OH EH AH part III

Aram’s POV

Ibu benar-benar keterlaluan kali ini, menghancurkan Mingguku yang berharga.  Berlebihan juga sih sebenarnya kalau aku bilang menghancurkan, sekarang masih jam 11 siang dan aku masih punya banyak waktu untuk memperbaiki moodku.

Sebenarnya aku pribadi bukan pecinta hari Minggu, jadi kalau sebelumnya aku bilang Mingguku yang berharga, itu hiperbolis. Hari Minggu bukan hari favorit untuk orang yang biasa mendapat pekerjaan, tunggu sebelumnya mari kita klarifikasi, di dunia ini ada orang dua orang jenis orang; pertama yang jenuh dengan pekerjaannya dan memilih hari Minggu sebagai pelarian mereka dari dunia kerja dan kedua, orang yang cinta mati dengan kerjaannya membuat mereka merasa hari Minggu cuma bikin buang-buang waktu. Untungnya aku enggak termasuk kedua orang itu, bukannya terlalu capek kalau kita harus menyukai dan membenci secara berlebihan? Pertanyaannya sekarang, untuk apa aku menjelaskan teori itu kalau bahkan aku ga termasuk di antara keduanya?

Intinya sekarang aku enggak ngerti harus ngapain,benar-benar membuatku menjadi orang semi pengangguran. Sepertinya aku harus protes pada Jonghyun yang terbiasa memanjakan teman sekelompoknya dalam mengerjakan tugas, hampir seluruh bagianku diambil alih olehnya, dan kabar buruknya kerjaannya dia jauh lebih baik daripada punyaku.

“Trr Trr” Hp yang kusetting silent bergetar di kantong cardiganku. Aku segera menerimanya tanpa repot-repot melihat siapa pemanggilnya.

“Halo? Ini Siapa?” Aku bertanya sambil menjatuhkan diriku di kursi taman.

Terdengar helaan napas “Aram, ada sesuatu yang dikatakan caller id di ponsel ini.”

Aku hanya mendengus mendengar perkataannya, harusnya ia terbiasa dengan kebiasaanku yang selalu malas mengecek siapa orang yang menelponku “Ada apa Taeri?”

“Kau kosong kan? Aku yakin kau kosong karena Jonghyun mengambil semua tugasmu, bisa datang ke Beans Bin sekarang?”

Taeri terdengar memerintah, aku kurang suka mendengarnya tapi mendengar ia menyebutkan Beans Bin sekarang aku baru kepikiran ini sudah hampir sebulan sejak aku mencicipi Ice Cream Waffle mereka”Oke, sekarang aku lagi di Apgujong tidak apa-apa kan menunggu?”

“Tidak apa-apa asal kau jangan mampir-mampir saja.”

Yah tidak janji.” Aku menutup ponsel dan segera berjalan memanggil taksi. Sambil memikirkan topping apa yang sebaiknya kupesan nanti aku baru ingat kalau aku baru saja meninggalkan ibu di salon tadi, lalu apakah aku akan kembali? Tidak.

“Taksi!” Aku menaikkan satu tanganku begitu melihat satu taksi kosong yang keluar dari sebuah gedung, tidak perlu ambil pusing soal ibu, toh ini bukan pertamakalinya aku membuat keributan di salon.

Seunghyun’s POV

“Rambutmu bagus Nanhee.”

“Terima kasih Seunghyun.” Nanhee tersenyum dan kembali memperhatikan potongan rambutnya yang baru lewat cermin, aku tidak mengerti kenapa aku memujinya, sesungguhnya aku merasa rambut barunya terlalu memiliki banyak layer yang membuat rambutnya terlihat berantakan, yah tapi mungkin itu gayanya dan itu artinya; aku tidak cocok dengan gayanya.

“Seunghyun mana kopi yang kuminta tadi?”

“Tom N Toms© seperti yang kau minta.”Aku menjulurkan segelas Espresso padanya yang langsung Nanhee minum tanpa memakan floatnya terlebih dahulu.

Begitu aku ingin meminum Ice Tea tiba-tiba Nanhee menahan tanganku. Aku mengernyit jengkel dan menengok padanya dengan pandangan aku-manusia-aku-juga-ingin-minum.

“Kenapa kau membeli 36.5©? Bukannya sudah kubilang selera minuman kita harus sama?”

Aku memutar bola mataku lalu tersenyum, berusaha tersenyum maksudku.

“Ya ya ya maaf aku lupa kau pernah mengatakan hal itu, sekarang biarkan aku minum, aku capek sudah berjalan beberapa blok hanya untuk mencarikan kopi untukumu.”

Nami memanyunkan bibirnya dan aku terlalu capek untuk minta maaf mengatakan ‘maaf tadi perkataanku terlalu kasar.’

“Apa rencanamu habis ini Seunghyun?”

Aku terdiam memikirkan ribuan kebohongan untuk kabur dari Nanhee, sejujurnya hari ini aku kosong, Jiyong baru mengabarkanku kalau mereka tidak jadi berkumpul hari ini.

 “Trr..trr..”Ponsel yang selalu kusilent tiba-tiba bergetar, aku segera mengambilnya dengan semangat berharap ada seseorang memanggilku untuk bertemu dengan mereka.

“Halo hyung? Ini aku Jonghyun.”

“Ah Jonghyun! Ada apa?” Aku mengencangkan suaraku memastikan Nanhee mendengar kalau seseorang memanggilku.

“Sekarang aku lagi di depan apartemenmu, maaf mendadak tapi bisa kau membantuku mengerjakan tugas hari ini?”

