Fallen Cupid 4

fallen cupid copy

a/n

Post ke 101 – Aku nggak  berniat ngerebut posisi post ke 100 kok -__- Jadi tenang aja

***

Luhan’s

“Sehun!”

Aku langsung memperlihatkan senyumku ketika sahabatku itu menolehkan kepalanya terhadapku. Biasanya ia orang yang tanpa ekspresi, tapi aku bisa melihat senyumnya saat melihatku kali ini.

Sehun meninggalkan meja kasirnya dan berjalan menghampiriku. Awalnya aku ingin menghentikannya karena ini masih jam kerjanya, tapi melihat minimarket yang sepi pengunjung, aku membiarkannya mendekatiku.

“Kenapa kesini?” Tanya Sehun yang membuatku hanya mengangkat alis. Tidak ada alasan khusus kenapa aku menghampirinya hari ini. Mungkin… hanya ingin menemui teman sesama penggemar bubble tea?. Dan Semenjak Kyungsoo belum juga menepati janji bubble teanya, aku jadi berniat membelinya sendiri.

“Bermaksud mencari bubble tea tapi toko itu libur selama liburan musim panas ini” Ucapku yang ditangkap serius oleh Sehun. Setelah mencari tahu lagi, ternyata pemilik toko bubble tea yang aku, Kyungsoo dan Rae In datangi itu sedang liburan musim panas dan menutup tokonya sementara. Aku dan Sehun sama-sama penggemar bubble tea. Dan kalau toko itu tutup, berarti tak ada bubble tea selama musim panas, dan itu neraka bagi kami.

Jinjja? Aisshhh” Sehun tak merespon apapun lagi selain dua kata itu. Dan hari ini aku bermaksud mengajaknya pergi mencari toko bubble tea lain, karena aku tahu sebentar lagi shiftnya akan selesai. Tapi ia memotongku.

“Aku tahu hyung mau mengajakku berburu bubble tea bukan?” Tanyanya, dan aku mengangguk sambil tersenyum. tebakannya benar-benar tepat.

“Tapi hyung, bagaimana kalau urus dulu stalker yang mengikuti hyung?” Ucap Sehun menatap ke arah belakangku. Aku sedikit terperangah dengan yang ia katakan, tapi tetap mengikuti arah matanya dan melihat ke belakangku. Stalker? Seumur hidupku aku baru sekali ini diikuti stalker, dan karena Sehun yang mengatakannya, kurasa aku harus mempercayainya.

Tapi aku hanya menemukan rak-rak penuh snack di belakangku dan tidak menemukan stalker yang disebut Sehun. Dan pada akhirnya aku kembali menghadap Sehun dan menatapnya datar, apa dia bercanda?

“Aku serius! Kupikir dia pelanggan tapi ia terus memperhatikan hyung. Dan lagi, sepertinya ia mengikuti dari sebelum hyung masuk ke dalam sini” Tambah Sehun yang membuatku menoleh ke belakang lagi, mencari keberadaan stalker itu. Tapi aku bahkan tidak menemukan satupun tanda-tanda ada manusia lain selain aku dan Sehun disini.

Sehun menghela napas lalu berjalan menuju rak yang penuh dengan snack itu. Aku tidak bisa melihatnya lagi karena ia berjalan dibelakang rak itu.

Aku menunggunya keluar dari sana, tapi beberapa saat kemudian aku hanya mendengar suara perempuan yang sedikit menjerit. Hei, sedang apa anak itu? Dan… siapa yang ditemukannya?

Aku melihat Sehun keluar dari balik rak itu sambil menarik lengan yang kurus dan kecil. Aku hanya mengerutkan alisku tidak menyangka stalker itu benar-benar ada. Aku sudah bilang bukan? Walaupun aku pernah mendapat surat cinta, tapi aku sama sekali tidak pernah diikuti stalker.

Aku melebarkan mataku saat akhirnya wajah stalker itu terlihat. Si stalker hanya tersenyum dengan ragu ke arahku, masih dengan lengannya yang dipegang Sehun.

Tunggu dulu, itu…. Rae In?!

Sehun yang awalnya membawa Rae In dengan wajah yakinnya pada akhirnya menatap kami berdua bergantian. Wajahnya seakan mengatakan kalian-kenal?

***

“Jadi, apa kamu bermaksud meniru film detektif?” Tanyaku pada Rae In yang sedang menyuap es krim cokelatnya. Rae In yang awalnya menikmati es krimnya berusaha menjawab tapi sepertinya masih ada es krim di dalam mulutnya. Jadi ia buru-buru menghabiskan es krimnya dan menarik napas panjang ketika berhasil menghabiskannya. Aku hanya menahan tawaku dalam hati melihat ekspresi anehnya. Sedangkan Sehun, ia menatap aneh Rae In. Seperti tak pernah menemukan sesosok manusia seperti Rae In.

