PASTEL #011

yippe update.. /excited kayak sehun tao/

PASTEL

#011

“Ibu jangan pergi.” Tao kecil menarik ibunya yang sudah memegang gagang pintu siap keluar dari rumah. Ia menengok dan mendapati anak satu-satunya yang masih kecil memandangnya dengan pandangan memelas yang tidak mungkin ada seorang ibu di dunia ini yang tega meninggalkan anaknya dalam kondisi seperti itu.

“Jangan pergi.” Tao kembali berkata tidak yakin apakah ibunya mendengar permintaannya.

“Ibu harus pergi mencari uang Tao.” Wanita jangkung itu membungkukkan badannya menyentuh pundak mungil anaknya. Tao menggelengkan kepalanya tidak peduli apapun alasan yang ia dengar.

“Ibu jangan per–“ kalimatnya terpotong ketika ibunya meraih tubuhnya dalam satu pelukan hangat. Satu tindakan sederhana yang membuat Tao mengerti ibunya pergi untuk kembali. “Aku akan kembali Tao, malam ini.”

#

Cahaya matahari yang mengintip dari sela-sela gorden tepat menimpa wajah Tao membuat Tao membuka matanya perlahan, terlalu silau.

“Mimpi lama.” Tao berkata dalam hati, jantungnya masih berdebar kencang, kejadian yang selalu ia alami dulu kembali muncul dalam mimpinya membuat ia merasa baru saja mengantar ibunya pergi. Hampir sebulan sejak sampainya Tao di Korea dengan alasan agar orang tuanya tidak perlu pulang pergi China-Korea hanya untuk bertemu anaknya. Tapi nyatanya mereka menitipkan Tao pada bibinya membuat Tao tidak merasakan perubahan berarti.

Tao pun berdiri dan menggeliatkan tubuhnya yang pegal karena semalaman harus tidur di sofa yang terlalu bagus kalau dikatakan nyaman untuknya. Mimpinya malam ini ia anggap sebagai hal baik karena itu membuatnya merasakan kembali pelukan hangat ibunya.

Bicara soal pelukan, lagi-lagi ingatan Tao kembali ke peristiwa semalam. Peristiwa yang ia pikir sesuatu harus segera dipertanyakan tentang dirinya.

Begitu Tao berdiri untuk mencuci mukanya tiba-tiba hidungnya yang dibanggakan memiliki penciuman setajam anjing mencium sebuah bau yang aneh, Tao mengernyit dan berjalan membiarkan hidungnya memimpin arah mana ia akan berjalan. Sampai di depan pintu dapur samar-samar terlihat asap dan begitu melihat siapa dalang dibalik semuanya Tao hanya bisa membuka kedua mulutnya kaget, Sina selalu dapat membuatnya kaget.

“Sina?” Tao memanggil perempuan yang sibuk membongkar lemari dapur itu menengok. Dengan wajah penuh keringat sekalipun dengan ekspresi datarnya Tao dapat membaca dari gestur tubuhnya Sina sedang panik.

“Kau sudah bangun? Maaf sarapannya agak terlambat aku membuat kesalahan kecil.” Sina kembali membalik badannya. Tao makin melongo melihat Sina memakai celemek dan berada di dapur? Tao tidak mengira Sina cukup baik mau menyiapkan sarapan untuk mereka.

“Kau masak apa— ew.” Tao memincingkan matanya begitu menghampiri Sina dan melihat isi wajan di mana asap berasal. Tao yakin itu telur melihat di sekitar kompor banyak pecahan kulit telur, tapi dengan warna coklat seperti itu, Tao tidak yakin apakah itu telur biasa atau telur mata sapi yang Sina beri kecap kebanyakan? (Seperti biasa Tao selalu berusaha berpikir positif).

“Sina itu..”

“Gosong, aku tahu itu.” Sina segera menengok pada Tao, menatap Tao dengan datar.

“Ini kesalahan kecil yang kau maksud?” Tao bertanya dengan hati-hati.

Sina mengangguk, dalam hati ia tahu ia baru saja menunjukkan dirinya tidak bisa masak pada Tao,  ia tahu ia emang tidak memiliki naluri perempuan pada umumnya alias memasak, tapi sebagai orang yang menumpang bermalam ia merasa harus melakukan balas budi dan satu-satunya cara; menyiapkan sarapan. Pilihan salah karena harusnya Sina tahu ia memang tidak bisa berhadapan dengan kompor.

