Mutual Feelings – Part I

Part I

Word count: 5.783

_________________________________________________________

Chan Yeol

“Kau—tidak kesepian?” Aku menghampiri So Hee yang duduk di bawah pohon memakan roti bungkusnya sendirian, cukup mencolok karena hanya dia satu-satunya yang makan sendirian diantara puluhan murid lainnya yang bercengkrama dengan masing-masing teman mereka.

So Hee tanpa menatapku sedikit pun hanya mengunyah rotinya tetap dengan tenang seperti tidak berminat menjawab pertanyaanku. Aku menghela napas dan duduk di sebelahnya “Kau tidak kesepian!? “ Aku berteriak tepat di samping telinganya.

So Hee memutar bola matanya dan akhirnya mau menatapku “Apa aku terlihat kesepian di matamu?”

“Hmm..sejujurnya iya.” Aku berkata jujur sekalipun tahu dia memang penyendiri, tapi penyendiri di sekolah biasanya berdiam di perpustaan atau kelas saat jam istirahat, bukannya di tengah halaman begini, hal ini yang membuatnya makin terlihat kesepian.

“Matamu salah, kalau kau terganggu aku di sini, baiklah aku akan pergi.” So Hee segera beranjak dan berjalan meninggalkanku yang masih terdiam, sungguh aku tidak mengerti, apa aku terlihat terganggu? Apakah pertanyaanku membuatnya merasa terusir?

“So Hee!” Aku berteriak berusaha mendapatkan kembali perhatian yang mahal itu, tapi menjadi Ahn So Hee dia sama sekali tidak membalikkan badannya, tetap berjalan sama sekali tidak menganggapku.

“Yeol! Sudahlah perempuan itu jelas membencimu tidak ada gunanya kau memanggilnya.”  Seseorang menepuk bahuku, masih dengan wajah mengerut aku menengokkan kepalaku dan melihat Min Seok yang menyeringai seperti senang melihat temannya sendiri dibenci seseorang. Aku mendengus dan segera berdiri “Kau benar dia membenciku, tapi aku Park Chanyeol tidak akan berhenti memanggilnya sampai dia mau menjelaskan alasannya.”

Min Seok segera tertawa mendengar kalimatku “Aku sudah mendengar kalimat itu sepuluh kali dan kau sama sekali tidak membuat perkembangan.” Ia berjalan meninggalkanku dan menghampiri teman-temannya yang lain.

Tepat sebelum aku berjalan menuju gedung sekolah tiba-tiba Min Seok berteriak “Yeol! Ayo main bola! Jangan lesu seperti itu!”

Lesu? Park Chan Yeol lesu? Aku segera menganggukkan kepalaku dan berlari menuju lapangan, kali ini lupakan saja So Hee, waktuku akan habis percuma memikirkan perempuan yang tak bisa dimengerti itu!

~//~

Bel pulang sekolah berbunyi aku segera berlari menghampiri kelas sebelah menjemput kekasihku Rang Bi yang kebetulan sekelas dengan So Hee.

“Tunggu sebentar Yeol! Lima meniiit saja.” Rang Bi memohon padaku yang baru saja masuk kelas mereka, aku hanya mengangguk dan memilih duduk di pinggir jendela tempat kesukaanku sekalipun tepat di belakangku masih ada So Hee duduk masih menuliskan sesuatu di bukunya.

Lima menit aku menunggu dan Rang Bi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan berhenti mengobrol dengan teman perempuannya, aku menghela napas dan memutuskan membalik badanku untuk berbicara dengan So Hee. “So Hee?”

So Hee tidak menggubrisku, begitu aku ingin memanggilnya lagi ia hanya menggumam. Aku berdehem dan memandangnya hati-hati sekalipun sedikitpun ia tidak memandangku balik  “Minggu depan noona ulang tahun, kau bisa datang?” Ini merupakan topik teraman yang bisa kubicarakan dengan So Hee mengingat ia cukup dekat dengan kakak perempuanku.

So Hee berhenti memegang pensilnya dan menatapku, tidak terbiasa dengan tatapan yang memancarkan aura benci itu aku mengalihkan pandanganku dan menggaruk-garuk kepala yang tiba-tiba terasa gagal. “Ka-kalau kau tidak mau tidak apa-apa..”

“Aku mau.” So Hee menjawab sambil berdiri dari kursinya, sebelum sempat aku tersenyum lega mendengar jawaban positif darinya So Hee kembali melanjutkan kalimatnya tidak rela membiarkanku merasa senang “ Tapi ketika kau pergi.” Ia berjalan keluar kelas lagi-lagi selalu meninggalkanku dalam kondisi speechless.

“Chan Yeol! Ayo kita pulang!” Rang Bi berkata di saat yang tepat, aku segera mengangguk dan berdiri membiarkan Rang Bi memeluk lenganku sekalipun aku pernah protes karena aku tidak suka wangi parfumya yang sampai detik ini juga belum diganti olehnya.

Perjalanan pulang bersama Rang Bi berjalan seperti biasa sampai tiba saat aku berhenti di depan rumahnya.

“Chan, aku melihatmu duduk di bawah pohon dengan So Hee siang tadi.” Ia berkata pelan seolah itu sebuah hal yang harus disembunyikan, aku menaikkan sebelah alisku merasa aneh dengan pembahasan topik ini, semua orang tahu aku dan So Hee teman masa kecil jadi tidak aneh lagi jika aku bersama dengannya yah meskipun hanya aku yang terus berinisiatif.

“Hmm—aku menemaninya makan siang sendirian tapi tidak lama, ia segera pergi menghindariku, kau tahu kan So Hee membenciku?”

Rang Bi menghela napas, tangannya meraih jemariku, sambil menggenggamku ia menundukkan kepalany “Aku tahu So Hee membencimu, tapi aku bingung kenapa kau tidak balas membencinya?”

Aku memiringkan kepalaku lalu mengangkat dagunya, aku butuh kontak mata sekarang. Rang Bi menggigit bibirnya sebelum ia berkata “Maksudku, coba kau lihat, kau sama sekali tidak melakukan kesalahan apa-apa tapi dia bersikap seperti kau baru saja membunuh kedua orang tuanya!”

