Love Story From Neverland (Part 3)

ffprops1

 

Kayaknya fanfic ini kekurangan minat pembaca ya? Okedeh, aku akan memperseru fanfic ini sebisakuXD

Sequel Seriesnya Pizza Man is under construction(?) pokoknya gittu deh maksudnya😉

Cukup ah basa-basinya, hehe…Happy Reading!^^

Ω

ffprops3

Appa?! Aku pulang!” teriak Aihan begitu memasuki pintu rumahnya yang tidak dikunci.

“Kamu pulang lebih awal Aihan.” respon appa-nya dari dapur tanpa nada curiga. Seolah Aihan yang pulang lebih awal adalah hal yang biasa.

Aihan memasuki dapur dan melihat ayahnya sedang memasak sesuatu yang menguarkan bau gosong. Ayahnya mengenakan celemek pink dengan gambar lolli-pop warna-warni yang menurut Aihan sangat unyu.

“Sedang masak apa?” tanya Aihan mencomot sebuah kue kering dari meja dapur. Kue itu keras dan rasanya tak karuan, tapi Aihan tetap berusaha memasang senyum demi menyenangkan hati ayahnya.

Ham panggang.” ujar ayah Aihan dengan senyum kekanak-kanakannya yang sangat Aihan sukai.

“Jadi… itu menjelaskan semua bau gosong yang berasal dari oven.” gumam Aihan dengan tawa riang. Makanan ayah tak pernah berhasil, tapi Aihan akan tetap memakannya dengan suka rela.

“Hahaha… Begitulah… Apa menurutmu hamnya harus kukeluarkan sekarang?” tanya Ayah, mengaduk saus gravy.

Seharusnya dikeluarkan dari 15 menit yang lalu.” jawab Aihan cekikikan sambil menggunakan sarung tangan tahan panasnya dan mengeluarkan ham dari oven.

“Terima kasih. Dan mungkin kamu bisa bantu appa menumbuk kentang dan memotong tomat.” pinta ayahnya dengan puppy-eyes yang benar-benar gagal.

“Baiklah, baiklah…” ujar Aihan dengan tawa kecil. Aihan sangat menikmati waktu-waktu yang ia habiskan bersama ayahnya. Ayahnya selalu tahu caranya membuat Aihan tertawa walaupun ia sedang tidak dalam mood untuk tertawa.

“Sudah appa.” lapor Aihan sambil meletakkan mangkuk kentang tumbuk di meja makan mereka yang mungil.

“Sekarang kan masih sore, kenapa sudah memasak makan malam?” tanya Aihan, pandangan matanya belum lepas dari kentang tumbuk yang masih mengepul.

“Sepertinya kita harus makan malam lebih awal, appa ada janji dengan seorang petani yang menemukan artefak di ladangnya.” jawab ayahnya dengan raut wajah penyesalan.

“Ah, tak apa.” jwab Aihan santai sambil mengiris ham untuk dirinya.

Ayah Aihan adalah seorang kolektor sekaligus arkeolog. Ayahlah yang menurus Aihan selama ini dan Aihan pun tahu bahwa mengurus dirinya bukanlah hal yang mudah.

“Selamat makan!” appa setangah berteriak, sambil langsung menggali makanannya yang segunung-gunung.

“Ahaha…” tawa Aihan ketika melihat tingkah laku ayahnya yang berbadan besar dan tampak sangar tapi selalu bertingkah kekanak-kanakan.

Appa? Boleh aku bertanya?” ujar Aihan tiba-tiba memberhantikan makannya dan menatap ayahnya dengan serius.

“Ada apa?” jawab ayah masih sibuk dengan makan malamnya.

“Apa yang terjadi dengan eomma?” tanya Aihan masih menatap ayahnya.

Eomma?!” ayah sedikit terbatuk akibat tersedak, tapi kemudian setelah berdeham tenggorokannya kembali bersih.

“Ah dia… Eomma mu itu sungguh wanita yang luar biasa.” jawa appa, meletakkan garpu dan pisaunya dengan denting pelan.

“Kenapa dia tidak pernah ada dalam kehidupanku?” tanya Aihan lagi dengan suara yang mulai bergetar.

“Dia ada dalam kehidupmu Aihan… Kau hanya tidak bisa melihatnya, tapi dia memantaumu dari langit.” jawab appa sendu.

