Soul

 Author: bintangdj, Genre: Fantasy, comedy, angst, family, Rating: G, Cast: Lee Hyuk Jae/Eunhyuk, (OC) Cho Ha Young, Cho Kyuhyun, (OC) Hyang Ri Ma, Super Junior member as cameo.

chapter one 
 Problem

Hyuk Jae membuka matanya, menatap langit-langit putih yang masih buram di pandangannya. Putih? Hyuk Jae tahu persis langit-langit kamarnya. Berwarna cokelat kayu dengan 1 lampu yang menggantung. Langit-langit putih dengan lampu yang sangat terang bukanlah pemandangan yang sering dilihatnya, bahkan terangnya lampu itu membuatnya merasa hampir buta ketika ia membuka matanya tadi.

Hyuk Jae berusaha bangun dari kasur yang ditidurinya, tapi saat ia mencobanya kepalanya terasa sangat sakit. Seperti nyeri yang tiba-tiba datang menyerang sebelah kepalanya. Ia meringis sebentar sampai akhirnya ia berhasil duduk di kasur yang menurutnya tidak empuk itu. Bahkan kasurnya sendiri tidak sesempit itu, dan tentu saja lebih empuk dan nyaman. Bantalnya sangat empuk dan nyaman, tapi tidak ada guling yang biasanya ia peluk. Kemana guling kesayangannya itu?

Hyuk jae menoleh kekiri dan ke kanan untuk mencari gulingnya, tapi ia sedikit tertegun dangan jarum infus yang menusuk punggung tangan kanannya. Ia menelusuri selang infus itu hingga melihat kantung infus yang tergantung berisi cairan bening. Benda yang cukup jarang ia lihat sepanjang hidupnya.

Hyuk Jae sama sekali tak terpikirkan dirinya ada dimana sampai ia melihat tubuhnya yang memakai baju berwarna biru muda pucat. Seperti pakaian pasien rumah sakit yang sering ada di drama yang sering ditonton kakaknya.

Rumah sakit?

Tempat itu yang terlintas di kepalanya. Apakah itu sebabnya kenapa kepalanya terasa sangat nyeri? Hyuk Jae meraba-raba kepalanya dan merasakan tekstur kasar perban yang melilit kepalanya. Mungkin terjadi suatu kejadian hingga ia dilarikan ke rumah sakit. Itu yang harusnya ia pikirkan sebelum ia menyadari sesuatu yang sangat aneh.

Kenapa rambutnya sangat panjang? Hyuk Jae menyelipkan jari-jarinya pada rambut hitam lurus yang panjang itu, menyisirnya hingga ujung dengan jari-jari lentiknya. Apa ia tertidur selama itu sampai rambutnya bahkan melebihi bahu dan dadanya? Tidak mungkin.

Hyuk Jae mengalihkan perhatiannya dari rambut panjang yang dimilikinya sekarang, dan matanya kini menjelajahi tubuhnya. Sejak kapan ia punya jari lentik dan tangan yang begitu putih dan halus? Dan perhatiannya akhirnya jatuh pada bagian di bawah lehernya.

Dan sejak kapan ia punya dada yang menyembul seperti perempuan? Hyuk Jae mengerutkan alisnya, dan kedua tangannya ia gunakan untuk menyentuh dadanya. Sekedar pengecekan.

Matanya langsung terbuka lebar saat ia merasakan sensasi empuk dadanya sendiri. Mulutnya terbuka, dan matanya mengedip-ngedip tidak percaya. Sepertinya ia menyadari benda yang kini dipegangnya itu asli.

Aku… menjadi perempuan??

Hyuk Jae yang masih belum begitu percaya, dengan panik meraba-raba wajahnya walaupun ia juga tidak begitu merasakan perbedaan wajahnya. Ia perlu cermin. Ia perlu melihat apakah ini benar-benar dirinya atau bukan.

Namun belum sempat ia berpikir tentang hal itu, pintu kamar yang serba putih terbuka, menunjukkan seorang perempuan berseragam sekolah yang sangat terkejut melihat Hyuk Jae yang sedang terduduk di kasur rumah sakit.

