PASTEL #013

Musim panas bukan musim kesukaan Sina meskipun Sina sendiri sebenarnya tidak mempunyai musim favorit, yang menjadi masalah untuk Sina bukan teriknya matahari yang membakar kulit bukan juga karena pengeluaran ektra karena jumlah kunjungan ke minimarketnya jadi dua kali lipat lebih banyak untuk membeli es krim. Masalah sebenarnya berasal dari kedua orang tuanya yang seenaknya selalu mendaftarkan dirinya untuk kelas musim panas. Membuat libur musim panas yang biasa diidamkan orang-orang tidak bisa Sina rasakan.

“Sina!” Sina menengokkan kepalanya melihat kakaknya Miyoung sudah berdiri lengkap dengan atribut musim panasnya.

“Sudah mau berangkat?” tanya Sina karena menyadari koper besar sudah berdiri tepat di samping Miyoung.

Miyoung mengangguk semangat dan memberikan ponselnya pada Sina “Tolong fotokan aku!”

Sina menghela napas dan mengambil ponsel Miyoung, ide isengnya muncul tanpa menunggu aba-aba ia segera mengambil foto tidak peduli Miyoung masih berusaha merapihkan ikatan rambutnya.

“Ya Sina!” Miyoung protes membuat Sina tertawa kecil dan menyerahkan ponsel kakaknya “Unnie cantik sekali.”

Dengan bibir mengkerucut ia melihat hasil foto Sina dan makin jengkel melihat Sina hanya mengambil foto pinggang ke bawah, sebelum Sina sempat menutup pintu kabur dari kakaknya, Miyoung segera menangkap pergelangan tangan adiknya “Kumohon, aku ingin memberi kejutan pada Sehun!”

“Ck-ck dasar manusia dimabuk asmara.” Sina mengambil ponsel itu dengan malas dan mengambil foto Miyoung yang sudah bergaya dengan topi jeraminya.

“Sebentar lagi Chanyeol akan sampai di sini, kau sudah menyiapkan barang-barangmu?”

“Sudah.”Sina menjawab singkat sambil menunjuk koper ungu terpenuhi khayalan libur musim panasnya bersama Sehun, begitu yang Sina pikir melihat Miyoung yang terlihat sibuk dengan dunianya.

“Menurutmu apa yang akan Sehun lakukan melihatku berada di Jeju?” Miyoung segera mengutarakan pertanyaan yang daritadi berada di otaknya. Sina melihat langit-langit rumahnya sambil berpikir membayangkan reaksi Sehun mendapati pacarnya diam-diam mengageti dirinya datang ke Jeju “Sehun akan menganggapmu stalker?” Sina berkata dengan datar yang langsung disambut tamparan pelan dari Miyoung .

“Ya! Bagaimana bisa pacar dan stalker disamakan?”

“Bagaimana ya?” Sina mengendikkan bahunya dan berjalan keluar rumah sambil menarik koper mungilnya, berbanding terbalik dengan Miyoung yang ukuran kopernya hampir setengah tubuhnya.

“Hei itu Yeol!” Miyoung ikutan berlari keluar dari rumah membuat Sina mengerutkan dahinya karena kakaknya baru saja mendahuluinya.

“Halo Sina! Lama tidak bertemu!” Chanyeol sahabat Miyoung sudah keluar dari mobilnya sambil melambaikan kedua tangannya, wajahnya yang selalu berseri tidak pernah lupa memasang senyuman lebar membuat Sina mau tidak mau merasa tertular virus senyumnya “Kita—baru bertemu minggu lalu?”

“Hahaha! Dan itu waktu yang lama kan?” Chanyeol tertawa dan membuka bagasi mobilnya. Miyoung yang keberatan mengangkat kopernya sendiri membuat Chanyeol mendecak apalagi setelah ia melihat bawaan Sina justru lebih sedikit.

“Ya, kau ke Jeju hanya beberapa hari dan lihat kopermu sudah sebesar apa.”

Miyoung menjulurkan lidahnya pada Chanyeol tanda merasa jengkel bawaannya dikomentari. “Ayo Sina masuk! Aku bisa tertinggal pesawat nanti!”

Sina mengikuti keinginan kakaknya dan segera menarik kopernya membiarkan Chanyeol yang memasukkannya ke bagasi. Begitu masuk mobil ia sudah mendengar suara radio dengan volume hampir maksimum membuat ia merengut, tidak suka kebisingan yang malah dinikmati oleh Miyoung. Musim panas kali ini Miyoung berencana membuat kejutan untuk Oh Sehun datang ke Jeju, dengan alasan kebetulan ada kegiatan kampus di sana, berbeda dengan kakaknya yang bebas melakukan apa saja Sina masih dituntut untuk mengikuti kelas musim panas membuat ia langganan dititipkan di rumah neneknya setiap libur musim panas.

“Baiklah! Sekarang kita menuju tempat Sina Buam-dong!” Chanyeol langsung menyalakan mobil diikuti dengan Miyoung langsung menyeru berteriak untuk meramaikan suasana.

“Miyoung memang gadis musim panas.” Sina berkata dalam hati sambil menyandarkan kepalanya pada jendela mobil, matanya menyusuri jalanan yang terlihat kabur karena Chanyeol mengendarai mobilnya dengan kencang. Meskipun ia kurang menyukai musim panas harus ia akui ia menikmati waktunya berada di Buam-dong, bukan karena ia rindu setengah mati pada neneknya, Sina hanya suka atmosfer Buam-dong, persis seperti serial drama yang selalu menjadi favoritnya.

#

#

“Hei Oppa, bagaimana hubunganmu dengan perempuan bernama Sina itu?” Hara teman kecil Tao menyebut nama Sina yang beberapa minggu ini tidak pernah Tao sebut.