“Kapan dia pergi?” tanya Aihan lagi, matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Satu bulan setelah melahirkanmu. Ia meninggal karena TBC.” appa dengan sabar terus menjawab pertanyaan-pertanyaan Aihan.

“Apa sebelum ia sakit, ia sering menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur untukku?” kali ini sebulir air mata telah menuruni pipi Aihan.

“Ya. Sebuah lagu tentang negeri antah berantah. Dia menciptakannya sendiri. Yah… dia seorang musisi alami.” jawab appa lagi, pandangan matanya seperti menerawang.

Kamu bisa pergi ke negeri antah berantah jika kau benar-benar ingin. Kau hanya perlu percaya. Percaya bahwa Tinker Bell dan Peter Pan benar-benar ada. Dan Kapten Hook yang mengintaimu bahkan saat kau tidur. Taaaapi…. Kau tak perlu khawatir bayi mungilku. Aku ada di sini untuk menjagamu dari Kapten Hook. Dan sekarang saatnya kau pergi ke negeri antah berantah bersama Tinker Bell dan Peter Pan.

Rahang appa jatuh.

“Ba… bagaimana kau bisa menghafal lagu itu?”

“Aku tidak tahu… aku hanya yakin eomma sering menyanyikan lagu kecil itu untukku.” jawab Aihan, mengangkat bahu.

“Mustahil kau mengingatnya.” appa mengucek-ngucek matanya seolah Aihan tidaklah nyata.

“Mungkin itu hanya sebagian dari misteri eomma.” jawab Aihan sekenanya.

Eomma mu bilang bahwa suatu saat setelah ia meninggal, ia ingin menjadi ruh alam. Kita semua tahu bahwa itu mustahil, tapi dia memang sangat mencintai alam dan sangat ingin menjaganya.” ujar appa lagi.

“Oh! Sudah pukul 6. Appa, aku ingin cepat mandi. Jam berapa appa janjian dengan petani itu?” alasan utama Aihan mengatakannya adalah ia ingin cepat-cepat naik ke kamar dan merenungkan serentetan kejadian di luar dugaan yang terjadi hari ini.

“15 menit lagi appa akan berangkat. Kau mandi saja sana.” jawab appa tenang seraya bangkit dari duduknya dan menumpuk piring-piring sisa makan malam.

Aihan merasa otaknya akan meledak jika ia meneruskan berbincangan tentang eomma-nya. Ada terlalu banyak informasi baru yang masuk ke dalam kepalanya dalam waktu yang bersamaan. Selama ini Aihan tidak pernah berniat menanyakan eomma pada appa. Tapi setelah pelangi yang muncul tiba-tiba, hembusan angin berbau iris dan dua burung merpati putih yang berkicau khusus untuknya…. ia merasa sangat dekat dengan eomma.

“Jika eomma bisa menjadi ruh alam… kenapa aku tidak? Aku bisa menjadi ruh alam jika aku mau! Aku yakin! Pasti akan sangat menyenangkan. Aku bisa menggoyangkan semak mawar dan meniup bunga-bunga dandelion kapan pun aku mau. Dan oh! Oh! Aku bisa tidur di dahan pohon kecil yang tingginya mencapai langit!” Aihan mulai melompat-lompat di tempat tidurnya.

“Aku akan jadi ruh alam paling hiperaktif yang berada di kolong langit.” ujar Aihan lalu terduduk di kasurnya.

“Aku harus mulai mengekang lidahku dan menjaga gerak-gerikku. Eomma pasti kecewa melihat putri satu-satunya selalu bertingkah konyol. Aku harus bersikap seperti wanita terhormat. Aku harus menjadi ruh alam yang terhormat. Aku harus membuat eomma bangga.” tekad Aihan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Tapi siapa peduli! Seharusnya eomma mencintaiku apa adanya. Aku bisa bersikap seperti diriku yang sesungguhnya, dan eomma pasti akan tetap menyayangiku.” lanjut Aihan setelah menyadari bahwa tekadnya tampak sulit dan hampir mustahil baginya.

Lalu Aihan berjalan menuju meja belajarnya yang sangat melukiskan kepribadiannya, dengan kata lain, berantakan. Ia membuka lacinya dan mengambil sebuah post-it merah jambu berbentuk hati yang telah ia bingkai di frame foto cantik dari kayu maple yang dipelitur.

“Omong kosong.” geram Aihan, jemarinya terus bekerja. Mengeluarkan post-it dari frame lalu membuangnya ke tong sampah.

