Love Story From Neverland (Part 2)

Here comes the second paaaaaaaart!

minion

Jangan kaget gitu dong😉

😜Untuk Prolog : Mungkin Aihan adalah gadis teraneh yang ada di muka bumi, tapi dia masih lebih santun daripada Aliana dari Pizza Man. Jadi dua tokoh wanita ciptaanku ini memiliki keanehannya masing-masing. Tenang aja, karakter mereka tidak mencerminkan kepribadianku kok, hehe😀

Enjoy!

Ω

ffprops2

Setelah ujian di kelas Mr. Cho usai Leeteuk masih duduk di bangkunya. Pikirannya melayang kembali ke kertas-kertas ujan yang telah ia kumpulkan dan pertemuan anehnya dengan Aihan di pohon wilow sekitar dua jam yang lalu.

“Teukie! Jangan bengong dong!” tiba-tiba saja sahabatnya, Ryeowook, menepuk punggungnya dengan agak keras. Membuat Leeteuk sedikit terlonjak.

“Hei, aku rasa aku sudah menemukan orang yang tepat.” bisik Ryeowook sambil menarik kursi di sebelah Leeteuk.

“Oh ya? Siapa namanya?” respon Leeteuk tanpa semangat.

“Namanya Serei. Lee Serei.” bahkan hanya menyebut namanya saja sudah membuat kedua pipi Ryeowook merona.

“Dia kembang kelas itu kan? Kau takkan mendapatkannya, kujamin.” canda Leeteuk.

“Huh, coba saja kita lihat nanti. Aku sudah membuat kue kering berbentuk hati untuknya, aku akan meletakkannya di laci mejanya setelah kelasnya sudah sepi. Hei! Bagaimana kalau kita bertanding saja?” usul Ryeowook, seolah yakin bahwa kue keringnya dapat membuat Serei jatuh hati pada gigitan pertama.

“Siapa takut.” jawab Leeteuk mantap. Ia tak punya rasa apapun pada Serei, saat pertama kali berpapasan Leeteuk tak merasakan adanya hal yang istimewa dalam diri Serei. Ya, Serei cantik, dia tipikal anak muda Korea yang tidak akan menggunakan baju yang sama dua kali. Dan itu sama sekali bukan tipe Leeteuk. Tapi tentu saja dia tak mau menolak tantangan yang dilemparkan Ryeowook padanya, itu akan membuatnya terlihat seperti penakut. Dan Leeteuk tak mau dilihat sebagai pecundang dua kali, tidak setelah dia tampak benar-benar payah di hadapan si ‘raksasa’ dalam tempo jam ini.

“Mejanya baris kedua dekat jendela, kita lihat siapa yang berhasil nanti.” ujar Ryeowook.

Ryeowook menghadiahinya senyum menantang yang ramah dan meninggalkan kelas yang telah sepi dengan setengah berlari.

Leeteuk langsung mengambil post-it pink berbentuk hati yang hampir tak pernah ia sentuh di kolong mejanya, hadiah dari ibunya saat ia lulus SMP. Ia menuliskan sebuah puisi spontan yang kelihatannya lumayan indah di matanya yang buta akan kesusastraan.

Leeteuk berjalan cepat menuju kelas Serei, hampir semua pemuda di sekolah ini tahu di mana kelas Serei. Karena pasti lebih dari setengahnya telah mengirimkan surat cinta padanya. Ia menghampiri meja di baris kedua dekat jendela.

Meja yang mana? Salah satu diantara meja ini pastilah meja Serei. Tapi yang mana? pikirnya.

Leeteuk membuka meja yang paling dekat dengan jendela dulu. Di dalamnya ada banyak kertas-kerta warna-warni yang terlipat-lipat dan sebuah kotak biru muda.

Ini pasti meja Serei,  sudah ada banyak surat-surat cinta lain di dalamnya dan kotak itu pasti berisi kue kering dari Ryeowook, simpul Leetuk sambil meletakkan suratnya. Kemudian segera pergi, ia tak ingin seorangpun melihatnya.