“Hmmmmm.” Tao menggumam, ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia katakan. Menyemangati Sina? Mengajaknya masak bersama?

Sina yang dalam hati juga terus bertanya-tanya apa yang akan Tao lakukan. Mentertawakannya? Menyuruhnya berhenti dan pesan makanan saja?

“Sina…” Tao menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia menghindari kontak mata dengan Sina, selain karena kejadian kemarin ditambah melihat Sina yang kewalahan memasak Tao makin bingung antara harus menghargai usaha Sina atau membantunya (membantu dengan apa? Itu pertanyaan Tao.)

Sina menengok pada Tao, menggigit bibirnya, takut dimarahi karena baru saja menghancurkan dapur mereka.

“Aku baru tahu kau suka telur gosong! Hahahahahhaha.” Tao tertawa, berusaha melihat bahwa itu hal yang lucu, tapi melirik Sina dengan ekor matanya ia dapat melihat Sina sama sekali tidak menganggap itu sebuah hal yang lucu.

Tao pun berdehem dan memberanikan diri menatap Sina “Bagaimana kalau kita makan roti saja? Aku juga tidak bisa masak dan ahjumma sepertinya masih terlelap.”

Sina menghela napas, usahanya untuk menyenangkan Tao dan bibinya gagal. “Baiklah, sebelumnya aku bereskan dulu ini.” Ia pun menggulung lengan bajunya dan mulai mengelap minyak yang tumpah karena kepanikannya melihat telur yang gosong.

Tao menghela napas lega dan membuka kulkasnya, perutnya sudah protes meminta makan tapi yang dilihatnya dalam kulkas hanya makanan berat yang mau tidak mau harus dimasak terlebih dahulu.

“Sina, sepertinya aku harus ke minimarket dulu untuk membeli roti.” Tao menghampiri Sina yang sedang mencuci tangannya. Sina segera menoleh dan tanpa pikir panjang ia segera melepas celemeknya “Aku juga ikut”

Begitu mereka berdua keluar dari toko Tao mengeluarkan sepedanya dari garasi, hadiah dari orang tuanya karena ia berhasil lulus dari kelas wushu dengan nilai memuaskan. Sina ikut masuk garasi dan menengok kanan-kiri mencari sepeda yang tersisa hingga akhirnya Tao memanggil.

“Sina, ayo berangkat.” Ia menepuk kursi di belakangnya. Sina memiringkan kepalanya, tidak yakin dengan ajakan Tao. “Tidak ada sepeda lain?”

“Tidak ada.” Tao menjawab singkat, ia pun mengayuh sepedanya sampai tepat berada di depan Sina. “Ayo naik, kau tidak ingin terlambat ke sekolah hanya karena sarapan kan?”

“Aku tidak mau dibonceng.” Sina langsung menolak membuat Tao segera memandang Sina dengan aneh “Aku bisa membonceng Sina! Dari dulu aku sering bersepeda jadi kau tidak perlu takut jatuh.”  Ia meyakinkan Sina merasa Sina takut dibonceng olehnya padahal masalah sebenarnya dari Sina adalah; ia tidak suka dibonceng, karena itu artinya ia harus memeluk pinggang Tao yang memikirkannya saja membuat ia merinding, pelukan kemarin malam dari Tao itu pengecualian karena ia memang butuh hal seperti itu untuk mengatasi rasa takutnya.

“Itu artinya aku harus memelukmu kalau aku tidak mau jatuh, dan aku tidak mau.” Sina langsung mengatakan alasan sebenarnya, basa basi dengan Tao tidak akan berguna karena Tao terlalu polos untuk menangkap maksud sebenarnya.

Mendengar kata ‘peluk’ spontan wajah Tao langsung memerah, Sina membawa topik yang paling dihindarinya.

“Ka-kalau begitu..” Tao turun dari sepedanya dan duduk di kursi penumpang “Kau yang memboncengku dan aku tidak akan memelukmu karena keseimbanganku bagus.”