“Rang Bi—itu berlebihan.” Aku menatapnya serius, kurang suka dengan perumpamaan yang ia pakai, aku tahu orang tua So Hee terlalu sibuk membuat mereka sering meninggalkan anak gadisnya itu sendirian, dan sebagai satu-satunya teman yang tahu akan hal itu hal yang kulakukan adalah tidak akan meninggalkannya, sekalipun So Hee membenci hal itu.

“Aku tidak berlebihan! So Hee yang berlebihan! Dia tahu aku pacarmu tapi dia terus membencimu! Apa dia pura-pura? Apa sebenarnya dia hanya ingin mendapat perhatianmu?” Rang Bi mulai lagi mengambil kesimpulan-kesimpulan konyol yang membuatku menggelengkan kepala, pacarku tiba-tiba berubah jadi kekanakan begini.

“Rang Bi hentikan, kalau itu maumu, besok aku tidak akan menghampiri So Hee lagi.” Aku mengatakan kalimat yang aku sendiri tidak yakin apa aku bisa memegangnya atau tidak, tapi setidaknya kalimat itu membuat Rang Bi mengunci mulutnya dan mengangguk.

Ia mengecup pipiku dan membuka pagar rumahnya, tanpa melambaikan tangan dia memasuki rumahnya. Aku meniup poniku dan menggosok-gosok telapak tangan yang terasa membeku, musim dingin sudah dekat, terasa begitu cepat mengingat tahun ini akan menjadi tahun ketiga So Hee membenciku.

~//~

Aku dan So Hee bertetangga sejak kecil, sejak TK lebih tepatnya. Hari pertama pertemuanku dengannya masih terekam jelas di otak, cukup aneh melihat nilai sekolahku yang tergolong di bawah rata-rata masih bisa mengingat hal lama seperti itu. Aku melihat So Hee turun dari mobilnya membawa ferret yang langsung menarik perhatianku yang memang pecinta binatang.

“Kau suka ferret?” Aku bertanya antusias sekalipun saat itu kami belum mengenal satu sama lain.

“Aku suka, dan perkenalkan namaku Ahn So Hee.” Ia mengangguk dan tersenyum lalu menjulurkan tangannya. Aku membalas senyumannya dan segera menjabat tangannya dengan semangat menggoncangkannya dua kali “Dan aku Park Chan Yeol!”

Dan begitulah, tipikal anak kecil kami berdua segera menjadi teman dekat apalagi kami memiliki kesamaan soal menyukai binatang. So Hee selalu mengikutiku, mungkin karena aku terlihat seperti sosok kakak untuknya. Tidak ada hari tanpa So Hee mengekoriku, ia selalu memegang tanganku mempercayakan diri sepenuhnya padaku untuk membawanya kemanapun. Dan aku yang memang nyaman dengan So Hee yang selalu di sebelahku selalu membawanya pergi bermain, tidak peduli kegiatanku bermain bola yang ujungnya membuat So Hee hanya bisa jadi penonton. Hal ini berlangsung cukup lama, bertahun-tahun sampai kami menginjak awal remaja. Dan di sinilah aku menyadari sesuatu, aku menyukai So Hee.

Meskipun aku terkenal dengan pribadi blak-blakan tapi soal menyatakan perasaan, kemampuanku nol. Aku jadian dengan Rang Bi juga karena ia menyatakan perasaannya duluan padaku. Tunggu, kalian pasti bertanya kenapa aku jadian dengan Rang Bi kalau aku menyukai So Hee? Jawabannya adalah perubahan. Mungkin terlalu ambigu tapi memang seperti itu kenyataannya; So Hee tiba-tiba berubah. Berubah dalam artian cara ia bersikap padaku. Semuanya terjadi begitu mendadak sampai aku tidak mengerti harus menganilis dari mana kesalahanku. Apa karena kucingku memakan ikan peliharaannya? Tapi aku yakin So Hee sudah memaafkanku saat itu. Apa karena aku sering membuka pintu rumahnya tanpa menutup kembali membuat kucingnya sering kabur? Tapi kucing So Hee selalu kembali (meskipun setelah satu minggu). Apa—sudahlah, aku tidak mengerti. Dan singkat cerita, perasaanku pada So Hee memudar, aku juga tidak tahu kenapa, tapi dibenci orang tanpa alasan yang jelas membuatku berpikir menyukai perempuan ini tidak ada gunanya karena ia tidak akan membalas perasaanku, ya tapi bagaimanapun juga So Hee temanku, dan aku tidak bisa meninggalkannya, bahkan untuk Rang Bi sekalipun.

~//~

So Hee

Kedua orang tuamu pulang dari Hokkaido hari ini setelah sebulan mengelilingi Jepang akhirnya mereka ingat mereka punya anak yang ditinggalkan di Seoul. Kamu tidak bisa marah atau pun protes karena kamu tahu jika kamu jadi mereka kamu juga akan melakukan hal yang sama, bekerja dan bekerja melakukan hal yang kamu suka, ya itulah resiko memiliki seorang orang tua penulis yang menjadikan jalan-jalan keluar sebagai alasan mereka mencari inspirasi.

“So Hee coba liat apa yang ibu bawa dari Hokkaido!” Ibu membuka seluruh belanjaan dari kopernya membuatmu mengumpat karena ujung-ujungnya dirimu lah yang akan membereskan semua.

Wakasaimo! Makanan kesukaan keluarga Park!” Ia mengangkat Wakasaimo; ubi panggang oleh makanan khas Hokkaido yang selalu menjadi favorit keluarga Park, tetangga depan kalian. Kamu menghela napas, tiba-tiba firasatmu tidak enak pasti sebentar lagi ibu akan menyuruhmu melakukan sesuatu—

“ Nah sekarang kamu antarkan ini ke mereka!” Nah benar katamu.

Kamu meniup poni dan memilih menuruti keinginan ibu yang kamu tahu, kamu tidak mungkin menang kalau debat dengannya, ia tahu kamu membenci Chan Yeol dan kamu yakin ia sengaja menyuruhmu melakukan hal ini.

Akhirnya dengan kedua alis bertaut kamu berjalan menuju rumah mereka yang jaraknya hanya 15 meter dari rumah kalian. Kamu memejamkan mata dan menekan bel rumah mereka, dalam hati kamu berdo’a semoga Chan Yeol yang membuka pintu. Dan bukan, bukan karena kamu ingin melihat wajahnya atau apapun itu tapi Chan Yeol satu-satunya orang yang akan membiarkanmu pergi begitu pembemberian oleh-oleh ini selesai, jika Yu Ra-unnie atau Ibu Park yang membuka pasti mereka memaksamu masuk ke dalam tidak peduli alasan apapun yang kamu pakai untuk menolaknya.

