It’s a Wonderful Cat’s Life [1/?]

cats-wonder_526F672C_zpsd90ac866

Akhirnya bisa upload chapter pertama o.o

Anyways, Enjoy!

reborn-meow!

now playing      BTOB Thriller

Hari demi hari, minggu demi minggu. Tak terasa beberapa bulan telah berlalu. V, bukan lagi anak kucing yang penasaran akan semua. Oke, mungkin ia belum sepenuhnya dewasa dan sepertinya rasa ingin tahunya belumlah hilang. Namun, ia yakin ia sudah menjadi lebih baik. Paling tidak sekarang V tahu bagaimana caranya agar tidak terlindas mobil – benda yang sebelumnya ia kenal sebagai ‘monster’, atau memperoleh perhatian manusia. Cukup baginya untuk melihat perangkat yang disebut handphone yang sering mereka bawa.

Mata tajamnya melihat ke sekelompok anak kecil yang menatapnya dan menunjuknya dengan jari-jari mereka yang lebih kecil dibandingkan dengan orang-orang yang bertubuh lebih besar. “Kucingnya lucu sekali!” seru dua anak perempuan yang sepertinya masih duduk di bangku SD.

V tidak mengerti arti satu persatu dari ucapan mereka, namun itu tidak membuatnya tidak merasakan rasa senang yang ada di dadanya. Ia mendengkur pelan saat kepalanya dielus. Tanpa ia sadari, kepalanya sengaja ingin bersentuhan dengan tangan anak manusia itu – V, merasa hangat dan nyaman, berbeda dengan perasaan yang diberikan oleh angin musim gugur di bulan Oktober. Walaupun itu merupakan musim kesukaannya, terkadang udara terlalu dingin baginya.

Ia memiringkan kepalanya saat kedua anak itu melambaikan tangan ke arahnya. V mengeong, seperti mengucapkan perpisahan pula. Bibir kucingnya membentuk senyum kecil sebelum suara kekehan dapat terdengar. Suara itu sudah terekam jelas di memorinya. Ia menoleh ke belakang, tidak ada lagi senyum di mulutnya. V mengeluarkan suara geraman dari dalam tenggorokannya saat kucing berwarna abu-abu dengan mata biru tua berjalan ke arahnya dengan mulut yang menahan tawa.

Terkadang V ingin menerkam temannya itu, walaupun akhirnya V pastilah yang menahan malu. Di balik tubuh Jimin – kucing abu-abu yang ramping dan lebih kecil di bandingkan dengannya, namun terdapat energi dan otot yang lebih dari sekali membuat V sedikit iri.

“Tidak ada yang lucu” ucap V tajam saat senyum di wajah Jimin tidak menghilang. Namun, nampak semakin menyebalkan bagi V. Jimin hanya tertawa pelan sebelum berjalan ke arah kucing yang lebih muda.

Jimin mengeluarkan suara dengkuran. “Apakah dielus oleh manusia seenak itu?” tanyanya, nada suaranya bermain dengan kesabaran V. Walaupun kucing berbulu jingga itu tahu betul bahwa tidak semua kucing merasa senang ketika manusia mendekati mereka. Hal inilah yang membuat V dianggap sedikit aneh dari teman-temannya.

V memutar kedia bola matanya pada pertanyaan Jimin. “Selain manusia apakah ada yang bisa mengelusmu?” tanyanya, dan sebelum Jimin dapat menjawab, V memotongnya. “Dengan tangan” lanjutnya.

Lidah Jimin sudah setengah keluar sebelum akhirnya menghelakan napas. Walaupun ia sudah mengenal V sejak mereka masih anak kucing, Jimin belum sepenuhnya dapat menerima obsesi V pada manusia dan hal-hal di sekitar mereka. Tapi, Jimin merasa sikapnya terhadap hal tersebut cukuplah normal. Lagipula Jimin hanyalah kucing abu-abu yang tinggal di belakang toko daging dan menghabiskan waktunya mengejar tikus. Walaupun ia tidak memakannya.

“Hei, V. Apakah kau akan datang ke Cat Alleyway hari ini?” Jimin bertanya sambil menjilati salah satu tangan depannya. Tidak mendengar jawaban, Jimin mengankat kepalanya dan melihat temannya itu sedang memandang ke arah jalanan dengan pandangan kosong – menatap sesuatu yang namanya saja Jimin tidak tahu. “V! Aku sedang berbicara padamu”

Jimin tersenyum penuh kemenangan saat mata V melebar, terkejut saat Jimin berteriak. V memutar tubuhnya dan berjalan ke arah Jimin. “Kau tadi bertanya apa?”

“Aku bertanya, apakah kau berencana untuk datang ke Cat Alleyway hari ini” Jimin mengulang pertanyaannya. “Sudah lama sekali kita tidak bertemu dengan yang lainnya” tambahnya pelan. Sedikit berharap lebih V akan setuju.

