Love Story From Neverland (Part 1)

Title : Love Story From Neverland

Author : naminaya

Genre : Romance, Fantasy

Rating : G

Cast : Leeteuk, Ryeowook, Kim Aihan, OC

Hai! Nih ff yang trailernya udah nyelonong duluan… hihi

Oh ya, epilog untuk Pizza Man ditunggu yaa… aku lagi bingung nih… jadi kalau ada ide atau apa tolong disuarakan. Okee?

Semoga suka ya sama cerita ini… Soalnya aku sudah menuangkan seluruh jiwaku (eaaa) pada fanfiction ini.

I made it with love, so you better read it with love too😉

 

Ω

ffprops2

 

“Ada kalanya otot lebih diperlukan ketimbang otak!” suara itu berasal dari sesosok ‘raksasa’ yang berdiri menjulang di depan Leeteuk, kalimat itu diakhiri oleh raungan ala King Kong. Sebenarnya Leeteuk sudah tidak lagi berdiri, tubuhnya sudah setengah membungkuk dan kedua tangannya melindungi kepalanya.

“I..i..iya…ak..aku…aku tahu.” gumam Leeteuk terbata-bata, berharap ‘raksasa’ penuh codet ini segera pergi saja.

“Aku sudah muak dengan gaya sok pintarmu! Kau butuh pukulan tepat di kepala, agar kau tidak lagi menjadi murid terpandai di kelas!” Leeteuk tahu bahwa dia terlihat seperti pecundang, dan buruknya lagi ada segerombolan penonton tak berguna yang berdiri mengelilingi area perkelahian.

Jika mereka menginginkan perkelahian, yah itu takkan terjadi. Leeteuk takkan membalas bahkan satu pukulan pun, bukannya tidak mau, tapi tidak mampu.

‘Raksasa’ itu sudah mengangkat tangannya yang terkepal tinggi-tinggi, semua orang tahu sekali saja   pukulan itu mendarat di kepala Leeteuk, niscaya Leeteuk akan menderita amnesia. Dan Leeteuk belum siap untuk menjadi amnesia, setelah jam istirahat berakhir akan ada ulangan di kelas Mr. Cho. Kalau dia amnesia sekarang, sia-sia saja usahanya untuk belajar berjam-jam semalam.

Kepalan tangan itu mulai bergerak ke arahnya ketika tiba-tiba…

“CUT!”

Semua mata mengarah ke sosok mungil yang sekarang tengah berdiri semeter dari posisi si ‘raksasa’ dan Leeteuk, jelas sekali dialah pemilik suara melengking yang tadi meneriakkan kata ‘cut’ bak sutradara. Gadis mungil itu benar-benar berperawakan seperti peri. Tapi pandangan Leeteuk masih sedikit kabur akibat rasa takut, jadi ia belum dapat memperhatikan gadis itu dengan teliti.

“Kau! Ekspresimu kurang, kau harus menunjukkan lebih banyak hasrat membunuh dalam tatapanmu! Hayati peranmu dengan baik, kau dengar?” gadis itu menunjuk ‘raksasa’ itu yang sekarang sedang terbengong-bengong dan mulai mengangguk-angguk. Entah karena apa, suaranya tampak dapat mempengaruhi orang. Leeteuk menatap si ‘raksasa’ yang yang mulai menurunkan kepalan tinjunya.

“Dan kau!” Leeteuk sedikit terlonjak, merasa gadis itu memanggilnya dengan nada bossy. “Topeng ketakutanmu sudah bagus, tampak seperti kau sungguh-sungguh ketakutan. Pertahankan! Okay crew, istirahatlah! Kerja kalian lumayan hari ini.” kalimatnya diakhiri dengan tepuk tangan dan anehnya seisi ruangan mulai ikut bertepuk tangan walaupun pada awalnya tampak agak ragu.

Siapa gadis aneh ini?, pikir Leeteuk dalam hati. Seaneh apapun dia, Leeteuk tetap harus menyampaikan ucapan terima kasihnya karena telah menyelamatkannya dari si ‘raksasa’. Dan kalau tidak ada gadis itu, mungkin sekarang ini Leeteuk telah mengalami amnesia, membayangkannya saja membuatnya bergidik.[]

ffprops3

Aihan sedang berjalan–tidak, menandak-nandak tepatnya. Ia sedang bahagia, yah sebenarnya ia hampir selalu terlihat bahagia. Tapi saat ini ia sedang benar-benar bahagia, kenapa? Yah tentu saja, karena ketahuan melamun di kelas ia disuruh menghapus papan tulis. Sungguh alasan yang “lazim” untuk merasa bahgia.