“So Hee!”

Kamu merutuki nasibmu dalam hati, tapi sebagai orang yang tahu sopan santun kamu tetap memasang senyum dan menjulurkan sekotak Wakasaimo padanya. Mata Yu Ra-unnie membelalak dan kedua bibirnya sudah tersenyum lebar, ia sudah tahu apa isinya tanpa perlu kamu jelaskan. “Orang tuamu sudah pulang!? Dan wow! Mereka membawa pulang Wakasaimo!”

“Kami masih punya banyak di rumah, kalau unnie mau datang saja, sudah ya aku per–“

“Hei hei kamu mau kemana? Ayo minum teh dulu!” Yu Ra-unnie menahan lenganmu, kamu menelan ludah dan memilih pasrah membiarkannya menarikmu masuk.

Rumah keluarga Park masih sama, tidak ada yang berubah bahkan kursi goyang yang sudah reyot itu masih berada di letak yang sama sekalipun dulu pernah membuatmu dan Chan Yeol jatuh karena tidak sanggup menahan beban kalian berdua yang menjadikan kursi itu sebagai kapal bajak laut dalam permainan kalian.

“Ayo duduk dulu, akan kubuatkan teh dan kita bisa mengobrol banyak.”

Kamu mengangguk dan duduk di kursi makan mereka, matamu menelusuri beberapa foto berbingkai yang terpanjang di dinding mereka, banyak kenangan yang membuatmu ingin muntah. Kamu memejamkan matamu, kepalamu terasa sakit mengingat kenangan yang tiba-tiba terputar di otak karena ruangan ini ruangan yang mengingatkanmu pada semuanya.

Flashback

“Hei Yeol, So Hee mana? Biasanya dia selalu mengekorimu.” Baek Hyun teman sekelas Chan Yeol menyebut namamu, kamu segera bersembunyi di balik lemari kaget ada Chan Yeol di sini, setahumu Chan Yeol bilang ada kelas tambahan yang harus dihadirinya membuatnya tidak bisa menemanimu bermain.

“Aku berbohong padanya, aku bilang aku ada kelas tambahan, capek tahu punya seorang penguntit  seperti dia!”

Kalimat Chan Yeol membuat napasmu tercekat, kamu menggigit bibir dan berusaha tetap berdiri sekalipun lututmu terasa begitu lemas, “Pasti aku salah dengar” Yakinmu dalam hati.

“Penguntit? Kukira selama ini kamu senang ada gadis semanis So Hee mengikutimu kemana-mana.”

Chan Yeol tertawa seolah pertanyaan Baek Hyun itu sebuah lelucon lucu, sedangkan kamu meringis, tanganmu terkepal, kamu berusaha mengalirkan semua emosimu dengan mengepal tangan bukan menangis.

“Tidak, selama ini aku bersabar ia terus mengikutiku, kamu tahu So Hee sebenarnya sangat menjengkelkan, dia cengeng dan manja tidak bisa berbuat apa-apa kalau tidak ada aku di sampingnya, pokoknya perempuan seperti dia sangat merepotkan!”

“Benarkah? So Hee seperti itu?”

“Ya benar! Dan lagi…”

Kalimat selanjutnya tidak kamu dengarkan lagi, kamu memilih segera berjalan keluar dari rumahnya. Daripada menimbulkan efek dramatis dengan muncul di tengah percakapan mereka kamu memilih pergi dan membiarkan Chan Yeol tidak menyadari kamu mendengar dialog terlarangnya dengan Baek Hyun.

Dan semenjak hari itu, hubungan kalian berdua berubah.

#

“So Hee?” Kamu otomatis menengok mendengar namamu terpanggil dan melihat Chan Yeol yang baru keluar dari toilet memandangmu kaget, kamu segera memutar bola mata dan memilih mengabaikannya, hal yang kamu lakukan sejak tiga tahun yang lalu.

“Hanya mengantar oleh-oleh.” Kamu menjawab singkat sebelum ia kembali bertanya.  Yu Ra-unnie masih membuatkan teh dan kamu mulai curiga apa ia sengaja berlama di dapur untuk membiarkanmu dan Chan Yeol berdua?

Wakasaimo!” Chan Yeol berseru begitu melihat kotaknya di atas meja makan. Kamu mendengus dan pura-pura sibuk dengan ponselmu sekalipun kamu hanya asal menekan. Bukannya pergi dan mengambil kotak itu pergi Chan Yeol malah duduk di sebelahmu membuat wangi lavender dan madu yang tercampur tercium kuat, dulu kamu memang suka wangi shampoonya tapi sekarang wangi itu menjadi daftar terakhir yang ingin kamu cium di dunia ini.

“Ingin makan malam di sini?” Chan Yeol bertanya padahal jelas kamu sudah memasang tatapan jangan-berani-bicara-padaku. “Kubilang hanya mengantar oleh-oleh.” Jawabmu jengkel.

Akhirnya menghindari Chan Yeol kamu beranjak dari kursi untuk membantu Yu Ra-unnie yang menyebalkannya dia sudah selesai tepat saat kamu berdiri “Nah selesai! Aku buat tiga gelas karena sepertinya Chan Yeol akan ikut makan.”

“Ahh! Aku benar-benar mengindamkan ubi ini sejak minggu lalu! “ Chan Yeol berkata dengan semangat yang makin membuatmu dongkol karena kamu baru saja menyenangkan hatinya.

Yu Ra-unnie terkekeh dan mengambil posisi di depanmu padahal kamu berharap dia akan mengusir Chan Yeol. Kamu menghela napas dan kembali duduk lalu menyeruput teh yang panasnya membuat lidahmu terbakar. Chan Yeol dan kakaknya benar-benar terlihat gembira, mungkin karena kakaknya baru pulang sejak berbulan-bulan keluar kota untuk kepentingan pekerjaannya, dan sebagai orang baik kamu tidak akan merusak momen mereka sehingga kamu memilih duduk dan sekali-kali membuka mulut begitu Yu Ra-unnie bertanya soal sekolah yang tentu begitu Chan Yeol menimpali kalimatmu kamu langsung diam, meskipun kurang sopan bagaimanapun juga kamu tidak bisa menoleransi laki-laki seperti Chan Yeol.