Sambil menjilat es krim batangnya Tao diam memikirkan baik-baik pertanyaan Hara. Kalau dipikir-pikir sudah lama ia tidak bertemu Sina. Terlalu lama sampai Tao hampir melupakan Sina satu-satunya perempuan yang pernah membuat jantungnya berdebar dengan alasan tidak jelas. Kesibukan Tao dengan kelas bahasa Korea ditambah kuliah yang sudah mulai dengan segala persiapannya yang merepotkan membuat Tao jarang menghabiskan waktunya di toko, selain itu pertandingan basket dengan Jongin dan teman-temannya sudah menjadi makanan hampir setiap harinya bagi Tao.

“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, kami berdua sama-sama sibuk.” Tao pun menjawab.

“Apa Oppa merindukan Sina?” Hara kembali mengeluarkan pertanyaan yang lagi-lagi membuat Tao terdiam. Kalau soal merindukan Tao sendiri juga kurang mengerti, awal-awal ia memang merasakan sebuah perubahan tapi lama-kelamaan seiring berjalannya waktu dipenuhi kesibukan baru dan kenalan baru membuat Tao memfokuskan perasaannya untuk lain bukan memikirkan Sina lagi.

“Hmm—tidak juga sih, tapi aku rasa Sina juga tidak merindukanku.” Jawab Tao sambil kembali menjilat es krimnya yang terus mencair hampir melumuri tangannya karena ia sempat terdiam.

“Hhahh” Hara menghela napas, sedikit kecewa karena ia mengharapkan sesuatu yang lebih menarik keluar dari mulut Tao. “Gongchan pergi ke luar negeri liburan musim panas kali dan aku sudah merindukannya Oppa!” ujar Hara memulai celotehan tentang orang yang disukainya.

Tao tertawa dan mengacak-acak rambut Hara melihat anak kecil yang begitu serius menjalani kisah percintaannya “Sudahlah! Kau harus mencari kesibukan lain selama dia pergi, bukannya kita bertemu hari ini karena Hara ingin belajar basket denganku? Mengalahkan rivalmu..siapa namanya? Ah—“

“Ahri!” Hara menyelesaikan kalimat Tao dan beranjak dari kursi taman, semangatnya kembali muncul begitu Tao menyebut nama diva kelas yang menjadi saingannya merebut perhatian Gongchan. Tao melirik jam tangannya sebelum melempar bola untuk Hara, hari ini shift kerjanya dimajukan karena temannya tidak masuk membuat Tao selalu mengecek jam tangannya khawatir kalau terlambat gajinya akan dipotong.

#

#

“Apa? Jalan-jalan? Maaf aku sedang tidak mood.” Sina menolak tawaran Jongin yang sedang menelponnya. Di hari yang tenang tengah menikmati serial drama tahu-tahu ponselnya berbunyi. Ditambah Jongin yang menelpon makin membuat Sina ingin menyalahkan Sehun karena laki-laki itu yang seenaknya memberi nomor ponselnya tanpa minta izin.

“Mungkin tahun depan aku mood, ah maaf baterainya habis.” Sina segera memutuskan sambungan dengan alasan yang ia yakin Jongin sadar kalau Sina terlalu malas menanggapi ajakannya.

Setelah mematikan ponselnya mata Sina jatuh pada rajutan yang tergeletak di atas kopernya ketika Sina membongkar koper untuk mencari dvd drama kesukaannya, membuat kamar yang baru ditempati beberapa jam itu sudah berantakan.

Dengan malas ia menggunakan kakinya untuk meraih rajutan yang terbengkalai beberapa minggu tidak disentuh olehnya.

Kapan terakhir kali aku menyentuh ini? Sina bertanya dalam hati. Meskipun proyek rajutan itu baru selesai setengahnya ia sendiri cukup kaget karena hubungan Miyoung dan Sehun masih berjalan. Dari awal ia sempat malas mengerjakan permintaan kakaknya karena ia yakin hubungannya dengan Sehun tidak akan bertahan lama. Tapi nyatanya ini sudah beberapa bulan dan mereka masih saja terlihat langgeng, mungkin kata-kata kakaknya soal Sehun benar. Mungkin memang Sehun berbeda dengan laki-laki lain Sina berkata pada dirinya sendiri.

Ia pun beranjak dari sofa yang ia pikir akan menjadi sarangnya seharian, sepertinya berjalan di luar sambil mengerjakan rajutan ini bisa membuat Sina mengerjakan permintaan Miyoung lebih niat, dan lagi; ia baru ingat baru mendapat uang jajan dari orang tuanya yang bisa Sina habiskan untuk meminum beberapa gelas Espresso di cafe favoritnya.

#

#

Sambil berjalan dan menjilat es krim coklatnya Sina memperhatikan dua orang wanita pria yang sedang menaiki sepeda tandem sibuk dengan dunia mereka, tertawa dan menggoda satu sama lain. Sina yang belum tertarik untuk memulai hubungan serius dengan laki-laki mengamatinya pasangan itu fokus, bukan iri karena ia belum pernah merasakan momen manis bersama pria, daripada dikatakan iri ia lebih terlihat penasaran karena merasa bingung bagaimana bisa seorang wanita bisa terlihat begitu menikmati setiap detik bersama laki-lakinya itu? Sina memang suka menonton drama tapi herannya ia belum pernah merasakan perasaan yang sering dirasakan setiap pemeran utama wanita dalam sebuah drama.

“Noona kau menghalangi jalan.”

Sina membuyarkan lamunannya dan segera menengok pada anak laki-laki yang sedang di depannya mengendarai sepeda roda tiga, wajahnya terlihat jengkel seseorang menghalangi jalannya.