Tapi Aihan punya alasan kenapa dia senang mendapat tugas menghapus papan tulis. Aihan menderita disleksia, dan akibatnya setiap kali ia berusaha membaca, huruf-huruf hanya akan melayang keluar dari halaman. Dan ia melamun tadi di kelas karena rumus-rumus yang tertera di papan tulis nampak seolah sedang menari waltz di papan tulis. Jadi ketika ia mendapat tugas menghapus rumus-rumus sialan itu, Aihan merasakan dendamnya terbalaskan. Dia menghapus rumus itu dengan sangat bernafsu.

Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara raungan menggelegar dari dalam salah satu kelas.

“Jangan bilang seorang pem-bully tengah beraksi.” gerutunya, tapi tetap berputar dengan tumitnya dan mulai berderap ke arah sumber suara.

“Tepat.” gumam Aihan ketika memasuki kelas.

“CUT!” teriaknya dengan suara melengking, sebuah skenario singkat nan kilat langsung tersusun di otak Aihan.

Setelah nampaknya misi kedamaiannya berhasil, Aihan segera pergi ke taman belakang sekolah dan menuju pohon wilow favoritnya dan mulai memanjatnya.

“Daunnya hampir menyentuh tanah. Kedua sejoli ini akan segera bertemu, daun wilow dan rumput hijau… ah, bukankan itu pasangan yang sangat serasi? Kurasa ya. Serasi… sepertinya kata itu kurang cocok menggambarkan kecocokkan pasangan ini, mereka sudah lama terpisahkan dan rindu diantara mereka sudah menyesakkan dada. Apakah daun dan rumput memiliki dada? Mungkin bentuknya berbeda dengan milik manusia, tapi mereka pasti memiliki hati. Ya kan? Tanaman memiliki perasaan, dan di mana perasaan itu disimpan kalau bukan di hati? Tapi daun ini begitu tipis, di mana letak hatinya? Dan seperti apa bentuknya? Ah ya, daun wilow dan rumput itu serasi, tapi juga saling mewarnai…” Aihan terus melanjutkan ocehan ngalor ngidul-nya yang tak jelas ke mana arahnya itu sambil terus bergantung terbalik di salah satu dahan yang ia nilai cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya yang terbilang ringan.

Kreeeak… Krek!

Setelah beberapa menit Aihan terus mengoceh tanpa berhenti, dan bahkan hampir lupa menarik nafas, dahan pohon yang Aihan gunakan untuk bergelayutan menyuarakan protesnya. Mungkin bukan protes karena bobot Aihan, tapi protes karena ocehan Aihan yang nampaknya tiada berakhir.

Otak Aihan selalu dipenuhi oleh ide-ide gila. Aihan jelas seorang gadis yang impulsif dan tidak pernah memikirkan akibat dari tindakannya. Dengan kepasrahan penuh– atau mungkin dengan kegilaan penuh tepatnya, Aihan melepaskan kaki dan tangannya yang semula melingkari dahan pohon dan membiarkan tubuhnya jatuh (dalam otaknya, Aihan kira ia sedang melayang) dari ketinggian 3 meter. Matanya terpejam kuat-kuat, ia menanti tubuhnya mendarat di tanah, dan tentu saja dia tidak tahu bahwa jika hal itu benar-benar terjadi lehernya akan patah.[]

ffprops2

Sekilas, Leeteuk sempat melihat gadis peri itu berjalan ke arah taman belakang sekolah dengan gaya berjalan yang sedikit seperti tarian. Setelah mencapai taman belakang, Leeteuk tak dapat menemukan gadis itu.

Seingatku dia tidak mengajakku main petak umpet, batin Leeteuk seraya menuruti keinginan kakinya yang membawanya ke pohon wilow tak jauh dari tempatnya berdiri semula. Leeteuk masuk ke dalam naungan pohon itu, dan rasanya seperti memasuki dunia lain… dunia yang begitu magis. Sedikit kurang cocok dengan cara berpikir Leeteuk yang logis.

Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai dedaunan berwarna sedikit kehijauan, semilir angin yang membawa daun-daun kering sangat menyejukkan. Leeteuk dapat merasakan matanya mulai terpejam dan tangannya mulai terjulur ke depan dan mengangkatnya setinggi rongga dada. Angin sepoi-sepoi berembus, menyapu wajahnya dan sekali-sekali menerbangkan dedaunan yang menampar wajahnya atau mendaratkannya di telapak tangannya yang terbuka.

“Hah!” tiba-tiba saja Leeteuk merasakan tubuh manusia yang terlampau ringan mendarat dengan mulus di tangannya, jatuh dengan posisi telentang ke dalam gendongannya. Beban yang tiba-tiba ini membuat tubuh Leeteuk membungkuk sedikit dan nyaris saja kahilangan keseimbangan. Setelah pulih dari keterkejutannya yang berlangsung beberapa detik saja, ia mulai memperhatikan gadis yang jatuh tepat ke dalam gendongannya.

Dia adalah gadis peri yang tadi menyelamatkannya. Baru sekarang Leeteuk dapat memperhatikannya dengan lebih seksama. Rambutnya coklat keritingnya mencapai bahu dan sangat halus, memiliki sepasang mata besar walaupun saat ini gadis itu sedang memejamkan matanya kuat-kuat, entah kenapa Leeteuk tidak tahu. Hidung kecilnya tidak begitu mancung dan mulutnya membentuk senyuman syahdu. Tapi yang paling mengesankan bagi Leeteuk adalah telinyanya, telinganya tidak caplang, tetapi bentuknya unik, ujung atas telinganya sedikit meruncing persis telinga peri.

“Apakah aku sudah mendarat?” tanya gadis itu, belum membuka matanya.

“Ya, sudah.” jawab Leeteuk dengan bingung.

“Tanah menjawabku!” pekik gadis itu, setengah histeris tapi kelihatan bahagia. Saking bergairahnya gadis itu berguling dan jatuh ke tanah dengan ‘bum’ pelan.

“Auwh… Tanah jahat!” erang gadis itu ketika wajahnya mencium rumput. Leeteuk masih terperangah dengan pola pikir gadis aneh itu.

Lalu gadis itu seolah menyadari ada orang yang sedang menatapnya. Dia menengok dan langsung berdiri dengan cepat dan mengusap roknya yang agak kotor karena jatuh.

“Kau hampir mematahkan lehermu sendiri.” Leeteuk memberitahunya dengan senyum tertahan.

Gadis itu tidak merespon.

“Kau jatuh, dan bila tak ada aku, hari ini adalah hari terakhirmu berada di dunia ini.”

Gadis itu seperti sedang mempelajari Leeteuk, dari ujung kepala dan ujung kaki.

“Kau mengharapkan ucapan terima kasih dariku?” jawab gadis itu datar, jelas sekali bahwa ia tidak berniat mengucapkan terima kasih.

“Tidak mengharapkan. Tapi kau harus mengucapkannya padaku. Kau berhutang nyawa.” Leeteuk berusaha sekuat tenaga tampak tenang walaupun diam-diam dia merasa gadis ini terlalu kritis dan dapat membaca pikirannya. Mengobrol dengan gadis macam ini bakal merepotkan, dan Leeteuk merasa sedikit tertekan.

“Dan kau berhutang ingatan.”

“Maksudmu?” Leeteuk mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya nyaris bertautan.

“Kalau aku tidak menyelamatkanmu di ruang kelas tadi, kau sudah amnesia sekarang.”

Ternyata gadis ini teliti dan memiliki ingatan yang kuat, pikir Leeteuk. Sama sekali tidak berniat menyuarakan pikirannya itu.

“Ya, memang. Dan aku berterima kasih untuk itu.” Leeteuk merasa harus memenuhi tuntutan tidak langsung gadis itu.

Tiba-tiba gadis peri di hadapannya tertawa terbahak-bahak.

“Ada yang lucu?” tanya Leeteuk, tidak nyaman.