“Dan Yeollie! Kamu tahu kan pestaku tahun ini privat jadi jangan mengundang pacarmu!”

Chan Yeol mendesah tapi tidak terlihat bermasalah soal peringatan kakaknya “Aku tahu, lagipula aku berencana memutuskan hubungan dengan Rang Bi.”

Kedua mata bulat Yu Ra-unnie membelalak kaget, dan kamu bersyukur kamu memiliki kemampuan poker face sehingga rasa kagetmu sukses tersembunyikan. “Kenapa?” Kakaknya bertanya.

Chan Yeol diam dan menggit bibirnya “Hmm..nanti saja kuceritakan, agak kompleks dan kupikir So Hee tidak mau menghabiskan waktunya untuk mendengar ceritaku.”

Kamu menatapnya sekilas dan mengangguk “Benar, dan Unnie, aku harus pulang sekarang, aku baru ingat orang tuaku akan mengajakkku makan di luar malam ini.” Kamu berbohong dan beranjak dari kursi, tidak menunggu jawaban apa lagi yang akan kamu terima, dan untungnya Yu Ra-unnie sama sekali tidak protes.

Chan Yeol

Pagi ini aku mendapat kejutan, mataku yang terus memberat karena latihan gitar sampai tengah malam tiba-tiba terbuka lebar begitu melihat guru Kang membawa murid baru ke kelas kami.

“Perkenalkan namaku Byun Baek Hyun! Aku baru pindah dari London minggu lalu tapi tidak perlu khawatir, bahasa Koreaku lancar karena aku pernah tinggal di sini cukup lama!”

Baek? Baek kembali!? Aku berteriak dalam hati. Melihat temanku yang pindah beberapa tahun lalu kembali mendadak tentu saja aku kaget! “Baek!” Aku segera berdiri dari kursi tidak peduli seluruh kelas akan menganggapku pengganggu merusak acara pengenalannya.

“AH! Halo Yeol!” Baek Hyun melambaikan tangannya, sama sekali tidak terganggu dengan interupsi dariku. Baek Hyun masih sama, ia masih seperti anak laki-laki jenaka yang tidak bisa berhenti cengar-cengir sekalipun tidak ada hal lucu terjadi, dan aku bersyukur dia masih sama karena cukup hanya So Hee saja yang berubah.

#

“Kenapa kau tidak mengabariku kalau kau kembali ke Korea?” Aku bertanya pada Baek Hyun sambil berjalan menuju halaman sekolah. Baek Hyun tertawa kecil dan mengendikkan bahunya “Ini lah yang namanya kejutan.”

Aku menyunggingkan senyuman dan mengangguk-ngangguk, memberi kejutan memang hal yang selalu Baek Hyun lakukan padaku entah sengaja atau tidak, seperti dua tahun yang lalu.

Flashback

“Yeol!”

Aku menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar teriakan Baek Hyun yang seakan memecah gendang telingaku “Hei jangan berteriak seperti itu, ada apa?”

Baek Hyun tertawa tapi dilanjutkan diam beberapa detik yang membuatku heran “Baek? Kau masih di sana atau kau hanya iseng menelponku? Baiklah kumati—“

“Tunggu!” Baek Hyun kembali berseru. Aku menghembuskan napas dan bertanya dengan malas, tentu saja siapa yang tidak malas di tengah malam terbangun dan begitu menjawab panggilan seseorang langsung berteriak padamu. “Apa?”

“Boleh aku minta nomor ponsel So Hee?”

Aku mengenyit dan bangun dari posisi tidurku, ada sesuatu yang aneh dari permintaan Baek Hyun. “Ada apa dengan So Hee? Bukankah tadi siang kita baru bermain bersamanya?” Aku bertanya menyidik, sekalipun Baek Hyun teman baikku tapi selama itu menyangkut So Hee aku pasti curiga.

Baek Hyun diam dan menghela napasnya “Baiklah, sebenarnya aku malas bercerita tapi kupikir kau tidak akan memberi nomor So Hee kalau aku tidak menceritakan ini.”

Aku diam dan memutuskan tidak berkata apa-apa sampai Baek Hyun memulai ceritanya.

“Aku suka So Hee.” Ia berkata tanpa basa-basi tanpa pendahuluan atau pengantar yang akibatnya langsung membuatku tidak bersuara. Semuanya terlalu cepat, aku bahkan masih naif memikirkan apa yang kudengar barusan cuma kesalahan telingaku.

“Yeol? Kau masih disana? Kubilang aku suka So Hee! Sudah puas? Sekarang beri aku nomor ponselnya.”

Aku menelan ludahku dan menarik napas mengeluarkannya perlahan berusaha terdengar tenang “Sejak kapan?”

“Sejak lamaaaaa sekali, awalnya kukira aku hanya menganggapnya adik tapi lama-kelamaan rasa posesif muncul dan aku sadar aku suka So Hee.” Baek Hyun berkata dengan ringan, dan itu membuatku jengkel karena ia sama sekali tidak sadar kalimat yang keluar dari mulutnya itu benar-benar menohokku. Baek Hyun berdehem menyadari aku yang sama sekali tidak memberi respon “Sudah kuduga menelponmu tengah malam tidak tepat, besok aku akan main ke rumah, dan ngomong-ngomong, bisa kau smskan nomor So Hee?”

“Aku tidak punya nomornya.” Tanpa pikir panjang aku segera mematikan panggilan dan melepaskan baterai ponsel.

Keesokan harinya Baek Hyung datang dan aku menjelekkan So Hee sebisa mungkin di depannya, memang kekanakan tapi bagaimanapun saat itu aku masih Chan Yeol yang tidak bisa melakukan apa-apa selain cemburu pada temannya sendiri. Besoknya Baek Hyun pindah secara mendadak ke London. Dan sejak itu juga, So Hee menjauh.

~//~

Salju pertama turun hari ini, bagaimana aku bisa tahu? Karena aku tidak pernah melewatkan ramalan cuaca setiap musim dingin tiba. Ada semacam ritual spesial yang kulakukan setiap salju turun, sekalipun aku bukan pecinta salju sejati. Setelah mematikan weker yang jarang sekali kunyalakan aku membuka gorden kamarku perlahan dan menjatuhkan pandanganku pada pekarangan rumah So Hee.