“Ah maaf.” Sina berkata dengan datar membuat si anak semakin jengkel, Sina pun kembali melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.

Berjalan di Buam-dong memang sering membuatnya tidak sadar kalau waktu selalu berjalan. Suasana yang tenang dan jalan yang selalu dikelilingi pohon membuatnya berpikir kalau ia sedang berada jauh dari kota Seoul yang padat, sehingga tidak perlu takut tidak mengikuti ritmik Seoul yang cepat. Anehnya, Buam-dong sendiri sebenarnya masih bagian dari kota Seoul.

Ketika kakinya sudah sampai di depan gerbang Changuimun Sina menelan ludahnya begitu menyadari jalan yang sepi. Hal janggal karena sekarang masih cukup siang untuk membuat orang-orang beraktivitas di luar, apa karena cuaca panas dan orang-orang memilih mengurung diri di rumah? Sina keheranan.

Daripada bertanya menghabiskan waktu di depan gerbang yang entah kenapa membuat Sina merinding ia pun memantapkan niatnya dan dengan langkah cepat Sina berjalan melewati gerbang Changuimun. Gerbang yang sedikit menyerupai terowongan mini membuat Sina harus merasakan gelap beberapa detik, memang sepele tapi tetap saja ia kurang suka hal itu. Harusnya di dalam situ ada lampu Sina berujar dalam hati.

Beberapa saat kemudian dengan susah payah setelah mendaki tangga di bawah teriknya matahari Sina sampai juga di tujuan awal sampai mau mengalahkan ego malasnya demi menikmati secangkir espresso di cafe Sanmootonge yang namanya terangkat karena pernah menjadi tempat pembuatan  serial drama terkenal ‘Coffe Prince.’

#

#

Begitu mendorong pintu cafe Sina menghela napas lega melihat meja favoritnya masih kosong sekalipun cafe siang ini terlihat begitu ramai , tanpa pikir panjang lagi ia segera mengambil meja depan jendela, membuat bukit hijau menjadi pemandangannya utamanya. Meskipun tujuan awalnya adalah merajut Sina yang moody memutuskan mengeluarkan laptop dan merubah jadwal menjadi acara menonton drama. Atmosfer cafe yang bagus membuat Sina yakin ia dapat menghayati dramanya lebih dalam.

“Permisi, apa yang ingin anda pesan?”

Sina yang masih fokus mencari folder dramanya di laptop tanpa melirik sedikitpun pada si pelayan segera menyebutkan menu yang sudah ia pikirkan selama perjalanan tadi “Espresso, Orange juice, Milk Tea, Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.”

Si pelayan terdiam sebelum akhirnya bicara lagi “Maaf, bisa diulangi lagi?”

Sina menghela napas, cuaca panas membuat otaknya ingin cepat-cepat didinginkan “Espresso, Orange juice, Milk Tea, Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.”

“Espresso….Orang Juice…Milk Tea…”

Apa susahnya sih pesanan yang ia ucapkan tadi ?“Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.”

Maaf…bisa ulang—“

Sina meremas tangannya “Ya! Pa—

#

#

Tao terpogoh-pogoh mendorong cafe tempat kerja paruh waktunya, ia terlambat karena terlalu serius memenangkan tantangan Jongin yang tahu-tahu muncul di kelas mengajar basketnya dengan Hara.

“Hei Tao! Kau datang di saat yang tepat!” Minseok barista cafe segera tersenyum membuat tulang pipinya yang tinggi menyipitkan matanya, Tao datang di saat yang tepat.

Tao segera menghampiri counter dan menunjuk jam tangannya “Hmm—sebenarnya aku terlambat 15 menit..”

Minseok tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya “Bukan itu maksudku, kau lihat cafe hari ini ramai sekali kan?”

Tao mengalihkan pandangannya pada sekeliling cafe dan mengangguk, meskipun selama ini ia bekerja di belakang sebagai tukang cuci piring ia selalu mengintip dari jendela melihat kapan cafe itu sepi (kareena Tao merasa kulit tangannya akan mengelupas jika terus mencuci).

“Ini berita bagus buat bos, tapi tidak buat kita, Jinki hari ini absen dan kita kekurangan waiter.” Tiba-Tiba Minseok memegang kedua bahu Tao, tatapan yang biasanya terlihat selalu mengajak bercanda kali ini terlihat serius “Manfaatkan wajah tampanmu untuk menjadi waiter hari ini.”

“He-eh?”

“Kau tidak mengerti? Waiter! Orang yang melayani tamu, menanyakan pesanan, membawakan makanan, hal seperti itu saja kau tidak mengerti?” Minseok melepas bahu Tao dan kembali meracik kopinya.

“Tapi aku tidak mengerti bagaimana cara melayani tamu, bahkan menghafal menunya saja belum!” Tao menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan menuju pintu belakang menuju wastafel yang selama ini menjadi tempat cari uangnya. Minseok segera menahan Tao dan melepas apron yang Tao pakai “Lepaskan apronmu hari ini, Tao tugasmu jadi waiter.”

Tao mendengus dan memutuskan untuk menuruti perintah sunbaenya, ia tahu memberontak hanya membuat masalah yang ujung-ujungnya membuat ia dikeluarkan dari cafe.

Setelah merapikan penampilannya di toilet Tao menuju balik counter dan memutuskan menyibukkan diri dengan mengelap gelas sekalipun ia tidak diminta, lebih baik  ia terlihat pura-pura sibuk; itu strategi Tao.

Sejam setelah Tao terus berdiri membuat Minseok yang berada di sebelah Tao tersenyum puas melihat dongsaeng yang selalu menarik untuk dijahili itu mematuhinya. Tentu saja ia puas, orang-orang mulai memperhatikan Tao yang wajah memikatnya masih asing membuat kemungkinan cafe menjadi makin populer.