“Bukankah kejadian jatuhku ke dalam gendonganmu seharusnya sangat romantis? Seperti di drama-drama kan? Ya walaupun drama-drama itu memuakkan, dan sebenarnya kejadian kita tadi amat sangat mainstream. Tapi kau mengalaminya denganku, itu yang membuatnya berbeda. Aku terlalu aneh dan tolol untuk beromansa ria. Pasti aku tampak bodoh tadi, tapi siapa peduli? Bukankah aku selalu tampak bodoh? Ya kan? Sebenarnya aku tidak tolol-tolol amat, aku hanya… kelewat imajinatif. Tapi itu mendukungku untuk berfikir cepat, walaupun terkadang pikiranku gila dan aku tak pernah memikirkan akibat perbuatanku. Yah, sekarang aku baru sadar bahwa membiarkan diriku terjun bebas dari ketinggian 3 meter akan membuatku dikebumikan besok. Untung ada kau…” gadis itu terus berceloteh tentang ketololannya, tanpa menucapkan kata ‘terima kasih’ secara langsung. Leeteuk dengan sabar mendengarkan ocehannya, harus diakui, gadis itu memiliki cara berbicara yang unik dan sangat persuasif. Setiap katanya diiringi dengan gerakan tangan yang artistik, dan di setiap akhir kalimat dia akan tertawa kecil sambil menyelipkan rambut cokelat keritingnya ke belakang telinga runcingnya dengan jemari lentiknya. Leeteuk mau tidak mau berfikir bahwa gadis aneh di depannya ini cukup manis dan imut ketika sedang berceloteh.

“Apakah kau keberatan dengan semua omong kosongku? Hampir semua orang mengatakan aku harus berlatih mengekang lidahku. Yah, sejauh ini hanya bunga-bunga, rerumputan dan pepohonan lah yang tidak berkeberatan dengan ocehanku yang tiada berakhir ini.” dia mengakhirinya dengan tawa renyah dan desahan bahagia.

“Kau boleh bicara sebanyak yang kau mau.” jawab Leeteuk tenang.

“Hah? Benarkah? Kau makhluk berakal pertama yang mengizinkanku berbicara sesuka hati!! Aku harus tahu namamu. Siapa namamu?” matanya berbinar bahagia dan melompat-lompat kecil, sebagai penyaluran kegembiraannya yang overload.

“Leeteuk.” ujar Leeteuk sambil mengulurkan tangannya.

“Aihan. Kim Aihan.” jawab Aihan dengan mantap, menyambut uluran tangan Leeteuk.

Krrriiiiing… Krrriiiiing…

“Aku harus bersegera, ada ujian di kelas Mr. Cho. Senang bisa berkenalan denganmu.” ujar Leeteuk tergesa-gesa.

“Ya. Berhati-hatilah jika Mr. Cho sudah mulai memelintir kumisnya, itu artinya dia sedang memikirkan selusin cerita membosankan yang akan dia ceritakan, dan asal tahu saja, ceritanya akan membuat kelas kalian keluar terlambat. Dia benar-benar guru yang terlalu mudah ditebak, dan kejutannya selalu payah.” tutur Aihan sambil cekikikan.

“Aku akan waspada!” teriak Leeteuk sambil berlari menuju kelasnya, ia berfikir bahwa perkataan Aihan tadi agak kurang pantas, tetapi Aihan mengucapkannya seolah itu adalah sebuah pujian.[]

ffprops3

Aihan berjalan santai menuju kelas, sengaja datang terlambat. Dia memiliki motif dibalik keterlambatannya, tentu saja, Aihan adalah remaja yang bengal dan kekanak-kanakan.

“Nona Kim! Kau terlambat lagi?!” seru Mrs. Heyoon dari meja guru.

“Ne.” jawab Aihan, menunduk, memasang wajah menyesal yang tentu saja hanya akting.

“Kau tahu aturan di kelasku?” tanya Mrs. Heyoon, setengah membentak.

“Ne.” Lalu Aihan memutar tubuhnya dan keluar kelas. Setelah ia mencapai taman belakang, Aihan mulai menari-nari seperti orang yang tengah kehilangan akal.

“Akh! Lihatlah burung-burung elok itu! Mereka terbang rendah dan oh! oh! Mereka terbang mengitariku! Ini benar-benar seperti dunia khayal yang sempurna. A perfect fantasy. Ini jutaan kali lipat lebih menyenangkan ketimbang mengikuti kelas Mrs. Heyoon.”

Tiba-tiba Aihan jatuh berlutut seolah dikomandoi. Mata besar Aihan menyapu setiap sudut taman penuh kekaguman, mereguk semua keindahan dengan sangat rakus.