Sina merasa kaget, Tao selalu membuatnya merasa kaget, tidak hanya karena kepercayaan dirinya soal keseimbangan tapi juga soal harga diri ternyata Tao tidak bermasalah dibonceng oleh seorang perempuan. Sina pun mengangguk dan mengambil alih stang sepeda. Setelah Sina duduk dan siap mengayuh Tao berdehem membuat Sina menengokkan kepalanya ke belakang “Apa lagi?”

“Kau jago naik sepeda kan? Ini sepeda kesayanganku jadi jangan sampai jatuh, dan beratku 63,5 kg.” Tao membuat Sina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa konyol dengan peringatan Tao “Ya aku tahu, dan ingat, jangan memegang pinggangku.”

Tao menelan ludah dan mengangguk “Ayo berangkat!”

Tanpa menghitung aba-aba lagi Sina langsung mengayuh sepedanya sekuat tenaga, jalanan pagi masih sepi membuat Sina tidak sungkan untuk ngebut dengan sepeda kesayangan Tao.

“Sinaaa jangan secepat ini…!” Tao tidak berhenti protes hampir selama perjalanan.

#

Miyoung menghela napas lega melihat bus yang dinaikinya masih menyediakan beberapa kursi kosong, ia segera memilih kursi di samping jendela dan meletakkan ransel beratnya di sebelah kursinya yang kosong. Salah satu klub orkestra di kampusnya sedang mencari pemain piano untuk tampil di konser mereka bulan depan dan Miyoung benar-benar mengincar posisi itu, oleh karena ia memilih untuk bermalam di rumah temannya memainkan piano semalaman karena ia tahu berlatih di rumahnya sendiri akan  membuat Sina mengomel tentang permainannya yang katanya mengganggu itu.

Miyoung menyalakan ponselnya mengecek beberapa pesan yang masuk, dan sesuai dugaannya nama Sehun tidak tertera, ia tahu Sehun terlalu cuek dan terlalu kekanakan untuk mengerti Miyoung butuh perhatian lebih sehingga hal yang bisa ia lakukan hanya memaklumi Sehun, memarahi Sehun hanya membuat ia memimpin hubungan dan ia kurang suka hal itu.

Sambil sesekali menguap ia memperhatikan luar jendela, lampu merah membuat Miyoung dapat mengamati lebih jelas anak anjing yang terikat di tiang, majikannya sepertinya sedang pergi dan terlalu percaya diri bahwa orang-orang tidak akan mengambil anjingnya itu.

Baru saja Miyoung ingin mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto anjing itu tiba-tiba sosok yang ia kenal menghampiri si anjing. Miyoung mengucek-ucek matanya memastikan apa yang ia lihat bukan halusinasi karena terlalu lelah.

“Sehun!” Sina menyahuti pacarnya begitu ia berhasil menggeser jendela bus dengan susah payah.

Sehun yang masih berusaha menjinakkan anjing itu tersentak dan menengokkan kepalanya kanan kiri mencari asal suara hingga akhirnya matanya berhenti pada bus yang berhenti tepat beberapa meter di depannya.

“AH! Hai!” Ia segera berdiri dan melambai-lambaikan tangannya.  Miyoung mengeluarkan kepalanya dari jendela, sedikit memalukan dan terlalu menarik perhatian  orang-orang yang lewat. Sehun pun memilih menghampiri Miyoung sebelum perempuan itu berteriak mengeluarkan kata-kata yang merupakan privasi bagi mereka berdua.

“Kau baru pulang?” Sehun bertanya dengan riang, kalau diingat-ingat ini pertama kalinya mereka mengobrol sejak tiga hari yang lalu.

Miyoung mengangguk “Aku sedang mempersiapkan diri untuk konser besar! Kau masih sibuk?”

Sehun terdiam, batas tugas mereka masih dua minggu lagi tapi ia dan Sina sudah mengerjakan lebih dari setengahnya. Apa dia masih sibuk?

“Hmmm sebenarnya tidak, tapi iya juga sih.” Sehun melantur dengan jawabannya membuat Miyoung menaikkan sebelah alisnya. Sehun masih terlihat sama di mata Miyoung, sudah sebulan lebih sejak ia dan Sehun berpacaran tapi sesuatu membuat ia merasa hubungan kali ini berbeda. Mungkin karena frekuensi bertemu mereka yang terbilang minim, membuat Miyoung sangat menghargai setiap pertemuannya dengan Sehun.