“Jangan cemberut seperti itu, tersenyumlah!” Ia menyikut bahu Tao, membuat Tao melangkah ke kiri menjauhi jaraknya dengan Minseok.

“Hei hei coba kau lihat, bahkan kau sudah mendapat fans meski baru berdiri!” Minseok mencoba menghibur Tao yang sama sekali tidak membuat Tao merasa lebih nyaman menjadi seorang waiter.

Minseok menghela napas, ia pun menghampiri Tao dan berbisik padanya “Coba lihat yeoja yang sedang duduk di depan jendela itu, coba kau tanyakan pesanannya jangan sampai membuat dia duduk gratis di sini!”

Tao menelan ludahnya “Sekarang?”

“Menurutmu? Sampai dia pulang dan kita tidak mendapatkan uangnya sama sekali?” Minseok bertanya sarkastik yang sukses membuat Tao segera mengangguk dan berjalan menghampiri si yeoja.

Begitu berdiri tepat di belakang wanita yang sibuk mengotak-atik laptopnya itu Tao segera berdehem berusaha mendapatkan perhatian wanita itu tanpa harus menyapanya terlebih dahulu. Sayangnya si wanita terlalu tenggelam pada laptopnya membuat Tao membuka mulutnya dengan paksa “Permisi, apa yang ingin anda pesan?”

Hening beberapa detik, apa suaranya kurang keras? Tao bertanya dalam hati, begitu ingin mengulang pernyataannya tiba-tiba sederet menu asing keluar dari mulut perempuan itu.

Espresso, Orange Juice, Milk Tea, Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.”

Tao terdiam, ia tidak siap dengan jawaban sepanjang dan secepat itu, bahkan tangannya baru saja menuliskan huruf O “Maaf, bisa diulangi lagi?” Tao memberanikan diri bertanya

Terdengar hembusan napas si perempuan, Tao mulai merasa panik.

 “Espresso, Orange Juice, Milk Tea, Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.”

Tao langsung menuliskan di atas notesnya, tapi baru sampai menu ketiga ia sudah lupa, kenapa ia selalu lupa? Tao bingung, kejadian ini mengingatkannya pada suatu hal tapi ia lupa apa itu “Espresso….Orang Juice…Milk Tea…”

“Darjeeling Tea, Raspberry Cheese Cake dan Iced Latte.” Si wanita melanjutkan lagi, tanpa memelankan temponya sedikitpun. Tao menggigit bibirnya, daripada membawakan pesanan salah ia lebih suka bertanya sekali lagi Maaf…bisa ulang—“

 “Ya! Pa—

#

#


Tidak ada yang bisa mengerti seberapa besar kejutan yang didapat oleh Huang Zitao dan Ahn Sina hari ini. Bahkan Minseok yang daritadi mengamati dongsaengnya mulai panik melihat baik Tao dan si yeoja sama-sama diam. Tao tidak tahu wanita di hadapannya sama dengan Ahn Sina yang ‘itu’ atau bukan, Sina yang pernah menjadi topik pembicaraannya dengan Hara, Sina yang setiap kali namanya disebut selalu membuat Tao blushing hanya karena mengingat saat ia membagikan kehangatannya pada Sina, meskipun itu dulu, seperti rekaman video yang diulang semua kejadian kembali melintas di otak Tao.

Kali ini Sina tidak bernasib jauh dengan Tao, bedanya ia yakin pelayan yang sedang memandangnya kosong ini adalah Huang Zitao yang sama dengan Tao yang ia kenal, sekalipun pria di depannya ini tampak berbeda, Sina berbohong kalau salah satu alasan ia terdiam bukan karena Tao yang terlihat berbeda, berbeda dalam artian Tao bukan Tao yang dulu. Siapa yang menyangka tiba-tiba Tao muncul begitu memikat dengan kemeja dan vest hitamnya? Tapi ini bukan soal penampilan, terlebih peristiwa ini persis reka ulang pertemuan pertamanya dengan Tao.

“K-kau? Ahn Sina?”

Pertanyaan bodoh yang membuat Sina menggelengkan kepalanya, buyar dari lamunan. “Bodoh.” Sina merespon singkat

“Kau Sina!” Tao berseru yang segera membuat Sina menginjak kaki Tao yang mendadak merebut perhatian seisi cafe. Tao meringis tapi tidak marah, sebaliknya ia menyeringai, bertemu teman lama, itu yang dipikirkannya.

“Bagaimana kau bisa diterima di sini?” Sina berbisik

Tao mengerutkan dahinya, merasa pertanyaan itu terlalu merendahkannya “Apa aneh aku kerja di sini?”

“Bahkan menuliskan menu yang kupesan saja tidak bisa, tentu saja aneh.” Sina menguatkan argumennya yang langsung membuat Tao berlutut menyamakan tinggi badannya dengan Sina. “Tugasku cuci piring dan aku menggantikan teman yang tidak masuk hari ini!” Tao membisiki Sina membuat Sina segera menjauhkan kepalanya dan menggeser kursinya, merasa geli dengan napas Tao yang menggelitik telinganya.

“Kau tidak perlu membisikiku seperti itu.”

“Bukankah Sina sendiri yang mulai berbisik?”

Sina diam, daripada melanjutkan debatnya dengan Tao ia tertawa kecil, kapan terakhir kali ia berbicara dengan Tao? Kapan terakhir kali ini membuat Tao terlihat jengkel?  Dan kapan terakhir kali ia merasa puas melihat Tao merengut? Ah peristiwa sepeda Sina tertawa dalam hati.