Perempuan itu menutup kedua mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dengan mata yang melebar. Hyuk Jae yakin mulutnya juga terbuka lebar dibalik telapak tangannya itu.

Tapi yang ia tidak yakin adalah, keinginannya agar perempuan itu tidak mendekatinya. Ia sedang berada di dalam keadaan yang sulit dan jika perempuan ini mendekatinya dan menanyakan macam-macam, Hyuk Jae juga tidak akan bisa menjawab apapun selain kebingungannya yang semakin bertambah.

Dan benar saja, perempuan itu berlari dan segera memeluknya. Hyuk Jae berusaha menghindarinya, tapi sepertinya usahanya tidak berhasil. Ia hanya berdoa semoga tidak ada kejadian buruk lain yang menimpanya jika perempuan itu menyentuhnya.

Pelukan perempuan itu sangat erat dan lama, membuat Hyuk Jae menghela napasnya saat menunggu dekapan itu terlepas. Tapi bukan itu yang didapatkannya, perempuan itu tetap memeluknya, bahkan ia merasakan pundaknya yang basah. Perempuan itu menangis.

“Ha Young-ah. Aku hampir saja jantungan saat mendengar kau masuk rumah sakit”

Suara itu terdengar sedikit serak, dan Hyuk Jae tak bisa menjawab apapun selain hanya mendengarnya. Ia bahkan tidak tahu siapa orang yang memeluknya erat sekarang. Dan ia juga tidak tahu siapa itu Ha Young.

“Sudah satu minggu kamu tertidur dan kupikir kamu tak akan bangun”

Hyuk Jae masih terdiam, masih banyak pikiran yang saat ini ada di dalam pikirannya. Dan akhirnya rengkuhan perempuan itu terlepas. Matanya basah dan sedikit membengkak. Menunjukkan apa yang dilakukannya selama seminggu penuh adalah menangis. Perempuan itu menatap Hyuk Jae yang alisnya sedikit terangkat, tampak seperti orang bingung.

“Jawab aku Ha Young-ah. Aku tahu kamu masih belum memaafkanku, tapi kumohon setidaknya berbicaralah padaku”

Suara itu masih serak, dan sesekali sesengukan karena ia masih mengeluarkan air matanya. Tapi Hyuk Jae, ia benar-benar tidak tahu harus melakukan hal apa. Ia hanya bisa menatap balik perempuan di depannya.

Perempuan itu merasa sedikit aneh dengan ekspresi teman di depannya “Ha Young-ah… kau tahu siapa aku kan? Aku Ri Ma”

Dengan reflek Hyuk Jae menggeleng, membuat Ri Ma terkejut. Hyuk Jae tahu ia tak seharusnya melakukan itu dan ia menyesalinya, apalagi setelah itu Ri Ma terburu-buru menuju pintu dan memanggil-manggil dokter.

paboya” Hyuk Jae memukul kepalanya sendiri, lupa dengan lukanya yang terbalut perban. Membuatnya meringis dan pada akhirnya kembali mengelus kepalanya sendiri.

Perhatian Hyuk Jae tertuju pada tas milik Ri Ma yang baru saja ditinggalkannya. Tas itu terlihat penuh barang, tapi ia tidak begitu memedulikan bagaimana tas itu terlihat gemuk. Ia hanya memperhatikan benda yang menyembul keluar dari risleting tas itu. Sebuah cermin.

Hyuk Jae tersenyum penuh arti, dan menengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada tanda-tanda kedatangan Ri Ma ataupun dokter. Karena itulah ia segera mengambil cermin kecil itu tapi malah membuat tas itu terjatuh, dan benda-benda di dalamnya berhamburan keluar.

Aissh

Hyuk Jae terlalu malas untuk membereskannya sehingga ia hanya melihat benda-benda yang berceceran di lantai. Dan menurutnya, benda-benda yang dibawa perempuan bernama Ri Ma itu kurang wajar untuk dibawa oleh seorang pelajar.

Sekantung alat make-up, lebih dari 5 majalah remaja, beberapa boneka, dvd-dvd drama dan film, buku tulis, dan tempat pensil. Apa yang di pikiran Hyuk Jae hanyalah, apakah sekolah tempat bermain-main bagi perempuan itu?