“Sehun, apa lampu merahnya masih lama?”

Sehun menengadah ke atas melihat waktu yang tersisa pada pertemuan singkatnya dengan Miyoung.

“Hmm 8 detik lagi.”

“Hei Sehun, aku mau memberitahumu sebuah rahasia, sini mendekat.”

“Hah?” Sehun tidak mengerti melihat Miyoung yang tiba-tiba memasang ekspresi serius, tapi sebagai laki-laki penurut ia menghampiri Miyoung lebih dekat. Begitu ingin membuka kedua mulutnya bertanya apa rahasia itu tiba-tiba Miyoung menutup mulutnya mendadak dengan kecupan singkat yang Sehun sendiri tidak sadar karena begitu otaknya kembali berjalan bus Miyoung sudah melaju pergi.

#

“Sudah berapa kali kubilang Oh Sehun, itu hal yang wajar.” Jongin berkata dengan malas melihat tingkah temannya yang berubah drastis  karena baru saja dikecup oleh pacarnya.

“Bukan Jongin, ini berbeda, pertama ini di bibir dan kedua Miyoung yang memulainya.” Sehun berkata dengan serius seolah ia baru saja membocorkan rahasia negara membuat Jongin hanya memutar bola matanya.

“Lalu? Bukannya dulu kau juga pernah menciumnya di pipi?”

Sehun mendengus melihat reaksi Jongin yang menurutnya terlalu menggampangkan masalah “Pipi dan bibir berbeda! Itu refleks karena ibuku suka mencium setiap kami akan berpisah dan aku melakukan hal itu pada Miyoung juga tidak sengaja.”

“Jadi apa yang kau inginkan sekarang? Kau ingin marah pada Miyoung karena merebut ciuman pertamamu? Ugh, itu memalukan Sehun.” Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mengerti dengan isi kepala sahabatnya itu. Ia tahu Sehun terbilang polos untuk laki-laki seumuran mereka, tapi sampai seperti ini? Ia jadi bertanya kenapa ia bisa bersahabat dengan Sehun.

“Tentu saja tidak, lagipula itu bukan ciuman, pertama itu terlalu singkat, dan kedua itu sepihak dari Miyoung.”

“Dan ketiga kau tidak menyukai Mi—“

“Aku menyukai Miyoung.” Sehun memotong kalimat Jongin dengan cepat, rupanya salah mendiskusikan hal seperti ini pada seorang Jongin. Jongin hanya tertawa melihat Sehun yang terbawa terlalu serius dengan kalimatnya.

“Ya ya maafkan aku, tentu saja kau menyukai Miyoung-noona, siapa yang tidak ingin menjadikan wanita semanis itu sebagai pacarnya, kau beruntung Sehun.” Jongin menepuk bahu Sehun yang langsung dibalas dengan dorongan Sehun. “Hei aku tidak semurahan itu. Dan lagi aku menerima Miyoung karena—“

“Ah iya! Sudahlah! Aku bosan mendengarnya aku tahu kenapa kau suka Miyoung-noona, lebih baik sekarang kita membicarakan masalah percintaanku.” Jongin membetulkan posisi duduknya dan menyeringai begitu menyadari seseorang baru membuka pintu kelas dan masuk.

“Kalau kau dengan kakaknya, berarti aku dengan adiknya.” Jongin berbisik pada Sehun yang langsung membuat Sehun mengerutkan dahinya, entah kenapa ia kurang suka dengan ide Sina dan Jongin bersama.

“Sina tidak mungkin menyukaimu, pertama ia terlalu dingin, kedua—“

“Bisa tidak kau berhenti menguraikan alasan? Apa sulitnya mendukung teman sendiri?” Jongin meniup poninya jengkel dengan Sehun yang tidak pernah mendukung kelanjutan hubungannya dengan Sina.

Sehun segera bungkam, pertanyaan dari Jongin membuat tanda tanya dalam dirinya, sejak kapan ia berhak untuk mengatur Sina suka siapa? Kalau ternyata Sina memang bisa saja balik menyukai temannya itu tentu ia tidak memiliki hak untuk kesal.