“Sudahlah biar aku yang tulis.” Sina merebut notes dari tangan Tao dan segera menuliskan menu yang belum ditulis oleh Tao. “Ini, aku tunggu satu menit lagi.” Sina segera menyerahkan notesnya dan kembali berfokus pada laptop.

 Tao yang ingin mengomentari perintah Sina yang tidak masuk akal, mengatupkan mulutnya begitu melihat Sina yang segera menutupi telinganya dengan kedua earphone.

“Dasar.” Tao berkata dalam hati sambil menjauhi meja Sina, terlihat aneh karena dibalik kata ‘dasar’nya ia tersenyum.

#

#

“Tuan Huang.” Minseok menjetikkan jarinya tepat di depan wajah Tao. Tao menggoyangkan kepalanya sedikit tersentak seseorang mengganggu lamunannya.

“Ya sunbae?”

“Aku minta kau berdiri di sini untuk menjadi asistenku membuat kopi. bukan patung berdiri seperti ini.” Minseok berkata sok frustasi karena sebenarnya ia hanya ingin menggoda Tao yang terus mengabaikan permintaannya untuk mengambilkan gula. Ia tahu mata Tao terus mengekori yeoja yang duduk di depan jendela.

“Oh iya iya, kau perlu apa tadi?”

Minseok mengernyit jengkel, bahkan suaranya saja tidak sampai ke telinga Tao karena pria ini terlalu fokus mengamati wanita itu “Sudahlah aku ambil sendiri.” Ia pun berjalan dan mengambil gula itu sendiri, Tao merasa bersalah dan sebelum ia ingin minta maaf Minseok kembali memotong

“Apa serunya melihat orang menonton?” Minseok bertanya.

“Maksudmu aku melihat siapa?”

Kim minseok memutar bola matanya “Maksudku—siapapun bisa melihat kau menonton orang yang menonton bahkan sampai mengabaikan sunbaenya sendiri.”

Tao mengerti tentu saja yang dimaksud adalah Sina “Ma-maaf, itu teman lamaku dan aku sudah lama tidak bertemu dengannya.”

“Teman lama? Bukan mantan pacar?” Minseok bertanya menyidik

“Bukan!” Tao spontan menjawab membuat Minseok terkekeh dan menepuk bahu temannya “Nah, daripada kau bertepuk sebelah tangan, lebih baik kau alihkan perhatianmu pada waitress yang daritadi melirikmu itu.”

Tadinya Tao ingin protes, siapa yang bertepuk sebelah tangan? Menyukai saja belum tapi Minseok yang telunjuknya menuju arah pintu membuat Tao langsung mengikuti arahannya mencari sosok yang Minseok maksud “Song Qian?” Tao menaikkan sebelah alisnya

Minseok mengangguk dan mengancungkan jempolnya “Yep coba kau lihat, dia cantik, dia baik, dan terlebih dia sama-sama berasal dari China, bukankah cocok denganmu? Yah meskipun aku sempat menyukainya tapi kalau untukmu aku mengalah Tao.”

Tao mendecak tidak setuju dengan Minseok yang menggampangkan perempuan mana yang cocok untuk dirinya “Lebih cantik Sina.” Tao berkata pelan membuat Minseok segera menengokkan kepalanya “Kau bicara apa?”

“Ti-tidak” Tao gelagapan dan segera mengambil gelas basah kembali menyibukkan dirinya.

#

#

“Haha Tao kau lucu sekali.” Terdengar tawa kecil yang membuat Tao segera mengalihkan wajah dari cermin yang sepertinya sudah capek menatapnya lebih dari 10 menit.

“Aah—aku cuma ingin memastikan penampilanku sudah rapi belum.” Tao berkata sambil memegang leher belakangnya, hal yang ia lakukan setiap ia malu.

“Kau sudah tampan kok.” Song Qian tersenyum dan memberi ancungan jempol yang langsung membuat Tao memerah, sudah lama ia tidak mendengar pujian dari wanita seumurnya.

“Terima kasih, sebenarnya aku belum terbiasa dengan potongan rambutku yang baru jadi aku selalu ingin mengeceknya di cermin.” Tao kembali melirik dirinya sendiri di cermin dan tersenyum karena pujian Song Qian rasa percaya dirinya segera bertambah berkali lipat. “Ngomong-ngomong, kau masih kerja?” Tao mengamati teman perempuan yang masih memakai seragamnya sementara Tao sudah kembali memakai kaos dan jeansnya.

“Yah, shiftku sampai malam karena sebelumnya aku sudah mengambil banyak cuti.”

“Hmm—tapi pulang malam? Bukannya itu terlalu bahaya untuk seorang perempuan sepertimu?”

“Sepertiku? Seperti apa?” Song Qian menyunggingkan senyum menemukan sesuatu untuk menggoda Tao yang ia kenal mudah memerah.

“Yah—seperti….”Tao menggigit bibir tahu kalau ia salah memilih kalimat, seperti dia? Seperti apa? Tidak mungkin aku bilang perempuan cantik sepertimu! Tao berdebat dengan dirinya sendiri

Song Qian tertawa, tidak sampai hati lagi untuk membuat Tao merasa terpojok “Tenang saja, Minseok mau mengantarku pulang.”

Tao menghela napas dan menaikkan bahunya “Kalau begitu tidak ada masalah, baiklah aku pulang duluan ya.” Tao melambaikan tangannya dan meninggalkan Song Qian yang membalas lambaiannya masih dengan senyum yang menahan tawa.

#

Sina yang mengepal kedua tangannya gemas dengan adegan yang sedang mencapai titik klimaks tiba-tiba menautkan dua alisnya karena seseorang menepuk bahunya, biasanya dia akan memilih mengabaikan orang itu, tapi ini tempat umum, yang siapa tahu ada hal penting yang harus ia ketahui.