“Aihan, kau nakal. Benar-benar nakal. Tapi semua orang jelas akan merelakan apapun demi bisa bertukar tempat denganku saat ini. Duduk di taman ini, sendiri. Dan membiarkan alam menyuguhkan pertunjukan terindahnya. Ya, benar. Kurasa alam telah melakukan berkali-kali gladi resik untuk pertunjukan ini, pertunjukan khusus untukku.” bisik Aihan lirih. Menatap panorama di hadapannya, burung-burung, semak-semak yang bergemerisik akibat angin, matahari yang menyinari sepetak tanaman lily-of-the-valley dengan pencahayaan yang sempurna.

Nymph, terima kasih karena telah menjaga rumahku.” bisik Aihan lagi. Nymph adalah ruh alam dalam mitologi Yunani.

Aihan merasa bahwa waktu berjalan berpuluh-puluh kali lipat lebih cepat ketika dia berada di taman belakang sendirian. Tahu-tahu saja kelas Mrs. Heyoon telah usai dan siswa-siswi berhamburan, tak sabar ingin pulang. Aihan tetap tak bergeming. Masih terbius akan pesona keindahan yang disuguhkan alam untuknya. Ia tetap berada di taman setelah semua teman-temannya pulang. Tentu saja teriakan murid-murid lain sedikit merusak kemagisan tamannya, tapi Aihan tak peduli. Kakinya lemas karena rasa senang yang tiada terperi dan pipinya sudah pegal karena terus-menerus tersenyum, walaupun pegal, Aihan tidak berencana menanggalkan senyumnya.

Sekolah sudah sepi, tinggal ada segelintir murid rajin yang masih tinggal di perpustakaan dan guru-guru yang sedang bercengkrama sambil rapat di ruangan guru. Aihan masuk ke dalam kelasnya dan mengambil tasnya. Dia mengecek kolong mejanya penuh sesak dengan kertas-kertas puisinya dan melihat ada sebuah post-it berwarna merah jambu berbentuk hati tergeletak di mulut laci mejanya. Dengan hati berdebar-debar Aihan membukanya, jika ini memeng surat cinta, ini adalah surat cinta pertamanya.

Pesonamu telah meluluhkan hatiku

Kau bagaikan senter yang menerangi malamku

Malam-malam terdingin dan malam-malam tergelapku

Kau takkan tahu betapa dalamnya rasa ini

Kita bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain

Tapi hatiku bergetar ketika melihatmu, bahkan dari jumpa pertama

Mungkin aku tak sampurna

Mungkin kita berbeda

Tapi cintaku padamu semurni susu sapi dan selembut pantat bayi

Menantimu,

Leeteuk

Seluruh tubuh Aihan bergetar akibat kebahagiaan yang tak terlukiskan. Surat cinta pertamanya begitu indah dan menggelikan. Aihan jelas tak memiliki perasaan khusus pada Leeteuk, mereka belum benar-benar saling mengenal. Tapi bukankah Leeteuk sudah menyinggungnya dalam suratnya? Aihan pikir bukan masalah apabila Leeteuk mencintainya, Aihan tidak perlu balik mencintai Leeteuk. Siapapun pengirimnya, judulnya tetaplah surat cinta pertama Aihan.

Puisi karya Leeteuk cukup bagus. Aihan dapat melihat usaha dalam puisinya, tapi Leeteuk benar-benar butuh latihan menggunakan perumpamaan yang tepat. Tapi tatap saja, itu tidak menodai keromantisan puisi tersebut di mata Aihan. Aihan mengantongi puisi dari Leeteuk dan menyambar kotak biru yang berisi jangkrik yang ia temukan pagi ini. Ya, hewan peliharaannya saat ini adalah seekor jangkrik dalam kotak biru.

Aihan pulang sambil bersenandung riang, perasaannya tak terlukiskan.

“Oh! Aku adalah gadis paling bahagia di Korea!” teriaknya tanpa merisaukan jalanan yang relatif ramai. Tapi siapa peduli? Kim Aihan, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasakan yang namanya berbunga-bunga.

Hingga keesoka harinya kebahagiaan Aihan belum juga pudar, ia sudah membaca surat itu berpuluh-puluh kali hingga menghafal isinya di luar kepala. Anehnya, setiap kali ia membaca surat itu disleksianya tidak berulah, membiarkan Aihan menikmati setiap huruf dalam surat cinta itu tanpa ada yang melayang-layang.