Leeteuk pulang dengan tenang. Merasa ia telah membuktikan pada Ryeowook bahwa ia bukan pecundang, tapi ia juga yakin bahwa Serei tak mengenalnya dan akan langsung menyasarkan suratnya ke tong sampah kamarnya begitu membacanya. Leeteuk benar-benar mengira bahwa hal ini akan berakhir begini saja, sesimpel ini.

Tapi ternyata dugaan Leeteuk bisa salah juga.

Jam pelajaran pertama berlangsung normal. Setelah bel istirahat berbunyi Leeteuk memutuskan untuk membaca buku Peter Pan. Entah kenapa ia menykainya, Peter Pan adalah cerita klasik yang sangat…. membuatnya tergugah.

Ia melihat Aihan berjalan ke arahnya dari ekor matanya.

“Hai.” sapa Aihan ramah.

Leeteuk memsang senyum manis dan balik menyapa Aihan. Sejenak ada jeda selama sepersekian detik yang anehnya terasa canggung.

“Kau manantikan aku kan?” ujar Aihan tanpa tedeng aling-aling. Setelah itu ia mulai menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi sementara Leeteuk manggaruk-garuk kepalanya bingung.

Aku menantikan Aihan? Akuu… tidak yakin… Astaga! Menantimu!! Itu penutup puisi yang kutujukan pada Serei. Pasti ada kesalahan…

“Umm… Kurasa… ada… ada kesalahan.” Leeteuk merasa perlu mengungkapkan kebenaran.

“Mwo?…” suara Aihan kedengaran hampa dan kering. Semua rona di wajahnya menghilang, senyum cerianya memudar dan binar matanya sudah sepenuhnya sirna.

Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan? Leeteuk benar-benar tak tega melihat ekspresi Aihan. Ia benar-benar tak bisa mengatakannya, ia akan merasa seperti pembunuh. Ia akan membunuh kebahagiaan seorang gadis yang tak bersalah. Tapi tidak, ia tak bisa membohongi Aihan. Bitter truth is better than sweet lie.

Leeteuk menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, mengumpulkan semua nyali yang ia butuhkan.

“Aihan… Yah, sejujurnya… sepertinya… sepertinya surat itu.. emh… tersasar.” Leeteuk sangat berhati-hati dengan pilihan katanya. Tapi tentu saja, tak ada yang bisa menyembunyikan kenyataan pahit ini di balik kata-kata seindah apapun. Shakespeare pun takkan sanggup.

Leeteuk benar-benar ingin menarik kembali ucapannya. Ekspresi tragis terlukis di wajah Aihan. Leeteuk telah benar-benar merasa seperti pembunuh.

Tanpa komando Leeteuk maju selangkah dan menarik Aihan ke dalam pelukannya. Tubuh Aihan sekaku papan, dan gadis itu tak berkutik dalam perlukan Leeteuk. Selama beberapa menit Leeteuk terus mendekap Aihan. Lalu tiba-tiba Leeteuk dapat merasakan bahwa gadis yang sedang ia dekap bergerak sedikit. Aihan meletakkan kedua tangannya di dada Leeteuk dengan lembut lalu dengan perlahan mendorong Leeteuk menjauh. Leeteuk tidak berniat mempertahankan rengkuhannya pada tubuh Aihan, jadi ia membiarkan Aihan melepaskan diri dan berjalan menjauh.

“Kurasa… aku memang tidak menyukainya.” gumam Leeteuk pada dirinya sendiri sambil mengangkat kedua bahunya.[]

ffprops3

Aihan tahu dirinya dipeluk. Mungkin ia memang tidak jadi mendapatkan surat cinta pertamanya, tapi ini jelas pertama kali dirinya dipeluk oleh seorang namja selain ayahnya. Aihan bisa merasakan kehangatan tubuh Leeteuk dan bisa meraskan Leeteuk mengelus rambutnya secara intens.