V menganggukkan kepalanya dengan semangat. “Aku sudah memikirkannya sejak kemarin. Kebetulan hari ini ada acara, akan tidak sopan untuk tidak datang” Jimin menghelakan napas lega saat mendengarkan jawaban temannya itu. Ia agak takut V akan mulai menjadi dirinya yang lebih menyukai bermain-main dengan manusia ketimbang dengan teman-temannya sendiri. Terkadang ia khawatir apabila V nanti harus memilih, ia akan menunjuk manusia, bukan kucing.

Jimin berusaha menghilangkan pikiran itu dari benaknya. Ia mendengkur pelan, menunjukan rasa gembiranya akan rencana mereka sisa hari ini. “Baiklah kalau begitu, aku akan menjemputmu sebelum matahari tenggelam dan tidak setelahnya” alis V bertaut saat mendengar nada mengancam dari suara sahabatnya itu.

“Memangnya aku sering terlambat apa?” ujar V setengah cemberut.

Jimin menjawabnya dengan helaan napas sebelum berjalan mendekati kucing yang lebih muda dan menatap ke mata V. “Kau tidak terlambat, tapi kau suka hilang di tengah perjalanan”

V menggeram kesal saat Jimin berlari meninggalkannya setelah mendengus tepat di wajahnya dengan sangat sopan. Menggunakan satu kaki depannya, V berusaha menghilangkan bau daging yang sekarang menempel tepat di wajahnya – dan V sedikit berharap aroma daging yang ia cium bukanlah daging tikus atau hewan semacamnya.

“Memangnya aku semudah itukah hilang di dalam pikiranku”, kalimat itu terdengar seperti pertanyaan kepada dirinya sendiri. Walaupun begitu, pandangan mata V masih menempel ke jalan tempat temannya pergi. Ia mendengus saat ia mencium bau yang lama-lama semakin ia curigai.

Ia benar-benar berharap ini bukanlah bau bangkai tikus.

Jimin harusnya lebih sadar akan tabiat temannya. Sekarang hari sudah gelap, dan mereka bahkan belum sampai ke Cat Alleyway, tempat berkumpul kucing-kucing jalanan di malam hari. Jimin jarang pergi ke tempat itu, namun angin musim gugur dan hiasan jack-o-lantern memanggilnya ke sana untuk menghabiskan waktu bersama dengan teman-teman sesama kucingnya.

Hanya saja, seperti biasa, sahabatnya haruslah menjadi seekor kucing yang rasa ingin tahunya tidak hanya sekali, membuat jengkel orang. Atau, untuk hal ini, kucing. Jimin menggoyangkan ekornya sambil menggeram pelan saat V menatapnya dengan tatapan tidak bersalah. “Apa?”

Rasanya Jimin ingin menjambak rambutnya karena frustasi. “Apa? Apa?! V ini untuk ke sepuluh kalinya aku kehilanganmu dan menemukanmu berhenti melihat sesuatu dan terdiam di sana seperti patung!” Jimin benar-benar, benar-benar berusaha untuk tidak kehilangan kesabarannya yang sudah tipis.

V memberikannya wajah datar. “Aku melihat seseorang memakai topi yang keren” katanya pelan, dengan nada seperti itu adalah hal yang pantas sebagai sebuah alasan. Jimin ingin menghantam kepalanya ke tembok terdekat.

“V, itu adalah topi baseball. Kau.Sudah.Pernah.Melihatnya” Jimin mengucapkan kalimatnya kata per kata. “Dan aku yakin kau sudah sering melihatnya, bukan?” V menelengkan kepalanya dan mengedipkan matanya beberapa kali.

“Tapi topi itu berbeda. Warnanya berbeda dan motifnya juga berbeda-“

“Sudah, jangan dilanjutkan” Jimin memotong perkataan kucing jingga itu dengan nada sedih yang dibuat-buat. “Kau memang tidak mau mendengarkanku” mata V membelalak saat Jimin berjalan pergi dengan rasa sedih yang sama palsunya dengan keberadaan hantu di belakang toko daging tempat mereka tinggal.

Tapi itu tetap membuat telinga V menempel rapat di atas kepalanya saat ia mengejar kucing abu-abu itu. “Jimin, maafkan aku!” meong V dengan suara keras. Jimin mungkin akan merasa lega apabila aktingnya itu cukup untuk membuat perhatian V tidak teralihkan oleh benda-benda milik manusia yang mereka lewati. Namun, tetap saja. Bila trik yang sama bekerja tiap saat, maka itu tidak lebih baik dari satu kata masuk dari telinga sebelah kanan dan keluar dari telinga sebelah kiri.

Jimin cukup rajin untuk menghintung berapa kali ia harus menjadi kucing ‘ngambek’ agar V tidak lagi pergi ke arah berlawanan atau berhenti sama sekali. Tepatnya lima belas kali. Kucing abu-abu itu menghelakan napasnya saat mata birunya sudah dapat melihat sebuah gang kecil gelap. Mungkin apabila ia adalah manusia, Jimin akan ketakutan atau paling tidak bergidik.

