapat yang sama.

Tao menggigit bibirnya sama sekali tidak memprotes karena dalam hati ia juga setuju akan hal itu. Tao pun mengangguk dan tersenyum pada Sina “Jadi bagaimana? Daripada Sina pulang malam?”

Sina segera memberi anggukan sebagai jawabannya. Ahjumma segera menghela napas lega melihat Sina yang begitu saja setuju, ia benar-benar malas berdebat lagi dengan Sina seperti kejadian hampir serupa yang terjadi dulu yang untungnya ada laki-laki bernama Oh Sehun yang bersedia mengantar Sina. “Baiklah bagaimana kalau kau mandi dulu di lanjutkan dengan makan malam?” Ahjumma berkata dengan riang, Tao di sampingnya tersenyum, dulu makan malam dengan Sina seperti mimpi buruk baginya tapi sekarang ia tidak bisa mendepak kalau mimpi itu sudah menjelma menjadi mimpi menyenangkan.

Sina membalikkan badannya berkali-kali; kanan-kiri tidak kunjung menemukan posisi tidur yang tepat. Ia meraih guling di depannya dan memeluknya mencoba mencari kenyamanan tapi tidak cukup lama sampai ia menendang guling itu jatuh dari kasur merasakan sebuah hal yang aneh, guling yang memiliki aroma seperti Tao itu hanya membuat Sina merasa bahwa ia memeluk Tao, dan benar ia merasa geli memikirkan hal itu.

Setelah berdebat panjang di mana Sina tidur akhirnya keputusan jatuh Tao akan berkorban tidur di lantai bawah dengan sofa mungil yang tidak cukup nyaman untuk tubuh tinggi seperti Tao. Dalam hati Sina merasa bersalah tapi kalau Sina yang harus tidur di bawah tentu Tao yang akan makin merasa bersalah.

Sina yang terbiasa dengan lampu menyala saat tidur akhirnya memandang seisi kamar yang tidak sempat ia perhatikan karena ia begitu mengantuk dan ingin tidur yang sayangnya begitu tengah malam, penyakitnya tidak terbiasa tidur di kasurnya sendiri membuat Sina terbangun dari tidurnya. Sina menengok ke kiri mengamati foto berbingkai yang berdiri di atas laci kecil sebelah kasur Tao. Matanya yang lelah dipincingkan untuk melihat lebih jelas foto seperti apa itu lalu ia melihat Tao kecil yang sedang berfoto bersama dengan bayi panda, kantung mata yang memang mencolok dari Tao sejak kecil membuat Sina penasaran kenapa kantung itu harus terlihat sebesar itu? Masih di tengah analisisnya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.

Sina yang terlalu malas mengatakan ‘masuk’ akhirnya memilih pura-pura tidur, ia segera memejamkan matanya berusaha terlihat sealami mungkin. Tidak sampai lima menit akhirnya pintu itu terbuka tidak lagi menunggu jawaban Sina untuk memperbolehkannya terbuka. Kepala Tao menyembul dari balik pintu, ia melihat seisi kamarnya dan menjatuhkan pandangannya pada Sina yang sudah terlentang nyaman di atas kasurnya.

Tao yang sebenarnya merasa malu melihat Sina tertidur hanya menelan ludah dan melangkahkan kakinya pelan memasuki kamar, ia membutuhkan bantal untuk tidur dan ahjummanya sudah mengunci kamarnya sehingga satu-satunya cara untuk Tao adalah mengambil bantalnya di kamar yang sedang ditempati Sina.

Tiba-tiba Tao mengernyit melihat guling kesayangannya jatuh di lantai, ia pun segera mengambil guling itu dan meletakkan di samping Sina. Sina dalam hati hanya menggerutu karena lagi-lagi cologne Tao tercium jelas.

Begitu Tao mengambil bantalnya hati-hati ia pun kembali berjalan menuju pintu sebelum akhirnya ia menyadari ada sesuatu yang aneh, lampu masih menyala. Tao yang tidak terbiasa tidur dengan kondisi terang akhirnya mematikan lampu sebelum tepat ia menutup pintu dan–

“TAO!”