Aihan benar-benar tak tahu harus senang atau malah sedih. Ia tidak patah hati. Patah hati adalah saat cintamu ditolak kan? Aihan tidak mencintai Leeteuk. Ia hanya telah membohongi dirinya sendiri.

“Sudahi saja. Pelukan ini sama sekali tidak menghiburku.” bisik Aihan dengan sangat pelan, cukup yakin Leeteuk takkan bisa mendengarnya.

Aihan melepaskan diri perlahan-lahan, Leeteuk juga tampaknya tak berusaha menahan Aihan. Setelah lepas, Aihan berjalan perlahan tak tentu arah.

“Sepertinya putus harapan adalah alasan yang cocok untuk melewati kelas Mr.Cho.” gumam Aihan sendu sambil mulai menyanyikan sebuah lagu kecil yang ia ingat pernah ibunya nyanyikan untuknya, walaupun ia tak pernah mengenal ibunya dan imajinasi terliarnya sekalipun tidak membantu membuatnya mengingat sesosok yang bernama ibu. Hanya saja, ia merasa yakin lebih dari 100% bahwa ibunya telah menyanyikan lagu kecil ini setiap kali mengantar Aihan kecil tidur.

Aihan jatuh terlentang di lapangan bola yang kosong, ia memicingkan matanya akibat sinar matahari yang membuatnya silau. Tapi ia masih dapat melihat awan-awan putih menghiasi langit biru.

“Awan itu berbentuk hati!” pekik Aihan, jari telunjuknya mengarah ke sebuah awan putih pekat yang berada di langit sebelah timur.

“Awan itu mengejekku.” Aihan mulai merajuk tanpa alasan. Ia merasa segala sesuatu yang berbau cinta mengejeknya. Jiwa romantisnya yang sensitif tercabik-cabik.

Tapi kemudian matanya menangkap seberkas pelangi selama sepersekian detik.

“Hei? Pelangi itu muncul, tapi tidak didahului oleh hujan.” gumam Aihan langsung terduduk.

Lalu angin sepoi yang berbau bunga iris menyapu wajahnya dengan lembut, angin itu menyebabkan bunyi gemerisik merdu. dan seperti dikomandoi dua ekor burung merpati putih elok terbang ke depan Aihan dan mulai menyanyikan siulan manis.

“Ibu?” bisik Aihan. Setelah itu, ia tak mengerti dari mana kata itu muncul.

Tapi serentetan fenomena magis itu membuatnya merasa dekat sekali dengan ibunya. Tiba-riba saja terbetik sebuah ide gila di benaknya.

“Apakah ibuku seorang ruh alam? Atau seorang dewi?” Aihan merasa bahagia dengan kesimpulan tololnya. Tapi yang jelas untuk sesaat ia melupakan Leeteuk.

Aihan mulai setengah berlari menuju koridor sekolah, ia harus segera pulang. Ia bahkan tak peduli jika saja kelas belum selesai.[]

ffprops2

Leeteuk memutuskan untuk mengikuti kelas tanpa memikirkan Aihan. Terserah gadis aneh itu jika ia masih ingin tenggelam dalam kesedihan. Leeteuk tidak peduli.

Atau setidaknya berusaha untuk tidak peduli.

Leeteuk melihat Mrs. Heyoon menulis soal dan instruksi di papan tulis. Leeteuk mendengar Mrs. Heyoon memerintahkan murid-murid untuk mengeluarkan buku tulisnya. Leeteuk memahami soal-soal aljabar itu dengan baik. Leeteuk juga mengerti bahwa ia harus mengerjakan soal-soal yang ada di papan tulis.

Tapi tak satupun ia kerjakan.

Leeteuk sudah berada di negeri antah berantah. Mengkhayal bukanlah keahliannya, tapi percayalah itu tak terlalu sulit apabila dilakukan di tengah pelajaran aljabar.

“Leeteuk!”

“Bintang kedua ke kanan lalu lurus sampai pagi!” teriak Leeteuk, menyuarakan alamat negeri antah berantah. Tentu saja di bawah alam sadarnya.

“Teukie?” bisik Ryeowook di sebelahnya.

