PASTEL #012

 

 

A/N: YEAH POST KE 100 di Little Sweet Fanfiction didapatkan oleh author Pikrachu! Author sampai upload pagi2 sebelum kedahuluan sama author lain yang mungkin aja ngincar post ke 100 juga….happy reading!)



 

PASTEL 12

Sina memijit betisnya yang baru diajak lari sprint paksa oleh Sehun, ini kedua kalinya ia berlari bersama Sehun, dan memang Sina diam-diam berterima kasih pada Sehun yang membuatnya berolahraga secara tidak langsung, tapi dengan cara seperti ini? Sina tidak yakin apakah ia ingin berlari lagi.

“Belikan aku minuman.” Sina berkata sinis pada Sehun yang duduk di atas rumput menjulurkan kedua kaki jenjangnya. Sehun mengelap pelipisnya yang berkeringat dengan tangannya dan tertawa “Hahahah sudah lama aku tidak berlari seperti ini.”

Sina tidak menggubris tawa Sehun dan hanya memandangnya dengan datar “Jadi beritahu aku kenapa kita harus berlari?” Ia turun dari kursi taman dan ikut duduk di sebelah Sehun.

Sehun menengok pada Sina dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ekspresinya terlihat berbeda seperti beban berat yang baru saja ditahannya sudah terangkat. “Sudahlah tidak penting, sekarang bagaimana kalau kita beli minuman dulu? Kutraktir.”

Sina hanya mengangguk, terlalu malas untuk bertanya lebih lanjut.  Ia ikut berdiri dan membersihkan roknya yang tertempel beberapa rumput kering sementara Sehun meregangkan tangannya. Ia benar-benar lega berhasil lari dari Jongin, jantungnya tadi hampir terasa copot melihat siluet Jongin keluar dari gedung sekolah begitu ia membalikkan kepalanya untuk mengecek keadaan.

#

“Sehun boleh aku beli es krim juga?” Sina menunjuk isi freezer membuat Sehun yang masih bingung ingin membeli jus atau susu mengangguk “Aku juga tolong pilihkan untukku.”

Sina menggeser tutup freezer dan segera mengambil rasa pisang, kali ini ia bosan dengan stroberi. Begitu mengambil miliknya ia membongkar tumpukan es krim mencari rasa untuk Sehun. Sehun yang akhirnya memutuskan membeli jus apel dan susu stroberi menghampiri Sina yang masih fokus memili-milih es krim. Sehun tersenyum geli melihat Sina yang terlihat serius memikirkan baik-baik rasa yang ia pilih, ia sengaja tidak memberi tahu Sina apa kesukaannya, penasaran rasa apa yang Sina pilih untuknya.

“Aku tidak pilih-pilih rasa.” 

Sina menengok pada Sehun memutar bola matanya “Katakan itu dari tadi, kalau begitu rasa apapun yang kupilih tetap sama kan?” Akhirnya Sina mengambil asal membuat Sehun mengernyit “Eh tunggu dulu, tapi sebenarnya aku punya satu rasa favorit, bagaimana kalau kau menebaknya?”

Sina memandang Sehun lalu menyunggingkan bibirnya sedikit, tersenyum “Dan kalau aku benar aku boleh membeli satu es krim lagi?”

Sehun menghela napas, kenapa sulit sekali hanya untuk meminta Sina memilihkan es krim untuknya? “Ya ya baiklah…sekarang ayo, waktunya satu menit lagi.” Sehun segera menunjuk jam tangannya, kalau kau ingin permainan ayo kutantang  ucap Sehun dalam hati.

Sina yang kaget kembali berfokus pada isi freezer, mengaduk-ngaduk isinya mengambil satu rasa lalu mengembalikkannya lagi kurang lebih sampai sepuluh kali.

“Waktu habis!”

“Ini!” Sina segera mengangkat es krim melon pilihannya, meskipun berkesan sepele tapi ia benar-benar menginginkan satu es krim lagi. Sehun mengangkat alisnya melihat melon sebagai pilihan Sina, meskipun pada kenyataannya Sina salah, Sehun tidak mengerti kenapa ia harus tersenyum dan menganggukkan kepalanya “Wah benar! Baiklah hadiahnya kamu boleh pilih satu es krim lagi.”