Aku menggigit bibirku, sejujurnya aku benar-benar malas membantunya tapi kalau diberi pilihan bersama Nanhee atau Jonghyun tentu aku memilih yang terakhir. “Ah baiklah, kau tunggu di sekitar sana, kebetulan aku di Apgujong, lima belas menit lagi aku sampai.” Aku menutup telpon dan segera menatap Nanhee yang memandangku aneh.

“Kenapa kau terlihat senang seperti itu? Jonghyun mengajakmu ikut kencan buta ya?”Nanhee segera bertanya menyidik yang membuatku memutar bola mata.

“Tidak, dia membutuhkan bantuanku, sekarang kau mau ke mana?”

“Bisa antarkan aku ke Beans Bin? Aku ada janji penting, kali ini bukan main-main.”Nanhee memandangku dengan memelas dan aku bukan seorang pria yang tega menyuruhnya mencari taksi.

“Baiklah ayo.” Aku bangkit dari kursi dan berjalan menuju Ford Escape yang kubeli susah payah sejak beberapa minggu lalu, Nanhee terpogoh-pogoh berlari mengejarku dengan high heels 15 cm yang jujur, tidak begitu cocok untuknya.

Aram’s POV

Blueberry Waffle, Blueberry Juice, Ice Cream Waffle dan….”Aku memincingkan mataku membaca nama minuman yang terlihat buyar “Café Coreano” Aku tersenyum puas. kali ini bisa membeli semua menu favorit, mendapat uang jajan dengan syarat menemani ibu di salon sepertinya bisa kulakukan lagi, meskipun ujung-ujungnya aku selalu kabur.

“Hei hei kita ke sini bukan untuk makan siang.”Taeri menggelengkan kepalanya melihat meja kami yang sudah di penuhi dengan dua piring dan dua gelas yang menurutnya menyebalkan karena aku sama sekali tidak mentraktirnya.

“Jadi untuk apa anak jurusan bahasa mencariku?” Aku menghiraukan sindirannya dan menyendok satu blueberry dari atas waffle, kebiasaanku ketika makan, satu persatu; perlahan-lahan.

“ Ah- jadi begini, aku punya kakak sepupu yang berencana membuka sebuah café–“

“Kalau kau memintaku untuk menjadi salah satu tukang masak di sana aku menolak.” Aku memotong kalimatnya membuat Taeri meniup poni yang menututupi dahinya karena kesal. “Dengarkan dulu kata-kataku.”

“Kalau bukan soal masak apa lagi? Tidak mungkin kan kau memintaku untuk mendesain café untuknya?”

“Yep itu dia!” Taeri menjentikkan jarinya dan menyeringai, aku segera menegak juiceku dan memandangnya kaget. “Kau? Meminta Han Aram untuk mendesain? Tidak salah?”

Taeri menggelengkan kepalanya, tangannya mengambilsesendok ice cream dari piringku, biasanya aku selalu memukul tangannya tapi kali ini kumaafkan. “Ini kesempatan untukmu Aram! Buat apa kau mengambil jurusan interior design kalau ujung-ujungnya tidak pernah kau gunakan ilmunya?”

Aku terdiam, selama ini tidak pernah ada orang yang memberiku kesempatakan untuk mengeluarkan ideku, murid pindahan dari London, Hayi atau biasa dipanggil Lee Hi (karena ia bersikeras itu nama studionya begitu ia berhasil membuka studio sendiri.) selalu mendapat perhatian, aku tidak bisa protes karena memang tastenya tinggi bukan hal aneh melihat ia selalu mendapat pujian dari dosen, belum lagi Jonghyun yang seenaknya mengerjakan bagianku, pokoknya peruntunganku selama kuliah selalu jelek dikelilingi orang-orang yang menyebalkan.

“Apa sepupumu tahu kalau aku amatir? “ Aku bertanya hati-hati.

Taeri mengangguk “Aku mengenalnya dengan baik dan kurasa kamu dengannya memiliki sebuah kesamaan dalam hal selera.”

Aku memiringkan kepalaku tidak yakin dengan perkataan Taeri.

“Ah! Dia baru sampai!” Taeri berkata dengan riang begitu selesai membaca pesan di ponsel yang baru didapatnya tadi.

“Unnie!” Taeri berkata keras samba melambai-lambaikan tangannya. Aku ikut menengok pada pintu masuk penasaran seperti apa perempuan yang katanya memiliki satu selera denganku.

“HAHH??” Mataku melotot melihat perempuan sama di salon tadi. Taeri pasti bercanda aku memiliki satu selera dengan wanita seperti itu…

__________________________________

Author’s note

Udah lama banget ga buat cerita dengan bahasa informal gini ._.

rada awkward tapi jadi berasa lebih bebas hahah

Maaf dgn super-duper-very-extra-slow-update..

Btw karena author lagi suka browsing cafe2 di korea latar cerita oh eh ah bakal banyak promoting cafe yg author suka ^^

3 thoughts on “OH EH AH part III

  1. Ini bakalan jadi ff terakhir yg aku jelajahin untuk ff pikrachu, dan semua ff-ff dia yang hiatus udah aku baca semua *semacamnge-stalk*😀
    Dan semuanya aku suka, aku berharap pikrachu tergerak hatinya *ehem* untuk melanjutkan ff-ffnya😀
    Setelah ini, aku mungkin mau baca ulang detour lagi untuk yang ke dua kalinya, atau mungkin pastel jg, sambil nungguin ffnya si-Baozi a.k.a Catching Feeling dan ff-mu yang lainnya😀
    Keep writing^^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s