“Hah?” realita mulai memasuki Leeteuk. Semakin banyak yang ia sadari semakin merah pula wajahnya.

“Mengkhayal? Silahkan lanjutkan acara mengkhayalmu…. di luar.” ujar Mrs. Heyoon dingin dan mustahil diargumen.

Dengan wajah tertunduk dalam-dalam Leeteuk berjalan pelan keluar kelas sambil terus menggumamkan kata ‘sial’.

Begitu cahaya matahari membasuh tubuhnya, semua kemampuannya untuk mengkhayal hilang. Tapi anehnya ia bisa membayangkan Tinker Bell. Tapi sesuatu yang ganjil terjadi pada wajah Tinker Bell. Wajahnya bukan lagi wajah Tinker Bell, wajahnya telah digantikan oleh wajah Aihan dan rambut pirang Tinker Bell yang semestinya disanggul telah digantikan oleh rambut cokelat keriting Aihan. Ada apa dengan dirinya?

“Rasa bersalah?” tanya Leeteuk pada dirinya sendiri. Lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri.

Lalu ia mendengar langkah kaki yang kedengaran girang dari ujung koridor. Dan Leeteuk sama sekali tak mengalami kesulitan dalam mengenali sosok yang sedang menandak-nandak di koridor.

“Aihan?” sapa Leeteuk lemah ketika Aihan nyaris saja melewatinya tanpa menyadari keberadaannya.

“Ah? Ada orang? Oh..” Aihan tampak kaget, tapi tidak lama. Selama sepersekian detik wajah Aihan menjadi mendung, tapi seketika sinar kebahagiaan terbit di wajah mungilnya.

“Hai Leeteuk! Apa yang sedang kau lakukan di sini? Oh yaampuun! Hahaha… Kupikir kau adalah tipe anak rajin yang tak pernah dikeluarkan dari kelas! Ternyata aku salah. Hwah, ternyata aku bisa salah juga, haha… Yasudah, aku mau ke kelas! Daaah!” Aihan mencerocos tanpa memberikan kesempatan bagi Leeteuk yang malang untuk berbicara. Baru saja Leeteuk membuka mulut untuk bicara, Aihan sudah kembali berlari meninggalkan Leeteuk dalam kondisi bingung.

Ia tak menyangka Aihan bisa sembuh dari lukanya secepat itu. Bukannya Leeteuk jahat. Tapi ia tak ingin Aihan bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa diantara mereka. Sementara itu…. Leeteuk masih belum bisa melupakan insiden yang melibatkan dirinya dan Aihan. Tapi Leeteuk tidak bodoh. Dari semua celotehan cerianya, Aihan nampak menjaga jarak.

Leeteuk mengedikkan bahunya. “Untuk apa aku ambil pusing?” gumam Leeteuk hampir seperti menguatkan dirinya sendiri.[]

ffprops3

Brak!…

Semua mata terarah menuju pintu kelas yang tiba-tiba menjeblak terbuka. Di ambang pintu berdiri sesosok Kim Aihan, sedang mengedarkan pandang ke seluruh kelas seperti menantang. Jelas sekali gadis mungil itu takkan membiarkan apapun menghalangi jalannya.

“Nona Kim… Kau terlambat?” tanya Mr.Cho, mulai memelintir kumisnya.

“Terlambat?” ujar Aihan diiringi tawa sarkastis. “Aku memang tidak berniat mengikuti kelas anda.” lanjut Aihan lugas tanpa setitik pun binar ketakutan di wajahnya.

Dengan langkah mantap Aihan berjalan menuju mejanya dan menyandang tasnya.

“Apa yang akan kau lakukan?!” Mr.Cho menunjuk Aihan lurus-lurus. Sok dramatis, pikir Aihan memutar bola matanya.

“Pulang.” Aihan tetap berjalan mendekati pintu, sama sekali tak terusik dengan pandangan menilai teman-temannya. Mr.Cho sudah tidak lagi memelintir kumisnya, ia telah mengacak kumisnya sekarang.