Sina tersenyum dan memasukkan es krim melon itu pada keranjang yang sedang Sehun pegang bersama es krim pisangnya, ia segera mengambil rasa coklat yang membuat Sehun gemas karena sebenarnya rasa itulah yang paling ia sukai.

#

Setelah menyendok Haagen-Dazs banana split  rasa favoritnya yang kesepuluh kali sejak tutupnya di buka Tao mendapat hardikan dari bibinya.

Aish Tao! Kubilang tonton filmnya! Jangan hanya makan es krim itu!”

Tao merengut dan menutup kembali es krim yang sudah habis setengahnya itu. Ahjumma mengajaknya menonton Nice Guy  tapi ia benar-benar tidak mengerti jalan ceritanya, bukan hanya karena kemampuan bahasa Koreanya tapi karena ia memang tidak menyukai adegan menangis yang mana sering ia temukan di drama ini.

“Ahjumma, kenapa mereka selalu menangis? Apa tidak capek? Kalau memang menyakitkan akhiri saja hubungannya.” Tao berkata dengan datar sambil menatap layar melihat si pemeran wanita terisak-isak.

“Anak kecil sepertimu tidak akan mengerti, ngomong-ngomong, kau belum pernah berpacaran Tao?” Ahjumma tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan yang sempat terlintas di otaknya karena ia tidak pernah lihat Tao berkutat di depan ponsel lama-lama untuk menghubungi siapapun.

Tao menggelengkan kepalanya, ia memang pernah mendapatkan beberapa pengakuan perasaan dari teman perempuannya, dan entah kenapa secantik atau sebaik apapun perempuan itu Tao tidak mengerti kenapa ia tidak pernah bisa membalas perasaan suka itu.

“Kau pernah menyukai seseorang?” Ahjumma kembali bertanya, di matanya Tao memang seperti anak kecil sehingga ia tidak begitu terkejut mendengar fakta keponakannya itu selalu single sepanjang 19 tahun hidupnya.

“Hmm–“  Tao terdiam sebelum menjawab, diskusi dengan anak perempuan di toko itu cukup menjadi pelajaran penting untuk Tao, ia mengambil kesimpulan kalau ia tidak menyukai Sina, atau lebih tepatnya belum, itulah yang anak kecil itu katakan “Sepertinya belum, tapi kalau dikatakan tertarik iya.”

Ahjumma yang tertarik melihat jawaban Tao segera mengalihkan pandangan dari layar TV pada wajah keponakannya yang terlihat sedang berpikir serius. “Siapa itu Tao?”

“Sina.” Tao menjawab singkat dengan datar, kebalikan dengan ahjumma yang menatapnya dengan kaget, kedua mulutnya menganga tidak percaya Tao memiliki perasaan seperti itu pada Sina yang dulu ditakutinya.

“Si-sina? Sejak kapan? Bagaimana bisa?”

Tao menghela napas dan kembali membuka es krimnya ‘’Kan sudah kubilang tertarik, aku hanya merasakan hal yang aneh pada Sina, dan kalau aku bilang itu suka, rasanya terlalu cepat.”

“Hal aneh? Hal aneh apa?” Ahjumma semakin penasaran, sekarang ia benar-benar memfokuskan perhatiannya pada Tao tidak peduli aktor kesukaannya Song Joongki sedang melakukan adegan romantis dengan lawan mainnya.

“Seperti jantungku berdetak cepat, lalu perutku terasa geli, mukaku memerah, dan ketika Sina menyentuhku aku seperti tersengat.” Tao berkata sambil mengangkat jari-jari tangannya sambil menghitung dan mengingat satu persatu hal yang ia rasakan pada peristiwa kemarin malam.

Ahjumma yang melihat Tao menjelaskan hal itu dengan santai seolah itu bukan apa-apa membuat ia melongo, ia tidak mengerti lagi seperti isi kepala Huang Zitao, memang benar polos dan bodoh beda tipis.

“Hara mengatakan padaku terlalu cepat kalau bilang aku suka pada Sina, katanya itu hanya perasaan sesaat karena aku tidak terbiasa dekat dengan perempuan selain ahjumma dan ibu jadi katanya, seiring berjalan waktu aku akan biasa-biasa saja pada Sina.” Tao melanjutkan penjelasannya, menceritakan sebuah teori yang ia dapat dari anak perempuan berumur 10 tahun. Atau sebaliknya perasaan tertarik itu berubah jadi suka Tao berkata dalam hati melanjutkan kalimat terakhir dari penjelasan Hara.