Suhu udara boleh dingin, aku bisa merasakan tulangku terasa menggigil mungkin karena aku lupa menyalakan pemanas kemarin malam, tapi bagaimanapun juga melihat So Hee bermain di pekarangan rumahnya yang sudah putih tertutupi salju, harus kuakui, itu memberiku perasaan hangat. 

Aku memasang headset dan menyalakan playlist yang selalu kusiapkan untuk saat-saat seperti ini. Sambil bertopang dagu mataku terus mengikuti So Hee yang berjalan bolak-balik sibuk membuat boneka salju yang tingginya hampir mencapai badannya. Kapan terakhir kali aku melihat sisi So Hee yang seperti itu? Kapan So Hee masih menjadi dirinya sendiri di depanku menunjukkan sisi kekanakannya, mengekoriku dan membiarkanku menjadi laki-laki terhebat karena ada perempuan manis terus memegang tanganku mempercayai dirinya akan terus aman jika ada aku di sebelahnya.

Aku menghela napas merasa curang melihat So Hee yang begitu menikmati waktu sendirinya, sampai beberapa tahun lalu ia masih butuh aku di sana untuk melengkapi harinya  dan sekarang ia tiduran di atas salju menggerakkan kedua tangan dan kakinya membentuk pola malaikat di atas salju terlihat begitu bahagia, sendirian. Bagaimana bisa ia terlihat puas padahal ia hanya bermain sendiri? Kenapa ia membuatku merasa aku sama sekali tidak dibutuhkan? Itu pertanyaan yang selalu  keluar otakku setiap melihat So Hee sibuk dengan dunia bermainnya, ia memang perempuan pendiam tidak semua orang bisa mendekatinya dan yang kutahu, baru aku dan Baek Hyun yang berhasil.

Baek Hyun lagi.

Aku mengacak-acak rambutku yang sudah berantakan dari awal, mungkin kali ini aku harus mencoba lagi, So Hee terlihat dalam mood terbaiknya pagi ini.

#

“So Hee!” Aku berteriak memanggilnya. Ia menengok dan aku ingin mengutuk diriku karena begitu melihatku senyum yang terpasang di wajahnya segera hilang, ia kembali menjadi So Hee yang ‘itu’ lagi.

Aku berdehem dan berjalan menghampirinya sampai tiba-tiba sebuah bola salju mendarat tepat di wajahku.

“Berhenti, jangan berani datang ke sini.” Ucapan Sohee berhasil membuatku merasa sebagai seorang kriminal dengan bayaran paling mahal untuk ditangkap.

So Hee

Laki-laki itu kembali, datang mengganggu quality timemu padahal kamu sengaja bangun pagi untuk menghindarinya.

“So Hee aku bahkan tidak menyentuhmu tapi kamu memperlakukanku seperti aku akan melukaimu!” Chan Yeol berjalan mundur selangkah sambil membersihkan salju yang masih menempel di wajahnya. Kamu mendengus dan kembali memegang bola salju yang kapan saja bisa kamu lempar “Bagus, karena memang seperti itu aku menganggapmu.”

Chan Yeol memutar bola matanya dan kembali mendekat, rupanya lemparan tadi tidak cukup menjadi pelajaran untuknya “Kau mendekat selangkah lagi aku akan berteriak dan mengaku kau baru saja melakukan kekerasan padaku.”

Chan Yeol tersenyum, apa dia menganggap ancamanmu hanya gurauan?

“Baiklah AA—“

“Oke stop So Hee! Aku pergi!” Akhirnya ia menyerah dan kembali berjalan menuju halaman rumahnya. Kamu tersenyum puas dan kembali menyelesaikan boneka saljumu yang sedikit lagi hampir membalap tinggimu.

“Kau pikir cuma kau yang bisa membuat bola salju! Aku juga bisa!” Ia berteriak membuyarkan kefokusanmu. Kamu menengok dan melihat Chan Yeol sedang membentuk bola salju, ia menantangmu?

Kamu memutar bola mata dan memilih tidak mempedulikannnya, jika kamu menjawab tantangannya sama saja kamu bermain dengannya, dan tidak, kamu tidak bermain dengan orang bernama Park Chan Yeol.

“So Hee!”

Siapa lagi yang memanggilmu? Kamu protes dalam hati dan kembali menengok. Baek Hyun berdiri di antara halamanmu dan Chan Yeol. Ia melambai-lambaikan tangannya dan terlihat begitu semangat membawa aura hangat di tengah-tengah suhu yang terus menurun ini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Kamu berjalan menghampirinya. Sudah seminggu lebih sejak kembalinya Baek Hyun kembali dari London dan ia selalu datang mengagetkanmu, entah menjemputmu di pagi hari atau lewat di depan kelasmu yang masih belajar dan melambaikan tangannya.

“Ayo kita berangkat sekolah!”

Kamu mendecak dan menunjuk jam tanganmu “Ini masih pagi dan aku sengaja bangun pagi agar bisa bermain, jadi jangan coba menyuruhku berhenti dan datang ke sekolah.”

Baek Hyun tertawa dan mengangguk seperti anak kecil yang patuh mendengar nasehat orang tuanya “Bagaimana kalau aku bantu?”

Kamu diam menimbang jawaban, sebenarnya dulu kamu sempat membenci Baek Hyun, tapi  tahu saat kejadian itu ia hanya menjadi pendengar dan menurutmu membenci Baek Hyun terlalu jahat, ia selalu baik padamu dari dulu hingga sekarang, Chan Yeol juga, tapi setelah mengetahui pandangannya padamu, semua ia lakukan terlihat seperti kebohongan, dan kamu benci itu.

“Silahkan.” Kamu menjawab singkat dan berjalan meninggalkan Baek Hyun untuk mencari ranting sebagai tangan si boneka salju. Dengan malas kamu menghampiri pohon yang terletak tepat di antara rumahmu dan Chan Yeol, dan tanpa sengaja matamu menangkap sosok Chan Yeol. Bertahun-tahun kamu mengenal Chan Yeol baru kali ini ia melihatmu dengan tatapan seperti itu, binar matanya hilang, mulutnya tidak cemberut atau tersenyum hanya membentuk sebuah garis yang justru membuat ia tampak lebih menyedihkan, punggungnya yang selalu tegap kali ini bungkuk, ia berjalan masuk ke rumahnya meninggalkan boneka salju yang bahkan setengahnya saja belum selesai.

