Fallen Cupid 3

fallen cupid copy

Kyungsoo’s

Aku menatap Luhan, bocah teman sebangkuku yang selalu saja menjadikanku korban keisengannya. Aku tidak mengerti karena kupikir aku bukan orang yang tepat untuk jadi sasaran semacam itu, tapi ia selalu bilang bahwa ekspresiku sangat menarik. Dan ia selalu bilang ekspresiku seperti emoticon ini (0_0)

“Kyungsoo”

Spontan aku menolehkan kepalaku ke sumber suara, tanpa sadar membuat ekspresi 0_0 yang membuat Luhan sedikit tertawa.

Aku hanya terdiam heran melihat Luhan yang tertawa dengan bahagianya, karena sejak ia berada di rumahku ini ia hanya menatapku dengan tatapan penuh curiga dan sama sekali tidak menunjukkan senyumnya.

Sepertinya ia kira aku merencanakan sesuatu, padahal aku sama sekali tidak memikirkan plan  apapun. Sejak aku tak pernah melihat Luhan se-perhatian ini dengan seorang perempuan, aku penasaran dengannya. Jadi tidak ada salahnya mengajak mereka berdua ke rumahku dan mengamati mereka. Lagipula orangtuaku sedang menikmati liburan mereka di Thailand meninggalkan anak satu-satunya di rumah. Ya, ini hanya sekedar… mungkin hiburan dan juga menghilangkan rasa penasaranku saja. Tak ada niat jahat atau iseng seperti yang biasa Luhan lakukan kepadaku.

“Kyungsoo”

Lagi-lagi aku tersadar dari lamunanku. Dan akhirnya menghentikan tatapanku pada Rae In yang sepertinya sedikit kesal karena aku tidak menjawabnya sejak tadi. “Ne?”

“Luhan bilang ia ingin pulang” Ucap Rae In diikuti dengan tolehan spontanku ke arah Luhan. Tawanya yang tadi sudah hilang, dan ia hanya duduk santai –ralat terlalu santai sambil menatapku.

“Kenapa?” Satu kata itu tidak membuat Luhan menghabiskan waktunya untuk berpikir alasan apa yang akan dijawabnya. Sejak datang kesini aku tahu ia dalam mood yang buruk. Aku sudah menduga ia ingin segera pulang.

“Urusannya sudah selesai” Jawabnya sambil menunjuk plastik putih yang dipegang Rae In. Itu beberapa dvd yang tadi kuberikan kepadanya. Aku memberikannya Rooftop Prince, School 2013, Monstar, Skip Beat dan beberapa yang belum ia tonton.

Mungkin dvd itu memang ‘urusan’ yang disebut Luhan. Tapi ia lupa satu hal, ia juga punya urusan denganku.

“Aku belum mentraktirmu 5 bubble tea” Ucapku dengan senyum yang mungkin dibenci Luhan karena ia sedikit mengerang saat aku mengatakan hal tersebut. Kurasa dia lupa akan hal itu.

Baru saja Luhan ingin menjawabku yang pastinya dengan penolakan, tapi Rae In yang mendengar pembicaraan kami malah memotongnya.

“Kalau begitu ayo kita jalan keluar!” Rae In tersenyum senang dan kembali bersenandung. Walaupun cara ia menyenandungkan nada salah besar –semua nada yang ia keluarkan melenceng dari nada aslinya, tapi ia terlihat sedikit lucu dengan nyanyiannya itu. Rae In sangat bersemangat untuk pergi keluar sepertinya. Aku mendengarnya bersenandung juga setelah ia menerima dvd dariku. Jadi kupikir Rae In sedang dalam mood yang baik hari ini.

Luhan mengerutkan alisnya melihat Rae In yang sangat bersemangat. Ia sedikit mendesah “Ya! Apa kamu suka dijemur di bawah matahari? Lihatlah keluar” Keluh Luhan yang memandang ke arah jendela yang berkilauan karena pantulan sinar matahari. Diluar memang sangat panas.

“Tapi, aku ingin pergi keluar” Senyuman semangat Rae In tadi hilang dari wajahnya. Luhan hanya mendengus dan membalasnya.