Hyuk Jae menolehkan kepalanya ke tempat lain dan menyadari deretan boneka sejenis dari dalam tas Ri Ma berjejer di depan jendela. Bahkan di meja pojokan terdapat tumpukan majalah yang sepertinya bertanggal sejak seminggu yang lalu. Yang ia sadari lagi, mini dvd player dan beberapa dvd tertumpuk di sebelah majalah itu. Disusun rapi seolah tak pernah digunakan semenjak ditaruh disana.

Semua hal itu cukup membuat Hyuk Jae menyadari bahwa selama seminggu ini Ri Ma adalah orang yang menjenguknya. Ah, bukan dirinya tapi seseorang yang ia pakai tubuhnya.

Walaupun ia belum melihat cermin untuk meyakinkan dirinya sendiri, tapi ia cukup yakin bahwa dirinya memasuki tubuh seseorang. Seorang perempuan yang bernama Ha Young. Perempuan yang entah bagaimana masuk rumah sakit dengan luka di kepalanya dan tertidur selama seminggu. Kira-kira itulah informasi yang ia dapatkan sedari-tadi. Dan ia juga cukup yakin kalau Ri Ma, seseorang yang sepertinya mengenal Ha Young mungkin adalah sahabatnya.

Merasa sudah cukup lama melamun, Hyuk Jae akhirnya mengangkat cermin yang dipegangnya sejajar dengan wajahnya. Cermin itu cukup kecil sehingga ia harus menjauhkan sedikit cermin itu dari wajahnya yang akhirnya terlihat jelas di permukaan cermin kecil itu.

“HUWAAAAAAA!!!!!!”

Jeritan itu segera meluncur dari mulut Hyuk Jae. Padahal, yang dilihatnya bukan setan atau zombie, melainkan sesosok wajah berkulit putih pucat, dengan bibir berwarna serupa, mata yang agak sipit tapi sayu, dan pipi yang tembam. Ciri-ciri standar perempuan korea, yang menurut Hyuk Jae tidak begitu cantik tapi juga tidak jelek. Tapi yang menyebabkan ia menjerit hanya karena ia belum siap.

Ia belum siap menyadari kalau dirinya ada di dalam tubuh seorang perempuan

 

Sekitar seminggu yang lalu

“Panas…”

Lee Hyuk Jae, yang hanya merebahkan kepalanya diatas meja hanya memperhatikan temannya yang sedang mengipas-ngipas wajahnya yang bercucuran keringat. Musim panas kali ini lebih panas dari biasanya, mengingat musim dingin yang lalu juga lebih ekstrim. Bahkan anginpun tak datang melewati jendela kelas mereka, membuat pengap ruangan kelas yang tak bisa dibilang besar itu.

“Donghae-ya… daripada mengipas dirimu, lebih baik kipasi aku juga”

Laki-laki itu akhirnya membuka mulutnya karena bosan mendengar temannya yang sudah mengeluhkan kata ‘panas’ lebih dari 10 kali dan masih sibuk mengipas dengan bukunya yang sedikit remuk karena dikibas berkali-kali. Tapi Hyuk Jae tidak memedulikan hal itu, karena ia tahu temannya itu tak pernah mencatat lebih dari 1 lembar. Buku tulisnya itu tidak berarti apa-apa.

“Lebih baik kalau kamu datangi ruang kepala sekolah dan pindahkan Acnya ke kelas kita” Balas Donghae, masih mengipas sampai Shindong mengambil buku tulis itu dari tangan Donghae. Donghae berniat mengambilnya kembali dari tangan Shindong, tapi posisinya yang duduk membuatnya tidak mencapai tinggi badan Shindong.

“Itu alternatif bagus, apalagi jika kau benar-benar melakukannya. Aku akan senang karena kau akan menghilang dari sekolah ini beberapa hari” Ucap Shindong dengan tawa renyahnya, meskipun itu sama sekali tidak lucu menurut Hyuk Jae, Donghae tertawa sangat puas sampai lupa dengan rasa pengapnya. Sedangkan laki-laki yang jadi sasaran candaan hanya mengangkat ujung bibirnya dengan malas.