Chan Yeol

Byun Baek Hyun masih menyukai Ahn So Hee, Ahn So Hee masih membenci Park Chan Yeol, dan Park Chan Yeol ternyata masih menyukai Ahn So Hee.

So Hee

Menstruasi hari pertama selalu menjadi hari yang paling kamu benci. Dengan pelan kamu menuruni tangga, kedua tanganmu memegang perut yang terasa terus melilit, kamu ingin menangis.

“Ada apa So Hee? Tumben sekali kamu menelponku!” Kamu menelpon Ibu yang beberapa hari lalu berangkat ke Jeju. Ia terdengar senang dan bahagia di sana membuatmu sedikit iri pada dirinya yang begitu menikmati dunia.

“Obat yang selalu kuminum setiap aku sakit perut ibu simpan mana?” Daripada berbasa-basi menanyakan kabarnya kamu langsung menanyakan maksud utamamu. Tiba-tiba bagian bawah perutmu makin terasa perih kamu meringis, sebelum sempat kamu ingin berteriak padanya yang terus diam ia segera berseru.

“Astaga So Hee! Waktu itu Yu Ra meminjamnya dari kita dan sepertinya dia lupa untuk mengembalikkan. “

Kamu menepuk jidat dan langsung mematikan panggilan. Seberapa benci kamu pada rumah keluarga Park kamu lebih mementingkan kebutuhanmu. Akhirnya dengan langkah terseok dengan asal kamu mengambil sweater milik ayah  dan berjalan keluar rumah, ini cuma beberapa meter dan kamu merasa rumah mereka terus menjauh seperti tidak rela kamu mendekati mereka.

Kamu ingin pingsan.

Chan Yeol

“Aish! Dingin sekali!” Aku mengumpat protes pada udara yang tidak berhenti membuat tulangku menggigil. Rumah hari ini terasa begitu sepi, itu yang membuatnya terasa makin dingin. Kedua orang tuaku pergi ke luar kota  mengunjungi pernikahan anak teman mereka, Yu Ra-noona menginap di rumah temannya, dan aku Park Chan Yeol memilih di sini dan berbohong pada Baek Hyun yang ingin menginap bahwa aku ikut kedua orang tuaku pergi.

Langit mulai gelap, dengan malas aku beranjak berdiri dari sofa yang sudah kurancang sehangat mungkin, sejak memainkan Slender Man aku selalu menutup gorden jendela lebih cepat dari biasanya merasa cemas siapa tahu ia akan mengintip dari sana.

Sampai di jendela terakhir, mataku membelalak melihat seseorang terkapar di tengah pekarangan kami, aku mengucek mataku meyakinkan yang kulihat nyata dan jantungku terasa berhenti begitu menyadari orang yang memakai sweater kesukaan ayah So Hee itu tak lain adalah anaknya sendiri.

“SO HEE!” Aku berteriak sekencang mungkin dan berlari menghampirinya. Masih dengan tangan bergetar aku menyapu rambut yang menghalangi wajahnya, So Hee terlihat pucat, terlalu pucat, ia memang memiliki wajah putih sejak dulu, tapi tidak seperti ini.

“So Hee??” Aku menepuk pipinya yang terasa sangat dingin, ia tidak merespon dan detik itu juga aku ingin menonjok diriku sendiri yang terlalu terlambat. Sambil berusaha menahan air mata yang menuntut keluar aku membawanya memasuki rumahku. So Hee tidak boleh meninggalkanku dalam keadaan seperti ini.

So Hee

Tiba-tiba semua terasa begitu nyaman, kamu mendapat bantal terempuk yang pernah kamu rasakan, dan tanganmu diselimuti sarung tangan terhangat yang pernah ada mengalahkan sarung tangan rajutan dari ibu, kamu tersenyum, kamu ingin menikmati semuanya.

“So Hee?”

Kamu mengernyit, suara berat yang sempat menjadi lagu pengantar tidurmu dulu kembali terdengar, kamu membuka mataku dan mimpi burukmu berada tepat beberapa jengkal dari wajahu.

“Menjauh!” Kamu berteriak, ingin mendorongnya sekuat tenaga tapi seluruh tenagamu terasa menghilang begitu nyeri perutmu kembali terasa. Hanya bisa meremas tangan kamu meringis, berapa detik kemudian kamu menyadari sesuatu.

“Lepaskan!” Kamu menatap Chan Yeol tajam yang sedari tadi ternyata terus menggenggam tanganmu, kamu ingin membuang jauh-jauh pemikiran sarung tangan terhangat begitu menyadari semua itu ternyata Chan Yeol. Bicara soal sarung tangan, kamu curiga dengan bantal yang kamu puji tadi. “Aaah! Pergi!” Kamu berteriak padanya saat menyadari kepalamu terus tertidur di atas pangkuan Chan Yeol.

Bukannya pergi Chan Yeol langsung memelukmu, menelanmu karena setelahnya kamu tidak bisa melihat apa-apa selain hitam, bahu lebarnya menutupi penglihatanmu. “So Hee! Kamu masih hidup!”

Laki-laki ini benar-benar tidak tahu diri.

“LEPASKAN AKU.” Kamu berteriak sekalipun gendang telingamu sendiri serasa pecah, dan teriakanmu sukses membuat Chan Yeol melepaskan rangkulan eratnya. Ia memandangmu dengan canggung, baru menyadari ia baru memelukmu, hal yang sering ia lakukan dulu sekali sebelum kamu membencinya. Matamu yang terus memandangnya tajam membuat Chan Yeol mengangguk mengerti dan segera berdiri lalu duduk di kursi yang paling jauh dari tempatmu. Kamu menghela napas dan kembali menidurkan dirimu di atas sofa, di saat seperti ini harusnya kamu berterima kasih, tapi itu Chan Yeol dan kamu benar-benar tidak punya muka untuk berterima kasih pada orang seperti dirinya.

“Jadi So Hee, kenapa kau datang ke rumahku?” Chan Yeol bertanya percaya tidak mungkin seorang So Hee mendatangi rumahnya kalau itu tidak benar-benar penting. Masih dengan posisi tiduran meringkuk seperti janin berada di perut ibunya kamu tidak bisa menjawab, egomu terlalu tinggi untuk mengatakan soal menstruasi yang membuatmu kesakitan dan membutuhkan obat.