Tao terlonjak dan segera membuka pintu kamarnya panik namanya terpanggil. Gelagapan tiba-tiba seseorang membentaknya Tao menengokkan kepalanya ke belakang hati-hati.

Dan di situ Sina yang sudah duduk di atas kasur memandangnya tajam hanya membuat Tao refleks menegakkan badannya teringat latihan wushunya setiap gurunya membentak. “A-apa?” Tao berusaha menyembunyikkan getaran suaranya.

Sina yang menyadari dirinya terlalu kasar tiba-tiba menggigit bibitnya mungkin ia salah membentak tapi bagaimanapun juga ia juga tidak siap dengan lampu yang seenaknya dimatikan oleh Tao.

“Nya-nyalakan.” Tanpa memandang Tao Sina menunjuk lampu di langit-langit kamar Tao.

Tao segera melihat apa yang Sina tunjuk dan ia segera mengernyit menyadari lampu satu-satunya hal yang Sina maksud. “A-ah baiklah-baiklah.”

Tao mengikuti perintah Sina dan segera yang ia lihat adalah Sina dengan wajah merona entah malu karena Tao melihat rambutnya yang berantakan atau karena Tao baru saja mengetahui salah satu kelemahannya.

“Kau takut kegelapan?” Tao spontan bertanya, bukan untuk menyudutkan; murni karena ia penasaran.

“Tidak.” Sina berkata berusaha tetap memasang ekspresi angkuh sekalipun ia yakin rona merah di kedua pipinya belum hilang. Tao memiringkan kepalanya lalu mengendikkan bahunya “Kalau begitu kumatikan.” Ia kembali mematikan lampu yang langsung mendapat hardikan dari Sina.

“Tao!”

Tao lagi-lagi terlonjak kaget, ia kembali menyalakan lampu dan melihat Sina dengan guling di tangan seperti siap melemparnya kapan saja. “Ka-kau bilang tidak takut kalau begitu kenapa tidak boleh dimatikan? Ini kan pemborosan.” Tao bertanya sekaligus protes.

Sina terdiam tidak menyangka Tao akan membahas masalah pemborosan di saat seperti ini. Tao yang masih menunggu jawaban Sina masih bersandar di depan pintu sekali-kali menguap.”Kumatikan ya?” Kali ini ia minta izin sebelum benar-benar mematikan.

Sina segera menggeleng-gelengkan kepalanya “Aku tidak takut, hanya benci.”

“Kenapa benci?”

Sina rasanya benar-benar ingin menyumpah Tao kenapa ia tidak bisa hanya mengangguk tanpa mempertanyakan sesuatu? Tao yang benar-benar penasaran tidak membaca mood Sena yang benar-benar memburuk.

“Aku tidak suka tidak bisa memastikan bagaimana sekelilingku, puas? Sekarang kau pergi aku mengantuk.” Sina kembali berbaring dan menarik selimut sampai menutupi seluruh badannya tidak peduli lagi selimut itu benar-benar memiliki wangi seperti Tao.

Tao mengangguk, ia pun keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan kembali membuka pintu “Sina!”

Tidak ada jawaban, sepertinya Sina sudah tidur, ia pun mengangguk pada dirinya sendiri untuk meyakinkan kalau kali ini mematikan lampu tidak apa-apa, toh Sina tidak mungkin sadar.

“HUANG ZITAO!”

“Uwaa!” Tao terloncat begitu sedetik ia baru mematikan lampu. Ngeri dengan teriakan Sina ia segera keluar dari kamarnya dan berlari ke bawah meninggalkan Sina dengan kondisi kamar yang gelap.

Sina mengacak-acak rambutnya frustasi tidak bisa melihat dengan jelas sekelilingnya. Satu-satunya cahaya berasal dari balik pintu yang tidak tertutup rapat. Sina pun memutuskan untuk menyalakan lampu sendiri, memarahi Tao bisa ia lakukan besok pagi.