“Setidaknya aku bisa menikmati AC kamarku sendiri selama beberapa hari diskors itu” Balas Hyuk Jae yang akhirnya mengangkat kepalanya dari atas meja, menatap Shindong yang tertawa mendengar lelucon yang sebenarnya juga tidak lucu dari Hyuk Jae.

Ya! Itu tidak lucu!” Donghae berniat memukul Hyuk Jae pelan dengan tangannya tapi Hyuk Jae dengan cepat menghindar. Membuat Donghae kesal karena tidak bisa mengenai sasarannya.

Hyuk Jae menahan tawanya melihat Donghae dengan ekspresi kesalnya dan akhirnya berdiri untuk segera keluar dari kelas yang pengap dan panasnya seperti oven itu.

Ya! Hyuk Jae! Mau kemana?” Teriak Donghae dengan suara yang cukup keras. Karena Hyuk Jae sendiri sudah mencapai pintu kelas yang berwarna kecokelatan.

“Mencuri AC” Ucapnya jahil dan langsung menghilang di balik pintu. Donghae hanya meringis karena ia tahu Hyuk Jae hanya menggodanya, dan Shindong kembali tertawa mendengar hal itu.

Hyuk Jae berjalan menyusuri koridor sambil menatap langit cerah musim panas melalui jendela. Langit yang sangat biru itu malah membuatnya menyipitkan mata, karena sinar matahari begitu menyilaukan tidak tertutup awan.

Pandangannya sekarang turun pada pohon besar yang tepat berada di belakang tembok beton sekolahnya, tempat yang ia tuju sekarang. Daerah itu memang bukan daerah sekolahnya lagi, tapi tempat itu sejuk, nyaman dan sepi. Hyuk Jae menganggapnya tempat rahasianya karena tempat itu tempat yang cukup tersembunyi.

Tapi ia menghentikan langkahnya karena ia melihat beberapa murid sekolah yang berbeda seragam dengannya berkumpul di bawah pohon tempat rahasianya itu.

“Anak sekolah lain?” Gumam Hyuk Jae sambil memperhatikan mereka. Ada sekitar 3 anak laki-laki dan seorang perempuan. Eunhyuk terus menontonnya sambil menopang dagunya dengan telapak tangannya.

Tapi kepalanya tiba-tiba terangkat saat melihat salah satu laki-laki yang kelihatannya ketuanya itu menampar si perempuan, membuat perempuan itu terduduk di akar pohon yang besar itu.

Kekerasan dalam sekolah?

Pikir Hyuk Jae, namun ia segera menghapus itu dari kepalanya saat menyadari tempat itu bukan area sekolahnya, apalagi area sekolah mereka. Tapi melihat kekerasan semacam itu membuatnya tak bisa diam saja. Dengan kakinya yang kurus, ia berusaha berlari secepat mungkin mencapai tempat rahasianya itu.

Hyuk Jae sudah hampir mencapai tempat yang seharusnya sejuk, tenang, dan nyaman. Tapi ia sama sekali tidak terpikir tentang hal itu sekarang. Situasi yang didapatkannya saat ini sangat berbeda jauh dari beberapa hari yang lalu saat ia menikmati rindangnya pohon diatasnya sekarang. Hanya saja ia belum benar-benar sampai, ia hanya tinggal memanjat tembok beton di depannya.

Dengan agak terburu-buru, Hyuk Jae berusaha memanjat tembok beton itu. Ia lupa satu hal. Biasanya ia harus berlari, melompat dan berpegangan pada bagian atas tembok beton sampai akhirnya ia bisa mencapai dahan besar pohon yang rindang itu. Memanjat dengan terburu-buru hanya akan membuatnya jatuh sia-sia.

Setelah mengulangi cara memanjatnya, Hyuk Jae berdiri diatas dahan besar pohon itu. Melihat jelas kejadian di bawahnya. Sekarang laki-laki itu sedang berbicara dengan kasar dengan perempuan di depannya. Hyuk Jae memperhatikan wajah laki-laki itu karena pernah merasa mengenalnya, dan ia berhasil mengingatnya.