“Siapa itu Hara?” Ahjumma semakin dibuat bingung oleh keponakannya.

“Temanku.” Tao menjawab dengan cengiran khasnya setiap ia senang.

#

“Ini rumahku.” Sehun berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Pagar kayunya yang mungil membuat rumah itu terlihat sederhana dan hangat. Halaman yang sebenarnya cukup luas terasa padat karena ditumbuhi beberapa pohon kesemek ditambah patio mungil yang sekelilingnya dirambati Bougenville. Jejeran bunga Aster sepanjang jalan setapak lengkap mengindikasikan si pemilik rumah memang memiki selera bagus soal menata taman.

“Aku suka rumahmu.” Sina berkata dengan datar, meskipun sebenarnya ia memuji yang dengan nada datarnya itu membuat orang biasa tidak menghargai pujian Sina, sebaliknya Sehun mengerti dan mengulum senyum sambil mengangguk “Aku juga, ibuku memang suka berkebun.”

Akhirnya mereka berdua pun masuk, tepat sebelum Sehun mendorong pintu rumahnya ia menatap Sina dengan serius “Sina, ibuku memang aneh, jadi tolong kau maklumi dia.”

Sina tertawa kecil dan mengangguk-ngangguk, Sina kurang mengerti dengan standar anehnya Sehun, siapa tahu memang Sehunnya saja yang berlebihan?

“Ibu aku pu–“

“SEHUN! Tebak hal apa apa yang baru ibu dapatkan!” Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, Sina dapat melihat wanita yang dipanggil ibu itu langsung memeluk anak laki-lakinya. Ia memegang bahu Sehun dan tersenyum lebar, tampaknya ia benar-benar gembira sampai tidak menyadari kehadiran Sina.

“Ayah pulang cepat malam ini? Pesanan tea setnya sudah datang? Bibi Yoon sudah keluar dari rumah sakit?” Sehun menyebutkan berbagai kemungkinan yang dapat membuat ibunya sesenang itu.

“Bukan!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan semangat dan menarik Sehun menuju meja makan lalu menunjukkan koran tepat di depan wajah anaknya, membuat Sehun mengerutkan dahinya “Ibu, aku tidak bisa baca.”

“Sudahlah tidak perlu baca! Ibu hanya ingin bilang, kita menang lotre dan libur musim panas nanti kita sekeluarga akan berangkat ke Jeju!!!” Bahu Sehun diguncang-guncang sekuat tenaga membuat Sina menutup mulutnya berusaha menahan tawa.

“AH! Benarkah? Selamat!” Sehun berusaha terlihat semangat yang langsung disambut pukulan ringan oleh ibunya “Hei! Jangan menyelamati aku seperti itu, aku bilang KITA, jadi kau juga ikut nanti! Sehun senang kan?” Wanita ceria itu menyenggol sikut anaknya membuat Sehun hanya tersenyum geli, tiba-tiba ia ingat Sina masih berdiri di depan pintu. Sehun pun langsung menarik ibunya dan membawanya tepat di hadapan Sina.

“Ibu kenalkan ini Ahn Sina temanku.”

“Salam kenal, namaku Ahn Sina teman sekelas Sehun.” Sina mengatakan pengenalannya dengan singkat sambil membungkukkan badannya. Ibu Sehun membuka kedua mulutnya kaget, kedua matanya yang selalu membentuk bulan sabit karena terus tersenyum membulat karena kaget, anaknya Oh Sehun mengajak seorang perempuan datang ke rumah?

“Sehun, kau sudah putus dengan perempuan bernama Miyoung?” Ia berbisik pada anaknya, membuat Sehun memutar bola matanya “Tidak ibu, ah aku lupa bilang, dia adiknya Miyoung.”

“Kau adiknya Miyoung!?” Ibu Sehun segera mendekati Sina dan menatapnya dari ujung kaki sampai kepala. Membuat Sina merasa bingung hal apa yang membuatnya terlihat begitu aneh menjadi adik Miyoung.

“Hmmm iya.” Sina bingung harus menjawab apa lagi.

Sehun yang menyadari ibunya mulai bertingkah aneh segera berdiri di antara keduanya “Ibu, Sina ke sini ingin mengerjakan tugas, jadi tolong jangan membuat ia tidak nyaman di sini.”