Namun Jimin adalah kucing, dan mata-mata bersinar di hadapannya tidaklah mengintimidasinya. Mungkin agak berlebihan apabila ia berkata bahwa mata-mata itu menyapanya. Tapi saat kucing putih dengan mata kuning menghampirinya, ia rasa itu tidaklah terlalu salah. “Jimin, akhirnya kau sampai juga!” meong Suga, si kucing putih.

Kepala Jimin menoleh ke belakang. “Aku mungkin dapat datang lebih cepat apabila aku tidak membawanya” sindirnya kepada V yang baru mendekatinya. Jimin hanya dapat memutarkan kedua bola matanya, mengetahui kucing yang lebih muda itu pastinya menemukan satu hal lagi yang mengalihkan perhatiannya.

Wajah Suga berbinar saat melihat kedatangan kucing berikutnya. “V, kau datang?” ucapnya setengah tidak percaya.

V hanya senyum-senyum sendiri. Kumisnya bergerak sedikit saat seekor kucing yang berukuran lebih besar dengan pola garis pada bulunya keluar dari bayangan di pinggiran jalan. Bibir Suga membentuk senyum penuh kemenangan. “Sudah kukatakan V akan datang” meongnya setengah terkekeh kepada kucing yang baru datang itu. “Kau hutang satu potongan daging” tambahnya dengan nada mengingatkan.

Kucing belang itu menghelakan napasnya. “Tenang aku tidak akan lupa” janjinya walaupun raut muka Suga dan Jimin berkata tepat sebaliknya. Tapi kucing itu mengabaikannya dengan balik menghadap ke V yang dari tadi memiliki tatapan kosong. “Aku benar-benar tidak mengira kau akan datang” komentarnya.

V hanya menggoyangkan ekornya sekali sebelum menjawab. “Aku juga tidak mengira akan datang, J-Hope Hyung” meongnya.

Jimin mengeluarkan suara dengkuran pelan dari tenggorokannya, berusaha menarik perhatian ketiga temannya. “Baiklah, karena kita sudah berkumpul, bagaimana kalau kita cepat-cepat memesan tempat?” usulannya menerima anggukan J-Hope yang antusias.

“Sebelum semua ikan yang enak dihabiskan kucing-kucing rakus itu!” tambah J-Hope sebelum mereka memasuki jalan yang hampir sepenuhnya ditutupi oleh bayangan.

Cat Alleyway sudah dipenuhi oleh berbagai macam kucing. Dari yang bersar ke kecil, dari yang berbulu polos maupun berpola. V bahkan dapat melihat beberapa merupakan jenis kucing ras, atau paling tidak blasteran. Membuat mereka nampak lebih menonjol di atara kucing-kucing yang terlihat lebih kotor dan kusam.

Meongan kucing-kucing bergosip dapat terdengar dan candaan mengenai bola rambut dan ikan tuna ada di sana sini. Kalau tidak, maka makanan yang dapat ditemukan di gang belakang sebuah restoran harusnya dapat membuat kucing mana pun dapat menikmati tempat ini.

Kata kunci: harusnya.

V menatap kakinya sebelum menguap, kedua taringnya terlihat bagi seluruh dunia. Saat menoleh ke samping V setengah terkejut saat matanya bertemu dengan tatapan tajam Jimin. Mata biru milik Jimin seakan-akan meneriakan: ‘hei, itu tidak sopan!’ tepat di wajah V. Kucing jingga itu menelan ludah saat menerima pesan tersebut.

Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya kembali menatap kakinya dan berusaha tidak terlihat bosan. Namun rasanya apa yang ia usahakan tidaklah cukup. Kucing mana pun dapat dengan mudah menunjuk V sebagai nominasi teratas kucing yang sedang bosan untuk detik ini. Jimin rasanya saja sudah agak mual dengan awan kebosanan yang menggantung di atas kucing berwarna jingga kemerahan itu.

Bahu Jimin menyenggol milik V. Kucing yang lebih muda itu menatap Jimin dengan ekspresi bingung. “Ayo kita pulang lebih dahulu, kau terlihat tidak nyaman” katanya. V sudah membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun Jimin mendahuluinya. “Dan aku rasa mengejar tikus lebih menyenangkan dibandingkan dengan bergosip”

Tanpa memberikan waktu untuk V merespon, Jimin sudah mendorong-dorong V dari samping agar kucing yang lebih besar itu mulai berjalan. V sudah merasa sangat bersalah saat mereka mulai meninggalkan tempat Suga dan J-Hope beserta teman-teman mereka yang lain. Tapi Jimin terus menyuruh V untuk berjalan.

“Paling tidak kau bisa menyuruhku untuk pulang sendiri” V akhirnya mengeong pelan. Jimin hanya menggelengkan kepalanya.