“Hmmm kau tahu, ia berbeda dengan perempuan lain, dan aku pikir kalian berdua benar-benar berbeda, dan saking berbedanya tidak mungkin kalian tahan bersama.” Sehun memutar otaknya berusaha mencari alasan yang terdengar bijak tapi nyatanya hanya membuat Jongin makin tersenyum “Terdengar menarik.” Jongin tertawa, ia berdiri dari kursi sebelah Sehun ketika guru kelas mereka masuk, mengingat dirinya dan Sehun bukan teman sekelas.

“Sore ini aku akan mengajaknya pulang bersama.” Jongin membisiki Sehun dan langsung berlari keluar dari kelas karena guru Park baru saja membentaknya.

#

“Ahjumma, apakah keluarga kita memiliki riwayat penyakit jantung?” Tao bertanya di tengah-tengah makan siangnya yang tenang dengan bibinya.

Sambil tetap mengunyah ahjumma menimbang jawabannya, selama ini tidak ada catatan anggota keluarga mereka meninggal karena gagal jantung, keluarga Huang memang sehat mengingat kakek Tao bahkan masih bisa mendaki gunung di usianya yang hampir mencapai 80. “Tidak, memang kau merasa ada yang bermasalah dengan jantungmu?”

Tao segera mengangguk “Aku juga tidak mengerti tapi kadang-kadang jantungku suka berdetak cepat tidak karuan.”

Ahjumma memandang serius pada keponakan kesayangannya itu, dengan pendidikannya yang tidak terlalu tinggi ia tidak bisa memberikan jawaban yang pantas untuk pertanyaan biologis dari Tao “Ahh, bagaimana kalau cari infonya lewat buku saja? Di dekat sini ada toko buku kecil yang penjaganya sering membuka plastik pembungkusnya jadi pembelinya bisa membaca di sana.”

Tao kembali mengangguk dan segera melahap bimbabnya, begitu ia ingin berdiri meninggalkan meja makan ia baru teringat sesuatu “Tapi bagaimana kalau aku tidak bisa membacanya?”

“Beli bukunya dan aku akan membacakannya untukmu.” Bibi Tao menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Tao. Ia membuat mental note untuk mencarikan kelas bahasa Korea untuk Tao segera.

Tao membungkukkan badannya yang tinggi supaya bisa menyamakan dirinya dengan jejeran rak buku anak-anak. Sadar dengan kemampuan bahasa Koreanya yang pas-pasan, Tao memilih mencari buku anak sebagai referensinya. Tapi membahas jantung dalam buku anak-anak? Yah Tao terlalu bodoh untuk menyadari bahwa itu bukan hal yang lumrah.

Tangan Tao meraih buku besar yang bergambar hati di covernya. Dengan penasaran ia segera membuka buku itu tanpa membaca pengantarnya terlebih dahulu.

“Jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya?” Tao mengeja pelan kalimat yang ia baca di halaman pertama. Dengan antusias ia segera mengangguk.

“Perutmu terasa geli?” Tao membulatkan matanya kaget merasa pengarang buku tersebut sangat jenius bisa mengerti kondisi Tao sekarang ini.

“Wajahmu terasa memanas dan memerah?” Kali ini Tao menelan ludahnya dan mengangguk pelan, dengan perlahan ia membuka halaman selanjutnya, tiba-tiba ia merasa merinding. Ia memejamkan matanya, menarik dan mengeluarkan berusaha menenangkan diri. Kalau memang ia sakit jantung, apa itu artinya ia jadi tidak bisa memenuhi cita-citanya untuk traveling keliling dunia?

Sambil menggigit bibirnya ia memberanikan untuk membuka matanya, sebelum matanya membaca kalimat yang tertera di halaman buku seseorang menyentuh pundaknya. Tao segera menengok dan melihat anak perempuan yang menunjuk buku yang sedang dipegangnya “Oppa ingin membeli buku itu?”

Tao segera mengangguk dan memeluk buku itu “Ya Oppa ingin beli buku ini.”

Ekspresi perempuan itu semakin bertanya-tanya, ia segera meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menggembungkan pipinya, aksi merajuknya “Tapi buku itu untuk perempuan! Dan aku sudah menabung lama untuk dapat membeli buku itu!”