“Bu..Bukan! Aku bermaksud mengerjakan PR liburan musim panasku–”

“Dan aku objek PRmu?” Tanyaku langsung memotong perkataan Rae In. “Aku baru tahu kau punya hobi baru. Apa menguntit seseorang sebegitu menariknya?” Lanjutku lagi. Rae In berusaha menjelaskan tapi aku memotongnya lagi. “Setelah aku siapa yang akan jadi sasaranmu?”

“AKKKHHH!” Rae In berteriak kesal dan akhirnya memutuskan mengatupkan kedua bibirnya, cemberut. Aku mengeluarkan tawaku yang sejak tadi ditahan. Menjahili Rae In memang tidak pernah membosankan.

“Rae In. Apa kau marah?” Tanyaku menggodanya.

“Iya, aku marah” Jawabnya dengan ekspresi yang berusaha dibuat semenyeramkan mungkin, tapi karena itu Rae In, malah terlihat jauh sebaliknya. Dan hal itu berhasil membuatku tertawa lagi. Kuharap perutku tidak akan sakit karena tertawa hari ini.

“Hei kupikir aku tidak ada gunanya disini”

Aku menengok dan melihat Sehun dengan ekspresi tidak nyamannya. Benar juga, aku lupa dengan keberadaannya. Dan dari es krimnya yang tidak disentuh sedikitpun, aku yakin dari tadi Sehun hanya memperhatikan kami.

Mianhe Sehun-ah.” Ucapku, dan akhirnya Sehun mulai menyentuh es krimnya. Baguslah, itu tandanya ia menerima permintaan maafku.

Dan seketika itu suasana hening, tak ada yang berbicara. Mereka terfokus dengan es krimnya. Jujur, aku tidak suka suasana canggung. Tapi kurasa ini bukan suasana canggung. Rae In hanya terlalu fokus dengan es krimnya, dan Sehun hanya terfokus memperhatikan Rae In plus dengan kerutan di alisnya. Sikapnya itu, seolah-olah sedang meneliti prasasti berusia ribuan tahun.

Aku kembali melihat Rae In setelah meneliti Sehun, dan menyadari es krim coklat itu mengotori bagian sekitar bibir Rae In. Tunggu, bukan hanya bibir, kenapa es krim itu sampai dahi juga?

Aku segera mengambil beberapa tisu “Hei, pendek. Tak bisakah makan lebih rapi? Atau itu disimpan untuk makan besok?” Ucapku menunjuk ke wajahku sendiri, memberi isyarat kalau wajahnya terkena es krim coklatnya.

Rae In yang menyadari maksudku seketika panik dan langsung meraba-raba wajahnya sendiri, membuat es krim itu tambah mengotori wajahnya juga tangannya. Aku hanya setengah tersenyum melihat reaksinya, dan memberikan tisu yang tadi kuambil. Rae In menatap sebentar tisu itu dan mengambilnya dari tanganku. Hanya dengan feelingnya, ia membersihkan es krim di wajahnya. Dan tentu saja itu tidak akurat, bahkan es krim di dahinya belum di lap sama sekali.

“Di situ” Aku memberikan arahan sambil menunjuk ke dahiku sendiri, tapi tisu yang ia pegang sama sekali tidak menyentuh noda es krim di dahinya. Dan itu membuatku gemas. Iya kan? Siapa yang tidak akan gemas melihat situasi seperti itu?

Aku segera bangkit dari kursiku dan merebut tisu di tangannya. Dan dengan cepat mengelap noda itu. Aku hanya tersenyum puas karena akhirnya noda yang mengganggu pengelihatan itu hilang.

Aku bermaksud duduk kembali, tapi terhenti ketika menyadari begitu dekatnya wajah kami. Rae In, yang kupikir akan bersikap biasa saja, malah menatapku dengan kedua mata besarnya itu. Dengan jarak ini, aku bahkan bisa melihat bayangan wajahku sendiri di lensa matanya. Aku juga bukannya segera duduk, tapi malah membalas menatapnya. Ini… sedikit aneh. Aku tidak pernah melihat wajahnya dengan jarak sedekat ini. Bahkan aku bisa mendengar hembusan napas Rae In dengan jelas.