“Dan kemudian ketika aku kembali kau hilang lagi? Tidak, aku tidak mau mendapatkan uban lebih awal daripadamu, V” Jimin setengah berteriak. Kucing yang ia ajak berbicara memiliki kedua telinganya rapat di atas kepala. V ingin mengingatkan bahwa ia tidak akan hilang (atau paling tidak, tidak lagi). Atau fakta di mana Jimin lebih tua darinya dan itu merupakan hal yang normal untuk beruban dan menjadi seperti kakek-kakek yang kerjanya marah-marah terus.

Namun, saat ia baru saja ingin menyuarakan isi pikirannya, ia mendengar sesuatu yang secara otomatis menarik perhatiannya. “…Kau tahu ‘kan, mengenai legenda yang dapat mengubahmu menjadi manusia?”

Telinga V kontan berdiri. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri, berusaha menemukan sumber suara itu. Ia menemukannya berasal dari seekor kucing hitam dengan mata emas berkilau, di sampingnya adalah kucing berbulu panjang. Tanpa berpikir dua kali, V berlari ke arah mereka, membuat sahabatnya terkejut. “Yah, V!” teriak Jimin di belakangnya.

Kucing hitam itu mendapatkan dirinya menatap ke seekor kucing setengah dewasa dengan bulu jingga kemerahan yang terengah-engah. “Hmm… ada yang bisa aku bantu?” tanyanya kepada V.

“Apakah benar ada yang dapat mengubahmu menjadi seorang manusia?” tanya V tanpa basa basi, langsung ke inti pembicaraan. Kedua kucing dihadapannya memberikan wajah penuh tanda tanya, namun itu hanya membuat kucing itu mengulang pertanyaannya. “Apakah ada cara agar seekor kucing dapat berubah menjadi manusia?”

Pada saat itu Jimin berhasil mengejarnya. “V, apa yang kau pikirkan berlari seperti itu?” omelnya, ekornya mengibas-ibas karena jengkel. Selang beberapa detik, barulah Jimin sadar akan keberadaan dua kucing lainnya yang nampak lebih tua dibandingkan dengannya dan V. Bahkan mungkin lebih tua dibandingkan dengan Suga yang merupakan kucing paling tua di lingkaran sosialnya.

“Maafkan kami, apabila ia mengatakan hal-hal yang tidak pantas” Jimin menundukan kepalanya sambil mencuri-curi pandangan kesal pada sahabatnya itu. “Ayo V, minta maaf” meongnya pelan. Kucing yang lebih muda itu terlihat kurang mengerti mengenai alasan mengapa ia harus meminta maaf. Tetapi ia tetap melakukannya, dan tidak ada sedetik kemudian, Jimin sudah mendorongnya pergi.

V ingin protes, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar saat tiba-tiba kucing hitam di belakang punggung mereka mengucapkan sesuatu.

“Pada malam Halloween di taman 10 meter dari sini, katanya akan muncul seorang pria yang dapat berbicara dengan hewan dan memenuhi permintaan mereka, apa saja, dengan beberapa syarat”

Mata V dan Jimin membelalak saat mereka menoleh ke belakang dan kedua kucing itu sudah tidak ada lagi di belakang. Hanyalah dinding dan kaleng tuna kosong. Jimin menelan ludahnya. “Bagaimana kalau kita pulang sekarang?” pintanya, berusaha mengabaikan perasaan takut yang mulai menghampirinya.

~//~

Jimin dapat melihat V bergerak-gerak sendiri di perjalanan mereka. Tapi, bukannya kesal, kucing abu-abu itu menemukan dirinya merasa khawatir. Sesuatu sedang tidak beres, pikirnya di dalam hati sambil terus berjalan tepat di samping sahabatnya, takut V akan berjalan entah ke mana lagi.

Ia berusaha memikirkan hal-hal yang biasanya membuat hatinya paling tidak merasa lebih nyaman – seperti mengejar tikus. Namun tidak ada yang dapat membuat simpulan kuat di dadanya hilang. Jimin khawatir dan takut akan sesuatu. Ia pikir mungkin perasaan itu datang dari suasana Halloween di sekitar mereka – Jimin sudah dibuat takut oleh anak-anak yang berdandan seperti hantu dan zombie.

“Jimin, Jimin!” kucing yang baru saja dipanggil namanya itu terkejut, tidak menyadari namanya baru saja dipanggil. Ia menoleh ke arah V yang menggoyangkan ekornya ke kanan dan ke kiri ketika menunjukkan muka muram. “Kau sering mengingatkanku untuk tidak bengong, tapi kau juga melakukannya”.

Kucing abu-abu itu hanya tertawa kecil. “Iya, iya. Maafkan aku” katanya di antara tawa. “Tadi kau bicara apa?” tanyanya, namun lama-lama perasaan sebelumya muncul kembali saat ia menatap ekspresi V. Ototnya mengang dan baru bisa rileks setelah V tersenyum.