“Tapi buku ini…” Tao segera memperhatikan covernya dan baru menyadari betapa manis desain cover buku itu. Hati yang ia pikir perumpaan untuk jantung ternyata ‘hati’ yang biasa diungkapkan ketika sedang jatuh cinta, mata sipit Tao membulat kaget begitu membaca judul buku tersebut.

“Ini buku pedoman untuk anak perempuan yang baru merasakan cinta pertamanya! Dan Oppa terlalu tua untuk membaca buku itu!”

Tao memandang anak perempuan yang sedang memandang sinis padanya dengan kebingungan, selain karena merasa malu ia juga kasihan karena telanjur penasaran dengan isi buku itu, membuat usaha menabung anak di depannya menjadi sia-sia.

“Buku ini untuk adik perempuanku” Tao berusaha membela diri dengan berbohong.

Si anak sepertinya percaya karena ia hanya menghela napas dan menundukkan kepalanya, membuat Tao makin merasa bersalah “Bagaimana kalau membacanya dulu sebelum aku membelinya?”

Anak perempuan yang baru saja ingin  mengutuk Oppa di depannya itu segera membatalkan niatnya dan jongkok di sebelah Tao agar mereka berdua dapat membaca buku itu bersama.

“Jadi kau juga merasakan jantungmu berdetak lebih cepat?” Tao bertanya penasaran yang langsung dijawab dengan anggukan semangat dari anak yang masih fokus membaca isi buku itu.

“Ya, kata temanku juga wajahku jadi merah ketika aku mengobrol dengan Gongchan, lalu ketika Gongchan menyentuh tanganku ketika kita lari marathon berpasangan perutku terasa geli.” Tao mengangguk, mengerti dengan jelas perasaan itu, selanjutnya mereka terus berdiskusi, konyolnya; Tao menganggap serius nasehat anak perempuan itu setiap giliran ia bercerita tentang dirinya dan Sina.

#

Tangan Sehun tidak bisa berhenti mengetuk meja belajarnya, ia terus memandang jendela memastikan kelas sebelah belum keluar. Beberapa menit kemudian do’a Sehun terkabul, bel pulang sekolah berbunyi, ia segera bangkit dan menyandang tasnya di bahu, beberapa anak masih sibuk membereskan buku dan alat tulis tapi Sehun sudah melakukan itu sejak beberapa menit yang lalu sekalipun kelas Biologi belum selesai.

“Sina!” Sehun memanggil Sina yang baru saja berdiri dari kursinya. Sina memandangnya balik dan menaikkan alisnya, bingung melihat Sehun yang biasanya tenang kali ini terlihat panik.

“Bagaimana kalau kita pulang bersama hari ini?”

Sina yang tidak terbiasa mendapat ajakan pulang bersama dari seorang laki-laki terdiam  membuat Sehun yang benar-benar dikejar oleh waktu akhirnya segera menarik tangan Sina keluar dari kelas.

“Hei aku belum menjawab Sehun!” Sina protes dan melepas genggaman Sehun.

“Kita bicara sambil berjalan saja ya? Aku benar-benar terburu, dan percayalah kali ini kau harus pulang bersamaku.” Sehun berjalan terburu-buru diikuti Sina yang berusaha menyamai langkahnya dengan Sehun.

Sina yang berniat untuk melanjutkan tugas mereka jadi bertanya-tanya, kemarin Sehun yang meminta untuk segera menyelesaikan tugas tapi sekarang justru Sehun yang terlihat terburu-buru tidak ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi di sekolah seolah sekolah mereka akan meledak sewaktu-waktu. “Padahal aku ingin ke perpustakaan hari ini.” Sina berkata.

Sehun yang matanya fokus memandang kanan kiri memastikan sosok Jongin tidak ada tiba-tiba tersenyum, kerutan di dahinya hilang, ia menemukan ide cemerlang. “Kita mengerjakan di rumahku saja!”