Kim Young Woon. Nama lainnya Kangin. Salah satu pemimpin geng berandal yang lumayan terkenal. Dan kabarnya SMA Ha Neul, sekolah Kangin sedang berusaha menaklukan SMA Param, sekolah Hyuk Jae yang berkepalakan berandal Kibum. Karena di daerah sini hanya sekolah Param yang belum ditaklukan oleh Kangin, jadi berita ini cepat sekali beredar. Bahkan Hyuk Jae yang tidak begitu peduli dengan urusan anak-anak berandal juga mengetahui hal ini.

Sedikit muncul rasa takut dalam diri Hyuk jae saat mengenali Kangin. Tapi, ia sudah sampai disini dan ia akan merasakan dirinya sendiri menjadi pengecut jika ia hanya terdiam disini. Pada akhirnya, sambil memutuskan ia akan menolong perempuan itu atau tidak, Hyuk Jae memperhatikan perempuan berambut panjang hitam yang sedang terduduk itu.

Aneh. Hanya itu yang terbesit dalam diri Hyuk Jae. Sedikit aneh memang, melihat perempuan yang sedang dalam situasi seperti ini hanya terdiam tanpa secuil rasa takut. Wajahnya normal, berkulit putih sedikit pucat, bibirnya tidak begitu kemerahan, mata yang lumayan sipit dan yang paling mencolok adalah pipinya yang tembam dan sedikit memerah karena tamparan tadi. Yang aneh hanyalah wajahnya yang tanpa ekspresi. Harusnya ia merasa marah, ketakutan atau perasaan apapun itu. Hal itu membuat Hyuk Jae terdiam di tempatnya.

“Kau pikir aku akan takut denganmu?”

Suara yang cukup tegas itu keluar dari bibir perempuan tadi. Sekarang perempuan itu mengangkat ujung salah satu bibirnya, tersenyum mengejek.

“Dengan semua yang kau lakukan padaku di sekolah, dan sekarang kau mau mengancamku di tempat sepi, kau pikir aku akan berlutut padamu? Jangan bercanda”

Ucap perempuan itu cukup berani. Hyuk Jae penasaran darimana keberanian itu bisa keluar dari dalam perempuan itu, tapi ia tak sempat memikirkannya lagi karena Kangin sudah bersiap untuk melakukan hal yang lebih kejam lagi pada perempuan itu.

Hyuk Jae yang sedikit panik, tanpa terpikir lagi ia melompat dari atas pohon rindang yang tinggi itu, tepat diatas Kangin. Semua yang ada disana, kedua teman Kangin termasuk perempuan itu melebarkan matanya ketika melihat sesosok manusia yang jatuh tepat diatas tubuh kangin yang sekarang tengkurap diduduki Hyuk Jae.

Hyuk Jae yang sebenarnya belum siap berada di ‘medan pertempuran’ hanya tersenyum canggung, dan melambaikan tangannya kepada perempuan yang ada di depannya dengan sapaan “hai” yang membuatnya lebih terlihat bodoh.

Semuanya yang ada disitu, termasuk Kangin sendiri hanya terdiam karena tidak menyangka adanya kejadian ini disaat mereka membully di tempat sepi seperti ini.

Hyuk Jae yang akhirnya berani untuk bergerak, ia berdiri dan membungkuk pada kedua teman Kangin dan mengisyaratkan pada perempuan itu untuk segera kabur. Perempuan itu tak menyadari apa maksud Hyuk Jae dan pada akhirnya hanya memalingkan wajah dari Hyuk Jae.

Saat Hyuk Jae bermaksud memberi isyarat lagi, ia merasakan pundaknya yang dipegang seseorang. Tanpa harus menengok, Hyuk Jae sudah tahu siapa itu.

Ya, kau pikir siapa dirimu bisa berbuat hal seperti ini padaku?”

Suara berintonasi berat itu rasanya seperti membangunkan seluruh bulu kuduk Hyuk Jae. Hyuk Jae hanya bisa menelan ludahnya dan akhirnya berbalik menghadap Kangin dengan wajah percaya diri yang sudah disiapkannya.