“Apa—“ Sina melepas earphonenya dan menengok “Tao?” Ia menghela napas dan kembali memasang earphone merasa percuma kalau ternyata cuma Tao yang memanggil.

“Eh—tunggu! Aku mau bicara!” Tao menahan tangan perempuan itu, Sina langsung memandangnya tajam “Katakan.”

Tao pun berdehem dan mengambil posisi duduk di sebelah Sina, Sina yang harusnya memandang Tao yang ingin berbicara dengannya malah kembali menatap monitor laptop, bukannya ia tidak sopan, tapi terus terang Sina belum terbiasa melihat Tao dengan model rambutnya yang baru, tidak bisa berbohong i ia lebih suka rambut pendek Tao sekarang yang membuat telinganya terlihat ditambah poni yang diangkat ke atas rapi membuatnya lebih segar, bukan rambut dulunya yang keningnya selalu tertutupi rambut membuat Sina kadang gerah hanya dengan melihatnya saja.

“Sekarang sudah jam lima dan aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan pulang terlalu malam.”

“Jam lima!?” Sina segera menutup laptopnya dan langsung menegak milk tea yang sengaja diminum untuk detik terakhir di cafe.

Tao yang melihat Sina sibuk merapihkan barang-barangnya hanya menggaruk kepala tidak mengerti kenapa Sina langsung terburu-buru. Tao pun berdiri dan sebelum ia berjalan meninggalkan meja tahu-tahu seorang memegang pergelangan tangannya

“A-apa?” Tao menundukkan kepalanya melihat Sina yang hanya memegang tangannya tapi tidak memandangnya sedikitpun. “Temani aku pulang.” Sina berkata.

#

#

“Sina ingin mendengarkan musik? Padahal aku pikir kita bisa mengobrol.” Ucap Tao saat Sina hendak memasang earphone ke telinganya. Sina menatap Tao dan menghembuskan napasnya “Baiklah, ayo kita mengobrol.”

Tao mengangguk dua kali senang dengan pilihan Sina.

#

Lima belas menit mereka berdua berjalan tapi tidak satupun terlihat memulai percakapan.  Sina mendengus dan kembali mengeluarkan earphone dari tangannya membuat Tao segera membuka mulutnya, ia tahu ia harus memulai pembicaraan  “Ah! Lihat Sina! Langit indah sekali!”

Sina memutar bola matanya “Jadi maksudmu mengobrol membicarakan langit, begitu? “ Ia kembali memasukkan earphonenya ke tas tahu Tao benar-benar ingin memulai dialog tapi terlalu malu untuk memulainya.

Tao terkekeh, ia memang ingin berbicara dengan Sina, tapi kenapa tiba-tiba otaknya terasa buntu kehabisan topik? Ini hanya Ahn Sina temannya, harusnya Tao tidak boleh membiarkan Sina merasa bosan berada di sebelahnya.

“Ngomong-ngomong sudah lama Sina tidak main ke toko ahjumma.” Tao pun memutuskan memulai pembicaraan dengan hal yang membuat ia sadar kenapa ia merasa Sina dan dirinya menjauh.

“Aku selalu ke sana setiap minggunya, Tao saja yang sibuk main keluar.” Sina menjawab santai yang berlawanan dengan reaksi Tao.

“Kerjaanku tidak hanya main keluar! Aku belajar bahasa Korea, musik, basket—“

“Iya aku tahu kita sama-sama sibuk, sudahlah.” Sina menatap Tao membuat Tao langsung mengalihkan pandangannya. Sambil menggaruk kepalanya Tao menelan ludahnya dan mengatakan hal yang daritadi ingin ia utarakan “Dan aku suka rambut barumu, cocok untuk musim panas.”

Sina yang menyadari Tao berkata tanpa menatapnya sedikitpun hanya tersenyum dan mengangguk “Tao juga, terlihat lebih pria.”

Tao tersenyum senang dengan pujian itu tapi tiba-tiba ia menyadari hal yang aneh “Aku sudah terlihat sebagai pria sejati sebelum aku memotong rambutku.” Ucapnya serius.

“Pria sejati? Kau masih terlihat seperti anak laki-laki yang masih menempel pada bibinya.” Sina mengendikkan bahunya, kata-katanya menusuk Tao yang Sina sendiri tidak sadar.

“Bukan aku yang menempel, Ahjumma yang menempel!” Tao membela diri.

Sina menghela napasnya dan kembali menatap Tao “Siapa yang merajuk karena lampu mati? Siapa yang minta ditemani mandi oleh bibinya sendiri setiap malam? Siapa yang suka memakan jatah pizza bibinya sendiri? Siapa—“

“Aah! Sudah sudah!” Tao memotong rentetan hal-hal yang membuatnya makin terpojok “Ahjumma menceritakan semua itu padamu?” Tao bertanya

“Kau pikir? Aku mengekorimu seharian untuk mendapat cerita-cerita itu?” Sina bertanya acuh, Tao pun membuat janji untuk terlihat dewasa di depan bibinya demi memperbaiki image yang sudah terlanjur rusak di mata Sina.

“Oh ya! Kenapa Sina bisa ada di cafe? Aku tidak tahu kau tipe pembolos.”

“Pernah dengar yang namanya libur musim panas?”

“Ohh!” Tao mengangguk-ngangguk mengerti “Tidak jalan-jalan?” Ia kembali bertanya.

“Aku ikut kelas musim panas.”

“Nilaimu jelek? Aneh padahal Sina terlihat seperti murid yang pintar.”

Sina menengokkan kepalanya pada Tao, laki-laki ini benar-benar suka mengambil kesimpulan sesukanya “Apa kelas musim panas cuma untuk orang yang bo—“

“AHH SINA!” Tao berteriak. Sina yang detik sebelumnya masih menatap dan berbicara padanya tiba-tiba jatuh dan terperosok dari beberapa tangga yang akan mereka turuni.”