Rahang seisi kelas jatuh.

“Kembali Nona Kim!” teriak Mr. Cho.

Au revoir!” ujar Aihan santai sambil mengangkat tangan tingg-tinggi, lalu menutup pintu di belakangnya.

Aihan sudah mengira Leeteuk masih berdiri tak bergeming di koridor. Mungkin dikeluarkan di kelas merupakan hal yang baru baginya, tidak seperti Aihan. Yah, Aihan sudah mulai bosan dikeluarkan dari kelas, jadi sekarang ia memutuskan untuk mengeluarkan diri dari kelas.

“Hai! Aku duluan!” sapa Aihan ramah pada Leeteuk. Leeteuk mengangkat kepalanya, merasa dipanggil.

“Kau akan ke mana?” ujar Leeteuk tampak terperangah.

“Pulang.”

“Gila.”

“Ah! Banyak orang yang bilang gila. Tapi tolong, aku lebih suka dipanggil…. aneh.” ujar Aihan sambil menyentuhkan ketiga ujung jemarinya di dagunya.

Dengan itu Aihan berlalu.

“Tunggu!” Aihan merasa lengannya ditahan oleh seseorang.

“Ya?” tanya Aihan tanpa menengok.

“Aku ikut.”

“Apa?! Tidak! Aku tidak mengizinkan.” kini Aihan telah melompat, menghadap Leeteuk. Benar-benar kaget dan benar-benar ingin menggagalkan rencana Leeteuk.

“Apa yang akan kulakukan? Hanya berdiri menunggu sekolah usai? Lebih baik aku ikut kau saja.”

Aihan menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Kau akan merasa bosan setengah mati jika pergi bersamaku.”

ujar Aihan mencari-cari alasan.

“Aku tidak mengenalmu sebagai gadis yang membosankan. Kamu adalah gadis yang impulsif dan penuh kejutan.” ucap Leeteuk, berusaha bersikap manis seraya mulai berjalan mendahului Aihan.

Aihan tetap berdiri mematung.

“Kenapa diam?” Leeteuk membalikkan badannya.

“Aku benar-benar tidak ingin menghabiskan soreku bersamamu.” jawab Aihan dengan riang. Aihan merasa perlu menunjukkan keceriaan walaupun mungkin sangat terlihat artifisial.

Leeteuk mengernyitkan dahinya. Tapi Aihan tidak melihat sorot mata terluka. Syukurlah, pikir Aihan.

“Baiklah.” ujar Leeteuk pasrah.

Aihan langsung berlari kencang sebelum Leeteuk berubah pikiran. Aihan berhenti berlari di depan gerbang sekolah sambil terengah-engah. Aihan sama sekali tak mendapat kesulitan keluar sekolah sebelum waktunya. Aihan dan satpam sekolah sudah berteman baik, dan bisa mengerti soal kebutuhan Aihan yang kadang suka aneh-aneh.

“Sekarang. Ke mana aku harus pergi?” Aihan berkata pada dirinya sendiri. “Ah tentu saja! Pulang!” lanjut Aihan sambil memukul kepalanya pelan.[]

ffprops2

Leeteuk memutuskan untuk tidak memaksa Aihan. Leeteuk, bagaimanapun juga, harus tetap bersikap manis pada seorang yeoja. Leeteuk menghembuskan nafas berat lalu kembali bersandar pada dinding koridor.

Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki dari arah kelas Aihan. Tapi derap langkahnya tidak terdengar seperti langkah kaki Aihan, tentu saja tidak. Saat Leeteuk menengok ia begitu terkejut melihat sesosok yeoja tinggi semampai dengan rambut hitam ikal digerai sepunggung yang mengenakan rok sekolah yang lebih pendek dari rata-rata rok sekolah murid lain.

“Serei?” Leeteuk tergagap. Siapun memang harus mengakui kerupawanan fisik Serei.

“Yah… Apa kau melihat Aihan?” tanya Serei datar.

“Umm… yah… dia… dia baru saja… baru saja… lari?” Leeteuk merasa sangat bodoh. Kecantikan Serei sedikit-banyak telah membiusnya.