“So Hee? Kau tidak apa-apa?” Chan Yeol menyadari kamu terus meringkuk, bahumu bergetar dan Chan Yeol yakin kamu mengigil bukan hanya karena dingin. Chan Yeol menyadari kedua tanganmu memegang perutmu, seperti semua sumber kesakitan berada di sana. Tiba-tiba kedua alisnya naik, ia ingat sesuatu “Kau usus buntu lagi!?” 

Di saat seperti ini Chan Yeol benar-benar bodoh.

Kamu ingin protes bagaimana bisa usus buntu terjadi dua kali, tapi lagi, kedua bibirmu yang terus menempel rapat berusaha menahan perih tidak bisa membenarkan pemikiran Chan Yeol. Chan Yeol masih dengan kesimpulan bodohnya mengacak-acak rambutnya “Apa perlu aku telpon ambulans? “

Kamu menggelengkan kepala, dengan suara bergetar kamu menjelaskan “U-usus buntu tidak terjadi dua kali..” Chan Yeol yang hampir menelpon ambulans segera menutup telponnnya dan duduk di sebelahmu. “Lalu apa? Keracunan makanan? Magh? Diare?”

Sekali lagi kamu menggelengkan kepala, dengan susah payah kamu berusaha bangkit dan beranjak dari sofa sebelum akhirnya Chan Yeol menyadari kamu berjalan menuju kamar kakaknya “Noona hari ini menginap di rumah temannya!”

Merasa makin frustasi akhirnya kamu memutuskan menyerah, sambil jongkok memeluk erat lututmu dan membenamkan wajahmu kamu berkata “Pe-perutku sakit….berikan aku obat yang biasa Yu Ra-unnie minum saat ia sakit perut.”

“Sakit perut? Seperti apa? Magh? Diare?”

Kamu menggigit bibir, sekalipun rasanya semakin kamu menggigit kedua bibirmu bisa berdarah. Chan Yeol ikutan khawatir melihatmu yang terlihat begitu kesakitan tapi yang terburuk ia tidak bisa melakukan apa-apa. Chan Yeol menghampirimu, ia menyentuh bahumu lembut, awalnya kaget karena kamu tidak menampar tangannya tapi berapa detik kemudian rasa penasarannya terjawab.

“Aku menstruasi bodoh!! Berikan aku obat penahan rasa sakitnya!!” Kamu berteriak, kalimat yang daritadi tertahan di ujung tenggorokan itu akhirnya keluar juga. Chan Yeol membelalak kaget, pertama ia diam dan segera ia ingat saat di mana kakak perempuannya menjerit di tengah malam lalu memintanya membawakan beberapa tablet dari kotak P3K.

“Ah! Aku ingat!” Chan Yeol segera berlari dan kembali membawa beberapa tablet beserta segelas air putih. Kamu segera meminumnya dengan sekali tegak. Chan Yeol yang terbiasa mengelap mulutmu yang selalu minum berantakan dengan refleks mengelap pinggir bibirmu yang belepotan dengan ujung bajunya, tapi ia lupa kamu sudah berubah dan segera Chan Yeol mendapat tamparan keras pada tangannya “Jangan sentuh aku.” Kamu berkata dingin dan segera merangkak kembali menaiki sofa, sekarang hal yang kamu lakukan adalah berusaha tidur dan menunggu obatnya bereaksi. Sementara Chan Yeol masih terdiam di sana, tangannya yang baru saja ditampar itu memang memerah tapi perasaannya jauh lebih sakit.

#

Kamu membuka matamu perlahan merasakan silaunya sinar matahari menerpa wajahmu. Sudah berapa jam kamu tertidur? “Ah aku menginap” ucapmu dalam hari menyadari hari sudah pagi. Kamu berusaha bangun, tapi sesuatu yang berat membuatmu tidak bisa bangun begitu saja, banyak selimut melapisi dirimu, dengan susah payah kamu mendorong seluruh selimut itu dan bangun. Bajumu berkeringat karena kepanasan ditimpa selimut sebanyak itu. Matamu menangkap sosok Chan Yeol yang tertidur di sofa depanmu, ia tidak memakai sehelai selimut dan itu membuatmu yakin Chan Yeol mengambil seluruh selimut di rumahnya dan meletakkannya di atasmu. Dalam hati kamu bertanya bagaimana bisa Chan Yeol begitu baik pada orang yang dibencinya? Kamu menggelengkan kepala berusaha tidak memikirkan hal itu lebih lanjut.

Dengan langkah ringan karena sakit perutmu sudah hilang kamu melangkah keluar dari rumahnya sebelum tiba-tiba hati nuranimu bergerak. Kamu kembali memasuki ruang tengah dan mengambil selimut dan meletakkannya menutupi tubuh Chan Yeol. Kamu menghela napas dan menganggap yang kamu lakukan itu hanya sebuah tindakan simpati yang normal dilakukan pada siapa saja, termasuk orang yang kamu benci sekalipun.

~//~

Ini hari ketiga Baek Hyun mengantarmu pulang ke rumah.

“Baek, kurasa kau terlalu menghabiskan waktumu untuk mengantarku pulang, dari pada itu bukankah harusnya kau menjenguk temanmu yang sedang sakit itu?” Kamu berkata pada Baek Hyun tepat setelah kalian berada di jalan antara rumahmu dan Chan Yeol.

Baek Hyun menghela napas dan menaikkan bahunya “Chan Yeol tidak mau berbicara padaku lagi, ia selalu menolak panggilanku jadi aku rasa aku datang ke rumahnya juga percuma.”

Kamu mengangguk, merasa itu permasalahan antar pria kamu merasa tidak punya hak untuk mencampurinya. “Baiklah, sampai jumpa besok.” Ketika kamu melangkahkan kaki Baek Hyun langsung menahan tanganmu “Tunggu, aku mau bicara So Hee.”

Kamu kembali menolehkan kepala padanya dan diam menunggu Baek Hyun kembali membuka mulutnya. “Aku ingin bilang—“

“Hm?” Kamu menaikkan sebelah alismu menunggu kalimatnya keluar.

“Aku menyukaimu dan menginginkan hubungan kita lebih dari seorang teman.” Baek Hyun mengeluarkan sederet kata dengan lancar, terlalu lancar untuk ukuran seorang pria yang sedang mengutarakan perasaannya pada sahabat yang sudah ia kenal bertahun-tahun.