“Aku membuat temanmu tidak nyaman? Siapa bilang?” Ibu Sehun protes pada Sehun yang sudah membawa Sina menuju ruang tengah. Sehun yang mulai membuatkan teh untuk tamunya membuat ibunya tertawa geli, ia pun menggulung lengan bajunya dan menghampiri Sehun dan Sina “Baiklah, Sina sekalian makan malam di sini saja, dan kalian ingin bekerja di mana? Kamarmu? Atau perpustakaan? Tapi perpustakaan masih berantakan ibu belum selesai mengklarifikasinya.”

“Di sini saja, di ruang makan.”

Sina yang mulai mengeluarkan buku-bukunya di atas meja tiba-tiba  kembali memasukkan bukunya begitu ibu Oh protes “Kalau begitu akan kuletakkan di mana makan malam nanti? Sudahlah belajar di kamarmu saja.”

Sehun yang baru meletakkan secangkir teh atas meja makan mendecak pelan, dari awal ia memang tidak berencana mengajak Sina masuk ke kamarnya, selain karena berantakan entah kenapa menurutnya aneh mengajak Sina masuk ke kamar tidurnya.

“Bagaimana kalau di sana saja?” Sina menunjuk ruang TV yang tv nya masih menyala.

Sehun menghela napas lega dan mengangguk “Benar juga, ayo kita pindah.” Sehun pun membawa cangkir tehnya mengikuti Sina yang sudah duduk di atas karpet sambil mengeluarkan buku-bukunya lagi.

#

“Ayo makan dulu kuenya!” Ibu Oh menginterupsi Sehun dan Sina entah untuk yang keberapakalinya. Sehun yang tahu persis ibunya ingin mengobrol dengan Sina berusaha mencari alasan baru yang membuat ibunya memiliki kesibukan lain.

“Ibu, sebentar lagi jam makan malam, dan dari tadi kami terus disuguhkan makanan, bagaimana bisa kami makan malam kalau sudah keburu kenyang? Sudahlah ibu sekarang lanjutkan saja blognya.” Sehun berkata dengan malas sambil mendorong piring ketiga yang disodorkan ibunya.

“Benar juga! Blog!” Ibu Sehun langsung menjentikkan jari dan berjalan menuju tangga meninggalkan Sina yang memandang Sehun dengan aneh “Aku mengerti kenapa kau bilang ibumu aneh.”

Sehun mengangkat wajahnya yang daritadi fokus membaca buku, ingin minta maaf kalau Sina merasa terganggu dengan kehadiran iburnya sebelum akhirnya Sina tertawa kecil “Tapi aku suka ibumu.”

“Hahahaha” Sehun tertawa “Hei jangan bilang seperti itu, kalau dia dengar—“

“Klik.”

Sehun dan Sina refleks menengok mendengar suara kamera, suasana yang sepi membuat telinga mereka menjadi lebih sensitif.  Tebakan Sehun benar begitu ia mendapati ibunya sedang memegang kamera tepat di belakang sofa.

“Ibu!” Sehun berdiri dan menghampiri ibunya. Ia berusaha merebut kamera dari tangan ibunya, namun gagal membuat Sehun mengacak-ngacak rambutnya merasa malu ibunya melakukan hal yang paling dibencinya setiap ia mengajak temannya datang ke rumah.

“Sina! Kau tidak keberatan di foto kan?” Tanpa menggubris Sehun yang tidak berhenti mengomel menyuruhnya berhenti Ibu Oh malah menghampiri Sina yang terdiam merasa baru saja melihat wanita terunik.

Melihat Sina yang diam membuat Ibu Sehun terkekeh “Sehun ayo duduk di sebelah Sina! Ibu akan membuat post baru di blog.”

“Tapi tidak begini caranya.” Sehun menuruti ibunya dan duduk di sebelah Sina, cara terbaik membuat ibunya berhenti hanya menuruti satu permintaannya dan ia akan pergi puas mengambil satu foto.

“Satu..Dua..Tiga..kimchii!”

Tidak ada tersenyum yang menunjukkan giginya, baik Sina dan Sehun hanya memandang datar pada lensa kamera yang anehnya tetap membuat Ibu Sehun tersenyum puas dengan hasil fotonya. “Baiklah terima kasih! Silahkan lanjutkan belajarnya!”

Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ibunya berjalan dengan riang menaiki tangga. Sina langsung menengok pada Sehun “Ibumu…memang seperti itu?”

“Memang.” Sehun menjawab singkat kembali membaca bukunya, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Sina tertawa “Kurasa ibumu akan cocok dengan Miyoung.”

Sehun yang berusaha mengalihkan perhatiannya pada buku melirik Sina kaget ia menyebut nama Miyoung “Yah semoga saja.” Sehun menjawab singkat.

#

Sambil menggaruk-garuk kepalanya Tao menghela napas tidak seperti dirinya yang biasa. Beberapa hari terakhir waktunya selalu dihabiskan untuk membulati macam-macam lowongan pekerjaan di koran. Dan sampai detik ini ia belum mendapat panggilan bahwa lamaran kerjanya diterima. Kuliahnya mulai musim panas nanti dan itu membuat Tao memiliki banyak waktu kosong. Dan daripada berdiam diri di toko ia lebih suka bergerak, ahjumma bahkan sudah mengikutkan Tao kelas bahasa Korea agar keponakannya itu bisa lebih melakukan banyak hal tanpa harus mengalami kendala bahasa.

Setelah mengecek ponsel untuk kesekian kalinya, ia kembali beranjak dari kursi taman. Dan mengambil bola basket yang tergeletak di lapangan.

“Ayo masuk!” Tao berkata sendiri begitu ia selesai meloncat melakukan three point  yang ia latih dari kemarin. Beberapa detik bola itu terus bergelinding di pinggir ring membuat siapapun yang melihatnya gemas.

“YEAH!” Tao berteriak sambil meloncat kegirangan saat detik bolanya masuk ke ring, tiba-tiba terdengar tepukan tangan membuat Tao yang siaga langsung menengokkan kepalanya kanan kiri lalu menemukan sosok laki-laki yang sedang berdiri di pinggir lapangan sambil menyeringai. “Wow! Tadi itu nyaris sekali!”

Tao melongo melihat ternyata sedari tadi ada orang yang mengamati permainan solonya. Laki-laki itu menghampiri Tao dan menjulurkan tangannya “Kim Jongin tapi  biasa dipanggil Kai.”

Tao tersenyum dan menjabat tangan itu “Huang Zitao atau Tao.”

Kai membulatkan matanya kaget “Kau bukan Korea? Pantas aku baru melihatmu di sini.”

Tao tertawa kecil “Dari Beijing.”

“Benarkah? Aku juga punya teman dari sana, lain kali aku akan mengajaknya ke sini siapa tahu kalian bisa berteman.” Kai mengambil bola yang menggelinding mendekatinya dan mendribblenya sambil menyeringai Tao “Ayo kita tanding, sepertinya kita bisa menjadi lawan yang seimbang.”

Tao segera mengangguk yakin dan berlari mendekati Kai berusaha merebut bola. Sore yang awalnya membosankan bagi Tao menjadi cukup menyenangkan sekalipun ia belum mendapatkan panggilan kerjanya, yang jelas ia memiliki teman baru yang bisa ia pamerkan pada Yixing sahabatnya di Cina.

#

“Apa Japchaenya enak?” Ibu Sehun bertanya pada Sina yang tengah mengunyah makanannya. Sina mengangguk dua kali dan mengancungkan jempolnya karena mulut penuhnya ia tidak bisa mengeluarkan pujian.

“Lain kali akan kubuatkan lagi untukmu! Akan kuminta Sehun mengantarkannya padamu.” Sehun segera terbatuk mendengar tawaran ibunya pada Sina. Ibu Sehun segera memberikan segelas air putih pada Sehun yang segera meminumnya. “Ibu, ini hanya Japchae, Sina bisa memakannya sendiri tanpa ibu harus membuatnya.” Ucap Sehun begitu ia selesai menegak habis air putihnya

“Tapi Sina bilang enak! Iya kan Sina?”

“Iya, tapi tidak perlu sampai merepotkan seperti itu tante.” Sina tersenyum selesai menelan habis kunyahan terakhir di mulutnya. Ia tidak bisa makan pelan-pelan mengingat jam yang sudah menunjukkan waktu malam, Sina menghindari pulang malam karena ia kurang suka seseorang jadi harus merasa bertanggung jawab harus mengantarnya pulang.