Ketika Sina hampir sampai di depan pintu setelah berjalan pelan merasa paranoid dengan kegelapan tiba-tiba satu-satunya sumber cahaya dari balik pintu menghilang, dalam sekejap. Membuat Sina segera membeku diam, baru ia membuka mulutnya ingin berteriak pada Tao yang  dikira baru saja mematikan seluruh lampu dengan alasan pemborosan tiba-tiba ia mendengar jeritan Tao.

“SINAAAAA LISTRIKNYA MATI!”

Sina membulatkan matanya kaget mendengar hal yang paling ia benci terjadi. Lututnya lemas Sina segera terduduk di atas lantai. Situasi seperti ini situasi yang paling membuat Sina merasa lemah karena tidak ada sesuatu yang bisa ia lakukan selain memeluk lutut terus berdo’a sampai lampunya kembali menyala.

“Sina!” Tiba-tiba cahaya keluar dari balik pintu, memang tidak besar tapi itu cukup untuk membuat Sina merasa lega.

Tao yang baru saja masuk ke kamarnya dengan senter kecil terdiam melihat Sina yang terduduk di lantai, Sina segera menengok padanya dengan tatapan yang tidak pernah Tao lihat. Bukan Sina yang dingin, bukan Sina yang selalu memancarkan aura aku-ingin-sendiri tapi Sina yang pandangannya mengatakan aku-butuh-seseorang-di sini.

Tao menelan ludah dan ikut duduk di sebelah Sina. Ia sendiri sebenarnya tidak bermasalah dengan kegelapan tapi kalau konteksnya mati listrik, ia benci itu. Dan tanpa pikir panjang lagi ia segera menghampiri Sina.

“Boleh aku di sini?”

“Bagaimana kalau kau di sini?”

Tao dan Sina berkata berbarengan. Tao menundukkan wajahnya berusaha menyembunyikan ekspresi malunya sekalipun ia tahu suasana cukup gelap dan Sina tidak akan repot-repot memperhatikan wajahnya. Sina yang rasa panik lebih mendominasi daripada malu hanya terdiam tidak ambil pusing Tao dan dirinya berkata berbarengan.

Tao ikutan memeluk lutut, ia benar-benar tidak takut kegelapan, kali ini yang menjadi masalah justru sekarang Sina yang sedang menarik ujung bajunya membuat Tao malu setengah mati. Ia tidak terbiasa dengan jarak yang dekat antara perempuan dan dirinya. Terakhir kali ketika ia bertanding wushu dengan seorang perempuan.

“Si-sina…bajuku bisa melar.” Tao berkata pelan hati-hati dengan setiap ucapannya.

Sina yang tahu diri segera melepas baju Tao, begitu Tao ingin menghela napas lega tiba-tiba napasnya tercekat, sekarang Sina memegang tangannya.

Tao meletakkan senternya di lantai dan menutupi wajahnya dengan tangan benar-benar tidak tahan, ia benar-benar ingin melompat ke lubang untuk menyembunyikan segala kegugupannya. Jantungnya yang terbiasa memompa keras karena sering berolahraga sekarang terasa bekerja dua kali lipat atau mungkin lebih. Perutnya geli Tao benar-benar tidak mengerti gejala apa yang terjadi pada dirinya.

Sina yang masih sibuk mengatasi paranoid benar-benar tidak memikirkan reaksi orang di sebelahnya, yang jelas ia butuh seseorang dan sekarang ia menganggap Tao sebagai kebutuhannya yang tentu tidak boleh dilepaskan.

Tao memejamkan matanya, berusaha menghitung siapa tahu membuatnya menjadi lebih tenang. Tapi sayang semakin ia menghitung dalam keheningan semakin ia mendengar detak jantungnya sendiri dan menyadari Sina memang perempuan, Tao tidak terbiasa menyentuh kulit yang lembut selain ibunya sendiri dan sekarang merasakan Sina yang menggenggam tangannya terlalu erat membuat ia merasakan sensasi listrik di tangannya.