“Kupikir aku harus memakai ini sekarang” Ucap Hyuk Jae sambil meremas kedua tangannya membentuk tinju, yang sebenarnya dalam hati ia merasakan ketakutan yang luar biasa karena harus berhadapan dengan sang berandal terkenal di daerahnya. Namun di sisi lain, ia merasa ucapannya sangat keren apalagi diucapkan di situasi yang pas.

Hyuk Jae tahu yang ia lakukan itu tak berguna dan tak merubah apapun, karena beberapa menit kemudian tanpa Kangin perlu meminta bantuan kedua temannya, Hyuk Jae terlempar ke arah pohon tepat di sebelah perempuan itu terduduk.

Hyuk Jae menahan kerasnya lemparan dengan kedua telapak tangannya yang menahan agar tubuhnya tidak menabrak pohon berusia puluhan tahun itu. Tapi Hyuk Jae tidak memperkirakan apa yang setelah itu terjadi. Tubuhnya tak berkutik seketika, dan hanya terdiam di bawah pohon rindang itu. Tak ada yang bisa menjelaskan situasi sebenarnya, hanya saja keempat orang yang melihat peristiwa itu hanya bisa menyimpulkan ia pingsan.

“Bahkan kau melibatkan orang lain” ucap perempuan itu tanpa harus repot mengecek Hyuk Jae yang terlihat tak sadarkan diri.

“Dia yang melibatkan dirinya sendiri” Jawab Kangin sambil membersihkan tubuhnya yang tadi sempat kotor akibat Hyuk Jae. Dan mengingat kembali kejadian itu membuat Kangin kesal karena harga dirinya dijatuhkan apalagi di depan orang yang sedang dia bully.

“Jadi… apakah urusanmu sudah selesai? Kalau begitu aku pergi dulu” Ucap perempuan itu yang akhirnya berdiri dan berjalan pelan menjauhi tempat itu.

YA! CHO HA YOUNG!” Kangin memanggil nama perempuan itu kencang, walaupun perempuan itu sama sekali tidak repot untuk berhenti bahkan menengok. Kangin pada akhirnya hanya bisa mengumpatkan kata Sial.

“Hei, apakah kau benar tentang ia dibully sepanjang 3 tahun SMP?!” Tanya Kangin, sedikit membentak pada temannya.

Ne, aku sangat yakin karena informasi itu didapatkan dari teman satu kelasnya saat SMP dulu” Jawab salah satu temannya itu sedikit takut.

“Kalau begitu bagaimana bisa ia seangkuh itu??!!! Pabo!”

Kangin, dengan kesal ia menendang-nendang batu kerikil yang ada di dekatnya dan berjalan pergi diikuti kedua temannya. Meninggalkan tubuh Hyuk Jae yang terdiam di bawah pohon rindang itu, seolah ia tertidur menikmati sejuknya udara di musim panas.

Cho Ha Young?

Pikir Hyuk Jae, yang tetap melihat dan mendengar semua kejadian tadi. Ia benar-benar melihatnya, tapi dalam sudut pandang yang berbeda. Bukan melalui tubuhnya sendiri, melainkan melalui sesuatu yang sudah menetap disana selama puluhan tahun.

Jiwanya berada di dalam pohon besar itu. Hyuk Jae melihat semuanya, dari sudut pandang yang cukup tinggi di dalam pohon itu.

Ia harusnya tidak menggunakan kedua telapak tangannya untuk menahan tubuhnya tadi. Ia sedikit melupakan tentang kekuatannya. Kekuatannya memindahkan jiwanya sendiri ke benda-benda, juga makhluk hidup lain.

Perantara kekuatannya adalah telapak tangannya, dan ketika ia menyentuh benda-benda itu jiwanya akan segera berpindah. Namun ia sendiri sampai sekarang agak sulit mengontrol kekuatannya, apalagi di situasi seperti tadi.

Ahh… menyebalkan sekali berpindah di situasi seperti tadi. Tapi aku juga tidak bisa kembali, karena jika tadi aku mengembalikan jiwaku, aku bisa dibantai oleh si sapi itu.