Di kelas pertama, Aihan merasa sulit diam. Teman sebangkunya, Serei, sedah jutaan kali menyuarakan keluhannya pada Aihan. Aihan dan Serei bukanlah teman yang cocok. Aihan tidak merasa bahwa Serei adalah BELAHAN JIWAnya. Adanya mereka bisa duduk sebangku itu adalah hasil kerja Mrs. Heyoon yang berniat membuat Aihan fokus dan tersiksa (menurut pandangan Aihan tentu saja).

“Aihan! Diamlah, kau mengganggu konsentrasiku.” ucap Serei ketus, setengah berbisik setengah membentak.

“Oh, Serei! Aku tak bisa… Mengerjakan soal aljabar bukanlah hal yang romantis, bukan hal yang cocok dilakukan bila kita sedang berbunga-bunga kan?” Aihan menjawabnya diiringi desahan bahagia.

“Hentikan omong kosongmu itu Nona Kim.” Serei sudah benar-benar membentak sekarang. Tapi Aihan takkan jera dengan bentakan, Aihan adalah gadis keras kepala yang selalu merasa perlu mempertahankan pendapatnya dengan cara apapun itu.

“Bagaimana perasaanmu saat pertama kali mendapatkan surat cinta Serei? Kupikir kau pasti punya lusinan surat cinta di rumah, kau kan kembang kelas. Jadi seharusnya kau bisa memaklumiku.” Aihan berniat memberikan pujian, tapi tatapan yang ia lemparkan pada Serei bukanlah tatapan memuja. Malah Aihan menatap Serei setengah jijik seolah Serei bukanlah kembang kelas, tapi kembang pasir (tahi kucing).

“Ugh, laki-laki gila mana yang jatuh hati padamu?” nada bicara Serei diisi berton-ton sarkasme.

“Dia tampan dan pandai.” gumam Aihan, berada di langit ketujuh.

“Tampan mungkin iya, tapi buta.” ejek Serei penuh kepuasan.

“Matanya sehat-sehat saja kok. Aku merasa bahwa dia adalah belahan jiwaku. Apakah kau mempunyai belah jiwa, Serei?” tanya Aihan, benar-benar ingin tahu.

“Belahan jiwa adalah pilihan kata yang terlalu aneh dan tidak umum.” komentar Serei.

“Baris kedua dekat jendela! Ada masalah?” terdengar teriakan dari meja guru

“Tidak.” jawab Serei cepat, melemparkan pandangan menyalahkan pada Aihan.

Setelah bel jam istirahat berbunyi, Aihan tak bisa menahan dirinya untuk tidak menemui Leeteuk. Leeteuk sedang berdiri bersandar pada pohon wilow kesayangan Aihan sambil membaca sebuah buku entah apa.

“Hai.” sapa Aihan ramah, memasang senyum termanisnya yang sudah ratusan kali ia latih di depan cermin.

“Hai. Oh ya, kuharap kau tidak keberatan aku membaca di pohon ini.” Leeteuk memandang Aihan sekilas dan memberikan Aihan sebuah senyuman.

“Umm… kau menantikan aku kan?” ujar Aihan langsung, tanpa malu. Dan mulai menari-nari di depan Leeteuk yang mengernyit bingung. Aihan sambil meneriakkan “Leeteuk menyukaiku!” berkali-kali.

Aihan gadis yang agak serampangan, tapi peka. Dia melihat respon Leeteuk yang tidak seperti yang ia harapkan. Aihan berhenti menari-nari dan nyanyiannya pun sudah tak terdengar lagi.

“Kurasa… ada… ada kesalahan.” ucap Leeteuk lirih, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mwo?…” Aihan tahu tanpa ada yang harus memberi tahu bahwa suaranya kedengaran lemah dan kering, seperti retihan kayu bakar.

Aihan dapat membaca ekspresi Leeteuk dengan baik–sangat baik, atau mungkin terlalu baik. Aihan dapat merasakan kebahagiaan menguap dari pori-porinya, takkan ada yang berubah, Aihan akan tetap menjadi gadis yang tak diinginkan siapa pun. Sejarah akan kembali terulang.[]

Ω

Seru nggak? Di sini fantasy nya emang belum kelihatan.

Kritik dan saran sangat diharapkan, terima kasih…

posternya ditunggu ya, hehe… lagi mesen sama kakak kelasku yang paliiiiiing baik😀

with love,

naminaya~

4 thoughts on “Love Story From Neverland (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s