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Sina, begitu mereka keluar dari gedung sekolah Sehun langsung menarik tangan Sina membawanya lari keluar dari gerbang sekolah. Bayangannya Kim Jongin dan Ahn Sina pulang bersama tidak terlihat menyenangkan, bukannya ia protektif, tapi ia kenal Jongin, temannya itu tidak pernah gagal mendapat apa yang diincarnya, dan bukannya ia menganggap Sina sama seperti perempuan lainnya yang dapat Jongin taklukkan dengan mudah, Sehun juga tidak mengerti tapi yang ia tahu semakin Jongin mengenal Sina, semakin temannya itu akan tertarik pada Sina, dan Sehun tidak menerima perempuan seperti Sina jatuh pada orang seperti Jongin. Hati kecilnya yakin Sina tidak mungkin menyukai Jongin, tapi kita bicara soal cinta di mana semuanya bisa berubah, kadang memang aneh dan menyakitkan, tidak sesuai apa yang kita harapkan tetapi perubahan selalu ada, manusia berubah; perasaan berubah, dan bukankah Sina manusia?

______________________

Author’s Note

◉‿◉

Tiga request dari author bintangdj terkabul: Sina masak, bonceng sepeda, SehunxSina moment. Untuk TaoxSina shipper mohon bersabar :3 *tepuk2 bahu*

11 thoughts on “PASTEL #011

  1. horeeee udah ada update-an😀
    pertama, kok pelukan malem2nya gak dijelasin sih thoooor :3 aku kemaren nungguin moment itu loh. kan penasaran itu kelanjutannya gimanaaa :3 tapi bagian naik sepeda barengnya juga lumayan kok hhehe
    aku suka first kissnya sehun sama miyoung ><

    oke part selanjutnya saya tunggu😀 author jjang ^^

  2. horeeee udah ada update-an😀
    pertama, kok pelukan malem2nya gak dijelasin sih thoooor :3 aku kemaren nungguin moment itu loh. kan penasaran itu kelanjutannya gimanaaa :3 tapi bagian naik sepeda barengnya juga lumayan kok hhehe
    aku suka first kissnya sehun sama miyoung *3*manis banget sih.. plis sehun sama miyoung aja thor jadi sina sama tao huakakka😀

    dan yang ini nih huahahhahaha, sumpah geli banget bagian tao baca buku anak2, trus sampe curhat sama anak bocah lagi. sumpaaah tao itu polos atau blo’on sih *3* masa jatuh cinta aja perlu konsultasi sama anak kecil xD

    kedua, sehun suka sama sina? trus dia nerima miyoung karna apaaa?? duh, penasaran niiih…
    oke part ini bikin geretan… saya boleh request gak? sebagai reader baru yang banyak mau tapi baik hati ini?? :3 *muntah* moment taosina banyakin yahhh xD kasih clue gitu thor sina mulai suka sama siapa. masih abu-abu nih gak bisa nebak *3*

    oke part selanjutnya saya tunggu😀 author jjang ^^

    • makasih komen panjangnya! ^^ hehe yg soal hug emang sengaja author biarin readers aja yg ngebayangin selanjutnya gimana; yg jelas sina ga protes dipeluk sm tao wkwk. Sehun sm miyoung? (ternyata ada juga yg ngedukung couple itu..) Eh terus sehun enggak suka sm sina kok, sampai chapter ini dia masih ngomong dia suka miyoung, kedepannya..ga tau😀 iya taosina momentnya nanti, hubungan mereka berdua emang agak lama karena dua2nya sama telmi soal begituan tp tenang aja perlahan dan penuh fluff kok!

  3. Thor ada yg aneh di bagian :

    “Sehun!” Sina menyahuti pacarnya begitu ia berhasil menggeser jendela bus dengan susah payah.

    Itu harusnya miyoung kan yg nyaut..bukan sina….

    Btw makin seru ada tokoh baru;jongin^^ banyakin sehun sina! Ditunggu update-an nya yg lain juga^^

    • wah! ketauan waktu ngetik ga fokus! ok sip nantikan chapter selanjutnya karena sehun semakin ganteeeeeeng jadinya sehunsina banyak B)

  4. Wahahahaa sina ga bisa masaak?? Walaupun hanya teloor? Wah kebangetaaan wkwwk xD
    Separah parahnya aku aja masih bisa masak telor haahahaha

    Aku. Suka. Karakter. Tao. Di. Sini.
    Itu abcdefg kelewat polos bangeeeeeeet xD yaampun masa dia beneran nanyain ke ahjummanya keluarganya punya riwayat penyakit jantung apa ngga, ah elaaaah itu jatuh cinta kali maaaas ih ngegemesin deh (?)

    What the miyoung cium cium sehunkuuuuu aaaaaa ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s