Tunggu, kenapa aku malah teringat drama bodoh yang sering Rae In tonton itu? Ini biasanya adegan pasaran dimana aktor prianya mengelap noda di wajah sang aktris, lalu mereka saling menatap sementara lagu OST dari drama itu diputar, dan mereka…

Seketika wajahku langsung memerah begitu memikirkan apa yang seharusnya terjadi jika ini di dalam drama. Ah… baboya… kenapa jantungku langsung berdetak sangat cepat? Dan kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku di saat seperti ini? Setidaknya aku harus bisa menjauhkan wajahku satu senti saja, tapi kenapa rasanya tubuhku seperti terkunci oleh tatapannya? Aisshh…

Hyung, sepertinya aku mengganggu acara pacaran kalian”

Seketika aku dan Rae In menengok bersamaan ke arah datangnya suara. Dan sepertinya aku kurang beruntung, karena kepalaku dan Rae In beradu, menimbulkan bunyi yang keras. Kami berdua meringis bersamaan sambil mengelus kepala masing-masing. Sedangkan Sehun, ia menatap kami berdua malas dan langsung berdiri dari kursinya.

“Tu..tunggu Sehun!” Aku mengejarnya dan menahan lengannya.

Hyung bahkan tidak bilang hyung punya pacar” Ucap Sehun, tanpa ekspresi. Tapi aku tahu ia marah. Akhhh…. apa dia marah karena seharusnya aku pergi dengannya hari ini? Apa karena aku tidak begitu memedulikannya hari ini?

“Tapi dia bukan–”

“Sudahlah hyung” Sehun melepaskan tangannya dariku, dan pergi dari sini. Aku hanya bisa tercengang, tidak menyangka Sehun akan merajuk karena hal seperti ini. Terakhir kali aku melihatnya merajuk karena aku mendaftarkannya ke Dance Contest tanpa sepengetahuannya tahun lalu. Itupun akhirnya ia tetap melanjutkan mengikuti Dance Contest itu karena aku berusaha mengubah pikirannya.

“Apa dia… merajuk?” Tanya Rae In. Aku mengalihkan pandanganku dari Sehun yang sedang berjalan menjadi ke arah Rae In yang ternyata sudah ada di sebelahku.

“Ya… kupikir dia tidak akan mengangkat teleponku selama 3 hari ini” Ucapku lalu menghela napas. Tujuanku hari ini menemuinya untuk minum bubble tea bersamanya, semenjak kami belum bertemu dari awal liburan musim panas.

Rae In sedikit terkekeh, membuatku mengerutkan alis. Apa yang lucu? Ini bahkan lebih termasuk ke dalam menyedihkan dibanding lucu.

Ya! Kenapa tertawa?” Tanyaku kesal. Aku sedang sulit karena dijauhi dongsaengku, tapi dia malah menertawaiku.

“Kau tahu? Tadi itu seperti adegan drama dimana perempuannya marah dengan pacarnya karena pacarnya ketahuan selingkuh. Tapi sebenarnya cukup menggelikan kalau tadi benar-benar seperti yang kubilang. Aku tidak suka yaoi” Ucap Rae In, masih dengan wajah terhiburnya. Dan itu menyebalkan. Kenapa dia malah membandingkan dengan drama? Dan apa dia bilang? Sehun seperti perempuan yang merajuk karena pacarnya selingkuh? Itu menggelikan.

Ya! Apa kamu meledekku? Dongsaengku merajuk dan itu karenamu. Lagipula apa itu yaoi?” Aku membalasnya tanpa berpikir terlalu dalam tentang kalimat yang kukatakan. Aku sedang memikirkan Sehun dan ia menambahkan dengan khayalan-khayalan anehnya itu. Apa dia sedang kumat? Kurasa membuat scrapbook perjalanan kisah cinta antara dia sendiri dengan idolanya itu belum cukup untuk menghentikan penyakit mengkhayalnya.

“Kurasa kamu harus banyak baca fanfiction, Luhan” Ucapnya lagi, dan saat aku ingin membalasnya lagi, sebuah lagu dengan beat yang cukup cepat itu menggangguku. Suara ringtone Rae In.

Rae In terlihat panik karena handphonenya bergetar di dalam kantungnya. Dan ia segera mengangkatnya.

Yeoboseyo? Kyungsoo?”

Otomatis aku menolehkan kepalaku ke arah Rae In ketika mendengar nama itu. Kyungsoo? Untuk apa dia menelpon? Dan sejak kapan mereka bertukan nomor?

***

a/n

Aku nggak bisa bikin 2000 kata di chapter ini tapi setidaknya aku udah ngetik 1500 kata ^^

Aku berusaha menyelesaikan chapter 4 hari ini karena besok udh pasti gabisa. Ada acara qurban di sekolah

Jadi, semoga chapter ini memuaskan~ apalagi dengan kemunculan Sehun^^

2 thoughts on “Fallen Cupid 4

  1. Lucu banget ngambeknya sehuuuuun, dan FLUFF mendadak ga nyangka o.o aku kira Luhan bakal marah karena ketahuan distalkerin, tapi dia ga marah? hhohohohoho yaiyalah ga marah orang dia suka raein #ngarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s