“Aku mau mengurus ‘urusanku’ dulu” meong V. “Kau boleh ikut kalau kau mau” canda kucing jingga itu ketika ia merasa Jimin enggan meninggalkan V pergi sendirian. Kata-kata V sukses membuat Jimin bergidik dan berteriak ‘jorok!’ sekencang-kencangnya.

“Sudah sana, aku akan menunggumu di sini, oke?” V menganggukkan kepalanya sebelum berjalan pergi dan hilang ditelan gelapnya malam.

V menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan perasaan bersalah yang mulai mendatanginya. Ia tahu Jimin akan memarahinya, akan panik dan terlebih, akan sangat khawatir. Maafkan aku, ulangnya di dalam hati saat kakinya membawa V ke sebuah tempat yang sedikit asing baginya di malam hari. Cahaya matahari yang biasanya menembus di antara dedaunan pohon yang rindang, sekarang nampak seperti rumah-rumah hantu… V bergidik saat memikirkannya, telinga merapat di atas kepalanya.

Namun, seperti film-film horor, ketika seseorang disuruh untuk jangan melakukan sesuatu, pada akhirnya mereka akan tetap melakukannya. V sadar kalau Jimin sudah merinding sejak pertemuan mereka dengan dua kucing yang terlihat mencurigakan. Dan, walaupun terdengar tidak logis, sahabatnya itu pasti merasakan hal yang salah. Kucing jingga itu dapat merasakannya walaupun Jimin tidak mengatakan sesuatu.

Langkahnya berhenti saat melihat kucing hitam yang ia temui sebelumnya. Maafkan aku Jimin, pikirnya pelan sebelum mempercepat langkahnya – sekarang berlari mengejar kucing hitam di depannya. “Tunggu!” suaranya keluar, membelah kesunyian di sekitar. Ia melihat kucing yang ia sedang kejar menoleh ke belakang, dan V yakin kucing itu sudah menyadari keberadaannya. Walaupun begitu, si kucing hitam mengabaikan V dan terus berjalan.

Di saat ia berlari, V tidak begitu memikirkan banyak hal. Hanya berlari dan terus berteriak, meminta kucing di depannya untuk berhenti agar V dapat bertanya mengenai hal-hal yang terus mendatangi pikirannya. Sesekali menusuk isi kepalanya dan membuatnya gatal karena rasa ingin tahu. Tetapi, di belakang semua itu, V menyadari sedang di mana ia berada.

Taman.

Lebih tepatnya, taman tempat ia dapat bertemu dengan seorang pria dengan kemampuan untuk mengabulkan permintaan hewan.

V tanpa sadar menelan ludah. Namun, kakinya tetap melangkah, merasa apabila ia berhenti bergerak ia hanya akan tenggelam dalam ketakutan. Ia membuka mulutnya, berusaha sekali lagi untuk memanggil kucing hitam tersebut. Tetapi, sebelum kata keluar dari mulutnya, V menemukan dirinya sendirian. Tidak ada kucing lain, hanya ada V, kucing jingga dengan rasa ingin tahu yang keterlaluan.

Mungkin istilah rasa ingin tahu membunuh seekor kucing, bukan hanya perkataan saja.

Udara menjadi dingin dan tiba-tiba, berlahan-lahan kabut putih mulai menghalangi pandangan. Taman yang biasanya merupakan tempat yang asyik utuk anak manusia maupun kucing bermain, berubah menjadi tempat semenakutkan kuburan. Telinga V sudah tidak bisa lebih rapat lagi di kepalanya, ekornya tegang dan bulu di punggungnya berdiri semua. V tidak bisa lebih menyesal lagi untuk berbohong pada sahabatnya.

Telinga V kontan berdiri saat suara muncul dari belakangnya. Otomatis tubuhnya berputar dan matanya terpaku pada bayangan yang mulai mendekat. Darahnya mendingin saat kakinya berjalan mundur, satu-dua langkah. “S-siapa di sana?” tanyanya, berusaha terdengar lebih berani dibandingkan dengan kenyataannya.

Semakin bayangan itu mendekat, V semakin dapat melihat bentuknya. Seorang lelaki dengan muka baby face dan rambut yang dicat platinum blonde. Terbalik dari wajah mudanya, V yakin di balik pakaian yang dipakai oleh lelaki itu, tersembunyi dada bidang dan otot. Seorang lelaki muda yang sehat dan fit, pikir V akhirnya.

Sebuah senyum tersungging di wajah pria itu. Senyum yang sedikit membuat V berteriak ketakutan di dalam hati.

Jantung kucingnya hampir berhenti berdetak saat lelaki itu tertawa. “Ya ampun, sebegitu takutkah kau padaku?” tanyanya tidak kepada siapa-siapa, nadanya terdengar seperti orang yang merasa terhibur akan sesuatu. Sesuatu yang V tidak yakin apakah ia mau tahu apa itu.

“Tenang, aku tidak akan melakukan apa pun, kalau kau tidak meminta tentu saja” ujar pria itu bagaikan hal tersebut merupakan hal yang normal baginya. Dan V berpikir itu keras-keras di dalam pikirannya. Ia tahu seberapa kencangnya ia berteriak kucing dan manusia tidak berbicara dengan hal yang sama. Namun, V terkejut ketika pria itu menunjukkan wajah tersinggung.