“Kau membiarkan seorang gadis kabur dari sekolah sebelum jam sekolah usai?!” Serei kedengaran kaget.

“Aku… percayalah, aku sudah berusaha menahannya.” Kebohongan, pikir Leeteuk. Ia sama sekali tidak berusaha menahannya, ia malah ingin ikut kabur.

“Eugh, aku ditugaskan Mr. Cho untuk menangkap Aihan.” sambil mendesah Serei ikut bersandar di sebelah Leeteuk. Leeteuk tak bisa mengabaikan fakta bahwa seorang kembang kelas sedang bersandar di koridor kosong tepat di sebelahnya, dan Serei menempelkan bahunya ke bahu Leeteuk.

“Apa kau suka?” tanya Serei tiba-tiba.

“Ah? Suka apa?” tanya Leeteuk bingung.

“Ini.” Serei menunjuk jepit hitam yang bertengger manis di kepalanya, menahan poni panjangnya agar tidak menutupi wajahnya. Jepit itu dihiasi oleh permata biru safir yang nampak anggun dan mewah.

Jepit itu jelas-jelas elegan. Tapi Leeteuk tidak begitu mementingkan perhiasan. Akan tetapi, Leeteuk tetaplah Leeteuk yang harus selalu bersikap manis kepada seorang yeoja.

“Menurutku kau akan selalu tampak menawan walaupun menggunakan sampah di kepalamu.” Leeteuk menatap Serei dalam-dalam.

“Hahaha… sungguh, rayuan paling menggelikan yang pernah kudengar Leeteuk. Aku suka itu.” tawa Serei pecah.

Wajah Leeteuk memerah, merasakan bahwa rayuannya benar-benar gagal.

“Baiklah. Aku akan kembali ke kelas dan melaporkan pada Mr. Cho bahwa Aihan kabur.” ujar Serei santai.

“Jangan. Katakan aku yang mengajaknya kabur.” ujar Leeteuk gagah berani. Ia tahu bahwa kabur dari sekolah akan mendapatkan hukuman yang cukup berat dan ia sungguh tak tega membayangkan Aihan harus dihukum sendirian.

“Kau akan nampak seperti terdakwanya. Kau yakin?” tanya Serei nampak ragu.

“Tak apa.” jawab Leeteuk meyakinkan. Lalu Serei pergi dengan anggukan kecil.

“Serei! Tunggu!” ujar Leeteuk segera. Ia mengingat satu hal penting.

“Ya?”

“Tapi tolong tetap katakan pada Mr. Cho bahwa Aihan juga bersalah, walaupun hanya sedikit.” ujar Leeteuk pelan, memasang senyum termanisnya.

“Akan kukatakan. Oh ya, ngomong-ngomong senyummu mengingatkanku akan Peter Pan.” tawa Serei seraya berbalik meninggalkan Leeteuk yang masih bengong.

“Terima kasih… sangat menyanjung.” jawab Leeteuk sambil menatap kakinya yang mulai menyapu lantai di depannya dengan gugup.[]

Ω

Setiap part dari fanfic ini aku usahain lebih panjang dari Pizza Man. Dan aku ingin lebih memperjelas konflik dan penyelesaiannya. Main konfliknya sih belum kelihatan, tapi nggak lama lagi akan ketahuan.

Semoga akhir dari fanfic ini nggak ketebak sama readers yah! ;D

with love,

naminaya~

3 thoughts on “Love Story From Neverland (Part 2)

  1. Aaah semakin aneh aihan aku semakin suka! Kamu jago nay bikin karakter 4D!
    Dan aku setuju liteuk mirip Peter Pan~~! Dan kenapa harus ryeowook yg jadi temennya liteuk! (bukannya benci ryeowook tapi akhir2 ini jadi sering liat dia aja…)

    • hehe makasih kaaak!😀 daaan kenapa ryeowook ya? aku juga nggak tahu kak kenapaaa… yang kepikiran cuma diaa, hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s