“Sina kau sakit?” Itu kalimat yang terucap begitu menyadari tangan Sina yang terlalu hangat.

Sina segera menengok pada Tao dan menggelengkan kepalanya “Tidak, tanganku memang selalu seperti ini.” Tanpa menunggu jawaban dari Tao ia kembali memalingkan wajahnya dan menundukkan kepalanya meletakkan di atas lututnya sendiri.

Tao yang kaget melihat Sina dalam jarak dekat terlalu kaget, dengan pelan ia menggeser dirinya dari Sina, setidaknya bahunya dan Sina tidak perlu bersentuhan kalau Tao tidak ingin jantungnya keluar. Sina yang menyadari orang yang menjadi tumpuannya kali ini menjauh hanya bisa mencengkeram tangan Tao lebih kuat.

“Tao jangan pergi.”

Sesuatu yang aneh makin menjalari tubuh Tao, entah itu jantung yang berdetak keterlaluan cepat, perut yang geli, darah yang serasa naik ke kepala dan terakhir, tangannya yang tiba-tiba meraih bahu Sina membawanya ke dalam sesuatu yang Tao tidak mengerti bagaimana ia bisa membiarkan dirinya melakukan itu.

Sina yang tahu-tahu sudah berada dalam pelukan Tao tidak tahu apa yang membuatnya tidak menolak, yang jelas Tao memberinya keamanan yang memang ia butuhkan saat ini. 

______________________

Author’s Note

SDFGHJKL:””GBHNGJ ಥ‿ಥ pertamakali bikin fluff daskjdhkjasd ga ngerti ah padahal ini baru /cough/ pelukan tapi deg2an waktu ngetik udah kayak gini…mungkin harus belajar lagi dengan membuat ff baru yg castingnya d.o gara2 ada seorang author yang menjanjikan untuk ngupdate ff d.o nya tapi ga diupdate2 juga…….

clumsy Tao😉

8 thoughts on “PASTEL #010

  1. annyeeeooooong author😀
    aku reader baru nih hihi dari kemaren nyari ff HZT tapi belom ada yang sreg eh ketemu juga disini😀
    aku sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, paket banget sama fanficnya😀 maniiiisss bikin senyum2 hihihi
    ini fanfic tao pertama yang aku temuin yang bagus eaaaaa wkwk #gombal
    tapi serius deh aku suka. author bias tao kah? btw aku biasnya tao *gak ada yang nanya-_-*
    sering2 ya thor update-nya, jangan pendek2 dooongs. bikin penasaran ><

    oiya, aku juga baru liat trailernya. bagus juga deh :3 manis bangeeeeet :3
    part selanjutnya jgn lama-lama ya thor. aku tungguin dan bakal kasih review deh asal fanficnya tao huahaha
    taosina momentnya di banyakin juga yaaaa wkwk *readerbarubanyakminta* xD :**

    seeyou next part ^^

    • Hi new reader! Aaahh seneng bgt dipuji begini sama fansnya Tao sendiri ^^ Meskipun bias author bukan Tao tapi karena Tao lucu bgt, karakternya enak dibikin cerita :3 Hehehe soal update author usahain lebih cepet, berhubung ada cerita lain yg harus dihandle jd ga jamin😄 Daann karena akhir2 ini author lg suka Sehun bersabar ya sama taosina momentnyaa /peace/ #authorlabil

  2. Waaaah ibunya sehun bener bener ibu yg kepooo~ hahaha tapi beliau juga korban drama, apa itu maksudnya dia pengennya cewek lain, alah paling juga sini yg memenuhi kriteria cewe lain itu. Hahahaha sotoy

    Oke ini adegan mati lampu asdfghjkl bangeeeeeeeeet >< tao mulai suka sina niiih? Hah yang bener yang beneeeer??
    Dan itu, sina dipeluk? Sama tao? Mau? Uwaaaaaaa /heboh/

    Tapi ngomong ngomong si ahjumma ga kebangun apa ama teriakan cempreng tao? Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s