Pria itu menghembuskan napas kesal. “Iya, itu merupakan hal normal bagiku” jawabnya dengan lancar. Dagu V terbuka membentuk huruf ‘o’. “Bagaimana kau tahu apa yang aku katakan?” meongnya, suara di belakang pikirannya kembali mengingatkan manusia di hadapannya, tidak akan mengerti walaupun V sampai harus berguling di tanah. Namun, sekali lagi lelaki itu mengejutkannya dengan menjawab.

“Bukankah itu sudah cukup jelas?” salah satu alis lelaki berambut cat pirang itu terangkat. Sebelum V dapat menyadarinya, ‘manusia’ di depannya itu sudah jongkok di hadapannya, tatapannya seperti membuat lubang di tengkorak kucing jingga itu. Dengan suara setengah berbisik, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke telinga V. “Aku bisa berkomunikasi dengan binatang”.

Mata V membelalak saat ia mundur satu langkah di mana, lelaki di depannya sudah menjauhkan wajahnya dari si kucing. V tidak bisa lebih berterima kasih lagi untuk hal itu.

Jantungnya kembali mendapatkan cobaan saat sebuah tangan mulai mengelus kepalanya. Awalnya ia merasa kaget dan tidak nyaman, namun lama kelamaan, ia menemukan dirinya mengeong pelan, senang ketika dielus.

Tanpa ia sadari, V merasa sedikit kehilangan saat pria itu menarik kembali tangannya dan berdiri. Mata biru kucing itu terpaku pada wajah manusia misterius itu. “Bagaimana kalau kita langsung ke inti permasalahan,” ujarnya.

V baru saja ingin bertanya masalah apa yang dimaksud, namun sebelum ia dapat mengatakannya, pria itu melanjutkan. “Keinginanmu untuk menjadi seorang manusia” kata-kata itu keluar dengan nada gembira dan senyum penuh arti. Tanpa alasan yang jelas, V menjadi lebih waspada.

“Aku tidak menginginkannya” meong V pelan. Ia mengatakannya, teringat akan sahabat-sahabat kucingnya. Walaupun begitu, suara kecil di belakang pikirannya terus berbisik mengenai kebohongan itu. Saat-saat V menatap kerumunan manusia, saat ia mendongakan kepalanya saat melihat ke arah orang-orang yang menjulang. Ketika V sedikit lebih berharap ia dapat mencicipi makanan di tengah jalan, mengetahui arti dari kata-kata yang tidak ia ketahui. Berbicara dengan manusia yang lain. Belajar, membaca, memainkan alat musik, bernyanyi. Ya, salah satu harapan paling besar dan sama sekali tidak masuk akal untuk ukuran seekor kucing jalanan. Dan, V yakin lelaki di depannya ini dapat mendengar suara kecil yang terus mengoceh di dalam pikirannya.

“Jadi begitu?” pria itu berbicara sambil menyembunyikan tawa kecil – walaupun V sadar akan hal itu.

Tiba-tiba angin yang tidak jelas asalnya, berhembus. Membawa perasaan awas dan membuat V bergidik, bulu punggungnya berdiri dengan penuh antisipasi. Ia mengangkat wajahnya dan mata birunya membulat saat mata yang bersinar emas menatap balik ke arahnya. Dan guyliner di sekeliling mata pria itu membuatnya semakin terintimidasi.

V melompat saat tulisan huruf-huruf bercahaya muncul di depannya. Membentuk kata-kata yang entah kenapa, ia bisa membacanya. Mulut V terbuka saat ia membaca kata demi kata, memahami maksudnya.

Sebuah kontrak, atau semacam itu.

Melemparkan tatapan tidak percaya ke arah lelaki berambut pirang itu, V hanya dijawab dengan senyum yang agak miring. Kembali melihat tulisan isi kontrak yang melayang-layang di hadapannya, kepala V terasa lebih berat. Kekhawatiran, rasa ingin tahu, dan perasaan excited yang sudah tidak bisa ditahan lagi, memenuhi tubuh V yang kecil, sampai-sampai rasanya ia mau meledak.

“Aku tidak memaksamu,” ia mendengar lelaki itu berkata, dan V hanya menelan ludah. “Iya atau tidak, semuanya ada di tanganmu” ujarnya lagi, menggoyahkan pegangan terakhir V, teman-temannya. Dan, membawanya ke hari di mana untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa langit biru dan awan putih yang ia lihat semenjak kecil hanyalah graffiti yang dibuat oleh anak-anak yang iseng.

Dorongan itu terlalu kuat untuk dibendung lagi. Mungkin V bahkan dapat mengatakan hal tersebut tidak bisa ia tahan lagi. Dalam pikirannya tidak terdengar lagi suara kecil yang meminta maaf kepada, Suga, J-Hope dan Jimin, sahabat-sahabatnya yang terus bersabar dengan perilakunya.