“Kurasa bersepeda tadi sudah cukup”

“Aku juga ingin minum bubble tea

“Kita bisa beli minuman itu kapanpun”

“Tapi aku haus”

“Kau bisa minum air mineral di kulkas”

Skak mat. Rae In hanya bisa terdiam saat menyadari ia kalah dari Luhan. Dan aku, hanya menahan tawaku karena ini tontonan yang menarik. Aku penasaran apa lagi yang akan Rae In katakan untuk membalas Luhan, semenjak ia terlihat seperti berpikir keras.

Rae In benar-benar hanya diam sambil menatap Luhan tajam seolah tidak mengakui kekalahannya. Mungkin Rae In berusaha terlihat ‘seram’ dengan tatapannya itu tapi ia tentu saja jauh dari kata itu. Ia malah terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk. Baiklah, aku akan membantu yeoja ini.

Rae In sepertinya akan membalas Luhan tapi aku menghentikannya. Aku tahu Rae In hanya akan membuat dirinya semakin kalah jika ia kembali berdebat dengan Luhan.

“Ayo kita pergi”

Satu kalimat dariku membuat Luhan menatapku dengan alisnya yang mengerut. Aku tahu ia merasa semua perjuangannya mengelak tadi tidak dihargai karena aku dengan santainya mengulang kalimat yang tadi diucapkan Rae In dengan sangat semangat.

“2 lawan 1” tambahku ketika melihat Luhan yang sepertinya ingin protes.

Aku tersenyum ke arahnya, menandakan kemenanganku. Yang jelas ia tak bisa melakukan apapun karena ia kalah suara. Dan ia tidak mungkin langsung kembali ke rumahnya agar tidak pergi bersama kami. Ia tidak semenyebalkan itu.

***

Kami bertiga berjalan sangat pelan di bawah terik matahari yang menyengat, berjalan dengan ogah-ogahan. Sebenarnya bukan kami bertiga yang cocok dengan pernyataan itu, tapi hanya Rae In dan Luhan.

“Maaf aku tak tahu toko bubble tea itu tutup” Ucapku membuka pembicaraan. Membuat mereka berdua menoleh ke arahku. Wajah mereka tidak menunjukkan secuil rasa senangpun, bahkan Rae In yang tadi sangat bersemangat.

“Tidak apa-apa” Jawab Rae In yang langsung berjalan menatap kakinya. Sedangkan Luhan, ia hanya berjalan mengikuti tanpa merespon apapun.

Aku membuat suasana menjadi tidak enak. Aku bahkan membuat Rae In yang tadi bersemangat menjadi seperti itu dan aku juga membuat Luhan mengeluarkan aura hitamnya. Tapi aku mengerti kenapa Luhan sampai mengeluarkan dark modenya. Aku tahu ia sangat suka bubble tea dan aku membuatnya berjalan dengan suhu sepanas ini tanpa membawa hasil segelaspun.

Tentu saja aku merasa bersalah. Jadi aku melihat sekeliling dan tersenyum saat menemukan sesuatu yang bisa menggantikan bubble tea.

“Rae In, Luhan. Bagaimana jika kita kesana sebentar?” Ucapku sambil menunjuk Supermarket yang kelihatannya sangat sejuk. Terlihat embun-embun yang tersisa di kaca Supermarket yang membuatku menyimpulkan suhu di dalam sana jauh lebih rendah dibandingkan disini.

Aku melihat ke arah Luhan dan Rae In yang mengangguk karena menyadari hal yang sama sepertiku. Mereka ingin mendinginkan diri mereka. Karena itulah mereka mengikutiku tanpa protes sedikitpun saat memasuki Supermarket yang cukup besar itu.

Luhan mendesah pelan saat angin di pintu masuk Supermarket menghujaninya dengan sensasi dingin. Begitu pula dengan Rae In yang sengaja berlama-lama di pintu masuk karena angin dingin itu hanya berada di sana. Mereka terlihat seperti anak kecil norak yang diajak ibunya pergi ke Supermarket untuk pertama kalinya.