“Baiklah Sehun, tante, aku pulang sekarang. Terima kasih atas makan malamnya. “ Sina yang baru saja beranjak dari kursi segera diikuti oleh Ibu Sehun “Kau mau pulang sendirian?”

Sina mengumpat dalam hati, hal yang paling dihindarinya akhirnya muncul juga.  “Ini masih jam delapan kurang, kalau aku pulang sekarang, tidak akan sampai terlalu malam.”

“Ta-tapi..” Ibu Sehun menggigit bibirnya, mencari akal bagaimana membuat Sina tidak pulang sendirian. Ia menjentikkan jarinya begitu ingat sesuatu “Ah! Sekalian saja! Aku juga mau ke supermarket, tunggu biar tante cari kunci mobilnya.” Ibu Sehun segera meninggalkan Sina dan berjalan cepat menuju tangga. Sina yang tahu dirinya tidak bisa kalah dengan Ibu Sehun yang sudah keras kepala  hanya diam.

Ia pun membalikkan badannya dan mengamati pajangan-pajangan foto di ruang makan yang sempat menarik perhatiannya “Hahahahha!” Sina tertawa lepas membuat Sehun yang asing mendengar tawa Sina segera menghampirinya ikut merasa penasaran apa yang dilihatnya.

“Hah.” Sehun mendengus begitu melihat foto yang Sina tertawakan tidak lain adalah foto dirinya sendiri tengah menangis yang begitu ironis karena di sampingnya ada Luhan yang tertawa lebar seakan rahangnya terjatuh.

“Ini foto umur berapa?” Sina bertanya sambil tersenyum geli pada Sehun. Sehun mendecak  dan membalikkan badannya berjalan meninggalkan Sina yang masih tertawa “Lima tahun saat Luhan merebut mainanku dan ibuku bukannya membela anak sendiri malah mengambil foto.”

Sina mengangguk-ngangguk, matanya kembali menyusuri satu-persatu foto yang membuatnya merasa lebih kenal dengan seorang Oh Sehun. “Aku suka foto yang ini, lubang hidungmu terlihat besar sekali.” Sina berusaha berkata serius tapi Sehun hanya bisa memutar bola masih mendengar tawa kecil yang terselip dari mulut Sina.

“Tinggal tunggu waktu sampai foto kita yang sedang belajar juga dicetak dan dipajang.” Sehun membalikkan badannya dan tersenyum iseng pada Sina yang langsung membulatkan matanya kaget, begitu Sina ingin protes tiba-tiba ibu Sehun sudah berteriak menyahuti dirinya “Sinaa! Ayo kita pulang!”

Sehun tertawa kecil melihat Sina yang tidak bisa membalas, ia kembali membalikkan badannya dan mengambil asal majalah yang tergeletak di ruang TV. Sina menarik napas dan mengambil ranselnya mengikuti ibu Sehun yang sudah berjalan menuju pintu luar.

Begitu mereka sampai tepat di pintu, Sina memiringkan kepalanya merasa aneh melihat ibu Oh yang tiba-tiba menghentikkan langkahnya mendadak. Berapa detik kemudian, tubuh tegapnya itu jatuh membuat Sina panik “Tante! Kau baik-baik saja?” Sina berlutut memegang bahu ibu Sehun. Sehun yang menyadari kegaduhan mendengar suara jatuh mengalihkan perhatiannya dari majalah dan mengamati ibunya sendiri yang sedang berlutut di lantai. Firasatnya mengatakan ada yang salah.

“Sina…perutku sakit, sepertinya maghku kambuh, ternyata harus Sehun yang mengantarmu pulang.”

Sehun meniup poninya dan memejamkan matanya, firasatnya benar, ia tahu jelas ibunya tidak punya riwayat magh.

“Sehun, tolong!” Ibu Oh segera melempar kunci mobilnya, tanpa menunggu persetujuan dari Sehun maupun Sina ia segera melangkah menjauh dengan langkah terseok-seok berusaha meyakinkan Sina kalau ia memang sakit.

Sehun yang menerima kunci mobil itu hanya mendesah dan menggelengkan kepalanya, ia menutup majalah yang sedang dibacanya dan berdiri dari sofa, tanpa melihat reaksi Sina ia sudah berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di luar pagarnya.