Kakinya melangkah berlahan. Matanya terpaku pada kata demi kata, ia masih tidak percaya, entah bagaimana ia dapat membacanya. Ia merasakan hembusan angin dingin di wajahnya. V menyipitkan matanya saat tiba-tiba cahaya kecil muncul tepat di depan hidungnya, membuatnya sedikit melompat di tempat ia berdiri.

Matanya mengikuti gerakan titik cahaya yang membuat garis ke bawah, sedikit miring. Kemudian berhenti sejenak, sebelum menukik ke atas. V tidak perlu bertanya apa itu.

V

Sebuah huruf besar yang telah menjadi namanya semenjak ia lahir. Kucing itu baru sadar apa yang telah terjadi.

Dia telah menandatangani kontrak itu. Dan, ia merasa seharusnya ia merasa paling tidak, sedikit bersalah. Tapi tidak, ia menemukan beban di pundaknya seperti terangkat sepenuhnya. Dan, ketika ia melihat kembali ke pria misterius itu, V dapat melihat sebuah senyum terulam di wajahnya.

“Kontrak sudah ditandatangani,” ia mengatakan hal yang kucing jingga itu sudah sadari. Namun, apa yang tidak ia duga adalah tulisan-tulisan bercahaya yang melayang dihadapannya, tiba-tiba sudah ada di tanah. Dan, mereka menggeliat dan V mengeong keras ketika ia menyadari kata-kata bercahaya itu mulai merangkak, gerakan lambat namun di saat mereka sudah menaiki kaki depan V, kucing itu tahu. Semua sudah terlambat.

Ia sudah tidak peduli lagi dengan kondisinya sekarang. Tubuhnya terasa amat sakit, terutama di mana cahaya berbentuk kata-kata itu berada di kulitnya. Rasanya seperti disetrika. Namun, walaupun seluruh bagian tubuhnya memohonnya untuk berhenti, V tetap berlari.

Kucing jingga itu dapat melihatnya. Pria dengan rambut pirang, kabut hitam menutupi tanah di bawah kakinya. V meringis pelan saat ia mengingat bagaimana rasanya ketika tubuhnya bersentuhan dengan kabut yang mencurigakan itu. Aku harus pergi, aku harus pergi… Pergi dari sini!

Pikirannya seperti sebuah botol undian yang dikocok-kocok. V tidak tahu mana pikiran yang akan keluar, atau keputusan yang ia ambil. Masih dalam kecepatan yang ia sendiri tidak tahu dapat dilakukan olehnya, kucing jingga itu mengambil ancang-ancang dan berbelok. Ia menoleh ke belakang, dan ia merasa lega saat bayangan pria itu dan kabut misteriusnya, sudah tidak terlihat lagi.

Barulah, seperti terhantam ombak, rasa sakit menerjangnya. Langkahnya melambat, dan rasanya bernapas saja sulit baginya. V mengerang pelan, ekornya tidak lagi terangkat – hanya terseret di jalan aspal di bawah kakinya.

Hal yang dirasakannya pada detik ini, membuat V ingin berteriak sekuat tenaga. Namun, melakukannya saja hampir tidak mungkin. Ia tidak memiliki kekuatan apapun. V berusaha menjaga matanya untuk tetap terbuka, walaupun rasanya begitu berat. Ditambah lagi, V merasa organ dalamnya ditarik-tarik. Tulangnya seperti sedang dipakai orang untuk main Tarik tambang.

Dan, seberapa keras ia berteriak di kepalanya, V terjatuh.

Napasnya lambat dan berat. Udara malam membuat kabut putih keluar dari mulutnya pada setiap tarikan napas. V, sudah ingin memejamkan matanya, namun detak jantungnya semakin cepat ketika ia melihat lelaki itu lagi, dengan kabut hitam yang semakin tebal.

Pergi, pergi, pergi, tinggalkan aku…

Namun, permintaannya tidak dapat dipenuhi saat perasaan sakit yang sama menghampirinya lagi. V tidak tahu bagaimana lagi ia harus bertahan. Lama kelamaan ia tidak bisa lagi membedakan rasa sakit. Dan, lama kelamaan, matanya mulai memberat kembali.

Dan hitam menjumpainya.

“Hei, hei,”

Siapa di sana?

“Aish, kau tidak memakai pakaian hangat, nanti kau sakit,” suara yang sama terdengar kembali. Namun, V masih menolak untuk terbangun. Tubuhnya terasa sakit dan berat.

Biarkan aku tidur lagi… aku terlalu lelah

Ujung mata V sedikit bergerak saat ia merasakan sebuah jari menyentuh pipinya. Sebuah jari kecil dengan kuku pendek yang sedikit bergerigi. Ia dapat membayangkan orang tersebut memiliki kebiasaan menggerogoti kukunya sendiri.