Namja itu. Aku harus berpura-pura bahwa ia tak pernah menaruh surat cinta di mejaku. Aku harus berpura-pura dia tidak pernah memberiku harapan. Aku harus berpura-pura dia tak pernah memelukku. Oh Tuhan!” Aihan menepuk jidatnya sampai terjungkal dan kemudian terlentang di kasurnya, efek yang sedikit lebay tapi khas Aihan. “Ada banyak hal yang perlu aku ‘pura-pura’kan.” lanjut Aihan dengan desahan lalu memutar tubuhnya  ke arah jendela yang belum ia tutup.

“Oh! Aku harus membuang sampah!” tiba-tiba saja ia teringat akan sebuah kewajibannya. Tinggal hanya berdua dengan appa-nya membuat Aihan harus mengambil alih sebagian tugas eomma.

Dengan gerakan gesit ia menyatukan sampah dari tong sampah kamarnya, kamar appa-nya dan dapur. Lalu membuangnya ke tong sampah depan agar tukang sampah bisa mengambilnya besok pagi.

“Kurasa aku perlu tidur.” gumam Aihan setalah semua pekerjaan hariannya beres. Ia bergelung nyaman setelah menyanyikan lagu “Negeri Antah Berantah” karya eomma-nya, kemudian benar-benar pergi ke neverland.

“Aw.. Silauu…” gumam Aihan sambil memutar posisi tubuhnya membelakangi jendela. Ia merasakan sinar matahari mulai menembus memasuki pelupuk matanya yang semula ia pejamkan erat-erat.

“Sudah saatnya banguuun, kau tidak mau terlambat kan?” ujar appa-nya sambil mengaitkan gorden jendela.

“Hari ini akan menjadi menjadi monoton dan membosankan. Sekolah selalu begitu.” jawab Aihan seraya bangun dan memakain sandal kamarnya.

“Aku mandi!” teriak Aihan setelah sudah berada di dalam kamar mandi.

“Gadis ittuuu…” desah appa dengan senyum kecil.

Rambut Aihan masih basah menetes-netes, itu menyebabkan atasan kemeja putihnya basah. Tapi gadis aneh itu tampak tidak terganggu.

“Cerah. Mataharinya bersinar cerah. Hwah, semoga saja itu pertanda bagus. Oh! Langitnya benar-benar biru! Tak ada setitik awanpun! Oh… Awan itu sedang ingin main petak umpet yaa… Tapi di mana awan bisa bersembunyi?” Aihan terus saja mengoceh hingga memasuki gerbang sekolah.

“Nona Kim! Ikut aku ke ruang guru!” teriak Mr. Cho begitu melihat wajah Aihan di koridor.

Sebenarnya Aihan sudah tahu hal ini pasti terjadi. Bagaimanapun juga… ia telah kabur dari sekolah. Ia memutuskan untuk mendengarkan semua ceramah Mr. Cho dengan sabar dan menjalankan konsekuensinya dengan sepenuh hati.

“Silahkan masuk.” gumam Mr. Cho seraya membuka pintu.

“Leeteuk?” gagap Aihan dengan kaget. Ia kira ia satu-satunya yang terkena masalah, dan…. masa iya Leeteuk melanggar aturan lagi?

“Ah, Aihan.” balas Leeteuk tenang seolah telah menantikan kehadirannya.

“Ekhm… Jadi Aihan, jangan pikir aku tidak tahu bahwa kau kabur dari kelasku kemarin.” mulai Mr. Cho.

“Tentu saja kau tahu. Aku kan meneriakkan kepergianku ke saluruh kelas.” balas Aihan, melipat tangannya di depan dada sambil memutar bola matanya.

“Dan kau diajak kabur oleh Leeteuk. Begitu?” nada bicara Mr. Cho tidak terdengar seperti bertanya.

“Kutebak itu bukan pertanyaan.” gumam Aihan tidak jelas.

“Jadi benar?” tuntut Mr. Cho lagi.

“Apa?! Maksud andaa…”

“Kau kabur dari sekolah bersama Leeteuk? Ya. Itu maksudku.” ujar Mr. Cho menyelesaikan kalimat Aihan sambil memelintir kumisnya.

Aihan menengok ke arah Leeteuk yang duduk tenang di sebelahnya, Aihan berusaha meminta keterangan pada Leeteuk yang bahkan pura-pura melihat ke arah lain.