 Melihat Baek Hyun yang menatapmu serius kamu tahu ini Baek Hyun yang berbeda dari biasanya, bukan Baek Hyun yang selalu menghabiskan sepertiga hidupnya untuk bercanda. Begitu kamu membuka mulut Baek Hyun langsung menutup wajahnya, seluruh raut serius wajahnya menghilang digantikan rona merah yang membuatnya kembali menjadi Baek Hyun yang dulu “Kumohon jangan jawab sekarang.”

Kamu tertawa kecil melihat perubahan ekspresinya yang begitu cepat “Lalu kapan? Bukankah akan menjadi canggung kalau aku tidak menjawab sekarang?” Kamu bertanya sekalipun kamu sendiri belum menyiapkan jawaban yang akan kamu keluarkan.

Baek Hyun menundukkan kepalanya seperti mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk kembali berani menatapmu. “Kalau kau menerimaku, aku akan menjadi orang paling jahat di dunia ini.”

Kamu memiringkan kepala, sebenarnya kamu ingin bertanya darimana ia mendapat rasa kepercayadirian sebesar itu kamu akan menerimanya tapi lebih dari itu, kamu lebih penasaran alasan apa yang membuat Baek Hyun merasa menjadi orang paling jahat. “Kenapa menjadi jahat?”

Baek Hyun menghela napasnya, sekarang ia terlihat kembali normal, rona wajahnya sudah bisa ia kendalikan. “Ada  seseorang yang menyukaimu juga, dan sebagai laki-laki aku akan menjadi pengecut jika aku mendapatkanmu tanpa memberinya kesempatan dulu.”

Kamu menatap Baek Hyun, mata yang selalu membentuk bulat sabit karena senyumannya itu sekarang menatapmu dengan segala keseriusan yang sulit ditemukan pada dirinya. “Tapi bukankah itu salahnya sendiri tidak berani menyatakan perasaan padaku?” Kamu bertanya.

Baek Hyun menggigit bibirnya dan berusaha memaksakan tawa “Dia punya kondisi dan aku yakin kau akan mengerti begitu kau mendengar langsung darinya.”

Kamu mengangguk memilih tidak memperdebatkan lagi hal itu. Begitu ingin berbalik badan memasuki halaman rumah, Baek Hyun kembali memegang pergelangan tanganmu. Menghela napas kamu kembali menengok pada Baek Hyun “Apa lagi Baek?”

“Bisa tolong berikan ini pada Yeol? Kau tahu ia sedang marah padaku dan ini penting karena ini materi untuk ujian besok lusa.” Baek Hyun menjulurkan sebuah amplop padamu. Dengan kening berkerut kamu segera menggelengkan kepala “Dan kau tahu aku sedang marah padanya bukan? Berikan saja pada Rang Bi.”

Baek Hyun menggelengkan kepalanya dan menarik tanganmu memaksanya untuk memegang  amplop itu. “Rang Bi dan Chan Yeol sudah putus, dan kau satu-satunya yang bisa kuandalkan, ayolah.” Baek Hyun memohon, ia memang suka memohon tapi permohonan kali membuat ia terlihat sangat menyedihkan seperti ia akan mati jika kamu tidak membantunya. Akhirnya dengan perasaan berat kamu mengangguk. Baek Hyun menyeringai dan segera melepaskan tanganmu. “Terima kasih So Hee! Aku cinta padamu!” Baek Hyun membuatmu ingin muntah tapi kamu tidak bisa apa-apa selain tertawa menanggapi kalimat murahannya.

Tepat Baek Hyun kembali pada sepedanya kamu memanggilnya, ada sesuatu yang harus dikatakan padanya “Baek! Terima kasih! Aku menghargai keberanianmu.” Kamu berteriak membuat Baek Hyun yang hampir melaju pergi mengerem sepedanya. Baek Hyun tersenyum dan melambaikan tangannya, keceriaannya selalu membuatmu nyaman.

Dengan langkah ringan kamu berjalan memasuki rumah, pengakuan tadi membuatmu senang ternyata masih ada orang jujur di dunia ini. Dalam hati kamu sungguh kagum dengan Baek Hyun yang dapat menyatakan perasaannya, kira-kira apa yang terjadi jika kamu seperti Baek Hyun? Apakah dulu kamu akan menyatakan perasaanmu pada Chan Yeol?

Pemikiran ngeri itu membuatmu merasa mual, bagaimana bisa seorang pembohong besar seperti Chan Yeol menjadi cinta pertamamu? Entahlah tidak ada yang mengerti.

___________________________

Author’s note:

DUM DUM DUM sebenarnya rada deg-degan ngepost cerita ini, pake pov ‘kamu’ yg luar biasa awkward kalau pake bahasa indonesia, udah berapa kali edit meningan pake ‘kau’ atau ‘kamu’ dan akhirnya kamu karena ‘kau’ terlalu puitis.  Terinspirasi dari novel please look after mom author tertarik make sudut pandang ini. Meskipun di fanfic bahasa Inggris sering bgt pake ‘you’ tp kalau bahasa Indonesia ga pernah nemu ._.

10 thoughts on “Mutual Feelings – Part I

  1. Lanjut, thor…
    Bagus banget. Author hebat! Bisa buat aku penasaran setengah mati dengan kelanjutannya!

    Ditunggu part selanjutnya~ ^^v

  2. baru sempet baca sekarang huhu
    ff ini menghibur sekali ditengah-tengah UAS yang mencekik leher u,u
    sebenernya ceritanya agak klise huaaaaaa *kabur* *ditedangAuthor ._. tapi aku tetep suka kok, ya cerita boleh klise tapi yang bikin beda kan cara penyampaian setiap authornya🙂 aku tetep suka juga karena pemilihan castnya pas banget :” aku penggemar sohee, suka sama ekspresi wajah dia. dan chanyeolnya juga, sumpah tadi aku ngebayangin chanyeol yg anak rumahan biasa pake baju santai keluar dari toilet aduuuuuhh taooo u,u

    ditunggu lanjutannya ya thoooorrr😀 fighting ^^

    • hahahah emang klise bgt😄 temen masa kecil yang ceweknya ngebenci cowoknya wkwk tp di finalnya bakal ada plot twist kok😉 (yah moga aja berhasil)
      daaan sama! meskipun itu adegan bentaaar bgt tapi waktu bayangin chanyeol keluar dr toilet aku bayangin dengan sepenuh hati ;A; chanyeol feels nya lagi kuat jadi make dia deh castnya :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s