Aku meninggalkan mereka disana dan menghampiri lemari pendingin  melihat-lihat minuman dingin yang sangat menggoda itu. Perhatianku tertuju pada susu. Mungkin aku terlalu jarang minum susu sehingga aku baru menyadari kalau susu saat ini disediakan dengan berbagai rasa. Sepertinya pisang atau peach memiliki rasa yang lumayan.

Aku mengambil keduanya dan berpikir lama tentang susu mana yang akan kuambil. Dan setelah berpikir 5 menit aku memilih susu pisang. Aku mengembalikan susu rasa peach  dan membalikkan badanku, berniat mencari snack lain yang bisa kuambil saat aku melihat pemandangan mengejutkan.

Kami baru sekitar 8 menit berada di supermarket dan aku baru berhasil memilih satu minuman untuk kuminum. Tapi, kenapa kedua anak itu sudah membawa 1 keranjang penuh isi makanan dan minuman?

Aku menatap shock ke arah Rae In dan Luhan, lebih tepatnya ke arah keranjang mereka sementara mereka masih melihat-lihat snack lain sambil memasukkannya kembali ke dalam keranjang yang sudah hampir penuh itu. Aku bisa melihat kotak chocopie, pocky, pringles, oreo, botol yoghurt, teh, jus dan lainnya.

Padahal, mereka bisa berdebat untuk bermacam-macam hal. Tapi kenapa… mereka bisa satu pikiran hanya untuk hal ini? Aku meringis dan memutuskan untuk tidak mengeluarkan omelanku seperti biasanya. Luhan selalu protes dan mengataiku umma karena aku sering cerewet tentang berhemat. Tapi, coba lihat siapa yang bersikap seperti anak-anak? Dia yang memancing jiwa ummaku untuk muncul. Tapi hari ini Luhan kumaafkan. Tidak apa-apa karena ini sebagai pengganti bubble tea yang kujanjikan.

Aku berjalan ke arah mereka dan memasukkan susu pisang yang kupilih tadi ke dalam keranjang mereka yang sedikit lagi akan benar-benar penuh.

“Ah! Luhan! Ada es krim itu!” Ucap Rae In semangat begitu membuka freezer yang berisi banyak es krim. Luhan berjalan mendekati Rae In untuk melihat apa yang ditunjuk Rae In. Dan aku ikut mengintip es krim yang dimaksud Rae In itu.

Ah, aku tahu es krim itu. Aku tak tahu namanya apa atau merknya apa, tapi es krim itu es krim kembar karena memiliki 2 batang di es krimnya, dan untuk memakannya harus dipatahkan dulu menjadi dua bagian. Lebih cocok dibeli ketika bersama teman, karena aku tidak tahu harus membaginya ke siapa jika kumakan sendiri.

Es krim itu sangat familiar karena Luhan dan aku sangat sering membelinya. Es krim itu salah satu snack yang disukai Luhan selain bubble tea. Ia bahkan membelinya saat kami pertama kali kami berteman, lebih tepatnya saat pertama kali aku bolos sekolah dan ternyata teman sebangkuku, Luhan juga melakukan hal yang sama. Kurasa es krim inilah yang mengawali persahabatan kami. Walaupun sejak awal semester aku duduk disebelahnya, tapi kami tidak pernah berbicara satu sama lain sampai Luhan memberikanku potongan es krim itu dan mengawali persahabatannya denganku.

Melihat Rae In menunjuk es krim itu, sepertinya Luhan juga sering membelinya saat bersama Rae In. Dan aku tahu Luhan hanya memberikan potongan es krimnya hanya dengan orang-orang yang berteman dekat dengannya, atau dengan orang yang membuatnya tertarik. Aku tersenyum karena menemukan fakta baru tentang mereka.

Rae In mengambil 2 bungkus es krim itu dari dalam freezer dan menaruhnya di dalam keranjang.

“Ayo bayar” sahut Luhan yang memasukkan satu bungkus potato chip sebagai penutupnya. Ia membawa keranjang itu ke kasir diikuti dengan aku dan Rae In.