Sina memandang ibu Sehun sekali lagi sebelum ia keluar dari rumah mengikuti Sehun. Sina tidak sebodoh itu, ia yakin tadi itu hanya akal bulus dari ibu Oh, tanda tanya darinya adalah, bukannya harusnya hal seperti ini ia lakukan untuk menantunya; Miyoung? Bukan dirinya?

“Maaf, tipuan ibuku tadi benar-benar memalukan.” Sehun berkata sambil membenarkan spion begitu Sina sudah duduk di sebelahnya.

“Ya sangat terbaca, kau harus bersyukur ia tidak menurunkan bakat ketahuan bohongnya padamu.” Sina berkata sambil berusaha memasang seatbeltnya yang sedikit tersangkut.

Sehun tertawa dan mulai menyalakan mobilnya, begitu ia ingin memajukan mobil tiba-tiba ia sadar orang di sebelahya masih sibuk dengan seatbelt yang tidak juga terpasang.

“Aku baru tahu seorang Ahn Sina kesulitan memasang seatbelt.” Sehun mendekatkan dirinya pada Sina membuat Sina yang dari tadi menarik seatbelt sedikit tercekat kaget dengan jaraknya dan Sehun yang mendadak begitu intim. Lengan sehun yang menyentuh lengannya sendiri membut Sina menahan napas. Sehun dengan mudahnya memasangkan untuk Sina dan tersenyum menang karena dirinya dapat dengan mudah memasang seatbelt, menyadari jarak wajahnya yang terlalu dekat dengan Sina membuatnya langsung mundur, kaget padahal ia sendiri yang mendekatkan dirinya dengan Sina.

“Ayo kita berangkat.” Sehun berusaha memasang straight face dan mulai memutar setir mobilnya. Jantungnya berdebar untuk alasan yang tidak jelas, membuat ia mempertanyakan kenapa debaran yang ia rasakan bersama Miyoung berbeda ketika bersama Sina. Bukan masalah lebih hebat detak jantung yang mana, ini soal Sehun yang merasa sesuatu yang hangat menjalarinya, padahal ia dan Sina tidak melakukan apa-apa tapi kenapa sudah hangat seperti ini?

____________________________

Author’s note:

16 thoughts on “PASTEL #012

  1. saya kembali datang xD
    mau protes nih sebenernya. abis part taonya disini dikit ._.
    tapi mau protes juga part ini bikin aku suka sama sehun o,o moment sehun sama sina lucu. apalagi pas kerumah sehun trus ketemu mamanya. mereka lucu banget kalo jadian :3
    tapi aku tetep taosina shipper.. jadiii, puhles author yang baik chapter selanjutnya adain part merekaa. udah kangen banget iniiii…
    tao aja udah ada tanda-tanda suka masa sina belom😀

    pokoknya aku tetep suka ff ini ^^ chapter selanjutnya selalu ditunggu hehe
    fighthing thor :3

    • yep sengaja part taonya dikit karena…..rahasia hahahah
      Emang!Sina-sehun lucu bgt! author juga mau mereka jadian #EH
      dan chapter selanjutnya pasti bakal jadi chapter favorit taosina shipper B)

  2. Ini sebenernya sina bakal berakhir sama siapa??? ><
    part ini bikin aku tertarik sama sehun. Tapi…. Kan kasian ntar Tao, tapii (lagi) di sini udh berharap bgt sama sehun.. *pusingsendirinuliskomen* hehehe😄

  3. Tao kamu itu bego atau kelewat tolol sih.. Heuhh rasanya anak 10 tahun lebih pintar dalam urusan cinta daripada yang umurnya udah 19 tahun.. Owowowowwwww Banyaknyaa Sehun-Sina moment
    Ibunya Sehun lucu banget, Sehun beruntung punya ibu kayak dia🙂 Kocak

    Yang terakhir itu apa????
    Plisssssssssss ini favorit favorit… SEHUNN KAMU BIKIN AKU GILA, scene masang seatbelt ngebuat bibir aku kram

    Pikrachu, jgn2 nanti Sehun-Sina ga jadian lagi ;(

  4. Wawawawawa sehuuun suka sinaaaaa ngaku sehun ngakuuuu kamu suka sama aku kaaaan? eh sina maksudnyaa hehehe
    Itu aku gemes deh sama sehun kenapa dia membebarkan tebakan salah sina? Kaya gamau bikin sina sedih gituuu ih ih ih

    Oke ngeliat ibunya sehun aku jadi inget ibunya baek seungjo, setipe. Hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s