“Aku berani sumpah bahwa kemarin aku kabur sendirian. Dengar itu? Aku tidak kabur bersama Leeteuk.” sanggah Aihan setelah sadar bahwa nampaknya Leeteuk tak berkenan memberinya keterangan.

“Leeteuk?” tanya Mr. Cho mengalihkan pandangannya ke arah Leeteuk yang masih menatap langit-langit dengan santai.

“Ya pak?”

“Keterangan darimu?”

“Bukankah Serei sudah bercerita pada anda?” jawab Leeteuk, masih santai. Kebalikan dari Aihan yang benar-benar bingung dengan kejadian kaburnya yang jadi berkepanjangan.

“Ya, sudah. Tapi gadis yang kabur ini berkata bahwa dia kabur sendirian.” jawab Mr. Cho.

“Mana yang anda percayai? Gadis bandel seperti Aihan atau gadis cerdas seperti Serei?” balas Leeteuk dengan senyum kecil.

“A..a..ak..”

“APA KAMU BILANG?!!!” teriak Aihan, menggebrak meja lalu berdiri menghadap Leeteuk yang masih duduk menyampinginya.

“Mana yang anda percayai? Gadis bandel seperti Aihan atau gadis cerdas seperti Serei?” ulang Leeteuk lagi, masih dengan gaya santai.

“Hiyaah!” teriakan Aihan memenuhi ruangan, tapi sejurus kemudian terikan Leeteuk menyaingi kerasnya suara Aihan.

“Kenapa kau menjambakku?” tuntun Leeteuk dengan wajah merah padam.

“Karena kau bilang aku bandel.” jawab Aihan, meniup poninya dengan gaya gangster.

“Itu adalah tindakan anak bandel, kau seharusnya tahu itu!” balas Leeteuk.

Aihan benar-benar tidak mengerti ke mana perginya sikap manis Leeteuk. Tapi ia tidak peduli. Harga dirinya telah diinjak-injak. Dan sekadar informasi, gengsi Aihan benar-benar tinggi.

“Lebih baik kalian mulai menyapu halaman belakang sekolah.” ujar Mr. Cho tegas. Membuat Aihan dan Leeteuk membeku dan menatap Mr. Cho dengan mulut menganga.

“Maksud anda… seluruh halaman?” gagap Leeteuk.

“Ya.”

“Mana mungkin?! Halaman belakang kan luas!” kilah Leeteuk.

“Tidak pulang sebelum beres.”

“Jadi kita bebas pelajaran?” tanya Aihan, kesulitan menutupi nada penuh harap dalam suaranya.

“Ya.” Fyuuh, untung saja Mr. Cho sangat tidak peka, pikir Aihan.

“Yes.” bisik Aihan, mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa sangat bahagia.

“Bisa dimulai sekarang?” tanya Aihan lagi.

“Silahkan.”

Dengan itu Aihan berlari keluar dan menuju ruang janitor untuk mengambil sapu dan segera pergi ke lapangan.

“Hmm… Dari mana sebaiknya kita memulai?” desah Aihan dengan senyum mekar di wajahnya.[]

Ω

Nggak sepanjang biasanya yaa?

Semoga pada suka ya… ohya dan seperti biasaaa, kritik dan saran akan selalu aku nantikan. Syukur-syukur ada yang sukaaa😀

Satu pengumuman lagi…. Chapter ini khusus aku dedikasikan untu temenku A-CHa yang sudah mensupport aku untuk terus mengepost fanfic-ku yang satu ini.

Makasih A-CHaaaa😉

with love,

naminaya~

8 thoughts on “Love Story From Neverland (Part 3)

  1. Aku selalu suka tokoh yg pribadinya 4 dimensi dan Aihan menjawab semuanya! Aku ngefans sm Aihan! celotehannya selalu bikin aku mikir sumpah ajaib bgt ini cewek o.o
    dan dgn liteuk yg mendadak terkesan licik itu aku jadi makin mengantisipasi gimana si 4D Aihan menghadapi liteuk~

    Anticipate next chapter with all the randomness from aihan :3

  2. HAHAHA
    Aku juga kayaknya gak tahan kalo Aihan duduk disebelahku. -__-

    Fanficnya nggak kurang peminat kok~ aku lebih suka Aihan dibanding Aliana, tapi dua-duanya juga kocak!

    Semoga part 4 nya cepet di post~

    • aku juga kayaknya nggak kepengen kalo tokoh yang satu ini beneran jadi nyata-_- hehe, enggaklaaah…. ampuni aku Aihaan!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s