Tao segera menghampiri Sina yang sedang meringis memegang kedua lututnya yang memerah “Bagian mana yang sakit?” Tao bertanya sambil memperhatikan kedua kaki yang benar-benar membuat Tao merasa bersalah karena dirinyalah Sina kehilangan fokus menuruni tangga.

“Untung lututku tidak berdarah.” Sina menghela napas, tidak menjawab pertanyaan Tao.

“Sina bisa berdiri?” Tao bertanya masih dengan paniknya berbeda dengan Sina yang harusnya panik malah terlihat terlalu santai untuk ukuran orang yang baru jatuh.

“Tolong bantu aku.” Sina menaikkan kedua tangannya, meminta Tao menarik dirinya untuk berdiri. Tao berdiri dan segera menarik tangan Sina namun segera berhenti mendengar Sina yang berteriak kesakitan.

“Sudah kuduga, kakimu keseleo.” Tao menggigit bibirnya, rasa paniknya hilang karena ia sudah tahu masalah sebenarnya.

Sina mengacak-ngacak rambutnya dan memeluk kedua lututnya, ia benar-benar benci situasi dimana ia tidak bisa melakukan apapun, seperti saat ini. “Semuanya gara-gara Tao, coba kau tidak asal bilang kalau kelas musim panas untuk orang bodoh, pasti aku tidak akan kehilangan kefokusanku.” Sekarang Sina mulai menyalahkan Tao, ingin melampiaskan rasa kesalnya.

Tao menghela napas dan tersenyum, ia juga bingung kenapa ia tidak jengkel dengan Sina yang seenaknya menyalahkan dirinya tiba-tiba, dia memang merasa bersalah, tapi Sina membuatnya seperti pelaku utama yang membuatnya jatuh “Maafkan aku.” Tao jongkok di tangga bawah Sina membuat ia sejajar dengan Sina. “Sekarang ayo kita pulang, supaya si pintar Sina bisa beristirahat.” Tao membalikkan badannya membuat Sina berhadapan dengan punggung Tao.

“Tao bisa menggendongku? Asal tahu saja, tubuhku yang tinggi membuat berat badanku tidak ringan.” Sina masih memeluk lututnya sama sekali tidak terlihat berminat menaiki punggung itu.

“Aku pernah menggendong Sina sebelumnya, dan—tubuhku yang tinggi membuat berat badan Sina tidak ada apa-apanya, ayolah cepat naik, aku takut kalau sudah keburu gelap.”

Sina mendengus mendengar kata-kata terakhir, padahal tadi Tao terdengar keren tapi begitu membahas takut keburu gelap Sina membuang pikiran itu jauh-jauh. “Baiklah.” Sina pun melingkarkan kedua tangannya pada leher Tao.

Tao menahan napasnya,  ia lupa ia punya penyakit aneh jika berdekatan dengan Sina. Begitu Sina sudah sepenuhnya berada dipunggungnya, Tao segera berdiri dan berhati-hati menuruni tangga batu itu, pelajaran dari Sina ia harus memperhatikan baik-baik setiap tangga ia injak.

“Tenang saja rumah nenekku di Buam-dong, Tao tidak perlu menggendongku terlalu lama.”

Tao mengangguk memilih tidak menjawab apa-apa, dugaannya benar, jantungnya yang dari tadi tenang sekarang berdegup kencang tidak karuan pipinya pun terasa terbakar.

“Kalau Tao capek kita bisa beristirahat.” Sina kembali berkata lagi membuat Tao makin merasakan kupu-kupu di perutnya “Si-sina.” Tao memberanikan dirinya berkata.

“Hmm?”

“Bisa jangan berkata tepat di belakang leherku? Aku merasa geli.”

Sina menyunggingkan bibirnya ke kiri, half smile karena terbesit ide isengnya, tanpa takut Tao akan marah padanya ia segera meniup leher belakang Tao “Fuhhh.”

“Sinaaa—“  Tao ingin protes, ia membalik badannya tapi tiba-tiba merasa bodoh karena tidak mungkin ia melihat Sina, Sina menempel di punggungnya, dan berhadapan dengan Sina hanya membuatnya seperti anjing bodoh yang mengejar ekornya sendiri.

“Apakah segeli itu? Fuuhh” Sina kembali meniup tidak peduli Tao terus protes.

“Aku serius! Aku merasa geli!” Tao mulai jengkel.

Sina memajukan kepalanya untuk dapat melihat profil Tao dari samping, ia tertawa geli melihat pipi Tao yang merona merah. Tawa Sina berhenti saat menyadari piercing di telinga Tao yang baru saja ia sadari hmpf—berani  juga Tao menindik telinga Sina mencibir. Penasaran apakah Tao memiliki telinga sensitif Sina meniup pelan telinga Tao.

Tao benar-benar jengkel, tidak cukup Sina membuat jantungnya serasa meloncat sekarang ia mempermainkan dirinya “Ahn Sina—“ Tao menengokkan kepalanya ke kiri siap untuk memarahi Sina sebelum pada akhirnya ia menyadari pipinya menyentuh sesuatu yang lembut dan kenyal.

Tidak perlu orang jenius untuk menjelaskan Tao tahu dan ingin pingsan, sungguh, ini pertamakalinya ia mengecup pipi wanita.

_____________________________________________________________________________________________________________________

OHMAYGAWD

K.I.S.S

DAN (ini masih di pipi tapi author udah lebay bgt)

Ga nyangka author akan memasukkan adegan terklise ‘piggy-ride-back’ di PASTEL!