Aku segera mengeluarkan dompetku saat sang kasir mendiktekan harga keseluruhannya. Tapi aku melihat Luhan yang juga sedang melihat isi dompetnya. Luhan menoleh ke arahku dan sepertinya bingung melihatku yang mengeluarkan lembaran won ke meja kasir.

“Anggap saja pengganti bubble tea” Ucapku yang sebenarnya agak tidak rela. Harga keseluruhan snack-snack itu bahkan jauh lebih besar dari harga 5 bubble tea. Tapi seperti yang kubilang, hari ini ia kumaafkan.

Dahi Luhan mengerut dan ia tahu pasti harga ini harga yang jauh dari bubble tea yang harusnya kuberikan padanya. Tapi Luhan memang Luhan yang kukenal. Ia tersenyum dan memasukkan lagi dompetnya ke dalam kantung celananya. Ia mengambil kesempatan dari sikapku yang tidak biasanya. Biasanya aku akan mengomelinya lalu menyuruhnya mengembalikan beberapa snack ke raknya lagi.

Kami bertiga kembali berjalan dibawah terik matahari. Tapi kali ini sangat berbeda. Tak ada lagi perjalanan dengan langkah lemas, dan aura hitam dari Luhan.

Mereka sibuk mencari es krim di dalam plastik belanjaan yang sangat penuh itu dan aku langsung mengambil salah satu bungkusnya ketika mereka berhasil menemukannya diantara tumpukan keripik kentang. Hanya aku dan Luhan yang bertangan cepat dan berhasil mengambil kedua es krim tersebut, membuat Rae In yang memegang plastik belanjaan tidak sempat mengambilnya sendiri.

Aku tersenyum saat Rae In mengeluarkan ekspresi bingungnya, karena ia membeli es krim itu untuk bersama-sama.  Aku langsung menyembunyikan senyumku ketika melihat Luhan juga melakukan hal yang sama denganku, tersenyum saat melihat Rae In tengah kebingungan.

Rasanya aneh kalau melihat kami berdua melakukan hal yang sama, jadi aku menolehkan kepalaku ke arah lain. Aku mematahkan es krim yang kuambil tadi menjadi dua dan memberikan salah satunya kepada Rae In.

“Gomawo”

Rae In tersenyum lebar dan menerimanya. Aku hanya memasukkan es krimku kedalam mulut dan mengangguk sebagai balasan ‘Cheonmaneyo’

Dan saat aku melihat ke Luhan yang berada di sebelah Rae In, ekspresi Luhan membuatku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Sepertinya… aku salah memberikan es krimku ke Rae In.

Luhan sedang menyodorkan potongan es krim miliknya ke arah Rae In tapi Rae In terlalu fokus dengan es krim yang kuberikan sehingga ia tak bisa melihat teman masa kecilnya yang berwajah kecewa itu. Luhan memperhatikan patahan es krimku dan es krim Rae In yang pada akhirnya membuatnya menarik kembali tangannya. Tidak berniat memberikan es krimnya lagi kepada Rae In.

Luhan hanya memperhatikan kedua es krim ditangannya bergantian. Aku cukup kasihan melihatnya sampai Luhan memegang kedua batang es krim itu dengan satu tangannya dan memasukkan keduanya kedalam mulut sekaligus. Ia menggigit es krimnya dengan ekspresi sangar yang kurang cocok untuk wajah baby face seperti Luhan.

Apa dia merajuk?

***

Finally an update~~^^

Chapter ini udh selesai dari kemaren tapi terlalu ngantuk untuk mengupdatenya tadi malam~

Semoga chapter ini cukup memuaskan~

Dan semoga dengan ini nggak ada yang ngambek karena aku udh ngelanjutin bahkan menunda project video ulang tahun buat ibuku.

3 thoughts on “Fallen Cupid 3

  1. AAAAAHHHHH seneeeeng brotpku eksis disini🙂

    hmmm btw gomen, sebenernya aku ga nyangka aku kelihatan semaksa itu hahahahha sebenernya aku nyindir /cough raydaiven….good luck dgn video projectnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s