Pikir Hyuk Jae masih di dalam pohon tersebut. Ia belum berniat mengembalikan jiwanya seperti semula karena memikirkan perempuan bernama Cho Ha Young tadi. Tentang kepribadiannya, keberaniannya, dan fakta tentangnya yang baru didengarnya tadi. Di bully selama tiga tahun adalah sebuah fakta yang cukup mengejutkan bagi Hyuk Jae.

Hei anak muda, apa yang kaulakukan disini?

Tiba-tiba sebuah suara dari dalam pohon mengejutkan Hyuk Jae. Dan Hyuk Jae teringat ia tak boleh terlalu lama di dalam pohon. Karena semua makhluk hidup mempunyai jiwa, tak baik jika membiarkan 2 jiwa di satu tubuh yang sama. Kecuali yang dimasukinya adalah benda mati.

Maafkan aku pohon ahjussi, aku akan segera keluar

Jawab Hyuk Jae yang lalu berpikir untuk mencari cara agar ia bisa kembali. Perantaranya adalah telapak tangannya, dan pohon tidak bisa bergerak untuk menyentuh tangannya.

Ahjussi, bagaimana caranya agar aku bisa menyentuh tanganku sendiri? Tanya Hyuk Jae pada si pohon.

Kau harus berpikiran panjang anak muda, gugurkan saja daunku agar sampai ke tanganmu.

Gomawo ahjussi!!

Hyuk Jae segera menggugurkan satu daun pohon itu tapi angin membawa daun itu pergi jauh. Hyuk Jae menggugurkan satu lagi tapi jatuhnya malah tepat diatas kepalanya. Ia pun menjatuhkan satu lagi tapi malah jatuh diatas kakinya. Karena kesal Hyuk Jae langsung menggugurkan banyak daun sampai tubuh aslinya sendiri hampir tertutup daun-daun hijau itu. Dan hal itu berhasil, banyak daun yang jatuh diatas telapak tangannya.

Ya! Ya!! Kau bisa membuatku botak nanti!

Hyuk jae tak membalas si  pohon ahjussi dan mengembalikan dirinya ke tubuh aslinya. Dalam sekejap tubuhnya yang tadi tergeletak membuka matanya dan membersihkan daun yang hampir menutupi tubuhnya.

Hyuk Jae tersenyum ke arah pohon itu “Maafkan aku ahjussi, aku akan memberimu pupuk nanti sabagai gantinya”

Hyuk Jae menepuk-nepuk batang pohon yang amat besar itu dengan tangannya. Kali ini tidak terjadi apapun, karena Hyuk Jae sendiri yakin ia menahan kekuatannya itu.

Hyuk Jae akhirnya terduduk lagi dan kali ini bukan diatas akar pohon yang keras. Daun yang digugurkannya tadi menciptakan sensasi yang lumayan empuk untuk bokongnya, dan Hyuk jae memutuskan untuk duduk sebentar disana. Menikmati angin semilir dan tempat sejuk yang tak terjangkau matahari itu.

Tanpa disadari seekor kucing tiba-tiba melompat ke pangkuannya, dan Hyuk Jae reflek menangkapnya dengan telapak tangannya.

“Hei, apa yang kau lakuka –“

Dan seketika tubuh Hyuk Jae kembali tak berjiwa. Semua protesnya untuk kucing yang tadi melompat ke arahnya berubah menjadi “Meow” yang sangat imut.

                   
Thanks to itsredpenguin for the poster!
–> jujur aku malu banget klo yg bikin poster ini baca ceritanya. Kumohon jangan baca >.<
Bisa dibilang ini dipost sekarang buat anniversary Super Junior, tapi agak telat emang -_- aku tahu kok.
Dan yang mengharapkan angst di chapter awal ini mungkin kurang beruntung karena kayaknya lebih banyak unsur comedy.

2 thoughts on “Soul

  1. Gaya nulismu makin berkembang bin! narasinya rapi enak dibaca
    Ini ceritanya ngasih feel drama bgt, aku udah kebayang moodnya ceritanya gimana~ terus scene terakhirnya langsung close up hyukjae yg pingsan mendadak terus sountracknya mulai dan preview episode kedua muncul (?) *k-drama mode on*

    btw posternya keren bgt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s