WOHOO Taosina shipper ditunggu komennyaaaa author udah berjuang keras untuk chapter ini!

Dan mungkin fans sehun ada yg ingin protes? :3 /langsung tunjuk tangan/

15 thoughts on “PASTEL #013

  1. akhirnya TaoSina lagi~^^
    Kalo liburan musim panas jadi inget Summer Vacation with a Jerk~
    Dan bonus story nya kocak. Ngingetin sama komik2 romance fluff
    Cepet urusin kuliahnya~ biar blog ga sepi…

  2. huwaaaaaaaaaaaaaaaa huwaaaaaaaaaaa huwaaaaaaaaa!!!! *tebar confetti*
    taooooooo :3 T_T
    tadinya aku mau bacanya entaran aja mendekati tgl 16 nov wkwk biar gak berasa nunggu lama, wkwk tapi gak bisaaa. rindu ini membunuhku eaaaa xD
    soalnya aku inget author janji part ini special but taosina shipper wk dan ternyata author seriusan, part ini bener-bener full taosinaaa.. aaaaaa iloveyou-tao- Authooooooorrr :** {}

    aku suka banget bagian tao sama hara. ngebayangin tao ngajarin hara basket. iiihh unyuuuu :3 (bisa jadi taohara shipper nih lama-lama wkwkw)
    dan bagian K.I.S.S nyaaaa!! yaa emang cuma cium pipi tapi yang gak cuma ’emang’-nya adalah, dari kemaren tuh abis liat fancam tao yang naujubilah naughty bgt tampangnya disitu. aku jadi pervert sendiri, ngebayangin gimana rasanya nyium pipi tao /blush/ huaaaa trus author masukin adegan begitu, jadi makin makin pengen deeh *eh /salah/ wkwk

    feelnya disini juga enak. adem adem gimana gitu. trus cafe-nya yg di coffee prince lagih. pokoknya part bikin aku merinding disco.. ahaha
    terima kasih banget deh sama author yang udah mau bersusah payah buat fanfic tao yang indah ini :’3 *lebay mode-on* soalnya aku gak tau bakal nemu ff tao dimana lagi. tiap hari keluar masuk blog orang nyari cast tao gak ada yang click. kebanyakan tao jadi figuran T_T *nangis dipojokan*
    dan untuk menjadikan pastel series yg panjang, aku ucapkan terima kasih juga :’D yang panjaaaaaaaaaaaaaang juga gapapa asal tao mah xD wkwk

    terakhir, untuk mempersingkat komen saya ini agar tidak menjadi drabble komen –” saya ucapkan selamat menyelesaikan tugas kuliahnya. saya juga udah mau uts nih ahaha jadi pas banget kalo author mau vakum kkk~
    keep writing yaaaa~ bakal miss you banget nih *sinetron mode-on* wkwk
    pokoke author pikrachu FIGHTING!!! ^^

    • Yeay keputusan bagus buat baca sekarang! Karena author agak penasaran reader yang satu ini gimana reaksinya😄

      LOL suka Taonya udah akut bgt wkwk, daaan terus terang waktu buat chapter ini author liatin tao fancam dulu di youtube buat dapet feelnya o.o (siapa tau video yg kita liat sama)

      Hehehe author juga suka sama suasana di chapter ini😀 entah kenapa taosina bawaannya adem~

      Dan terima kasih semangatnya semoga utsnya sukses ^^v
      =w=

      /baru tau bisa bales komen pake gif/

  3. Sumpah yaa.. NgebayanginTao sama Hara main basket tuh unyuu banget, mana ada coba anak kecil lebih tau cinta daripada orang dewasa /ada, tuh si Hara/ Hara pasti imut2 centil deh sama gebetannya gongchan.. Duhh, masih kecil juga -_-

    Hohoho jadi berasa de javu ya, waktu awal Tao-Sina ketemu eh kejadian lagi jadi awal moment romantis yang berakhir pada satu kecupan di pipi dari Tao, emang sih ga sengaja. TAPI TETEP AJA KENAAA!! KAPAN DONG SEHUN NYIUM SINAAAA??

    Ehem.. Maaf ya pikrachu, itu td cuma naluri kok, ohokohokk
    Pasti deh Tao-Sina shipper pada kegirangan😀

  4. Waaaaaaa tao nyium sinaaaaaa~~~!! Waaaaaaaa~~~~~ /heboh/
    aduuduuduuduh gimana reaksi sinaaa?? Maygat maaygat maygat

    Itu miyoung nyamperin sehun ke jeju? Astaga.. kalo aku jadi sehun aku bete hahaha, seperti apa yang dibilang sina: stalker. Wkwkwk

    Kok ini dè javu banget ciiiw aduh taosina lucu banget siiiiih xD

  5. Gada sena-sehun momen tp anehnya kok aku suka banget chapter ini >,< huaaaaaaaaaaaaaah aku jd punya pandangan beda buat Tao~
    Dan lagi-lagi aku mau nyalahin pikrachu karna aku sampe jatuh cinta sama bias temen aku :3 huuu maaaap~

  6. Huaaaa, chapter kali ini bikin aku klepek” thor smpe ketawa sendiri kek orang gila, mulai dari awal chapter terlebih akhirnya, bikin aku ketawa sendiri
    aahh adeganx so sweet binggo, siapa suruh tuh si sina jailnya minta ampun, rasain coba

    aku cuma gk bisa menyangka andai ada orang yg seperti tao, dia itu kelewat polos untuk ukuran muka garang kek dia, hihi

    maaf yh thor bru sempet komen di chapter ini ^^

  7. kyaaaaa aku mau sehun sina biar bisa ketemu emaknya sehun tp iniiiii oh my ini sweet juga jadi ga tau deh,tp aku ttp dukung sinasehun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s