Tunggu sebentar… dengan pikiran itu, V membuka matanya. Cahaya matahari mulai menghangatkan tubuhnya, dan dunia terlihat lebih terang. Ia mengedipkan matanya satu dua kali, untuk menyesuaikan matanya dengan keadaan sekitar.

Ia mengeluarkan suara dari tenggorokannya – dan V sedikit kaget saat menyadari betapa besar perubahan suaranya; menjadi lebih berat, dan jelas-jelas bukan suara kucing manapun. Matanya terfokuskan kepada sebuah wajah manusia, yang entah kenapa, sekarang saat dekat dengan wajahnya. Dan, V merasa wajah itu terlihat lebih kecil dibandingkan dahulu, ketika ia harus mendongak sampai lehernya sakit, hanya untuk memperhatikan ekspresi manusia yang sedang menatapnya.

V mengedipkan matanya lagi. “Huh?”

“Hei,” sahut perempuan di depannya. Rambutnya cokelat tua – nyaris hitam, pikir V. Dan, matanya berwarna cokelat tua, namun ketika disinari sedikit cahaya matahari, terlihat warna cokelat yang lebih muda. “K-kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya perempuan itu, tangannya sekarang berada di pundak V. Pundak milik V, ia memiliki pundak – pundak manusia lebih tepatnya.

Hanya suara erangan yang keluar dari mulutnya saat V menyadari sedikit dari kondisinya. Dua lengan, dengan tangan, dengan ibu jari. Ia bisa menggunakannya untuk menahan tubuhnya saat berusaha duduk dari posisinya yang awalnya tersungkur. V juga mulai merasakan keberadaan dua kaki yang salah satunya sekarang menapak di jalanan, dan lutut kaki satunya menempel di aspal yang keras, menopang tubuhnya dalam posisi setengah terjongkok.

Matanya kembali terasa sedikit berat lagi, dan tubuhnya terasa ringan. Samar-samar ia merasakan ada pegangan di kedua bahunya. “H-hei, jangan pingsan,” ujar perempuan di depannya, panik terdengar dari suaranya. “Aku akan memanggil orang lain-“

Perempuan itu beranjak, namun entah kenapa, tiba-tiba V menemukan tangannya sudah menggenggam salah satu pergelangan tangan gadis itu. Di belakang pikirannya, ia bertanya-tanya mengenai perasaan hangat yang muncul di dalam dirinya.

V menelan ludahnya sebelum kata-kata pertamanya sebagai seorang manusia, keluar dari mulutnya. “Jangan pergi,” V masih berusaha membiasakan diri dengan suara yang telah menjadi miliknya.

Ia dapat merasakan gadis itu kembali ke posisi semula, setengah berjongkok di hadapannya. Di saat yang sama, semuanya menjadi ringan seakan-akan ia melayang. Dan, sebelum ia dapat memegang sebuah pegangan, ia terjatuh, kembali tenggelam dalam kegelapan. Walaupun begitu, ia merasakan rasa hangat yang membuatnya yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan, samar-samar kucing yang telah menjadi manusia itu dapat mendengar sebuah bel, suaranya nyaring di telinganya. Seperti mengingatkannya, bahwa ia telah dilahirkan kembali.

AUTHOR’S NOTE

Akhirnya bisa update juga setelah ulangan di tempat les dan ini itu (plus keseret cerita lain/cough). Kayaknya di chapter ini kebanyakan genre fantasinya ouo. Tapi nanti porsinya juga berkurang~

Dan berhubungan dengan Melon Awards sama MAMA belakangan ini, author mau ngucapin selamat sama dua grup bias author.

 

Selamat buat Bangtan Boys (BTS) untuk mendapatkan penghargaan Melon Awards kategori Best New Artist 2013. Dan selamat buat Infinite buat dua penghargaan MAMA, untuk kategori Sony Worlwide Act dan Best Male Group!/throws confetti + random dance

ITSREDPENGUIN SIGN OUT!

7 thoughts on “It’s a Wonderful Cat’s Life [1/?]

  1. Sumpah dikira nanti Jimin ikutan jadi manusia o.o
    Dan entah kenapa karakter V disini sepertinya akan kusukai…./cough/ noona jadi deg2an..
    Childish nya ngegemesin, belum lagi waktu ngomong ‘jangan pergi’ /squeals

    Daan kenapa ga ngucapin selamat ke exo juga? -3-

    • yea!/seneng ada yang mulai suka sama V

      habisnya ‘kan exo udah dikasih selamat di detour. dansebenernyaakungevoteinfinite
      jadi aku ingin memberi selamat kepada biasku yang lain~~~

  2. Kerennnn….. !! Pengen tau siapa tuh cewenya.saya mungkin(?)
    Intinya tulisannya keren deh!! Jadi suka sama V gara2 baca tulisan ini😀

    • awww~~ aku juga mau, hahaha/slapped
      untuk sekarang ff ini baru sampai chapter tiga^^
      terima kasih sudah membaca~~ \(^o^)/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s